Kuhentikan mobilku di depan sebuah rumah besar dari gadis yang notabenenya adalah adik tingkatku. Aku menaikkan rem tangan dan mengambil ponsel yang berada di phone holder. Kubuka aplikasi bertukar pesan, berniat untuk memberi tahu gadis yang masih di dalam rumah itu bahwa diriku kini hanya menunggu dirinya. Namun baru saja aku mau menekan ruang pesanku bersamanya, sebuah panggilan telepon masuk dari dirinya.
Aku pun menekan ikon untuk menerima panggilan itu, "Hai, Chie!" panggilku
"Ko! Coba liat ke jendela deh!" ujar dirinya
Aku menaikkan satu alis dan memutar kepalaku ke arah jendela-jendela rumah itu, "Yang mana?" tanyaku
"You'll know when you see it! (Koko tau yang mana pas koko liat!)" ujarnya
Pandanganku beredar ke deretan jendela di samping rumahku dan benar saja yang diucapkan dirinya.
"Udah! Cepetan turun! Macet lho." balasku tertawa kecil pada dirinya yang masih tersenyum lebar itu
Dirinya terkekeh, "Iya! Bentar! I pake sepatu dulu. Koko tunggu di mobil aja." ucapnya dengan nada menggemaskan
Aku tersenyum kecil mendengarnya, "Oke." singkatku
"See you soon, ko!" sahutnya
"Hm. See you soon!" balasku padanya kemudian menutup panggilan itu
Dirinya pun tak butuh waktu lama untuk melanjutkan persiapannya. Dalam waktu beberapa menit pun, dirinya dengan senyum lebar kini tengah berjalan menuju mobilku dengan langkah seperti loncatan kecil itu.
"Hai, ko!" serunya membuka pintu mobilku
"Yok!" sahutku padanya
Ia duduk dan memasang sabuk pengaman, "Koko rapi banget.." ucapnya
Aku menatap pakaianku, "Biasa aja." balasku
Ia memiringkan kepalanya sedikit, "Masa? Biasanya kita jalan you kaosan.." ucapnya memanyunkan bibirnya sedikit
"Hm? Masa?" balasku
Ia mengangguk, "Oh. I gak nyadar." balasku
"Hari ini emang mau ke mana sampe rapi gitu?" tanyanya
"Wangi lagi.." lirihnya
Aku menaikkan satu alis, "Hm... Ke mana ya..?" polosku berpura-pura
Ia memanyunkan bibirnya tak suka, "Orang tuh kalo hari ini ngajakkin jalan tuh udah ada rencana.." sindirnya
Aku tertawa kecil, "Udah dong. Makan lah kita." ujarku menurunkan rem tangan
Ia mengangguk pelan, "You tumben beda parfum. Kayaknya you gak pernah pake yang ini ya..?" tanyaku menyadari aroma parfum yang tak biasanya dipakai dirinya
Michie tersenyum kecil, "Yang ini for special occasions.. (Yang ini cuma buat acara khusus..)" balasnya melirikku
"Smells like vanilla? (Baunya kayak vanila?)" tanyaku
Ia mengangguk, "Nih." Ia menyodorkan pergelangan tangannya di depan wajahku
Aroma semerbak manis yang dihias dengan wangi kopi itu langsung tercium jelas. "Black opium?" tebakku
Ia menatapku tak percaya, "Kok koko tau?" tanyanya terkejut
Aku tertawa kecil, "I pernah nemenin Fio cari parfum, dia nyoba ini." jelasku
Ia memanyunkan bibirnya, "Pasti inget parfumnya karena jalannya bareng ce Fio.." tuturnya datar tak terkesan kemudian mendelik mata
Aku tertawa kecil akan dirinya yang berniat menyindir secara halus itu, "Enggak. Emang it just smells nice, kinda sweet gitu.. (Emang baunya enak aja, agak manis gitu..)" tenangku
"Beneran?" ujarnya memicingkan mata masih dengan bibir seperti bebek itu
"Iya.." ucapku meyakinkan
Ia akhirnya menerima jawabanku. Namun wajahnya dengan jelas seperti mengendus-ngendus, "Koko juga pake beda?" tanyanya
"More floral? (Lebih floral?)" tanyanya
Aku mengangguk, "Special occasions only. (Acara khusus doang.)" ucapku
Ia mengangguk paham, "Ce Fio pernah cium dong?" tanyanya menatapku dalam dengan mata memicing
Diriku yang masih menatap jalan raya pun meliriknya dan tertawa kecil akan sikapnya itu, "Ngh... Koko.." rengeknya tak suka dan meminta jawaban pasti
Aku menggeleng, "I think you're the first one deh.. (Kayaknya kamu yang pertama deh..)" balasku
Ia menaikkan satu alis, "Oh? Jadi this one only for me? (Jadi ini cuma buat aku?)" tengilnya
Aku meliriknya kembali, "Maybe.. (Mungkin..)" balasku tersenyum
Pipinya mulai memerah, "I do like this one better sih... The one you usually wear is a bit too spicy.. (Aku lebih suka yang ini sih... Yang biasanya koko pake bau rempahnya terlalu tajem..)" ungkapnya tersenyum kecil sambil membenarkan duduknya agar menghadap ke depan
"Jadi maunya I pake yang ini aja kalo kita jalan?" tanyaku meliriknya
Ia memainkan kedua jarinya, "Well... Sebebas you sih. But I really like the smell on this one.. (Ya... Sebebas koko sih. Tapi aku lebih suka bau yang ini..)" jawabnya
"Hm? Jadi maunya I pake yang mana?" tanyaku lagi
Ia menatap ke sepatunya, "This one.. (Yang ini..)" lirihnya namun terdengar jelas
"Hm. Ok.." balasku
"Berarti kalo misal I jalan sama yang lain juga pake yang ini..?" pancingku
Dirinya langsung menggeleng, "No! Yang satunya aja!" balasnya langsung
Aku meliriknya, "Bukannya you bilang enakkan yang ini?" pancingku lagi
Dirinya memanyunkan bibirnya, "Ih! Yang ini pas sama I aja.." rengeknya
"You gak mau Fio cium yang ini ya?" godaku
Matanya melirikku tajam seakan diriku menyebut nama Fiony adalah sebuah dosa besar, "Iya... Yang ini I pake pas sama you aja.." ucapku berusaha menenangkan gadis ini
Ia memanyunkan bibir, "Janji?" ucapnya sambil menaikkan kelingking seakan meminta janji bagai anak kecil
Aku terkekeh akan tingkahnya, "Janji.." aku mengikat kelingkingku dengan miliknya
Ia tersenyum lebar dan terkekeh, "Ini mau ke mana?" tanyanya
"Makan." balasku
Ia mendecak, "I know makan. But where? (Aku tau makan. Tapi di mana?)" balasnya
Aku memanyunkan bibirnya, "Ada lah pokoknya." ucapku
Ia menghela napas, "Better not kayak last time ya... Udah rapi gini! (Jangan kayak terakhir ya... Udah rapi gini!)" datarnya
"Iya... Bukan kok." aku tertawa kecil mengingat toko perabotan yang kita singgahi tempo hari
Kami terdiam, "Ko." panggilnya tak lama
"Hm?" aku meliriknya
"Lagu dong.." ia menatapku sedikit memelas
Aku tertawa kecil, "Ya langsung ambil hape I aja.." tenangku
Ia mendecak, "Kan I gak tau password-nya ya!" kesalnya namun menggemaskan
Aku tertawa kecil dan membuka ponselku lalu menyerahkan pada dirinya, "Ini boleh kan?" tengilnya setelah memilih sebuah lagu
Diriku mengangguk pelan menyetujui. Mobil ini pun menjadi ruangan karaoke akibat lagu-lagu yang dipilih Michie itu. Setelah sekian lagu, ia pun batuk seakan membersihkan tenggorokannya.
