Together With You

By Elgieayyy

28.4K 2.8K 203

[GXG] Persahabatan dua jiwa yang berbeda diuji oleh rumor, sakit fisik, dan kehilangan mimpi. Mereka diuji ol... More

IDK
01. Sang Bintang
02. Sakit
03. Bermula
04. Paparazi
05. Demam
06. Dejavu
07. Cidera
08. Sekolah
09. Ingin Pergi?
10. Permintaan Maaf
11. Pelukan
12. Keputusan
13. H-4
15. H-2
16. H-1
IDK
17. Bertiga
18. Stalking
19. Kangen
20. Akhir?
21. Tamparan

14. H-3

682 93 8
By Elgieayyy

Happy reading semuanya!!! Maaf jika banyak yg typo, have fun sama ceritanya!!!





"Aku janji terus inget kamu
sampai kita bertemu lagi."









16.00

Satu jam selepas mereka pulang dari sekolah, Levi mengajak Aralie ke tempat gym. Sudah lama ia tak berkunjung ke tempat itu. Lagi pula ia juga selain latihan fisik disana.

Levi sudah lebih dulu melakukan pemanasan. Aralie, yang tidak terlalu terbiasa dengan tempat seperti ini, sedikit canggung saat masuk ke dalam.

Dengan wajah bosan, Aralie terdiam saat melihat beban yang begitu berat baginya. Melihat Levi sebentar, rasanya ingin pergi dari tempat itu. Di dalam Levi mengajari Aralie beberapa hal seperti berjalan diatas treadmill dan mengangkat beban berat.

dengan sabar membimbing Aralie, memastikan posturnya benar agar tidak cedera. Levi rela sedikit mengerjakan hal yang biasa ia lakukan di gym untuk membimbing Aralie.

"Kamu pernah ke gym?" tanya Levi.

"Pernah ikut Mama doang."

Terkekeh kecil, Levi melanjutkan aktivitasnya sambil menunggu Aralie beristirahat di sebelahnya.

2 jam yang sudah cukup lama, Levi dan Aralie yang juga sudah membersihkan badan mereka pun pergi ke sebuah restoran yang cukup ramai di tengah kota. Meskipun ramai mereka mengambil tempat duduk di paling ujung dan memiliki suasana yang tenang.

Setelah memesan makanan Levi dan Aralie berbicara santai. Awalnya obrolan mereka ringan, seputar kegiatan sehari-hari dan hobi, tetapi lama-kelamaan pembicaraan mereka semakin dalam.

Alunan musik jazz yang tenang, suasana restoran yang mulai ramai Levi menyeruput minumannya yang baru saja datang. Aralie melihat Levi, membayangkan jika Levi sudah pindah dan akan kesepian.

"Oh ya hari-hari ini kamu ga sakit ga sih?"

Aralie baru sadar, ia kegirangan sendiri. Di benak Levi temannya itu baru sadar kah? Yaa baru sadar. Levi tertawa kecil senang dengan caranya sendiri untuk sering mengajak Aralie kemanapun.

"Permisi kakk ini makanannya."

Aroma wangi, sedap, dan gurih membuat perut mereka berbunyi. Levi yang tak sabar langsung menyantap makanan. Tak peduli makanannya panas, Aralie bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Levi yang sudah diluar batas.

Mereka menyantap makanan dengan santai, sesekali disela dengan pembicara hangat. Melihat pemandangan Aralie kala itu yang makan dengan begitu banyak sampai bertambah porsi.

Levi hanya menghabiskan satu mangkuk saja berjaga-jaga jika Aralie tak habis. Menatap Aralie masih saja merasa bersalah ketika mengingat ia terpaksa pindah.

"Oh yaa katanya ada anak pindah tahu yang bakal datang." celetuk Aralie.

Membuyarkan lamunannya Levi baru mendengar ada informasi anak pindahan. Bagaimana bisa Aralie tahu? Atau ia kudet di sekolah? Di benak Levi ia mungkin kekurangan informasi karena terlalu fokus dengan dirinya sendiri.

"Terus? Kenapa emangnya?"

Memutar bola matanya malas, Aralie meletakkan sendok secara kasar. Ia ingin memberi tahu informasi baru di sekolah tapi reaksi Levi seperti orang tak mau tahu. Tersenyum, Levi membujuk Aralie dengan cara ampuh nya.

