Finding Herself (Selesai & Re...

By Equarasiol__

6.7K 3.5K 1.3K

[SELESAI] FOLLOW DULU SEBELUM BACA‼️ SEBAIKNYA JANGAN TERBURU-BURU, KASIH BINTANG🌟 UNTUK MEMBERIKAN REWARD P... More

00
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
00
1001

12

129 88 115
By Equarasiol__

Haii, gimana kabarnya hari ini!??

Dimana pun kalian berada, semoga hal-hal baik selalu berdatangan ya☄️☄️

Selamat membaca!


Hujan subuh di Bandung nampaknya tidak memperlihatkan gerangan untuk mereda sejenak. Saat ini, sudah  terang benderang hujan masih saja betah meruntuhkan tangisannya. Membuat siapa saja nyaman bergelut dalam selimut pemberi kenyamanan, tapi lain hal dengan orang yang memiliki tanggung jawab pada pekerjaan mereka. Bagi mereka, hujan hanya toping kehidupan bukanlah masalah yang harus diperbesarkan. Terlihat berbagai angkutan umum berlalu lalang menembus dingin dan derasnya hujan pagi ini.

"Puji Tuhan, hari ini Bandung dirahmati dengan hujan yang menyejukkan," katanya sambil tersenyum senantiasa memandangi guyuran hujan dibalik kaca mobil.

"Kamu suka hujan?" tanya pria yang mengemudikan mobil tersebut.

"Enggak terlalu sih, cuma bersyukur aja. Udah lama juga kan hujan enggak turun sederas ini," jawabnya dengan atensi penuh pada pria itu.

"Benar juga. Ngomong-ngomong kamu nanti mau ke rumah? Soalnya nenek aku ngundang kamu untuk makan bersama," ungkap Elan pada Rahel. Sebab sang nenek sudah terlalu sering menanyakan gadis ini. Padahal ia bisa mengajak langsung, kenapa harus Elan jadi perantara.

"Aku mau aja, tapi enggak hari ini. Soalnya aku mau ajak Alwa main ke rumah. Gimana kalo minggu aja?" tawar Rahel, menjelaskan alasan dan belum bisa memenuhi undangan nenek Elan.

"Oke minggu, nanti biar aku aja yang jemput," final Elan.

Setidaknya Rahel masih bisa memenuhi ajakan sang nenek. Walaupun bukan hari ini, bukankah setiap hari itu sama? Yang membedakan hanya bagaimana kita berusaha menjalaninya dalam keikhlasan.

"Iyaa," balas Rahel.

Kembali fokus dengan jalanan serta pemandangan, Rahel dan Elan pun sama-sama terdiam. Sekian lama menit berjalan, mereka telah sampai di area khusus parkiran sebuah perusahaan. Mereka keluar bersama, ternyata perusahaan tempat mereka bekerja tidak sepi dengan manusia. Banyak yang berlalu lalang untuk segera melaksanakan rutinitas mereka. Elan dan Rahel pun memasuki perusahaan tersebut, serta menuju ruangan yang telah menjadi medan tempur saja. Mereka berpisah di lift, Rahel menuju lab penelitian sedangkan Elan harus ke ruangannya yang masih berada di atas.

。。。

Layaknya hujan bukan penghalang dalam hidup, itulah yang menjadi motivasi bagi sebagian mahasiswa. Sebagiannya lagi sudah dipastikan, nikmati hujan dengan memanjakan diri dalam selimut tebal sambil menikmati makanan hangat atau tidak melanjutkan tidur. Suasana universitas Bandung yang diguyur buliran hujan menambahkan kesan elegant tersendiri untuk kampus tersebut. Bukan hanya kampus saja, mahasiswanya juga tidak kalah elegant dan pejuang. Sebab, mereka menerobos hujan dengan jas hujan, payung, ataupun sengaja basah di mana nanti bisa berganti pakaian di kamar mandi. Beruntung yang memiliki mobil karena tidak perlu khawatir akan basah. Meski hujan, kampus satu ini tidak akan lenggang akan penghuninya sebab selalu ramai kecuali memang libur panjang.

