Mobil yang Tadashi kemudikan sudah tiba di pekarangan rumah besar Sano dan Yuri. Sedari tadi wanita itu tidak berhenti mengulum bibirnya karena tak sanggup manahan senyumnya yang merekah. Gabby tidak sabar bertemu dengan Juna dan Nana.
Setelah mobil berhenti, Gabby langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
"WELCOME BACK ARIEL!!"
"WOAAWW." Gabby terkejut kala Nana memompa confetti popper tepat di depan muka Gabby.
Tak lama kemudian Gabby ikut tertawa bersama mereka.
Minho dan Hera langsung memeluk Gabby bersamaan lalu disusul dengan si kembar yang masuk disela-sela kaki mereka. Dibelakang sana, Maxim yang melihat hal itu juga berlarian menyusul mereka dan memeluk Gabby dari belakang.
Suasana penuh suka cita ini juga disaksikan langsung oleh Hina, Hiro dan Tadashi.
"Gabby kangen banget sama Om." ucap Gabby pada Minho.
"Om juga sangat bersyukur kamu berada disini sekarang."
"Maafin Ariel ya om, selama ini udah bikin kalian semua khawatir."
"Kesembuhan kamu sudah lebih dari cukup bagi kami, Ariel." sahut Hera kemudian.
"Terimakasih ya Tante, sudah berada disisi Om Minho selama ini."
Hera memeluk Gabby lagi. Pelukannya tulus dan terasa hangat. Hera juga menepuk-nepuk bahu Gabby agar keponakannya itu merasa lebih tenang.
"Max?" Minho membuka kedua tangannya lalu memeluk Maxim juga. "Good job Max! Om tahu, kamu tidak akan meninggalkan Ariel semudah itu."
"Makasih ya Om, udah percaya lagi sama aku." jawabnya singkat namun nampak tulus dan penuh tanggung jawab.
Gabby juga tidak lupa untuk memeluk Hina dan Hiro yang berdiri disamping meja makan. Enam tahun berlalu Hina dan Hiro kini makin terlihat lebih tua. Banyak rambut putih yang hampir memenuhi kepalanya. Melihat perubahan yang amat jelas itu membuat Gabby bersedih lagi. Apa saja yang telah ia lewatkan selama ini?
•••••
Setelah makan siang bersama, Gabby duduk di ruang keluarga bersama dengan dua keponakannya.
Nana meraih telapak tangan Gabby yang duduk disampingnya, "Tante, maafin Nana ya tadi sudah buat Tante Ariel kaget." tuturnya pelan dengan sedikit cadel dan menatap tulus pada Gabby.
Gabby mengulas senyum, "No. Nana nggak perlu minta maaf. Tante justru senang karena Nana dan Juna sudah memberi kejutan."
"Dari tadi Nana takut kalo tante Ariel bakalan marah." sela Juna kemudian.
"Emang Tante Ariel kelihatan banget kalo pemarah?" tanya Maxim yang tiba-tiba muncul entah darimana.
Kedua bocah kembar itu mengangguk bersamaan.
Maxim menahan tawanya. Sedangkan Gabby langsung merengut dan menatap tajam ke arah Maxim.
"Padahal Tante Ariel itu orang yang paling sabar yang pernah Om temui. Meskipun wajah Tante Ariel terlihat... sedikit judes, maybe? Tapi Tante Ariel itu baik banget."
"Hmmm Om Maxim naksir ya sama Tante Ariel?" sahut Juna kemudian.
Nana yang berada disampingnya langsung mencolek bahu kembarannya itu dan berbisik ditelinga Juna, "Mereka kan suami istri, gimana sih? Like mommy and daddy."
"Kamu lupa kalo kita harus pura-pura gak tahu soal itu?" bisik Juna balik.
Maxim tersenyum melihat tingkah dua bocah itu, permintaannya pada Minho dan Hera telah dieksekusikan dengan benar. Sedangkan Gabby yang berada di antara mereka hanya menyimak saja tanpa mengerti maksud dari bisikan si kembar.
"Tante Ariel dan Om Maxim sudah berteman sejak kami kecil. Selama ini Tante Ariel sudah menjadi teman yang baik bagi Om Maxim. Dan Om Maxim juga harus menjadi orang yang baik untuk Tante Ariel. Begitu juga dengan Juna dan Nana. Kalian juga harus saling menjaga satu sama lain ya, jangan pernah membiarkan saudara kalian bersedih ataupun kesepian." jelas Maxim panjang lebar pada si kembar.
