Hari ini Aily mempunyai rencana. Ia, akan mempertemukan Dipta dengan Kai. Nanti, sepulang sekolah dia akan mengundang Dipta dan Kai untuk datang ke rumah nya, Aily akan senang jika mereka berdua dekat dan akrab.
Dia juga akan membuat kue untuk di hidangkan kepada Dipta dan Kai. Kebetulan sekali kan, baru-baru ini Aily menjadi hobi sekali memasak dan membuat kue. Kata Leya sih, kue buatanya enak. Tentu saja itu membuat Aily merasa senang, namun dia akan senang sekali jika Kai dan Dipta yang mengatakannya.
"Tumben lo buat kaya gini." Ucap Leya sambil memakan kue yang Aily buat.
"Mengisi waktu luang aja, Ley. Aku kan sekarang udah bisa buka sosial media, trus banyak resep yang lewat di sosial media aku. Yaudah, aku coba recook, jadi ketagihan deh masak-masak kaya gini." Jawabnya dengan terus menatap Leya yang terus-terusan memakan kuenya.
"Bagus lah lo bisa masak. Skill ini kan lo pake nanti kalo nikah sama Dipta." Kata Leya.
Aily mengangguk. "Iya, jadi gak sabar!"
Azaleya melotot tidak menyangka melihat reaksi temannya. "Gak sabar apa? Wah, pikiran lo parah banget, Ly. Kotor otak nya kotor, di ajarin siapa lo kaya gitu?!"
"Apa sih, Ley?" Aily mendadak kebingungan dengan ucapan Leya.
"Se gak sabar nya lo, lo jangan kayak gitu sebelum nikah, Ly!"
"Apa? Lagi pula udah kok, kata Dipta juga enak." Aily tersenyum, membayangkan saat Dipta mengatakan itu.
Leya menggebrak meja, membuat siapapun orang di dalam kelasnya menatap Leya. Namun, mereka kembali menjalani aktivitas masing-masing, kebiasaan Leya yang menggebrak meja itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka.
Leya menutup mulut, tidak percaya. "Ly, sumpah? Demi apa? Gue gak nyangka lo kaya gini."
"Iya, Leya aku tau pasti kamu gak nyangka aku bisa masak. Dia juga gak bilang masakan aku keasinan, atau hambar, dia cuma bilang enak banget sayang, gitu." Jelas Aily. Ah, dia jadi tidak sabar membuat masakan segala macam untuk Dipta.
"Hah?" Suara Leya mengecil. Dia berdeham, ternyata bukan pikiran Aily yang kotor. "Iya gak nyangka aja lo bisa masak enak. Nanti, masakin gue juga ya?"
"Siap! Kamu mau aku masakin apa? Nanti besok aku bawa, kita makan bareng." Ujar Aily. Ia tidak tahu bahwa memasak itu kegiatan yang menyenangkan apalagi kalau orang yang memakan masakan yang kita buat mereka bilang enak.
"Terserah lo aja, pasti gue makan."
"Oke deh!"
▪︎▪︎▪︎
Sore ini, Aily sedang sibuk di dapur. Memakai apron baru yang ia beli tadi sepulang sekolah, sekaligus membeli bahan-bahan yang di perlukan. Gadis itu sudah berbicara kepada Dipta lewat telepon untuk datang ke rumahnya, begitu juga dengan Kai. Tapi, dia tidak mengatakannya pada Dipta bahwa Kai juga akan datang. Kalo, Kai dia sudah tahu bahwa Dipta akan ke rumah Aily.
"Sibuk banget kayaknya, lagi buat apa sih?" Fadli tiba-tiba datang dengan setelan jas yang biasa Aily lihat.
"Lagi buat cake. Nanti mau ada Dipta kesini." Jelas Aily, tangannya mulai sibuk memasukan bahan kue satu persatu. Fadli hanya mengangguk saja. "Oh iya, Ayah aku punya temen, namanya Kai. Dia temen Aily waktu Aily tinggal di komplek sama Ibu. Dia baik, suka bantu Aily sama Ibu dulu. Ayah harus kenal sama Kai." Gadis itu memberi tahu siapa Kai pada Ayahnya.
Fadli mengangguk. "Oke, tapi maaf kayaknya ayah gak bisa kenalan sekarang deh, Ly. Ayah mau ke kantor dulu ada panggilan."