"Mang, Lany mau bakso seporsi sama teh tawar anget,"  ujar  Lany setelah berada di depan Mang Danang.

"Oke Lan, tunggu ya," balas mang Danang. Ia langsung menyiapkan pesanan Lany.

Lany mengangguk sambil mendudukkan bokongnya disalah satu bangku kantin itu. Lany pikir kantin akan sepi, tapi ternyata banyak juga manusia-manusia berdatangan hanya ingin sekedar menghangatkan diri dengan menyantap makan dan minuman hangat.

KURCACI

Elaerning

Udh pada di kmpus kah?

Salsaengg

Baru nyampe gess.
Ira sama Lany?
Mana dua curut itu

Elaerning

Ira sama gue,
lagi antri minyak ini.

Gue udh di kntin,
ntar kesini aja langsung

Salsaengg

Okdeh

Elaerning

Shap bro!

Hujan-hujan antri minyak, astaga temannya itu emang beda dari yang lain. Maybe, emang krisis minyak lagi dua orang itu. Lany pun membuka instagramnya, memperlihatkan  berbagai instastory dosen ataupun teman-teman kampus. Lany melihat ada acara yang akan dilaksanakan bulan depan disalah satu kampus temannya. Lany kaget, karena Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di kampusnya diundang dalam poster temannya itu. What is! Pasti bakalan rame ini, jarang banget diundang biasanya cuma BEM yang tertera setiap dalam poster undangan kegiatan.

"Ini pesanannya, Lan." Mang Danang meletakkan seporsi bakso dan teh tersebut dimeja Lany.

"Wahh.  Thank mang," ujar Lany.

"Masama," balas mang Danang, sembari berlalu untuk melayani pembeli lain.

Melihat baksonya yang menggiurkan, Lany pun memotret terlebih dahulu untuk diabadikan. Selesai, ia pun menyantap bakso yang masih mengepulkan asap di atasnya. Secara pelan-pelan tapi pasti, sungguh bakso mang Danang di kantin kampusnya adalah yang terbaik. Tidak lama, terlihatlah temannya itu yang sedang mengobrol dengan seseorang yang tidak asing bagi Lany.

"Enaknya makan bakso sendirian, gak mau dibagi ke gue gitu, Lan?" celetuk Salsa ketika sudah duduk di sampingnya.

"Lo pesen lah. Biasanya juga langsung pesen ke mang Danang," ujar Lany heran.

"Udah sih, tinggal nunggu dateng aja," balas Salsa.

"Kapan mesennya, lo aja langsung duduk di sini," tanya Lany yang tidak melihat Salsa memesan pada mang Danang.

"Bukan gue sih, tapi seseorang." Lany dibuat penasaran atas jawaban Salsa.

"Ohhh. Orang yang dateng bareng lo tadi, ya?" tanya Lany memastikan.

"Yoii beb."

Ada sesuatu yang aneh, sejak kapan temannya bisa mengobrol ria dengan orang lain selain mereka bertiga. Atau mungkin itu pacarnya? Sepupunya? Tapi Salsa tidak memiliki sepupu di kampus mereka apalagi pacar. Pusing berasumsi, lebih baik Lany menikmati bakso saja.

"Aroma kuah kaldu baksonya menggugah banget, Sal. Pantes aja rame di sini," ujar seorang pria yang sudah duduk di depan kedua gadis itu.

"Gue udah bilang tadi kan. Lo coba aja nanti tuh baksonya, dijamin lo ketagihan," jelas Salsa bersemangat, berbeda dengan Lany yang menatap cengo pada pria di depannya.

"Biasa aja natapnya, Lan. Nggak usah kek gitu juga kali mukanya," celetuk pria tersebut.

Malas rasanya harus menghadapi tingkah pria satu ini. "Bacot deh. Ngapain lo kesini?" tanyanya.

"Ada urusan lah, apa lagi," jawab Alta santai.

"Gue juga tau kali. Maksudnya dalam rangka apa, ada kegiatan kah, pertemuan kah?" ucap Lany sinis.

