The secret relationship

By typelu

149K 12.6K 420

Lisa seorang wanita pekerja keras yang miskin, gagal kuliah dan banyak memiliki pekerjaan paru waktu untuk me... More

Prolog
satu
dua
tiga
empat
lima
enam
tujuh
delapan
sembilan
sepuluh
sebelas
tiga belas
empat belas
Lima belas
Enam belas
Tujuh belas
Delapan belas
Sembilan belas
Dua puluh
Dua satu (stuck)
Dua satu
Dua dua
Dua tiga
Dua Empat
Dua Lima
Dua Enam
Dua Tujuh
Dua Delapan
Dua Sembilan
Tiga Puluh
Tiga Puluh Satu
Tiga puluh dua (END)

dua belas

5.2K 423 23
By typelu

Lisa memutar radio yang ada di mobilnya, ada rasa canggung yang timbul. Dia tidak menyangka Jennie akan menerima tawarannya untuk ikut camping bersamanya, dia hanya mencoba menawarkan sebagai seseorang yang tinggal bersama. Tapi lihatlah, Jennie menerima tawaran Lisa dengan mudah.

"Aku tidak tahu kau punya mobil." Jennie menatap Lisa sebentar sambil memasang sefety bethnya.

Lisa tertawa kecil. "Hadia dari Ayahku, meskipun tidak sebagus milikmu." Katanya.

Dalam perjalanan menuju tempat camping, Lisa sedikit ragu untuk memulai percakapan jadi dia menawarkan Jennie untuk mengganti musik. "Kau bisa mengganti daftar putar musik jika kau mau."

Jennie diam, matanya lurus menatap ke depan. Genggamannya juga terlalu erat di tali sefety bethnya, melihat pandangan kosong Jennie, Lisa menyenggol bahu wanita itu. "Ah, apa?" Jawab Jennie dengan terkejut.

"Aku bilang...kau boleh mengganti daftat lagu yang kau inginkan." Ulang Lisa sambil tersenyum.

"Oh , tentu saja." Jennie meraih handphonenya dan menyambungkan daftar lagu miliknya ke radio mobil Lisa.

Alunan piano mengejutkanya, karena Lisa tidak menyangka selera lagunya adalah Truth Hurts - Lizzo. Lisa menaikkan alisnya, menyadari bahwa ada banyak sisi lain dari Jennie yang tidak dia ketahui.

Jennie menaikkan satu kakinya ke bangku, kemudian dia mulai bernyanyi mingikuti liriknya.

"Mengapa pria hebat hingga mereka harus menjadi hebat?."

Suaranya membuat Lisa menoleh padanya sekali. Dia tidak akan pernah menyangka Jennie bernyanyi mengikuti alunan musik.

"Aku baru saja melakukan tes DNA, ternyata aku 100% JALANG itu!"

Tunggu, apa? Dia menyebutkan kata Jalang? Lisa benar-benar tidak percaya itu. Ya maksudnya, itu memang lirik lagunya tapi bagaimana bisa di menyebut kata itu dengan lantang.

"Bahkan ketika aku menangis gila
Ya, aku punya masalah dengan laki-laki, itulah manusia dalam diriku
Berkilau, berkilau, lalu aku menyelesaikannya, itulah dewi dalam diriku, Kau bisa saja punya jalang yang buruk, tidak berkomitmen
Membantumu dengan kariermu, sedikit saja Kau seharusnya menekanku
Tapi kau menahanku Dan itulah suaraku yang tidak meneleponmu kembali."

Lisa masih fokus pada lirik yang Jennie nyanyikan, meski suaranya tidak beraturan karena ada nada yang tidak bisa Lisa jelaskan. Itu sangat jelas menggambarkan suasana Jennie saat ini.

"Mengapa pria hebat hingga mereka harus hebat? Jangan kirimi aku pesan, katakan langsung padaku"

Lisa mematikan musiknya dan menoleh ke Jennie sebentar.

