LOVE FAITH (END)

By SariZaiAhmad

39.1K 2.1K 570

▪ Cerita ini sudah tersedia ebooknya di google play ➡ beberapa part cerita ini saya hapus sebagian karena sud... More

Blurb
1
2
Video music
3
4
5
6
7
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
promo
tanya
🌹
Ebook
❤❤❤

8

1.1K 80 17
By SariZaiAhmad


Setelah mobil Jalal diperbaiki oleh montir. Abdul dan Jalal melanjutkan perjalanan. Selama dalam perjalanan, Jalal tak berhenti tersenyum. Abdul yang melihat dari kaca depan mobil hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya itu. Dalam suasana hening itu, Abdul memutar music untuk meramaikan suasana. Lalu menganlunlah lagu milik Savage Garden "I knew i loved you"

Maybe it'sintuition...
Barangkali ini kata hati

But some things you just don't question..
Tapi memang ada yang tak perlu kau pertanyakan

Like in your eyes..
Seperti di matamu

I see my future in an instant..
Segera kulihat masa depanku

And there it goes..
Dan begitulah

I think I've found my best friend..
Kurasa tlah kutemukan teman terbaikku

I know that it might sound more than a little crazy..
Aku tahu mungkin kedengarannya tak masuk akal

But I believe..
Tapi aku yakin

I knew I loved you before I met you ..
Aku tlah tahu bahwa aku mencintaimu sebelum berjumpa denganmu

I think I dreamed you into life..
Kurasa dulu aku memimpikanmu hadir dalam hidupku

I knew I loved you before I met you..
Aku tlah tahu bahwa aku mencintaimu sebelum berjumpa denganmu

I have been waiting all my life...
Aku tlah menunggu seumur hidupku

There's just no rhyme or reason..
Memang tak masuk akal

Only this sense of completion..
Hanya perasaan lengkap ini

And in your eyes..
Dan di matamu

I see the missing pieces...
Kulihat kepingan-kepingan yang hilang

I'm searching for..
Yang sedang kucari-cari

I think I've found my way home..
Kurasa tlah kutemukan jalan pulang

I know that it might sound more than a little crazy..
Aku tahu mungkin kedengarannya tak masuk akal

But I believe..
Tapi aku yakin

I knew I loved you before I met you..
Aku tlah tahu bahwa aku mencintaimu sebelum berjumpa denganmu

I think I dreamed you into life..
Kurasa dulu aku memimpikanmu hadir dalam hidupku

I knew I loved you before I met you..
Aku tlah tahu bahwa aku mencintaimu sebelum berjumpa denganmu

I have been waiting all my life..
Aku tlah menunggu seumur hidupku

A thousand angels dance around you..
Ribuan malaikat berdansa di sekelilingmu

I am complete now that I've found you..
Kini aku merasa lengkap setelah menemukanmu


Jalal menggelengkan kepalanya sambil tersenyum karena lirik lagu itu sama persis dengan keadaannya saat ini. Abdul tahu betul bagaimana perasaan Jalal. Karena itulah dia memutar lagu ini.

Tak lama Jalal telah sampai dirumahnya. Rumah bergaya inggris itu masih terlihat bagus. Didepan rumah itu ada sebuah taman kecil dan dihiasi dengan sebuah kolam ikan. Jalal turun dari mobil dan disambut oleh Maham Anga. Seorang wanita paruh baya yang mengurus segala keperluan di rumah ini.

"Selamat datang tuan muda. Saya Maham Anga yang akan melayani anda." Maham mengulurkan tangannya dan dibalas oleh Jalal.

"Panggil saja saya Jalal, Bi. Jangan terlalu formal."

"Baiklah. Bibi panggil Nak Jalal saja. Mari silahkan masuk." Jalal mengangguk lalu masuk kedalam rumah yang catnya berwarna putih. Abdul membawa koper Jalal lalu menaruhnya di kamar. Jalal kemudian duduk di sofa untuk melepas lelahnya.

"Nak Jalal mau minum apa? teh atau kopi? Akan saya buatkan."

"Teh hangat saja, Bi. Terima kasih." Maham berlalu ke dapur membuatkan teh untuk Jalal. Tak berapa lama Maham membawakan segelas teh hangat dan kue ringan dan dia taruh di meja.

"Silahkan diminum." Jalal mengangguk lalu meminumnya. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Maham dan Abdul, Jalal pamit untuk istirahat di kamarnya.
Sesampainya di kamar, Jalal merebahkan dirinya di ranjang yang empuk. Aroma lavender menguar di kamar itu membuat Jalal rileks. Dia menutup matanya sambil menghirup dalam-dalam aroma lavender yang menenangkannya. Yang terjadi selanjutnya saat dia membuka mata, bayangan saat tadi bertemu Jodha melintas di benaknya. Senyuman kembali terukir di bibirnya.

