"lalu akhirnya dia bunuh diri sembari memeluk kepala Karllan"
"Itulah akhir dari cerita karakter Louise"gumamku memangku daguku.
Srrrt
Aku perlahan berdiri dan berjalan keara balkon.
Clak perlahan membuka pintu dan menatap 3 bulan yang bersinar di langit malam.
"Louise akan berakhir dengan kematian karna menyusul orang yang dia cintai secara sepihak."
"Aku tidak mengerti mengapa dia sampai bunuh diri hanya karna orang yang ia cintai sudah mati, kenapa dia membiarkan mayatnya sendiri di injak injak oleh orang yang sudah membunuh orang yang dia cintai?!"ucapku.
"Jika aku menjadi Louise aku tidak akan membiarkan orang yang membunuh orang yang ku cintai tetap hidup di dunia ini dengan kebahagian sedangkan orang yang kucintai harus membusuk didalam tanah"ucapku
Tuk tuk tuk tuk
"Suara kaki?!"gumamku membuka jendela balkon
Aku melangkah dengan cepat.
Lalu melihat dari atas balkon yang ada di lantai 2 itu.
Dalam kegelapan aku melihat seseorang sedang berlari tergopoh-gopoh, dia seperti lari dari sesuatu.
"Bagaimana bisa seorang penyusup masuk kedalam rumahku?!"gumamku mengambil pedang yang ada atas meja.
Lalu srrrt
Aku melompat dari lantai 2 kamarku.
Pria itu terus berlari dan masuk ke hutan belakang mansion.
Meski pria itu terlihat seperti sangat terlatih tapi dia terlalu ceroboh karena membiarkan darah membasahi jalan yang membuat dirinya sendiri dapat di temukan.
Aku menyusuri jejak darah itu dengan kakiku.
Lalu jejak darah itu terhenti bersamaan dengan seseorang yang terbaring di tanah dengan darah yang membanjiri tubuhnya.
Pria itu memakai pakaian serba hitam serta tudung yang menutupi wajahnya.
"Hei...."ucapku menjulurkan tanganku
Grab tiba tiba pria itu mendorongku, dia mendorongku begitu keras membuatku terbaring di tanah.
Srrrt
Perlahan tudung yang menutupi kepalanya terjatuh, aku bisa melihat 2 telinga yang tumbuh di kepalanya.
"Apa dia beastmen?"
Dia memiliki rambut berwarna merah dengan mata merah yang terlihat begitu pekat.
Warna matanya mengingatku tentang darah yang mengalir di dalam tubuhku.
Dia beradara dan terluka di wajahnya.
Srrrt
Tanganku perlahan menjulur dan menyentuh wajah pria di hadapanku.
Grrt
Pria itu menekan leherku keras, sembari terus menatap ku dengan tatapan waspada.
"Ja-jangan sentuh aku manusia sialan"ucapnya.
Suaranya terdengar cukup serak.
"Apa kau mendapatkan luka ini dari manusia?"tanyaku tetap menyentuh wajah pria itu.
"Jangan sentuh aku, atau aku akan membunuhmu"teriak anak itu semakin tekan mencekik ku.
Srrrt
Tiba tiba sebuah tendangan keras mengenai pinggang pria itu.
Pria itu terpental sejauh 5 meter dan terbentur di batang kayu yang besar.
"Aghk"
"Siapa kau.... Beraninya kau melukai masterku"teriak Emily yang muncul di hadapan pria itu.
Cakar Emily memanjang, Emily menarik kera baju pria itu dengan Tangan kananya.
Mata Emily yang berwarna emas seperti bercahaya di dalam kegelapan.
Pria berambut hitam itu seolah tak bisa bergerak saat melihat mata Emily yang begitu tajam.
"Aku akan membunuhmu"ucap Emily mengangkat cakarnya.
"Emily cukup"ucapku berdiri.
"Tapi master pria ini sudah melukaimu"teriak Emily.
"Tidak apa apa, lagian pria yang kau pegang itu sudah pingsan sejak tadi"ucapku
"Eh apa?”ucapa Emily bingung.
"Bawah pria itu"ucapku berjalan.
"Tapi master"ucap Emily
"Bawah dia"ucapku sekali lagi pada Emily
"Baik"ucap Emily lalu menggendong pria itu di bahunya seperti sedang memikul beras.
____
Kamarku.