"Nih! air." tenangku menyadari dirinya perlu minuman
Dirinya langsung membuka botol itu dan meminumnya, "Makasih, ko." ucapnya mengembalikan botol itu
"Taro tengah aja." balasku
Ia pun meletakkan botol di sebelah gigi transmisi, "Hari ini makan di mana?" tanyanya masih penasaran
Aku memanyunkan bibir sejenak, "Well.., I made a dinner reservation for nanti. (Ya.., aku udah bikin reservasi buat makan malam nanti.)" tenangku
"Tapi for now, there's nothing really.. (Tapi buat sekarang, kosong-kosong aja..)" lanjutku menggigit bibir
Ia menatapku bingung, "Jadi you took me out jam gini for nothing? (Jadi koko bawa aku keluar jam gini karena kosong aja?)" tanyanya dengan nada sedikit kesal
Aku menggeleng, "No." singkatku
"I think jalan ke resto-nya agak macet, jadi biar gak telat." alasanku yang sebenarnya hanya ingin menghabiskan waktu sejenak bersamanya
Ia menatap mataku dalam, sepertinya aku tertangkap basah. "T-tapi if you wanna go somewhere first, can sih... Kan we have time to spare.. (T-tapi kalo kamu mau ke mana dulu, bisa sih... Kan kita banyak waktu..)" gugupku
Tatapannya hanya makin memicing. Setelah beberapa saat menatap, ia pun menghembuskan napas. Sepertinya aku lepas dari kecurigaannya, untuk sekarang...
"Well... I heard a new bookstore opened up sih.. (Ya... Aku denger ada toko buku baru buka sih..)" lirihnya
"Yang di mal itu ya?" tanyaku
"Koko tau juga?!" tanyanya dengan semangat dan mata berbinar
Aku tertawa kecil melihat tingkahnya itu, "Dikasih tau Fio." jawabku lirih mengetahui nama sahabatku itu mungkin akan membuat gadis di sebelahku ngambek
Dan benar saja sepertinya, dirinya langsung saja membuang pandangan dan menatap jalan raya. "Koko ngobrolnya sama ce Fio terus ya kayaknya.." ucapnya dengan tawa yang sedikit dipaksakan
Aku menghela napas dan memanfaatkan pasukan mobil yang masih belum bergerak, "I mean.., we're friends dari awal masuk kuliah. (Maksudku tuh.., dia sama aku kan udah temenan dari awal kuliah.)" jelasku
Ia melirik, "You guys lebih kayak the pair yang mesra tapi bilangnya gak pacaran sih. (Kalian lebih kayak pasangan yang mesra tapi bilangnya gak pacaran sih.)" datarnya
"Fio bilang gitu sih about you and me. (Fio bilang gitu sih tentang kamu sama aku.)" balasku tertawa kecil mendengar dirinya
Ia terdiam. Aku meninggalkan dirinya terdiam sejenak sambil melajukan mobil yang berada di tengah jalan macet ini. Kuraih tangan kanannya, "You jadinya mau ke bookstore itu nih?" tanyaku
Ia melirikku lagi, "Terserah koko." singkatnya menatap jalan raya
Kugigit bibir mengerti arti ucapan itu, "Chie.." panggilku lirih
Ia melirik, "Hm?" balasnya sedikit tak tertarik
Hari ini tak bisa menjadi lebih buruk, bukan?
Alunan suara musik yang mengisi mobilku memelan sejenak, menandakan pesan masuk dan benar saja, sebuah notifikasi terpampang jelas di layar radio mobil. Mati aku!
Notifikasi itu bukanlah masalah, namun pengirimnya. Fio. Nama itu kini dengan jelas terpampang di depan mata Michie. Sungguh sial!
Ia menghela napas, "Chie.." panggilku sambil mengeratkan genggamanku pada tangannya
"Gak mau dibales?" tanyanya menyindir
"Ntar aja bisa.." tenangku
"Nunggu gak ada I ya?" datarnya menusuk
Aku menggeleng, "Bukan gitu.." jelasku
"Paling ini juga dia cuma ngirim yang random doang." lanjutku
Namun sepertinya alam semesta berkata lain, beberapa notifikasi dari pengirim yang sama pun lanjut mengisi layar radio. Habislah aku!
Ia membuang pandang, sepertinya kekesalan dirinya sudah memuncak. Aku pun meminggirkan mobilku berniat membujuknya. Baru saja kuhentikan mobilku ini, suara isak yang tertahan pun terdengar lirih di balik musik.
