Makan malam kali ini hanya ada Reyhan, Mama Diana dan Papa Heykal. Aldo si sulung sedang ada kegiatan bersama teman-teman klub basketnya ia juga sudah mencoba untuk mengajak Reyhan ikut.
Namun Reyhan menolak dengan alasan belum terlalu dekat dengan yang lainnya, takut merusak suasan. Jika sudah menolak seperti itu Aldo tidak bisa mamaksa lagi.
Kali ini Papa Heykal sedang mencuci piring setalah dipakai untuk makan keluarganya, memang sudah kebiasaan jika setelah makan malam untuk langsung mencucinya.
Reyhan berinisiatif untuk membantu membawa piring miliknya ke wastafel juga tapi sudah keduluan sang Mama mengambilnya lebih cepat.
"Kamu duduk situ aja Ka, inget minggu depan udah harus terapi loh ya." Diana mengingatkan
"Didengerin tuh Mama Reyhan, kamu hati-hati juga kalau mau ngapa-ngapain. Mungkin minggu depan Papa bisa temenin kamu ke Rumah sakit." Ucap Heykal
"Iyaa Pah Mah, kalau Reyhan sendiri ngikut aja yang bisa nganter siapa. Tapi sebenernya Reyhan bisa kog sendirian aja buat check up, kasian kalau Papa sama Mama harus bolak balik dari Rumah Sakit ke tempat kerja."
"Jangan gitu dong, pokoknya nggak boleh kalau sendirian ke Rumah Sakit harus adabyang nemenin." Ucap Heykal yang sudah selesai mencuci piring lantas kembali duduk disebelah Reyhan
"Lagian Papa sama Mama juga nggak sesibuk itu Ka." Tambah Diana sambil memberikan obat yang biasa diminum sang anak saat malam
Lantas Reyhan langsung menerimanya dan meminumnya.
Setelah acara makan malam selesai, mereka menyempatkan untuk menonton tv bersama di ruang tengah. Sedangkan Diana ia sudah berjalan masuk ke kamar tidurnya.
Tersisa Heykal dan Reyhan saja disana Saking fokusnya melihat Tv ia tidak sadar kalau Papanya sudah mejamkan mata, terlihat jelas guratan lelah disana.
Reyhan coba menggoyang pelan tutbuh Papanya
"Pah...Papah...pindah kamar aja kasian nanti pegel badannya." Heykal yang memang tipikal mudah dibangunkan lantas menegakan tubuhnya, Dilihat jam rumah menunjukan pukul 9 malam dan Aldo masih belum pulang.
Padahal maksimal jam malamnya jam 10 saja, dilihatnya mata Reyhan yang masih segar.
"Kamu nggak ngantuk Ka?"
"Belum Pah, nanti dulu aja sekalian nunggu Aa pulang. Papa nyusul Mama bobok di kamar aja." Pinta Reyhan
"Jangan malem-malem ya boboknya, nanti kalau Aa udah pulang langsung masuk kamar aja. Papa tinggal ya." Pesan Heykal yang setelah itu langsung berjalan ke lantai 2 menuju kamarnya.
Reyhan sangat senang melihat keharmonisan keluarganya ini. Ia merasa sangat bersykur bisa tinggal disini.
Ia tidak akan pernah melupakan kebaikan keluarga ini kepadanya.
Waktu hampir menunjukan pukul 10 malam dan untungnya sang Kaka juga sudah sampai di Rumah, bisa dimarahi kalau sampai Aldo pulang telat lagi.
Tempo hari Reyhan melihat secara langsung Papa Heykal yang memarahi sang Kaka karena pulang terlalu malam, sebenarnya bukan tipikal marah yang main tangan ataupun berteriak.
Tapi sang papa lebih memilih menurunkan nada bicaranya yang langsung membuat susana menjadi tidak nyaman.
"Pas banget kamubelum tidur Han?" Ucap Aldo yang sudah sampai ruang tengah menyusul duduk disebelah adiknya itu, sambil menaruh bungkusan makanan yang ia bawa.
"Ini tadi aku sempet beli Takoyaki sama Sup jagung, kasian banget jam segini tapi dagangan bapaknya kaya sepi gitu." Ucapnya sambil membukakan bungkus makanannya.
"Tapi Aa udah makan belum?"
"Udah tadi sama yang lain, ini kita bagi dua aja kalau kamu nggak abis nanti." Dan diangguki oleh Reyhan
"Makasih ya Aa." Ucap Reyhan sambil mengambil satu bulatan takoyaki yang langsung ia lahap semua.
"Hmm... ini enak kog kak, cobain deh." Tawar Reyhan, langsung saja Aldo mengambilnya juga.
"Iya ya ini enak, murah juga sih menurutku tadi. oke kapan-kapan kita beli lagi nanti."
Setelah itu Aldo memakan Sup Jagung yang juga ia beli.
"Ini sih lebih ke asin gurih, nggak manis kaya sup jagung biasanya." Ucap Aldo setelah merasakannya.
