You won’t find faith or hope down the telescope
You won’t find heart and soul in the stars
You can break anything down to chemicals
But you can’t explain the love like ours
(Science & Faith-The Script)
Entah butir keberapa obat tidur yang Jaffan telan saat ini. Sejak satu minggu lalu, dia tak bisa tidur dengan teratur. Pemuda itu hanya bisa tidur satu jam perhari. Dia tentu merasa lelah, tetapi setiap kali ia terbaring, matanya justru tak mau tertutup. Alih-alih rasa kantuk, yang datang justru suara ledakan dalam kepalanya. Terkadang, ledakan dalam kepalanya mengundang darah segar keluar dari kedua hidungnya. Dia benar-benar butuh tidur dengan tenang demi kesehatan tubuhnya.
Jaffan mencoba berbaring menatap langit-langit kamarnya sambil menyumpal kedua telinga dengan earphone. Tak lama kemudian, denting piano hasil karya Harsa yang merdu terdengar. Jaffan menutup kedua matanya saat sebuah bunyi notifikasi memasuki ponselnya.
Jaffan kembali membuka kedua netranya dan membaca pesan gambar berikut caption yang baru saja masuk.
Ardhan: Langitnya bagus, ya?
Ardhan: Gue lagi ngelukis deket sekolahan nih.
Terlepas dari takdir yang Tuhan berikan padanya, Jaffan selalu bersyukur Dia selalu tahu bagaimana cara menghiburnya. Jaffan tersenyum sesaat setelah membaca pesan itu. Pemuda itu bangkit, meraih jaketnya dan melangkah ke tempat di mana Ardhan berada. Meskipun dia butuh waktu tidur, tetapi dia tak ingin menghabiskan waktunya di dalam kamar dan matanya tak kunjung tertutup, sedang di luar sana langit sedang bagus.
Di taman, Ardhan duduk di rerumputan bersama tablet di pangkuannya. Jaffan mendekat dan duduk di sampingnya. Pemuda itu merogoh sebuah minuman kaleng rasa apel yang sempat dia beli di mini market dan menyodorkannya di antara Ardhan dan tabletnya.
Ardhan tersenyum dan segera menyimpan tablet itu ke samping tubuhnya sebelum menerima minuman kaleng dari Jaffan. “Thank you.”
Jaffan mengendihkan bahunya acuh tak acuh sebagai respon sebelum membuka minuman kaleng miliknya dan meneguk minuman itu. Kepala Jaffan menengadah ke arah langit berbintang itu, membayangkan dua sahabatnya ada di antara bintang-bintang yang bersinar paling terang. Angin sejuk menyapu kulit pemuda itu lembut, berhasil membuat perasaan kalut Jaffan akan sindromnya menghilang dalam sekejap.
“Bener, kan, langitnya bagus malam ini? Dan menurut gue, langit malam ini sangat istimewa karena jarang-jarang langit berbintang tanpa kehalang sekabut awanpun di musim penghujan ini." Ardhan membeo, ikut menatap kerlap-kerlip kecil di atas sana.
Jaffan mengangguk kecil. “Iya. Kayak hadiah gratis di tengah mahalnya harga barang. Cuma perlu nunggu malam yang pas."
Ardhan terkekeh mendengar perumpamaan yang dilontarkan Jaffan. “Kayak hobi belanja aja lo!” Ardhan menoleh ke arah Jaffan. “Ngomong-ngomong, udah seminggu kita gak ketemu langsung gini. Kayaknya lo lagi sibuk-sibuknya ngadepin ujian akhir ya?"
Jaffan mendesah. “Iya, ujian akhir berhasil bikin gue nervous. Apalagi mata pelajaran Matematika dan Fisika."
Ardhan menepuk punggung sahabatnya. “Tapi gue yakin lo pasti bisa."
“Kalau aja Harsa sama Gara masih ada … mungkin gue gak akan sestres sekarang," lirih Jaffan. “Tapi nyatanya mereka udah gak ada, dan gue harus berjuang sendirian ngadepin ujian akhir ini."
