GLIMPSE 2 (our little world)

By diananatalia_dalawir

4.5K 307 11

BoysLove Mpreg šŸ”ž Gaes,baca dulu yg book 1 yaahh.... More

1
2
3
4
6
5
7

8

506 37 2
By diananatalia_dalawir



Hari ini Pooh tidak bisa pergi bekerja karena sedang sakit. Semalam ia mengalami demam yang begitu tinggi.
Meski sudah menelan obatnya,tetap saja itu tidak membawah perubahan apapun.
Pavel sangat kawatir  dengan keadaan Pooh yang semakin lemah dan akhirnya menelpon dokter pagi ini.

"Tuan Krittin harus istirahat dengan maksimal. Tidak boleh memaksakan diri atau itu akan berdampak lebih parah lagi. Saya akan memberikan obatnya,bisa diminum setelah makan" jelas sang dokter

Setelah dokter itu memberikan resep obat untuk Pooh,sang dokter kemudian pamit pergi dari kediaman itu meninggalkan Pooh dan juga Pavel yang kawatir dengan keadaan suaminya.
Pooh sebenarnya jarang mengalami sakit yang seperti ini tapi kali ini ia benar-benar merasa lemah.

Pavel datang dengan semangkuk bubur hangat yang ia letakan di atas meja ruang keluarga mereka.
Pooh sedang duduk di sofa dengan kepala yang ia sandarkan pada punggung sofa itu.

"Sayang,ayo makan dulu. Setelah itu minum obatnya"

Pavel menyentuh lembut punggung Pooh. Badan suami mudanya itu terasa sangat hangat.

"Terima kasih sayang" guamam Pooh dengan suara lemahnya tapi ia masih memberikan senyum manisnya kepada orang yang ada disampingnya.

Pavel membantu Pooh untuk duduk lebih tegak. Badannya lemah,wajahnya pucat,matanya merah akibat demam tinggi yang dialaminya.
Sungguh Pavel tidak bisa melihat Pooh dalam keadaan seperti ini.

"Aku akan menyuapimu" ucap Pavel yang kini sudah memagang leper yang berisi bubur itu dan mengarahkannya kearah Pooh.

Beberapa menit berlalu dan Pooh dengan lahap menghabiskan buburnya. Dan disaat Pavel sedang mempersiapkan obat untuknya,Pooh kembali berbicara dengan suara yang masih terdengar lemah.

"Sayang"
"Ya?" Pavel melihat kearah Pooh
"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini"
"Pooh,kau sedang sakit. Apakah tidak bisa ditunda sama skali?" Pavel memberikan obat itu pada Pooh bersama segelas air.

"Tidak bisa sayang,aku sudah mengerjakan ini berhari-hari dan hari ini semuanya harus selesai"

"Apakah tidak bisa diganti?"
Pooh menggeleng pelan.

"Sekertarisku sedang dalam keadaan berduka,dia izin untuk dua hari ini"
"Pooh,keadaanmu sama sekali tidak memungkinkan untuk pergi bekerja"
"Aku tau,tapi..aku harus menyelamatkan perusahaan ini sayang. Ini adalah kerja sama yang penting. Bukan hanya untukku,tapi juga untuk banyak orang" jelas Pooh

"Baiklah,kalau begitu biar aku saja yang pergi melakukannya untukmu" ucap Pavel yang membuat Pooh menatapnya penuh heran.

"Phi?"

"Pooh,biarkan aku melakukannya. Kau percaya padaku kan?"
"Aku selalu percaya kamu phi,aku hanya kawatir kau akan kelelahan"

Pavel tersenyum dengan hangat.

"Hanya untuk hari ini" ucap Pavel meyakinkan Pooh.

Akhirnya,meski dengan sedikit keberatan Pooh mengizinkan Pavel untuk menggantikannya bekerja di kantor. Karena selain ini,dia sama sekali tidak punya pilihan lain lagi.