"Chie.." lembutku sambil meraih pundaknya
Ia menggeleng masih berusaha mengelak dari fakta dirinya sudah mulai terisak, "Sini." tangan kiriku berusaha membuatnya memalingkan wajah sedangkan tangan kananku meraih beberapa lembar tisu
Ia mendongakkan wajahnya berusaha menahan air mata turun dan merusak riasannya, "Just be honest.. (Jujur aja..)" tembakku langsung sambil berusaha menangkap air matanya dengan tisu
Dirinya berusaha mengendalikan napas dengan mata terpejam. Ia menarik tisu dari tanganku dan mengelap air mata yang berhasil lolos dari matanya. Aku memberikannya waktu sejenak untuk menenangkan diri.
Ia kemudian menghembuskan napas dan menatapku dengan mata yang perlahan sembab itu, "Chie... Jujur aja." ucapku mengetahui ada yang ingin ia sampaikan
"I know you've been holding back, keluarin aja. (Aku tau kamu nahan terus, keluarin aja.)" tenangku lagi
Ia menghela napas, "I'm jealous, okay? I'm not okay with this. (Aku cemburu, oke? Aku gak suka gini.)" tenangnya
Aku meraih kedua tangannya, "I'm okay with you being friends with ce Fio. Tapi it just feels like she's always there. (Aku gapapa kalo koko temenan sama ce Fio. Tapi rasanya kayak dia doang yang ada di samping koko.)" lanjutnya
"Aku gak minta koko jauhin, tapi.." suaranya perlahan lirih
Kulepas kedua tangannya, aku pun langsung menangkup pipinya. "She's my best friend.. (Dia sahabatku..)" tenangku
Tatapannya langsung murung, "But you're different.. (Tapi kamu beda..)" lanjutku
"I wouldn't take you out on Valentine's Day if you weren't special, right? (Aku gak bakal bawa kamu keluar pas Valentine's Day kalo kamu gak istimewa kan?)" ucapku mengisyaratkan perasaanku
Ia menggigit bibir, "Udahh... Jangan nangis lagi, mata you udah keliatan sembab tuh.." tenangku menyeka air mata yang masih tersisa di pinggir matanya
Suara napasnya yang masih pendek itu pun perlahan lenyap, "You know that guys harusnya make girls shed happy tears on Valentine's Day, right? (Koko tau kan kalo cowok tuh harusnya bikin cewek nangis karena seneng pas Valentine's Day kan?)" sindirnya
Aku tersenyum kecil, "There's still time for that, no? (Masih ada waktu buat itu gak sih?)" balasku menggodanya
Ia menatapku bingung, "Eh?"
Kuusap puncak kepalanya, "Adalah pokoknya." ucapku tak ingin membocorkan yang telah kurencanakan
"You mau jalan atau sit down somewhere aja? (Kamu mau jalan atau duduk-duduk di mana gitu?)" tanyaku memastikan dirinya sudah tak apa-apa
"Is it okay if we just sit down? (Gapapa kan kalo kita duduk di mana aja gitu?)"
Aku mengangguk, "Dinner masih mau?" tanyaku menggenggam tangannya
Ia mengangguk pelan, "Oke." singkatku menjalankan mobil lagi
Kami pun duduk dalam alunan musik sambil menyusuri jalan ibu kota menuju daerah restoran yang sudah kubuatkan reservasi. Sekitar setengah jam berlalu pun kami akhirnya tiba di sebuah taman yang cukup sepi.
Kami berdua pun berjalan mengitari taman lalu duduk di sebuah bangku kosong, "Ko.." panggilnya setelah sekian lama membisu
"Hm?" singkatku menatapnya
Dirinya tak membalas, ia hanya menyandarkan kepalanya di pundakku yang tentu tak kutolak. "Sorry I made you cry.. (Maaf aku bikin kamu nangis..)" ucapku
Ia melirikku, "Jangan lagi, oke?" ia menaikkan kelingkingnya meminta janji
Aku tersenyum kecil, "Janji." aku membalas kelingkingnya
"Ce Fio gak koko bales?" tanyanya melirikku
Aku menatapnya dalam, ini jebakan bukan?
"Ko.." panggilnya kembali sambil menatapku polos
"Um... Belom." ucapku berhati-hati agar tak membuatnya ngambek untuk kesekian kalinya
"Bales lah!" ujarnya
Aku menatapnya lagi, tak salah yang kudengar?
"Ntar dicariin lagi.." ucapnya cemberut
Sepertinya gadis ini ingin kubalas sahabatku agar kami berdua tak diganggu lagi. Aku menghela napas dan menarik ponselku dari sakuku. Kuketikkan balasan pada pesan dari Fiony itu.
Namun, benar saja yang kupikir. Kutangkap Michie yang berusaha mengintip isi ruang pesanku dengan Fiony. Aku pun berusaha menutupi ruang pesan yang berisikan banyak hal yang tak sebaiknya ia ketahui sekarang, seperti mimpiku tempo hari yang sudah menjadi topik yang sangat suka diangkat oleh Fiony. Ia memanyunkan bibir, "Ngepain nutup-nutupin?! Koko ngomong apaan sama ce Fio?!" kesalnya tak bisa melihat isi ruang pesan itu
"Gak ngomongin apa-apa.." balasku padanya
"Ko... Kasih liat!" cemberutnya
Aku menggeleng sambil menutup ponsel, "Ada some things yang you can't know.. (Ada beberapa hal yang mending kamu gak tau..)" jelasku tak ingin aib-aibku disebar begitu saja
Ia menatapku dalam seakan meminta penjelasan yang lebih detil, "Ntar pas udah waktunya ya.." tenangku sambil mengusap puncak kepalanya
"Ih..." rengeknya memeluk lenganku berusaha membujukku
Ya Tuhan... Berikan hambamu kesabaran untuk menghadapi godaan ini
Matanya memelas, "Ntar..."
