EMPATHY

By TavyOnAir

948 243 32

Tifa menjadi salah satu dari sekian banyaknya lulusan sarjana pendidikan yang enggan menjadi guru. Perempuan... More

Opening
1. Tentor Les
2. Kelas Malam
3. Kamar Mandi
4. Warung Sate
5. Ancaman
6. Bayar Hutang
7. Acara Keluarga
8. Perasaan
9. Pengakuan
10. Fakta Lain
11. Pemanasan
12. Rehat
13. Buku Baru
14. Bersua Lagi
15. Partner Ngobrol
17. Kesibukan
18. Redup
19. Keputusan Akhir
Closing

16. Bonbin Date

36 9 1
By TavyOnAir

So I'm daydreaming

With my chin in the palm of my hands

About you, you

And only you





Besok adalah hari Senin, yang artinya Dhiyo harus kembali menjalani rutinitas sebagai manusia dewasa. Apalagi kalau bukan bekerja. Biasanya, pada Minggu sore atau malam lelaki itu akan langsung pulang ke rumah. Memanfaatkan sisa malam untuk istirahat dengan baik. Sehingga ketika bangun, dia tak merasa terburu-buru. Dhiyo selalu seteratur itu.

Akan tetapi, kali ini berbeda. Dia terlalu lelah untuk mengemudi lagi. Entah kenapa lelaki itu merasa energinya terkuras habis usai menemani sang mama jalan-jalan di mall tadi. Lebih tepatnya, usai agenda makan malam mereka dengan Tifa dan Cakra. Tak tau harus menyebutnya sedih, gelisah, atau kecewa. Dhiyo tak dapat mengidentifikasi perasaannya.

“Yo, Mama boleh ngomong bentar?”

Suara wanita itu membuat Dhiyo yang tengah berbaring tersentak dari lamunannya.

“Boleh, Ma. Masuk aja.”

Sang Mama membuka pintu kamar lalu duduk di tepi ranjang. “Maaf kalau terlalu ikut campur, tapi Mama cuma mau tau, kamu serius nggak sebenarnya sama Tifa?”

Dhiyo mengernyitkan dahi. “Kenapa Mama tiba-tiba nanya gitu?”

“Dikiranya Mama nggak tau apa kalau kamu suka sama dia? Kamu kesal kan lihat dia sama lelaki lain?" Wanita itu tersenyum mendapati ekspresi anaknya. Perkataan Mama tepat sasaran. "Tifa itu perempuan baik. Mama nggak mau kamu main-main sama dia. Kalau memang serius, kamu harus gerak duluan.”

Dhiyo diam sejenak, menatap mamanya.

“Tapi ... kayaknya dia udah sama Cakra—" Mama lantas mencubit Dhiyo cukup kencang, anaknya itu perlu disadarkan. "Aduh! Sakit, Ma!"

“Kamu nggak memperhatikan apa yang Cakra ucapkan? Mereka belum ada apa-apa. Atau jangan-jangan, kamu memang masih belum bisa melupakan Dahlia?"

"Bukan gitu, Ma. Aku udah nggak ada perasaan kok sama Dahlia. Cuma ...." Lelaki itu tak bisa melanjutkan kalimatnya. "Terus Dhiyo harus gimana, Ma?"

Mama tak menjawab. Wanita itu hanya mendecap lalu beranjak pergi dari kamar Dhiyo. Nampaknya dia terlalu lelah untuk mengurusi kisah percintaan sang anak. Biarlah manusia yang hampir berkepala tiga itu memikirkan sendiri solusi dari permasalahannya.

***

Tifa mengembangkan senyum ketika melihat anak-anak dengan percaya diri menunjukkan hasil karya mereka. Tema yang tengah dipelajari adalah hewan, dan Tifa memberikan tugas untuk menggambar hewan kesukaan mereka. Satu-persatu anak berdiri lalu menjelaskan apa hewan yang digambar dan alasan mengapa mereka memilih hewan tersebut. Tak jarang gambar yang mereka buat berhasil membuatnya mengulum bibir. Imajinasi anak memang kadang di luar dugaan.

