MAS WAPRES (MINWO) (END)

By arifatulaikiyowo1611

10.2K 883 36

Mingyu yang menjabat sebagai Wakil Presiden yang sibuk atas amanat yang diberikan oleh sang kepala negara ser... More

PART 1
PART 2
PART 3
Introduce
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17 (POV ScoupsHan)
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
part 29
PART 30
PART 31
part 32
part 33
Part 35
Part 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45 (END)
PART 46 ( Lanjutan)
EXTRA PART

Part 34

92 11 0
By arifatulaikiyowo1611

Ini adalah momen yang sangat spesial bagi Alvarez. Di ulang tahunnya yang ke-8, Istana Negara tidak hanya dihiasi dengan dekorasi sederhana tetapi penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan. Wonwo dan Mingyu sepakat untuk merayakan ulang tahun Alvarez dengan cara yang lebih bermakna—bukan pesta mewah, tetapi perayaan yang bisa memberikan kebahagiaan bagi banyak anak lainnya.

Wonwo dengan teliti menyiapkan acara ini. Ia dan timnya mengundang anak-anak dari panti asuhan serta anak-anak dengan disabilitas untuk datang ke Istana dan merayakan bersama. Semua tamu cilik itu disambut dengan senyum ramah dari sang Ibu Negara. Wonwo ingin memastikan bahwa setiap anak yang datang merasa dihargai dan diterima dengan penuh kasih sayang.

Alvarez, yang sejak kecil sudah diajarkan nilai-nilai kebaikan dan berbagi, tampak begitu bahagia. Di ulang tahunnya kali ini, ia tak hanya mendapatkan kado tetapi juga pengalaman berharga berteman dan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak lain. Ketika waktu makan tiba, Alvarez dengan sengaja memilih untuk duduk bersama teman-teman barunya. Ia tidak duduk di meja utama bersama kedua orang tuanya, melainkan berbaur dengan anak-anak lain, menyantap makanan sambil bercanda dan berbicara dengan mereka.

Mingyu, yang mengamati momen itu dari kejauhan, merasa hatinya begitu hangat. Ia menatap Wonwo yang juga tersenyum melihat sikap putra mereka. Dalam hati, Mingyu merasa sangat bersyukur memiliki anak yang tumbuh dengan penuh kasih sayang dan empati terhadap sesama. Ia lalu menggenggam tangan Wonwo dan berbisik,

"Terima kasih sudah mendidiknya dengan baik." Wonwo hanya tersenyum dan menatap suaminya penuh arti.

Setelah acara selesai, Mingyu memutuskan untuk mengabadikan momen spesial ini di media sosial. Ia mengunggah beberapa foto Alvarez yang tertawa lepas bersama teman-teman barunya. Dalam salah satu foto, tampak Alvarez sedang meniup lilin dengan senyum lebar, dikelilingi anak-anak lain yang juga ikut berbahagia.

Di caption unggahannya, Mingyu menulis:

"Selamat ulang tahun ke-8, Mas Alvarez. Hari ini, ayah melihat senyumanmu bukan hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk banyak anak lain. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik, yang tahu bahwa kebahagiaan lebih indah saat dibagi. Semoga kamu tumbuh menjadi seseorang yang selalu membawa kebahagiaan bagi banyak orang. Ayah dan Ibu sangat bangga padamu."

Postingan ini langsung disambut dengan berbagai komentar dari netizen. Banyak yang tersentuh dengan cara Mingyu dan Wonwo merayakan ulang tahun anak mereka.

"Selamat ulang tahun, Alvarez! Kecil-kecil sudah peduli dengan sesama, semoga jadi anak yang sukses dan membanggakan!"

"Gak nyangka, anak presiden malah memilih makan bersama anak-anak panti asuhan, bukan di meja utama. Alvarez benar-benar punya hati yang baik."

"Salut sama Pak Presiden dan Ibu Negara, mendidik anaknya dengan sangat baik. Semoga Alvarez tumbuh jadi pemimpin seperti ayahnya!"

Acara ulang tahun itu pun berakhir dengan penuh kebahagiaan. Malam harinya, sebelum tidur, Alvarez menghampiri Mingyu dan Wonwo lalu memeluk mereka erat.

