24/06/24
﹫illoosion
𝄃𝄃𝄂𝄀𝄁𝄃𝄂𝄂𝄃
⚠️️ 1000+ Words.
────────────────────────
12 Januari 2024. Cuaca hari ini sedikit mendung, tapi panasnya matahari terasa tepat di atas kepala.
Jam sekarang menunjukkan pukul 11.48, Kyou datang ke gaming house dengan langkah santai, headset yang tergantung di leher, dan senyuman penuh percaya diri.
Mengingat kemenangan terakhirnya saat melawan salah satu tim besar membuat pemuda tampan ini terbawa suasana hingga sekarang, ia berhasil membawa pulang piala kejuaraan untuk tim nya.
Tentu dirinya sangat bangga dan senang, ia menjadi sangat besar kepala.
Hari ini, Kyou baru saja menandatangani kontrak pertamanya dengan brand jaket sebagai ambassador. Harusnya hari ini jadi hari perayaan bagi Kyou, harusnya.
Kyou melangkahkan kaki nya pelan ke ruang latihan, suasana gaming house sangat berbeda dari hari biasanya. Tak ada canda tawa yang terdengar, tak ada umpatan saat scrim. Terasa sangat dingin dan sangat canggung.
Sepi. Semua pemain menatap layar proyektor yang menampilkan replay match scrim dengan serius, kecuali Anavel, sang jungler tim yang berdiri dengan tangan menyilang di depan dada, menjelaskan apa yang harus di benahi para player.
Anavel melirik ke arah Kyou, tatapannya dingin dan cuek.
"Ky, di panggil coach. Ke ruang atas, sekarang." katanya singkat.
Kyou sempat mengernyit. Tak biasanya suasana gaming house sedingin ini.
Tapi ia tetap mengangguk dan berjalan menaiki anak tangga.
Tiba di ruangan rapat, ia disambut oleh coach, manajer, dan CEO tim. Tak ada yang membuka suara, coach Kyou hanya berdehem dan tangannya menunjuk ke arah meja.
Kyou melirik satu meja yang ada di ruangan tersebut, di atas meja Kyou melihat surat yang terbungkus amplop cokelat.
Kyou mendekat, di ambil surat itu dan di bukanya perlahan.
Kyou membaca isinya dengan teliti, jantungnya bahkan sempat berhenti sepersekian detik.
"Pemberhentian Resmi Pemain." lirih Kyou.
"Lu pada serius ngeluarin gua?" Kyou terkekeh, nyaris tak percaya. Ia menatap nyalang semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Sorot matanya jelas menandakan kekecewaan.
"Setelah semua yang gua lakuin disini? gua-" Kyou menunjuk dirinya sendiri, suaranya bergetar.
"-yang bawa dua piala itu pulang, kesini. Lu semua bisa apa kalau gaada gua? gaakan bisa ini tim dapetin tu piala.” Suara Kyou meninggi.
Coach menghela napas berat. "Kyou, kita udah sabar sama lu dari lama. Lu selalu anggap enteng semuanya, lu sekaky telat dateng scrim, gapernah ikut briefing. Ego & attitude lu . . . itu yang bikin temen temen lu selama ini ke pressure."
Manager menambahkan, "Kita selalu kasih kesempatan buat kamu berubah. Berkali-kali bahkan, tapi kamu ngestuck, Kyou. Malah makin bebal tiap harinya."
Kyou menggeleng keras. "Lu bercanda, kan? Gak akan ada yang pantes gantiin gua di gold lane."
Anavel tiba-tiba masuk ke ruangan, berdiri tepat di belakang Kyou. "Chill, Kyou. Kita udah cari, jauh sebelum ini. Dan yang jelas, kita ga butuh orang yang cuma mikirin ego, dan lupa kalau dia bagian dari tim."
"HAHAHAHA, emang kacang lupa kulit lu semua ngentot." Kyou keluar ruangan, sengaja menabrak bahu Anavel dengan keras.
Kyou turun melewati teman-temannya yang sudah duduk santai di ruang tengah, Moreno, Luke, Kyy. Tak ada satupun yang mempedulikan Kyou.
Kyou berjalan pelan melewati ruang tamu, menatap satu lemari kaca yang sebagian besar adalah penghargaan miliknya.
"Best gold laner S14"
"The consistent gold master"
"Finals MVP S15"
Semua penghargaan yang Kyou dapatkan selama ia menetap di tim ini, tapi sayangnya tidak lama. Pada akhirnya, ia tidak bisa menahan keputusan dari coach.
Kyou resmi dikeluarkan. Bukan karena dirinya badplay, tapi karena mereka merasa sikapnya seperti benalu.
Rasa kecewa, marah, sedih semua jadi satu di hati Kyou. Ia merasa sudah mengerahkan segalanya untuk tim, tapi apa yang ia dapatkan? cih.