Jelaslah Lany tau ada urusan, kalau tidak ada urusan tidak akan mungkin Alta itu mau ke sini. Salsa hanya tertawa pelan melihat dua orang yang kadang sefrekuensi dan ada kalanya bak bensin dengan api.

"Alta ke sini mau ngasih undangan sama BEM kampus. Lo gak lupa kalo Alta humas di kampusnya, Lan," jelas Salsa yang diangguki oleh Alta.

"Kirain mau dateng beli bakso doang," ucap Lany menolak pernyataan Salsa.

"Sekalian lah. Nyebar undangan sambil makan bakso mang Danang," ujar Alta tak mau kalah.

"Dua bara api yang nggak pernah mau akur!" celetuk mang Danang. Ia datang dengan meletakkan pesanan Salsa dan Alta dimeja mereka.

"Ntah tuh, tiap ketemu debat mulu. Gak mau ngalah." Salsa menyetujui perkataan mang Danang.

"Cewek gak boleh ngalah, yang harus ngalah cowok," balas Lany tidak terima dibilang bara api.

"Dalam kehidupan, gak penting cewek atau cowok yang ngalah. Yang terpenting itu orang yang mampu mengendalikan ego dan perilakunya. Jika sudah bisa mengendalikan kedua itu, dipastikan orang itulah pemenang dalam kehidupannya," terang Alta, berusaha menyudahi kesewotan seorang Lany.

"SETUJU!" teriak Salsa dan mang Danang bersamaan.

Kemudian mang Danang berlalu, maka tersisalah mereka bertiga yang sibuk dengan bakso mereka."Si paling bijaksana," gerutu Lany.

Dua orang itu mendengarnya, Salsa hanya geleng-geleng melihat tingkah tidak ingin kalah dari seorang Lany. Sedangkan Alta tertawa saja melihat kepasrahan Lany.

。。。

"Jika kalian kurang mengerti bagian ini, silakan tanyakan. Kita akan berdiskusi sebelum mengakhiri kelas pagi ini," kata Alwa yang sudah memaparkan beberapa poin dari bab yang menjadi pembahasan pada kelas ini.

Senyap tanpa ada yang bersuara mempertandakan kalau mahasiswanya itu sudah benar-benar mengerti, Alwa pun membuka slide berikutnya.

"Sepertinya kalian sudah mengerti bab ini, sekarang nama yang sudah dikelompokkan silakan dipoto atau dicatat. Sebab, kelompok ini yang akan menjadi kelompok selama menjelang uts. Bisa diliat temannya masing-masing, jadi kalian bisa mulai observasi besok. Nanti saya akan mengirimkan surat melalui email ketua kelas. Jangan lupa kehadiran selama proses observasi dan penyususan harus selalu diisi, tidak ada yang namanya cuma menumpang nama tanpa adanya partisipasi!" jelas Alwa dengan tegas, sembari menatap mahasiswanya.

"OKE IBUU," jawab seluruh mahasiswa serentak.

Bak ingin mengeluh karena digempur tugas obervasi ataupun penelitian, wajar sekali sudah semester enam. Yang di mana setelah  semester ini akan dihadapkan dengan KKN, magang, serta penelitian dalam pemenuhan skripsi. Mendapatkan kelas Alwa merupakan suatu keberuntungan, sebab Alwa menerima konsultasi disaat jam kerjanya.

"Karena jam kelas usai, saya ucapkan terima kasih atas kehadiran kalian. Jumpa dipertemuan berikutnya. Jika sudah menyalin nama kelompok, kalian diperbolehkan meninggalkan kelas." Alwa mengakhiri kelasnya.

"Sama-sama bu, terima kasih kembali," balas seluruh mahasiswa, serta segera beranjak meninggalkan ruangan kelas.

