Setelah beberapa saat melintasi hutan dengan menaiki Ranga,Rimuru merasakan udara sekitar mulai berubah.
Hembusan angin membawa bau asap dan abu, tanda bahwa sesuatu yang besar telah terjadi di depan sana.
Ketika dia mendongak, asap hitam mengepul tinggi di atas pepohonan.
Bau hangus dan suara kayu yang terbakar membuat hutan yang tadinya damai kini terasa mencekam.
Ranga mempercepat langkahnya, melompati akar-akar besar dan melewati pohon-pohon tinggi dengan gesit. Namun, saat mendekati titik asap itu, Rimuru memberi isyarat kepada Ranga untuk berhenti.
_“Di sini saja, Ranga.
Biar Aku periksa dulu,”_ bisiknya.
Dengan gesit, Rimuru turun dari Ranga dan, dalam sekejap, dia melayang ke udara.
Terbang hanyalah masalah sepele baginya,dia meluncur dengan mudah di antara pepohonan, setelah cukup tinggi dia bisa melihatnya
---
Di atas hutan yang terbakar habis, seekor naga api yang besar sedang mengamuk.
Sisik-sisiknya bersinar merah menyala, seolah-olah bara api mengalir di dalam tubuhnya.
Nafasnya yang berasap menghembuskan api setiap kali dia menggeram, membakar sisa-sisa pohon dan semak di sekitarnya.
Ukurannya luar biasa—panjang tubuhnya mungkin mencapai 29 meter dari kepala hingga ekor, dengan sayap besar yang mampu menciptakan hembusan angin ketika dikepakkan.
Namun, bukan keganasan naga itu yang membuat Rimuru terkejut. Di sisi lain dari area terbuka tersebut, ada tiga kendaraan militer—kendaraan lapis baja ringan Komatsu LAV.
Kendaraan-kendaraan itu terlihat seperti habis terkena semburan api,ada bagian bagian yang meleleh dan semua rodanya terbakar,tapi sepertinya bagian dalamnya masih cukup baik.
Rimuru langsung mengenali bentuk khas kendaraan militer Jepang itu.
_"Komatsu LAV?!"_ pikirnya dengan keterkejutan. "Bagaimana mungkin benda seperti ini ada di sini?"
---
Kendaraan-kendaraan itu terletak tak jauh dari naga api yang masih mengamuk.
Rimuru memperhatikan lebih dekat dan melihat bahwa pintu salah satu LAV terbuka—tanda bahwa awaknya mungkin telah keluar.
Berkas jejak kaki terlihat di tanah, tetapi tidak ada orang di dekatnya.
Berbagai kemungkinan berkelebat di pikiran Rimuru. Ini jelas bukan teknologi dunia ini.
Tidak mungkin penduduk Falmart memiliki kendaraan militer seperti ini.
Hanya ada satu penjelasan yang masuk akal—gerbang dunia lain.
“Jadi, ada gerbang kedua seperti yang muncul di Tempest,” pikirnya sambil tersenyum tipis. “Menarik... Sangat menarik.
Rimuru segera memeriksa medan di sekitarnya.
Api naga terus berkobar, tetapi kendaraan-kendaraan itu tampaknya dibiarkan oleh sang naga.
Ini bukan kebetulan—naga api biasanya menghancurkan apa pun di jalurnya, mungkin orang yang menaiki mobil mengalihkan perhatian naga itu
---
Rimuru mulai menyusun rencana.
Meskipun dia cukup yakin bisa menangani naga ini dengan mudah, dia ingin melihat lebih dulu apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Jika kendaraan-kendaraan itu membawa pasukan Jepang, maka mereka mungkin menghadapi masalah besar, dan dia perlu memutuskan apakah akan membantu dan berinteraksi dengan mereka atau tidak.
Dengan tenang, dia melayang lebih rendah, mendekati naga api dari udara, menghindari pancaran apinya dengan mudah.
Dari sudut pandangnya yang lebih dekat, dia bisa melihat dengan jelas mata sang naga yang memerah, dipenuhi amarah.
Rupanya, sang naga terluka—bekas ada bekas luka di dadanya, meskipun itu cuma goresan, di sayapnya jugaw terdapat lubang lubang kecil , mungkin disebabkan oleh senjata api.
Ini menjelaskan kenapa dia sangat marah .
“Ini kesempatan yang bagus,” pikir Rimuru sambil tersenyum.
Dia bisa membunuh naga ini atau bahkan membuatnya tunduk, tetapi pertama-tama, dia ingin tahu di mana awak kendaraan-kendaraan itu.