"Aku sudah menandai setiap berkas yang harus dikerjakan lebih dulu. Beberapa sudah selesai dan kau hanya perlu mengirimnya" jelas Pooh disaat Pavel sedang bersiap-siap.
Saat ini posisi mereka berdua sedang berada dikamar.

"Kau tenang saja sayang,aku akan menjadi karyawan terbaik hari ini" gurau Pavel dengan tawa hambarnya.

Pooh hanya menatap Pavel dengan tatapan teduhnya. Rasanya sangat berat membiarkan Pavel bekerja dalam kondisi seperti itu. Meskipun ini hanya sehari saja.
Ah! Pooh benci kenapa dia harus sakit.

Setelah Pavel selesai,ia berjalan menuju Pooh yang duduk diatas kasurnya.

"Cium aku" pintanya dengan manja mendekatkan wajahnya pada Pooh

"Sayang,nanti kau tertular" ucap Pooh menghawatirkan istrinya.

Mendengar itu Pavel menjadi sedih dan mempoutkan bibirnya kesal. Tapi itu terlihat lucu dimata Pooh sehingga membuatnya tersenyum lebar.

"Kenapa?" Tanya Pavel yang masih badmood

"Baiklah sayang,kesini...lebih dekat lagi"

Pavel tersenyum puas kemudian membawah dirinya semakin dekat ke arah Pooh. Sehingga Pavel dapat merasakan deru nafas Pooh yang hangat.
Pooh mencium Pavel di setiap sisi wajahnya,dengan sangat berhati-hati tapi penuh cinta.

"Maafkan aku sayang" ucap Pooh yang masih merasa bersalah karena harus membiarkan Pavel pergi bekerja dalam kondisi hamil.

Pavel hanya menggeleng pelan.
"Kenapa harus meminta maaf? Karena inilah aku ada disini. Untuk menemanimu,bersamamu. Apapun yang terjadi,kita sudah berjanji untuk melakukannya bersama kan?" Pavel mengelus lembut wajah Pooh yang masih terasa hangat itu.
Dan Pooh hanya mengangguk mengiyakannya.

"Baiklah,aku akan pergi. Jangan lupa untuk menelfonku jika terjadi sesuatu. Jangan lupa untuk meminum obat siangmu" Pavel mengecup singkat bibir Pooh.

"Iya sayang"

"Aku pergi"
"Sebentar" cegah Pooh
"Ada apa sayang?"

Pooh mengulurkan tangannya menyentuh perut Pavel. Dan menyadari itu,Pavel tak dapat menyembunyikan sikap salah tingkahnya.

"Baby,maafkan Daddy yang harus membiarkanmu dan papamu bekerja keras hari ini. Tolong pahamilah papamu dengan menjadi anak baik yang tidak akan rewel. Oke? Doakan Daddy dari dalam sana agar Daddy segera sehat dan bekerja lagi untuk kalian"

"Pooh..." Pavel merasa geli karena Pooh yang terus mengelus perutnya.
Wajahnya menjadi merah menahan rasa malu.
Kemudian Pooh mencium perut itu lama,menyalurkan rasa cintanya pada anaknya.

"Hati-hati sayang"
"Iya Daddy" balas Pavel dengan suara manjanya.













"Kau dengar apa yang Daddy mu katakan tadi sayang? Kau tak boleh rewel ya? Kita harus membantunya bekerja hari ini karena dia sedang sakit. Selama ini dia sudah banyak berkorban untuk kita. Jadi kita harus membuatnya bangga memiliki kita"
Ucap Pavel ketika dia sudah berada di dalam mobil. Ia mengelus lagi perutnya dengan penuh kasih sayang.



















"Selesai!" Seru Pavel penuh kegirangan karena ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
Ia merenggangkan tubuhnya sambil menguap merasa sedikit lelah tapi juga puas dengan apa yang dia kerjakan.

