Hayyiii 👋😉
Gmna kabarnya niehhh?
Absen kalian bacanya jam brpa 👉
Kalian dri kota mna 👉
36. Flashback
——
Senin. Dimana hari yang sangat dibenci oleh murid-murid sekolah. Tapi ada juga beberapa yang menyukai hari Senin. Ada beberapa anak yang rela membolos demi menghindari upacara, tapi sepertinya untuk saat ini mereka tidak bisa membolos seperti biasa. Karena apa? Karena Ujian semester akhir sudah dimulai, dimana pada semester ini siswa-siswi tidak bisa lagi untuk bermain-main. Kalau bermain-main, kelulusan taruhannya.
Ruang kelas yang biasanya ribut pada saat pagi hari, sekarang damai. Siswa-siswi fokus pada kertas yang berisi soal-soal yang mampu membuat kepala mereka meledak dihadapan mereka. Mungkin bagi murid pintar, soal-soal itu tidak ada artinya. Tapi bagaimana untuk murid yang bodoh? Mereka harus bersusah payah untuk menjawab soal demi soal.
Sama halnya diruangan 12 IPA 3—kelas Zoora. Semua murid fokus pada soal dihadapan mereka sekarang, hanya beberapa, yang lain hanya menunggu contekan dari teman sejatinya.
"Zoor, bagi jawabannya." Elena berucap pelan agar pengawas tidak mengetahui mereka.
Zoora yang sedang fokus pada lembar soal menoleh kearah samping—dimana bangku Elena berada.
"Cari sendiri," balas Zoora, setelah itu ia kembali fokus.
"Ck! Ayolah, Zoor. Satu ini aja," mohon Elena.
"Enggak."
"Please,"
"Sekali nggak tetap nggak."
"Ayolah, Zoor. Kat—"
"Itu dibelakang apa ribut-ribut? Fokus lagi sama soalnya, jangan nyontek. Usaha sendiri." Buk Melly yang menjadi pengawas 12 IPA 3. Guru yang terkenal sebagai guru muda di Alexander High School, bahkan murid laki-laki pun menyukai guru tersebut.
Elena mencabikkan bibirnya, ia kembali fokus pada soalnya setelah tidak mendapatkan jawaban dari sahabatnya.
Zoora hanya menggelengkan kepalanya. "Kebiasaan," gumam Zoora.
Elena beralih kebelakang—dimana bangku Zirana berada.
"Kiw cewek, Zir. Pacarnya Bian, bagi jawabannya dong." rayu Elena.
Zirana mendonggak. "Ogah," tolaknya.
Baiklah! Sepertinya Elena harus usaha sendiri sekarang. Semua temannya tidak ada yang mau memberinya jawaban. Sebenarnya Elena tidak bodoh-bodoh banget, ia juga puntah seperti sahabatnya yang lain. Tapi... kalau soal pelajaran IPS Elena angkat tangan, ia paling lemah dipelajaran satu itu.
Andai saja Letta satu ruangan dengan mereka, pasti Elena sudah meminta jawaban kepada sahabat polosnya itu.
Setelah beberapa jam berperang dengan soal-soal yang bikin kepala mudeg, akhirnya bel istirahat pertama sudah berbunyi. Siswa-siswi 12 IPA 3 langsung mengumpulkan lembar jawaban mereka kedepan, setelah itu mereka mulai keluar dari ruang kematian.
🥞🥞
"Akhirnya... selesai juga mapel IPS. Kepala gue rasanya mau pecah pas liat soal-soalnya," ungkap Elena.
Sekarang mereka sedang berada dikantin sekolah, melepaskan rasa lapar dan dahaga.
Zoora terkekeh. "Lo nggak berubah, masih sama kayak dulu. Paling benci sama mapel IPS," kata Zoora.
Zirana mengangguk tanda setuju. "Tadi dia minta jawaban sama gue, nggak gue kasihlah. Gue aja susah payah nyari jawabannya, dia malah mau nyontek," papar Zirana.
Elena merengut. "Klean kejam, nggak mau ngasih jawaban IPS sama gue." Ia melipat kedua tangannya didepan dada.
"Kalo Letta gimana ulangan IPS-nya? Lancar?" tanya Zoora.
Letta yang sedang meminum cappucino mengangguk. "Lancar! Malah Letta tadi orang pertama yang ngumpulin jawaban! Hebat, kan!" serunya bahagia.