"Sebenarnya ada apa Jen?"

"Taehyung tidak datang setelah aku menunggu 5 jam lamanya di bandara. Dia mengabaikanku, tidak ada panggilan atau balasan pesan darinya. Aku tahu itu kebiasaannya tapi mengapa dia selalu mengingkari janjinya?" Jennie menggeser duduknya dan menoleh ke arah Lisa. "Bagaimana bisa dia melakukan itu padaku, Lisa."

Lisa menggigit bibirnya dengan keras agar dia tidak mengumpat dalam kata kasar dan kotor. Dia benar-benar marah kali ini, bagaimana bisa Taehyung memperlakukan Jennie seperti seorang sampah? Dan bagaimana bisa Jennie bertahan dengan pria seperti dia?

Dengan rasa amarah yang menguasainya, Lisa menyalakan lagi lagu yang mereka putar.

"Mengapa pria hebat hingga mereka harus hebat?" Kata Lisa ikut bernyanyi. Dan Jennie tersenyum, dia ikut bernyanyi bersama Lisa. Meski hanya suara teriakan yang terdengar tapi Jennie merasa puas Lisa ada di sana bersamanya.

...

Jennie tetap diam di dalam mobil ketika mereka berhenti di Pom bensin. Lisa keluar dari toko membeli beberapa makanan, dan saat dia berjalan satu coklatnya terjatuh. Jennie masih memperhatikan Lisa yang berusaha menunduk dan mengambil coklatnya, tapi saat dia meraih coklatnya, coklat yang lain terjatuh. Dia hanya punya dua tangan dan kedua tangannya penuh.

Melihat kecerobahan Lisa Jennie tertawa di dalam mobil. "Dia benar-benar ceroboh." Katanya ketika melihat Lisa berusaha mengutipi satu persatu permen coklat yang jatuh.

"Terima kasih." Kata Lisa pada seorang pria yang menolongnya. "Kau benar-benar buruk." Dia masuk dan menuangkan semua jajanannya di atas paha Jennie.

"Betapa bodohnya dirimu." Jennie mengejek dengan riang. Dia memukul bahu Lisa cukup keras. "Untung saja pria itu membantumu."

"Ya, jika tidak aku akan terus mendengarmu tertawa di dalam sini."

Perjalanan mereka menuju tempat camping adalah hal yang sangat Lisa suka, mereka bisa menjadi lebih dekat, bercerita hal random apapun dan tidak ada kecanggungan apapun kecuali satu hal.

"Lisa?" Jennie bergeser untuk menatap Lisa. "Kenapa kau tidak memilik pacar?" Tanyanya dengan sedikit serius namun ada sesuatu yang sangat membuatnya penasaran.

Lisa menelan gumpalan tenggorokannya, dia pernah percaya pada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti Jennie akan sampai pada pertanyaan ini. Tapi dia belum siap untuk bercerita. "Kenapa? Kau penasaran atau ingin mencari tahu kreteria menjadi pacarku?" Lisa tertawa, mengalihkan pertanyaan Jennie.

Jennie sedikit tersipu, mungkin pertanyaan Lisa ada benarnya. "Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita tentang hal privasi, ya jika kau ingin mengatakannya aku akan mendengarkannya."

Lisa berbelok ke sisi kiri untuk mengambil jalan menuju gerbang yang sedikit aneh. "Aku pernah pacaran dengan seorang pria yang aku kenal dari SMA. Dia baik dan sangat perhatian..." Dia menatap Jennie sekilas, memperhatikan bagaimana kerutan di wajah wanita itu muncul. "Kami tinggal bersama setelah memutuskan untuk tinggal di seoul, dia kuliah sambil bekerja dan aku fokus pada kuliahku, suatu saat saat hari jadi kami yang ke 4 Tahun aku memergokinya sedang bercinta dengan seorang wanita di Apartemen kami."