Pavel mengelus perutnya.
"Sayang,pekerjaan Daddy banyak sekali. Papa jadi kasihan padanya.
Ternyata tidak mudah menangani perusahaan besar seperti ini.
Tapi terima kasih karena kau sudah mau bekerja sama dengan baik hari ini. Kau anak yang baik" ucapnya menatap perutnya dengan bangga.

Pavel melepas kacamata yang sedari tadi ia pakai. Memijat pelan area matanya yang mungkin lelah setelah mentap layar berjam-jam.

"Setelah nanti kita sampai dirumah,kita akan ceritakan pada Daddy mu hasil kerja kita hari ini. Dia pasti akan bangga pada kita. Tapi...apa yang sedang dia lakukan sekarang? Mari kita telpon dia"

Pavel mengambil ponselnya yang sedari tadi terletak diatas meja.
Waktu di ponsel itu sudah menunjukan pukul lima sore.

Baru saja Pavel hendak menghubungi Pooh,tapi yang bersangkutan sudah menelpon lebih dulu.
Pavel tersenyum lalu menerima panggilan Pooh.

"Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak. Aku hanya merindukan kalian"

Pavel tertawa mendengar pengakuan suaminya.

"Apakah masih lama?"
"Kita sudah selesai Daddy"
"Huh?" Pooh hanya merasa heran karena Pavel dapat mengerjakan pekerjaan itu lebih cepat dari dugaannya

"Ada apa?" Tanya Pavel
"Tidak apa-apa sayang. Aku bangga kau dapat melakukannya dengan baik"
"Sudah kubilang kan,jika aku akan menjadi karyawan terbaik hari ini"
"Kau selalu yang terbaik papa,tapi aku sangat merindukan kalian sskarang" nada suara Pooh terdengar manja.

"Baiklah,aku akan segera pulang sekarang"
"Aku akan menunggu"
"Apa kau ingin dibawhkan sesuatu?"
"Tidak perlu,aku hanya ingin segera bertemu denganmu"
"Aku akan membereskan beberapa berkas dulu setelah itu aku akan segera pulang. Tunggu aku oke?"
"Oke sayang"

Sambungan telepon terputus dan Pavel segera membereskan sedikit kekacauan di meja kerjanya.

























Pavel membuka pintu rumah itu dan mendapati Pooh yang sedang duduk santai sambil menonton tv di ruang keluarga.
Menyadari kehadiran Pavel pria muda itu segera berlari mendapati sang istri dan memeluk Pavel dengan erat. Sedangkan Pavel hanya tersenyum senang menerima pelukan Pooh.

"Bagaimana kedaanmu sayang?" Tanya Pavel saat Pooh melepaskan pelukannya.

"Sudah lebih baik"
"Baguslah"

Pooh menarik Pavel untuk duduk di sofa bersamanya.

"Kau sudah makan?" Tanya Pavel lagi untuk memastikan.

Dan Pooh menggeleng sebagai jawaban.

"Aku akan memesan makanan untuk makan malam kita"

"Bagaimana hari ini?" Tanya Pooh sambil menyenderkan kepalanya di pundak Pavel.

"Daddy jangan kawatir. Aku dan anak kita sudah menyelesaikan semuanya untuk Daddy"

"Terima kasih banyak kalian berdua" Pooh mengelus lagi perut Pavel.

"Apakah anak kita rewel?"
"Sama sekali tidak,sepertinya dia sangat memahami kondisi orangtuanya"
Pooh tertawa dengan matanya yang hampir hilang.

