Becoming Mafia's Pet

By Y_E_S_S_Y

19.5M 803K 459K

DARK ROMANCE! BACA TRIGGER WARNING DULU SEBELUM BACA INI! Lara selalu merasa diawasi. Ke mana pun dia pergi... More

Prologue
Chapter 1 - Coincidence?
Character Introductions
Chapter 2 - The Devil
Notif Error (Repost)
Chapter 3 - Black Rose
Chapter 4 - Freaky
Chapter 5 - Stalker
Chapter 6 - The Beginning of Madness
Chapter 7 - Rejection
Chapter 8 - Funeral
Chapter 9 - Play With Fire
Chapter 10 - Collar and Leash
Chapter 11 - The Last Time
Chapter 12 - Escape
Chapter 13 - Nonsense
Chapter 14 - Wine
Chapter 15 - Not That Easy
Chapter 16 - Punishment
Chapter 17 - Not Yet Healed
Chapter 18 - Much Worse
Chapter 19 - Trash
Chapter 20 - Taken Away
Chapter 21 - Underestimate Me
Chapter 22 - Scared
Chapter 23 - Emergency Stairs
Chapter 24 - A Trap
Chapter 25 - Friends or Enemies?
Chapter 26 - Try Me
Chapter 27 - Stuck with me
Chapter 28 - Flattered
Chapter 29 - Blame Yourself
Chapter 30 - Drive Me Crazy
Chapter 31 - Instant Regret
Chapter 32 - Win Her Heart
Chapter 33 - Cute
Chapter 34 - I Won't Allow It
Chapter 35 - I'm Serious
Chapter 36 - If it's true
Chapter 37 - Over My Dead Body
Chapter 38 - War
Chapter 39 - Don't want to imagine
Chapter 40 - Impossible
Chapter 41 - Trauma
Chapter 41 sudah update! (Tapi notif ga masuk)
Chapter 42 - Tell Me
Chapter 43 - Is this because of me?
Chapter 44 - His Wrath
Chapter 45 - Not True
Chapter 46 - Helicopter
Chapter 47 - Helicopter (Part 2)
Chapter 48 - The Only Way
Chapter 49 - In Three Days
Chapter 50 - Marry You
Chapter 51 - I Swear
Chapter 52 - Do you think I'm joking?
Chapter 53 - See You
Chapter 54 - The Altar
Chapter 55 - How To Survive?
Chapter 56 - The Ex
Chapter 57 - The Attack
Chapter 58 - Logan
Chapter 59 - Tobias & Hannah
Chapter 60 - The Hideout
Chapter 62 - Where Are You?
Chapter 62 - Sudah update! Refresh library!
Chapter 63 - The three of them
Chapter 64 - Time Bomb
Chapter 65 - You Promised
Chapter 66 - Craving
Chapter 67 - Nowhere To Hide
Chapter 68 - Tomorrow
Chapter 69 - The Mission
Chapter 70 - Sierra
Chapter 71 - The Basement
Chapter 72 - Monster
Chapter 73 - Weak
Chapter 74 - Hayes
Chapter 75 - Four Years Ago
Chapter 76 - Code
Chapter 77 - Hold On
Info update BMP!
Chapter 78 - Hell

Chapter 61 - Nowhere

141K 8.1K 6.2K
By Y_E_S_S_Y

Total kata : 3.000 kata!

♦️♦️♦️

MARK'S POV: 

"Totalnya 265, Boss."

Aku mengisap cerutu sambil mengerutkan dahiku mendengar laporan itu dari bawahanku. "Kurang. Kita butuh lebih banyak senjata," jawabku. 

"Victor," panggilku. Victor yang sejak tadi di sebelahku langsung menjawab. "Iya, Boss?"

"Hubungi Gino, beli senjata darinya," perintahku. "Beli empat ratus lagi." 

"Baik, Boss!" Jawab Victor. Dia pun segera mengambil ponselnya untuk menelpon salah satu kenalanku Gino.

Saat ini, aku dan Victor berada di tempat persembunyian lain yang tidak jauh dari tempat di mana aku dan Lara bersembunyi. Aku membawa beberapa bodyguard yang tiba dengan mobil terpisah.

