Raline membawa sepiring kukis yang semula tersaji di ruang tamu. Papanya baru saja pergi setelah membicarakan beberapa hal dengannya. Bohong kalau ia merasa baik-baik saja. Butuh banyak keberanian untuk bisa menghadapi papanya seperti tadi, dan sialnya perasaan Raline selalu berakhir berantakan. Namun semenyakitkan apa pun, ia tak akan menunjukkan kesedihan itu di depan anak-anaknya.
Raline meletakkan kukis buatan Nizar di meja makan. Ia duduk di salah satu kursi, lantas mengambil satu buah kukis untuk ia coba. Senyum wanita itu seketika terbit, seolah kukis buatan Nizar adalah penyembuh kesedihannya. Sungguh disesalkan sebab kue itu sedari tadi hanya menjadi saksi bisu perdebatannya dengan sang papa.
"Bunda ...."
Raline menoleh kala mendengar suara Nizar. Ia membalas senyum yang anak itu tunjukkan, lantas memintanya mendekat. "Enak banget ini, Bang. Opa pasti nyesel karena nggak mau coba," ucapnya selagi menikmati kukis di tangannya.
Nizar duduk di sebelah sang bunda, memandang wanita itu dengan senyum senang. Ia selalu suka jika Raline menikmati dan memuji makanan buatannya. Tapi di samping semua itu, Nizar juga cukup terusik dengan sudut mata bundanya yang sedikit basah dan sembab. Pasti wanita itu baru saja menangis.
"Bunda ... maaf ya ...."
Raline terdiam, tak paham dengan Nizar yang tiba-tiba meminta maaf. Ia meletakkan sisa kukis ke piring, fokus untuk berbicara dengan putranya. "Kenapa, hm? Kok tiba-tiba minta maaf? Kukisnya beneran enak, kenapa Abang minta maaf?" Raline mencoba santai, meski tahu betul jika arah pembicaraan Nizar bukan pada kukis buatannya.
"Tadi ... Opa bicarain soal Abang, ya? Maaf, Bun, tadi pas awal-awal Abang sempat nguping dikit."
Jantung Raline terasa berdesir usai Nizar menyampaikan keluhannya. Kini ia takut jika Nizar mendengar semua pembicaraan antara ia dan papanya. Sebab, ada beberapa hal yang tadi memang tidak boleh Nizar dengar. "Abang tadi denger obrolan kita sampai mana? Semuanya?"
Nizar menggeleng. "Enggak kok, cuma sekilas aja di awal. Abang denger kalau Opa nggak suka Bunda lebih mentingin tentang Abang. Maaf ya, Bunda jadi jauhan sama Opa cuma buat belain Abang."
Raline menggeleng, tak ingin Nizar beranggapan seperti itu. "Abang, sayang, itu bukan salah Abang. Apa pun yang tadi Abang denger, nggak usah dimasukin ke hati ya? Abang nggak salah apa-apa, Abang jangan sedih ya?"
Nizar tersenyum, lantas memberi anggukan. "Abang sama sekali nggak sedih, kok, Bun. Justru Abang khawatir sama Bunda, pasti perasaannya Bunda lagi kacau banget."
"Bunda nggak papa, sayang. Habis makan kukis buatan Abang langsung berbunga-bunga hati Bunda," canda Raline seraya mengambil sisa kukis yang sempat ia makan. "Pasti ada resep rahasianya, ya?"
Nizar tertawa kecil. "Jelas dong, itu bikinnya pakai cinta yang nggak ada tandingannya. Chef terbaik aja nggak akan bisa ngalahin, Bun."
Raline turut tertawa mendengar ucapan putranya yang berlebihan. "Iya deh, percaya aja mah Bunda."
Asik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu utama. Tak lama setelahnya, Aidan datang dengan tangan yang menenteng beberapa kantung kresek. Anak itu berjalan cepat mendekati bunda dan abangnya yang duduk di ruang makan. Tak lupa pula menyapa mereka dengan suaranya yang lantang.
"Maaf ya, agak telat pulangnya. Tadi mayan macet di jalan."