Pavel menangkup wajah Pooh memperhatikan dengan saksama setiap lekukan wajah itu. Mata bening itu menyimpan banyak tanggung jawab dalam pekerjaan dan juga tanggung jawab dalam rumah tangganya.
Sehari mengambil peran Pooh membuat Pavel tau bagaimana rasanya menjadi anak itu.
Aktivitas yang sama yang selalu Pooh lakukan setiap hari bukanlah hal yang mudah. Lelah itu ada tapi setelahnya kau akan mengerti mengapa kau harus melakukan semua itu setelah kau pulang dan mendapati orang yang kau cintai sedang menunggumu dirumah dengan senyum terbaiknya.
Lelah itu sama sekali tak mengurangi rasa bahagia yang di hasilkan ketika mendapati orang yang dicintai berlari menyambutmu dengan senyum hangatnya hanya karena dia bahagia melihatmu pulang.

Sesederhana itu.





















Sebulan berlalu, usia kandungan Pavel sudah lima bulan.
Pavel sudah tidak lagi muntah atau sakit seperti bulan-bulan sebelumnya.

Kini Pooh dan Pavel sedang dalam perjalanan pulang setelah melakukan pemeriksaan.
Tangan Pooh yang sebelah kiri mengelus perut Pavel yang nampak semakin membuncit. Sedangkan tangan yang satunya lagi memegang setir mobil.
Wajah keduanya terlihat begitu cerah menandakanbmereka begitu bahagia saat ini.

"Sayang,aku sangat senang mengetahui jenis kelamin anak kita ternyata laki-laki" ucap Pooh dengan sumringah.

"Pooh,aku semakin penasaran dengannya" kata Pavel yang ikut mengelus perutnya.

"Iya phi,tapi sebenarnya aku tidak masalah jika dia laki-laki atau perempuan. Dia akan tetap anak kita"





























"Kapan kau pergi? Nanti sore? Baiklah,tapi aku punya pekerjaan. Aku akan menyuruh pon untuk menemaninya lebih dulu,sepertinya aku akan sedikit terlambat pulang hari ini"

Pon melirik Sailub yang ada disampingnya karena merasa penasaran dengan siapa orang yang menelpon. Tapi melihat dari cara Sailub berbicara,sepertinya itu adalah Pooh.

"Oke-oke,sama-sama" kemudian Sailub menutup telfonnya.

"Siapa?"
"Pooh. Dia akan keluar kota dan meminta kita untuk menemani Pavel selama ia pergi"

Pon hanya diam. Terlihat seperti dia sedang memikirkan sesuatu.

"Sayang?" Panggil Sailub
"Ya?" Pria manis itu sedikit terkejut
"Ada apa?"
"Tidak ada"
"Kau bisa kan?"
"Tentu aku mau,aku hanya kepikiran Pavel saja"
"Ya,kurasa dia akan sedikit keberatan untuk ditinggal"
"Sayang,berhenti disini!" Seru pon saat mereka hampir saja melewati studio foto.
Hari ini Pon memiliki jadwal photo shoot untuk sebuah majalah.

"Maaf sayang" ucap Sailub sedikit panik

"Aku pergi dulu" ketika pon hendak turun,Sailub kembali menarik tangan pria itu.

"Ada apa?"
"Ciumanku mana?"

Pon hanya memutar matanya dan mengecup sekilas bibir pasangannya. Yang berhasil membuat Sailub tersipu malu.

"Terima kasih. tapi nanti aku tidak bisa menjemputmu"
"Tak apa,aku bisa memanggil taksi nanti"
"Baiklah,sampai jumpa di rumah Pooh"
"Hati-hati" pon melambaikan tangannya ketika mobil itu kembali melaju.

























"Pooh...." Pavel duduk disamping Pooh yang sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang harus ia bawah untuk meninjau lokasi proyek mereka di pulau phayam.

"Ada apa phi?" Pooh menatap Pavel sebentar kemudian kembali sibuk dengan aktivitasnya.

Pavel tidak menjawab,hanya menatap Pooh dengan tatapan sendunya.
Menyadari tak ada tanggapan apapun dari Pavel,Pooh akhirnya menghentikan kesibukannya dan duduk disamping Pavel.