Setelah jam mengajarnya selesai, Tifa kembali ke kantor guru. Dia tak sengaja meninggalkan ponsel di meja, sehingga belum sempat mengeceknya sedari pagi. Betapa terkejutnya perempuan itu tatkala mendapati sebuah pesan dari kontak yang sudah cukup lama tak muncul di notifikasi ponselnya.

Karena sudah telanjur dibuka, mau tak mau Tifa langsung membalas. Tak disangka-sangka, lawan chatnya itu juga merespons pesannya dengan cepat.

Wali Clarissa

Halo tifa

Hai, Mas...

Tif, misal ada orang ngechat
kamu tiba-tiba, kamu suka
basa-basi dulu atau to the point?

Tergantung orangnya
sih, Mas. Hehe
Emg ada apa?

Kamu ada tempat yang
lagi pengin dikunjungi
gitu gak?

Wah, nggak terlalu Mas.
Kenapa ya?

Aku mau ajak kamu

jalan-jalan tanggal 25/26 nanti

Kalau kamu bersedia

Otak Tifa blank seketika. Apakah ini artinya Dhiyo sedang mengajaknya berkencan? Kalau iya, bukankah ini kesempatan bagus bagi mereka untuk memulai kembali dari awal?

Tifa menahan agar senyumnya tak makin melebar mengingat dia masih di tempat kerja. Bahkan dia hampir melonjak dari kursi, tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.

Pikiran impulsifnya mendorong Tifa untuk segera membalas pesan Dhiyo dengan ....

Sebenarnya, aku lagi pengin
ke kebun binatang Mas

***

Berulang kali Tifa membuka roomchat yang membuatnya gelisah sedari pulang sekolah. Perempuan itu masih merasa heran dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa Tifa merekomendasikan untuk pergi ke kebun binatang hanya karena dia habis mengajarkan anak-anak didiknya tentang hewan?

Sungguh pemikiran yang tak terduga.

"Nggak aneh kan, ya?"

Perempuan itu berusaha meyakinkan dirinya sendiri, membuang jauh-jauh prasangka bahwa Dhiyo akan menganggap dirinya aneh.

Lagipula, lelaki itu tak mengajukan protes, yang berarti Dhiyo tidak keberatan akan usulannya.

Tifa mengecek kalender di ponsel kemudian menghitung. Masih ada enam hari lagi sebelum hari itu tiba.

Tak jauh beda dengan Dhiyo yang baru beres membersihkan diri, lelaki itu cukup sibuk dengan ponselnya juga. Kini bukan perkara kerjaan lagi, rupanya dia tengah membaca ulasan-ulasan pengunjung terhadap beberapa taman margasatwa terdekat. Sesekali hidungnya berkerut ketika mendapati ulasan yang tidak begitu bagus. Namun, tak jarang pula dia tersenyum tipis saat mengetahui pengunjung puas dan memberikan bintang lima.

Atifa (Tentor Icha)

Kalau ke solo safari gimana tif?

Yang terdekat tuh bonbin
mangkang

cuma waktu aku baca  reviewnya,
orang2 bilang kurang bagus

Atau mau di gembira loka aja?

Awas kalau kamu balas terserah


Yah, ketauan deh 😅

Gembira loka kejauhan Mas

Di solo aja yg lebih deket gpp

Oke kalau gitu

Aku order tiketnya

Kita berangkat pagi ya

Heem Mas, makasiih...

Ada yg perlu
kubawain nggak?

Bawa hati kamu
buat aku, bisa?

Tifa mendadak tersedak air putih yang tengah ditenggaknya. Dia lalu meletakkan gelas dan ponselnya di meja. Membuka pintu kamar kos dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Pesan terakhir yang Dhiyo kirim sukses membuatnya salah tingkah. Lelaki itu tidak salah ketik, bukan?

***

"Wah!"

Dhiyo menoleh dan memberikan atensi penuh pada sosok yang berdiri di sampingnya. Tiap kali Tifa terkesima dengan penampakan binatang yang tengah mereka lihat, Dhiyo tak bisa mengabaikan reaksi perempuan itu. Matanya berbinar. Cerah.