Mereka tertawa melihat keaktifan Letta tentang ulangan IPS-nya. Mereka jadi berpikir bagaimana dengan Galaksi yang notabene-nya itu dingin, malah nikah sama Letta yang memiliki sifat manja dan periang? Apa nggak pusing kepala Galaksi?
"Hebat banget! Nanti ulangan selanjutnya kayak gitu juga, yah!" ucap Zoora berniat memberi semangat.
"Siap!"
Lalu mereka tertawa bersama.
"Letta kalo dirumah sama Galaksi gimana? Letta nggak macem-macem, kan?" kata Elena.
"Aku nggak macem-macem, kok. Malahan Gala yang macem-macem sama Letta," sahut Letta.
Zirana yang sedang menyeruput es cendol hampir tersedak. Ia menatap Letta dengan mata melotot.
"Macem-macem kayak gimana, Lett?" tanya Zirana heboh.
"Ya, misalnya kay—"
"Eeyyoww! Epribadehh! Paa kabarnya klean para ciwik-ciwik cantik?!"
Ucapan Letta harus terpotong karena datangnya makhluk astral kearah meja mereka.
"Enggak usah teriak bego!" umpat Bian menggeplak kepala Jarvis.
Jarvis mengusap kepalanya. "Suka-suka gue! Mulut-mulut gue juga. Ngapain Lo yang sewot?" cibir Jarvis. Setelah itu ia mendudukkan bokongnya dikursi samping sang pujaan hati.
Begitupun dengan yang lain, mereka juga duduk disamping sang kekasih. Kecuali—Zeo.
Jarvis bergelayut manja di lengan Elena, tapi langsung ditepis oleh sang empu.
"Kayak anak monyet tau nggak Lo gelayut kayak gitu," ejek Elena santai sembari menyuapkan sesendok bakso kedalam mulutnya.
Bian langsung menyemburkan tawanya. "Hahaha! Emang enak dikatain pacar sendiri! Hahaha!" Bahkan Bian mengabaikan tatapan-tatapan dari para pengunjung kantin yang menatap dirinya dengan tatapan aneh.
Jarvis mencabikkan bibirnya. "Kejam banget. Aku pacar kamu padahal," gerutu Jarvis.
"Biarin. Salah siapa gelayutan kayak anak monyet?" jutek Elena.
Zoora hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah abstrub pasangan didepannya.
"Kalian udah pacaran, tetep aja suka gaduh. Niat nggak sih pacarannya kalian?" kata Zoora.
"Weiss, niat dong! Gue mencintai anak pak Sohri yang cantik jelita ini dengan sepenuh hati, jiwa dan raga." ungkap Jarvis dan mendapat pelototan dari Elena.
Plak!
"Nama Bapak gue nggak usah Lo sebut juga anjir!" kesal Elena.
Jarvis hanya membalas dengan cengiran yang sangat wajib untuk dilempar ke palung mariana.
"Gimana Jarvis nembak Elena? Dikasih bunga? Coklat? Atau puisi sepanjang rel kereta?" tanya Zirana dan mengundang anggukan dari yang lain.
"Nggak usah kepo!" desis Elena.
"Apaan sih Lo? Orang kita nanya Jarvis. Jadi? Gimana, Vis, Lo nembak Elena?" ulang Zirana dan mengabaikan tatapan Elena yang setajam silet.
Jarvis mendadak kikuk. Ia mengagaruk tekuknya yang sama sekali tidak gatal. Sebenarnya ia malu jika harus mengulang lagi cerita disaat ia menembak Elena, tapi harus bagaimana lagi? Teman-temannya jika sudah memaksa seperti ini, mana bisa Jarvis mengelak.
"Jadi waktu itu....
™ FLASHBACK ™
Jarvis menambah kecepatan motornya, tidak takut jika itu sangat membahayakan pengendara lain ataupun dirinya.
Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah harus bertemu dengan Elena sebelum semuanya terlambat. Itu yang ada dipikirannya.
Saat sudah sampai disebuah komplek perumahan elite, Jarvis langsung memberhentikan motornya didepan rumah dengan pagar berwarna coklat yang menjulang tinggi.
Jarvis memencet bel yang sudah tersedia dipagar, agar memudahkan orang dalam rumah mendengar jika ada tamu yang berkunjung.
Ting tong!
Ting tong!
Ting tong!