"Juna kalo disekolah nyebelin Om. Dia sering ninggalin Nana buat main sama Miori."
"Bener itu Juna?" suara berat Minho tiba-tiba muncul diantara pembicaraan mereka.
"NO!" Bocah kecil itu langsung berlarian meninggalkan sang Ayah.
"Juna wait me..." Nana ikut berlari menyusul saudara kembarnya.
"Lucu banget sih mereka, kaya udah gede aja." kekeh Gabby melihat tingkah si kembar.
"Kalo kalian mau istirahat, kamarnya udah di siapin Bi Hina diatas." ucap Minho pada Maxim dan Gabby. "Atau kalo kalian mau jalan, bisa minta anter Tadashi atau mau bawa mobil sendiri? Ambil aja kuncinya di loker."
"Terus Om Minho mau kemana?" tanya Gabby.
"Om juga mau kencan dong, emang kalian aja yang bisa?" Minho langsung melenggang pergi meninggalkan Maxim dan Gabby dengan penuh percaya diri.
•••••
"You doing your best, Ri. Kamu gak nangis waktu di makam tadi." ucap Maxim memperhatikan Gabby yang sedang berkutat dengan selang air di tangannya, menyirami bunga-bunga yang ada di rumah kaca milik Yuri.
"Kan ada kamu. Aku juga udah pegang tangan kamu terus'kan tadi?"
Maxim terkekeh, "Iya iyaa, kayanya kamu kalo kemana-mana harus sama aku deh, Ri. Biar kamu gak tantrum tiba-tiba."
"Emang boleh ikut kamu terus?" Gabby mendekati Maxim dengan mata yang berbinar, ia juga langsung melempar selang ke sembarang tempat.
"Kenapa engga?"
"Meskipun kamu kerja? kamu rekaman? kamu meeting?"
"Boleh. Bukannya selama ini kamu selalu ngintilin Jirin kerja ya? Beberapa kali aku lihat kamu berkeliaran dikantor."
"Yhaaa, kan aku bosen aja di dorm terus. Kamu juga sibuk, anak-anak juga sibuk. Aku sendirian gak ada temennya!"
"Kalo mau ikut aku ke kantor bilang aja. Nanti aku jemput."
Yesss!
"Okay!" Gabby tersenyum penuh kemenangan. "Nanti sore kita ke butik mama ya? Tante Hera udah nyiapin sesuatu buat kita."
•••••
Gabby melangkahkan kakinya keluar dari fitting room dengan percaya diri. Dress burgundy itu membalut tubuhnya dengan cantik nan sempurna. Dihadapannya, Maxim juga keluar dari ruang fittingnya. Para pramuniaga saling bersahutan menyanjung keserasian mereka berdua. Sedangkan Maxim menggunakan tuxedo berwarna senada yang terlihat sangat amat cocok dengan dress yang dikenakan Gabby.
"Ariel.. You look like your mama." sahut Hera yang tiba-tiba saja datang.
"Thankyou Tante... Ariel seneng dengernyaa. Yaaa meskipun pada kenyataannya Mama lebih cantik." jawab Gabby mengulum senyumnya bercanda.
"Tante Hera bener. Kamu cantik dengan apa yang kamu punya." Maxim ikut mendekat. "Dress itu cocok buat kamu."
"Ah kamu bisa aja!" demi Tuhan pipi Gabby memerah.
"Gimana? Kalian suka gak sama desainnya?"
"Dress ini mengingatkan Ariel dengan Mama. Mama paling suka menambahkan sedikit mutiara dibagian atas."
"Memang ini arsip lama Kak Yuri, Riel. Tante sengaja eksekusi desain ini untuk kamu dan Maxim."
"Oh ya?" Maxim terkesima. Ia menatap Gabby yang sedang berkaca-kaca. "Sini-sini." Maxim menarik lengan Gabby dan membiarkannya masuk kedalam pelukan. "Jangan nangis dong." bujuk Maxim mengelus puncak kepala Gabby.
"Aku kangen mama..."
Melihat Gabby menangis, Hera menjadi merasa bersalah. "Maafkan Tante ya, Riel. Tante gak bermaksud buat kamu sedih begini."