Kelas pagi ini usai, Alwa membereskan perlengkapannya. Ia akan melanjutkan ke kelas berikutya di ruangan yang berbeda. Serasa siap, ia melangkahkan kaki ke lantai bawah kelas anak semester empat. Pukul 10.00 WIB hujan belum juga mereda, membuat suasana dingin menusuk tulang saja. Alwa tidak memperdulikan hal itu, ia masih melangkahkan kaki, Alwa banyak disapa oleh mahasiswa yang berlalu lalang yang berkeliaran memasukki kelas atau sekedar menemui dosen untuk konsultasi. Sungguh sebuah perjuangan demi ada gelar di belakang nama. Sesampainya di kelas, Alwa pun masuk seketika kelas yang tadi ramai akan suara berganti menjadi senyap. Para mahasiswa memperbaiki tempat duduk dan posisi mereka, serta memperhatikan dosennya.

"Selamat pagi semua!" ucap Alwa dengan membuka materi yang akan mereka pelajari.

"Pagi ibu," jawab mahasiswa yang hadir.

"Karena hari ini hujan, kita belum bisa mengunjungi instansi yang akan kita ajak kerja sama. Tetapi, kita bisa menyiapkan dulu proposal dan hal-hal yang diperlukan sebelum ke sana. Sekarang kita akan melanjutkan materi dari pertemuan sebelumnya." Alwa langsung menjelaskan materi tersebut.

Mahasiswa paham akan hal itu, sehingga mereka pun mendengar dan mencatat materi yang menurut mereka penting. Berusaha untuk fokus dengan kelas di tengah hujan adalah hal yang sulit, sebab ada kalanya kantuk menyerang. Meski begitu, Alwa selalu bisa mengatasi rasa kantuk mahasiswanya dengan berusaha berinteraksi ringan pada mahasiswa. Alwa tidak selalu duduk, ia kadang berjalan mengelilingi kursi mahasiswanya sembari memaparkan materi. Ia juga kerap menjawab pertanyaan dari mahasiswa yang ada kalanya ingin bertanya. Ada juga berpendapat dan kadang-kadang Alwa pun menambahkan pendapat tersebut.

。。。

"Gilaa, udah pake mantel pun tetap basah elah!" Ira mengibaskan bajunya yang basah dengan malas, karena bajunya basah saat antri minyak.

"Iya, weh. Kagak mau pulang aja kita, Ir. Lagian pak Sadam kagak bakalan masuk hujan begini," ajak Ela.

"Dodol banget deh. Lo pikir pak Sadam gak punya mobil, yakali bapak-bapak tuh gak masuk. Yang ada kita dibikin alpa, tau gak," tolak Ira sembari berjalan menuju kantin bersama Ela.

"Iya sih," balas Ela mengingat kelakuan bapak itu semester lalu, di mana bapak itu tidak pernah absen untuk masuk kelas disaat cuaca yang entah berantah.

"Santailah, basah dikit gak ngaruh untuk kita. Kelas pak Sadam juga sejam lagi," ucap Ira pada Ela yang tak tenang itu.

"Yoweslah, sekarang kita ke kelas atau kantin?" tanya Ela sesekali melirik sekitar.

"Kantinlah, sekalian aja bareng ke kelasnya. Kita susul Salsa sama Lany dulu. Katanya tadi Alta juga di sana," jelas Ira, yang diangguki oleh Ela.

Mereka pun semakin mempercepat langkah kaki masing-masing, agar bisa berkumpul dengan temannya. Benar saja, tidak akan jauh dari bakso mang Danang. Kedua temannya sudah habis memakan seporsi bakso yang menggugah selera, tetapi mereka tidak akan makan. Sebab, sudah sarapan sebelum berangkat tadi pagi.

"Lama banget dah lo antri minyak," ujar Lany pada kedua temannya yang telah duduk dekat pria yang sama sekali tidak ada tanda akan pergi.

"Kayak kagak tau pom bensin aja lo, Lan. Biasalah antri panjang," jelas Ela dengan lega bisa duduk tenang.

Lany pun mengangguk saja, mereka suka berkumpul seperti ini. Daripada harus berkumpul depan laptop, sungguh mata dan kepalanya pusing tidak tertolong.

"Woi Alta, mending lo kasih tuh undangan. Asik ngintilin kami aja lo," ucap Lany ketus.