"Coba sini Aa." Pinta Reyhan yang langsung memakannya beberapa sendok, ia seperti familiar dengan rasa ini tapi apa ia lupa.
"Ini enak sih masih aman aja buat dimakan Aa, kaya ada lembut-lembut daging atau apa ini nggak tahu."
Mereka masih santai memakan semua itu sampai tandas, setelah menunggu beberapa saat sambil makanannya turun sebelum tidur. Mereka bercerita sebentar soal kegiatan di sekolah besok yang akan diadakan ulangan tengah semester.
Ditengah obrolan itu, Reyhan seperti merasa hawa sedikit panas di badannya. Ia lihat sang Kaka juga terlihat agak berkeringat mungkin memang malam ini udara cukup panas pikirnya.
Setelahnya Reyhan memutuskan untuk masuk ke kamar saja begitupun Aldo yang ingin segera tidur juga.
Sesampainya di kamar Reyhan langsung menurunkan suhu pendingin dikamarnya, ia benar merasa kepanasan saat ini. Kulitnya juga berasa tidak nyaman.
Setelah selesai menggososk gigi dan cuci muka, ia langsung menidurkan badannya. Panas yang ia rasakan tidak ia pikir panjang mungkin memang seperti yang ia pikir tadi saat ini sedang panas saja udaranya.
Seluruh penghuni rumah pun sudah terlelap di dalam mimpinya masing-masing, keheningan melingkupi kediaman Heykal malam ini.
Sampai lewat pertengahan malam, Reyhan ternyata sejak tadi sudah merasa gelisah saat tidur. Ia ingin bangun tapi rasa kantuk amat sangat membiusnya.
Rasa tidak nyaman di perutnya mulai membuat gelisah sang empu yang terlelap diatas kasur empuknya, Ia merasa isi perutnya bergejolak meminta untuk segera dikeluarkan.
Sampai akhirnya matanya terbuka dan hanya pandangan buram yang ia dapat lihat, ia coba untuk menggososk matanya beberapa kali namun hasilnya sama saja. Matanya seperti lebih berat dan sulit untuk dibuka.
Karena sudah tidak tahan dengan gulatan diperutnya, ia langsung berjalan tertatih menuju kamar mandi yang tepat disebelah kasurnya untuk memuntahkan isi perutnya.
Tanpa ia harus bersusah payah, isi perutnya seperti langsung terdorong ketika ia bersimpuh didepan kloset kamar mandinya,sekali bahkan ini sudah kedua kalinya ia muntah juga rasa panas mulai menggerogoti tenggorokan dan lubang pernafasannya.
Sedikit lega karena ia sudah tidak merasa semual tadi, ia sandarkan badannya sebentar di pinggiran kloset itu. Namun tidak ada 5 menit rasa mual sudah datang lagi.
Yang mau tidak mau ia harus memuntahkannya lagi dan lagi, sekarang hanya seperti air saja yang keluar. Perutnya benar-benar sudah terasa sakit sekarang seperti diremas.
Ia belum pernah seperti ini sebelumnya, ia tidak tahu apa yangterjadi dengan tubuhnya. Sambil menahan rasa mual yang sepertinya akan datang lagi. Ia berusaha berdiri dengan sedikit berjinjit pelan menuju kaca wastafel di kamar mandi itu.
Terpantul dikaca wajahnya sudah membengkak dan ada ruam merah disekitarnya,bengkak disekitar mata juga ruam disekitar mulutnya, Mata sebelah kanannya hampir tertutup seperti orang yang terkena sengatan lebah.
Matanya berair dengan rasa gatal disana, sudah jelas ini karena alerginya. Reyhan panik saat ini ia tidak punya obat itu sama sekali, ia harus bagaimana.
Apakah ia harus memabangunkan orang tuanya tengah malam seperti ini, tapi ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
Tiba-tiba rasa mual itu datang kembali dan Reyhan sontak memuntahkan isi perutnya lagi di wastafel itu, benar-benar sudah terkuras habis makan malamnya tadi. Tanpa pikir panjang ia langsung berjalan cepat dengan agak memaksakan kaki kirinya untuk menepak lantai.
Diraihnya ponsel yang ada di nakas dekat lampu tidurnya, Tanpa pikir panjang ia langsung memanggil kontak Papa Heykal.
Panggilan sudah tersambung tapi beluma ada jawaban dari seberang, Reyhan sudah berjalan lagi ke kamar mandi untuk mengeluarkan lagi isi perutnya yang entah sudah kesekian kali.
Kepalanya benar-benar terasa berat, rasanya matanya semakin sulit untuk dibuka.
"Halo Reyhan ada apa nak?" Terdengar suara Heykal yang parau khas orang terbangun dari tidur.
"Hal-halo Papa, To-tolongin Rey-Reyhan Pah." Pinta Reyhan dengan suara yang hampir berbisik
"Han-Reyhan!!" Terdengar panggilan lagi dari Heykal tapi rasanya ia sudah tidak sanggup menjawab lagi
Lagi-lagi ia mengeluarkan isi perutnya dan hanya air yang keluar.