Begitu sampai rumah, Jodha meletakkan barang-barang belanjaannya kemudian menatanya di lemari dapur.
Meena membantunya.

"Bu."

"Iya."

"Kenapa ibu mengundang dia kesini? Dia kan orang asing yang baru kita kenal."

Meena mengernyitkan dahinya. "Dia siapa?"

"Jalal."

"Oh." Meena tersenyum, "Memangnya kenapa? Dia sudah membantu mengembalikan dompet ibu. Wajar bukan kalau ibu membalas perbuatannya. Lagipula dia terlihat pria yang baik dan juga ... tampan." Saat Meena mengucapkan kata tampan, dia dekatkan wajahnya ke Jodha bermaksud menggodanya, "Apa kamu tidak tertarik padanya?"

"Ish ... Ibu. Kami kan baru saja kenal. Tidak mungkin aku cepat tertarik padanya."

"Benarkah? Tapi yang ibu lihat tadi sepertinya berbeda. Kalian terus saling menatap, hm ..."

"Ibu."

"Kenapa malu? Sampai sekarang kamu belum mempunyai kekasih. Sepertinya Jalal pria yang cocok untukmu."

"Ibu selalu bicara tentang hal itu. Lebih baik aku mandi saja." Jodha merajuk lalu meninggalkan ibunya. Meena hanya tersenyum melihat tingkah Jodha.

Malam harinya mereka makan malam bersama dengan Bharmal.

"Ayah, tadi ibu kehilangan dompet di stasiun. Beruntung ada seseorang yang mengembalikannya."

"Syukurlah kalau begitu. Siapa dia? Jarang sekali zaman sekarang ada orang baik seperti itu."

"Dia dari Delhi dan belum pernah ke Shimla. Dia masih muda dan tampan. Seumuran Jodha. Kelihatannya dia pria yang baik. Bukan begitu Jodha?" Meena melirik Jodha. Dia hanya mengendikkan bahunya.

"Tadi aku berkata padanya untuk mampir kesini bila ada waktu. Ibu tidak salah kan menawarinya?"

"Tentu saja tidak, Meena. Kita harus membalas kebaikan orang itu."

"Kamu dengar Jodha, apa yang dikatakan ayahmu." Jodha mencebikkan bibirnya saat Meena terus saja menggodanya.

Makan malam selesai, Jodha membantu ibunya membereskan meja makan.

"Ibu, setelah ini aku ke rumah Shivani ya."

"Iya."

Setelah membantu ibunya, Jodha keluar rumah menuju rumah Shivani yang tak jauh dari rumahnya. Shivani adalah putri sulung dari Bhairam dan Salima. Selain Shivani, Bhairam juga mempunyai putra bernama Aryaan.

Setelah Bharmal diusir dari rumahnya. Bhairam Khan mengajak Bharmal dan keluarganya ke Shimla. Shimla adalah tempat kelahiran Bhairam khan dan dia mempunyai sebuah peternakan sapi dan kuda warisan dari ayahnya. Bharmal dengan keadaannya yang lumpuh membantu mengurus peternakan Bhairam.

Shivani sedang asyik membaca di teras depan rumahnya. Jodha mengendap-endap mencoba mengagetkan Shivani.

"Hei ..." Jodha menepuk pundak Shivani.

Sivani refleks berteriak. "Aaaaarggghhh ..." Jodha tertawa terbahak - bahak.

"Isshh ... kak Jodha! Mengagetkanku saja."

"Salahmu sendiri kalau sudah membaca lupa segalanya." Shivani mendengus. Jodha duduk disampingnya.

"Kamu sedang membaca apa?"

"Novel kisah cinta."

"Masih kecil bacaannya tentang cinta."

"Aku sudah dewasa, Kak. Umurku sudah 20 tahun."

"Iya, yang sudah dewasa. Kakak mau baca juga dong." Jodha mencoba merebut buku Shivani namun gadis itu langsung menepisnya.

"Eeittsss ... tidak boleh."

"Kenapa?"

"Novel ini tidak cocok untuk kakak karena menceritakan tentang kisah cinta sedangkan kakak tidak pernah jatuh cinta." Jodha membelakakkan matanya.

"Apa! Dasar pelit. Rasakan ini." Jodha mencubit pinggang Shivani.

"Aw ... sakit kak. Ampun." Jodha lalu menggelitiki Shivani sampai gadis itu mengeluarkan airmatanya. Karena tidak tega akhirnya Jodha melepaskannya.