Masalahnya pria satu ini tidak ada tanda-tanda ingin angkat bokongnya dari kursi tersebut.

"Gini amat rasanya punya temen cewek. Sinis, judesnya minta ampun. Lagian gue juga nungguin ketua BEM kampus kalian ke sini," jelas Alta, ia tak terima seakan diusir secara terang-terangan oleh Lany.

"Alasannya banyak amat deh," celetuk Lany tak suka.

"Udahlah, Lan. Biarin pun si Alta di sini sambil nunggu seleb tuh dateng," ujar Ira berusaha menengah ketidaksukaan dua orang ini.

"Lagi pula kita juga mau ke kelas, Alta juga akan sendirian pun nanti. Jadi, sekarang anggap aja dia, sebelum dia sendiri di kantin, gak lucu kan kalau dia dikucilin," pungkas Salsa, sepenuhnya ia kasihan pada Alta tapi sebenarnya ada sedikit candaan.

Tak lagi peduli, Lany hanya menatap teman-temannya itu. Sedangkan Alta hanya geleng-geleng saja tidak terlalu mempermasalahkan tingkah keempat gadis yang sedang bersamanya. Bagi Alta candaan, sinisan, dan judesnya mereka itu pelengkap toping utama dalam perjalanan hidup Alta. Berbeda kampus tidak membuat mereka asing, yang ada semakin membuat perdebatan ketidaksukaan saja. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang acara yang akan dilaksanakan oleh kampus Alta. Acara itu untuk merayakan hari jadi fakultas hukum di kampusnya. Biasanya acara ini mereka selalu diundang secara personal oleh Alta, inilah untungnya punya teman di kampus lain dengan bonus yang mengundang adalah humas itu sendiri. Karena kelas pak Sadam akan segera dimulai, mereka berempat pamitan pada Alta, kemudian diangguki saja oleh Alta. Keempat gadis itu sudah berlalu dan hilang dari pandangan mata Alta dengan digantikan sosok yang sedang ia tunggu.

"Maaf banget kalo gue lama, Ta." Sosok itu merasa tak enak karena sudah menyita waktu temannya.

"Santailah bro. Gue juga gak buru-buru amat. Malah gue seneng bisa ngobrol bareng temen-temen gue tadi," pungkas Alta semangat, karena dirinya tidak terlalu jenuh menunggu pria ini karena ditemani oleh temannya.

"Syukurlah. Gue kira lo bosen atau capek gitu nunggu tadinya," ucap Sahru lagi yang telah duduk berhadapan.

"Santai ... santai ... Ini undangan untuk BEM kampus dan ini untuk FISIP. Kalau mahasiswa yang lain pengen ikut, datang aja. Terbuka untuk umum sebenarnya sih, cuma undangan ini formalitas antar kampus." Alta segera menyerahkan undangan itu pada Sahru.

"Amazing. Biasanya acara beginian bakalan seru dan rame sama pertunjukkan dan perlombaan. Apa lagi ada semnas, kan?" ujar Sahru sumringah, sebab ia sangat ingin hadir pada semnas di kampus itu.

"Pasti. Seminar Nasional ini selalu diadakan diacara khusus hari jadi fakultas hukum di kampus kami. Dan juga, sepertinya yang akan jadi narasumber salah satu dosen yang terkenal diangkatannya," jelas Alta yang tak kalah semangat. Seperti inilah humas harus selalu bersemangat dan pandai dalam memikat orang yang menjadi target.

"Ini lebih dari luar biasa, Ta. Kayaknya gue hadir di semnas tanpa ikut partisipasi di perlombaan kali ini. Kalo lo gimana?" tanya Sahru takjub, setelah mendengar siapa yang akan menjadi narasumber pada semnas itu.

"Gue mah seperti biasa, bagian keamanan," ucap Alta.

 "Oh iyaa, alumni kampus gue juga akan hadir dalam semnas. Ini alumni terbaik diangkatannya sekaligus penggerak organisasi cipayung yang ada di kampus gue. Walau sibuk kerja, dalam organisasi dia masih berkontribusi dibalik layar. Keren banget!" ungkap Alta dengan membara, pasalnya ia akan melihat para lulusan terbaik kampusnya.

