Become a Cursed Prince

By Mhyka62

354K 35.5K 1.3K

Menjadi Pangeran terkutuk dan diasingkan? Memangnya siapa yang ingin menjadi seorang pangeran yang diperlakuk... More

Part:1
Part:2
Part:3
Part:4
Part:5
Part:6
Part:7
Part:8
Part:9
Part:10
Part:11
Part:12
Part:13
Part:14
Part:15
Part:16
Part:17
Part:18
Part:19
Part:20
Part:22
Part:23
Part:24
Part:25
Part:26
Part:27
Part:28
Part:29

Part:21

6.9K 797 16
By Mhyka62

Vote and comment juseyo...
.......

Pyur

Brak

Louis mengusap keringat di dahinya, seraya tersenyum puas melihat pisau yang sudah dia aliri mananya berhasil membelah bebatuan yamg tidak jauh berada di depannya.

"Akhirnya kau berhasil" Louis menatap ke arah belakang, di mana Naveen melangkah menghampirinya.

"Iya, semua ini berkat latihan dengan kau selama beberapa bulan ini" Louis tersenyum tipis mengelap keringat di dahinya menggunakan sapu tangan yang diberikan Naveen padanya.

Tidak terasa sudah beberapa bulanpun berlalu, Louis berlatih begitu keras bersama Naveen. Dan tidak hanya itu, banyak penghuni istana yang mulai berpihak padanya, ketika menyadari Louis tidaklah berbahaya seperti yang mereka dengar. Bahkan Louis sudah mulai membuka dirinya dan mulai akrab dengan para penghuni istana itu.

Walaupun tidak keseluruhan, tapi setidaknya, Louis tidak perlu lagi mendengarkan perkataan jelek padanya. Apalagi hubungannya dengan keluarganya semakin dekat.

Louis tersenyum tipis, ketika mengingat beberapa bulan lalu, saat Louis melangkah menuju ruang kerja Kaisar bersama Xavier. Masih banyak yang berbicara buruk tentangnya. Louis berusaha abai, namun tetap saja dia merasa sakit hati dan juga sedih.

Naveen yang ternyata berada tidak jauh darinya, membawa Louis berlatih dengan keras. Walaupun, kesannya memaksa dan juga kasar, tapi ternyata cara Naveen berhasil mengalihkan pikirannya. Walaupun, pada akhirnya Louis dimarahi oleh Kaisar karena terlambat menemuinya.

Setelah memberikan sedikit penjelasan, akhirnya Kaisar memaafkannya dan membicarakan sesuatu bersama.

Tidak banyak yang Louis bahas bersama Kaisar saat itu. Hanya tentang Pavilium tempat tinggallnya yang sudah selesai di renovasi. Louis pikir, dia akan kembali diasingkan ke Pavilium belakang itu. Tapi ternyata Kaisar memberinya pilihan, untuk tetap berada di istana utama, atau kembali ke Pavilium belakang istana tersebut.

"Ini pilihanmu. Kalau kau ingin suasana tenang, kau bisa kembali ke Pavilium itu"

"Aku bisa meminta seseorang mengawasimu, dan memperhatikan kerja kristal yang ada di lehermu itu. Karena sejujurnya, itu masih tahap percobaan. Kita tidak ingin terjadi sesuatu, kalau ternyata kristal itu gagal mengontrol kekuatan ditubuh mu" penjelasan Kaisar, langsung dimengerti oleh Louis.

Yang artinya Kaisar sebenarnya merasa berat membiarkan Louis kembali ke Pavilium belakang tersebut. Ayahnya itu, sedari dulu memang seperti itu. Dia sangat perhatian dengan caranya sendiri, dan Louis baru menyadarinya akhir-akhir ini.

Posisi Gerald yang serba salah antara sebagai pemimpin dan seorang ayah, terkadang membuat Gerald melontarkan perkataan menyakitkan pada Louis. Tapi Louis sadar, selama itu untuk kebaikannya.