"Janji?" rajuknya mengangkat kelingkingnya lagi
"Iya.." tenangku membalas kelingkingnya
Aku menoleh ke arloji di tanganku, "Jalan yok. Takutnya macet." ajakku yang langsung diangguki dirinya
"Gak lepas ni tangannya?" tanyaku padanya yang masih setia memeluk lenganku tanpa tanda akan melepas
Bukannya melepaskan atau melonggarkan, ia malah mengencangkan pelukannya itu. "Lepas dulu bentar.." ucapku setelah kami sampai di tempat parkir mobil
Dirinya menggeleng, "I gak bakal ke mana-mana.." tenangku
Ia pun akhirnya melepaskan pelukan pada tanganku itu, "Kenapa sih?" tanyanya
Aku membuka pintu belakang mobil dan mengambil sesuatu, "Tuh 'paan?" tanyanya
Kusembunyikan barang ini di belakangku, "Ko..?" rajuknya lagi sambil cemberut
Aku tertawa kecil melihat tingkahnya itu, "Well... I have a question for you first. (Aku ada pertanyaan buat kamu dulu.)" ujarku
Ia menatapku tak terkesan menunggu pertanyaanku, "Michelle Alexandra, will you be my Valentine? (Michelle Alexandra, mau gak kamu jadi kencanku hari ini?)" aku menunjukkan barang yang kusembunyikan di belakangku
Sebuah rangkaian bunga putih yang dihiasi warna hijau kini menjadi fokus tatapan dirinya. Mulutnya yang sedari tadi tertutup kini menganga. Dirinya seperti beku dalam waktu.
Aku mendekat, "Chie?" panggilku mencolek lengannya
Ia menatapku menggigit bibir, "Ini beneran?" tanyanya
Aku mengangguk meyakinkan dirinya, "Jadi? Mau?" tanyaku
Dirinya dengan wajah memerah pun mengangguk pelan dan mengambil rangkaian itu. Dirinya pun langsung memeluk rangkaian bunga itu, "Thank you, ko.." senyumnya
Kubalas senyumnya itu, "Gitu dong! Lucu kan pas senyum!" ucapku mengusap puncak kepalanya lagi
"Ih! Stop! Rambut I berantakan ntar!" rengeknya
Aku tertawa kecil, "Ih udah!" kesalnya
Ia pun mulai mengagumi rangkaian bunga yang sedari tadi kusembunyikan dalam mobil, "Ko." panggilnya
"Hm?"
"Fotoin boleh gak?" senyumnya lebar sambil tertawa kecil
Aku tertawa kecil, "Di sini?" tanyaku yang tentu langsung diangguki dirinya
Kukeluarkan ponselku dan mulai mengambil beberapa foto untuknya.
"Liat!" ujarnya menghampiriku
Aku menunjukkan hasil photoshoot kecil kami hari ini, "Kirimin ya?" ucapnya dengan menggemaskan
"Kalo gak?" tanyaku jahil
Ia cemberut, "Abis itu buat apa koko setuju buat fotoin?!" kesalnya
"Buat aku sendiri." balasku tertawa kecil
"Ih... Nyebelin! Kirimin.." rengeknya
Aku tertawa kecil dan mengirimkan foto itu, "Iya-Iya. Ini I kirim." tenangku agar gadis manis di depanku ini tidak merajuk lagi
Ia tersenyum lebar, "Ok. Udah!" ucapnya memeriksa ponselnya
"Yaudah! Yok! Biar gak buru-buru kita ke resto-nya." ujarku mengingatkan masih ada makan malam di rencana kami hari ini
Ia mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil setelah kubukakan pintu, "Ok. Let's go!" sahutku men-starter mobil
Baru saja aku ingin menurunkan rem tangan, nada dering ponselku langsung mengisi mobil. Michie mengangkat ponselku dan melirikku sinis.
Fio. Tiga huruf yang sepertinya akan selalu berhasil membuat Michie kesal padaku.
Aku menghela napas, "Diemin aja.." tenangku
Namun, bukannya menurut, ia malah menekan ikon untuk menerima panggilan itu. Ia pun memasang panggilan itu di mode pengeras suara.
"NIH KALIAN RESMI JADIAN?!" sahut Fiony sumringah dari sisi panggilan itu yang membuat kami berdua terkejut
"Apa lagi, Fi?" tanyaku berusaha bersabar akan tingkah sahabatku yang sudah aku beritahu dari awal bahwa aku akan bersama Michie seharian ini
"Lah?! Itu fotonya?!" ujarnya
Aku dan Michie saling menatap, 'Foto apa?' batinku
"Foto apa, ce?" kali ini Michie bersuara
Fiony diam sejenak, "Eh?! Ini aku di speaker ya?" bingungnya
Michie mengangguk walau tak terlihat, "Iya." singkatnya masih kurang senang waktu kami berdua diganggu panggilan itu
"Itu! Alex kirim foto kamu pegang bunga!" sahut Fiony
Michie menatapku tajam, "Koko kirim ce Fio?!" tanyanya langsung menginterogasi diriku
Aku menggeleng cepat, "Enggak!" balasku
"Dih! Orang kamu kirim, Lex!" sanggah Fiony
Aku mengambil ponselku dari tangan Michie dan membuka ruang berpesan. Benar saja, semua foto hasil photoshoot kecil itu tengah diterima oleh sahabatku.
Aku menggigit bibir. Habislah aku. "Kayaknya gak sengaja kekirim.." lirihku namun terdengar Michie
Gadis itu langsung melipat lengannya, "Katanya buat sendiri... tapi malah kirim ke ce Fio.." cibirnya
Aku memukul dahiku pelan. Kebodohan apa yang telah kuperbuat.