---
Tanpa suara, Rimuru menempatkan dirinya di atas salah satu Komatsu LAV dan memeriksa bagian dalam kendaraan dengan cepat, meskipun bagian luar hangus terbakar,tetapi bagian dalamnya masih cukup bagus.
mungkin karna suhu tinggi di dalam,membuat para awak kendaraan memilih keluar,Senapan dan peralatan komunikasi masih berada di dalam, tetapi tidak ada tanda-tanda orang di dalamnya.
Ini semakin menguatkan dugaannya—mereka mungkin telah mencoba melawan naga,tetapi tidak berhasil, jadi mereka melarikan diri atau bersembunyi.
Rimuru melayang ke arah rerimbunan di sekitar area terbakar.Dia memfokuskan sihir persepsinya, mencari tanda-tanda kehidupan di sekitar.
Seketika, dia menangkap beberapa jejak energi kecil—manusia, tersembunyi di balik semak-semak jauh di sebelah barat.
Dengan cepat, dia mengambil keputusan. _“ dia akan melawan naga itu baru menemui mereka.
_--------_++++++++_----------_++++++++
Sudut pandang tim itami
Itami menurunkan teropongnya dengan gerakan pelan, wajahnya tegang. "Kita ada masalah besar," gumamnya, suaranya hampir tak terdengar oleh yang lain.
Tanpa peringatan, mata kuning menyala milik naga itu beralih ke arah mereka, seolah menyadari kehadiran manusia di puncak bukit. Sepasang sayap raksasanya mengepak dengan keras, menghasilkan angin badai yang membuat debu dan dedaunan beterbangan.
“Komandan, dia melihat kita!” seru Kurata panik di sebelah itami, wajahnya memucat.
Naga itu menggeram, suara rendah yang dalam mengguncang udara. Dalam sekejap, makhluk raksasa itu membuka mulut lebarnya, dan dari dalam tenggorokannya muncul cahaya berwarna oranye menyala—api.
"Masuk ke mobil cepat_!" teriak Itami, suaranya penuh dengan urgensi.
Sebuah ledakan api menghantam tanah di depan mereka, meledakkan debu dan batu, membuat kendaraan mereka berguncang hebat.
Nyala api yang disemburkan naga melahap jalur tanah, menyulut semak belukar, dan membakar pepohonan di sekitarnya kemudian mengenai mobil mereka. Udara langsung terasa panas, dan bau besi yang terbakar memenuhi hidung mereka.
Setelah api mereda Kurata dengan panik membanting setir untuk menghindari api, sementara seluruh konvoi mulai bergerak mundur secara tidak teratur dikarenakan ban mobil mereka terbakar.
Panik menyebar di antara tim Itami. Tanpa menunggu perintah lebih lanjut, mereka semua mulai melawan dengan senjata yang mereka miliki.
Terdengar suara rentetan tembakan ketika prajurit di atas Humvee mulai memberondong peluru dari M16 dan senapan mesin yang dipasang di atas kendaraan, untungnya senapan mesin masih bisa digunakan meski sudah terkena api.
Peluru beterbangan, menembus udara dengan suara berdesing, tapi semua tembakan hanya memantul dari sisik naga itu, seperti batu yang dilempar ke dinding baja. Setiap peluru yang menghantam tubuh naga berkilauan sejenak, namun tidak ada satu pun yang mampu melukai makhluk raksasa itu, kecuali sayapnya.
“RPG! Cepat keluarkan RPG!” seru Tenzu sambil menarik bahu temannya.
Seorang prajurit dari mobil belakang dengan gugup mengangkat peluncur RPG. Dia berlutut, mengarahkan roket dengan hati-hati, dan menekan pelatuk.
Dengan suara siulan tajam, roket melesat di udara, meninggalkan jejak asap putih di belakangnya. Dalam sekejap, roket menghantam dada naga dengan ledakan keras.
Namun, ketika asap ledakan memudar, naga itu hanya sedikit mundur, berberapa sisiknya retak dan ada beberapa goresan dangkal. Sang naga menggeram marah, mengepakkan sayapnya dengan keras, menghasilkan angin kencang yang hampir membuat mereka terlempar dari kaki mereka.
“Tidak mempan! Senjata kita nggak berguna!” seru Kuhawara, suaranya dipenuhi kepanikan.
“Mundur! Kita nggak bisa lawan ini!” Itami berteriak, wajahnya tegang. “Semua orang, cari perlindungan!”
Tanpa membuang waktu, mereka semua berpencar, meninggalkan kendaraan dan berlari ke berbagai arah, mencoba mencari tempat persembunyian di balik semak-semak dan pepohonan yang tersisa.
Naga itu mengaum marah dan mulai mengejar, tubuh raksasanya melayang rendah di atas tanah sebelum mendarat dengan keras di dekat kendaraan mereka.