Dan Louis tidak membencinya.

Apalagi waktu itu William pernah bercerita, kalau Gerald pernah tidak beristirahat hanya untuk mencari cara mengontrol kekuatan Louis tanpa menggunakan rantai pengekang itu, disaat Louis sudah merasa tidak nyaman.

Sampai akhirnya mereka menemukan kristal suci ini. Bahkan Gerald meminta bawahannya untuk menemukan keberadaan kristal suci ini di seluruh negeri.

Louis merasa terharu saat mendengar hal tersebut. Makanya, tanpa pikir panjang, Louis memilih berada di dalam istana, supaya Gerald lebih mudah mengawasinya. Dia tidak ingin merepotkan ayahnya itu lagi.

Untuk omongan orang-orang itu, Louis mengatasinya dengan berlatih bersama Naveen. Dan itu berhasil.

Louis juga sudah merasa nyaman berada di istana ini. Louis berharap, dia bisa menjadi semakin kuat dan bisa melindungi keluarganya.

"Naveen terima kasih ya" Naveen yang sedang minum tersedak dan menatap Louis dengan tatapan bingung, ketika mendengar suara Louis yang melembut.

"Hy apa-apaan dengan nada bicaramu itu. Bikin merinding saja" Sekarang Louis yang melotot, tidak terima pada Naveen. Padahal dia berbicara dengan tulus, tapi bisa-bisanya Naveen merinding karenanya.

"Kau benar-benar aneh. Aku bilang terima kasih, kau malah berkata seperti itu padaku. Dasar bodoh"

"Lihat sekarang kau lagi-lagi mengumpatiku. Kau semakin berani. Mau ku hajar kau?"

"Haha, apa kau mau bertarung denganku lagi sekarang?"

"Siapa takut, aku tidak akan mau mengalah Louis"

"Aku juga tidak akan kalah kali ini Naveen"

Louis dan Naveen mengambil posisi bersiap, dengan pedang kayu mereka masing-masing, mereka saling menyerang dengan senyuman diwajahnya.

"Lambat" ujar Naveen berhasil memukul pundak Louis. Louis meringis, walaupun pedang itu dari kayu, tetap saja sakit ketika kena pukul. Louis berbalik, dan hendak menyerang Naveen, tapi Naveen berhasil menahannya.

"Ayo kerahkan tenagamu lagi" ujar Naveen berusaha keras menahan dorongan dari pedang Louis. Beberapa menit dia bertahan, sampai akhirnya serangan Louis melemah.

Awalnya Naveen pikir, Louis menyerah. Kata ejekan bahkan siap dilontarkan untuk membuat Louis kesal. Tapi kata-kata itu dia kubur dalam-dalam ketika melihat Louis bersimpuh di tanah sambil memegang dadanya.

Louis terlihat kesakitan dan tampak sesak.

"Hey Louis" Naveen memegang Louis dan melihat ekspresi adiknya itu. Mata Louis memerah, nafasnya tidak beraturan, dan tangan yang memegang dadanya erat.

"Ada apa denganmu Louis?" Naveen benar-benar dilanda panik saat ini, dia bahkan tidak berpikir dengan tenang.

"B-bulannya, akhhh" Naveen menatap langit dan membulat kaget. Sekarang dia paham, bisa-bisanya dia lupa malam ini bulan purnama muncul. Karena kondisi Louis akhir-akhir ini membaik, dia jadi melupakan tentang kutukan Louis yang satu itu.

Bodohnya dirinya, Naveen benar-benar merasa payah.

"B-bertahanlah Louis. Tetaplah sadar" Naveen menggendong Louis dan menghilang, membawa Louis menuju ruang kerja Gerald. Tanpa membuat keributan sedikitpun.

Jangan sampai seseorang melihat Louis yang sedang kambuh kembali, sehingga membuat orang-orang kembali menghindari Louis. Begitulah pikir Naveen.

.

.

.

.

.

