Backstreet {END}

By Dwi_devita

2.2K 83 1

"Gue suka sama lo, pacaran yuk." "Ck, gak niat banget lo nembaknya." "Mau gak?" "Iya." "Serius?" "Iya. Nanya... More

Prolog
Satu
Dua
Tiga
Empat
Lima
Enam
Tujuh
Delapan
Sembilan
Sepuluh
Sebelas
Dua Belas
Tiga Belas
Empat Belas
Lima Belas
Enam Belas
Tujuh Belas
Delapan Belas
Sembilan Belas
Dua Puluh
Dua Puluh Satu
Dua Puluh Dua
Dua Puluh Tiga
Dua puluh Lima
Dua Puluh Enam
Dua Puluh Tujuh
Dua Puluh Delapan
Dua Puluh Sembilan
Epilog
Ebook
New thing

Dua puluh empat

43 3 0
By Dwi_devita

Hari yang di tunggu tiba. Hari dimana perayaan kelulusan angkatan mereka. Banyak murid yang menunggu moment ini datang, meski sebagian rasa sedih juga hinggap di antara mereka. Kelulusan berarti akhir dari status mereka sebagai pelajar, akan ada banyak jalan ke depannya untuk mereka melanjutkan karirnya maupun impiannya, tergantung orang dan kemauan mereka sendiri.

Farra terus menatap dirinya dari pantulan cermin. Ia merasa gugup, itu sebabnya sudah lima belas menit Farra berdiam diri di kamar mandi sekolah hanya untuk menetralisir rasa gugupnya.

Tampil dengan make up dan kebaya benar-benar bukan gayanya tapi ia tetap harus melakukan itu sebagai siswi di sekolah ini. Padahal dari pada kebaya, Farra lebih percaya diri menggunakan jas tapi sayang jas hanya di pakai untuk laki-laki di saat acara seperti ini.

Ponsel di tasnya berdering cukup kencang di saat keheningan melanda. Farra cepat-cepat merogoh ponselnya di dalam tas.

"Lo dimana sih!!! Acara mau mulai woy!!!"

Farra melototkan matanya. Benar, sudah jam setengah sembilan dan acara hampir di mulai. Agh, ini pasti gara-gara ia kelamaan di sini.

"Iya sebentar lagi gue ke sana."

"Lo dimana sih emang?"

"Kamar mandi."

"Ck, ada panggilan alam lo. Cepet buruan, gue tutup dulu telponnya."

"Iya."

Sambungan telfon terputus, cepat-cepat Farra keluar dari sini. Rasa gugupnya seketika hilang berganti menjadi panik. Ia akan merasa malu jika datang di saat acara sudah mulai, bisa-bisa dirinya nanti menjadi pusat perhatian.

Farra menghela nafas lega, acaranya belum di mulai meskipun sebentar lagi akan di mulai. Farra menghampiri Sasti, duduk di sebelah temannya. Farra terkesima, Sasti terlihat sangat cantik dengan polesan make up di wajahnya. Sasti hampir sama seperti dirinya, tidak terlalu suka dengan make up. Jika Sasti terlihat cocok dengan make up di wajahnya, apakah ia juga sama? Tiba-tiba Farra menjadi insecure, jangan-jangan dirinya terlihat aneh dengan make up di wajahnya.

"Heh lo lari ke sini?" tanya Sasti.

Farra tersentak, lamunannya buyar berkat pertanyaan Sasti barusan.

"Apa?? Lo nanya apa barusan. Sorry gue bengong barusan."

"Lo lari ke sini?" tanya Sasti lagi.

"Iya, kenapa emang?"

"Make up lo luntur sama keringet."

Farra melotot, ia meraih ponselnya, membuka kamera untuk melihat wajahnya. Benar, make up nya luntur. Agh, kenapa harus sekarang, mana dirinya lupa membawa make up, padahal mamanya sudah mengingatkan dirinya untuk membawa beberapa alat make-up untuk keadaan genting, salah satunya ini.