"Aku capek tertawa terus." Shivani mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, "Lagipula aku benar kan. Sampai sekarang kakak belum pernah jatuh cinta."

"Lama kelamaan kamu seperti ibu. Selalu mengungkit hal itu."

"Dengar ya kak." Shivani memegang tangan Jodha, "Kami sayang kakak. Karena itulah kami ingin kakak bahagia dengan seseorang yang bisa membuat kakak nyaman."

"Entahlah Vani. Kenapa kakak belum jatuh cinta pada siapapun."

"Itu karena kakak tidak mau membuka hati. Kakak masih terpaku dengan masa lalu. Sudah saatnya kakak merasakan bahagia."

"Aku bahagia, Vani. Ada kamu, ayah, ibu, paman, bibi dan juga Aryaan. Kalianlah yang menjadi penyemangatku selama ini."

"Jangan lupa Muskan." Jodha tersenyum.

"Iya. Muskan juga."

"Lalu, bagaimana dengan kak Dev?"

"Dev? Memang kenapa dengan dia?" Jodha mulai bergerak tak nyaman.

"Apa kakak tidak merasakan sedikit saja rasa suka pada kak Dev."

"Aku dan Dev hanya sahabat. Tidak lebih dari itu."

Shivani menghembuskan nafasnya. "Tapi kak Dev mempunyai perasaan lebih pada kakak."

"Kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin Dev menganggapku lebih dari teman."

Jodha berpura-pura tidak tahu. Padahal semua orang juga tahu jika Dev mempunyai perasaan lebih padanya. Meskipun Dev tidak pernah menyatakan cintanya. Hal itu sudah terlihat dari cara pria itu memperlakukannya. Namun Jodha menepisnya agar hubungan persahabatan mereka tidak rusak.

"Kita semua tahu, tapi ya sudahlah. Lalu kira-kira kriteria pria seperti apa yang kakak inginkan?"

Jodha melepaskan genggaman tangannya lalu berdiri dan mendongakkan kepalanya ke langit.

"Seorang pria yang bisa membuatku aman dan nyaman saat bersamanya. Dan yang pasti dia bisa membuatku melupakan masa laluku yang suram."

Jodha menatap bulan yang bersinar terang. Tepat saat itu sekilas wajah Jalal yang tersenyum padanya terbayang. Jodha terkejut hingga mengedipkan matanya berulang kali untuk memastikannya dan bayangan itu langsung menghilang.

"Jalal," gumam Jodha lirih.

Sedangkan di tempat lain, Jalal sedang duduk di kursi dekat kolam ikan di taman depan rumahnya. Dia menghembuskan nafas merasakan udara Shimla di malam hari. Dia melihat ke atas. Melihat bulan yang bersinar sangat terang malam ini. Tiba-tiba dia melihat bayangan wajah Jodha.

"Bulan saja iri dengan kecantikan wajahmu. Sejak aku melihatmu, aku selalu memikirkanmu. Apa yang sudah kaulakukan padaku Jodha?" Jalal bicara seolah dia bicara dengan Jodha.

"Kau tahu. Entah mengapa suaramu seperti terngiang dikepalaku. Seakan kau sedang memanggilku dengan suaramu yang merdu itu." Jalal tersenyum lalu menggeleng, "Aku pasti sudah gila."

"Aku tidak sabar ingin bertemu denganmu lagi. Dan kuharap kau juga merasakan perasaan yang sama denganku."

Tanpa mereka tahu, takdir telah menuliskan nama mereka berdua menjadi satu. Dan takdir juga punya caranya sendiri untuk mempertemukan mereka kembali.

Continue Reading

You'll Also Like

82.7K 7.5K 75
Baca ajah kalau penasaran sama kisahnya👌😘. . . . Jangan lupa apah?? VOTE⭐️ And COMMENT💬 Thanks You
859 20 15
mohon bijak dalam membaca ok. dalam kerajaan penuh intrik, seorang raja melawan norma kerajaan mencintai gadis rakyat biasa. sang ratu yang mengetah...
146K 4.1K 38
Musibah bertubi-tubi terus mendatangi Jodha Indira Kamania. Pertama, adiknya mengalami kecelakaan tabrak lari lalu rumah dan perusahaan milik ayahnya...
Permata Dari Amer By Sharma

Historical Fiction

25.4K 930 13
Sebuah kisah cinta yang amat rumit, dimulai dari peperangan, pernikahan tanpa alasan cinta, kebencian yang amat mendalam, rencana balas dendam, konsp...
Wattpad App - Unlock exclusive features