Aku mematikan cerutu, dan membuka ponselku, ingin memeriksa Lara dari CCTV. Tapi sebelum aku bisa membuka aplikasi CCTV, ponselku berdering. Telpon dari Tobias.

Pada deringan pertama, aku langsung mengangkat panggilan itu. "Apa Lara baik-baik saja?" tanyaku langsung.

"Lara baik-baik saja, tapi ada hal lain yang perlu dikhawatirkan," jawab Tobias.

"Ada apa?" tanyaku.

"Sierra diculik," jawab Tobias. Tepat setelah mendengar kalimat itu, mataku langsung membelak. Rahangku menegang, dan kemarahan memenuhi aku.

"Fuck. Di mana bodyguards-nya? Apa mereka tidak melakukan tugas mereka?" bentakku sangat marah. 

Victor yang baru selesai menelpon Gino, langsung menghampiriku.

"Mereka datang dengan tubuh berdarah-darah. Dua tertembak, dan satu tertusuk pisau sangat dalam. Sepertinya mereka sudah berusaha melawan, luka mereka sangat parah. Bahkan sopirnya tidak sadarkan diri," jawab Tobias. 

"Aku pulang sekarang," seruku pada Tobias. Aku berjalan keluar tempat persembunyian itu menuju mobilku yang terparkir di lobi. Victor mengikutiku dari belakang.

"Oke," jawab Tobias. Aku langsung menutup panggilan itu dan masuk ke dalam mobil bersama Victor. 

"Kembali ke mansion, cepat," perintahku tajam. Mendengar itu, sopirku langsung menginjak gas tanpa bertanya lebih banyak. Sedangkan bodyguards-ku mengikutiku dari belakang dengan mobil satu lagi.

Seluruh tubuhku tegang, kepalaku langsung kacau dan aku sangat marah. Apa ini kelakuakn Logan? Atau Castelli? 

Entah siapa yang menculik Sierra, tapi aku pastikan mereka menyesalinya. Mereka benar-benar membuatku marah kali ini.

♦️♦️♦️

Sesampai di mansion. Kakiku melangkah cepat memasuki mansion. Setelah pintu terbuka, di sana, sudah ada Tobias, Lara, Hannah dan beberapa pelayan. Mereka berkumpul di pintu utama. 

Semua mata menoleh ke arahku ketika aku masuk. Aku langsung melangkah ke arah Tobias. 

"Di mana bodyguards yang ikut dengan Sierra?"  tanyaku. Suaraku terdengar begitu rendah, menahan amarah yang aku rasakan saat ini. 

Aku bisa merasakan tatapan khawatir Lara di sebelahku. Tapi aku belum menoleh ke Lara, karena aku yakin mataku sudah begitu tajam sekarang. Aku tidak mau menakutinya. 

"Mereka sedang diobati oleh dokter," jawab Tobias.

Tanpa menunggu lagi, kakiku sudah melangkah lebar ke arah ruangan kesehatan di mansion. Aku bisa mendengar suara langkah di belakangku. Pasti semua mengikutiku di belakangku, tapi mataku tetap terfokus ke depan. 

Ketika aku sampai di depan pintu ruangan kesehatan, tanganku langsung membuka pintu tersebut dengan bantingan keras. Semua yang ada di ruangan kesehatan tersentak kaget mendengar bantingan keras itu.

Aku langsung menemukan tiga bodyguards Sierra, tubuhnya sudah dipenuhi dengan perban. Aku hafal setiap nama mereka. Karena aku yang memilih sendiri siapa yang menemani Sierra. Dan aku memilih yang terbaik untuk adikku. 

Ketika mereka melihatku, wajah mereka langsung pucat. Karena mereka tahu, mereka akan mendapatkan masalah. Aku melangkah ke arah mereka, dan dengan cepat ketiganya langsung berlutut di lantai di depanku.

"Maafkan kami, Boss!"

"Kami gagal melindungi Nona Sierra!"

"Tolong ampuni kami!" 

Aku menggertakkan rahangku dan memutar leherku yang terasa kaku, sampai terdengar bunyi tulang di leherku. Mataku menatap mereka, di situ aku bisa melihat mereka tersentak, sepertinya tatapanku membuat mereka takut karena aku bisa melihat wajah mereka semakin panik.

