.
.
.
.
.
01
"Dalam diamnya, ada nyanyian yang tak butuh suara untuk didengar. Matanya berbicara lebih lantang dari ribuan kata, dan aku jatuh hati pada ketenangan yang ia bawa dalam setiap senyapnya."
Ribuan sajak telah ku tulis dalam setiap halaman pada buku diary ku. Hampir di semua halaman, terselip namanya diantara kata lainnya. Meski begitu, ia takkan pernah memahami tulisan ku.
"Senyummu indah, tapi- apa ada hal lain yang bisa kau lakukan selain tersenyum? Kau bisa ucapkan satu atau dua patah kata padaku agar aku bisa memahami mu."
Aku selalu menganggap, bahwa diriku tidak pernah lebih dari orang lain, selalu merasa kurang, dan tak pernah merasa cukup. Tapi itu dulu. Sebelum aku mengenalnya...
Namaku Esha, Esha Narendra. Dan aku hanyalah seorang anak remaja biasa pada umumnya.
Kini, aku sedang duduk dipinggir lapangan basket, suara decit sepatu terdengar sangat jelas ditelinga ku, juga bola basket yang memantul dan melambung kesana-kemari.
Aku menenggak habis air yang ada di botol minum ku. Setelahnya, aku beranjak dan mengambil tasku yang berada tidak jauh dari tempat ku semula.
Saat hendak keluar dari lapangan, aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan cukup keras, aku pun membalikkan badan dan mencari seseorang yang memanggilku tadi.
"Esha!"
Itu adalah Oline. Anggota tim basket ku, yang juga adalah sahabatku.
Ia berlari menghampiri ku sambil membawa sebuah jaket, jaket kulit berwarna hitam yang sering ku pakai kemanapun aku pergi.
"Jaket kamu ketinggalan Esha."
"Terimakasih Line."
"Sama-sama, kalau gitu aku masuk lagi ya."
"Tunggu." Aku menahan Oline sebelum ia kembali masuk. Sebab, ada sesuatu hal yang ingin ku sampaikan padanya.
"Line, mulai besok—" Aku merasa berat untuk mengucapkan nya padahal itu cukup mudah untuk diucapkan tapi rasanya lidah ku tiba-tiba kelu untuk mengatakannya.
"Iya. Mulai besok kenapa?"
Aku menarik napas perlahan sebelum akhirnya aku benar-benar merasa cukup kuat untuk melanjutkan kalimatku.
"Mulai besok kamu gantiin posisi ku sebagai ketua tim basket putri ya."
"Sha. Kamu serius? Kenapa tiba-tiba gini?"
"Aku rasa cukup, untuk kontribusi ku pada tim ini. Dan aku memutuskan untuk berhenti basket, dan keluar dari tim ini."
"Sha. Kamu ga bener-bener berhenti basket kan? Aku tau kamu jadiin basket bukan hanya sekedar hobby, tapi juga cara kamu buat melampiaskan emosi kamu."
"Aku udah pikirin keputusan ini dengan matang Linea. Aku juga udah bilang ke Pak Bagus tentang keputusan ini."
"Kamu yakin sama keputusan kamu?"
Aku mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang Oline berikan.
"Kalau gitu, hati-hati Sha pulangnya, sampai bertemu disekolah."
Langit sore adalah salah satu keindahan alam yang Tuhan ciptakan untuk dinikmati manusia. Dunia memang terlihat indah, tapi tidak untuk duniaku yang segalanya terasa tidak begitu adil. Aku menatap dunia luar dari samping kiri kaca jendela mobil, ada kendaraan lain yang juga melintas dan menyalip mobilku. Tetapi sesaat fokus ku terhenti ketika mobil yang dikemudikan supir keluargaku membunyikan klakson dan rem mendadak, padahal sudah berada di komplek rumah dan jarak rumah sebentar lagi sampai.
"Maaf non, didepan ada orang yang nyebrang sembarangan, saya turun dulu ya mau ngecek keadaan nya."
"Gausah pak, biar saya aja yang turun."
"Jangan non, saya aja."
"Udah pak. Bapak di mobil aja."
Aku pun membuka knop mobil, dan keluar dari mobil, aku berjalan ke depan mobil dan menghampiri orang yang dimaksud supir pribadi ku.
"Permisi, kamu ga kenapa-kenapa?"
"Atau ada yang luka? Biar saya antar ke rumah sakit."
"Kamu bisa denger omongan saya kan?"
Aku terheran dan bingung akan situasi ini. Aku tidak tau harus melakukan apa jika orang didepan ku tidak menjawab pertanyaanku, bahkan mengeluarkan satu patah katapun tidak. Ia hanya menatap ku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Senyummu indah, tapi— apa ada hal lain yang bisa kau lakukan selain tersenyum? Kau bisa ucapkan satu atau dua patah kata padaku agar aku bisa memahami mu." Kali ini keningnya mengkerut, aku bisa memahami bahwa Ia seperti kebingungan.
Aku pun mengeluarkan ponselku, dan mengarahkannya pada orang dihadapan ku.
"Oke, kalau gitu kamu ketik nomor kamu biar kalau ada sesuatu tinggal hubungi saya."
Lagi, tanpa menjawab ia langsung mengambil ponselku dan mengetik nomor nya. Ia membuka room chat dan mengetikkan sesuatu disana. Setelah itu ia mengembalikan ponselku kembali.
Maaf, kalau tadi aku menyebrangi jalan sembarangan. Dan tidak mendengar suara klakson mobilmu.
Sebab aku tidak bisa mendengarnya Karena tidak memakai alat bantu dengarku.
Aku tuli.
Aku tertegun membacanya dan merasa bersalah. Aku menatap nya kembali, Ia membungkuk seolah meminta maaf padaku tetapi aku menghentikan nya.
"Kamu tidak bisa mendengar?" Aku mengatakan itu sambil mempraktekkan gerakan isyarat sebisaku. Ia yang sepertinya paham maksud ku tersenyum sambil mengangguk.
Merasa sangat sulit berkomunikasi dengan cara seperti itu aku mengetikkan sesuatu di ponselku dan memberikan padanya.
Aku juga minta maaf, aku jadi tidak enak padamu.
Kalau boleh tau mengapa kamu sendiri? Maaf, padahal kamu dalam kondisi seperti ini.
Dimana keluargamu?
Aku baru saja pindah. Dan keluargaku sedang membereskan barang-barang, aku hanya ingin berjalan-jalan disekitar sini. Tapi aku tidak memperhatikan jalan saat menyebrang. Dan lupa memakai alat bantu dengarku.
Kau baru pindah? Rumahku tidak begitu jauh dari sini. Mungkin kita bisa bertemu kembali.
Ayo kita bertemu kembali, dan bermain bersama. Kamu terlihat seperti orang baik. Tapi untuk saat ini sepertinya aku harus pulang. Mami pasti sudah menungguku.
Ia pun memberikan ponsel ku. Aku sedikit terkejut membaca bagian kamu terlihat seperti orang baik. Ia tersenyum, dan hendak pergi meninggalkan, namun aku teringat satu hal yang harus ku tanyakan padanya. Aku menghentikan langkah nya dan aku kembali membuka room chat sambil mengetikan pertanyaan yang ingin kutanyakan.
Namaku Esha. Siapa namamu?
.
.
.
.
.
Sebelumnya cerita ini pernah aku up, tetapi aku unpub karena ada beberapa hal yang harus ku revisi. Jadi, aku harap bagi kalian yang pernah membaca bab ini sebelumnya semoga kalian tidak terganggu.
Terimakasih sudah membaca. Love you guys!