"Justru Ariel berterimakasih, berkat Tante, Ariel bisa pakai dress rancangan Mama lagi."
"Sebenarnya masih banyak desain lain yang Kak Yuri buat untuk kamu. Tante bersedia menjahitnya, jika kamu mau."
"Yang bener Tante?" mata Gabby kembali berbinar. "Boleh Ariel lihat arsip lama mama?"
"Ofcourse! Yuk ikut Tante keatas."
Gabby menarik lengan Maxim untuk membuntuti Hera menaiki tangga.
Hera merupakan asisten designer Yuri sejak saat memulai bisnisnya dulu. Siapa sangka kini sekarang Hera lah yang meneruskan bisnis Yuri tersebut, dan itupun juga karena permintaan Gabby sesaat setelah Yuri pergi.
•••••
Angin berhembus perlahan bersamaan dengan deru ombak yang tenang kini menjadi pelengkap acara pada sore hari ini. Masih ada waktu satu jam hingga matahari terbenam di ufuk barat. Sorak sorai para tamu undangan turut meramaikan suasana yang mulanya tenang kini menjadi lebih meriah.
"Cium - cium - cium..." disusul dengan sorakan bahagia saat kedua mempelai saling berciuman di atas altar.
"Kita beri tepuk tangan untuk pengantin kita, Jaehee dan Minji." ucap Haejun selaku MC pada acara sore ini.
Air mata haru di pelupuk mata Gabby jatuh begitu saja melihat kedua sahabatnya menikah. Gabby tidak pernah menyangka jika kini ia sudah berada di usia yang tidak lagi muda. Terlalu banyak waktu yang telah ia lewatkan begitu saja. Usia 20 tahunan yang berharga tidak dapat ia nikmati dengan indah.
Maxim meraih telapak tangan Gabby, "Kenapa? Kok nangis?"
"Aku masih gak nyangka mereka berdua bisa menikah."
Maxim tersenyum mendengarnya. "It's okay. Kamu sudah melewatkan banyak hal, Ri. Jangan bersedih, sekarang saatnya kamu berbahagia juga." Maxim mengusap lembut air mata Gabby dengan sapu tangan yang ia ambil dari sakunya.
"Kak! Ayo foto!" Nikki menarik lengan Gabby perlahan.
"Ayo Bang, kita foto bareng." Disusul Chenli dibelakangnya.
Semua member Neo dan Savage girl berbaris bersama dengan kedua pengantin. Hari ini tidak hanya Jaehee dan Wanda saja yang berbahagia, tapi semua tamu undangan yang hadir.
"Minji Jaehee... Gila kalian! Bisa-bisanya menikah!"
Mendengar teriakan Gabby membuat Jaehee dan Wanda tertawa. "Padahal dia duluan yang menikah." bisik Jaehee ditelinga sang istri, dan Wanda pun makin terkekeh mendengarnya.
Gabby dan Maxim berjalan mendekati mereka berdua di depan altar, memeluk Wanda kemudian Jaehee. "Tolong jaga Wanda sebaik mungkin ya, Jae. Dia adik perempuan gue yang berharga!"
"Dia juga belahan jiwa gue yang selama ini gue cari!" sahut Jaehee dengan senyuman sok kerennya.
"Good then." Gabby menepuk bahu Jaehee.
"Lo buruan nyusul deh, Riel."
Gabby mendelik menatap Jaehee memberi isyarat untuk tidak melanjutkan ucapannya, pasalnya disamping Gabby sekarang ada Maxim. Gabby tidak ingin Maxim tahu jika ia sedang menunggu penjelasan dari sahabatnya itu akan hubungan mereka.
"Kenapa? Kok lo melototin gue sih?" jawab Jaehee pura-pura tidak paham.
Gabby hanya mendengus kesal setelahnya.
"Lo juga Max. Buruan sana cari cewe! Keburu tua lo."
Mendengar hal itu Gabby kembali memicingkan matanya sebal pada Jaehee.
"Aman lah Jae. Kalo udah waktunya undangan bakal meluncur," sahut Maxim enteng.