“Kalo lo butuh bantuan gue buat belajar Matematika sama Fisika, kasih tahu gue. Jangan terlalu dibawa stress sendiri, oke?"
“Makasih tawarannya, tapi lo kan juga lagi fokus berobat dan terapi, gue gak mungkin ngerecokin lo."
“Coba tebak," kata Ardhan tiba-tiba, membuat Jaffan tergelak sesaat.
“Apa?"
Perlahan Ardhan memamerkan senyum terbaiknya, ia mengacungkan kedua lengannya di hadapan Jaffan. “Kanker gue seratus persen udah sembuh. Gue sembuh, Fan!" katanya. ia kembali menatap langit hitam bertabur bintang. “Kemarin gue check-up, dan dokter bilang gue udah bebas dari kanker."
“Lo tahu, Fan? Setiap gue kemo, gue selalu berdo’a supaya perjuangan gue menahan sakit, mual, dan pusing gak sia-sia. Di waktu itu, gue selalu ingat bunda, ayah, lo, Harsa, Gara, dan orang-orang yang gue sayang lainnya. Gue gak pernah lupa berdo’a agar cepat sembut supaya bisa hidup bareng kalian dalam waktu yang lama, ya meskipun sekarang gue tahu harapan gue gak akan sepenuhnya terwujud. Dan kemarin ketika gue dinyatakan sembuh, gue nangis lega. Karena itu artinya gak akan ada yang pergi lagi. Gak akan ada yang sakit lagi. Dan kita bisa menghabiskan waktu kita dalam jangka yang lama, bikin mimpi-mimpi dan berjuang buat ngeraih semua itu, Ardhan bercerita. “Jujur aja, semua ini terasa kayak mimpi. Lalu gue mikir, mungkin di atas sana Harsa dan Gara ikut membujuk Tuhan mengabulkan do’a gue. Kalau itu benar, gue sangat-sangat bersyukur."
“Dan mungkin … malam yang indah ini adalah cara Harsa dan Gara menyampaikan kebahagiaan mereka," kedua pupil Ardhan bergetar memandang dua bintang paling terang berkelip seolah itu respon kedua sahabatnya atas apa yang ia ucapkan barusan.
Di samping Ardhan dengan mata berbinar penuh kebahagiaan, kedua netra Jaffan menunjukkan emosi yang berbeda. Bukannya ia tak senang dengan fakta bahwa Ardhan telah sembuh, tapi dia takut apa yang diharapkan Ardhan takkan pernah terwujud bersamanya. Ia takut jika justru dia yang akan pergi sebab tanpa Ardhan tahu kondisi kesehatan Jaffan semakin memburuk dalam seminggu ini.
Awalnya Jaffan ingin membicarakan ini dengan Ardhan, tetapi waktu tak pernah berpihak padanya. Dan tadinya Jaffan pikir hari ini adalah hari yang tepat untuk memberitahunya, tetapi mendengar perkataan Ardhan tentang kondisinya yang pulih dengan nada bahagia membuat Jaffan tak tega merusak kebahagiaan sahabatnya itu. Jaffan pikir, mungkin saat ini bukanlah waktu yang tepat.
“I finally can live a little longer. Gue gak akan mengeluh lagi karena gak bisa keluar rumah sebebas orang lain, tapi setidaknya gue sembuh dan terbebas dari penyakit yang kemungkinan besar membawa gue ke kematian lebih cepat."
Ucapan Ardhan membuatnya tertampar kembali ke bumi. Jaffan berkedip beberapa kali sebelum memaksakan sebuah senyum. “Wah … itu … bagus. Gue ikut senang atas kesembuhan lo. Selamat, Ar, perjuangan lo gak sia-sia."
Senyum Ardhan semakin lebar. Ia menunjuk ke atas. “Lo liat dua bintang yang berdekatan di sana berkedip? Apa mungkin itu Gara sama Harsa, ya, Fan?"