"Yaudah, nanti cake nya Aily sisain untuk ayah. Ayah harus coba cake buatan Aily, pasti ayah suka." Ucap Aily.
"Siap, chef!" Balas Fadli. Kemudian, langkah laki-laki itu mendekati kulkas berniat mengambil air putih untuk ia minum. Namun, saat akan meneguk air di dalam botol tersebut, dia merasakan nyeri yang begitu hebat pada jantungnya hingga botol yang di genggam nya jatuh ke lantai.
Hal itu tentu saja membuat Aily terkejut, tangannya yang sibuk mengadon ia lupakan dan langsung menghampiri sang ayah. "Ayah kenapa?" Tanyanya khawatir melihat Fadli yang diam hanya memegang area jantung.
Mbak Marni yang sibuk menyapu di ruang tamu pun berlari tunggang langgang. "Bapak? Bapak gak apa-apa?" Mbak Marni mengambil botol di bawah dan mengelap lantai yang basah.
"Gak apa-apa, jantung ayah kaget liat kecoa lewat." Ringisan Fadli benar-benar samar, bahkan Aily tidak sadar bahwa Fadli sebenarnya kesakitan. "Mbak, tolong ya bersihkan ruangan dapur."
Mbak Marni yang mendengar perintah itu langsung mengangguk. Sebenarnya, dia tahu apa yang terjadi pada tuannya. Hanya saja, dia di bungkam oleh Fadli. Mbak Marni ingin sekali memberi tahu Aily, namun benar kata Fadli, lebih kasihan lagi kalau Aily terus-terusan cemas dan khawatir pada Fadli, dia akan mengurus Fadli dan merelakan waktu masa remajanya.
"Ayah pergi dulu ke kantor. Enjoy ya sama Dipta juga Kai." Fadli mengelus rambut Aily lembut dan mengecup kening putrinya.
Aily mengangguk. "Hati-hati ayah." Dia merasakan perbedaan sikap ayahnya. Tapi, dia tidak tahu apa yang membuat Fadli berbeda.
Selang beberapa menit, Kai datang lebih dulu. Dia langsung membantu Aily di dapur yang masih belum juga menyelesaikan apa yang ia buat. Kai bahkan tampak antusias melihat Aily memasak. Memakai apron berwarna biru muda, juga rambut yang di ikat asal membuat gadis itu tampak sangat amat cantik. Membayangkan, jika dia melihat Aily seperti ini setiap hari mungkin hidupnya tidak akan pernah bosan. Ah! Pikirannya menjadi kemana-mana.
"Kamu bisa tabur tepung di atas loyang itu, Kai. Jangan lupa untuk di ratakan." Suruh Aily pada Kai.
"Laksanakan, nyonya!" Respon Kai itu membuat Aily tertawa sekaligus menggelengkan kepalanya. Kai itu selalu saja menghibur Aily kapanpun, bahkan sejak masih kecil pun Kai gemar sekali membuat Aily tertawa.
Tangan Kai sekarang benar-benar penuh dengan tepung. Tapi, di dalam kepalanya Kai memiliki ide jahil pada Aily. Dengan secepat kilat tangan Kai yang berlumuran tepung itu mengelus pipi Aily. Ya, pipi nya sekarang menjadi berlumur tepung karena Kai.
"Kai!" Aily kesal saat ini. Apalagi kekesalannya bertambah ketika melihat Kai tertawa. "Sumpah deh, gak ada yang lucu." Aily cemberut mengambil selembar tissue dan mengelap pipinya.
"Ada. Kamu lucu soalnya kalo cemong gini." Kai masih melanjutkan tawanya tanpa mementingkan kekesalan Aily.
Alis gadis itu menekuk, bibirnya cemberut. "Sini kamu!"
"Apa?" Kai dan Aily sedikit berjarak, hingga Aily menyuruh Kai untuk mendekat. Tanpa rasa curiga Kai menuruti perintah Aily.
Di saat Kai sudah dekat dengan Aily, gadis itu juga tidak kalah cepat memoleskan tepung pada pipi Kai, bahkan lebih banyak sehingga Kai terlihat seperti memakai bedak. Aily tertawa melihat Kai, hatinya puas, maka nya jangan jahil. Tentu saja dia akan balas dendam.
"Ly! Astaga, muka aku bukan adonan." Kai sedikit kesal, dia tidak menyangka Aily akan membalas kejahilannya.