Aralie tak mau berbicara satupun dengan Levi. Ia melahap makanannya meskipun perutnya sudah penuh. Cara menguyah nya seperti orang yang sudah muak dengan makanan, Levi pun menyadari bahwa Aralie sudah kenyang. Ia tetap membiarkan sampai Aralie meminta tolong untuk menghabiskan makanannya.

"Oh yaa kamu kan harus makan yang banyak jadi ka-."

"Yaa tahuu."

Levi spontan mengambil makanan Aralie yang belum habis. Masih ada setengah porsi yang tersisa. Melahap dengan mengejek Aralie yang mulutnya penuh dengan makanan. Aralie malu ia tak pernah habis dalam masalah makan.









📚📚📚











Pagi hari di sekolah, Levi dan Aralie duduk di pinggiran lapangan. Menunggu antrian mereka dipanggil untuk praktek roll depan. Nampak wajah Aralie yang pucat, Levi diam-diam memberitahu gurunya untuk tidak memanggil Aralie nanti.


"Kenapa? Kamu kok bisik-bisik tadi."

Levi memasang muka tengilnya agar Aralie tak curiga. Ia hanya menyelematkan temannya dari sakit sakitan lagi. Saat antrian Levi dipanggil Aralie merasa ada yang aneh. Seharusnya ia sudah dipanggil tapi tak kunjung dipanggil.

Ingin memprotes tapi tak ada niat keberanian untuk menyatakan isi hatinya. Saat Levi kembali gadis itu tersenyum miring melihat ke arah Aralie.

"IHHH!! AKU GAPAPA TAHUU!"


Aralie duduk terdiam melihat seisi kelas penuh dengan anak perempuan yang sedang berganti pakaian ke seragam sekolah. Sementara itu Levi lebih baik ke toilet daripada di kelas melihat pemandangan yang aneh.


"Eh bener yaa katanya Levi mau pindah?"


"Kata kepala sekolah gitu aku denger-denger."

"Duhh apa si Aralie itu apa ga nangis nanti ditinggal."


"Biarin aja biar yang ga normal keluar satu."


Suasana hati Aralie menjadi gelisah, menutup telinganya saat mendengar bisikan dari teman sekelasnya. Ia masih kebingungan apa tindakan saat Levi pergi nanti.

Benar ada murid baru di kelasnya nanti tapi apakah dia bisa beradaptasi cepat di kelasnya terutama ke Aralie sendiri. Pasti yang akan mengisi kekosongan di bangku Levi adalah anak pindahan dari sekolah lain itu.


Gelisah Aralie tak siap, beberapa minggu lagi Levi akan pindah. Dirinya masih belum bisa menerimanya. Levi datang dengan wajah basah, ia menyodorkan tisu wajah untuk Levi. Melihat wajah Aralie ada yang tak beres Levi memasang wajah sus nya.

"Ha ente kenapa?"


Aralie menggeleng.

Saat pembelajaran dimulai Levi sedikit hiperaktif daripada biasanya. Tapi tidak saat mata pelajaran bahasa inggris. Ia terdiam termenung memasang wajah malasnya. Sementara itu Aralie sangat semangat.

Teman depan bangkunya terlihat membenci Aralie yang sering berinteraksi dengan Kevi. Dari kaca mini yang sering dibawanya gadis itu melihat wajah Aralie meledeknya.


"Cihh lihat saja nanti."

Aralie dan Levi berjalan santai ke arah kantin. Mereka kali ini akan menghemat uang mereka untuk suatu hasrat. Disana banyak anak kelas lain yang sedang melihat Levi. Levi dan Aralie duduk di bangku kantin sambil menunggu antrian panjang.

Mereka tertawa bahagia satu sama lain, tapi tak dengan satu orang. Gadis berambut panjang dengan poni pagar melihat Levi penuh amarah. Dirinya menggenggam sebuah kotak berwarna pink dan ungu. Dirinya akan memberikan saat Aralie pergi nanti.

"Aku ke belakang bentar tunggu aku oke."

Levi kembali ke setelan pabrik, wajah datar sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya bak nya orang gelisah. Melihat banyak orang dengan wajah aneh mereka, Levi merasa ingin pergi dari tempat ramai.

