Setelah mendapat panggilan telepon dari Ferdinand, Arlan bergegas menuju tempat yang dikatakan oleh pria itu. Tentu saja ia tidak menaruh curiga sedikitpun, yang terpenting ia menemukan cucunya, Ruisha satu - satunya yang berharga yang ditinggalkan putrinya untuknya.
Ditemani satu orang kepercayaannya ia melajukan mobilnya hingga tiba di sebuah tempat sesuai dengan arahan Ferdinand tentunya.
Setelah tiba disana ia masuk ke sebuah rumah cukup besar, banyak pintu dan tangga, suara Ferdinand menggema membuatnya sedikit terkejut
"Arlan kau benar - benar datang?"
"Ruisha" ucap Arlan saat melihat tampilan layar, cucunya sedang menangis ditenangkan anak laki - laki di sampingnya.
"Kau ingin menemuinya?"
"Tentu saja tidak perlu kau tanyakan padaku brengsek, beritahu aku dimana kau sembunyikan cucuku!"
"Tak perlu emosi seperti itu, bisakah untuk santai sedikit bukankah kita adalah partner?"
"Sialan, jangan membuatku semakin emosi Ferdinand, katakan saja dimana kau sembunyikan cucuku, aku benar-benar tidak peduli dengan anak yang lainnya, yang terpenting kembalikan cucuku padaku!" ucap Arlan penuh penekanan.
"Kau harus mengikuti apa yang ku katakan, jika kau ingin bertemu cucumu"
"Katakan apa yang harus aku lakukan, Ferdinand jangan coba - coba kau mempermainkanku!"
"Kau tak bisa lagi menekanku seperti dulu, kau yang sekarang harus tunduk pada perkataanku, jika kau tidak mau ya ucapkan selamat tinggal pada cucu kesayanganmu itu, anak itu akan menyusul ibunya"
"Tidak, jangan coba - coba kau melukai cucuku, Shasha bantu Papa Sha"
"Bodoh kau meminta putrimu membantunu, jelas sekali jika putrimu masih hidup ia akan sangat kecewa melihat hal ini terjadi, sudah kubilang putrimu tau yang kau lakukan, meski tak seluruhnya termasuk pernikahannya, kau buat semua seakan - akan milikmu, kau mencoba membuat semua orang dalam kendalimu, tidak tuan Arlan yang terhormat, tak semua hal bisa kau dapatkan dengan mudah" ucap Ferdinand melalui pengeras suara.
"Aku sudah membawa yang kau mau, uang dengan nominal yang kau minta, bahkan jika kurang aku sanggup memberikan nominal berapapun nilainya untukmu, asalkan kau tidak melukai cucuku, Ruisha satu-satunya yang berharga yang putriku tinggalkan, jadi aku mohon kembalikan ia padaku"
"Bagus jika kau menyiapkannya, kau pikir kau bisa menyogokku dengan uang harammu itu? Arlan aku bukan anak kecil yang menangis dan diam saat diberi balon atau permen aku tak segila itu pada hartamu" ucap Ferdinand
Membuat Arlan mengepalkan tangannya. Bisa - bisanya Ferdinand membuatnya tak berkutik seperti ini.
"Cukup ikuti aturan main yang kubuat, jika kau benar - benar menginginkan cucumu dalam keadaan hidup"
"Baiklah, aku akan mengikuti aturan yang kau buat, katakan apa yang harus aku lakukan sekarang" ucap Arlan kesal
"Pertama suruh orang - orangmu untuk keluar dari rumah ini, kau hanya boleh sendirian untuk masuk menemui cucumu"
"Kalian keluarlah, biarkan aku sendiri"
"Tapi Tuan—"
"Aku akan menghubungi kalian jika terjadi sesuatu" ucap Arlan lagi
Dan sepeninggal orang kepercayaannya, Arlan mulai melakukan semua yang di katakan Ferdinand hingga ia masuk ke sebuah ruangan yang ia harapkan cucunya berada di sana.
Namun yang ia temukan adalah Ruanth, yang nampak bersandar pada tembok, entah apa yang terjadi padanya ia tidak peduli. Dan akhirnya ia baru menyadari bahwa ia sedang dipermainkan oleh Ferdinand.