"Gimana nih. Lo bawa make up gak?" tanya Farra pada Sasti.

"Enggak."

"Aduh gimana nih."

"Ini...."

Farra dan Sasti menoleh, Kelvin menyerahkan dompet kecil berisikan alat make-up. Tentu saja Farra langsung mengenali dompet itu karena dompet itu milik mamanya dan itu make up yang pagi di pakaikan mamanya untuk dirinya.

"Kenapa bisa ada di lo?" Farra menerima dompet itu dari Kelvin.

"Mama lo nitip ke gue katanya suruh kasih ke lo, takut make up lo luntur."

Farra mengangguk. Mamanya benar-benar penolong baginya.

"Cepet benerin make up nya, sepuluh menit lagi mulai acaranya. Sasti, lo make up pin tuh Farra, lo bisa kan?"

"Ragu gue, tapi sini gue coba dulu."

"Jangan sampe kayak badut," ujar Farra.

"Gak janji, gue aja gak bisa make up, ini mama gue yang make up pin."

Farra mendengus, pergerakan Sasti terhenti ketika mendengar suara seseorang yang tak lain adalah Vera. Cewek itu berdiri di samping mereka sambil tersenyum.

"Sini biar gue make-up pin."

"Gak papah gak usah, Sasti bisa kok," tolak Farra.

"Gue bisa kok. Kalian gak percaya sama gue, takut gue bikin gak bener make up nya," ujar Vera.

"Gak gitu, tapi..." Farra menggantungkan kalimatnya, namun lagi-lagi suara seseorang mendahulukan ucapannya.

"Gue yang minta tolong sama Vera, nurut aja gak papah, gue yakin Vera bisa make up pin lo bagus. Rada ragu juga gue kalo minat Sasti," ujar Kelvin.

"Kalo ragu ngapain minta tolong ke gue lo. Ini," Sasti menyerahkan alat-alat di tangannya pada Vera. Cewek itu langsung duduk di tempat Sasti sebelumnya. Farra sendiri hanya pasrah dan percaya pada ucapan Vera. Tidak sampai sepuluh menit, Vera menyelesaikan make up di wajahnya. Jujur, hasilnya tidak terlalu buruk, malahan bagi Farra ini sangat bagus. Setidaknya Vera melakukan hal yang baik untuk dirinya sekarang.

"Makasih banyak Vera."

Cewek itu bangkit dan mengangguk, tempat Vera duduk kini sudah kembali di isi oleh Sasti. 

"Gue mau minta maaf ke kalian berdua. Maaf kalo perlakuan gue bikin kalian sakit hati, gue beneran minta maaf," sesal Vera.

"Gak papah, udah lewat juga," jawab Farra.

Vera menatap Sasti, cewek itu tetap acuh pada Vera, Farra yang melihat itu langsung menyikut Sasti pelan.

"Iya gue maafin, makasih udah make-up pin Farra," ucap Sasti.

"Makasih banyak karena udah maafin gue. Kalo gitu gue pergi dulu."

Farra mengangguk, "sekali lagi makasih ya."

"Sama-sama."

Kelvin menghampiri Farra dan Sasti setelah Vera pergi. Kali ini Kelvin datang bersama Rama. Selama sesi make up, Kelvin memutuskan untuk pergi dan berkumpul dengan teman-temannya.

"Hasilnya bagus, gak salah gue minta tolong sama Vera, coba kalo jadi sama si Sasti, gak bisa ngebayangin gue hasilnya kek gimana."

Sasti melirik tajam Kelvin, "lo punya masalah sama gue, dari tadi itu mulu yang di bahas. Gue bukannya gak bisa cuma gak terlatih aja."

"Makanya jadi cewek jangan tomboi."

"Kenapa!!! gue ini."

Rama dan Farra terkekeh mendengar perdebatan mereka. Namun tiba-tiba Farra teringat sesuatu, "oh iya, gimana ceritanya lo bisa minta Vera make-up pin gue?" tanya Farra.