"Halo Levi." sapa seorang gadis dengan nada menggoda.

Tak menoleh kepala Levi tiba-tiba pening. Ia muak dengan teman sekelasnya itu. Sudah menjadi kompor untuk rumor mengada ada sekarang ia mendekati Levi. Levi hendak pergi dari bangku itu sayangnya dihentikan.

Tenaga Levi seketika kurang, erangan panjang terdengar di telinga Levi. Suasana semakin panas, Levi ingin menyusul Aralie.

"Ayolah Levii, aku hanya ingin kamu. Jangan deket-deket sama Aralie lagi yaa sayangg."


Bulu kuduknya berdiri merasakan geli saat mendengar suara yang ia hindari. Levi kabur mencari keberadaan Aralie. Tapi tampak dari belakang Levi melihat gadis yang ia temui di kantin malah mengejarnya dari belakang. Aralie baru saja keluar dari toilet melihat wajah Levi tak beres.

Memiringkan kepalanya melihat dari arah belakang ada satu gadis membawa kotak dengan tatapan kosong melihat Levi. Kembali melihat Levi, Aralie reflek menarik tangan sahabatnya itu dan mencari tempat aman. Ia tak memperdulikan membeli minuman saat di kantin, masih ada jam istirahat kedua nanti.

Langkah semakin cepat Aralie melirik tipis dari ekor matanya, nampaknya gadis itu sudah tak menguntit nya lagi. Lega, tapi tak dengan Levi. Gadis tersebut masih terlihat tegang dan gugup. Suara masih terngiang-ngiang, Levi menutup wajahnya malu dengan kondisi saat ini.

"Kenapa? Hmm, udah jangan dihiraukan kita ke perpustakaan aja."

Levi mengikuti arah kemana Aralie berjalan. Berjalan ke arah perpustakaan, tempat yang disukai Aralie. Baru masuk ada bau menyengat dengan suasana dingin didalamnya. Aralie bahagia melihat tumpukan buku-buku baru.

Levi mencari spot untuk tidur, menunggu Aralie memilih buku yang ia baca. Suasana dingin terutama membuat Levi nyaman membuat matanya ingin menutup. Sadar ia ada jam istirahat dan nanti ada jam mata pelajaran lain.

"Bobo? Gapapa lagipula nanti mapel bahasa Indonesia disini kok."

Mendengar erangan Aralie Levi reflek menyentuh kursi panjang dan memiringkan badannya. Aralie pergi sebentar untuk mengambil beberapa barang seperti buku, bolpoin, dan handphone mereka. Levi sangat nyaman hingga tak sadar sudah ada di alam mimpi.

Alih-alih tak mengikuti arah mereka, gadis yang telah mengincar Levi datang dari arah yang sama. Aralie tak begitu memperhatikan gadis itu. Masuk diam-diam mencari keberadaan Levi. Masih dengan membawa kotak misterius, gadis itu menaruh di samping Levi yang sedang tertidur pulas.

Melihat sekelilingnya yang kosong, gadis itu mendekat ke arah Levi. Menatap dengan penuh nafsu, mendekati wajahnya. Jarak diantara mereka sudah tak bisa dihitung. Suara nafas Levi terasa dihidung gadis itu.

"Michelle, you know i love you~"

Dari arah belakang ada Aralie yang sedang melihat mereka. Tatapan serius gadis itu merasa terpergok ingin mendapatkan Levi. Gadis itu membeku tak bisa berkata apa-apa. Apakah yang dia ucapkan terdengar sampai Aralie? Yaa tahu Aralie mendengar sangat jelas. Levi terbangun dengan keadaan kebingungan.

Ada dua orang di depan hadapannya. Melihat sekilas ada yang aneh, Levi segera bangkit dan memfokuskan pandangannya. Apa yang sedang terjadi, Aralie terus menatap gadis itu hingga ketakutan.


"Lariiii!"


Levi melihat ada yang aneh, apakah mereka bertengkar? Atau ada suatu hal lain? Aralie membawa Levi ke pojok perpustakaan. Wajah seriusnya membuat Levi ketakutan. Ia tidak melakukan apa-apa dengan gadis itu.

"Levian, kamu gapapa kan? Ga diapa-apain kan?"