"Oh Fuck.!" Satu kata lagi yang membuat Lisa terkejut. Sisi lain dari Jennie yang tidak pernah Lisa tahu. "Apa semua laki-laki bajingan?" Tanyanya sambil tertawa.

Lisa tertawa. "Semenjak itu, aku tidak percaya dengan cinta. Mungkin...memulai hubungan lagi ... bagiku terlalu sulit." Dia berhenti tepat di suatu hutan yang terawat. "Dan jika kau penasaran seperti apa kriteriaku...jawabannya adalah Kim Jennie." Katanya dengan berani sambil menggoda.

Mendengar ucapan Lisa, Jennie tersipu, pipinya merona dan dia mengulum bibirnya.

"Kita sudah sampai." Lisa membuka pintu dan mengeluarkan beberapa barang camping mereka.

"Jadi di mana ini?" Tanya Jennie sambil melihat sekeliling mereka.

"Kau akan tahu jika kita sampai ke atas." Lisa berjalan terus, meninggalkan Jennie yang masih bingung.
Mereka berjalan sekitar 15 menit dan mendapatkan sebuah pondok kecil untuk registrasi pengunjung.

"Aku lelah." Kata Jennie sambil menyeka keringatnya yang menetes di dahi.

Lisa tertawa. "Bukannya kau berolahraga? Kenapa mendaki 15 menit sudah membuatmu lelah." Setelah regestrasi pengunjung, Lisa lanjut jalan sekita 5 menit untuk sampai pada lokasi camping mereka.

"Woowww." Jennie terpukau, dia mengamati danau kecil yang di kelilingi rumpaut-rumput panjang, ada ayunan di kedua sisi pohon besar. "Ini luar biasa." Katanya tidak percaya Alam sebagus ini.

"Kau terdengar seperti orang kota sekarang." Lisa membongkar bawaan mereka. Memasang tenda dan beberapa alat lainnya. Kemudian dia mengeluarkan kompor portabel kecil.

Jennie melakukan sisa pekerjaan lainnya, mengeluarkan daging kaleng, dan asparagus yang Lisa siapkan sebelumnya. Dia juga membentang matras kecil untuk mereka. Dua kursi lipat kecil yang pas.

"Kau akan terpukau dengan rasanya." Ucap Lisa sambil tertawa melihat eskpresi Jennie saat dia memanggang daging dan mengolesinya dengan selai kacang yang di campur dengan jamur. "Selesai."

"Aku sangat lapar." Ucap Jennie. Dia mengambil sepotong daging dan asparagus bakar. Saat dia memotong dan memasukkannya ke dalam mulutnya, dia terpaku. Mulutnya mengunyah dan matanya melebar.

"Sudahku katakan, kau akan terpukau." Kata Lisa sambil tertawa.

"Ini lebih enak dari restoran bintang 5."

"Ya, aku tahu." Lisa memotong bagiannya dan mengunyah miliknya dengan senyuman kebanggaan.

Mereka makan sambil mengobrol, berbicara soal beberapa kegiatan dan pengalaman buruk mereka di masa sekolah. Jennie tertawa saat dia mendengar Lisa mengatakan hal-hal buruk, dia terjatuh dan Jennie tidak membantunya.

Lisa juga senang melihat Jennie senang berada bersamanya. Meskipun dia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya Jennie sembunyikan darinya.

"Aku melihat pasar tradisional sebelum ke sini. Ayo ke sana."

"Siap untukmu tuan putri." Lisa bergegas mengambil kunci mobilnya dan turun ke tempat mereka memarkirkan mobil.

...

Jennie mencium aroma vanila dari toko roti yang ada di depan mereka. Dia sangat menginginkannya, tapi saat dia ingin mengajak Lisa, wanita itu menatapnya, hidungnya mengembang dan bibirnya tersenyum.

"Kau mencium aroma itu?" Kata Lisa dengan antusias.