Gerbang terbuka dan menampilkan seorang satpam dengan kumis tebal yang melintang, serta rambut bagian tengah yang sudah tidak ada lagi. Bisa dibayangkan?
"Cari siapa?" tanya satpam itu.
"Eee... Elena-nya ada?"
"Ada. Sebentar saya panggilkan dulu. Aden bisa tunggu dikursi sana," titah satpam itu menunjuk sebuah kursi yang berada dibawah pohon mangga yang sangat lebat.
Jarvis mengangguk. Setelah itu satpam tadi pergi kedalam rumah untuk memanggil anak majikannya.
Setelah kepergian satpam itu, Jarvis mulai menelisik sisi sisi rumah yang ditempati oleh Elena. Cukup menarik. Itu yang Jarvis bisa deskripsikan tentang rumah ini—sekarang.
Atensi Jarvis terarah pada sebuah pohon dengan pondok yang berada dibawahnya. Jarvis menjahit langkahnya kearah pohon itu. Saat sudah sampai, hal yang pertama ia lihat adalah, sebuah bantal dengan bentuk dan motif kucing.
Sejuk. Itu yang menggambarkan suasana dibawah pohon yang sedikit rindang ini. Jarvis menarik nafasnya dalam—mencoba untuk menghirup setiap oksigen yang dihasilkan oleh suasana disekitarnya.
Saat sedang menikmati suasana, Jarvis dikejutkan dengan tepukan pada bahunya. Ia secara refleks menoleh.
"Eh, hehe, Om." Jarvis dihadapkan dengan seorang laki-laki dengan badan yang kekar, dan sedikit ada kumis tipis dibawah hidungnya.
"Siapa kamu? Dan... ada perlu apa kamu mencari anak saya?" tanya seorang laki-laki itu yang diketahui adalah Ayahnya Elena.
"Ehm, pertama-tama kenalin nama saya Jarvis. Dan tujuan saya kesini mau ngajak anak Om yang bernama Elena jalan-jalan keluar. Apa itu diperbolehkan?" Jujur, Jarvis sedikit gugup saat bicara dengan Ayahnya Elena. Melihat badannya yang seperti anggota Militer, sudah membuatnya takut duluan.
Ayahnya Elena menatap Jarvis dengan pandangan yang menelisik dari atas hingga bawah, dan kembali lagi keatas.
Jarvis menelan ludahnya susah payah. Ini kenapa kayak mau nyalon jadi anggota Polri, ya?
"Punya apa kamu mau bawa anak saya jalan-jalan keluar?" desak Ayahnya Elena.
"S-saya ... saya punya motor. Om bisa lihat disana, saya nggak bakal ngajak anak Om jalan kaki. Om tenang aja," ujar Jarvis.
Ayah Elena ingin berbicara, tapi sudah lebih dulu disela oleh kedatangan Elena.
"Ayah! Ayah ngomong apa sih sama Jarvis? Nggak liat wajah dia udah tegang kayak gitu. Ayah nanya udah kayak nginterogasi pencuri gitu," sungut Elena.
Ayah terkekeh melihat tingkah anak bontotnya itu. "Beda, ya, kalo lagi kasmaran. Auranya tuh, kek ... gimana gitu. Bunga-bunga cintahhnya ketara banget," ledek Ayah mampu membuat hati Jarvis kejedar kejedur.
INI MAKSUDNYA UDAH DIKASIH LAMPU IJOO KAH??? KASIH PENJELASAN DONG BAPAKS MERTUA!! Jarvis berteriak dalam hati.
"Ayah! Ayah apaan sih!? Siapa bilang Lisa sama Jarvis pacaran? Ayah ngada-ngada," kata Elena.
Ia segera menarik lengan Jarvis menjauh dari sang Ayah yang semakin gencar meledeknya dan Jarvis.
"Heh! Kamu! Visjar! Jagain anak Om! Jangan sampai lecet! Kalo anak Om lecet dikit aja, kamu saya gantung di pohon makan belakang rumah saya!" teriak Ayah.
"AYAH DIEM DEH!" balas Elena juga berteriak.
Jarvis menggelengkan kepalanya; melihat tingkah ank dan bapak didepannya.
"Hush, nggak boleh teriak kayak gitu sama orang tua. Kualat," tegur Jarvis lembut.
Elena mencabikkan bibirnya. "Abisnya Ayah ngeselin," sungutnya.