"Nggak papa, sayang. Bawa apa itu, Adek?" tanya Raline begitu Aidan meletakkan barang bawaannya di meja.
"Pesenannya Bunda, katanya Bunda pengen beli roti bakar sama martabak telor."
Raline seketika mengenyit, ia tak merasa pernah mengatakan itu pada Aidan. "Bunda nggak bilang apa-apa perasaan. Adek ngarang, ya?"
"Ih, serius. Tadi Abang kan nelfon aku, katanya ada titipan dari Bunda."
Nizar yang menjadi tersangka, kini pura-pura tidak mendengar. Ia melempar pandangan ke arah lain asal bukan wajah bunda dan adiknya. Tapi akhirnya, ia tetap tertangkap basah. Kini mereka menatapnya penuh selidik. Akhirnya ia pun harus memberi penjelasan.
"Anu, jadi maksudnya tuh ... Abang pengin beli yang anget-anget, tapi Adek nggak akan beliin kalau bukan Bunda yang minta. Jadinya ya udah, Abang bilang aja disuruh Bunda. Maaf ya," ucap Nizar seraya mengangkat jarinya membentuk huruf V.
"Ish, nyebelin banget. Tau gitu mending tadi beli martabaknya aku terima yang udah jadi, nggak kelamaan nunggu."
"Tuh kan, kalau Abang yang minta tuh kamunya nggak mau ribet."
"Siapa juga yang mau milih hal ribet kalo ada yang lebih simple, Abang???"
"Stt, udah nggak usah ribut, kan udah dibeli juga. Abang juga lain kali jangan usil begitu ke Adek. Dah, sekarang dimakan bareng-bareng aja ayo, ntar keburu dingin lagi," ucap Raline, melerai dua anaknya sebelum berdebat lebih panjang. Ya, meski mereka akur, terkadang memang tetap ada cek-cok kecil semacam ini. Apalagi jika keduanya sedang dalam mode jail. Saat momen itu terjadi, Raline bahkan tak segan untuk mengeluarkan omelan panjang selayaknya ibu-ibu pada umumnya.
Nizar mengiakan ucapan bundanya. Tapi sebelum turut menikmati makanan yang adiknya beli, lelaki itu lebih dulu membuka kolom chat dengan ayahnya. Tangannya mulai mengetikkan pesan untuk sang ayah.
Ayah pulang jam berapa? Tadi Opa ke sini, habis ngobrol sama Bunda. Bunda kelihatan lagi sedih, Yah. Tp klo sama Abang, Bunda bilangnya gak papa terus. Bantuin hibur Bunda ya nanti❤️
***
Tak terasa, libur sekolah hanya tersisa tiga hari lagi. Selama dua minggu ini, Nizar cukup menikmati hari liburnya. Ia mengunjungi tempat-tempat yang direncanakan bersama adik-adiknya, atau menyempatkan quality time bersama keluarga di rumah. Setiap momennya cukup untuk membayar penatnya hari-hari yang ia jalani di sekolah.
Hari ini pun sangat menyenangkan karena Nizar bisa ikut ke Dufan. Sayangnya, tempat itu sangat ramai hingga Nizar tak diizinkan berlama-lama oleh ayah bundanya. Pun ia harus menjaga diri dengan tetap memakai masker dan tidak mendekati kerumunan. Tapi bukan Nizar jika menurut begitu saja. Lelaki itu masih betah berjalan-jalan meski waktu yang ia punya telah habis.
Nizar kini sedang bersama Laksa dan Aidan yang hendak mengantre untuk menaiki wahana. Mereka bertiga memang memisahkan diri karena keinginan mereka memenuhi adrenalin sangat berbeda dengan yang lain. Nizar sebelumnya bersama ayah dan bunda, tapi kemudian ia memilih menghampiri Aidan dan Laksa meski hanya berperan sebagai seksi dokumentasi mereka. Tentu saja Nizar tidak diperbolehkan menaiki wahana-wahana ekstrem, meskipun dirinya juga ingin. Oleh karena itu, ia hanya memasuki beberapa wahana yang aman untuknya.
"Kalian beneran nggak takut?" tanya Nizar seraya memandangi orang-orang yang menjerit-jerit menaiki wahana tornado.