Saat cakarnya yang besar menghantam tanah, batu dan tanah berhamburan, menghantam Humvee dan membuat permukaannya penuh lecet dan penyok.
Itami dan timnya berlari secepat mungkin, jantung mereka berdegup kencang, napas mereka terengah-engah. Kuhawara tersandung sebentar, tapi Tenzu dengan cepat menariknya agar tidak tertinggal.
Mereka meluncur ke balik semak belukar yang tebal dan menjatuhkan diri, menahan napas di balik dedaunan.
Mereka bisa merasakan tanah bergetar di bawah tubuh mereka ketika sang naga mendekat.
Setiap langkah makhluk raksasa itu mengguncang bumi, dan setiap geramannya membuat udara bergetar. Daun-daun di sekitar mereka bergoyang, dan panas dari napas naga terasa menusuk kulit mereka meski mereka bersembunyi.
Di dalam pikiran setiap anggota tim, hanya ada satu harapan: semoga naga itu tidak menemukan mereka.
Napas mereka tertahan, tubuh mereka gemetar di balik semak-semak, sementara naga merah itu berjalan perlahan ke arah mereka bersembunyi, mengendus-ngendus seperti predator mencari mangsa.
Itami mencengkeram senapannya erat-erat, meski tahu betul bahwa senjata itu tidak akan banyak membantu.
Di sekelilingnya, timnya juga menahan napas, tak berani bergerak sedikit pun. Hanya suara gemerisik dedaunan dan deru napas naga yang terdengar di udara, seperti penanda betapa tipisnya batas antara hidup dan mati.
Waktu seolah melambat. Setiap detik terasa seperti satu menit penuh, dan keringat dingin mengalir di pelipis Itami.
Di benaknya hanya ada satu pikiran: mereka semua mungkin mati di sini, menjadi arang di bawah amukan naga raksasa.
Namun, di tengah kekalutan itu, sebuah suara mengguncang udara—bukan teriakan manusia atau geraman naga, melainkan rentetan ledakan magis yang bergemuruh seperti badai petir.
Itami dengan ragu mengangkat kepalanya, mengintip dari balik dedaunan yang rimbun. Apa yang dilihatnya di depan mata langsung membuatnya ternganga, rasa takutnya berubah menjadi keterpanaan.
Di tengah medan yang kacau, sosok anggun melayang di udara—seorang elf berambut biru. Rambut panjangnya berkilauan di bawah cahaya matahari yang tersisa, melambai lembut seolah dipermainkan angin magis, elf itu mengenakan baju besi ala petualang dari abad pertengahan
Ia tampak seolah keluar dari legenda, sosok yang terlalu sempurna untuk nyata. Di tangannya, ia menggenggam sebuah busur yang tidak biasa—berbentuk ramping, dihiasi ukiran rumit, dan memancarkan cahaya pelangi.
Tiap tarikan busurnya menciptakan ratusan anak panah berkilauan, seolah ditenun dari energi murni.
Dengan satu gerakan penuh kelembutan, elf itu menarik senar busur, dan tanpa peringatan, ratusan anak panah sihir melesat seperti hujan meteor, membombardir tubuh naga raksasa yang baru saja melahap hutan dengan amarahnya.
Panah-panah itu menghantam sisik naga seperti ledakan beruntun, menciptakan percikan cahaya dan suara dentuman yang memekakkan telinga.
Naga itu menggeram, terhuyung oleh serangan magis yang menembus sisik kerasnya. Meskipun tubuhnya besar dan kuat, setiap serangan sihir tersebut tampaknya mengikis kekuatan makhluk itu sedikit demi sedikit. Sisik merah naga yang semula berkilauan mulai retak dan pecah, seolah kekuatan yang membungkusnya tak lagi cukup melindunginya.
Itami menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak. "Apa... apa itu?" bisiknya tak percaya, suaranya nyaris tak terdengar.
Kuhawara yang bersembunyi di sampingnya hanya bisa menggelengkan kepala, sama terkejutnya. Mereka berdua menyaksikan dengan mata kepala sendiri sesuatu yang luar biasa, seolah-olah legenda hidup sedang terjadi di depan mata mereka.
Sosok elf itu turun perlahan dari langit, aura anggunnya semakin terasa saat kakinya menyentuh tanah dengan lembut, seolah ia adalah bagian dari alam itu sendiri.
Saat busurnya menghilang dalam sekelip mata, berubah menjadi partikel sihir berwarna-warni yang larut dalam udara, sebuah pedang bercahaya muncul dari kekosongan. Cahaya dari pedang itu begitu terang hingga membuat senja di sekitarnya terasa suram.