Ferdinand tak menampakkan wajahnya membuat Arlan semakin kesal, ditambah dengan pria itu mencoba mempengaruhi Ruanth dengan membuatnya seolah menjadi dalang dari penculikan anak - anak meskipun kenyataannya benar ia tak mau disalahkan sepenuhnya karena yang pada akhirnya mengeksekusi rencana adalah Ferdinand itupun tidak sesuai dengan kesepakatan rencana yang sudah disusun sejak awal. Ia juga adalah korban, karena Ferdinand mengkhianatinya dengan membawa Ruisha bersamanya.
Melihat ruangan ini, sepertinya Ferdinand sengaja membawanya kemari dan bertemu dengan Ruanth. Sejak awal lelaki itu tahu ia tidak begitu suka dengan mantan menantunya itu. Arlan masih teringat kematian putrinya jika melihat Ruanth. Kalaupun ia terlihat baik pada ayah Ruisha itu hanya luarnya dalam hatinya masih menyimpan amarah besar padanya.
Arlan tak percaya jika Ruanth lebih mempercayai perkataan Ferdinand, merasa tersudut akhirnya Arlan membalikkan keadaan dengan menekan Ruanth dan ia selalu bisa berhasil membuat Ruanth takluk dalam kendalinya hanya cukup dengan membawa nama putrinya ia bisa membuat kacau Ruanth seketika.
Terbukti dengan saat ini tangan Ruanth terlihat gemetar dan menahan amarah, kalimat yang dilontarkan Ruanth cukup menyulut amarahnya.
Hingga Arlan meluapkan semua kekecewaannya selama ini pada mantan menantunya itu. Ia kembali menodongkan senjata ia juga membawa pistol yang satunya untuk diberikan kepada Ruanth. Membuat Ruanth semakin tertekan dan sulit dengan memberikan dua pilihan untuknya.
"Pilih tembak aku atau dirimu sendiri?" ucapnya
Dan ia sudah bisa menebak apa yang akan dipilih oleh Ruanth. Saat Ruanth mengarahkan pistol yang ia pegang kearahnya.
Arlan tersenyum miring karena dugaannya tidak meleset namun sedetik kemudian Ruanth membalikan arah pistolnya pada pelipisnya.
Mata keduanya bersitatap masing - masing saling menunjukkan lukanya, Arlan menutup matanya hanya sekejap lalu membuka matanya kembali. Ia bisa melihat putrinya memeluk Ruanth erat berharap hal itu tidak Ruanth lakukan putrinya menatapnya dengan tatapan sendu padanya seperti meminta bantuan atas dorongan itu Arlan sedikit beranjak mencoba merebut pistol itu.
"Bodoh!"
Ada sedikit perlawanan dari Ruanth ia tak mau melepaskan senjata yang dipegangnya ya tembakan tak bisa terhindarkan. Senjata itu masih dipegang Ruanth. Ruanth baik - baik saja namun Arlan mendapatkan luka pada bagian lengannya peluru yang Ruanth tembakkan memang meleset tapi itu melukai lengan kanan Arlan.
"Akhh"
"Bodoh, bagaimana bisa kau semudah itu ingin menghilangkan nyawamu sendiri, sial kalau bisa sudah sejak dari dulu aku menghabisimu, tapi karena Shasha aku tak bisa melakukannya. Aku menghentikanmu bukan karena aku simpati padamu, tapi aku ingin kau menderita lebih lama! Akan kupastikan mengambil hak asuh Ruisha setelah dia kutemukan takkan kubiarkan cucuku bersama orang gila sepertimu, PEMBUNUH!" tekan Arlan pada Ruanth.
"Ingat, aku akan mengambil Ruisha darimu, akan kupastikan hak asuh kembali pada Shasha ibunya, kau tak pantas jadi ayahnya!"
Arlan beranjak meninggalkan Ruanth yang termangu saat mendengar suara derap langkah seseorang. Ruanth menatap pistol yang dipegangnya, mencerna peristiwa yang baru saja terjadi, nafas tak beraturan keringat mengucur deras, ia mencoba memahami mengapa Arlan begitu membencinya.
.