"Takut itu sama Allah," jawab Laksa sekenanya. Ia melepas tas kecil yang ia gunakan, berniat menitipkannya pada Nizar.
"HP-nya, Dek, sini jangan dibawa," ucap Nizar pada Aidan yang terlihat tak sabar, bahkan melupakan ponselnya yang masih dalam saku. Untung Nizar menyadarinya.
Aidan mengambil ponselnya, menyerahkannya pada sang kakak. "Abang nggak papa kan nunggu kita? Habis ini fiks kita balik ke yang lain."
"Iya, nggak papa. Udah gih sana ikut antre, ntar keduluan terus sama yang lain."
"Woah woah woah, akhirnyaaa!"
Nizar, Aidan, dan Laksa kompak menoleh ke sumber suara. Mereka cukup terkejut mendapati kehadiran tiga remaja yang juga mereka kenal. Itu adalah Julian dan dua teman dekatnya, Kael dan Ergi. Tampaknya mereka pun ingin menaiki wahana yang sama.
"Ketemu juga, gue cari-cari dari tadi," ucap Julian begitu sampai di hadapan Nizar. Ia dan dua temannya memang sengaja datang usai melihat unggahan Aidan dan Nizar di sosial media. Niatnya ingin bergabung dalam rencana liburan para sepupunya itu.
Nizar sejujurnya tak begitu senang ketika Julian berhasil menemukan keberadaannya. Sedari tadi, Julian memang terus menghubungi lewat ponsel, menanyakan posisinya. Nizar berusaha mengabaikan lelaki itu, tetapi sial sebab Julian tetap bisa menemukannya. Nizar hanya tak ingin mereka berbuat kekacauan dan membuat Aidan juga Laksa tak nyaman.
"Kita nggak punya waktu buat elo, Kak, jangan ganggu," ucap Aidan yang langsung memasang wajah tak suka. Ia cukup mengetahui jika Julian adalah tipikal orang yang suka mencari gara-gara. Beberapa kali juga ia pernah bertengkar di rumah opanya karena Julian sangatlah jail.
"Santai, Dan, kita cuma mau ikutan healing kok. Lagian kita kangen juga sama Nizar, hampir dua minggu nggak ketemu." Julian beralih menatap Nizar. "Lo nggak kangen sama kita, Zar? Kok chat gue nggak ada yang dibales?"
Laksa berdecak mendengar cara bicara Julian yang terkesan dibuat-buat, entah apa tujuannya. Ia tahu jika Julian bukan orang yang akan berkata semanis itu pada Nizar. "Eh, lo nggak usah kebanyakan drama deh. Lagian lo nggak sepenting itu sampai Nizar wajib jawab chat lo. Mendingan to the point aja, lo mau apa sampe nyamperin Nizar?"
Julian menatap sinis pada Laksa. Ia cukup mengenal lelaki itu karena beberapa kali pernah bertemu. "Nizar itu temen sekelas kita, ya wajar dong kalo kita pengin main sama dia?"
"Dia nggak mau main sama lo pada."
Julian tertawa meremehkan, lantas kembali menatap Nizar. "Serius, Zar? Bukannya lo mau aja ya main sama kita? Daripada lo cuma jalan-jalan ngikutin mereka, mending sama kita aja. Kalo sama kita, lo nggak bakal kita kacangin. Pasti kita ajakin juga naik wahana. Bareng kita aja, ayok!"
Laksa mendorong bahu Julian ketika lelaki itu seperti akan memaksa Nizar. "Heh, sebelum gue ngamuk nih ya, mendingan lo pada pergi aja sana! Kecuali kalo lo emang mau berantem sama gue."
Julian mulai tak nyaman dengan cara Laksa berbicara, lama-lama lelaki itu terlihat menyeramkan juga. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya. Ia tidak memperhitungkan jika Laksa juga sedang bersama Nizar. Maka daripada ia berakhir babak belur, lebih baik ia melakukan rencananya di lain waktu.
"Ya udah, Zar, gue cabut aja kalo gitu. Padahal niat gue baik, tapi ternyata nggak disambut baik juga." Julian lantas berbalik bersama kedua temannya, meninggalkan tempat itu.
