Kilatan petir menyambar pohon-pohon kering di ujung desa, menebarkan kilatan cahaya yang sesaat menyingkap gelap. Aroma tanah basah bercampur debu menyeruak di antara angin malam yang merayap. “Hari ini... apa yang kalian bisa lakukan?” Suara berat pria dewasa menggema sesekali diiringi gelak tawa, dan menekan setiap kata seolah menuntut jawaban yang tak pernah ada. Wajah garangnya muncul dari balik bayang-bayang, tajam sorot matanya bagai hendak menelanjangi rasa takut yang bersarang di dada para penakut
Hening.
Hanya bunyi dedaunan kering yang berbisik lirih bersama tiupan angin. Sesekali, suara tawa sumbang terdengar di antara orang-orang yang mencari kepuasan disetiap tetesan darah mangsanya. Semakin tegang suasana malam itu, seperti tali rapuh yang siap putus kapan saja.
“Lari kalian, lari…!”
Teriakan kakek tua dari balik semak-semak tinggi membuat mereka tersentak. Semak-semak itu tumbuh liar, hampir setinggi pusar orang dewasa, menyembunyikan tubuh rentanya yang gemetar. Nafasnya memburu, namun ketakutan lebih kuat menuntun mulutnya untuk terus memperingatkan.
Langkah kaki berpacu, berpadu dengan suara napas tersengal yang berpacu dengan nyawa. Malam semakin pekat, namun kegelapan bukan satu-satunya hal yang memburu mereka.
“Dor… dor… dor…!”
Tiga suara tembakan menggema, memecah malam. Salah satu dari mereka terjatuh, tubuhnya menghantam tanah keras tanpa daya. Darah mengalir hangat membasahi rerumputan yang mulai menggeliat oleh hujan gerimis.
Semakin jauh mereka berlari, semakin dekat kematian mengikuti di belakang. Langkah mereka terasa sia-sia di tengah hutan yang menutup rapat segala harapan.
Suasana sejenak hening, hanya suara rintik hujan yang menjadi saksi bisu malam panjang di desa Cisangkas.
Prediksi cuaca di sebagian wilayah tak menentu. Awan kelabu menggantung rendah di atas langit kota, seperti bayang-bayang bisu yang mengintai dalam kesenyapan. Kota ini dikelilingi rumah-rumah besar yang berdiri angkuh, menyimpan kisah penghuni lama yang perlahan dilupakan zaman. Tak jauh dari sana, desa-desa dataran tinggi menjadi pelarian bagi mereka yang menggantungkan hidup pada kemurahan alam. Hutan-hutan lebar membentengi perbatasan, seolah menjadi garis pembatas antara kehidupan dan rahasia gelap yang tak terjamah.
Hari itu. Air berjatuhan membasahi tanah, wilayah kering yang terpapar panas matahari dalam sekejap menjadi genangan air di siang hari. Aroma hujan bercampur debu memenuhi udara, menari bersama angin dingin yang menyusup melalui celah-celah jendela.
Nuri yang sedang duduk sendirian di sudut sebuah cafe kecil. Melepas tatapan mata yang kosong, ditembusnya kaca jendela yang dipenuhi embun. Cangkir kopi di depannya tinggal setengah terisi setelah ia meminumnya 10 menitan lalu, uapnya perlahan memudar seiring waktu yang berjalan lambat. Di balik dinding kayu dengan warna cokelat berkilau, seorang pria memperhatikannya. Wajahnya tampak penasaran, seperti matanya menyimpan ketenangan.
“Kamu seharian ini banyak memperlihatkan wajah suram, apa yang sedang terjadi?”
Suara pria itu memecah kesunyian, membuat Nuri menoleh perlahan. Rambutnya tersisir rapi ke kanan, helaian hitamnya berkilau di bawah lampu temaram. Tangannya membalik cangkir kopi dengan gerakan santai, seolah tengah menunggu jawaban yang sudah ia duga.
Suasana cafe terasa sunyi, hanya terdengar suara tetesan hujan yang berjatuhan di atap seng. Seorang wanita berkacamata minus sibuk menunduk di sudut ruangan, jarinya sibuk menekan tombol ponsel jadul. Barista di balik meja hanya sesekali melirik, tak ingin mengganggu percakapan yang baru dimulai.
Nuri kembali menatap aspal basah di balik jendela. Hujan masih turun, membiarkan bayang-bayang masa lalu menari di permukaan air. Nafas panjang ia hembuskan perlahan, mencoba menahan beban yang terasa begitu menyesakkan.
Memandangi tanah yang basah diguyur hujan, pikiran Nuri melayang jauh mengikuti jejak pengalaman yang baru-baru ini terjadi, terus berputar dalam benaknya. Tetesan hujan semakin membekas di kaca jendela, menciptakan embun tipis yang memburamkan pandangan. Sesekali, ranting pohon yang tertiup angin menggores permukaan kaca, menambah kesan muram di sudut ruangan. Aroma kopi hitam yang mulai mendingin menemaninya, sementara itu, udara sejuk menerobos celah jendela, menyusup perlahan ke sela-sela rasa lelah yang bersemayam dalam dirinya.
“Aku rasa, Hari-hari ketika mengakhiri sebuah pekerjaan, yang pekerjaan itu banyak orang lain tidak bisa melakukannya, tentu bukan perkara yang mudah.” gumamnya pelan, lebih ditujukan untuk dirinya sendiri daripada pria yang baru saja melontarkan pertanyaan duduk di balik meja kasir. Napasnya terhembus ringan, seakan mengusir kebosanan yang mulai menyesaki dadanya. Matanya tetap terpaku pada jendela, seolah hujan memikat hati dan meredam seluruh gejolak dalam dirinya.
