-
(part terakhir ini isinya timeline sebelum baby chloe lahir, author udah lama pengen ngelanjutin, tapi mood nulisnya baru ada sekarang, telat banget emang, im so sorry :(( but still, i hope u guys enjoy this part, thankyou for waiting <3)
-
Jung Jaehyun, pria itu berjalan dengan perlahan, menuju pintu kamar yang sudah terlihat sedikit terbuka.
Melangkah masuk, lampu kamar yang menyala, menandakan memang ada orang di kamar itu, tentu saja.
Wanita yang sempat meneleponnya dua jam yang lalu, menanyakan apakah dirinya sudah makan malam.
Kemudian langsung menutup telepon tanpa berkata sepatah kata pun setelah diberikan jawaban bahwa dirinya sudah makan malam dengan beberapa rekan bisnis.
Cassandra, wanita itu, tampak telah tertidur lelap.
Jaehyun melirik jam tangan yang baru saja dilepasnya.
Kebiasaan tidur baru? Beberapa hari belakangan, Casey selalu tidur lebih dulu.
Cukup jauh lebih awal dari jam tidurnya yang biasa.
Jaehyun, membiarkan saja tanpa sempat menanyakan.
Karena kesibukan pekerjaan yang gilanya minta ampun, membuatnya baru menyadari sekarang.
Kapan terakhir ia menanyakan hal-hal seperti, bagaimana harimu? Apa saja yang kau lakukan hari ini? Apakah ada masalah?
Sangat sulit untuk mendapatkan jeda waktu untuk berinteraksi dengan intens.
Bahkan sudah beberapa kali akhir pekan berlalu, sama saja.
Terkadang, Casey lebih banyak menghabiskan waktu akhir pekannya di bakery.
Alasannya, terkadang ia ingin membiarkan Jaehyun beristirahat di rumah, tahu bagaimana sulitnya sang suami dalam mendapatkan waktu tidur yang cukup, hanya waktu di akhir pekan yang akan membantu.
Kembali pada saat ini.
Jaehyun menghampiri Casey, sudah lama sekali, tidak memandangi wajah cantik dengan pahatan sempurna itu.
Cantik sekali.
Lelaki itu menyesal, kesadaran yang datang sangat terlambat.
Cukup dengan memandang seperti ini saja, rasanya semua rasa lelahnya menghilang.
Tidak berlebihan, itulah kenyataannya.
"Heung..."
Suara samar terdengar, membuat Jaehyun tersenyum.
"Apa kau sedang bermimpi?"
"Siapa yang ada di dalam mimpimu?"
Jika itu orang lain, Jaehyun tidak akan bisa menerimanya.
Karena suara yang ditimbulkannya, kini Casey menggeliat pelan.
Lalu, kedua mata itu terbuka.
"Kau terganggu karena suaraku?"
"Jae- ugh.." Casey meringis, memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
Hal itu membuat Jaehyun yang melihatnya menjadi sedikit panik.
"Kau baik-baik saja? Cassandra, kau sakit?"
Casey menggeleng, "Hanya pusing biasa, belakangan aku sering mengalaminya,"
"Kenapa tidak memberitahuku?"
Raut wajah penuh kekhawatiran itu membuatnya tersenyum.
"Kau sudah makan malam?"
Jaehyun menatap Casey, sedikit kebingungan. "Dua jam yang lalu kau meneleponku, menanyakan hal yang sama,"
"Benarkah?"
Respon Casey yang seperti itu, membuat Jaehyun menjadi semakin kebingungan.
"Ah, benar, aku lupa,"
Casey benar-benar lupa, wanita itu tidak bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
Sebenarnya, Casey sendiri menyadari ada yang aneh dengan dirinya.
Seperti ia sering pusing, kemudian menjadi linglung.
"Kau bertanya, lalu aku menjawab bahwa aku sudah makan bersama klien, kau langsung menutup panggilan tanpa mengatakan apapun. Apa kau marah?"
Casey mengerutkan dahinya.