Levi menggelengkan kepalanya.

Menghela nafas lega, Aralie khawatir jika Levi akan dilecehkan oleh gadis tersebut. Suasana menjadi hening sejenak Levi menyuruh Aralie kembali membaca buku dan dirinya akan tertidur pulas.









🏀🏀🏀










Levi pulang dengan keadaan sangat lelah. Sepulang sekolah tadi ia pergi bersama Aralie. Melihat suasana rumahnya juga menjadi tidak ada mood untuk makan. Dirinya terbaring di atas ranjang sambil menatap atap kamarnya.

Papanya berteriak sekeras kerasnya karena cekcok lagi dengan Mamanya. Dia hanya terdiam mendengarkan mereka cekcok. Levi membuka lemari bajunya, melihat lihat dan mempersiapkan diri untuk pindah.


Dadanya sesak, ia bisa merasakan kehampaan nanti diluar kota. Meninggalkan kota yang sudah memiliki banyak suka dan dukanya.

Levi mengambil kopernya untuk memasukkan semua baju-bajunya yang sekiranya diperlukan untuk pindah. Ia juga membawa sepatu basketnya sebagai kenang-kenangan.

Disudut lemarinya ada satu pigura tanya udah lama tertinggal disana. Meniup memperjelas isi gambar di dalam piguranya. Melihat keharmonisan keluarga, melihat foto masa kecilnya bersama keluarganya dulu.

Levi akan membawanya nanti. Sekiranya cukup gadis itu membawa kopernya ke dekat ranjangnya. Menatap luar jendela, banyak bintang yang menghiasi langit gelap. Menghitung satu-satu bintang tersenyum lebar saat melihat titik kecil seperti planet.


Planet Saturnus, ia teringat Aralie suka dengan planet tersebut. Menghela nafas berat, ia bimbang dengan keadaan saat ini. Levi semakin menjadi-jadi harus meninggalkan kota dan sahabatnya itu. Mama.... dibenak Levi tak bisa membayangkan Mamanya tidur sendiri dan tinggal sendiri di kota ini.


"I feel afraid, Kaluna."










01.00

Levi masih tak bisa tertidur, ia beranjak mengambil handphonenya. Melihat kolom chat yang sepi, mungkin ia tak terlalu berharap banyak dengan Aralie. Mengintip keluar kamar melihat suasana yang sepi.


Tinggg...


"Levian? Belum tidur?"

Aralie mengirim pesan kali ini. Harus berbuat apa lagi, ia tak bisa berbohong kali ini. Dirinya memang tak bisa tertidur tanpa alasan. Tanpa mereka sadari mereka sampai lupa waktu. Mereka terus berbicara tanpa henti di room chat.

Levi merasa mulai mengantuk, ia menutup perbincangan mereka dengan mengirimkan sebuah voice note.

"Aku janji terus inget kamu sampai kita bertemu lagi."







Bersambung



Yeahh

Cukup sekian dulu, ga bisa up lebih cepat lagi 👺

Canda canda

Jangan lupa vote yaa

Dan komen di kolom komentar

Jangan lupa join saluran ku

https://whatsapp.com/channel/0029Vb3PWZb84Om8WEldsv2R

yang mau spoiler silahkan join 😈

Byee

See you

Continue Reading

You'll Also Like

15.6K 1.2K 20
"Aku hanya ingin merasakan mempunyai keluarga dan teman yang benar-benar tulus padaku." Felix "Gua pastiin orang yang sok tau sama suka cari tau tent...
389 55 10
"Karena perbedaan dapat juga menyatukan bukan malah saling menjauhkan" _angkasa dan atika_ # 1 pengajaran 6.1.2020 # 87 depresi 18.2.2020 # 1 teenfec...
The Roses By -

Fanfiction

34K 4.2K 23
Kita berbeda, kita berasal dari dua kehidupan yang berbeda. Aku dan kamu. Dan bunga ini, mungkin dapat menyatukan kita. Cover photo from: Instagram...
1M 37.9K 84
Arala. Gadis yang bisa dibilang cerewet dengan rambut sebahu mampu memikat hati seorang Arka. Siapa yang tidak kenal Arka? Lelaki dengan paras tampan...
Wattpad App - Unlock exclusive features