"Udah nggak usah cemberut kayak gitu. Mending kita langsung pergi aja, gue mau ajak Lo kesuatu tempat yang indah." ucap Jarvis.
"Kemana?"
Jarvis memberhentikan kegiatannya yang sedang memasangkan tali helm.
"Secret," balas Jarvis.
Ingin sekali rasanya Elena mencabik wajah Jarvis yang sangat menjengkelkan dimatanya.
🐽🐽
Selama perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan, mereka sibuk dengan keadaan masing-masing.
Mata Jarvis menggerling kearah kaca spion yang terarah pada Elena. Seketika seutas sabit tipis muncul dibibirnya.
Elena tidak menyadari kalau Jarvis tengah memperhatikannya, ia terlalu sibuk dengan memandangi kota Jakarta pada sore hari ini. Sandyakala membentang indah, angin sepoi-sepoi menyelusup menyentuh pori-pori kulit.
Sampai mata Elena juga mengarah pada kaca spion. Mata mereka bertemu. Tapi tak lama saat Elena sudah lebih dulu mengalihkan pandangannya.
"Fokus kedepan. Nanti nabrak," tegur Elena.
Jarvis berdehem. Setelah itu ia kembali melajukan motornya membelah jalan ibu kota.
Setelah beberapa menit mereka membelah jalanan Jakarta, akhirnya mereka sudah sampai ditempat tujuan.
Disebuah pantai yang luas—disinilah tempat mereka sekarang.
Elena terperangah dengan hamparan air asin didepanya.
"Aaaa!" Ia berlari ke tengah-tengah laut, sehingga setengah pakaiannya menjadi basah.
Jarvis hanya menatap Elena yang masih asik dengan air, ia berjalan kearah sebuah resto yang berada tak jauh dari pinggiran pantai.
Memesan 2 gelas jus Strawberry. Setelah pesanannya menjadi, Jarvis membawanya kearah meja didepan resto itu.
Setelah meletakkan 2 gelas jus Strawberry, Jarvis berlari kearah Elena yang berada ditengah-tengah air pantai.
"Elena!" panggilnya.
Elena menolehkan kepalanya, saat berbalik ia langsung diterjang dengan tubuh kekar Jarvis yang memeluknya.
"Apaan sih? Main peluk-peluk aja," ucap Elena berusaha melepaskan pelukannya dari Jarvis.
Jarvis melepaskan dekapannya, ia menatap Elena dengan senyuman yang ... cabul? Maybe.
Plak!
"Ngapain natap gue kayak gitu?! Jijik," sembur Elena.
Bukannya berhenti, Jarvis malah semakin gencar menebarkan senyum ... cabulnya didepan Elena.
"Jarvis! Gue bilang berenti! Kayak monyet Lo masang senyum gitu!" ejek Elena menggebu.
Byur!
"JARVIS!" teriak Elena keras. Bagaimana tidak? Secara tiba-tiba Jarvis menyemburkan air laut kewajahnya, sehingga pakaian atasnya juga ikut basah.
"Hahaha! Ketipu! Hahaha!" Tawa Jarvis mengudara, ia berlari menjauhi Elena saat melihat Elena yang akan membalas perbuatannya.
"Jarvis! Berenti nggak Lo!"
"Enggak mau, wle! Kejar kalo bisa! Anak Pak Sohri kejar dong!"
"Nggak usah sebut nama Bapak gue setan! Dasar anak Pak Mahmud krucut! Jarvis, berenti nggak Lo!"
Dan ... terjadilah aksi kejar-kejaran antara Jarvis dan Elena.
🧊🧊
Dibawah langin yang mulai menampilkan semburat berwarna orange. Kini—Jarvis dan Elena, duduk bersebelahan dipinggir pantai, menatap kearah sang mentari yang sebentar lagi akan menyelesaikan tugasnya dan digantikan oleh sinar rembulan.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka, semuanya kalut dalam pesona sang mentari.
"Len," panggil Jarvis.
Elena berdehem, tanpa berniat menatap kearah Jarvis.
"Len," panggil Jarvis sekali lagi.
"Apaan?"
"Len,"
Dengan kesal Elena membuka matanya dan menatap Jarvis tajam.
"Apaan sih?! Dari tadi manggil-manggil mulu!" ucapnya kepalang kesal.
Jarvis cengengesan melihat Elena yang kesal karena ulahnya.
Elena menatap dongkol Jarvis. "Malah senyum, gila Lo?"