Rasanya aku ingin mematahkan tulang mereka bertiga ini— tiba-tiba, aku merasakan sentuhan lembut di lenganku. Aku menoleh, dan langsung bertatap-tatapan dengan mata indah istriku yang terlihat khawatir.

Seketika, hawa membunuhku mereda sangat cepat. Hanya tersisa frustasi dan panik. 

Lara mengelus-elus lenganku. "Tenanglah," ucap Lara.

Kemarahanku masih ada, tapi sekarang sudah jelas kalau ini lebih ditujukan kepada siapa pun yang menculik Sierra, bukan kepada bodyguards-nya. Walaupun aku masih sangat kecewa dengan mereka. 

Sepertinya Lara sadar aku sedikit lebih tenang, dia pun merangkul tangannya di lenganku. Dan menatap bodyguards Sierra dengan tenang.

"Ceritakan pada suamiku detailnya, apa yang terjadi," perintah Lara. 

Mendengar Lara memanggilku sebagai suaminya, membuat aku sedikit kaget. Dia tidak pernah memanggilku seperti itu sebelumnya. Kalau aku sedang tidak marah, pasti aku sudah mengangkat Lara ke kamar dan menyetubuhinya di sana. 

Mataku pun ikut menatap bodyguards yang masih berlutut meminta ampun di depanku. Nash, salah satu bodyguards, lebih dulu bersuara.

"Setelah Nona Sierra selesai belanja, kami ke parkiran bersama membawa barang belanjaan Nona Sierra. Tapi sebelum kami sampai mobil, kami diserang sepuluh orang. Kami sempat melawan mereka, tapi jumlah kami kalah banyak. Kami kalah. Setelah itu mereka membawa Nona Sierra," ucap Nash tidak bisa menatap mataku ketika menjelaskan itu. 

Dia terlihat malu tidak berhasil menjaga Sierra. Well, fuck. Mereka memang sepantasnya malu.

Kalau saja Lara tidak menenangkanku tadi, mungkin tonjokanku sudah melayang ke pipinya sekarang. Rahangku menggertak sangat marah. 

"Castelli atau Logan?" tanyaku, suaraku sangat rendah.

"Kami tidak tahu, Boss," jawab Nash, mewakili teman-temannya.

Aku dan Tobias saling tukar pandangan. Tobias menatap Nash. "Apa dash cam-nya dirusak?" tanya Tobias.

"Tidak, sepertinya," jawab bodyguards satu lagi yang bernama Troy.

Tobias menatapku dan berkata. "Aku akan memeriksa dash cam mobil mereka." 

Aku mengangguk setuju dengan ide Tobias. Mungkin kamera di mobil menangkap wajah pelaku dan kami bisa mengidentifikasinya. Atau melihat mobil pelaku.

Ketika Tobias mau keluar ruang kesehatan, Hannah pun bersuara. "Aku temani." Sambil berjalan di sebelah Tobias.

Tobias mengangkat alisnya mendengar itu, tapi dia tidak berkomentar apa-apa. Dia tetap berjalan tanpa menghiraukan Hannah yang mengikutinya di belakang seperti anak anjing.

Mataku kembali menatap bodyguards-nya Sierra. Rasanya aku ingin menghukum mereka karena tidak melakukan pekerjaan mereka dengan benar. Tapi entah kenapa, aku yakin Lara akan menghentikanku.

Mataku menatap mereka bergantian dengan tatapan membunuh. Tapi tidak ada dari mereka yang bisa menatapku balik. 

Sejujurnya, tadi Sierra mau ikut denganku lalu belanja setelahnya. Tapi aku melarangnya, karena setelah memeriksa senjata, aku ada pertemuan dengan keluarga Morretti. 

Mereka akan memberikan bantuan dengan beberapa syarat, kami ingin membahasnya secara tatap wajah. Ini pertemuan penting, dan aku tidak mau mereka memiliki ide seperti mau menjodohkan Sierra dengan putra keluarga Morretti yang lebih tua tiga belas tahun dari Sierra. 

Akhirnya tadi aku menyuruh Sierra pergi dengan mobil berbeda dengan membawa tiga bodyguards terbaik. Aku tidak begitu khawatir, mengingat tempat belanjanya tidak jauh.