"Terima kasih Ayah, terima kasih Ibu. Ini ulang tahun paling seru! Aku punya banyak teman baru, dan aku senang bisa berbagi," kata Alvarez dengan wajah penuh kebahagiaan.

Mingyu dan Wonwo saling berpandangan, lalu membalas pelukan anak mereka.

"Kami juga sangat bangga padamu, Nak. Semoga kamu selalu tumbuh menjadi anak yang baik dan penuh kasih sayang," ucap Wonwo sambil mengelus rambut putranya.

Alvarez mengangguk, lalu berlari menuju kamarnya untuk tidur dengan senyum yang masih tersungging di wajahnya.

Sementara itu, Mingyu duduk di sofa, menatap layar ponselnya yang masih memperlihatkan foto-foto dari acara tadi. Di dalam hatinya, ia merasa bersyukur atas kehadiran Alvarez dalam hidupnya.

Meskipun Alvarez bukanlah anak kandungnya, tetapi Mingyu sudah menganggapnya sebagai putranya sendiri. Ia sadar, Jungwoo adalah orang yang telah melahirkan anak ini, tetapi Mingyu-lah yang kini menjadi sosok ayah dalam hidupnya. Baginya, Alvarez bukan sekadar anak dari masa lalu, melainkan bagian dari keluarganya yang tak ternilai harganya.

Dan malam itu, Mingyu pun tidur dengan hati yang penuh syukur, merasa bahwa hari ini adalah salah satu hari terbaik dalam hidupnya.
Malam itu, di dalam kamar yang hangat dan nyaman, Alvarez duduk di tepi kasurnya, kedua kakinya menggantung sambil memegang sebuah album foto yang sudah cukup lama. Ia perlahan membuka halaman demi halaman, memperhatikan setiap gambar yang ada di dalamnya.

Di dalam album itu, terdapat banyak foto yang merekam perjalanan hidupnya sejak masih dalam kandungan hingga ia berusia lima tahun. Semua foto itu menampilkan sosok perempuan yang selalu tersenyum lembut di sisinya. Jungwoo.

"Mommy…" gumam Alvarez pelan, jari kecilnya menyentuh salah satu foto yang memperlihatkan Jungwoo tengah mengandungnya. Perutnya yang membesar tampak jelas, sementara tangan Jungwoo yang halus mengusapnya dengan penuh kasih. Di sebelahnya, ada catatan kecil yang tertulis dengan indah: "Alvarez kecil di dalam sini. Mommy tidak sabar bertemu denganmu."

Alvarez tersenyum kecil, meski ada sedikit perasaan sesak di dadanya. Ia kemudian membalik halaman berikutnya. Di sana ada foto saat ia baru lahir, wajahnya yang masih merah dan mungil berada dalam dekapan hangat Jungwoo.

"Mommy kelihatan bahagia sekali," bisiknya pelan, seolah berbicara kepada sosok yang ada di dalam foto itu.

Alvarez terus menatap gambar demi gambar. Foto saat ia pertama kali bisa duduk, saat pertama kali merangkak, hingga saat pertama kali berdiri sambil berpegangan pada tangan Jungwoo. Di setiap foto, Jungwoo selalu tersenyum. Senyum yang hangat, lembut, dan penuh kasih sayang.

Lalu, Alvarez sampai pada halaman yang lebih sulit untuk dilihat. Foto-foto saat ia berusia lima tahun, foto terakhir bersama Jungwoo. Ada satu gambar yang diambil tak lama sebelum Jungwoo meninggal foto di mana Jungwoo memangku Alvarez yang tersenyum lebar, sementara tangan Jungwoo yang sedikit pucat tetap membelai lembut rambut anaknya.

Mata Alvarez mulai berkaca-kaca. Ia masih ingat hari-hari terakhir bersama ibunya. Waktu itu, Jungwoo tampak lebih lemah dari biasanya, tapi ia tetap tersenyum, tetap membelai kepalanya setiap malam sebelum tidur, tetap membacakan cerita-cerita favoritnya. Hingga suatu hari, Jungwoo berkata dengan suara lembut:

"Dek, nanti kalau Mommy sudah enggak ada, kamu jangan sedih, ya? Ada Ayah Mingyu yang akan menjagamu. Kamu harus jadi anak baik, harus tetap bahagia."