"Oh? Buat sendiri? Buat dimimpiin ya?" kompor Fiony tertawa renyah
Aku mengingat panggilan ini masih berlangsung, "Ntar aku chat kamu, Fi. Bai!" singkatku menutup panggilan itu
"Eh-"
Kuletakkan ponselku di antara aku dan Michie, "Chie.." panggilku pada gadis yang jelas sudah masuk fase ngambek untuk kesekian kalinya
Ia menatapku dalam dan tajam, "Maaf... Gak sengaja kekirim itu.." jelasku
Gadis di hadapanku ini mendecak dan mendengus sebal, "Maaf.." ucapku lagi
"Gak sekalian aja kamu kasih ce Fio bunga." ketusnya
"Chie.." panggilku meraih kedua tangannya
"It was an accident, beneran.. (Tadi gak sengaja, beneran..)" jelasku lagi
Ia menghela napas, "Katanya ntar macet." singkatnya kemudian meluruskan duduknya
Aku pun mengikuti maunya, mungkin sebaiknya kubiarkan dia dalam pikirannya sendiri untuk sementara. Mobil ini pun mulai meluncur menyusuri jalan ibukota, "Siapa lagi yang you kirimin foto?" tanyanya akhirnya memecah keheningan
"Harusnya gak ada sih.." jelasku membuka ponselku melihat kemungkinan kebodohan yang kuperbuat
Sepertinya alam semesta kini kembali memihak kepadaku; hanya Fiony yang menjadi korban kiriman foto itu. "Gak ada." ucapku memastikan
Ia mengintip dalam aplikasi berpesan milikku, "Temen koko emang banyakan cewek ya?" tanyanya melihat daftar kontak dalam aplikasi itu
Aku meliriknya dan mengangguk, semoga saja responku tak salah. Ia menatapku seakan menunggu penjelasan, "Well... I sendiri kan lebih suka diem. (Ya... Aku sendiri kan lebih suka diem.)" jelasku
"Plus yang diomongin other guys biasanya kurang relate sih.. (Sama yang diomongin cowok-cowok lain biasanya kurang nyambung sih..)" lanjutku terkekeh
Michie melirikku, "They usually like stuff like sports, games, or F1 gitu. (Mereka biasanya lebih suka hal kayak olah raga, games, atau F1 gitu.)" jelasku
"Koko emang gak suka F1?" tanyanya
Aku menggeleng, "Why not?! (Kenapa enggak?!)" serunya
"I mean, I get the gist and somewhat ngikutin, but I don't watch the races and follow it too much. (Maksudku tuh ya aku ngerti dan sedikit ngikutin, tapi aku gak pernah nonton balapannya atau ngikutin banget gitu.)" balasku
Wajah gadis yang kuketahui mengikuti tim berlogo kuda itu pun berubah sedikit murung, "Padahal seru tau.." balasnya
"Ya kalo misal mau ditemenin nonton, bilang aja." santaiku
Ia menatapku bingung, "Katanya gak suka?!" ujarnya
"I dateng kan bukan buat nonton, tapi buat nemenin." tenangku
Dirinya menggigit bibir, "Beneran?" tanyanya
Aku mengangguk, "Iya. Bilang aja kalo mau." singkatku
Kami pun akhirnya tak lama sampai di restoran yang sudah kureservasikan, "ini, ko?" tanya Michie menatapku tak percaya
Aku mengangguk, "Kenapa? Gak suka kah?" tanyaku
Ia menggeleng, "I bahkan gak pernah nyoba. Bukannya ini susah buat dapet reservation?" tanyanya
Aku memanyunkan bibir, "Gak juga.." ucapku tersenyum getir
Aku menggandeng tangannya masuk ke dalam restoran itu, "Malam, kak Alex. Sudah ada reservasi?" tanya staf di meja depan
"Malam. Udah." balasku singkat
Staf itu menatapku kemudian ke gadis di sebelahku, "Reservasi untuk private room-nya ya, kak?" tanya staf itu yang hanya kuangguki
Michie menatapku bingung, aku yang menyadari tatapan itu hanya menggenggam tangannya lebih erat dan mengikuti staf yang mengarahkan kami ke ruang pribadi restoran ini.
"Untuk pemesanannya sudah tau, kak?" tanya pelayan sambil membawa menu sambil menyerahkan tablet
Aku mengangguk dan menerima tablet yang diserahkannya, "Baik. Nanti boleh panggil saya atau rekan-rekan bila perlu bantuan." ucapnya melangkah pergi dan meninggalkan diriku dan Michie dalam ruangan ini
"How'd you get the reservation, ko?! (Dapet reservasinya gimana, ko?)" sahutnya tak percaya aku mendapat reservasi restoran ini, mana reservasinya untuk ruangan pribadi ini
Aku memanyunkan bibirku, sepertinya aku harus membuka beberapa kartuku...
"Well... My mom owns the place. So I know some of the staff. (Ya... Mamaku yang punya tempatnya. Jadi aku kenal beberapa stafnya.)" polosku menggigit bibir
Ia menatapku tak percaya, "Hah?!" sahutnya bingung
Aku mengangguk, "So you're saying that your mom owns a high-end restaurant in the middle of downtown?! (Jadi koko bilang kalo mama koko punya restoran kelas atas di tengah kota?!)" tanyanya memastikan
Aku menghela napas dan memanyunkan bibir, "Well... Restaurants. Plural. (Sebenernya sih... Restoran-restoran. Jamak.)" aku tersenyum getir
Matanya melebar, "HAH?!" bingungnya lagi
Diriku tak lepas dari pandangannya, sungguh sepertinya kebenaran yang kuletakkan di meja telah membuatnya membisu. Aku pun melangkah ke sisinya, "Chie.." aku memegang pundaknya
Matanya masih tak lepas dariku, "Tapi you look.. (Tapi koko keliatan..)" Ia menggantung ucapannya
"Normal?" tebakku
Ia mengangguk, "Well... That's a long story.. (Ya... Itu ceritanya panjang..)" alasanku
"Sekarang you pilih dulu mau makan apa.." tenangku mengusap pundaknya
Ia menghela napas dan mengangguk pelan masih cukup terkejut. Matanya pun berusaha menerka isi menu yang berada di depannya, namun kujamin otaknya masih tak lepas dari fakta yang baru kuungkapkan.
Tak lama pun aku kini sudah memasukkan pesanan kami ke dalam tablet yang diberikan pelayan tadi. Aku pun memastikan pesanan itu dan langsung mengirimkannya agar bisa diproses.