Jennie mengangguk, dia tidak percaya Lisa juga merasakan hal yang sama dengannya.

"Ayo kesana." Lisa menarik tangan Jennie, menggenggam dengan erat dan berlari kecil membawa Jennie ke toko roti.

"Selamat datang, ada yang ingin kalian pe...san. Ya aampun, Kim Jennie?" Pria dengan lemah lembut keluar dari meja kasir saat mereka masuk. Matanya melebar dan dia dengan dramatis menutup mulutnya. "Pasangan Favoriteku." Dia berteriak dan berjinjit tidak percaya.

Jennie tertawa begitupun dengan Lisa. "Bisakah hanya kau yang tahu ada artis cantik di sini?" Bisik Lisa sambil bercanda.

"Oh ya, tentu saja." Kata Pria itu dan membawa mereka masuk untuk mencoba beberapa kue.

Saat Jennie mencari kue madu dan vanila Lisa datang dengan raut wajah yang bahagia. "Jennie, coba ini." Katanya menyodorkan setengah Kue vanila berbentuk matahari.

Jennie menggigit kue tersebut langsung dari tangan Lisa, dan ketika kuenya melebur di mulutnya dia segembira yang Lisa duga.

"Woww, ini lezat." Matanya melebar dan dia terus mengunyah.

"Pesananmu sudah selesai." Jams, pria berkulit hitam memberikan bungkusan kue yang Jennie beli, dia tersenyum dan merasa sangat senang Idolanya berada di toko kue miliknya.

"Kuemu benar-benar enak."

"Aku setuju." Kata Lisa sambil menjilat ujung jarinya, sisa dari krim keju.

Jennie dan Lisa keluar dari toko ketika Jams memanggil mereka untuk memberikan beberapa bungkus kue vanila matari yang mereka cicipin. "Aku mendengar kalian menyukai ini."

"Oh ya, ini benar-benar enak." Kata Jennie. "Tapi kami akan membayar untuk kue terenak."

"Tidak, aku memberikan ini karena kalian mau mampir ke sini."

Lisa membulatkan matanya tidak percaya, mereka dapat kue gratis dari fans Jennie.

"Tapi aku memaksa." Jennie mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompernya, tapi Jams mencegahnya.

"Bisakah aku berfoto dengan kalian sebagai gantinya?"

Jennie mengangguk. "Ya." Dia menarik Lisa, menggandeng wanita itu dan mendekat pada Jams.

"Tandai kami saat kau mempostingnya di instagram." Ucap Lisa memberi senyuman.

"Tentu saja." Kata Jams dengan antusias.

...

"Lisa, jangan menoleh ke belakang. Ada paparazi yang mengikuti kita." Ucap Jennie saat mereka berjalan menyelusuri pedagang aksesori. "Aku mengenal salah satu dari mereka. Mike, dia menjadi wartawan yang menguntit para artis kemanapun."

Lisa tetap diam, dia ingin menoleh tapi Jennie melarangnya.

"Mari kita tunjukan yang ingin dia lihat."

Jennie menarik tangan Lisa, berjalan bergandengan dan mengobrol. Berpura-pura mesrah dan saling pedulu. Salah satu hal yang dia lakukan pada Lisa adalah mencium pipi wanita itu saat Lisa memberikannya setangkai bunga mawar biru. Lisa tidak tahu apakah dia harus membalas ciuman Jennie atau dia harus diam saja, tapi dia tahu Jennie melakukan itu karena Mike memantau mereka terus menerus.

"Jen, aku selalu melihat dia saat akan keluar dan masuk ke Apartemen." Sumpah Lisa saat dia menyadari Mike adalah orang yang selalu dia sapa setiap hari di depan gedung Apartemen Jennie. "Aku kira dia salah satu penghuni Apartemen."

"Kau terlalu polos." Jennie tertawa. "Dia wartawan yang mengintai setiap artis dan dia bisa berhari-hari berada di rumah para artis hanya untuk mencari tahu aktivitas mereka.