"Kamu cantik," ungkap Jarvis.
"Gue emang cantik dari lahir. Lo aja yang nggak nyadar," balas Elena cuek.
Spontan Jarvis langsung menyemburkan tawanya. "Hahaha! Narsis banget anjir!" Emang sih cantik, cantik banget malah. sambung Jarvis dalam hati.
Plak!
"Lucu kah?" heran Elena.
"Lucu banget malah! Hahaha!"
Elena menatap Jarvis aneh. Ia menatap kesekitaran pantai, lalu kembali menatap Jarvis yang masih cekikik.
"Gila ni anak," batin Elena.
"Len," panggil Jarvis, lagi, setelah tawanya mulai mereda.
Elena menarik nafasnya perlahan. Jangan sampai terjadi tsunami karena teriakannya karena benar-benar kesal pada Jarvis.
"Manggil sekali lagi, gue sepak beneran burung Lo. Gue serius," ancam Elena.
Jarvis menelan ludahnya susah payah. Kata orang ancaman cewek kalo lagi marah, nggak pernah main-main. Apalagi ceweknya spek Mellisa Elena -batin Jarvis ngeri-ngeri sendiri.
"Madep sini dulu, ihh," suruh Jarvis.
Elena menurut. Ia menatap Jarvis dengan senyuman yang sangaattt maniss.
"Apa lagi?"
"Hehe, jangan senyum kayak gitu, dong. Serem," ucap Jarvis.
Elena melotot. "Jadi maksud Lo, gue nyeremin? Gitu?"
Jarvis kalang kabut sekarang. Kenapa malah jadi salah tangkap sih?!
"Eh, eh, bukan gitu. Udahlah lupain, lupain. Lo cantik mau dalam keadaan apapun. Mau sambil kayang pun tetep cantik," puji Jarvis kelewat.
Elena mengibaskan rambutnya. "Gitu 'kek daritadi. Hm, sekarang apa yang mau Lo omongin?" tanyanya.
"Tutup mata kamu," perintah Jarvis.
"Buat?"
"Udah tutup aja dulu. Nih, pake penutup ini. Nanti kalo pake tangan, Lo ngintip lagi." Jarvis menyodorkan penutup mata kehadapan Elena.
Dengan rasa malas Elena menurut. Ia mengambil penutup mata yang disodorkan Jarvis, lalu menutup matanya menggunakan penutup mata.
"Nih udah. Terus apa lagi?"
"Lo tunggu disini, gue kesana bentar." Setelah mengucapkan kata itu, Jarvis pergi dari hadapan Elena.
Elena hanya mendengar suara langkah kaki yang mulai menjauh dar tempatnya sekarang.
Setelah beberapa menit Jarvis yang pergi entah kemana, sekarang masih belum kunjung kembali. Elena sedikit was-was, apalagi hari yang mulai akan beranjak malam.
"Vis," panggilnya. Namun tak ada sahutan. Yang ada hanyalah suara deburan ombak yang sangat menenangkan.
"Vis, Lo jangan main-main."
"Jarvis! Lo dimana?!" Elena berdecak, merasa kesal karena Jarvis tak kunjung kembali.
"Jar—"
"Apa?" sahut seseorang dari belakang.
"L-lo beneran Jarvis?" tanya Elena ragu-ragu. Melihat suasana yang terasa pas jika seseorang yang ingin berniat jahat.
"Iya."
"Serius?"
"Nggak percaya amat. Gue bukan orang jahat, Lo tenang aja." yakin Jarvis.
Elena menganggukkan kepalanya—walau masih sedikit ragu.
"Terus ini mau digimanain? Mata gue udah perih lama ditutup kayak gini," keluh Elena.
"Bentar dikit lagi," kata Jarvis.
"Masih lama nggak sih? Hari udah mau malem, nanti orang rumah nyariin."
"Bentar lagi...," ulang Jarvis.
"Itu mulu yang Lo ucapin! Kata lain kek," kesal Elena.
"Dikit lagi."
Jangan tahan Elena! Ia rasanya ingin berteriak sekarang, dan mencakar-cakar wajah Jarvis menggunakan kuku-kuku tajamnya.
"Masih lama nggak?" tanya Elena untuk kesekian kalinya.
"Dikit lagi."
Elena menghembuskan nafasnya kasar.