"Ko." panggilnya setelah kuletakkan tablet itu di meja
Aku menghela napas, "Awalnya I belom mau ngasih tau all of this to you.. (Awalnya aku belom mau ngasih tau semua ini ke kamu..)" jujurku
Ia menatapku bingung, "I gak terlalu suka di-define from my parents' status. (Aku gak terlalu suka dikenal lewat status orang tuaku.)" aku menjawab pandangannya
Gadis di hadapanku ini meraih tangan kananku, "Aku udah jujur ke koko tadi, sekarang giliran koko." ucapnya
Aku mengangguk mengerti apa yang ia inginkan, mungkin sudah cukup aku menyembunyikan beberapa hal darinya. Aku menghela napas, "Well... My mom is in FnB, as you can see. (Ya... Kayak yang kamu liat, mamaku kerjanya di FnB.)" jelasku menatap dirinya kemudian ke dinding ruangan ini
"Kalo my dad, dia kerja kantoran biasa sih... (Kalo papaku, dia kerja kantoran biasa sih...)" lanjutku
Michie menatapku menunggu detil, "Aku gak terlalu inget posisi apa, I just remember it's in a cosmetic company. (Aku cuma inget dia kerjanya di perusahaan kosmetik.)" jelasku
"To answer your question about me looking normal... I itu cuma dapet uang bulanan yang sama kayak yang lain. Malah kalo you bandingin bulanan I sama say.., Fio, I di bawah dia. (Untuk ngejawab pertanyaanmu tentang aku keliatan normal... Aku itu cuma dapet uang bulanan yang sama kayak yang lain. Malah kalo kamu bandingin bulanan aku sama misal.., Fio, aku itu di bawah dia.)" jelasku
Ia menatapku bingung, "Your parents mau you belajar mandiri gitu? (Orang tuamu mau koko belajar mandiri gitu?)" tanyanya
Aku menggeleng, "More like I dulu ngelawan mereka." balasku
Matanya memicing, "My dad awalnya mau I kuliah finance or something yang bisa kepake di business gitu and my mom maunya I ikut pegang some of her business so I bisa take over one day. (Papaku awalnya mau aku kuliah keuangan atau sesuatu yang bisa kepake di bisnis gitu dan mamaku maunya aku ikut pegang beberapa bisnisnya jadi aku bisa ngewarisin kapan-kapan.)" jelasku
"Tapi you didn't want to? (Tapi koko gak mau?)" tanyanya
Aku mengangguk, "My dad akhirnya sih setuju I kuliah tekkim, tapi my mom yang agak ribet dulu."
"Sampe sekarang masih sih.." aku terkekeh mengingat reaksi ibuku pada gadis yang berada di seberangku
"My mom ngotot I tetep ikutan with her business, tapi I'm not exactly the most interested with FnB. Plus, waktu I pilih tekkim tuh sempet ribut. Jadinya she cut my bulanan. (Mamaku ngotot aku tetep ikutan bisnis dia, tapi aku tuh gak terlalu tertarik sama FnB. Sama waktu aku pilih tekkim tuh sempet ribut. Jadinya dia motong bulananku.)" ucapku tertawa kecil
Michie menatapku bingung, "You don't seem to be too bothered with it? (Koko tapi gak terlalu keganggu?)" tanyanya
Aku mengangguk, "Karena I knew it was going to happen pas I milih untuk ngelawan. I actually expected worse. (Karena aku tau bakal kejadian pas aku milih untuk ngelawan. Aku malah mikir bakal lebih parah." balasku
"Tapi my dad kan emang lebih santai. Jadi, he still gave me an apartment and a car. (Tapi papaku kan emang lebih santai. Jadi, dia masih ngasih aku apartemen sama mobil.)" lanjutku
Ia memanyunkan bibirnya, "Koko gak nyesel?" tanyanya
Aku tertawa kecil, "Gak lah! Kalo I ngikut mau mereka, maybe I wouldn't have met you. (Kalo aku ngikut mau mereka, mungkin aku gak bakal ketemu kamu.)" balasku langsung
Ia menggigit bibirnya, "Besides, I would probably be one of those pretentious rich kids if I gak ngelawan. (Lagipula, mungkin aku bakal jadi kayak anak-anak kaya yang sok-sokan itu kalo aku gak ngelawan.)" candaku yang membuatnya tertawa
"Gak kebayang sih kalo koko jadi gitu.." sebuah senyum terukir di wajah manisnya itu
Aku dan dirinya saling menatap. Sungguh, aku tak ingin lepas dari momen ini. Namun sepertinya semesta berkehendak lain, pintu ruangan ini terbuka. Aku pun melirik seorang lelaki rapi dengan jas melangkah menuju kami. Aku menghela napas mengetahui siapa dirinya serta hal yang kemungkinan besar akan ia bahas.
"Malem, ko. Maaf ganggu." ucapnya
"Malem, mas. Gapapa." balasku padanya
"Ibu gak ada bilang kalo ko Alex mau ke sini. Kalo ada bilang, mungkin tadi langsung kita arahkan ke ruangan VIP." tenangnya
Aku mengangguk, "Saya memang gak bilang.., jadi gak usah repot. Lagipula saya juga lebih suka nuansa di ruangan ini." balasku yang dianggukinya
"Charge-nya nanti juga mau ke kartu Ibu?" tanyanya
Aku menggeleng, "Nanti saya yang bayar sendiri." balasku langsung
Lelaki yang notabenenya ada manajer restoran ini pun mengangguk mengerti, "Saya tebak ko Alex juga gak mau Ibu tau tentang ini?" tanyanya
Aku mengangguk yang dibalas anggukan olehnya, "Kalau begitu, saya permisi. Silakan nikmati makanan malam ini." ujarnya melangkah keluar
Michie menatapku, "Your mom doesn't know? (Mama koko gak tau koko ke sini?)" tanyanya
Aku mengangguk, "I don't exactly like it when my parents, especially my mom, know too much about where and who I go out with. (Aku gak terlalu suka kalo orang tuaku, apalagi mamaku, tau terlalu banyak tentang aku di mana dan bareng siapa.)" tenangku
"Belom lagi, my mom pasti bakal kepo if she knew I ke sini and booked the private room. (Belom lagi, mamaku pasti bakal kepo kalo dia tau aku ke sini dan mesen ruangan pribadi.)" lanjutku
Ia menaikkan salah satu alis, "You never brought anyone here? (Koko gak pernah bawa orang lain ke sini?)" tanyanya
Aku menggeleng, "As far as I know, Fio pernah ke sini, tapi I never invited anyone here. (Setauku, Fio pernah ke sini, tapi aku gak pernah ngajakkin siapa-siapa.)" ucapku
Ia memicingkan matanya lagi, "Fio knows about my parents. (Fio tau tentang orang tuaku.)" tenangku menjawab pandangannya
"Koko pernah kenalin ce Fio?" tanyanya meminta penjelasan dengan nada tak suka