Naveen dan William memegang erat tangan Louis yang memberontak. Sedari tadi, Louis berteriak kesakitan, membuat Naveen dan William tidak tega melihatnya. Baru pertama kali mereka melihat Louis seperti ini, dan itu membuktikan betapa abainya mereka pada saudara mereka sedari dulu.

Mereka meninggalkan Louis sendirian, menanggung rasa sakit seperti ini setiap 6 bulan sekali.

"Bertahanlah Louis. Ayah apakah masih lama?" Hati Nurani Naveen benar-benar merasa tidak tega, ditatapnya Gerald yang sedari tadi berusaha menekan kekuatan Louis dengan kekuatannya.

"Ayah..."

"Diamlah Naveen, kau mengganggu ku" nada yang dilontarkan Gerald terdengar begitu datar, sehingga membuat Naveen diam dan kembali melihat Louis yang benar-benar tampak tersiksa.

"Bertahanlah Louis. Kau pasti bisa. Jangan kalah dari iblis itu" batin Naveen mencengkram erat tangan Louis, karena kekuatan Louis untuk memberontak semakin besar.

"Sedikit lagi, tetap pegang dia" Untuk terakhir kalinya, Gerald mengeluarkan cahaya yang begitu besar, sehingga membuat Louis tenang dan tidur terlelap.

William dan Naveen menghela nafas lega, melepaskan tangan Louis, dan mengobati luka di lengan Louis karena cengkraman yang mereka perbuat.

"Sepertinya kristal itu tidak berguna menahan kekuatan Louis, dalam keadaan seperti ini ayah"

"Louis masih saja hilang kontrol setiap bulan purnama"

"Kita Lengah. Untung saja Naveen bersama Louis, sehingga kita dapat mengatasinya dengan cepat, tanpa terdapat keributan yang tidak diinginkan" ujar William dan dibalas deheman oleh Gerald.

"Tetap jaga Louis. Kemungkinan ketika dia bangun nanti, dia akan kehilangan fungsi salah satu indranya"

"Baik ayah" Gerald menghilang setelah itu, meninggalkan William dan Naveen yang kembali memusatkan perhatiannya pada Louis.

"Apa yang kau lakukan?" William menatap datar Naveen yang sekarang mendekatkan telinganya dihidung Louis, entah apa yang dia lakukan. Sedangkan Naveen yang ditanya seperti itu, seketika gelagapan dan langsung berdiri dengan tegak kembali.

"Tidak. Aku pikir dia tadi tidak bernafas. Aku hanya ingin memastikannya" ujar Naveen berdehem, menormalkan raut wajahnya.

"Jangan ganggu dia. Lebih baik kau istirahat. Biar aku yang menjaganya di sini" William mengambil posisi duduk disofa yang berada tidak jauh dari tempat tidur Louis.

"Ayah meminta kita menjaganya tadi, jadi aku tidak bisa menolaknya"

"Ada aku di sini, kau pergi saja"

"Aku akan tetap di sini, aku tidak ingin membuat ayah marah karena tidak menurutinya"

William menatap Naveen datar, kemudian menghela nafasnya pelan. Terserah saja, lebih baik dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Sedangkan Naveen yang tidak mendengar komenter dari William kembali, mengambil posisi rebahan di samping Louis. Menatap wajah Louis yang terlihat damai dalam diam.

Dia meneliti wajah Louis, sampai akhirnya tangannya Refleks menoel-noel pipi Louis yang semakin berisi itu. Naveen terkekeh pelan, walaupun dalam hatinya dia merasa heran, padahal Louis rajin berolahraga, tapi tetap saja wajahnya tetap terlihat berisi seperti ini.

Entah apa saja yang Louis makan selama ini, Naveen jadi penasaran.

"Jangan mengganggunya Naveen, atau aku lempar kau keluar"

"Tidak kak. Aku tidak mengganggunya. Kakak diam saja. Nanti Louis bangun" William menatap dengan pandangan tidak terima ke arah adik pertamanya itu. Bisa-bisanya dia mendengar hal demikian dari Naveen, padahal posisinya, Naveen sendiri yang sudah menggangu Louis.