Aku tidak mengira mereka akan menemukan lokasi ini secepat ini. Aku berdecak frustasi sambil mengacak-acak rambutku kesal. 

Fuck Castelli. Fuck Logan. Mereka benar-benar pengecut menculik adikku seperti ini.

Tapi mereka tidak akan membunuh Sierra. Aku yakin itu. Karena Sierra bisa menjadi bahan sandera yang berguna untuk melawanku. Mereka ingin membuatku panik, dan ingin mengontrolku.

Tapi, karena mereka tidak akan membunuh Sierra, bukan berarti mereka tidak akan melukainya. Atau bahkan— perutku langsung mual hanya membayangkannya. Membayangkan hal-hal yang bisa mereka lakukan pada Sierra tanpa perlu membunuhnya.

Tanganku mengepal begitu erat sampai aku yakin urat di tanganku menonjol keluar. Mataku melotot membayangkannya.

Tiba-tiba, tangan Lara mengeratkan tangannya yang sejak tadi merangkul lenganku. Aku menoleh, di situ Lara menatapku dengan simpati. 

Dia melepaskan lengannya dan berdiri di depanku. Tiba-tiba dia memeluk tubuhku sambil berkata. "Kita akan menemukannya." Lara mencoba menenangkanku.

Aku sedikit kaget dengan itu. Tubuhnya jauh lebih kecil dan pendek dariku. Tapi anehnya, pelukan itu membuat seluruh tubuhku santai. Seketika aku bisa bernapas, dan kepalaku kembali jernih.

Aku membalas pelukan Lara yang terasa begitu hangat. Aku bisa merasakan koneksi kami yang sangat dalam hanya dari pelukan ini. Aku menghirup wangi Lara ke hidungku.

Iya, aku pasti akan menemukan Sierra. Aku akan menyelamatkan adikku. 

♦️♦️♦️

Tiga hari kemudian.

Pencarian Sierra masih berlanjut. Aku mengerahkan setiap tim melacak keberadaan Sierra. Belum tahu siapa yang menculik Sierra, tapi hanya dua suspect, Castelli atau Logan. Atau mungkin keduanya bekerjasama. 

Entah apa rencana mereka kali ini menculik Sierra. 

Timku sudah mencoba ke kediaman Castelli yang aku ketahui, tapi tidak menemukan mereka. Hanya mansion kosong. Castelli pasti juga memiliki tempat persembunyian. 

Setelah Sierra diculik, aku memindahkan semua keluarga Lara, dan keluargaku ke tempat persembunyian lain di dekat situ. 

Karena musuh sudah beraksi, aku tidak mau meninggalkan Lara sedetik pun seperti kemarin. Walaupun aku percaya Tobias bisa melindungi Lara tidak seperti bodyguards Sierra yang tidak berguna, tapi aku tetap lebih tenang jika bersama Lara.

Sekarang, Lara sedang duduk di ruang makan bersamaku. Aku menunggu kabar dari tim yang aku kirim untuk melacak Sierra. 

Sedangkan aku duduk di meja makan sibuk dengan laptopku, melacak setiap CCTV yang bisa aku retas, untuk mencari mobil yang membawa Sierra kemarin.

Selama tiga hari, hanya itu yang aku lakukan. Melacak lokasi Sierra. Semakin hari, aku semakin gelisah dan panik. Khawatir dengan keselamatan Sierra.

Tapi Castelli mau pun Logan belum juga menghubungiku. Aku yakin mereka merencanakan sesuatu, dan mereka pasti akan menghubungiku cepat atau lambat.

Lara di sampingku, dia menatap layar laptop bersamaku. 

Aku mengambil ponselku untuk menelpon bawahanku. "Coba periksa lokasi yang aku kirimkan padamu," perintahku.

"Baik, Boss!" Lalu aku menutup panggilan itu. Aku menghela napas kasar.

Lara merangkul lenganku, aku menoleh ke arahnya. "Istirahat dulu?" seru Lara. 

Aku menggeleng. "Tidak, aku harus mencari Sierra," jawabku.

"Kau belum makan dari siang, Mark. Sekarang sudah jam delapan malam," ucap Lara terlihat khawatir. 