Natalie memejamkan matanya ia untuk menetralisir perasaannya malam ini, belum ada kejelasan tentang Ruisha sekarang ditambah dengan keadaan Ruanth yang lebih buruk dari sebelumnya. Tak terasa cairan bening dari matanya luruh turun ke pipinya. Ruanth sudah diberi obat penenang, dan akhirnya bisa terlelap tidur sekarang.
"Nata, kamu belum tidur?". Natalie menggeleng sebagai jawaban, ia lelah namun matanya sama sekali tak bisa terpejam.
"Nata belum ngantuk bun". Jawaban Natalie membuat Welinda semakin merasa bersalah.
"Bunda temenin boleh?" dan Natalie mengangguk sebagai jawaban.
Welinda menatap wajah putranya, wanita keturunan Chinese itu tidak menyangka keadaan putra bungsunya menjadi seperti ini. Ia mengenggam tangan Ruanth erat.
"Ru—"
Welinda mengusap pelan jari jemari Ruanth.
"Kok iso kamu jadi begini nduk, Bunda gak bisa liat kamu kayak gini, Bunda gak bisa–Nata, dia tidak seperti ini dulu dia selalu bercerita apapun yang dialaminya"
"Bunda tidak mengerti sejak kapan Ruanth bisa bersikap seperti ini, Nata dia berubah banyak setelah kejadian itu pernikahannya dengan Shasha, bunda tahu dia tidak merasa bahagia saat itu, bunda tahu saat itu dia terpaksa, demi bunda dia pertaruhkan semuanya"
"Sejak awal menikah dengan ayah, bunda memang tidak disukai oleh nenek Sofia, latar belakang bunda yang hanya gadis penjual bunga, bukan dari kalangan berada seperti ayah dan keluargamu, lalu kami menikah dengan syarat yang sudah ditentukan, semua harus menuruti aturan yang nenek Sofia buat"
"Sejak saat itu, keluarga kami sudah hidup dalam kekangannya, Windura yang dipaksa kuliah bisnis, namun Windu lebih menyukai seni seperti ayahnya dan beliau sudah memilih kandidat sendiri yang menjadi jodoh cucunya kelak tentunya yang menguntungkan dari segi bisnis"
"Kamu mungkin sudah tahu bagaimana keras kepalanya nenek Sofia, ibu selalu membawa nama bunda untuk mengancam Windu dan Ruanth"
Natalie hanya terdiam mendengarkan cerita mertuanya ia sendiri tak tahu merespon seperti apa.
"Bunda marah besar sama ayah waktu tau kalau Ruanth dijodohkan dengan orang lain selain kamu, lagi hal yang sama dialami Windu terjadi pada Ruanth, kami bertengkar hebat saat itu, karena hanya untuk melindungi bunda mereka mengorbankan banyak hal"
"Jujur, hati bunda sangat sakit saat Ruanth menyetujui perjodohan itu, bunda dan ayah sudah mencoba berbagai cara bahkan lewat Om Julian, karena kami tahu ibu gak akan pernah nolak permintaan putra kesayangannya itu. Tapi nenek tetep bersikukuh"
"Di awal bunda sempat menolak kehadiran Shasha, namun rasanya tak adil juga untuknya karena bunda pernah merasakan hal itu, perlahan waktu demi waktu bunda bisa menerima Shasha di keluarga ini"
"Dia sama baiknya dengamu Nata, namun perbedaannya adalah kamu sedikit lebih berani sedangkan Shasha sangat pemalu"
"Nata, bunda sudah anggap kamu seperti putri bunda sendiri, maafkan bunda, semua yang terjadi pada Ruanth tak terlepas karena bunda, bunda minta maaf benar - benar minta maaf, ini pasti menyakitkan bagi kamu, maafkan bun—"
"Bunda udah, gak perlu kayak gini, semuanya udah di gariskan, tidak ada yang tahu takdir Tuhan, bunda lihat sejauh apapun Nata sama kak Jun akhirnya Tuhan tetap mempersatukan kita, hati Nata gak karuan hari ini terlebih liat kak Jun kayak gini, Nata gak tau mesti gimana kalau boleh jujur bunda Nata bingung dengan semua yang terjadi, Nata harap ini cuma mimpi—" Natalie menangis sejadinya ia sudah tidak kuat menahan semuanya.