"Aku melakukan itu? Langsung menutup panggilan? Itu tidak sopan,"
"Aku sebenarnya tidak begitu ingat apa saja yang aku lakukan sebelum tertidur,"
Jaehyun menyadari keanehan.
"Ada yang salah dengan dirimu,"
"Apa sedang ada masalah? Di bakery, atau-"
Casey menggeleng, "Tidak ada, aku baik-baik saja, hanya terkadang..."
Wanita itu menggantungkan ucapannya, malu untuk mengatakan.
"Terkadang apa?"
Casey tersipu, "Tidak, tidak jadi, lupakan saja."
Jaehyun sedikit memanyunkan bibirnya, kecewa.
"Aku sudah berharap kau akan mengatakan jika kau merindukanku,"
Casey tidak bisa menahan senyum malunya.
Berusaha menutupi wajahnya sendiri dengan bantal, tapi tidak berhasil, karena Jaehyun merebut bantal itu.
"Cukup, Jae. Karena kau sudah tahu, jadi tolong jangan menggodaku,"
"Oh, padahal aku sudah berencana ingin menggodamu sepanjang malam,"
Casey mengulurkan tangannya, melepaskan simpul dasi suaminya itu.
"Kalau begitu... aku sangat menantikannya,"
Ini gila.
Jaehyun dibuat gila karenanya.
Sisi tersembunyi yang begitu mengejutkan.
"Kau harus menunggu sedikit lagi,"
"Aku perlu membersihkan diri sebentar,"
Casey mengangguk, masih dengan wajahnya yang memerah.
Jantung yang berdebar cepat tak karuan.
Perasaan aneh yang meluap, tetapi menyenangkan.
Tidak segera menjauh, Jaehyun meraih Casey.
"Tapi sebelum itu, bolehkah jika aku ingin mendapatkan hidangan pembukaku terlebih dahulu?"
"Tentu,"
Persetujuan yang membuat lelaki itu mulai kehilangan kendali atas dirinya.
Pujaan beserta kalimat penuh kerinduan diucapkannya disela ciuman beruntun.
Begitu memabukkan, hingga pembahasan mengenai keanehan Casey yang tidak tersadari itu, terlupakan sepenuhnya.
...
"Bagaimana varian kukis baru kami?" Casey bertanya kepada dua orang kakak beradik yang hari ini, dengan sendirinya datang dan mengajukan diri sebagai komentator.
"Eonni, apakah aku boleh meminta sedikit bocoran resep? Bagaimana bisa selembut ini, sih? Ini enak sekali!!" si adik, Minseo, sudah menghabiskan satu kukis hanya dengan satu kali gigitan. "Aku mencoba membuat sendiri di rumah, selalu gagal, selalu keras,"
Mingyu hanya tersenyum mengejek mendengar ocehan Minseo.
"Itu tergantung siapa yang membuat, kalau yang membuat kukisnya orang semacam kau, ya... akan tetap seperti itu, kukis batu, HAHAHA,"
"Orang yang membuat kukis gosong sepertimu tidak berhak mengomentariku," balas Minseo dengan sengit, kemudian menatap Casey.
"Eonni, kau tahu tidak? Orang ini akhir pekan kemarin datang ke apartemen dan meminjam ovenku, bersikeras ingin membuat Airi yang baru datang, terkesan dengan memamerkan kemampuannya,"
"Aku sudah bilang beli disini saja, tapi dia bebal, akhirnya apa? Dia salah menyetel suhu dan waktu, kukisnya gosong, dan ovenku hampir rusak,"
"Haish! Sudah kubilang jangan bocorkan itu pada Casey, dasar kau-"
"Apa? Mau apa?! Sekalian saja kubocorkan pada Airi!"
"Hei! Jangan lakukan itu jika kau tetap ingin punya kakak ipar secepatnya!"
Casey tidak bisa menahan tawanya mendengar keributan dua kakak beradik Kim ini.
Menatap Mingyu dengan sorot mata penuh arti, "Sudah sejauh mana?"
"A-apanya?"
"Airi-ssi?"