Aku menyibak rambutku dengan telapak tanganku. Merasa begitu frustasi dengan semua ini. Sejak kemarin aku menyesal tidak membiarkan Sierra ikut denganku. 

Harusnya aku yang menemaninya kemarin. Sierra akan lebih aman denganku.

Fuck. Batinku.

Aku dan Lara hanya berdua di ruang makan. Tobias keluar sejak sore untuk melacak Sierra memimpin tim yang aku kirim.

Semua di rumah tidak ada yang tenang. Semua khawatir dengan keberadaan Sierra. Tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun.

Dante membantuku dengan menggunakan koneksinya untuk mencari Sierra. Dia juga meminta bantuan Kakaknya, Damien Mavros, yang memiliki M.I.A. atau Mavros Intelligence Agency, sebuah agensi mata-mata swasta, untuk melacak Sierra. 

Aku tidak bisa tidur nyenyak sejak kemarin. Aku hanya bisa tertidur ketika aku benar-benar lelah, dan itu hanya tiga jam.

"Aku akan suapkan," ucap Lara. Tanpa menunggu jawabanku, dia sudah berdiri dari kursinya dan menuju dapur untuk mengambil makanan untukku. 

Aku bahkan tidak sempat makan.

Helaan napas kasar keluar dari mulutku. Ku mohon, Sierra, bertahanlah. Kakak akan menemukanmu. 

Sejak kecil, Sierra memiliki tubuh yang lemah dia mudah sakit. Aku selalu protektif pada Sierra dari dulu. Setiap lelaki yang mencoba mendekati Sierra selalu ku hajar. Karena aku tahu niat mereka semua. 

Aku khawatir, sangat khawatir. Fuck.

Tidak lama kemudian, Lara kembali sambil membawa makanan. Dia duduk di sebelahku, dan mendorong laptopku sedikit jauh, agar aku tidak bisa melanjutkan kerjaanku.

Aku menatapnya, beberapa hari ini, Lara merawatku. Padahal seharusnya aku yang merawatnya. Kondisi dia pun juga tidak baik-baik saja sejak kemarin. Dia baru mengetahui kalau Logan dan kembarannya yang melakukan semua itu padanya.

Dia meletakkan piring di meja, dan memotong filet mignon menjadi potongan-potongan kecil. Setelah semuanya sudah dipotong, dia menusukkan daging itu dan menyuapkannya ke arahku.

"Makan," ucap Lara.

Hatiku pun terasa hangat dengan perlakuan Lara yang sangat mempedulikanku. Aku pun membuka mulutku dan membiarkan Lara menyuapiku. Mataku tidak bisa terlepas sedikit pun dari istriku ini.

Akhirnya aku pun makan dalam diam. Menikmati Lara menyuapiku seperti ini.

Setengah jam kemudian, aku selesai makan. Lara mengajakku meminum wine di kamar. Aku tahu dia sengaja agar membuatku lebih relax. Karena tiga hari ini aku benar-benar tidak bisa santai.

Sesampai di kamar, kami duduk di sofa kulit yang ada di kamar. Lara menuangkan wine ke gelasku. Sedangkan gelasnya berisi jus jeruk. 

Kami memutuskan Lara sebaiknya jangan minum alkohol dulu untuk sementara waktu. Karena kami mengharapkan anak. 

Dia memberikan gelas wine padaku, lalu dia bersandar padaku sambil memegang gelasnya. 

Tanganku langsung melingkar di pinggangnya, kepalanya di dadaku. "Bagaimana denganmu? Apa kau sudah baik-baik saja?" tanyaku. 

Dia menoleh padaku. Di situ aku bisa melihatnya matanya melembut, lalu dia mengangguk.

"Semua berkatmu," ucap Lara. Lalu dia kembali meletakkan kepalanya di dadaku sambil meminum minumannya.

Aku tersenyum kecil. "Aku bahkan tidak melakukan apa-apa," ucapku, mulai meminum sedikit wine itu. 

Iya, aku terlalu sibuk mencari Sierra beberapa hari ini. Sampai aku lupa memberikan perhatianku pada Lara.

Kali ini Lara duduk tegak dan menatapku. "Apa maksudmu kau tidak melakukan apa-apa? Aku tahu kau sangat ingin keluar mencari Sierra bersama Tobias, tapi kau tetap di sini bersamaku," ucapnya.