Pernikahan yang digelar secara tertutup ini berjalan dengan lancar. Tidak ada wartawan atau media manapun yang meliput acara ini, karena pesta ini digelar di pulau Jeju yang pastinya jauh dari keramaian kota dan hiruk pikuk dunia entertain. Sehingga membuat semua tamu undangan bisa bergerak bebas tanpa takut adanya paparazzi atau munculnya gosip-gosip yang tidak mendasar.
•••••
Saat Gabby yang sedang memilih kue, tiba-tiba ada seorang gadis yang mendekatinya dengan ragu. Sempat ia urungkan, namun seorang laki-laki yang berada di belangkangnya menahan lengan gadis itu untuk tetap maju.
"Kak." Sapa laki-laki tersebut.
Gabby menoleh mencari sumber suara, "Hai, Jiho? Hai-
Yura kan?" sapa Gabby ragu.
Belum sempat Yura menjawab, gadis itu langsung mendekat dan memeluk Gabby tanpa sepatah katapun.
Gabby yang tidak ingat apa-apa merasa heran dan kebingungan. Tatapannya lurus pada Jiho untuk menuntut penjelasan, "Why?"
Jiho pun juga bingung, memeluk Gabby tidak ada dalam rencana mereka berdua.
"Ada apa Yura? Kenapa tiba-tiba-" tanya Gabby heran.
"Long time no see. Akhirnya kita bisa ketemu lagi, Kak." Yura memegang kedua lengan Gabby menatapnya dengan lega.
Gabby menautkan kedua alisnya "Emang dulu kita deket banget ya? Tapi bisa aja sih, kan dia ceweknya Maxim."
"Eeh- yeah long time no see." sahut Gabby kikuk. "Uhm kalian mau cake? Atau puding? Biar aku ambilin."
"Aku lega banget bisa lihat kamu lagi, Kak. Aku kesini ingin meminta maaf."
"Maaf?"
Gabby meletakkan kembali dua piringan kecil berisi cake yang ada di tangannya. Lalu meraih kedua telapak tangan Yura bersamaan, "Maaf kenapa?"
Yura mengangguk, "Aku tahu memang tidak mudah, tapi aku janji aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi. Janji!" Yura mengacungkan jari kelingkingnya.
Gabby semakin bingung dibuatnya. Namun ia bisa melihat sorot mata penuh ketulusan yang Yura pancarkan. Tanpa berlama-lama lagi Gabby langsung mengiyakan permintaan maaf tersebut.
"Ah okay! No problem. No body is perfect! Kita semua pernah melakukan kesalahan, dan sebagai manusia terpuji kita juga harus saling memaafkan, bukan?" jawab Gabby tanpa asal. Jika memang di masa lalu mereka pernah berselisih, Gabby tetap akan memaafkannya. Toh ia tidak ingat apa-apa, lagipula yang terpenting sekarang adalah mereka berdua baik-baik saja.
"Thankyou..." Yura menggigit bibir bawahnya lalu memeluk Gabby untuk yang kedua kalinya.
"Yeah. It's okay, it's okay." Gabby menepuk bahu Yura.
Dihadapannya Jiho tersenyum lega menatap keduanya.
•••••
"Terus kamu kapan mau nikahin aku? Kita pacaran udah lama ya. Lebih lama dari mereka malah!"
Juno menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Pertanyaan macam apa ini? Padahal Kara sendiri yang selalu menolak ajakan Juno untuk bertunangan, tapi kenapa tiba-tiba sekarang malah minta dinikahin?
"Kamu yakin?"
"Iyalah!"
"Oke. Minggu depan aku ajak orang tuaku ke rumah kamu." Juno mendekat menarik pinggang ramping wanitanya, mengecup sekilas dahi Kara lalu pergi meninggalkannya.
Kara terdiam sejenak, lalu "SERIUSS?!"
Juno hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kara.
Juno tahu, pasti sekarang wajah Kara sudah semerah kepiting rebus. Dan jika bukan di tempat umum, mungkin Juno sudah memeluk gemas tubuh wanitanya itu.
"HELLOWW YU JIRINN!!"
Kara terperanjat saat suara cempreng Gabby masuk menyentuh gendang telinganya, "Bikin kaget aja sih lo, Riel!"
"Lagian lo ngapain sih daritadi bengong sendiri disini? Juno mana?"
Bukan menjawab pertanyaan Gabby, Kara malah senyum-senyum sendiri.
"Kok malah senyum sih?!"