Welinda melepas genggamannya pada Ruanth beralih memeluk menantunya. Natalie menangis dalam dekapan Welinda.
"Bun, kak Jun bilang dia cinta sama kak Sha, bun dia minta ijin Nata untuk mencintai kak Sha, Nata harus jawab apa?"
"Munafik, kalo Nata bilang Nata baik - baik aja faktanya hati Nata sakit bun, Nata udah kasih semuanya buat kak Jun cinta yang Nata punya nyatanya Nata gak bisa dapatin itu dari kak Jun seutuhnya"
Welinda tak bisa berkata apa - apa, ia memilih menenangkan Natalie. Welinda merasa semakin sedih melihat keadaan putra dan menantunya itu. Ruanth yang sudah berubah, dan Natalie yang harus terbiasa dengan luka.
.
Winter terbangun, sekarang sepertinya masih gelap terlihat dari jendela kecil, gadis kecil itu terbangun karena merasa lapar.
"Lapel, Wintel lapal sekali"
Winter melirik Jeman yang masih tertidur di sampingnya. Ia tidak berani membangunkan anak lelaki itu karena Jeman terlihat lelah sekali. Tapi perutnya terus berbunyi. Ia mencari keberadaan wanita dewasa yang menemani keduanya tidur.
"Tante Liyu—"
Gadis itu memanggil nama Ryuna, namun sepertinya Ryuna tidak berada disana. Winter jadi merindukan kedua orang tuanya, biasanya jika ia terbangun seperti ini ia akan membangunkan Jaendra atau Wilana. Winter kembali duduk di samping Jeman, moodnya sangat buruk jika lapar.
Tak lama ia mendengar langkah kaki mendekat ah, mungkinkah itu Ryuna membuat Winter tersenyum, ia ingin meminta sedikit makanan pada Ryuna.
Namun kenyataannya yang ia lihat bukanlah Ryuna melainkan Mitha, membuatnya cepat - cepat membangunkan Jeman.
"Jeman bangun, Jeman bangun ada tante gila" ucap Winter menggoyang goyangkan badan Jeman.
Eunghh
"Kenapa Winter?"
"Ada tante galak" jawab Winter
Jawaban Winter membuat Mitha melotot.
"Selem matanya kayak mau kelual" bisik Winter pada Jeman.
"Hushh! diem Winter nanti kedengeran tantenya" ucap Jeman
"Tante gila mau apa lagi, jangan bikin mood Wintel makin jelek kalena Wintel lagi lapel" ucap Winter dengan berani
"Heh bocah sialan, lo tuh ya gak ada takut - takutnya sama gue" ucap Mitha sambi melipat tangan di dada
"Nyenyenye, halus gitu Wintel takut? Oh tentu tidak hih pelut jangan bunyi - bunyi huh Wintel lapel" ucapnya sambil memegang perutnya
"Tante gila, Wintel mau ayam goleng"
"Ayam goreng? engga lo tuh lagi gue culik jangan banyak mau heran ada aja yang di request"
"Pelit! Huaaa lapel Papa Mama Wintel lapel huaaaa" Teriaknya dengan kencang membuat Jeman dan Mitha menutup telinganya, terimakasih Kibay dan Niya sudah mewariskan suara nada tingginya pada Winter meski sedikit cempreng.
"Berisik! Diem atau lo yang gue bikin jadi ayam goreng!"
"Wintel manusia bukan ayam" ucapnya lagi kalau ini fix tidak bisa diragukan lagi anaknya Papa Jaendra karena pintar membantah seperti papanya.
Mitha tak mau berlama - lama di tempat ini kepalanya bisa pecah berdebat dengan anak perempuan Jaendra itu, ia memaksa gadis kecil itu meminum susu mau tak mau Winter meminumnya meski sedikit.
Winter melirik Jeman mau tidak mau ia harus meminum susu itu semoga saja alerginya tidak kambuh.
"Kamu gak boleh minum kamu kan aler–gi"
"Winter beneran kamu minum? Kalau sakit bagaimana?"
"Tidak apa - apa Jeman Wintel hanya minum sedikit, Wintel juga lapel" ucapnya sambil memberikan sisanya pada Jeman.