"Tapi kak, apa benar Louis mengalami hal seperti ini setiap 6 bulan sekali?" Nada bicara Naveen terdengar sedikit menyendu. Dan itu membuat William menyimpulkan, kalau Naveen benar-benar merasa khawatir pada Louis.

"Hmm, semenjak kekuatannya meledak waktu itu, Louis selalu merasakan hal seperti itu. Ayah selalu berusaha menekan kekuatan Louis dengan mananya tanpa sepengetahuan Louis"

"Walaupun selalu berhasil, tapi tetap saja memberikan efek samping pada Louis. Kekuatan Cahaya yang ditekankan ayah dan kegelapan yang keluar dari Louis jadi saling bertabrakan, membuat Louis mengalami berbagai macam hal. Seperti dia yang tiba-tiba kehilangan fungsi indranya, atau bahkan mengalami kelumpuhan"

"Louis tidak tau hal demikian. Selama ini dia menganggap hal tersebut sebagai kutukan yang terjadi pada dirinya setiap bulan purnama" jelas William membuat atensi Naveen tertuju padanya.

"Apakah tidak ada cara lain yang menekan kekuatan tersebut, tanpa Louis perlu merasakan efek sampingnya?" William menggelengkan sebagai tanggapan.

"Tidak. Lebih tepatnya belum. Selama ini ayah hanya bisa memikirkan cara tersebut. Dan menurutnya, ini hanyalah satu-satunya cara. Karena ayah tidak menemukan cara apapun lagi"

Naveen menghela nafasnya pelan dan kembali menatap Louis. "Tapi bukannya ini aneh kak?"

"Aneh kenapa?"

"Maksudku, kenapa kekuatan Louis tiba-tiba tidak terkontrol hanya saat bulan purnama muncul. Apa pelatihannya selama ini akan sia-sia, kalau Louis tetap bisa menjadi ancaman nantinya?"

William merenung, dia sebenarnya juga memikirkan hal yang sama. William yakin, ada sebab dan akibat dari hal yang terjadi pada Louis. Tapi sampai saat ini, dia bahkan Gerald belum menemukan jawabannya.

"Untuk saat ini, kita hanya perlu berada di sisi Louis, dan membantunya agar tidak hilang kendali" Naveen mengangguk setuju akan hal itu, tapi mau sampai kapan? Louis pasti akan lebih tersiksa lagi nantinya.

.

.

.

.

.

Mata Louis terbuka secara perlahan. Pandangan terlihat memburam. Membuatnya dengan otomatis mengerjapkan matanya, untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.

"Kau sudah bangun rupanya" Louis menatap Naveen sejenak, dan hendak duduk. Tapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikitpun.

Louis menghela nafasnya, ketika menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya.

"Apa kau merasa ada sesuatu yang aneh pada tubuhmu?" Louis berdehem sebagai tanggapan. "Tubuhku mati rasa. Aku tidak bisa menggerakkan apapun, selain mata dan mulutku untuk bicara" Naveen sudah menduga akan terjadi sesuatu pada Louis, tapi dia tidak menyangka akan separah ini.

"Apakah kau bisa membantuku?" Tanya Louis menatap Naveen.

"Tentu saja. Katakan apa yang kau butuhkan. Aku ditugaskan oleh ayah untuk menjagamu. Makanya aku berada di sini" ujar Naveen membuat Louis mengernyit heran, kenapa Naveen tiba-tiba terlihat bersemangat seperti ini.

Apa dia berniat untuk mengejeknya lagi?

"Tidak, bisa tolong panggilkan Xavier. Aku butuh bantuannya"

"Kenapa harus Xavier? Bukannya tadi sudah aku katakan, aku ada di sini untuk membantumu" Naveen terlihat tidak senang saat ini, sehingga membuat Louis semakin keheranan.