"Biarin aja, bagus kok kamu kaya gini."
"Aku gak nyangka kamu ternyata nyebelin."
"Kamu lebih nyebelin, Kai."
"Nih, aku bales lagi kamu." Kai kembali memoleskan tepung pada wajah Aily.
"KAI!" Aily membalasnya lagi.
Mereka terus memainkan tepung, dan saling berbalas hingga tidak sadar sekarang dapur seperti kapal pecah. Berantakan. Dan, tepung itu memutihkan seluruh area dapur. Aily berlari mengelilingi Kitchen Island, sementara Kai juga berlari mengejar Aily.
Namun, tiba-tiba Aily hilang keseimbangan, hingga membuatnya akan terjatuh. Beruntung, Kai berada di belakang nya, dengan cepat laki-laki itu menangkap tubuh Aily. Tapi, Kai pun mendadak terpeleset, hingga mereka berdua jatuh dengan posisi yang agak aneh, Aily sekarang di atas tubuhnya Kai.
"Kamu gak papa?" Kai memperlihatkan ekspresi khawatirnya.
"Gak–"
"Jadi aku kesini cuma buat liat kamu sama dia kayak gini?" Kalimat Aily dipotong sama Dipta yang tiba-tiba datang dan melihat pemandangan yang membuat hatinya seperti tergores benda tajam.
"D-dipta." Aily terbangun dengan cepat. Dia jelas melihat wajah Dipta dengan air muka yang sulit di tangkap. Dipta marah.
"Aku kecewa, Ly." Dipta pergi setelah mengatakan kekecewaanya pada Aily. Dia berjalan cepat keluar dari rumah itu.
Aily juga berlari mengejar Dipta, gadis itu menarik tangan Dipta. "Dipta aku bisa jelasin." Aily melirih.
Dipta mendengus. "Gak perlu, gua rasa lo sama dia itu udah jelas!" Dipta menekan kata terakhirnya sambil menunjuk Kai di ambang pintu, bahkan Dipta mengubah aku-kamu menjadi gua-lo.
"Dipta, please listen to me." Aily memohon pada Dipta untuk mendengar penjelasannya.
"We broke up."
Itu adalah kalimat paling menyakitkan dari Dipta untuk Aily. Tiba-tiba hatinya menjadi sangat sakit saat Dipta mengatakan "putus" untuk hubungan mereka. Tentu saja Aily menangis, gadis itu meneteskan air matanya di depan Dipta, laki-laki yang ia percaya bahwa, dia tidak akan pernah menyakitinya.
"I said I can explain to all what you see, Dipta." Suara Aily semakin bergetar, bahkan tubuh nya melemas.
"Jadi ini jawabannya." Dipta mendesis pelan. Dia masuk ke dalam mobilnya, dan meninggalkan pekarangan rumah Aily juga meninggalkan gadis yang sangat dia cinta. Dipta benar-benar pergi begitu saja. Aily bahkan terjatuh saat dia tidak cukup kuat untuk menahan kepergian Dipta.
Kai mehampiri gadis itu, "Ly?"
Tidak ada respon dari gadis itu, dia tetap menangis di bawah langit yang tampak mendung dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
"Ly, masuk dulu yuk. Jangan di luar, ini mau hujan." Kai menggoyangkan tubuh Aily, ia benar-benar lemas.
"Hati aku sakit, Kai." Suara pelan Aily itu membuat hati Kai mencelos.
"Iya, Ly. Kita masuk ke dalam dulu, ya." Kai mengangkat kedua pundak Aily, sehingga gadis itu ikut berdiri.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Benar saja, hujan turun saat mereka sudah masuk ke dalam rumah, langit benar-benar menumpahkan air ke bumi, bahkan sepertinya cuaca cukup mendukung kepedihan hati Aily yang sobek, kata-kata Dipta itu bagaikan pedang yang merobek dan menghancurkan hatinya sampai hancur lebur.
Dia tidak akan pernah menyangka ini akan terjadi. Dipta memutuskan hubungan dengan Aily di bawah langit yang mendung.
▪︎▪︎▪︎
Hai!
Selamat membaca.
Gimana sama BAB kali ini?
Ayo komen, jangan lupa vote nya juga dong...
Oke see you di next Chapter!
Kira-kira selanjutnya apa yang terjadi sama Dipta dan Aily?
19 MEI 2025.