Nizar sedari tadi hanya diam, tetapi pikirannya sangat ribut. Sampai, ia akhirnya memilih mengejar Julian karena ingin membicarakan suatu hal. Ia meminta Laksa dan Aidan untuk tidak mengikutinya dan meyakinkan mereka bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Julian!"
Julian menghentikan langkah, pun dengan Kael dan Ergi. Ketiganya tampak puas ketika Nizar menghampiri mereka.
"Kenapa nih, lo berubah pikiran? Mau hang out bareng kita aja?"
"Sekarang keknya belum, gue udah ditunggu sama Ayah Bunda juga. Tapi, gue mau bilang sesuatu ke kalian ... ini soal tawaran kalian waktu itu."
"Ohh, lo mau join temenan bareng kita bertiga?"
Nizar tak langsung mengiakan, masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Tapi akhirnya, ia memberi anggukan pelan. "Tapi gue punya permintaan, khususnya ke Julian."
"Apa?"
Nizar terlihat ragu untuk berbicara karena ia tidak ingin Kael dan Ergi mendengarnya. "Gue kasih tau nanti."
Julian dapat menemukan isyarat yang coba Nizar berikan. Lantas ia mengiakan saja ucapan lelaki itu. "Okelah, gue tunggu."
"Oke. Gue balik dulu." Nizar mengulas segaris senyum sebelum meninggalkan Julian. Dalam setiap langkahnya, lelaki itu berharap semoga keputusan yang ia ambil sudah tepat. Ia berpikir jika berteman dengan Julian sepertinya adalah salah satu cara terbaik untuk bisa membuat sang opa meliriknya.
Julian adalah cucu kesayangan Tirta Wijaya. Setidaknya Nizar harus mencoba peruntungan lewat hubungan baiknya dengan Julian. Ia harap Julian bisa membantunya untuk mendekatkan diri dengan sang opa, hingga pria itu juga bisa menyayanginya. Dengan begitu, Nizar bisa memperbaiki pula hubungan bundanya dengan sang opa.
Sementara di sisi lain, Julian sangatlah puas. Ia bertos ria dengan kedua temannya, seolah baru saja menemukan mainan baru. Mainan yang sejak lama mereka inginkan.
***
Di Minggu sore, Nizar menghabiskan waktu untuk quality time bersama ayah dan adiknya. Sang bunda tidak ikut karena ada suatu urusan. Besok adalah hari pertama menjalani semester baru di sekolah, tetapi Nizar dan adiknya tidak begitu keteteran sebab sudah menyiapkan keperluan sejak kemarin-kemarin. Jadilah hari ini ia bisa bersantai sembari menyiapkan diri untuk terbiasa lagi dengan aktivitas sekolah. Rasanya masa-masa liburan telah membuatnya sedikit bermalas-malasan.
Kini Nizar tengah bermain tenis meja bersama ayahnya di teras belakang. Sementara itu, Aidan sedang sibuk bermain dan memberi makan hewan-hewan peliharaannya. Kebanyakan adalah reptil yang masih satu spesies dengan kadal. Ada pula kura-kura jenis Aldabra yang kini sedang Aidan mandikan dan ia ajak bicara meski tak akan menanggapi.
"Satu poin lagi buat Ayah, habis itu udahan ya?" ucap Zafran seraya melakukan servis hingga bola tenis memantul di area Nizar. Sudah cukup lama mereka bermain tenis meja, tetapi Nizar masih belum ingin menyudahinya. Tak biasanya pula anaknya itu menggebu-gebu berolahraga. Biasanya harus ia paksa lebih dulu meski hanya untuk berjalan pagi di komplek perumahan.
"Abang belum dapet banyak poin loh, lamain dikit lah, Yah."
"Ya kamu mainnya kayak main bola bekel, mau dapet poin dari mana? Sekalinya bolanya diarahin ke Ayah malah kebablasan sampe RT sebelah."