Pria itu, pembuat kopi yang selalu bersikap ramah namun jarang berbasa-basi, hanya menatap gadis di hadapannya dengan sorot mata penasaran.
“Apa keluhanmu sekarang ini, Nuri?” Lagi-lagi pria itu melontarkan pertanyaan seakan ia tak mampu menahan hasrat penasaran pada Nuri walaupun ia tak bermaksud untuk mengusik, tapi cukup untuk menyentuh sesuatu yang selama ini disembunyikan gadis itu.
Hening kembali merajai, hanya suara hujan yang setia menemani di sela-sela percakapan yang setengah hati.
Meski memiliki keahlian dalam membaca situasi dan memprediksi kemungkinan dari setiap permasalahan di pekerjaannya ia hadapi, baru kali ini Nuri merasa langkahnya berat hampir terhenti. Kasus baru yang muncul seolah menantangnya lebih keras, menuntut pemikiran tajam yang bahkan di luar batas kemampuannya. Ia sudah terbiasa menghadapi masalah pelik, tapi kali ini... sesuatu yang berbeda mendatanginya. Sesuatu yang membuat benaknya tak henti-henti menggali celah kecil yang barangkali menjadi kunci dari misteri yang belum ia pecahkan.
Nuri Aleena — gadis berusia 18 tahun berambut hitam legam nyaris sepinggang, berkilau di bawah bias cahaya lampu cafe meski tak terurus dengan baik. Wajahnya yang terbingkai oleh poni tipis, jatuh dengan lembut di atas dahi, menutupi sebagian kecil dari sorot matanya yang sayup. meskipun tampak lelah, mata itu tetap menyimpan kilauan keteguhan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang hidup di antara batas tipis antara keraguan dan keberanian.
Tidak ada yang mengira bahwa gadis secantik Nuri bisa menjadi seorang detektif di usia yang begitu muda. Ia lincah, berbakat, dan selalu memiliki cara sendiri untuk menyusup ke dalam bayangan tanpa meninggalkan jejak. Namanya memang belum dikenal banyak orang, hanya segelintir kalangan tertentu yang tahu keberadaannya. Tapi bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya, Nuri adalah aset yang sulit dicari — sekaligus ancaman tersembunyi bagi siapa pun yang berusaha menutupi kebusukan.
Namun, kali ini ia berbeda. Ada keraguan yang menggantung di hatinya. Kasus ini... terasa tidak biasa. Seakan ada sesuatu yang mengintai di balik tabir rumor dan bisikan samar yang belum jelas kebenarannya.
Nuri menghembuskan napas pelan, menatap kosong pada secangkir kopi yang hampir habis di tangannya.
“Dari sekian kasus yang pernah aku tangani... baru kali ini aku mendapati yang begitu rumit. Rumor yang tak terjelaskan... seolah hanya benang kusut yang semakin erat ketika diulur... lebih tepatnya, kasus ini... secara tidak sengaja aku ...."
Suara keras dari luar tiba-tiba memotong kalimat Nuri. Telinganya menangkap teriakan samar di tengah derasnya hujan yang belum juga reda. Cangkir kopi di tangannya bergetar pelan saat ia meletakkannya di atas meja. Pupil matanya menyipit, naluri yang selama ini menemaninya seolah langsung bekerja.
“Tunggu sebentar, hei!!” Suara itu terdengar jelas. Seruan panik yang melesat di antara suara hujan yang mengguyur jalanan becek. Nuri memalingkan pandangannya ke jendela. Kaca berembun itu memburamkan pandangan, namun sekilas seseorang terlihat berlari tergesa-gesa, tangannya bersimbah darah, menodai jas tipis yang dikenakannya. Nafas pria itu memburu, seakan dikejar oleh sesuatu yang lebih gelap daripada malam.
Jantung Nuri berdetak lebih cepat. Tangannya reflek menyibak tirai tipis, memperjelas sosok yang terus melangkah tanpa menoleh. Ada kejanggalan di sana — bukan sekadar ketakutan biasa.
bangkit secara perlahan dari kursinya, ia melangkahkan kaki sedikit tak menimbulkan suara saat menuju ke jendela. Mata Nuri menajam siap memburu dari kejauhan, memperhatikan setiap gerakan dari pria itu. Sesuatu di dalam dirinya berbisik, apa apaan ini! Noda darah itu pasti sebentar lagi akan sirna dihapus air hujan yang deras, bakal meninggalkan bukti di telapak tangannya.
Hujan semakin deras, suara langkah kaki terdengar beradu di atas genangan air. Pria itu melintasi gang sempit, namun sebelum benar-benar menghilang, sekelebat cahaya lampu jalan menyorot wajahnya. Nuri melihat jelas, tatapan mata pria itu dipenuhi ketakutan... seakan sedang membawa rahasia yang tak seharusnya ia ketahui.
“Siapa dia...?” tanyanya dalam hati.
Tangan Nuri mengepal, nalurinya semakin kuat. Ia tahu, ini bukan sekadar saksi mata yang kebetulan melintas. Ada teka-teki yang mulai terkuak di balik darah yang menodai pria itu.
Ia menarik napas dalam-dalam, menoleh pada pria pembuat kopi di belakang meja.
“Tolong buatkan kopi lagi... sepertinya malam ini akan panjang.”
Jarak cafe dan orang itu berlari cukup dekat, akan tetapi sekelibat ia menghilang dalam pandangan berlari ke gang sempit dan samar-samar dilihat dari kaca jendela yang buram. Nuri tak sempat mengejar, atau ia lebih tidak terlalu memperdulikan, karena pikirannya masih hanyut entah ke mana. Dan, tentu, ini akan menjadi kasus baru lagi.
Hujan, darah, dan rahasia — semuanya baru saja dimulai.