"Ya tinggal minta tolong, lagian dia selebgram, udah pasti jago make up. Sebelum gue minta tolong juga sebenarnya Vera minta maaf sama gue," jawab Kelvin.

"Ke kita juga minta maaf."

"Ya udah bagus deh kalo udah sadar sama kesalahannya. Ayo foto-foto dulu, masih ada lima menit sebelum acara di mulai."

Semuanya mengangguk, lima menit mereka manfaatkan untuk sekedar berfoto. Sasti dan Rama juga banyak mengambil foto berdua. Jujur, Farra juga ingin sebenarnya foto berdua dengan Kelvin tapi rasanya ia malu jika duluan yang meminta.

"Heh lo berdua! Gantian fotoin gue sama Farra jangan cuma minta tolong fotoin doang," ucap Kelvin.

Secara spontan Farra tersenyum, akhirnya cowok itu duluan yang mengungkapkan ingin foto berdua.

"Iya, iya, bawel banget lo kayak cewek, Farra aja banyak diem dari tadi," Sasti merebut ponsel di tangan Kelvin. Cowok itu memang berniat foto menggunakan ponselnya dari pada ponsel Farra atau Sasti, jika menggunakan ponsel mereka berdua, sudah pasti nanti saat Kelvin meminta di kirimkan fotonya justru hanya beberapa foto yang di kirim, alasannya foto mereka aib, jadi mereka mengirimkan foto yang mereka anggap bagus saja.

"Sini deketan jangan grogi gitu foto sama orang ganteng," Kelvin merangkul bahu Farra.

"Tangan bisa di singkirin gak?!"

"Sorry udah nyaman gini. Buruan liat kamera nanti jelek bilangnya aib."

Farra mendengus, mereka foto dengan Kelvin yang merangkul pundaknya. Jelas perbuatan Kelvin mengundang pasang mata dan itu sedikit membuatnya tidak nyaman.

"Tangan lo ih, banyak orang yang ngeliatin." Farra terus berusaha menyingkirkan tangan Kelvin di bahunya.

"Ngapain peduliin orang sih. Udah mau lulus aja ribet banget masih peduliin orang-orang."

"Gue gak nyaman."

"Di nyaman-nyamanin, siapa tau kedepannya kita udah gak bisa gini, kan hati gak ada yang tau, tiba-tiba di tempat kuliah gue nanti justru nemuin pengganti lo gimana."

Farra terdiam, ia tau Kelvin hanya bergurau, tetapi tetap saja hal seperti itu tidak menutup kemungkinan bisa terjadi. Farra paham maksud ucapan Kelvin dengan kata pengganti, bukan pengganti sebagai teman melainkan pengganti di hati Kelvin sekarang.

Cowok itu terkekeh melihat respon Farra diam, Kelvin melepas rangkulannya dan mengelus puncak kepala Farra lembut, "gak usah di pikirin ucapan gue, gue cuma bercanda."

Farra mengangguk pelan.

"Woi buruan mau gue fotoin gak sih?!!! Malah asik ngebucin!!!" pekik Sasti.

"Iya buruan foto kita," ujar Kelvin, kali ini Kelvin tidak lagi merangkul Farra, hanya sekedar berdiri bersebelahan.

Tanpa Kelvin sadari, Farra terus terngiang-ngiang dengan ucapan cowok itu barusan. Kalimat yang membuatnya takut.

Continue Reading

You'll Also Like

2.7K 541 7
"Gue emang belum suka dia, tapi entah kenapa gue selalu pengen ngelindungin dia dari apapun" batin Agrastian.
4.8K 279 11
"Kak seharusnya kalau lo memang enggak suka sama gue... jangan kasih gue harapan sebesar ini."
KEANA By cibcki

Teen Fiction

47.5K 2.1K 26
Langsung baca aja deh ya biar tau kisah keana nya:' cover by @gochujangg
Wattpad App - Unlock exclusive features