"Gokil anjaii. Kayaknya baru tahun ini deh kampus lo bikin acara segokil ini," ujar Sahru.

"Kayak kampus lo aja yang gak pernah bikin acara, Ru. Kampus lo juga gak kalah gokil ya anjirrt," balas Alta, ia tau Sahru sedang takjub sehingga memuji kampusnya.

Padahal, kampus Sahru juga tak kalah luar biasanya. Sungguh lima tahun lalu, Universitas Bandung pernah menjadi salah satu universitas besar dalam melaksanakan berbagai acara. Dan dua tahun kemaren saja, Universitas ini juga pernah menjadi pusat pertemuan dan penelitian yang mendatangkan petinggi-petinggi universitas luar dan dalam negeri.

"Pokoknya kampus kita sama-sama gokil, bro!" sanggah Sahru yang tidak ingin orang-orang terlalu memuji kampusnya.

"Yoii. Lo kesini gak ada kelas, atau lo absen?" tanya Sahru.

"Untungnya dosen gue gak bisa masuk hari ini. Walaupun diganti sama tugas," jawab Alta malas untuk mengingat  tugasnya yang sudah menumpuk di kosannya. Lebih tepat,  diotaknya sih.

"Sama lagi. Kuliah mah enak, karena bisa ngelakuin hal yang kita sukai, tapi yang gak enaknya tugas yang selalu nambah," ucap Sahru. Ia pun sama dengan Alta, sama-sama tidak suka tugas mata kuliah.

"Mau keliling gak? Gue bisa nemenin lo, kebetulan gue kosong hari ini," tawar Sahru pada Alta seraya mengisi kekosongannya.

"Kapan-kapan ajalah bro. Gue masih ada sedikit kepentingan di tempat lain," tolaknya.

Alta tidak sepenuhnya berbohong. Alta memang masih ada urusan sekaligus ia juga malas bertemu dengan Lanu. Daripada terjadi berbagai debat ketidaksukaan, lebih baik ia segera menyelesaikan segala urusannya.

"Okelah bro!" ucap Sahru yang tidak ingin memaksa Alta.

  "Gue pergi dulu, bro. Atur tanggal main sebelum acara," ujar Alta berpamitan yang sudah berjalan menuju keluar kantin.

"Amann, nanti dikabari!" sahut Sahru sedikit berteriak agar suaranya didengar oleh Alta.

Ia pun beranjak kembali menuju gedung dekan FISIP guna memberikan undangan yang diterimanya. Setelah itu, ia akan kembali ke ruangan BEM untuk menyampaikan amanah dari Alta.

Cerita ini diusahakan untuk update terus, jadi teman-teman semua mohon bantuannya ya, vote dan komen teman-teman sangat berharga untuk cerita ini, supaya bisa masuk standar yang baik untuk pembaca dan penulis.

Silakan tuangkan kritikan dan saran teman-teman semua!! Semoga berjumpa dipart selanjutnya...

Continue Reading

You'll Also Like

221 10 4
Amara, gadis cerdas dari panti asuhan yang berhasil meraih beasiswa studi lanjut ke Sorbonne Paris. Dalam perjuangannya beradaptasi tinggal di Peran...
969 80 14
Fajar, seorang HRD di perusahaan startup Jakarta, menjalani hidup seperti spreadsheet: rapi di permukaan, hampa di dalam. Ia baru saja keluar dari hu...
2.1K 176 21
Terlahir sebagai anak indigo membuat Azalea mampu melihat roh tak kasat mata sekaligus bisa berkomunikasi dengan mereka. Meski awalnya ia merasa sedi...
252K 3.3K 12
Bumi sang murid kesayangan Mbah Kliwon, yang selalu menemani sedari kecil. Tidak ada yang pernah melihat Bumi bersama dengan Mbah Kliwon, hanya dalam...
Wattpad App - Unlock exclusive features