"Itu mengerihkan." Lisa dengan sengaja menautkan jari-jari nya ke jari Jennie. "Aku sangat prihatin privasimu jadi terganggu." Katanya sambil menatap mata Jennie dengan tulus.

Jennie tersenyum. Lalu mereka berhenti di toko perhiasan kecil yang menjual banyak aksesori.

"Wah, ini sangat cantik." Jennie mengambil satu cincin yang memiliki permata hijau.

"K-kau Kim Jennie?" Gadis kecil berambut ikal terlihat gemetar saat melihat Jennie. "Kau sangat cantik."

"Itulah yang aku katakan saat pertama kali bertemu dengannya." Lisa datang dari belakang Jennie dan memeluk wanita itu. "Tapi, bisakah kau tidak membocorkan keberadaan kami?."

Jennie mengelus punggung tangan Lisa yang melingkari pinggangnya, awalnya dia sedikit terkejut karena tindakan itu tapi semakin dia menyadarinya semakin di merasa nyaman berada di dekat Lisa.

Gadis kecil itu mengangguk dan dia memanggil Ibunya. Ibunya juga terkejut ketika melihat Jennie tapi anaknya langsung menutup mulut Ibunya agar tetap diam. "Namanyaa Jasmin, umurnya 7 tahun, dia sangat mengidolakanmu." Kata sang Ibu.

"Terima kasih, kau juga cantik." Jennie dengan tulus mengatakannya. Gadis itu memang cantik, dia terlihat seperti versi kecil Ibunya.

"Ini buatan tangan?" Tanya Jennie.

Jasmin mengangguk dengan sangat antusias.

"Itu cantik untukmu." Kata Lisa. "Aku akan membayarnya untuk itu." Lisa mengeluarkan lembaran uang dan memberikannya pada Jasmin. "Anggap saja hadia kecil dari pacarmu."

Jennie menatap Lisa dengan senyuman yang menawan. "Terima kasih sayang." Dia mengecup pipi Lisa dan membuat Jasmin tersenyum malu karena begitu mesrahnya idolanya. Dan dia tidak bisa berkata-kata lagi karena dia sangat bahagia. "Kau sangat berbakat Jasmin. Ini benar-benar cantik."

"Aku juga memiliki satu lagi untukmu." Jasmin mengambil satu cincin permata merah delima yang cantik. Dia memberikannya pada Lisa. "Jennie menyukai warna merah  dan ini cocok untukmu." Bahkan dia tahu warna kesukaan idolanya.

Lisa mengambil cincinnya dan menoleh ke Jennie. "Bagaimana?" Tanyanya.

"Biar aku yang membayarnya. Ini benar-benar bagus."

...

"Apa menurutmu Mike masih mengikuti kita?"

"Sepertinya tidak." Lisa melirik ke belakang saat mereka masuk ke dalam mobil. "Aku benar-benar tidak percaya dia bukan salah satu penghuni Apartemen."

Jennie masuk dan duduk dengan nyaman. "Kau benar-benar sangat polos Lisa, bagaimana bisa kau menyapanya setiap hari." Dia tertawa lagi.

"Sangat mengerihkan menerima kenyataan ada orang lain yang menguntit privasi kita." Dia pura-pura menggigil.

"Ya, terkadang mereka seperti akan membunuhmu di tengah malam."

Lisa memundurkan mobilnya dan kemudian masuk ke jalur jalan. "Ingatkan aku untuk tidak menyapa semua orang yang ada di loby Apartemen."

"Kau terlalu baik." Dia tersenyum. "Kemana tujuan kita?" Tanya Jennie dengan antusias.

"Masih ada waktu sebelum malam. Aku akan menunjukkanmu sesuatu yang belum pernah kau temui di kota." Lisa menginjak gas mobilnya dan melaju.

...