"Sayang" panggil Pooh dengan hati-hati

"Kau kenapa?" Tanya Pooh lagi dengan meraih tangan yang lebih tua.

"Tidak. Aku hanya memikirkan mu"

Pooh tersenyum dan mengelus lembut pipi Pavel.

"Memangnya aku kenapa?"

Kembali Pavel menggeleng pelan

"Jangan terlalu banyak berfikir phi. Itu tidak baik untuk kesehatanmu dan anak kita. Sebaiknya kau lakukan hal-hal yang menyenangkan saja,oke?"

"Berapa lama kau disana?"
"Mungkin sekitar tiga hari" jawab Pooh dan Pavel kembali diam.

"Sayang,ada apa? Kau keberatan?"

"Jika iya,apa kau akan tetap pergi?"

Pooh menarik Pavel kedalama pelukannya,mengelus lembut punggung pria cantiknya.

"Sayang,aku harus pergi. Aku harus ada disana"
"Tidak bisakah digantikan orang lain?"
"Sebenarnya bisa saja. Tapi aku ingin melihatnya secara langsung agar lebih jelas"

Pooh melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Pavel.

"Phi,aku juga tidak ingin meninggalkan mu. Tapi ini demi kebaikan dan keberhasilan perusahaan juga"

"Hmm,aku tau"
"Aku sudah menghubungi phi Sai dan phi Pon untuk menemanimu selama aku pergi"
"Jam berapa kau pergi?"
"Mungkin sekitar jam empat sore,karena waktu keberangkatan kapal jam tujuh malam. Belum lagi jarak ke palabuhannya cukup jauh"

"Kapal?" Pavel mengerutkan dahinya.

"Sayang,pulau itu tidak memiliki bandar udara. Satu-satunya akses menuju kesana menggunakan kapal taksi" jelas pooh

Pavel hanya mengganguk pelan
"Hati-hati" gumamnya

Pooh kembali memeluk Pavel erat.



















Bel di depan berbunyi berulang kali.
Sedangkan Pavel masih memeluk Pooh dengan erat seolah tak mau melepaskannya.

"Sayang...."
"Sedikit lagi" keluhnya
"Ini sudah lewat setengah jam dari waktu perjanjiannya. Anggota tim sedang menungguku di luar"

Dengan berat pavel akhirnya melepaskan pelukannya.

"Berjanji padaku untuk selalu mengabariku"
"Iya sayang,aku berjanji"

Pon yang berada disana menyaksikan bagaimana kedua anak manusia itu menautkan hati mereka dengan begitu erat.
Mencoba memahami situasinya,pon berjalan mendekati Pavel dan mengusap pelan punggung pria manis itu.

"Vel,tidak apa-apa. Pooh hanya akan pergi 3 hari"
Pon berusaha menenangkan Pavel.
Tapi anak itu menggelang kuat.

Pavel menatap Pooh,ada perasaan yang sangat sulit ia jelaskan.

"Aku pergi ya sayang,jangan lupa untuk minum vitamin mu,istirahat dan makan makanan yang sehat." Pooh mengusap perut Pavel lalu merendah menyamakan posisinya dengan perut Pavel.

"Sayang,untuk sementara Daddy titip papa padamu ya. Jaga dia dan jangan buat dia kelelahan. Daddy tau kau anak yang kuat dan hebat"

Pavel menitikan air matanya.
Menyadari itu Pooh segera bangkit dan memeluk istrinya dan mencium dahi Pavel lama kemudian mengelus lembut rambut sang istri.

"Aku akan segera kembali, aku berjanji padamu"

Setelahnya Pooh melangkah ke arah pintu disusul Pavel yang masih terus mengekorinya.

Ketika pintu itu terbuka,menampakan Nan sang pengawal sudah berdiri disana

"Selamat sore tuan Krittin" sapanya
"Nan,apa kau sendirian?" Tanya Pooh yang tak melihat orang lain disana.