"Nah.. udah." Jarvis menepuk-nepuk telapak tangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Ia berjalan kearah Elena yang masih setia menutup matanya.
"Udah?" tanya Elena, lagi. Setelah merasa Jarvis sudah berada disampingnya.
"Nggak sabaran banget. Penasaran, ya, sama yang aku lakuin?" Jarvis menaikkan alisnya, walau ia tau Elena tidak melihatnya.
Plak!
Elena menggeplak bahu Jarvis. "Nggak usah kepedean, bisa? Gue bukan penasaran sama apa yang Lo lakuin, kalo soal masalah itu, ya itu terserah Lo. Yang jadi masalahnya sekarang udah jam berapa? Kalo orang rumah nyariin gue gimana? Emang lo mau tanggung jawab kalo seandainya gue diinterogasi sama Abang-abang gue? Itu yang jadi masalahnya!" sembur Elena.
Bukannya merasa takut, Jarvis malah tersenyum ketika melihat Elena yang berceloteh tanpa menghadap kearahnya.
Ya, Elena tidak menghadap dirinya. Elena menghadap kesamping, padahal Jarvis sudah pindah kedepannya semenjak Elena menggeplaknya tadi.
"Kamu ngomong sama siapa?" ucap Jarvis.
"Masih nanya. Ngomong sama Lo lah! Emang disini selain kita berdua ada siapa lagi? Penjaga pantai?!" sungut Elena.
"Aku disini! Lo ngarepnya kemana?! Hahaha!" Dan.. tawa Jarvis mengudara lagi.
Elena menerka-nerka dimana suara tawa Jarvis berasal. Setelah tau sumber suara Jarvis, Elena menjadi malu sendiri.
"Puas ketawanya? Kalo belum puas, gue mau pulang. Gue capek," cetus Elena.
Jarvis mendadak menghentikan tawanya, ia menatap orang didepannya dengan serius. Baikz bukan lagi saatnya ia bermain-main sekarang.
Ia tiba-tiba berjongkok didepan Elena, dan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.
"Lo boleh buka penutupnya." Mendengar perintah dari Jarvis yang memperbolehkannya untuk membuka penutup mata, Elena dengan senang hati melepaskannya.
Hal yang pertama ia lihat ada; banyaknya lilin yang mengelilingi tempat mereka sekarang, serta kelopak dari bunga mawar berwarna merah dan pink juga ikut serta.
/seperti itulah gambarannya, klo mw yg sesuai sma yg ak blng, kalian ngayal aja.
"I-ini Lo yang buat?" tanya Elena ragu-ragu.
Jarvis mengangguk sebagai jawaban.
"Bagus banget," puji Elena sembari menikmati pemandangan dihadapannya sekarang.
Jarvis ikut senang melihat Elena yang menikmati apa yang sudah ia buat ini.
"Len," panggil Jarvis.
Elena yang masih menikmati pemandangan, hanya membalas dengan deheman, tanpa berniat menoleh kearah Jarvis.
"Liat dulu sini. Jangan fokus sama yang lain dulu," pinta Jarvis.
Elena menurut, ia menatap Jarvis yang sekarang masih berjongkok dihadapannya.
Jarvis menggenggam tangan Elena. "Len.. izinin gue buat masuk kedalam hati Lo." Jarvis berujar lembut.
Elena terperangah. "Masuk kedalam hati gue? Emang bisa? Muat?"
Jarvis memejamkan matanya. Bukan gitu maksudnya!!! Agrh!!
"Bukan gitu maksudnya, Elenaku sayang...," gemas Jarvis.
"Terus?"
Jarvis berdehem. "Maksudnya itu.. izinin aku buat ngisi hati Lo. Izinin gue buat jadi satu-satunya orang yang bisa buat Lo bahagia selain orang tua Lo sama kedua Abang Lo. Bisa?" Jarvis menatap netra Elena dalam, seakan didalam sana ada sebuah keindahan yang tak pernah ia lihat.
Melihat keterdiaman Elena, Jarvis tau kalau Elena masih ragu.
"Kalo mau ditolak juga nggak papa, Lo bisa cari keb—"
——
Heyyooo sobat nions ‼️
Pa kabar klean? Msh sht nungguin ARZOO up???? Atau udh bosen sma alurnya yg gk jelas??? Udh gk ush dipikirin, cuma hiburan semata kok ini. Jgn terlalu dihayati.
15-02-2025
2879 kata
@-Minnions
See u there 🌹