Naga raksasa itu, sekarang dalam amarah puncaknya, meraung keras. Ia menyemburkan api ganas ke arah sang elf—nyala api yang cukup kuat untuk melahap seluruh hutan dan mengubah tanah menjadi kaca hitam. Api itu menghantam udara, melesat seperti gelombang kehancuran.
Namun, sang elf hanya mengangkat pedangnya dengan tenang. Dengan satu lambaian sederhana, pedang bercahayanya memotong nyala api seperti belati menembus kain sutra.
Gelombang kejut dari ayunan pedang itu begitu kuat hingga pepohonan di sekitar mereka tumbang, akarnya tercerabut dari tanah. Udara di sekitar ledakan api terbelah, dan api itu hilang begitu saja seolah-olah tidak pernah ada.
Itami merasakan tanah bergetar hebat di bawahnya, sementara angin kencang menerpa wajahnya. Ranting-ranting dan dedaunan beterbangan ke segala arah, dan debu serta asap melayang di udara.
Namun, yang paling mengejutkan bukanlah kekuatan yang ia saksikan, melainkan ketenangan sosok elf itu. Setiap gerakan perempuan itu, setiap langkah dan lambaian tangannya, memancarkan ketenangan dan kepercayaan diri yang tak tergoyahkan, seolah-olah naga sebesar itu bukanlah ancaman baginya—hanya sebuah rintangan kecil di jalannya.
Itami menelan ludah dengan gugup. "Siapa dia...?" gumamnya, masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Kuhawara dan Tenzu di sampingnya sama terpukaunya. Mereka hanya bisa terdiam, terperangkap dalam kekaguman dan rasa gentar.
Naga itu semakin marah. Ia mengepakkan sayapnya, berusaha terbang dan menghantam elf itu dengan tubuh besarnya.
Namun sang elf tidak gentar sedikit pun. Dengan kecepatan kilat, ia melompat ke depan, menghilang dalam sekejap mata, dan muncul di hadapan naga. Dalam satu gerakan indah, ia menusukkan pedangnya ke arah dada naga.
Ledakan cahaya yang sangat terang terjadi saat pedang itu menghantam sisik naga. Naga itu menggeram kesakitan, tubuhnya bergetar hebat saat sihir dari pedang elf tersebut merembes ke dalam dirinya, menghancurkan kekuatan magis yang melindunginya. Suara raungan naga itu memecah udara, mengguncang tanah di bawah kaki mereka.
Namun, sang elf tetap tak bergeming. Matanya—sepasang mata emas yang memancarkan ketenangan abadi—menatap tajam ke arah naga itu, seolah ia tidak mengenal rasa takut. Perlahan tapi pasti, naga raksasa itu terhuyung mundur, kekuatannya memudar di bawah tekanan sihir sosok tersebut.
Itami hanya bisa tertegun, tak mampu berkata apa-apa. Dalam hidupnya, ia tak pernah menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Seorang gadis berwujud elf, begitu anggun dan mempesona, melawan seekor naga raksasa dengan kekuatan yang melampaui segala sesuatu yang pernah ia bayangkan.
Saat naga itu akhirnya terjatuh, tubuhnya menghantam tanah dengan suara berdebam keras. Debu dan tanah beterbangan, menciptakan awan pekat di udara.
Namun, sang elf hanya berdiri di tempatnya, memandangi lawannya dengan tatapan tenang, seolah-olah pertarungan itu hanyalah sekadar latihan biasa.
Di balik semak-semak, Itami merasa seolah paru-parunya baru saja kembali bekerja.
Napasnya terasa berat, dan ia menyadari bahwa ia telah menahan napas sepanjang waktu. Kuhawara menatapnya dengan wajah bingung, sementara Tenzu mengusap dahinya yang berkeringat.
"Dia... dia adalah makhluk yang luar biasa," ujar Itami dengan suara serak. "Siapa pun dia... dia jauh di luar jangkauan kita."
Di depan mereka, sang elf berambut biru itu perlahan menurunkan pedangnya.
Dengan gerakan halus, pedang bercahaya itu menghilang, kembali menjadi partikel sihir yang berpendar di udara dan larut dalam angin. Sang elf menoleh sedikit, memandangi sekelilingnya, seolah memastikan bahwa bahaya sudah benar-benar berakhir.
Namun, ia tidak mengatakan sepatah kata pun. Hanya ada ketenangan dan keanggunan dalam setiap gerakannya. Bagi Itami dan timnya, sosok elf itu seperti dewi perang yang turun dari langit—seseorang yang kekuatannya jauh melampaui pemahaman manusia biasa.
Dan saat mereka semua masih tercengang, sang elf menatap mereka,
Keluarlah aku tau kalian ada di sana
BERSAMBUNG.