"Yang lain sudah pergi lebih dulu tuan"

Pooh mengangguk,dia memang terlambat dari waktu yang ditentukan .

"Pooh," panggil Pavel lagi
"Ya sayang?"

"Hati-hati"
"Iya sayang, terima kasih"

Pavel kemudian mentap Nan sang sahabat.

"Tolong jaga Pooh,phi Nan"
"Siap vel!"

"Ayo Nan"

Pooh menatap Pavel sekilas kemudian masuk ke mobil.

Dan ketika mobil itu melaju pergi sampai akhirnya tak terlihat lagi,dan
Pavel masih berdiri di ambang pintu seolah kakinya terjerat disana.















Pon memperhatiakan Pavel yang hanya menatap ponselnya sedari tadi.
Mereka sedang berada di dapur dengan Pon yang sedang menyediakan makan malam.

"Vel,makanlah dulu" ucap Pon yang menyadarkan Pavel tapi pria itu hanya menggeleng pelan.

"Pooh tidak mungkin lupa dengan perkataannya Vel"

Dan benar saja,setelah itu ponsel Pavel berdering menampakan panggilan vidio dari sang suami.

"Pooh!" Seru Pavel kegirangan mentap Pon yang sedang makan di depannya.

"Sudah Kubilang kan?"

Lalu dengan penuh antusias ia menjawabnya.

"Sayang!" Panggil Pooh diseberang sana
"Pooh!"
"Sayang maaf terlambat mengabarimu"
"Tak apa"
"Apa yang sedang kau lakukan?"

Pavel mengambil makanan yang tadinya ia biarkan dan menunjukannya pada Pooh.

"Aku sedang makan dengan phi Pon"
"Oh baiklah,aku akan menemanimu makan"
"Kau dimana?"
"Aku sekarang sudah berada di kamar kapal sayang"

"Pooh,wajahnya sedari tadi ditekuk terus karena kau lama menghubunginya" cetus pon yang membuat Pooh tertawa.

"Phi pon,aku titip Pavel ya"
"Tenang saja Pooh,dia aman bersamaku dan phi Sai "

"Pooh,apa kau sudah makan?" Sela Pavel kemudian.

"Aku baru saja selesai makan sayang"
"Yang lain kemana?"
"Mereka berada di kamar yang lain"

Pavel hanya mengangguk.

"Setengah jam lagi kapalnya akan segera berangkat" sambung pooh
"Baiklah,kau harus beristirahat agar tidak terlalu lelah"
"Melihatmu adalah obat dari setiap rasa lelahku phi" mendengarnya Pavel menjadi sangat malu tapi tentu saja dia menyukai itu.

Saat Pooh dan Pavel sedang berbicara tiba-tiba saja terdengar ketukan di pintu kamar Pooh.
Pooh berjalan ke arah pintu masih dengan ponsel yang terhubung dengan Pavel. Lalu membukanya mendapati salah satu rekan kerjanya tengah berdiri disana dan mengatakan sesuatu yang sayangnya tidak bisa Pavel dengar karena keadaan disana cukup ribut.

"Ada apa?" Tanya Pavel ketika Pooh kembali fokus padanya.
"Sayang,aku akan menghubungimu nanti. Sepertinya ada sedikit masalah"

Pavel hanya diam

"Sayang?" Panggil Pooh lagi
"Ohh,,baiklah. Hati-hati Pooh"
"Iya Sayang,nanti ku telpon lagi oke? Aku mencintaimu"
"Aku mencintaimu juga Pooh"

Dan panggilan vidio itu berakhir.













"Vel,kau pergilah beristirahat lebih dulu. Tenangkan dulu dirimu karena itu tidak baik untuk kesehatanmu dan juga anakmu"

Pavel tau,dan Pon benar dalam ucapannya.

Tapi saat ini Pavel sangat malas melakukan apapun termasuk sekedar berjalan menuju kamarnya.