Dhiyo masih ingat kapan pertama kali dia menjumpai pancaran di sepasang mata tersebut seperti saat ini. Yaitu, ketika Tifa membicarakan idol kesukaannya. Sehabis mereka menonton film di bioskop kala itu. Sama persis dengan yang dia dapati sekarang. Dan kali ini berkali lipat lebih cerah ditimpa cahaya matahari. Dhiyo tak bisa berhenti menatapnya.

"Mas?"

"Ehm?"

"I-itu ada ulat di lengan—"

Belum selesai berucap, lelaki itu sudah heboh memutar badan untuk menemukan makhluk kecil yang Tifa maksud.

"Jangan panik." Tifa menghentikan pergerakan Dhiyo lalu menyentil lengan lelaki itu beberapa kali. "Yeay, udah nggak ada. Ulatnya udah pergi, Mas."

Dhiyo merasa malu. Reaksinya memang berlebihan. Mungkin bagi orang lain, ulat hanyalah makhluk kecil yang tak membahayakan. Akan tetapi, dia memiliki trauma dengan makhluk berbulu itu.

"Maaf ya aku heboh banget," ujar Dhiyo berusaha menjelaskan, "dulu aku pernah dilempar ulat lumayan gede sama kakak kelas waktu SD, terus pas kena betis. Pulang-pulang kaki kiriku bentol-bentol dan rasanya panas banget. Kayaknya sejak itu aku jadi agak risih sama ... ulat."

Tifa mengukir senyum lalu menepuk pelan pundak lelaki itu. "I see. Itu bukan hal yang memalukan kok, Mas. Mau jalan lagi ke sana?" tawar perempuan itu mencairkan suasana.

Dhiyo mengangguk lalu mereka berjalan beriringan untuk melihat-lihat satwa lainnya.

"Ngomong-ngomong, makasih ya Mas," ucap Tifa tiba-tiba.

"Untuk?"

"Untuk waktu dan tenaga Mas. Aku enjoy banget sama semua yang ada di sini. Next time, gantian Mas yang tentuin tempatnya."

Dhiyo tertawa kecil. "My pleasure, Tif. Aku juga senang bisa bawa kamu ke sini. Happy you, happy me." Mendengar kata 'next time' membuat Dhiyo sedikit besar kepala. Namun, lelaki itu masih mempunyai satu hal yang beberapa hari ini mengganjal di benaknya. "Kamu sama Cakra ... beneran nggak ada hubungan apa-apa?"

Tifa tak langsung menjawab. Dia mengusap dagunya seolah berpikir. "Kalau kami ada apa-apa, menurut Mas aku bakal bisa berada di sini nggak sekarang?"

Dhiyo menggeleng ragu.

"Berarti benar kata Mas Cakra, Mas Dhiyo tuh emang kadang harus disentil dulu."

"Hah, maksud kamu?" Dhiyo makin bingung dengan perkataan Tifa.

Bukannya menjawab, perempuan itu hanya mengangkat bahu kemudian berbalik dan melompat-lompat kecil dengan langkah yang riang.

"Hey, Tif! Atifa, tunggu! Tolong jawab dulu!" Dhiyo mulai mempercepat langkah, menyusul si perempuan karena dilihatnya Tifa sudah kian memperlebar jarak.

Ini mereka tidak akan lari-larian seperti adegan di film-film Bollywood, bukan?

Continue Reading

You'll Also Like

177K 28.1K 29
[SEBAGIAN CHAPTER DI PRIVATE, FOLLOW BIAR BISA BACA] Ketika Azka memutuskan untuk melamar Ara tepat satu jam setelah pengumuman kelulusan. Sesuai jan...
62.4K 7.8K 61
[S1 End] Single Parent [S2 End] After Single BxB konten. BoyXboy. Homo. Mpreg. Lokal. Semi baku. [Semua karakter pakai nama asli plus tambahan nama l...
2M 82K 73
[PART LENGKAP] #1 IN KISAH REMAJA [22/02/2022] Galang Pramudya, ketua The Lion di SMA Elang, yang terkenal ganas dalam menghabisi musuhnya. Tapi beru...
21.8K 3.3K 36
(18+ Rated for violences and harsh words - Rating 18+ untuk kekerasan dan ucapan kasar) Fendra, seorang montir komunitas motor yang berpengaruh, haru...
Wattpad App - Unlock exclusive features