"Lukanya begitu dalam, sepertinya dia di tusuk"ucap Emily yang memegang perban.
"Sepertinya begitu"ucapku mengelap tubuh pria yang sudah bertelanjang dada itu dengan kain yang sudah di rendam dengan air hangat.
"Namun kenapa bisa seekor beastmen Ras serigala bisa berada di tempat yang begitu jauh dari habitat aslinya?"ucap Emily
"Kemungkinan dia kabur"ucapku
"Kabur?, kabur dari apa?"tanya Emily bingung.
"Tentu saja dari pedagang budak"ucap ku
"Bukankah kau orang yang paling tahu sebagaimana bangsawan di kekaisaran ini menyukai ras beastmen"ucapku.
Emily terdiam.
Lalu perlahan mengangguk pelan.
Aku membalut luka luka itu dengan perban yang di pegang Emily.
"Kemungkinan para bawahan penjual budak masih berkeliaran mencari pria ini. "Ucapku menyentuh dahi hitam pria yang terbaring di kasurku itu.
Aku merasakan tubuhnya begitu panas, kemungkinan dia demam.
"Sepertinya begitu master, apa saya harus menyingkirkan mereka?"tanya Mimi
"Lakukan dengan rapih tanpa meninggalkan darah setitik pun. Karna Mona membenci darah"ucapku m
"Baik master"ucap Emily tersenyum
Lalu Emily dengan cepat menghilang.
"Aku mungkin harus tidur di kamar tamu malam ini"ucapku berdiri dan berbalik.
"Hiks hiks, mama papa" suara tangisan perlahan terdengar dari mulut pria itu.
Dia menangis dengan mata terpejam
"Kakak jangan tinggalkan aku"pria itu terus mengigau sembari terus menangis.
"Nak jika kau terus seperti ini, kau akan membasahi kasurku"ucapku perlahan menyentuh keningnya.
Srrrt
Mata nya sedikit terbuka.
"Siapa?"ucapnya dengan suara serak.
"Penyelamatmu"ucapku
Perlahan tangan nya menyentuh tanganku yang berada di keningnya
"Tuan penyelamat, tolong selamatkan orang tua dan saudara ku"ucap pria itu
"Memang apa yang terjadi dengan mereka?"tanyaku.
"Mereka di bunuh oleh manusia"jawabnya terbata.
"Bagaimana bisa itu terjadi?"tanyaku
"Itu semua salahku"ucapnya
"Bagaimana itu bisa jadi salahmu?"tanyaku.
"Karna aku membawah seorang manusia ke desa"ucapnya yang memegang tangan Kiriku semakin.
"Lalu, apa manusia itu yang membunuh keluargamu?"tanyaku
Perlahan dia mengangguk.
"Dia membawah banyak manusia lain dan membinasakan beastmen yang sudah tua, lalu membawa beastmen yang masih mudah untuk di jadikan sebagai budak"jawabnya.
"Lalu mengapa kau tidak melawan?"tanyaku
"Aku tidak bisa melawan mereka"ucapnya perlahan menangis lagi
"Hiks hiks aku sangat lemah jadi aku tidak bisa melawan manusia manusia itu"dia terus menangis.
"Aku benci tubuh lemahku ini, kenapa aku harus terlahir begitu lemah"ucapnya terus menangis.
Air matanya terasa hangat dengan sab terus mengenai telapak tanganku yang menempel di pipinya.
"Tuan tolong........."—
______
Keesokan harinya.
Matahari yang bersinar perlahan menusuk mata pria berambut hitam itu.
Dia perlahan membuka matanya, terlihat pupil berwarna merah darah itu.
"Dimana ini?"ucapnya menyentuh sesuatu di samping tubuhnya
"Ini kamarku"ucapku perlahan.
Grrtt
Sontak dia langsung mengarahkan matanya ke samping kanannya.
Dan dia akhirnya sadar kalau tangan kanannya sudah melingkar di pinggangku semalaman penuh.
Serta tangan Kiriku yang menyelip kedalam sela sela bajunya.
Ya lebih singkatnya dia menyadari kalau tanganku sudah memegang dadanya semalaman penuh juga.
"Selamat pagi"ucapku mengambil posisi duduk
"Tu... Apa ini?"ucap dia terkejut
Lalu bruk
Dia jatuh dari kasur dengan kepala yang terbentur ke lantai.
"Kau kenapa, kenapa kau begitu terkejut?"tanyaku bingung.
"Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau malah tidak terkejut sama sekali dengan situasi saat ini?"teriak pria itu bangun.
"Terkejut? Untuk apa?"ucapku memperbaiki pakaianku.
"Tentu saja tentang mengapa 2 orang pria dewasa tidur bersama dengan saling berpelukan"teriaknya keras.
"Ah itu, jadi semalam kau menangis sambil mengigau"ucapku berfikir.
"Kau memintaku untuk tetap bersamamu jadi aku tidak bisa meninggalkanmu sama sekali karna kau terus memeluk erat tubuhku "ucapku turun dari kasur.
"Tidak mungkin aku melakukan itu kau pasti berbohong kan"teriaknya keras.
Aku mengambil segelas air dari teko
"Emh, entahlah?!"ucapku tersenyum
"Benarkan, kau pasti berbohong padaku"ucapnya
"Bohong?, aku tidak mengatakan nya seperti itu"ucapku
Karna semalam dia memang menangis sembari mengigau
Srrrt.
Pria itu menarikku keatas kasur
"Tuan tolong aku, tolong selamatkan keluargaku "pria itu mendoohku keatas kasur.
Dia menindi tubuhku dan membuatku terjebak di bawahnya.
Air mata terus menetes dari matanya dan membasahi diriku
"Saya akan melakukan apapun, jadi tolong selamatkan keluarga ku"ucap dia dengan wajah putus asa
"Kenapa kau menunjukan wajah itu padaku?"tanyaku menyentuh wajahnya.
"Saya akan memberikan nyawa saya kepada anda"ucapnya lalu memelukku erat.
"Bahkan jika itu tidak cukup"ucap dia mengangkat wajahnya
Krrrt
Sesuatu terdengar dari mulutnya.
Dan perlahan darah mengalir dari mulut pria di hadapanku ini.
Dia menggigit lidahnya sendiri.
Srrnk
Dia memegang wajahku perlahan lalu
Cup dia mendaratkan bibirnya ke dalam bibirku.
Lidahnya mulai menyelinap kedalam bibirku.
Rasa asin darah mulai mengalir dari lidahnya yang bersentuhan dengan lidahku.
Lidahku dan lidahnya beradu didalam mulutku.
Gluk
gluk
"Saya akan bersumpah atas nama saya"ucap dia melepaskan bibirku.
Mataku melebar saat melihat lidah pria di hadapanku.
Lidah yang hampir putus tadi kembali lagi seperti semula, seperti lidah itu tidak perna terluka.
Lalu perlahan muncul sebuah lingkaran berwarna hitam di lidahnya
"Dengan ini kontrak budak dan majikan antara kita sudah terbentuk"ucapnya lalu jatuh pingsan lagi.
Ya begitulah....
Aku melihat diriku didepan cermin dan melihat tanda yang sama muncul di lidahku.
"Awalnya aku membiarkan nya melakukan sesuka hatinya karena penasaran apa yang terjadi selanjutnya. Namun siapa yang mengirah kalau kontrak majikan dan budak akan muncul di pikiran secara tiba tiba"gumamku melihat pria yang masih terduduk di lantai.
'sepertinya aku harus meminta maaf pada Laure ketika bertemu karna ciuman pertamaku malah di ambil oleh pria lain dan bukan miliknya'
Di sisi lain
"Uhm?" pria berambut ungu tua itu tiba tiba mengangkat kepalanya dari lembaran lembaran dokumen yang menumpuk di mejanya.
"Tuan ada apa?, apa anda sakit?"tanya ziva
"Aku baru saja mendengar suara tuan karish, sepertinya beliau merindukanku"ucap Laure
Ziva memutar matanya dengan tatapan muak
"Tuan tolong berhenti beromong kosong dan selesaikan dokumen dokumennya "ucap ziva
"Lalu biar saya ingatkan, anda tidak akan di izinkan pergi ke kediaman tuan Duke karish jika anda belum menyelesaikan dokumen dokumen ini"ucap ziva
"Apa kau pikir aku tidak akan bi—"lalu lupakan tentang kabur. Karna saya sudah memasang sihir di kepala anda. Jika anda meninggalkan ruangan ini lebih dari jarak 10 meter. Kepala anda akan langsung meledak. Jadi tolong selesaikan semua dokumenya"ucap ziva keluar sembari membanting pintu.
"Hiks hiks huwaaaa tuan karish tolong selamatkan aku......."