-
Hujan terus turun mengguyur sebagian kota. Kyou, yang baru saja kehilangan mimpinya meringkuk lemas di atas kasur, terisak pelan.
Kyou sudah menelan 7 butir obat penenang yang harusnya hanya boleh di konsumsi sehari sekali.
Dadanya terasa sesak, sakit.
Tatapannya kosong, pikirannya sudah hilang entah kemana. Kondisi Kyou benar-benar memprihatinkan sekarang.
Di tengah keheningan malam, notifikasi dari handphonenya muncul beruntun, tanda ada yang mengirim pesan untuknya.
Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, Kyou dengan malas mengambil handphonenya dan melihat pesan masuk dari teman satu tim nya, dulu.
[ Ignore timestamp pls ]
Kyou hanya memandang chat yang dikirim Moreno dalam diam. Tangannya bergerak perlahan untuk mengetik sesuatu namun ia urungkan, kembali di hapus. Ia melempar handphone ke sembarang arah. Mengusap kasar wajahnya.
"Endingnya juga bakalan sama aja anjing." Kyou menghela nafas panjang.
Ini sudah tim kedua yang membuangnya.
Kyou tidak tau apa alasan dirinya di keluarkan semudah ini oleh dua tim sebelumnya, Kyou selalu berusaha untuk mendapatkan gelar juara di tim, ia selalu mengusahakan menjadi yang terbaik.
Saat ia berhasil, dia di buang. Dan ini sudah kedua kalinya.
"Mereka udah gua kasih tau dari awal, harusnya mereka paham." Kyou menatap langit-langit kamarnya tak ada harapan.
"Haha kayanya bakal viral dah kalau ada berita pro player bunuh diri di kamar kos" ia bergumam.
Matanya melirik nakas di sebelah tempat tidurnya, ia beranjak lesu untuk meraih laci dan mengambil botol pil yang ada di dalamnya. Kyou menuang semua butir pil obat yang ada di dalam botol ke tangannya.
Ditatapnya butiran putih itu lekat, obat yang selalu menemani Kyou di segala situasi. Dan . . . sisa satu langkah lagi untuk Kyou mendapat kebebasan.
BRAAAKKK
"KYOU!! LU NGAPAIN TOLOL." Ia berlari menghampiri Kyou, mengehempas obat yang sebentar lagi akan di telan nya.
Obat itu berjatuhan dan berceceran di lantai, Kyou terdiam mematung.
"Gua . . . emang se kagak layak itu ya, Sul?" tatapannya kosong penuh keputus asaan.
"Gua di buang lagi Sul. Gua- gua udah ngasih yang terbaik buat mereka."
"Hiks- gua cape anjing, h-harusnya lu biarin aja gua mati hiks . ." Ucap Kyou getir.
Air matanya lolos, di depan Sultan aka Aeron. Teman kecil Kyou.
"LU SADAR KYOU ANJING! ADA GUA DISINI!" Aeron menangkup pipi Kyou dan berteriak tepat di depan muka Kyou, menepuk-nepuk pipi Kyou dengan keras. Sedangkan Kyou, ia merasa dunianya sedang berputar dengan dahsyat. Kyou tak sadarkan diri.
"Sumpah ya Ky . . ." dengan tergesa, Sultan membopong tubuh Kyou yang sudah lemas ke luar kosan. Aeron sedikit berlari ke tempat parkir dengan Kyou di punggungnya.
Ia segera membuka pintu mobil yang sudah lama menunggunya.
"Lama amat lu setan, ngapain aja sih." Ucap seseorang yang duduk di kursi kemudi.
"Diem dulu dut, balik ke gh sekarang. Cepet." Sultan memposisikan Kyou di kursi belakang.
"Eh cok siapa itu anjing, lu apain anak orang Sul!?" ujarnya panik, tapi dia tetap menyalakan mesin mobil dan memutar arah ke gh.
Sultan terengah, jantungnya berdetak kencang. Ia mengambil nafas dengan rakus. Jika saja Sultan telat satu detik untuk mendobrak masuk ke kosan Kyou, ia yakin tidak akan bisa melihat Kyou lagi besok.
"Bentar anjinghh . . minta minum!" Sultan merampas dengan kasar air yang di beri temannya itu. Meminumnya dengan tidak santai.
"Huft . . . dia Kyou, yang dapet finals MVP kemaren. Dia hampir mati anjing." Sultan mengusap wajahnya kasar. Menatap sedih Kyou yang tak sadarkan diri di belakang.
—
| literally my first story in wp. sorry kalau banyak salah kata atau penulisan ku engga nyaman di baca. but i hope y'all enjoy my story <3
| vote & comment untuk booster di chapter berikutnya (follow kalau tidak keberatan, hehe) Thank u!