Ting!

Pavel menyambar ponselnya saat sebuah notifikasi pesan nampak pada layar benda itu.

[Phi,jangan menghawatirkan ku. Aku baik-baik saja. Kau istirahatlah]

Pesan singkat dari Pooh yang membuatnya sedikit lebih tenang.

"Phi Pon,aku masuk lebih dulu" ijinnya pada Pon yang fokus pada layar tv yang ada di depan mereka.

"Oke,panggil aku jika perlu sesuatu"
"Baik phi"















21:38



Pintu itu terdorong dengan keras.
Seseorang masuk dengan keadaan panik,pergerakannya terburu-buru.
Suaranya bergetar memanggil siapapun yang ada disana.

"Vel.....Pavel......."

"Sayang,kau sudah pulang?" Pon menguap membuka kedua matanya. Layar tv di depannya masih menyala. Sepertinya ia ketiduran di sofa.

"Sayang! Dimana Pavel?"
Tanya Sailub yang menatap Pon dengan serius.

"Dikamarnya. Ada apa?"

Sailub tidak menjawab pertanyaan Pon dan langsung berlari naik menuju kamar Pavel.

Merasa ada yang aneh,Pon segera mengikutinya.

Di depan pintu,Sailub berusaha untuk mengatur nafasnya lebih baik.
Semampuhnya Sailub mencoba untuk menengkan diri sebelum akhirnya ia mengetuk pintu itu.
Tak ada jawaban. Sepertinya Pavel tertidur.

Sailub mencoba memanggil dengan tenang tapi hasilnya sama saja.
Ia akhirnya mencoba untuk membuka pintu itu yang ternyata tak terkunci.

Segera mereka berdua masuk dan melihat Pavel yang sedang tertidur pulas.

"Pavel..." Pon mencoba untuk membangunkan Pavel perlahan.

"Phi Pon? Phi Sai? Ada apa?"

Pavel bangun dan duduk bersandar di kepala ranjangnya.
Matanya berat menandakan jika ia masih ingin tidur.

Sedangkan Sailub masih berdiri sedikit jauh dari kedua orang yang ada dihadapannya.

"Phi Sai? Ada apa?"

Sailub hanya menatap Pavel ragu kemudian beralih menatap Pon yang juga terlihat bingung dengan keadaan sekarang.

Sailub menarik nafasnya guna untuk memenangkan diri pandangannya tertuju ke arah jendela yang ternyata tak dikunci.

Pavel dan Pon mengikuti arah pandang Sailub.

Ternyata diluar sedang terjadi badai.
Hujan deras disertai angin kencang.
Kilatan cahaya di langit yang disusul gemuruh petir memberi kesan yang tak mengenakan. membuat suasana malam kota Bangkok yang biasanya ramai menjadi lebih dingin dan sepi.

"Kapal taksi yang membawah Pooh ke pulau phayam tenggelam di tengah laut Vel"















TBC.........

Continue Reading

You'll Also Like

4.8M 261K 63
Tania Ivana Prameswari sudah punya segalanya: followers jutaan, endorsement melimpah, dan wajah viral di TikTok. Tapi sayangnya, satu hal yang belum...
478K 23.9K 55
Semua berawal dari satu insiden memalukan di lobby perusahaan. Luca Blue Kavindra hanya ingin mencari ruangan ayahnya dan malah menabrak seorang pria...
566K 23.6K 18
Darah biru yang mengalir dalam nadi seorang Raden Ayu Kembang Sekar Arum seperti kutukan. Sekar harus rela melepas cinta matinya yang dianggap aib it...
724K 50.1K 31
Sagara adalah rahasia berharga yang mati-matian Ayara jaga. Hingga rahasia itu terancam terkuak saat Ayara bertemu dengan masa lalunya di tempat KKN...
Wattpad App - Unlock exclusive features