Aku menggeleng, "Waktu itu I dinner di sini with my parents and waktu itu ada Fio sama keluarganya juga. And at the time, I tuh udah pernah main ke rumahnya, jadi her family knew me. So pas they saw me there, of course, jadi ketemu sama my parents. (Waktu itu aku makan malem di sini bareng orang tuaku dan waktu itu ada Fio sama keluarganya juga. Pas itu, aku tuh posisinya udah pernah main ke rumahnya, jadi keluarga dia tau aku siapa. Jadi pas mereka ngeliat aku, pastilah mereka ketemu sama orang tuaku.)" jelasku
Gadis di hadapanku ini memanyunkan bibirnya, "You don't have to be jealous of her. (Kamu gak usah cemburu sama dia.)" aku meraih tangan satunya
"It just seems that you two are more than friends. (Kesannya kalian tuh lebih dari temen.)" lirihnya
"We're good friends. (Kita sahabatan.)" singkatku meyakinkannya
Pintu ruangan ini pun terbuka lagi, kali ini seorang perempuan membawa nampan berisikan makanan yang kutebak milik kami. "Ini pesenannya ya, Lex." ujarnya
"Makasih ya, kak." balasku
"Pantes gak mau nyokap tau, bawa pacar ternyata." jahilnya
"Bukan, kak." sanggahku
"Yakin? Lebih mesra dari yang waktu itu gak disetujuin nyokap deh kayaknya." ujarnya masih meletakkan pesanan Michie dan aku
Aku tersenyum getir, "Belom lagi datengnya pas hari ini, minimal seseorang yang spesial lah.." ia terkekeh
"Terserah kamu lah, kak." pasrahku
Perempuan itu tertawa kecil, "Ini lilinnya dinyalain aja lah ya, biar lebih romantis gitu." asalnya menyalakan lilin di tengah meja
Aku menghela napas dan melirik Michie yang seperti biasa kini tengah menggigit bibir mendengar sahutan pelayan itu. "Sip. Nanti kalo ko Alex perlu apa-apa, boleh panggil saya atau rekan ya." ujarnya kemudian melangkah menjauh
"Lucu deh you pas lagi malu gitu." candaku padanya setelah pintu ruangan ini tertutup kembali
Matanya memicing mendengar godaanku, aku pun tertawa melihat reaksinya itu. "I'm still not used to these things, okay? (Aku masih gak biasa sama hal gini, oke?)" tegasnya dengan pipi merah itu
Aku meraih kedua tangannya lagi, "Me too, you know. (Aku juga, tau.)" balasku
Ia tersenyum kecil, "Ko." panggilnya
"Hm?" balasku
Matanya perlahan berubah serius, "What did she mean by gak disetujuin your mom? (Maksudnya tadi gak disetujuin mamamu?)" tanyanya
Aku menghela napas, "As you said multiple times, Fio and I look like we're more than friends most of the time. Well... When my parents met her here, my mom got the impression that Fio and I were a thing. (Kayak yang kamu bilang berkali-kali, Fio sama aku tuh kadang keliatan lebih dari temen. Ya... Pas orang tuaku ketemu dia di sini, mamaku nangkepnya kalo aku sama Fio tuh sesuatu.)" jelasku
"And pas dinner, she went on about how she doesn't agree with me having a girlfriend yang modelan Fio. Nah, some of the staff here kinda saw and heard my mom about it. (Dan pas makan malem, dia ngoceh terus tentang dia gak setuju kalo aku punya pacar yang modelan Fio. Nah, beberapa staf di sini tuh liat dan denger mamaku ngocehin itu.)" lanjutku
Michie menatapku bingung, "You gak bilang that she was just a friend? (Koko gak bilang kalian punya temen.)" tanyanya
"Already did. Gak percaya, mikirnya I bilang gitu biar gak dikomenin aja. Gak inget apa reaksi dia pas she saw us together? (Udah. Gak percaya, mikirnya aku bilang gitu biar gak dikomenin aja. Gak inget pas dia ngeliat kita bareng?)" aku terkekeh mengingat ocehannya
Michie memainkan kedua jarinya, "Yang kayak ce Fio aja gak setuju, gimana I?" lirihnya namun terdengar jelas di telingaku
"My mom setuju kok." ucapku
Ia menatapku tak percaya, sepertinya ia tak menyadari lirihannya walau pelan, masih cukup terdengar di ruangan yang hening ini.
"What do you mean setuju? (Maksudnya setuju?)" tanyanya
"What do you think it means? (Menurutmu maksudnya apa?)" tanyaku balik berniat mengetahui apa yang ia inginkan dari hubungan kami
Ia menggigit bibir, "She agreed with you jalan sama I? (Dia setuju koko jalan bareng aku?) " balasnya dengan nada yang ragu
Aku memanyunkan bibir, "Well.., she agreed on more than that. (Ya.., dia setuju buat sesuatu yang lebih sih.)" jelasku
Sebuah senyum lebar terukir di wajahnya, "Hayo! Mikirin apa?" godaku padanya yang sepertinya sedang terjebak dalam fantasi
Ia membuang pandang ke bawah, "N-Nothing. (E-Engga.)" singkatnya mengangkat alat makan
"Makan, ko!" ujarnya berusaha membelokkan topik
Aku tertawa kecil, "Makan!" balasku mengangkat alat makan di hadapanku
Kami pun mengambil beberapa suap makanan yang berada di depan kami, "Enak?" tanyaku padanya yang cukup lahap
Ia mengangguk, "So good!" balasnya di sela kunyahan
Aku tersenyum kecil, "You suka-" ujarnya
"Kunyah dulu.., we still have lots of time to talk. (kita masih punya banyak waktu buat ngobrol.)" aku memotongnya
Ia tersenyum kecil, "Sorry, ko." gugupnya
Kulempar sebuah senyum kecil, "Santai aja.." tenangku
Dirinya pun menelan makanan dalam mulutnya, "You suka masak karena your mom buka FnB kah?" tanyanya
Aku menggeleng dan menelan makanan, "Nope. Karena my dad malah." balasku
Ia menaikkan satu alis, "Di rumah sebenernya both take turns cooking. Cuma biasanya my mom lebih kaku and strict about it, jadi I jarang ikutan dia masak. My dad is more like me yang suka nyoba-nyoba. (Di rumah sebenernya mereka berdua punya giliran masak. Cuma biasanya mamaku lebih kaku sama ketat tentang itu, jadi aku jarang ikutan dia masak. Papaku lebih kayak aku yang suka nyoba-nyoba.)" jelasku
Michie tertawa kecil, "Somehow I'm not surprised. (Entah kenapa aku gak kaget.)" ucapnya
"She seems too strict ya? (Terlalu ketat ya?)" aku ikut tertawa
Michie mengangguk, "Banget! I was scared she wouldn't approve of you and me! (Banget! Aku tuh takut dia gak bakal setuju tentang kamu sama aku!)" ujarnya
Ia menatapku dan menutup mulutnya, menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Aku tertawa kecil melihat dirinya yang terlalu jujur itu. Kuulur tangan kananku sambil menatapnya, meminta balasan. Ia pun meraih tanganku.