Alvarez tidak benar-benar memahami kata-kata itu saat itu. Ia hanya mengangguk dan memeluk ibunya erat. Tapi tak lama setelah itu, Jungwoo pergi untuk selamanya.

Air mata akhirnya mengalir di pipi Alvarez. Ia cepat-cepat mengusapnya dengan tangan kecilnya, tapi rasa kehilangan itu masih tetap ada.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan.

"Mas, kamu belum tidur?"

Suara Mingyu yang lembut membuat Alvarez mengangkat wajahnya. Sang ayah berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan penuh perhatian.

"Ayah…" suara Alvarez sedikit bergetar.

Mingyu melangkah masuk dan duduk di samping Alvarez. Ia melirik album foto yang terbuka di pangkuan anaknya, dan dalam sekejap, ia langsung mengerti.

"Kamu lihat foto Mommy ?" tanyanya pelan.

Alvarez mengangguk. "Iya… mas kangen, Yah."

Mingyu menarik napas dalam, lalu merangkul Alvarez ke dalam pelukannya.

"Ayah tahu, Nak…" ucapnya sambil mengelus rambut Alvarez. "Mommy pasti juga kangen sama kamu di atas sana."

Alvarez menggigit bibirnya, mencoba menahan isakannya. "Kalau Mommy masih ada, kira-kira dia bakal bangga sama aku gak, Yah?"

Mingyu menatap anak itu dengan penuh kasih sayang. "Tentu saja, Nak. Kamu anak yang baik, penyayang, dan peduli sama orang lain. Mommy pasti sangat bangga melihatmu tumbuh seperti ini."

Alvarez menghela napas dan menyandarkan kepalanya di dada Mingyu. "Aku cuma… kadang takut lupa sama suara Mommy sama cara Mommy ketawa…"

Mingyu tersenyum kecil dan mengusap punggung anaknya dengan lembut. "Mommy mungkin sudah tidak ada di sini, tapi dia selalu ada di dalam hai kamu mas, Setiap kebaikan yang kamu lakukan, setiap kebahagiaan yang kamu bagi dengan orang lain, itu adalah cara terbaik untuk mengenang Mommy ."

Alvarez diam sejenak, mencerna kata-kata ayahnya. Perlahan, ia mengangguk. "Iya… Aku mau terus jadi anak baik, biar Mommy bangga."

Mingyu tersenyum dan mencium puncak kepala Alvarez. "Ayah yakin, Mommy sudah bangga sejak dulu. Dan Ayah juga bangga padamu."

Alvarez menatap ayahnya dan tersenyum kecil. "Terima kasih Ayah."

Mingyu membalas senyumnya, lalu menutup album foto dan meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur. "Sekarang waktunya tidur. Besok kita masih punya banyak petualangan lagi."

Alvarez menurut dan berbaring di tempat tidurnya, masih dengan senyuman tipis di wajahnya.

Mingyu menarik selimut untuknya, lalu mengusap kepalanya sekali lagi sebelum berdiri. Namun, sebelum ia bisa melangkah pergi, Alvarez tiba-tiba berkata, "Ayah… Bolehkah Mas tidur di kamar Ayah malam ini?"

Mingyu terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Tentu saja, Nak. Ayo."

Alvarez langsung bangkit dari tempat tidur dan menggandeng tangan ayahnya. Malam itu, ia tidur di antara Mingyu dan Wonwo, merasakan kehangatan yang selalu membuatnya merasa aman.

Dan dalam mimpinya, ia melihat Jungwoo tersenyum padanya, penuh kebanggaan dan kasih sayang yang tak akan pernah pudar.

Pagi itu, matahari bersinar cerah, angin berhembus lembut di taman Istana. Suara burung berkicau terdengar samar, berpadu dengan suara tawa anak kecil yang berlarian di atas rumput hijau. Alvarez, yang baru saja berulang tahun ke-8 kemarin, sedang asyik bermain dengan Renjun.