Nizar mendengkus, malah diingatkan kembali dengan semua servisnya yang tidak pernah on target. Ia memang payah dalam segala jenis olahraga, tapi kini rasanya ia perlu juga menekuni hal tersebut. "Ini tuh cuma lagi adaptasi aja, Yah, aslinya Abang pasti jago."
"Ya udah, sini servis yang bener. Kalau bisa dapat poin lagi, berarti permainan lanjut."
"Okei, siapa takut." Nizar berancang-ancang untuk melakukan servis. Ia meneliti caranya memegang raket dan bola, memastikannya sudah benar. Lantas matanya mulai memicing untuk menembak target. Sekali pukulan, bola di tanganya melesat cepat dan Nizar sangat yakin itu akan berhasil.
Pluk
Sayangnya, apa yang Nizar dapat tak sesuai dengan rencana. Bola itu malah mendarat tepat di kening Zafran hingga pria itu refleks mengaduh sembari memegangi keningnya. Kedua mata Nizar seketika membola. Ia buru-buru mendekati ayahnya untuk memastikan keadaan pria itu.
"Aduhhh, maaf maaf, Yah. Lagian Ayah ngapain di situ, sih? Kan jadi kena bola."
"Lha, kamu maunya Ayah di mana? Masa di atas genteng?"
Nizar mencoba melepas tangan Zafran yang masih menutup kening. Ia meringis saat melihat kening pria itu memerah. Seketika ia merasa sangat berdosa.
"Adek, bantuin sini!" Nizar berteriak memanggil adiknya.
Aidan pun lekas mendekat melihat abang dan ayahnya tampak memiliki masalah. Ia mematikan keran yang semula ia gunakan untuk memandikan kura-kura, lantas bergegas menghampiri Nizar dan Zafran.
"Kenapa? Loh, kok keningnya Ayah merah begitu?" komentar Aidan begitu melihat kening ayahnya yang memerah.
"Kepentok bola tenis tadi, Dek. Duh, sakit banget ya, Yah? Dikompres es batu kali, ya, biar nggak benjol? Dek, ambilin gih!"
"Kayaknya harus dibawa ke rumah sakit sih, Yah."
"Haduh, mulai deh pada lebay. Ayah nggak papa, ini masih kokoh nih jidatnya." Zafran geleng-geleng kepala melihat anak-anaknya yang berlebihan. Pun entah ekspresi mereka itu betulan panik atau hanya sedang mengerjainya saja.
"Maaf ya, Ayah, Abang beneran nggak sengaja. Kirain tadi bolanya mau mantul di meja, malah bablas ke kening Ayah."
Aidan tak dapat menahan tawa begitu membayangkan bola tenis mendarat di kening ayahnya. Ia tahu betul betapa payahnya sang kakak dalam bermain tenis meja. Ia bahkan pernah menjadi korban seperti yang dialami ayahnya. Tapi meski begitu, ia tidak pernah kapok. Melihat gerak-gerik lucu dan heboh abangnya ketika bermain tenis meja tak akan bosan untuk Aidan ulangi.
Nizar tidak tahu harus melakukan apa agar ayahnya merasa lebih baik. Sampai, ia menemukan sebuah ide. "Sini Abang cium aja, biar sakitnya hilang." Tanpa menunggu persetujuan, Nizar sedikit berjinjit untuk mengecup kening ayahnya.
"Ikut, biar tambah sembuh." Aidan tak melewatkan kesempatan untuk turut mengecup kening ayahnya.
"Bau kura-kura kamu, Dek," komentar Zafran begitu Aidan melepas kecupannya.
"Ya memang aku habis nyium kura-kura tadi, hehehe."
Zafran memejam, keningnya langsung terasa pusing. Kini malah kedua anaknya itu menertawakannya dengan lebih puas. "Awas aja ya kalian, Ayah aduin ke Bunda."
Nizar dan Aidan masih tertawa, tak ciut sedikitpun dengan ancaman ayahnya. Jika tidak ada sang bunda, mereka memang sangat suka menggoda sang ayah. Sore itu berlanjut dengan tawa, seolah hari esok yang mulai berat tidak sedikit pun membebani mereka.
Bersambung...
Semangat ya, guisss🕺
Clp,
21-10-2024