Oh, jadi dia menyadarinya. Batinku. Tapi aku tidak sebodoh itu meninggalkan Lara. 

Dia meletakan gelas di meja, lalu tiba-tiba, dia naik ke pangkuanku membuat aku kaget. Dia melingkari tangannya di leherku. Mata kami terkunci. 

"Aku mencintaimu, Mark."

Mataku mengerjap. Biasanya selalu aku yang menyatakannya duluan, dan baru Lara membalasnya. Tapi kali ini dia yang menyatakannya duluan. Euforia langsung aku rasakan di sekujur tubuhku.

Tanganku masih memegang wine, akhirnya aku meneguk habis wine itu dan meletakkannya di meja di sebelah sofa. Kali ini tanganku melingkari pinggangnya. 

"Aku lebih mencintaimu," jawabku sambil menatap wajah cantiknya. Jarak antara wajah kami begitu dekat.

Hanya ada keheningan yang begitu nyaman di antara kami. Entah berapa lama kami di posisi itu tanpa melakukan apa-apa. Lara menekankan dada besarnya itu di dadaku membuat aku bisa merasakan ketika dia bernapas. Setiap dia di dekatku, aku merasa begitu hidup.

Seluruh indraku pun semakin tajam untuknya.

Tubuhku semakin santai setelah aku meminum wine dan Lara di pangkuanku. Semua hampir sempurna. Hampir. Karena saat ini aku masih memiliki kekhawatiran mengenai keberadaan Sierra.

Lara memegang rahangku, mengecup bibirku lembut dan berkata "Semua akan baik-baik saja." Sambil mengelus rahangku dengan tangan lembutnya.

Aku harap begitu. Batinku. Aku harap mereka tidak akan melakukan hal-hal kotor yang bisa mereka lakukan pada Sierra selama menahannya. 

Tanganku di pinggang Lara semakin erat. Aku merasa bersyukur memilikinya—dia satu-satunya yang membuatku tetap waras di tengah semua kekacauan ini.

Jika Lara tidak menenangkanku, mungkin aku sudah membakar apa pun di hadapanku.

Bibirku mengecup lehernya, lalu menghirup wangi Lara. Wanginya sangat manis dan memabukkan. Aku bisa merasakan tangan Lara di belakang kepalaku dan dia mengelusnya.

Tiba-tiba, aku merasa kantuk mulai menyerangku. Mungkin ini karena aku hanya tidur dua jam semalam. Seharian di depan laptop dan selalu update dengan perkembangan tim melacak Sierra.

Tiga hari ini sangat melelahkan. Tapi aku tidak mau menyerah. Ini baru tiga hari. Sierra adalah satu-satunya adikku. Walaupun aku tidak pernah menyatakannya, tapi aku menyanyanginya.

"Aku merasa gagal melindunginya," aku akhirnya mengakui.

Lara mundur, sehingga mata kami kembali bertemu. Di situ mata Lara terlihat turut sedih padaku. "Kau tidak gagal, Mark," ucap Lara.

"Aku gagal. Sierra terculik karena aku gagal melindunginya. Seharusnya hari itu aku ikut bersamanya," seruku sambil berdecak kesal. Setiap mengingat itu aku kesal. Kesal pada diriku yang terlalu lengah.

Lara terdiam mendengar itu. Tangannya di rahangku. Kali ini dia mengelus-elus rahangku tanpa mengucapkan apa-apa. Seperti sengaja melakukan itu untuk menenangkanku. Tapi ku akui. Itu selalu berhasil.

"Bagaimana pun, semua itu di luar kendalimu. Jangan salahkan dirimu dengan sesuatu di luar kendalimu," ucap Lara lembut.

Aku bukan tipe orang yang membutuhkan seseorang untuk mengucapkan kalimat menenangkan agar merasa lebih baik. Biasanya, kata-kata seperti itu tidak berpengaruh padaku. Tapi, jika kalimat itu diucapkan oleh Lara, aku bisa merasakan ketenangan dalam diriku dan dapat mempercayai setiap ucapannya.

Aku merasa kantukku semakin berat dari menit ke menit. Tanpa aku sadari, beberapa menit kemudian, aku pun tertidur.