"Habisin Jeman sayang kalau tidak habis siapa tau besok kita gak dikasih makan lagi kayak tadi"
Jeman masih terlihat khawatir sudah dua hari mereka disini, namun sepertinya belum ada tanda - tanda keluarga keduanya menemukan mereka.
"Jeman, Papa sama Mama pasti lagi cali Wintel kan?"
"Hmm, mereka pasti lagi cari kita Winter"
"Wintel kangen sama papa mama Wintel"
"Jangan khawatir ya mereka pasti nemuin kita, kita juga harus hati - hati Winter tidak boleh asal bicara seperti tadi, tante itu terlihat marah sekali"
"Emangnya kenapa?"
"Kalau kita beneran digoreng kayak ayam gimana? Kita gak bisa ketemu orangtua kita lagi"
Ucapan dari Jeman membuat Winter tertawa.
"Jeman pelcaya?"
"Hmm"
"Wintel yakin meleka gak akan belani, kita gak boleh keliatan takut Jeman meleka bakal seneng kalo kita takut"
"Winter tidak takut sama sekali?"
"Takut, tapi kata mama Wintel halus belani"
"Iya sih tapi kita juga harus hati - hati Winter!"
"Iya Jeman, celewet sekali"
"Itu ada kaca ngaca dulu sana!"
"Jangan malah, anak tampan tidak boleh malah"
"Sudah lebih baik kita tidur, apa kamu tidak mengantuk?"
"Kenapa Jeman tidak balas"
"Balas apa?"
"Bilang Wintel cantik" ucap Winter memanyunkan bibirnya sedikit kesal
"Tidak mau"
"Kenapa? Kenapa tidak mau bilang Wintel cantik?"
"Wintel jelek"
"Jeman"
"Matanya mirip kayak tante tadi"
"Bilang dulu Wintel cantik"
"Wintel jelek" ucap Jeman
"Aefal Jemanio Satlya"
"Arunaya Winter Marshall cantik"
"Apa tadi?"
"Winter cantik."
"Gitu dong dali tadi"
Winter jika sudah begini mirip mamanya.
Ryuna terlihat gelisah, tatkala salah satu dari dua anak bersamanya tengah terbaring dan demam. Pasalnya anak itu baru saja dipaksa minum susu oleh Mitha kemarin malam.
"Anjing, harus banget sakit segala?"
Winter hanya meminum sedikit namun dampaknya luar biasa. Winter demam dan sedikit sesak nafas jelas membuat Ryuna panik.
Uhuukk
"Mama—"
"Papa—" ucap Winter pelan
Ryuna kesal bukan main pada Mitha. Gadis itu terlihat menahan amarah saat berhadapan dengan Mitha.
"Anjing lo ya! Gila lo ya!"
"Stop maki maki gue bisa?"
"Gak!"
"Tuh anak sakit, demamnya tinggi banget gak bisa cuma pakek kompres gila bisa mati tuh anak!"
"Emang gue peduli?" ucap Mitha dengan santai
"Lo stres, kalo jadi pembunuh jangan ajak - ajak gue meski gue gak suka anak kecil gue gak kepikiran sampe mau habisin nyawa anak orang, anjing gue aja udah buronan apalagi tambah ini makin berat hukuman gue entar, gue gak mau terlibat Mitha!" ucap Ryuna
"Berisik!"
"Lo mending keluar urus tuh anak, cuma demam biasa paling entar juga turun"
"Sialan, gue muak berurusan sama lu ya Mitha lo bener - bener iblis, gue bakal pastiin dua bocah itu selamat!"
"Ngaca anjing lo juga sama aja, sudah sana keluar gue mau istirahat puyeng kepala gue denger ocehan gak berguna dari mulut lo!"
Ryuna keluar dari ruangan Mitha dengan sumpah serapah dan umpatan pada gadis itu.
"Argghh, kenapa gue harus kejebak disni sama dia sih"
Ryuna menghela nafasnya dan menghembuskannya berulang kali untuk menetralisir amarahnya.
"Anj—ing, lo bisa gak sih gak ngagetin gue sekali aja?" ucap Ryuna yang terkejut dengan kehadiran orang kepercayaan ayahnya.
"Maaf, saya hanya menjalankan tugas memastikan anda baik - baik saja nona"
"Ada stok bahan makan disini?"