"Jen, ayo lompatlah." Lisa berlari ke dalam sungai Jernih yang ada di dalam hutan. Dia berlari hanya menggunakan bikini bewarnah hitam. "Waah, sangat segar." Ucapnya dari jauh pada Jennie yang masih berdiri di atas tanah. "Kau takut? Oh tentu saja, seorang artis tentu saja takut menyelam ke dalam air liar."

"Apa? Takut?" Katanya. Dia megulum bibirnya, berpikir berulang kali untuk masuk ke dalam air. Lisa benar, dia takut.

"Akui saja." Kata Lisa yang terus berenang ke tengah.

Jennie menarik napasnya dan mulai membuka baju dan celana pendek miliknya, sebelum dia menyentuh air dia berdoa agar hidupnya baik-baik saja. Karena ini pertama kali baginya mandi di alam terbuka.

Lisa menatap Jennie, dan dia bersumpah Jennie benar-benar seksi dengan satu set bikini merah jambunya. Pipi Lisa menghangat dan dia menghindar dari pandangan yang ada di depannya.

"Aah dingin." Jennie menjerit, dan matanya melebar.

"Tenggelamkan seluruh badanmu, itu tidak akan sedingin yang kau kira."

"Tidak." Jennie masih ragu-ragu untuk masuk ke dalam lebih jauh. Dia menatap Lisa. "Lisa, aku tidak bisa." Dia menjerit dan menggigil.

"Ayo Jen, di sini jauh lebih hangat. Percayalah." Lisa berenang mendekati Jennie dengan wajah nakalnya.

"Tidak, tidak, Lisa jangan mendekat." Dia merentangkan tangannya ke depan untuk Lisa.

Lisa tersenyum jahil, dia terus mendekat dan sebelum dia sampai ke tempat Jennie,  Jennie sudah menenggelamkan tubuhnya sendiri lebih dalam ke air.

"Sebenarnya aku tidak berniat menenggelamkanmu." Kata Lisa setelah Jennie keluar dari air.

"Aku tidak percaya, kau pasti akan melakukannya." Jennie protes dan melempar air ke wajah Lisa.

Lisa bergegas berenang ke tengah dan memaksa Jennie untuk mengikutinya. Kemudian dia berenang ke tepian sisi lain dan terus berjalan mendaki.

"Apa yang kau lakukan?" Jennie tetap berada di dalam air, mengamati apapun yang akan Lisa lakukan. Setelah menyadari Lisa sampai di tebing dia membulatkan matanya. "Lisa jangan lakukan itu, berbahaya!"

Lisa mengangkat kedua bahunya dan menunjukkan giginya. "Aku lompaaat." Dia teriak dan terjun ke bawah. Lisa masuk ke dalam air dan naik. "Wahhh ini seruh banget. Kau harus coba  Jen."

Jennie menjauh, menggelengkan wajahnya berulang kali. Bahkan dia menyuruh Lisa untuk tidak mendekatinya tapi wanita itu justru semakin membuat dia menepi.

"Lakukan apa yang tidak pernah kau lakukan Jen. Cobalah dan keluar dari zonamu. Kapan lagi kau akan melakukan di luar perintah sutradara?" Lisa memaksa, dia menarik tangan Jennie dan menyeretnya menaiki bukit.

"Kau benar-benar buruk dalam merayu wanita." Kata Jennie mengatupkan rahangnya.

"Siapa yang peduli ketika artis terkenal Kim Jennie berada di depanmu hampir telanjang." Lisa memejamkan matanya erat-erat atas pernyataannya yang bodoh. Dia tahu wajahnya pasti memerah, tapi syukurnya dia membelakangi Jennie. "Lakukan bersamaku."

Lisa menuntun Jennie untuk mengambil beberapa langkah dari jurang tebing. Dia menatap Jennie yang berdoa dan menutup matanya.

"Baiklah, aku siap." Ucap Jennie dengan yakin. Dia menarik tangan Lisa dan menautkan jari mereka dengan erat. "Mari kita lakukan."