♦️♦️♦️

Aku membuka mataku yang terasa begitu berat. Aku ketiduran. Beberapa hari ini aku selalu ketiduran karena selalu kelelahan mencari Sierra. 

Tapi kenapa kamar ini begitu gelap? Aku mencari lampu yang harusnya ada di sebelah sofa yang ku duduki. 

Ketika aku menyalakan lampu tersebut, aku tidak melihat Lara di mana pun. Apa Lara di kamar mandi? Fuck, jam berapa ini? Aku harus menelpon Tobias.

Ketika aku mau menoleh ke jam dinding, mataku menangkap benda tidak asing yang tergeletak di meja di depanku. Alisku mengerut. Aku mencoba memfokuskan mataku yang masih buram karena habis bangun tidur. 

Ketika mataku sudah fokus, aku semakin bingung melihatnya. Karena itu adalah collar dan cincin Lara. Tergeletak dengan sebuah kertas di sampingnya, aku mengambil kertas itu dan membaca isinya. 

Aku pergi. Jangan cari aku. 
- Lara

Seketika seluruh tubuhku langsung terbangun membaca itu. Aku berdiri dari sofa, lalu langsung menuju kamar mandi dan membuka pintunya.

Tidak ada Lara.

Aku langsung keluar dari kamarku, mencengkram kertas itu sambil menatap sekelilingku mencari Lara. Aku berlari ke dapur, living room dan tempat yang biasa Lara datangi.

Tapi aku tidak melihatnya di mana pun.

Aku langsung meraih telpon rumah yang ada di dekatku dan menelpon para penjaga. "Cari Lara! Ini perintah untuk semua penjaga, temukan istriku!" bentakku, kepanikan mulai menggerogotiku.

Sepertinya ini sudah pagi, aku bisa melihat dari jendela besar kalau langit di luar sudah mulai cerah. Artinya, aku tidur lebih dari tiga jam. 

Tapi seluruh tubuhku lemas, aku tidak berenergi sedikit pun, jantungku berdetak sangat cepat. Aku berharap semua ini hanya permainan Lara untuk prank aku.  

Setelah entah berapa lama mencari, salah beberapa penjaga akhirnya menghampiriku dan melaporkan. "Boss, kami tidak menemukan Nyonya di mana pun." 

Butuh beberapa detik mencerna kalimat itu. Tidak, tidak mungkin. 

"Cari lagi!" bentakku, menatap tajam ke wajahnya.

Para penjaga itu hampir terloncat mendengar suaraku yang membentak. Dalam kepanikan, mereka segera bergegas untuk mencari Lara sekali lagi.

Aku menatap kertas yang aku cengkram sejak tadi, membaca ulang kalimat itu, berharap menemukan petunjuk.

Tapi... Tulisan ini. Aku mengenali tulisan ini... Ini seperti tulisan tangan Lara? 

To Be Continued

🍀

Target komentar : 5.6K!

Kalau komenya sampai, aku akan update kamis. Kalau tidak sampai, aku update jumat!(Kalau ada perubahan update lebih cepat, aku akan post di broadcast channel! Klik link di bio profile wattpad-ku ya. Atau ke Instagram : author.yessynutami)

THANK YOU!

🍀

Continue Reading

You'll Also Like

874K 74.6K 72
Cerita pertama! Tahap revisi (Boleh follow dulu gak sebelum baca? Hehe) Setelah baca cerita ini, wajib lanjut Lubna dan effort. Hati-hati pusing saa...
7.1M 343K 103
🔞⚠️WARNING! ADULT-DARK ROMANCE MATURE TOXIC STORY! BERADEGAN KEKERASAN⚠️🔞 [END] Tidak ada yang lebih buruk bagi Kristal Damara Lancaster, dari diba...
1.8M 146K 61
{Dark Romance} Setiap orang pasti memiliki masa lalu, entah itu tersimpan kenangan yang baik atau buruk. Namun bagi Fransisco Salvatore, masa lalu te...
51.9K 1.5K 25
Bagaimana jika di dunia ini benar-benar ada seorang mafia yang memiliki obsesi terhadap gadis kecil? Katakan itu mustahil. Katakan itu tidak masuk ak...
Wattpad App - Unlock exclusive features