"Ada, jika kau lapar saya bisa buatkan sesuatu"
"Nah bagus! Bikin bubur buat dua bocah itu, yang cewe lagi demam lo punya stok obat juga ga?" tanyanya lagi
"Saya tidak punya nona"
"Lo punya ijin akses keluar kan?"
"Ya—"
"Ssssstt, jangan sampe cewe iblis itu tau, kita harus bawa dia keluar dari sini demamnya gak turun, dan dia ngigo, gue mau bawa mereka keluar dari sini lo bantuin gue"
"Maaf untuk itu saya tidak bisa"
"Anjing, jangan bikin gue kesel tuh anak bisa mati kalau gak dibawa ke dokter"
"Lo gak perlu khawatir bokap gue gak akan mecat lo, gue pastiin bela lo depan bokap gue"
"Baiklah, saya buatkan buburnya dulu"
"Gitu kek dari tadi elah"
Natalie menghela nafas panjang ia baru saja membawa nampan berisi makan siang untuk Ruanth namun ditolak mentah-mentah oleh suaminya itu. Sejak pagi Ruanth mengabaikan dirinya, bahkan sarapan yang ia bawakan masih terlihat utuh tak tersentuh.
"Kak Jun, udah waktunya makan siang Nata bawa makanan baru makan ya?" ucapnya menaruh nampan itu dekat Ruanth.
Respon yang tidak diharapkan Natalie, Ruanth hanya menatap makanan itu sekilas kembali menatap jendela dengan tatapan kosong.
"Kak Jun dengerin Nata gak sih?"
"Gak laper"
"Sebenarnya kak Jun tuh kenapa? Aku ada salah? Aku gak ngerti kenapa kamu bisa kayak gini sebenarnya apa yang terjadi?"
"Jawab dong jangan diem aja, Nata gak paham, Nata gak tau harus kayak gimana hadepin kak Jun kayak gini jangan diem kayak gini"
Natalie kembali berurai air mata, tangisnya kembali pecah, ah menyebalkan menjadi cengeng seperti ini.
Ruanth kembali menaruh perhatian pada Natalie. Natalie sudah sedikit meraung tidak ingin membuat suasana semakin kacau ia menarik Natalie masuk kepelukannya.
"Maaf"
Lagi hanya kata itu yang Natalie dengar, tak ada penjelasan apapun mengenai hal yang terjadi kemarin, bagaimana bisa suaminya itu bisa pulang dengan keadaan kacau, lalu bagaimana dengan pencarian Ruisha dan yang lainnya, ia tidak paham mengapa Ruanth seperti menyembunyikan sesuatu, dan mengapa rasanya seperti ia tak mengenal Ruanth banyak tanda tanya dalam benaknya yang jelas Ruanth berubah. Ruanth sekarang bukan Ruanth yang ia kenal dulu.
Kak Juna–nya berubah banyak.
.
Suho baru saja menghubungi sang adik Kuncoro, ia menanyakan kondisi ibunya saat ini untungnya Kuncoro bilang bahwa ibu mereka dalam kondisi yang baik meski kesehatannya sedang menurun.
Suho tidak bisa menunggu lebih lama tentang kejelasan hubungan keluarganya dengan Arlan. Masih banyak yang belum ia ketahui dan ia harus memastikan ini terlebih dahulu untuk mengambil tindakan selanjutnya ia tak mau lagi gegabah lawannya tak lagi hanya Ferdinand namun juga Arlan.
Kini ia bersama Airin sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal orangtuanya. Ia melirik sang istri yang terlihat hanya memandangi gelas kopi yang dipegangnya.
"Sayang, kenapa kopinya cuma diliatin aja?". Pertanyaan dari Suho membuat Airin sedikit tersentak. Suho tersenyum istrinya tak berubah sama sekali, ia selalu suka membuat Airin terkejut seperti ini. Ekspresi yang ditampilkan Airin tak pernah gagal membuatnya ingin tertawa. Ah, Suho beruntung mendapatkan Airin sebagai pendamping hidupnya. Airin menerimanya tulus meski selera humornya buruk.
"Hah?"