"At first, iya and agak ribut to convince her. But she did say she's okay with it. (Awalnya iya dan agak ribut buat bujukkin dia. Tapi pada akhir dia oke aja tentang itu." tenangku
Aku menggigit bibir, "But? (Tapi?)" tanyanya mengetahui tak semudah itu ibuku akan memberikan restu
"She said kalo mau serius, nanti ngomong lagi." ucapku
Michie menghela napas dengan wajah yang dihiasi senyum kecil, "Tapi I think she wouldn't be happy if her only son got a girlfriend. (Tapi kalo aku bilang dia gak bakal seneng kalo anak cowok satu-satunya dapet pacar.)" ujarnya
Aku tertawa kecil, "She's a bit overprotective sometimes. (Emang dia kadang terlalu protektif.)" balasku
Kulepas tangannya, "Yaudah, yok! Lanjut makan gih!" ujarku yang diangguki dirinya
Aku pun mengunyah dan menelan sesendok lagi, "Kalo you gimana? Your parents strict juga? (Kalo kamu gimana? Orang tuamu ketat juga?)" tanyaku ingin tahu tentang dinamika keluarganya
Ia menelan makan di mulutnya, "Well.., my mom agak strict about my life. I tuh dilarang makan permen-permen yang di jual di jalan gitu! (Ya.., mamaku lebih ketat soal hidup aku. Aku tuh dilarang makan permen-permen yang dijual di jalan gitu!)" balasnya
"Yang di jual di abang-abang gitu?" tanyaku memastikan yang diangguki dirinya
Aku pun tertawa kecil, "I juga tau. Tapi after SMA, my mom kinda gave up. (Aku juga tau. Tapi abis SMA, mamaku kayak udah pasrah gitu.)" balasku
Ia tertawa kecil meratapi nasib kami yang tak terlalu berbeda, "Tapi my mom kalo udah urusan cowok.." ucapnya menggantung kalimatnya
Aku menaikkan satu alis, "She usually lets my dad handle those. And I can kinda say my dad is really strict on guy friends. (Biasanya dia biarin papaku ngurus yang gitu. Aku sih berani bilang papaku ketat banget soal urusan temen cowok.) jelasnya membuang pandang
"Do your parents know I'm taking you out tonight? (Orang tuamu tau aku ngajakin kamu keluar malem ini?)" tanyaku sedikit berhati-hati
Ia menggigit bibir, "My mom knows. My dad doesn't. He thinks I'm hanging out with Icel and Gracie. (Mamaku tau. Papaku enggak. Dia ngira aku jalan bareng Icel sama Gracie.)" balasnya
Aku menghela napas mengetahui beberapa hal yang mungkin terjadi, "Then I should probably get you back before it's late.. (Berarti aku harus bawa kamu balik sebelum kemaleman..)" tenangku tak ingin membahas suatu hal sebelum waktu yang tepat
Waktu pun cepat berlalu. Tanpa kami sadari, hidangan di meja kami kini sudah habis. Kami pun lanjut berbincang sejenak sambil menunggu nota pembayaran diproses. Setelah menunggu beberapa saat, lelaki yang merupakan manajer restoran pun masuk membawa buku cek dan sebuah mesin EDC.
"Semua aman malam ini, ko?" tanyanya memberikan buku cek itu
Aku mengangguk, "Aman, mas." singkatku
Mataku menelusuri lembaran nota memastikan semua pesanan sudah ditulis, "Debit atau kredit, ko?" tanya lelaki itu
"Debit aja." ucapku menarik kartu debit milikku dari dompet
Ia memproses pembayaran itu dan mengembalikan kartu beserta bon pembayaran itu, "Mari, ko." sahutnya melangkah menjauh
Aku memasukkan kembali kartu dalam dompet dan mengantonginya beserta lembaran bon itu, "Ko.." panggil Michie mengulurkan tangan seakan meminta sesuatu
Aku menggeleng mengetahui kebiasannya yang mau membayarkan kembali bagiannya, "Yang ini gak usah, ya?" tenangku beranjak dari duduk
Ia mengikutiku, "Tapi-"
"Udah." singkatku tak menerima penolakan sambil mengusap puncak kepalanya
Ia menggigit bibir dan mengangguk, "Yok!" kuraih tangannya dan menggandengnya keluar
Kami pun melangkah menuju mobil, "Ko." panggilnya
Aku yang baru saja membuka pintu mobil menoleh padanya, "Thank you ya." senyumnya
Kubalas senyuman itu, "No worries. (Santai aja.)" tenangku mengusap puncak kepalanya lagi dengan gemas
"Ngghh... Koko!" rengeknya
Aku tertawa kecil, "Gih! Masuk! I anterin pulang." ujarku
Ia mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Aku pun masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobil ini kembali ke rumah Michie.
*******
Haiii haiii! Kembali lagiii
Oke. Jadi pertama..
Happy Valentine's day bagi yang punya gandengan, walau telat ya...
Selamat Hari Raya Imlek bagi yang merayakan!
Ok. Back to topic.
Ini jujur part terpanjang sampe skrg, mungkin terpanjang di antara semua part TTS
Gimana nih??!! Udah deket tuh
Tinggal dikit lagi nih!! Ayo, Lex!!
Dan ternyata mereka berdua anak strict parents?! Duh gimana ya ke depannya? Kuy tulis tebakan kalian!
Oke deh. Penulis mau balik hibernasi, see you di part berikutnya!