Frinza

By Erzullie

6K 750 148

Mencari perhatian agar diperhatikan, ialah Frinza, anak kedua dari keluarga Martawangsa. Setelah kematian Ibu... More

Prolog
1 : Perkenalan
2 : Jotun Wrath
3 : Kekalahan
4 : Hari yang Sepi
5 : Bukan Sembarang Kenny
6 : Senin Berdarah
7 : Rumah
8 : Sahabat dan Getir
9 : Geng
10 : Queen
11 : Tempat Terhangat
12 : Malam Berbunga
13 : Permainan Belaka
14 : Nasehat Babeh
15 : Mainan
16 : Deklarasi Merdeka!
17 : Awal yang Baik
18 : Brotherhood
19 : Pria Bercerita
20 : Surprise!
21 : Rindu
22 : Bahasa Tangan
23 : Hancur
24 : Perasaan yang Sesungguhnya
25 : Frinza vs Reynard
27 : Persiapan Perang
28 : Kekuatan dari Dalam
29 : PERANG
30 : Puncak Pesta
31 : Last Dance
32 : Kemenangan yang Kosong
33 : Malam Perpisahan Kelas
34 : Hadiah
Epilog
35 : Bayangan Paling Gelap
36 : End

26 : The King is Back

115 18 7
By Erzullie

Kabar kekalahan Reynard menyebar seantereo sekolah. Dua Jendral raksasa sudah ditumbangkan oleh The Giant Slayer, Frinza Martawangsa. Anak OSIS pun mengambil momentum dan menyuarakan stop bullying. Mereka membuat ultimatum keras bagi pelaku yang melakukan pemerasan atau pemalakan di area sekolah. Sehari setelah Reynard dikalahkan, keesokan harinya tak ada lagi uang pungutan setoran. Era para raksasa telah berakhir.

Selama satu minggu, kehidupan di SMA Adinata akhirnya damai. Para siswa mulai terbiasa tanpa kehadiran anak Jotun di kelas-kelas mereka saat jam istirahat. Para begundal itu bersembunyi di palung terdalam kelas mereka masing-masing dan tak punya muka keluar saat jam istirahat berlangsung.

.

.

.

Senin, minggu kedua setelah keruntuhan para raksasa.

"Jangan tawuran-tawuran lagi kamu," ucap Pak Maman sambil menghela napas berat. "Kamu tuh di kelas tiga ini cuma berapa bulan doang. Kalo kena skors lagi, beres kamu. Ga bisa ikut ujuan nasional."

Lelaki dengan name tag tertulis Rudi Kuncoro di atas kantong seragam itu tersenyum pada Pak Maman. "Oke, Pak. Saya ga akan terlibat tawuran lagi."

"Ya sudah, sana kembali ke kelas," ucap Pak Maman.

Rudi mengangguk, lalu keluar dari ruang guru. Ia berjalan di koridor sekolah pagi itu. Semua mata memandangnya. Kedamaian yang sempat dirasakan minggu lalu, ternyata hanyalah kedamaian yang semu. Mereka semua hampir lupa, bahwa para raksasa itu memiliki seorang Raja. Langkah Rudi terlihat ringan, tapi membuat aura di sekolah kembali berat dan mencekam.

Begitu tiba di lantai tiga, para anggota Jotun berbaris di kanan dan kiri koridor menyambut kedatangan sang raja. Bukan hanya anak kelas tiga, tapi seluruh anggota Jotun dari kelas satu dan dua pun hadir.

Reynard dan Bagas sudah menunggu di dalam kelas. Mereka berdua berdiri di sebelah kursi yang selama kurang lebih dua bulan ini kosong.

Saat langkah Rudi melewati pintu kelas, Rania menghampirinya. "Beb, aku—"

Ekspresi rudi yang ceria, tiba-tiba berubah. "Diem. Gua ga mau denger apa-apa lagi dari mulut pengkhianat. Cewek yang hobi mempermainkan perasaan laki-laki ga pantes dipertahankan. Kita udah putus, dan cukup sampe di situ."

Rania diam tak berkomentar. Ia menunduk dan merasa bersalah karena sudah mendua, meskipun hanya main-main.

Rudi mengusap kepala Rania. "Tapi gua tetep ga terima lu dipermaluin begitu sama anak yang gangguin temen-temen gua. Jadi sebagai hadiah terakhir buat lu, gua bakal balesin rasa sakit lu."

Kini Rudi melanjutkan langkah hingga dirinya berdiri di hadapan Reynard dan Bagas. "Sorry, gua ada ada waktu kalian dihajar."

"Maaf, gua kalah ...," lirih Bagas.