"Siniin deh Riel kuping lo." Kara mendekatkan wajahnya ke telinga Gabby, "Minggu depan Juno bakalan ngajak orangtuanya ke rumah gue! Kita bakal menikah Riel!!"
"SUMPAH??!" Gabby membulatkan matanya terkejut.
"IYAAA!"
"Aah seneng banget gue dengernya!!" Gabby memeluk Kara dan keduanya berlonjak-lonjak kecil ditempat.
"Akhirnya... padahal selama ini Juno udah ngajak gue buat lanjut ke jenjang yang serius. Tapi selalu gue tolak." Kara melepas pelukan Gabby dan menghembuskan napasnya lega.
"So? Kalo lo sebahagia ini kenapa gak lo iyain aja dari dulu?" tanya Gabby penasaran.
Kara menggelengkan kepalanya, "Entahlah, gue juga gak tahu. Gue cuman ngerasa kalo belum waktunya aja."
"Karena sekarang lo udah yakin, gue harap lo gak akan berubah pikiran lagi, Rin."
"Pasti. Gue gak mau Juno nunggu gue terlalu lama lagi." Kara tersenyum menatap Gabby dengan yakin. "Anyway, lo kok sendirian? Kemana Maxim?" tanya Kara celingukan.
"Daritadi gue juga nyariin dia. Gue pikir kalian lagi bareng." Gabby mengedarkan pandangan mencari keberadaan Maxim, namun sayangnya yang dicari tak kunjung muncul di depan mata. Sehingga Gabby mengajak Kara untuk berkeliling mencari Maxim.
"Lo inget Yura gak, Rin?"
"Yura ICY?"
"Iya, cewek yang dulu pernah deket Maxim itu. Tadi dia tiba-tiba dateng terus meluk gue."
Kara tahu apa yang Gabby maksud. Sebelumnya Wanda juga sempat bercerita jika Yura ingin sekali bertemu dengan Gabby dan meminta maaf. Namun Wanda tidak setuju dengan hal itu karena takut membuat Gabby bingung dan bertanya-tanya sementara ingatannya belum kembali sepenuhnya.
"Udah gak usah dipikir. Biarin aja, Riel. Yura emang orangnya random banget. Tadi dia juga meluk gue!" ucap Kara asal.
"Oh iyaa?"
"Iya! Lagipula Yura tuh sepupunya Minji tauk! Lo pasti gak inget soal ini kan? Ya udah ah cuekin aja." Kara mempercepat langkah kakinya dan menarik pergelangan tangan Gabby yang masih menyimpan tanda tanya.
"Oh jadi dia sepupunya Minji..."
•••••
Gabby masih mencari-cari dimana Maxim berada, ia berjalan menelusuri balkon sembari melihat matahari yang semakin tenggelam di ufuk barat. Pandangannya tertuju pada dua orang laki-laki dan perempuan yang sedang mengobrol secara intens diujung sana. Itu Maxim dan Sheryl- komposer dari USA yang diam-diam menyukai Maxim.
Namun langkah Gabby terhenti saat mendengar Maxim mulai meninggikan suaranya.
"What? Are you kidding? I told you, I can't go now! Ada hal lain yang lebih penting yang harus aku selesaikan terlebih dahulu!"
"Hal lain apa yang lebih penting dari karir kamu? Ini kesempatan langkah, Max! Kapan lagi kamu bisa memasuki pasar global tanpa harus bersusah payah?"
"Oh aku tahu. Atau jangan-jangan karena member girl grup itu yang buat kamu gak bisa pergi kesana? Are you crazy! She is just your friend! And your career is more important than her!" Sheryl mengalihkan pandangannya dari Maxim.
Maxim pun mengikuti arah pandang Sheryl. Dan shit! Ada Gabby yang terdiam diseberang mereka.
"You are too much, Sheryl!" Maxim pergi meninggalkan Sheryl begitu saja dan menarik tangan Gabby untuk pergi dari situ.
"Max?"
"Ayo Ri, kita pergi dari sini!"
-----
Haii semuanya. Happy New Year!!! Semoga tahun ini bisa jadi tahun yang lebih baik untuk kita semua!
Anyway cerita ini udah mau selesai. Tinggal 2-3 part aja. Maafin juga yaa kalo aku butuh waktu se-lama itu untuk menyelesaikan cerita ini. So, stay tune ya guyss! Thankyou ❤️