Mingyu dan Wonwo sedang menerima tamu penting dari luar negeri, jadi pagi ini Alvarez menghabiskan waktu bersama Renjun di taman. Mereka duduk di bawah pohon rindang setelah puas berlari-larian. Alvarez berbaring di atas rumput, menatap langit biru dengan tangan di bawah kepalanya, sementara Renjun duduk bersila di sampingnya.

"Kak Renjun."

Renjun menoleh, melihat Alvarez yang tiba-tiba memanggil namanya dengan nada serius.

"Hmm? Ada apa, Mas Alvarez?"

Alvarez menghela napas sejenak, lalu menatap Renjun dengan senyum kecil. "Makasih, ya."

Renjun mengerutkan dahi, sedikit bingung. "Makasih? Buat apa?"

Alvarez bangkit dan duduk bersila di hadapan Renjun. "Makasih karena selalu sabar sama mas . Mas tahu mas sering bikin kakak capek, sering bikin kakak kesel, tapi kakaktetap baik sama mas."

Renjun menatap bocah itu dengan penuh perhatian. Tidak biasanya Alvarez berbicara dengan nada yang begitu tulus dan serius.

"Kakak juga selalu jaga mas, selalu temenin mas main. Bahkan kalau aku lagi sedih atau marah, kakak selalu tahu cara bikin aku ketawa lagi," lanjut Alvarez dengan suara lembut.

Renjun terdiam, hatinya terasa hangat mendengar kata-kata dari bocah berusia 8 tahun itu. Ia sudah lama menjaga Alvarez, bermain dengannya, dan menjadi sosok kakak yang selalu siap di sampingnya. Tapi ini pertama kalinya Alvarez benar-benar mengungkapkan perasaannya dengan begitu dalam.

"Kak renjun?" Alvarez memiringkan kepalanya, menunggu jawaban.

Renjun tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. "Mas Alvarez… Kok tiba-tiba ngomong gini sih? Kakak jadi terharu."

Alvarez terkekeh. "Soalnya mas baru sadar… mas punya banyak orang yang sayang sama mas. Dan mas harus belajar buat bilang makasih lebih sering."

Renjun mengangguk, tersenyum penuh kebanggaan. "Kamu anak yang baik, Mas Alvarez. Kakak juga senang bisa jagain kamu."

Setelah percakapan itu, Renjun diam-diam mengambil ponselnya dan memotret Alvarez yang masih tertawa di atas rumput taman. Wajah bocah itu tampak cerah, penuh kebahagiaan.

Tanpa berpikir panjang, Renjun mengunggah foto itu ke media sosialnya. Ia menulis sebuah caption sederhana namun penuh makna:

"Selalu bahagia ya, Mas Alvarez. Selamat ulang tahun yang ke-8."

Dalam hitungan menit, unggahannya langsung dibanjiri komentar dari banyak orang yang ikut merasa terharu dan memberikan doa untuk Alvarez.

Sementara itu, Alvarez yang tidak menyadari kalau dirinya baru saja diposting, kembali berbaring di atas rumput dan menutup matanya sejenak, menikmati angin sepoi-sepoi.

Hari ini terasa begitu damai.





Continue Reading

You'll Also Like

280K 28K 12
(PRIVATE) (COMPLETE) Tentang Mingyu yang selalu melakukan hal buruk dihidupnya. Judi, menghamburkan uang, mempermainkan wanita, bahkan sampai membu...
5.9K 579 7
Mingyu hanya ingin tahu satu alasan mengapa orang yang sangat dicintainya itu mengakhiri hubungannya sebelah pihak dan tanpa alasan yang logis. Padah...
9.2K 257 4
Awalnya, Kim Yoo Jin berpikir bahwa kehidupannya baik-baik saja. Ia menikah dengan seorang pria kaya raya yang memperlakukannya dengan baik, mencukup...
6K 665 11
Mingyu dan Seungkwan sudah bersahabat sejak lama. Mereka mempunyai impian yang sama. Membuka sebuah restoran. Mingyu sebagai Chef dan Seungkwan seba...
Wattpad App - Unlock exclusive features