Rudi terkekeh. "Wajar, lawan lu Frinza Martawangsa. Lu pada tau siapa dia? Atau pernah denger namanya?"

Semua menggelengkan kepala.

"Orang yang punya nama belakang Martawangsa itu, bukan orang sembarangan. Terlebih, si Frinza ini dikeluarin dari sekolah lamanya karena insiden berat. Dia bikin anak orang jadi cacat permanen dan hampir tewas. Beruntung lu berdua ga kenapa-napa."

"Lu kenal dia?" tanya Bagas.

Rudi menggeleng. "Belum pernah liat, tapi namanya cukup besar sejak SMP. Dia ga pernah muncul di permukaan kancah tawuran, wajar kalo ga banyak yang tau. Tapi yang jelas, dia ga bisa ditanganin segampang itu. Jadi, kita bakal perang abis-abisan."

Kini Rudi celingak-celinguk dan pandangannya berhenti pada sosok anak yang memegang kelas sebelas. "Dre, gua punya rekomendasi anak kelas sebelas. Lu rekrut dia jadi anggota kita."

Andre memicingkan mata. "Siapa? Kenny?"

Rudi tersenyum miring. "Bukan, tapi temennya."

Andre menatap ke arah Bagas dan Reynard. Ia meneguk ludah membayangkan wajah seseorang. "Temennya Kenny? Siapa?"

Senyum Rudi berubah menjadi seringai. "Namanya Budi."

***

Bel istirahat berbunyi. Suara gemuruh langkah kaki langsung menggema di seluruh penjuru sekolah. Para siswa-siswi keluar dari kelas seperti biasa, sebagian menuju kantin, sebagian lagi duduk di selasar. Wajah mereka sempat terlihat tenang seperti minggu sebelumnya.

Namun, hari ini berbeda. Dari ujung lorong lantai dua, Rudi berjalan pelan bersama pasukannya. Ia hanya diam, tapi diamnya seolah menebar teror senyap.

Beberapa siswa yang melihat mereka langsung menegang. Anak-anak Jotun yang ikut berbaur di lorong mulai memberi isyarat halus bagi para anak laki-laki untuk kembali ke kelas-kelas mereka. Satu perintah senyap itu tersampaikan ke seluruh penjuru lantai.

Siswa laki-laki perlahan kembali ke dalam kelas masing-masing.

Siswi-siswi pun ikut mundur, menyisakan lorong yang kini seperti koridor penjara. Adinata kembali dalam genggaman para raksasa.

Kedamaian seminggu terakhir runtuh secepat kilat. Anak-anak Jotun menyebar ke kelas-kelas untuk menagih kembali uang setoran. Sementara itu, Rudi dan keempat pilar barunya melangkah lurus menuju satu titik tujuan, yaitu kelas XI IPS 3.

***

Reynard, Bagas, Andre, dan pentolan kelas sepuluh berjalan di belakang Rudi. Namanya Aska. Aksa bertubuh kecil dan kurus. Rambutnya berantakan ditemani sorot mata liar seperti hewan buas. Ia terkenal brutal dan sering menghajar orang tanpa alasan. Keempatnya berjalan membuntuti Rudi.

Pintu kelas XI IPS 3 terbuka. Suasana mendadak hening. Kenny yang sedang melamun, perlahan menoleh. Anak-anak lainnya terpaku ke arah pintu.

Frinza duduk dengan kaki terangkat ke bangku. Ia menoleh saat pintu dibuka, lalu berdiri perlahan. Tatapannya langsung bertabrakan dengan Rudi.

Rudi tersenyum lebar saat menangkap hadir Frinza di kelas itu. "Oi, Bud!" panggilnya santai.

"Bud?" Kenny menatap Frinza heran. "Jembud?"

Frinza membalas senyuman itu dengan kekehan tipis. "Tumben lu masuk, Bang Bambang."

Bagas memicing heran. "Bang-bang-bang?"

Suasana berubah. Frinza tidak tahu kalau nama asli Bambang yang ia kenal adalah Rudi Kuncoro. Dan Rudi pun tak tahu kalau Budi yang selama ini ia tahu merupakan Frinza Martawangsa.

"Ngapain, Bang, di mari?" tanya Frinza.

"Kebetulan! Gua mau ngajak lu gabung," kata Rudi sambil jalan mendekat.

"Jogres gitu kayak Digimon? Apa fusion kayak Dragon Ball maksudnya?" tanya Frinza. Ia pun berjalan menghampiri Rudi. "Gua belom siap gancet tapi."

Rudi terkekeh. "Bukan begitu. Gua mau ngajak lu gabung ke Jotun."

Frinza ikut terkekeh. "Maaf, kayaknya ga dulu deh."