"Aku tidak percaya kau bisa membantuku. Nanti kau malah mengacaukannya" Sarkas Louis membuat Naveen membola kaget.

"Aku mau bersih-bersih. Rasanya sangat lengket. Apa kau yakin bisa membersihkanku?" Louis terlebih dahulu bersuara, ketika melihat Naveen hendak berdebat kembali. Dan hal itu berhasil, Naveen tampak diam berpikir, sampai melangkah memanggil Xavier melalui lonceng kecil yang ada di samping tempat tidur Louis.

Setelah Xavier sampai, Naveen dengan cekatan, membantu hal apapun yang dia bisa. Seperti menggendong Louis ke kamar mandi, ataupun menyuapi Louis makan, setelah Louis memakai bajunya. Sehingga membuat Louis terheran sendiri karena tindakan Naveen tersebut.

Dia baru tau, kalau Naveen betah merawat orang sakit seperti ini, mengingat kepribadian pemuda itu.

"Apa kau tidak berlatih?"

"Bagaimana aku bisa berlatih, disaat aku diberikan tugas menjaga mu?" Naveen meletakkan piring yang telah kosong, membuat Xavier dengan cekatan membereskannya.

"Kenapa Kaisar sampai meminta kau menjagaku. Apa aku semalam menyakiti orang lain?" Louis benar-benar merasa aneh, tidak biasanya Kaisar meminta seseorang menjaganya selain Xavier.

"Tidak. Aku menyelamatkanmu, kau tau?" Ujar Naveen dengan senyuman bangga.

"Menyelamatkanku?"

"Tentu saja. Seharusnya kau berterima kasih padaku" Louis menatap Naveen dengan tatapan curiga. Terakhir dia ingat, dia memang bersama Naveen sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.

"Aku tidak percaya. Kau pasti membuat masalah kembali, sehingga membuat Kaisar menghukumku dengan menjaga ku kan. Kau tidak perlu berbohong" Tuding Louis dengan tatapan menyebalkan. Naveen hendak membantah, tapi melihat senyuman Louis membuatnya urung menceritakan hal sebenarnya.

"Terserah kau saja, kalau memang berpikir ke situ. Karena yang penting aku sedang bertugas saat ini"

Senyuman Louis semakin lebar mendengar hal tersebut. Ini kesempatannya untuk mengerjai Naveen, begitulah pikirannya.

"Baiklah. Mohon bantuannya ya pelayanku" Louis tersenyum penuh arti, membuat Perasaan Naveen tidak tenang karena hal tersebut. Dia yakin, Louis sedang merencanakan sesuatu padanya.

Dan ternyata kekhawatirannya benar-benar terjadi, selama 3 hari Louis tidak bergerak dari tempat tidur, Louis selalu mengerjai Naveen dengan berbagai cara sehingga membuat Naveen kewalahan sendiri.

Tapi tetap saja pada akhirnya, Naveen tak bisa merasa marah. Perasaannya malah terasa begitu senang dan lega, karena bisa selalu ada membantu saudaranya itu.




Tebece

Continue Reading

You'll Also Like

225K 19.4K 74
Azhar arsy melano, harus mengalami hal tidak diduga dalam hidupnya, ia terbangun pada 20 tahun di masa depan dengan kehidupan yang berbeda dari kehid...
910K 75.8K 44
Padahal Erland ingat betul kalau beberapa hari ini, merupakan hari yang paling membahagiakan untukny Mendapatkan banyak uang dari pekerjaan yang seda...
393K 21.5K 27
seorang pemuda laki² yang kejam Dan dingin, ia juga di juluki sebagai jenius gila bertransmigrasi ke tubuh bocah bodoh dan di anggap tak berguna apa...
13.5K 1.2K 16
.. Vano Aldridge putra sulung keluarga Aldridge yg mati tertembak karena diserang pembunuh bayaran musuh nya di perusahaanya sendiri tiba tiba sebuah...
Wattpad App - Unlock exclusive features