Lisa mengulum bibirnya menahan senyuman, betapa mudahnya dia merayu Jennie untuk melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan.

"1...2...3....."

Mereka lompat bersamaan dan terjun ke air dengan jeritan yang memekakan telingan. Kemudian mereka naik ke permukaan sambil tertawa.

"Ini luar biasaa." Kata Jennie dengan wajah berbinar.  Dia menyeka air dari wajahnya dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. "Lisa, ini benar-benar membuatku lupa segalanya." Dia tertawa sangat gembira. Tidak pernah menyangka kegagalannya pergi ke Paris justru membuatnya lebih bahagia bersama Lisa.

Lisa tidak melihat ke arah Jennie, dia justru melihat ke sekeliling permukaan air. Sialnya, bikini yang Jennie gunakan tidak menggunakan tali, itu hanya sebuah cup dan pengkait belakang yang membuat branya lepas saat mereka terjun.

"Jen..." Kata Lisa masih mencarinya.

"Ada apa?" Jennie masih tidak sadar dengan apa yang terjadi.

"Ah di mana-" Tiba-tiba ada kilatan flash kamera dari arah berlawanan. Dua kali kilatan kamera membuat Lisa lebih waspadah, dia melihat ke arah belakang Jennie. "Ah sial! Jangan berbalik." Kata Lisa. "Bikinimu terlepas dan ada paparazi di belakangmu." Lisa memeluk Jennie dan melindunginya. Dia melihat Mike berada di hutan belakang mereka.

"Aku benar-benar benci mereka. Tapi bagaimana dengan braku." Dia panik.

"Kita harus segera pergi." Lisa menarik Jennie dan menggendongnya dari depan. Memeluknya dengan erat dan membawa wanita itu ke tepian yang tidak bisa Mike Lihat. Kemudian Lisa memberikan handuk pada Jennie.

"Kita harus segera kembali."

"Ya." Katanya buru-buru lari ke mobil.

....

Orang ketiga
.......................

Sial !

Taehyung sedang duduk di sofa dengan santai ketika dia membaca berita ter baru malam itu. Dia mengatupkan rahangnya dan melempar handphonenya ke sofa.

Ada foto Jennie dan Lisa yang sedang tertawa di pasar tradional. Bahkan foto Jennie mencium pipi Lisa juga menjadi tranding.

"Ini di luar perjanjian." Kata Taehyung sambil meletakkan tangannya di pinggang.

"Kim Jennie dan Kekasihnya Lisa sedang berlibur akhir pekan bersama."  Judul yang sedang trand di sosial media menjadi hebo, foto Lisa yang memeluk Jennie di sungai juga sangat cepat tersebar.

"Sayang, kau sudah siap?"

"Ya, aku sudah siap." Katanya sambil berdiri merapikan Jas dan dasinya.






....

Tbc
.....

Semoga ini menjawab kebencian kalian terhadap kekasih Jennie.

.
.
.
.










Continue Reading

You'll Also Like

65.4K 4.8K 25
Pindah ke apartemennya sendiri merupakan langkah besar bagi Lisa. Dia selalu memiliki teman sekamar, jadi tinggal sendirian terasa berbeda. Dia takut...
335K 7.6K 6
Satu project dengan mantan?! Sepanjang karirnya, Kim Jennie tidak pernah merasa sesial ini. Bagaimana tidak? manajernya mengatakan kalau dia menolak...
6.8K 612 2
Kim jennie seorang mahasiswi tingkat 2 yang sedang dirawat dirumah sakit karna sebuah kecelakaan, bertemu dengan Lalisa Manoban, gadis asing yang men...
123K 5.7K 40
Jennie Ruby Jane Kim, gadis berusia 19 tahun, adalah simbol dari kesempurnaan yang menggemaskan: cantik, manis, kekanakan, manja, pemalu, dan tak per...
Wattpad App - Unlock exclusive features