Rudi merangkul Frinza sambil menatap anak-anak di kelas itu. "Ngomong-ngomong, Bud. Gua mau tanya dong. Yang namanya Frinza—mana? Katanya dia ada di kelas ini."

Kelas semakin tegang. Kenny pun mulai gelisah. Frinza menghela napas, lalu menatap Rudi.

"Kenapa lu nyari si Frinza?"

Rudi menatap langsung ke bola mata Frinza. "Gua mau kasih pelajaran. Karena dia udah bikin dua temen gua ini babak belur." Sambil menunjuk Bagas dan Reynard.

Sunyi hadir memeluk. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, segores senyum muncul di bibir Frinza.

"Selamat," ucap Frinza sambil menyeringai. "Anda telah menemukan orangnya."

Wajah Rudi menegang sejenak. Matanya membelalak saat melirik ke arah Frinza.

"Yang mana?"

Frinza melepaskan rangkulan Budi dan berdiri di hadapannya dengan tampang tengil. "Yang diri di depan lu."

Dalam sekejap, tak ada lagi senyum di wajah Rudi. "Jangan bercanda. Lu udah gua anggap temen. Mana yang namanya Frinza?"

"Kalo ga percaya, coba tanya temen-temen lu," balas Frinza.

Rudi menoleh ke arah empat pilarnya. Mereka semua hanya diam dengan tampang tegang. Tak ada yang menyanggah ucapan Frinza.

"Jadi, nama asli lu Rudi?" tanya Frinza. "Kalo mau ngasih pelajaran, ayo kita ketemu nanti pulang sekolah. Kebetulan, gua juga lagi nyari lu buat mutusin rantai sumbangan Yayasan Al-Jotun yang aliran dananya haram."

Kenny bangun dan berjalan cepat mendekati Frinza. Ia meraih bahu lelaki itu dengan tampang tegang. "Oi."

"Santai, Ken. Gua ga bakal kalah," ucap Frinza.

Rudi tiba-tiba tersenyum lagi, lalu tertawa terbahak-bahak.

Di sisi lain, kini giliran Frinza yang tersinggung dan menatapnya tajam. "Apa yang lucu?"

"Maaf, maaf, ga sengaja ngakak," jawab Rudi. Ia berusaha diam dan serius kembali. "Soalnya lu kira ini masalah pribadi. Padahal, gua ga ada masalah sama lu, jadi maaf banget, gua ga bisa lawan lu pulang sekolah nanti."

"Kenapa? Lu takut, Bang?" tanya Frinza.

"Bukan. Lu punya masalah sama Jotun, yang artinya ini bukan lagi perkelahian, tapi perang. Karena lu orangnya asik, gua kasih sedikit kompensasi. Kumpulin pasukan lu buat hari Jumat nanti. Masih ada waktu dua hari lebih buat bangun kekuatan. Gua tunggu lu di tanah merah. Kalo ga dateng, gua cari, terus gua seret anak-anak di kelas lu. Gua mau lu dikubur di tanah merah bareng pemberontak lain."

Rudi menoleh ke arah jendela, dan menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang mengintip dari luar kelas. "TERMASUK ANAK OSIS!" bentaknya.

Setelah itu, telunjuknya menodong kepala Frinza. "Gua tunggu lu. Jangan kabur."

Frinza tersenyum dan mengacungkan jempolnya seolah-olah ia hanya diajak bermain. "Oke, sampe ketemu hari Jumat sepulang sekolah."

Regina hanya diam di sebelah Arkanta saat Rudi dan empat pilarnya berjalan keluar dari kelas XI IPS 3 dengan tampang gusar.

Sang Raja telah meniup terompet perang. Dan tak ada jalan keluar lain, selain pertumpahan darah di bawah senja Jumat.

.

.

.

TBC



Continue Reading

You'll Also Like

5.2K 161 46
Edvances Leygander dan Krayna Auderelia adalah dua orang yang tidak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan, bertemu untuk menciptakan suatu jalan...
154K 953 5
Ini kisah dari gadis manis, nan lugu. yang tidak dianggap oleh keluarganya. namun begitu dicintai oleh banyak keluarga diluaran sana Dia satu satunya...
10.3K 412 59
Sudah [Tamat] ⚠️HARAM PLAGIAT" Aku nggak pergi. Aku hanya ada di hati kamu untuk sekarang,besok,dan selamanya," "I love you, Aretha Nararsya. You are...
255K 8.8K 62
Harap bijak dalam membaca!! Terdapat beberapa kata kata kasar! Oke, ambil baiknya tinggalkan hal buruknya!! Seorang gadis, salah satu anggota geng mo...
Wattpad App - Unlock exclusive features