Mingyu terlihat kelabakan, untuk menutupinya, Mingyu mengambil dua buah kukis dan langsung memakan keduanya dalam sekali lahap.
"Kau akan mati konyol karena tersedak kukis, oppa,"
"Imej sok keren yang kau susah payah bangun selama ini akan sirna,"
"Mereka sudah sejauh... Apanya yang jauh, dia saja bahkan tidak berani menyatakan perasaannya, eonni."
Mingyu yang sibuk mengunyah, tidak bisa mengeluarkan suara protes, menutup mulut adiknya itu dengan tangan.
Casey ingin kembali tertawa, tetapi dalam sekejap, ia kembali merasa aneh.
Rasa tak nyaman yang begitu mengganggu.
Kemudian, pusing yang mendadak itu kembali datang.
Casey meringis pelan, membuat Mingyu dan juga Minseo menyadari.
"Casey, ada apa?!" Mingyu bertanya dengan panik, sembari memegangi Casey yang seperti ingin terjatuh.
"Eo-eonni, kau pucat! Kenapa sangat tiba-tiba?! Eonni!"
"A-aku... tidak tahu, kepala dan perutku.. sangat sakit.." Casey melirih, keringat dingin mulai menyelimuti.
Semuanya terlihat seperti berputar.
"Minseo, ambil kunci mobil di saku jaketku! Kita akan ke rumah sakit,"
"Baik, oppa!"
...
Rumah sakit.
Seorang lelaki berlari dengan nafas terengah, ia bahkan tidak memarkirkan mobilnya di tempat yang benar, karena tak sanggup menahan rasa cemas selagi menunggu kemacetan.
Hampir kehilangan kewarasan ketika mendapat kabar yang begitu mengejutkannya.
Perasaan sesak tak tertahankan.
Semua jenis perasaan ketakutan terkumpul menjadi satu.
Riuh rumah sakit, terdengat sangat mengerikan.
Jung Jaehyun, lelaki itu tidak bisa berpikir jernih sekarang.
Ia sangat membenci tempat ini.
Jangan.
Apapun itu.
Jangan.
Tidak boleh terjadi.
Cassandra.
Tidak lagi.
Kumohon.
Ketakutan di masa lalu yang sempat menghancurkan hidupnya.
Kenapa dirinya selalu menjadi orang terakhir yang mengetahui?
Kabar yang selalu datang dari orang lain.
Seorang perawat mengarahkannya ke tempat yang ingin dituju olehnya.
Kedua matanya tertuju pada Mingyu yang duduk dikursi tunggu bersama Minseo.
Ia tidak peduli.
"Jaehyun!" Mingyu menahan Jaehyun yang seperti orang kehilangan kewarasan, ingin menerobos ruangan.
"Cassandra! Istriku!" Jaehyun mengucapkan nama Casey berkali-kali.
"Dia akan baik-baik saja, tenangkan dirimu!"
Mingyu tidak bisa begitu banyak berkata-kata melihat Jaehyun yang seperti ini.
Sangat mengerti, mengenai apa saja yang telah dihadapinya.
"Eonni akan baik-baik saja, oppa. Dokter sedang memeriksanya, dia masih dalam keadaan sadar saat kami bawa kemari, hanya saja kondisinya sangat lemah," Minseo ikut menjelaskan, sekiranya sedikit saja, bisa menangkan Jaehyun.
Jaehyun ikut duduk, mengontrol nafasnya, pandangannya tetap terarah lurus pada pintu ruangan yang tertutup rapat.
Dengan mata berkaca-kaca, wajah memerah sarat akan emosi tertahan.
Kenapa lama sekali?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Suami macam apa dirinya?
Jaehyun sepenuhnya menyalahkan dirinya sendiri.
"Tenanglah," Mingyu kembali berucap.
Jaehyun menggeleng, "Aku tidak akan bisa tenang. Cassandra, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku-" suaranya tercekat, tak sanggup melanjutkan.
Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Di tengah semua perasaan buruk, ketakutan dan kekhawatiran.
Pintu ruangan terbuka.
Jaehyun bangkit, berjalan menghampiri.