"Kamu kenapa sih dari tadi bengong, kopinya udah keburu dingin" tanya Suho
"Kepikiran Nata"
"Ada Welinda, kamu gak perlu khawatir"
"Justru itu, aku gak tau gimana jelasinnya Mas"
"Ada apa? Coba cerita sama Mas, apa yang bikin kam—"
"Aku cemburu dengan Welinda ah tidak aku iri melihat kedekatan mereka"
"Aku ngerasa akhir - akhir ini Nata lebih tertutup, aku ibunya aku tahu dia lagi gak baik - baik aja, tapi dia slalu menghindar setiap aku tanya tapi— sama Welinda dia beda" ucap Airin dengan nada sedikit bergetar menahan tangis
"Apa yang membuat kamu beranggapan seperti itu sayang?"
"Aku tahu ini kekanakan dan tidak pantas tapi kenapa aku selalu merasa Natalie lebih bisa terbuka pada Welinda ketimbang aku Mas, semalam aku lihat dia menangis di pelukan Welinda, dadaku sakit melihatnya, Natalie selalu terlihat baik - baik saja di depanku tapi bersama Welinda dia bisa menumpahkan air matanya"
"Ma, aku gak apa - apa, Nata baik - baik aja—tapi sama Welinda dia mau cerita tentang perasaannya, aku gak mau paksa aku nunggu dia cerita tapi nyatanya Welinda selalu jadi yang pertama tahu"
"Oke aku paham, dan kamu merasa Natalie pilih kasih antara kamu ibunya dan Welinda ibu mertuanya begitu?"
"Mas, harusnya aku gak boleh begini kan?"
"Kamu tahu dari ketiga anak kita, Natalie paling manja sama kamu kan? Katrina bahkan sering protes, tapi kamu menyayangi keduanya pastinya, sama halnya dengan Natalie, kamu ibu kandungnya dan Welinda adalah ibu mertuanya, Natalie sangat menyayangi kalian berdua—"
"—kalaupun Natalie terlihat akrab dengan Welinda bukankah itu bagus? Sayang anak kita sudah menikah, mereka juga punya privasi kita gak tau mungkin itu berhubungan dengan Ruanth dan Welinda pasti lebih paham tentunya"
"Dan sebaliknya jika ada masalah dengan Natalie, Ruanth yang bercerita pada kita karena kita yang paham bagaimana Natalie kan?"
"Kita tidak bisa lagi jauh mencampuri mereka, mau pertama atau terakhir tau yang terpenting saat ini kita mendoakan yang terbaik untuk keduanya, terlebih anak - anak belum di temukan mungkin bisa saja Natalie tidak ingin masalahnya makin memperumit situasi saat ini, apapun masalah yang mereka hadapi sekarang itu ujian pernikahan mereka"
"Jangan salah paham aku tidak membela siapapun, menurut mas ini soal situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan Nata untuk bercerita Ma, jangan merasa seperti itu lagi ya sayang, kamu paham kan?" ucap Suho membuat Airin mengangguk paham
"Mas, gak khawatir?"
"Khawatir tentu ada, tapi dibanding Natalie beberapa tahun ke belakang, bukankah ini lebih baik? Dia mau bercerita tidak seperti saat ia ditinggal Ruanth menikah dulu bahkan kita harus membawanya ke psikolog bukan?"
"Iya, terimakasih ya Mas selalu bisa bikin aku tenang, sebisa mungkin aku mengontrol emosiku"
"Sama - sama sayang kita saling mengingatkan dan menguatkan"
"Menurut mas, apakah ibu akan menceritakan semua tentang keluarganya Arlan?"
"Mau tidak mau ibu harus menceritakan semuanya padaku, ibu udah gak bisa menghindar lagi"
"Mas, apa yang kamu rasakan saat tahu kamu dan Arlan memiki ikatan saudara"
"Airin, sampai saat ini aku masih berusaha menerima kenyataan ini terlalu mengejutkan, selama ini aku hanya memiliki Kuncoro sebagai saudara dan tiba - tiba aku memiliki saudara lain?"
"Aku harus bertindak sebelum semua semakin jauh dan anak - anak ikut terkena imbasnya lebih dari ini"
"Semoga saja ibu bisa diajak bekerjasama dengan baik" ucap Airin
"Ya, Mas juga berharap seperti itu. "