Dilain sisi Heykal langsung bangun karena panik dan terkejut, dan langsung berlari kebawah menuruni anak tangga ke arah kamar Heykal.
Diana yang sedikit terganggu dengan pergerakan suaminya yang tiba-tiba lantas ikut membuka mata, ia bertanya-tanya ada apa dengan suaminya. Apakah ada pekerjaan yang mendesak jam segini.
Sesampainya Heykal dikamar anaknya, ia tidak melihat sang putra diatas kasur. Lantas ia berlari mencari ke kamar mandi. Yang ia lihat disana Reyhan sudah terduduk lemas dengan kondisi bengkak parah dikedua kelopak matanya juga ruam merah di wajahnya.
"Astagfirullahaladzim Reyhan...Reyhan lihat Papa." Iya goyang sedikit badan Reyhan untuk melihat respon tubuhnya, terlihat Reyhan yang sulit untuk membuka matanya namun bibrnya terus menerus memanggil namanya.
Langsung saja ia menggendong Reyhan dipunggungnya dengan cepat dan berjalan keluar menuju mobilnya. Saat akan berjalan keluar rumah ia berpapasan dengan istrinya yang berjalan menuruni tangga.
Sontak Diana langsung berteriak melihat Reyhan yang terkulai lemas di gendongan sang suami.
"Reyhan!!!" Teriak Diana
"Sayang tolong ambilin kunci mobilku ya sama bukain pintu penumpang." Pinta Heykal dengan wajah kalutnya
Diana langsung saja menyambar kunci mobil di gantungan juga langsung berlari menuju mobil suaminya dan membukan pintu mobilnya.
Heykal dengan hati-hati mendudukan Reyhan di sana, dan langsung menghampiri istrinya yang menautkan tangannya sambil bergetar hebat.
"Sayang kamu jangan buru-buru nyusul tenangin diri kamu, ini biar aku bawa Reyhan ke rumah sakit dulu. Aku sayang kamu." Pesan Heykal setelah mencium cepat kening istrinya langsung ia berlari kedalam mobilnya dan mengemudikannya menuju Rumah sakit.
Diana masih dilingkupi rasa terkejutnya dan langsung saja ia berjalan ke arah kamarnya untuk mengemas beberapa baju suaminya juga sang anak, Ia akan langsung menyusul kesana.
Tidak lupa ia juga memberi pesan kepada supir dan pekerja rumah tangganya untuk datang lebih awal esok hari.
Didalam mobil Heykal fokus untuk mengemudikan mobilnya dengan cepat, jalanan kota yang mulai sepi ini mempermudah mereka agar lebih cepat sampai
Dipegangnya jemari rehan dengan agak kencang.
"Reyhan denger papa kan, jangan bobok dulu ya sayang coba kamu pegang erat tangan Papa biar Papa nggak sendirian." Pancing Heykal agar anaknya itu tetap terjaga.
Tanpa menjawab Reyhan langsung meremat kencang tangan Papanya, tapi sebaliknya yang Heykal rasakan hanya rematan lemah yang siap untuk terlepas.
Sesampainya di IGD, para dokter dan perawat yang berjaga langsung membantu memindahkan Reyhan ke bankar dan langsung mengecek keadaan Reyhan.
Heykal melihat anaknya yang sudah terkulai lemas dan sedikit respon yang bisa ia berikan ketika dipanggil sang dokter yang memeriksa, rasa takut meliputinya saat ini.
Dilihatnya Reyhan yang diberikan suntikan juga diberi alat untuk bantuan bernafas, ia mulai merasa agak tenang ketika wajah para perawat juga dokter tidak sekeras tadi ketika mereka baru sampai.
"Wali atas nama Reyhan." Panggil dokter yang duduk di meja jaga ruang IGD tersebut
"Iya saya ayahnya, jadi bagaimana anak saya kenapa dok?." Cemas Heykal
"Dari gejalanya ini seperti Alergi ya pak, mungkin anak bapak memakan sesuatu yang memicu alerginya jadi kambuh. Saat ini mohon ditunggu disini dulu ya pak sekitar 3 jam untuk kita observasi dulu setelah Reyhan mulai stabil baru bisa kita pindahkan ke kamar rawat." Jelas sang dokter dan diangguki oleh Heykal.
Ia berjalan menuju bankar Reyhan, ia dudukan tubuhnya dikursi yang tersedi disana. Ia pandangi lamat-lamat wajah anaknya yang seperti menahan sakit.
Ia benamkan kepalanya diantara tangan Reyhan dengan jemarinya yang sibuk mengelus tangan putra bungsunya itu.
Ya benar Heykal merasa sangat khawatir saat ini.
. . . .
Halo semuanya terima kasih ya sudah mampir kesini lagi, jangan lupa tinggalkan jejak ya
Like dan komen dari kamu sangat berarti buat aku, terima kasih banyak ya
Have a great day~