Jaffan ikut mendongak ke langit—ke arah dua bintang paling terang yang berdekatan.
“Mungkin iya."
“Lo inget gak pernah bilang kalo lo pernah percaya kalo orang meninggal tuh jadi bintang hanya gara-gara ucapan kakek lo?” Ardhan terkekeh. “Itu konyol, sih, tapi di satu sisi gue juga berharap kalo apa yang kakek lo bilang itu bener, bahwa orang yang meninggal tuh bakal jadi bintang. Bisa lo bayangin betapa leganya orang yang ditinggal pergi ketika lihat bintang karena tahu bintang-bintang itu adalah mereka yang telah pergi? Bisa lo bayangin perasaan rindu mereka terbayarkan?"
Jaffan memilih tak merespon ucapan Ardhan. Ia mulai membatin. “Ga, Sa, kalo bintang-bintang itu beneran kalian, tolong minta Tuhan buat gak jemput gue dulu. Ardhan masih butuh teman di sini. Gue janji, setelah Ardhan gak terlalu kesepian, gue akan dengan pasrah kalian jemput."
Tanpa Jaffan sadari, air matanya meluruh di atas pipi.
Ardhan menoleh dan menemukan segaris air mata di pipi sahabatnya. Meskipun keadaan di sana cukup gelap, tetapi lampu taman berhasil memantulkan cahaya lewat pipi Jaffan yang basah. Ardhan mengernyit, “Fan, lo kenapa nangis?"
“Hah?" Jaffan segera menyapu pipinya, lalu tersenyum kecil. “Enggak. Gue … Cuma kangen mereka berdua."
Ardhan terdiam. Dia mengerti apa yang di rasakan Jaffan, mengusap punggung sahabatnya lembut. “I miss them, too."
Tiba-tiba kepala Jaffan berdenging. Jaffan meringis dan dengan cepat menutup kedua telinganya. Di sampingnya Ardhan membelalakan mata.
“Jaffan, lo okay?"
“Suara itu…," lirih Jaffan. “Berisik."
Ardhan merogoh ransel miliknya. Ia bersyukur bisa menemukan earphone di sana. Segera saja ia menyambungkannya ke ponsel Jaffan dan memutar rekaman piano Harsa. Tak lupa ia memasangkan earphone ke telinga Jaffan dan membiarkan musik itu menghancurkan bunyi berisik dalam kepala Jaffan.
“Liat gue," titah Ardhan memiringkan badan Jaffan.
Meskipun sedikit kesulitan membuka matanya, Jaffan memaksakan diri untuk melihat ke arah sahabatnya. Ia tak bisa medengar suara Ardhan dengan jelas tetapi melihat gerak tangan Ardhan ia mengerti bahwa pemuda di depannya mengajaknya berhitung bersama.
“Satu … Dua … Tiga … Empat … Lima …," hitung Jaffan dalam hati.
Perlahan suara ledakan dalam kepalanya memudar. Saraf-sarafnya juga kembali rileks. Jaffan bisa kembali duduk tegak dan segera menghapus darah yang mengucur dari hidungnya.
Ardhan menghela napas lega melihat Jaffan yang perlahan membaik. Ia segera memberikan minuman kaleng untuk diminum sahabatnya itu.
“Thanks," ujar Jaffan.
“Lo gak apa-apa? Apa perlu lo gue anter pulang aja sekarang?"
Jaffan menggeleng pelan. “Gue gak apa-apa. Mungkin karena gue terlalu emosional mikirin Gara sama Harsa, makanya mengundang suara-suara itu buat datang."
“Jangan terlalu dipikirin, Fan. Kangen boleh, tapi jangan sampai lo kepikiran terus sampai mengabaikan kesehatan lo. You are more matter."
Jaffan menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Ia mulai membatin. “Ar, maafin gue, ya."
***
Makin ke sini makin tercabik-cabik. Persiapin aja mental kalian buat chapter yang selanjutnya ya mungkin tersisa 2 atau 3 chapter lagi. See you in the next chapter 😊
-Ranti & Friya -