Raut wajah dokter yang baru saja keluar itu sangat menakutinya.
"Apa.. yang terjadi?"
"Anda tuan Jung?" Dokter itu bertanya.
Jaehyun mengangguk, "Ya, suaminya,"
"Apakah anda mengetahui jika istri anda tengah mengandung?"
Seperti disambar petir, pertanyaan dokter itu membuatnya mematung.
Menghela nafas, dokter itu mulai melanjutkan penjelasannya.
"Sepertinya tidak ada yang mengetahui baik itu dirinya sendiri, sebenarnya itu sangat berbahaya jika terlambat sedikit saja, istri anda hampir kehilangan kesadaran, kondisinya sangat lemah, saya yakin ini bukan pertama kalinya ia mengalami hal ini,"
"Tapi tidak perlu terlalu khawatir, baik istri anda dan kandungannya, semuanya baik-baik saja, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut nantinya,"
Dokter itu mempersilahkannya untuk masuk.
"Oppa, apa kita juga boleh masuk?"
Minseo menepuk lengan Mingyu, lelaki itu nampak tertegun.
"Oppa!"
"Oh? A-ah, nanti saja, tunggu sebentar, biarkan Jaehyun lebih dulu,"
Mingyu kembali duduk, diikuti Minseo.
Minseo terus memperhatikan kakaknya itu.
"Sedikit lagi air matamu jatuh,"
Mingyu menyapu matanya, "Aku sangat terkejut, dan sama sekali tidak menyangka, jika itulah penyebabnya,"
Minseo tersenyum, sebenarnya air matanya sendiri juga sama, bahkan sudah turun lebih dulu.
"Aku juga, dan Casey eonni juga pasti sangat terkejut saat mengetahuinya,"
"Yah, Casey akan jadi seorang ibu, hebat sekali, astaga, air mataku," Mingyu melirik adiknya, "Ada tisu, tidak?"
...
Casey menyambut kedatangan Jaehyun dengan senyuman penuh rasa haru.
Mengulurkan tangannya, Jaehyun menyambut dengan gemetar, kemudian menggenggam kuat.
Senyum di wajah cantik yang pucat itu memberikan sedikit ruang ketenangan di hatinya.
"Jaehyun, kau menangis?" Casey mengelus lembut pipi suaminya itu. "Aku baik-baik saja, semuanya baik-baik saja," ucapnya menenangkan.
Di sela pemeriksaan, Casey terus berdoa dan berharap kabar tentang dirinya tidak terlalu mengacaukan lelaki itu.
Ia memahami betul bagaimana Jaehyun akan sangat kacau dan ketakutan jika mendengar kondisinya.
Benar saja, di hadapannya sekarang.
Jaehyun terisak, sembari terus memberikan kecupan lembut di tangannya.
"Aku sangat ketakutan, Cassandra,"
"Sangat takut,"
"Maafkan aku, aku yang terburuk,"
Casey menggeleng mendengarnya, Jaehyun yang seperti ini, sungguh ia tidak ingin.
"Tidak, sama sekali tidak, tidak ada yang perlu kau takutkan dan kau, dirimu tidak seperti itu,"
"Tidak ada yang terburuk, jika kau merasa seperti itu, maka artinya aku juga sama, aku hampir membahayakan diriku sendiri dan juga..." Casey ikut menangis, "Dan juga bayi kita,"
"Aku selalu meanggap keanehan yang datang kepadaku itu adalah hal yang tidak begitu perlu dipikirkan, aku sebodoh itu, aku... juga sangat takut,"
"Bagaimana bisa aku tidak menyadari jika aku mengandung,"
Keduanya berpelukan, berbagi perasaan bersalah, namun juga berusaha saling menenangkan.
Semua perasaan buruk itu perlahan menghilang digantikan dengan perasaan haru penuh kebahagiaan.
Membayangkan kedatangan baru yang akan mereka tunggu.
Pelengkap kehidupan bersama yang akan terus berjalan selamanya.
"Cassandra, aku mencintaimu, aku mencintai kalian, sangat,"
End.