Berakhir dengan Geril yang menyetujui permintaan Ethan untuk menghentikan tindakannya mendominasi dunia, pergi berkencan sebagai bentuk pengalihan di bukit untuk menyaksikan bintang jatuh. Kini mereka berdua menyamar sebagai manusia biasa.
Mendirikan tenda sebagai tempat istirahat dan meletakkan barang bawaan, sekarang keduanya bersama mencari kayu bakar untuk memasak. Letak tenda berada di atas bukit, akan ada banyak bintang yang terlihat malam nanti.
Mengambil ranting berukuran sedang dalam pelukannya, menatap sekitarnya tidak menemukan Geril. Mungkin saja Geril sedang mencari kayu tidak jauh dari sini, jadi Ethan duduk di bekas pohon yang di tebang dengan meminum sebotol air yang di bawa.
Suara keras gemuruh terdengar, segera Ethan berlari ke sumber suara dan menemukan Geril yang mengangkat tanah dengan kekuatannya.
"Istri ku lihat, aku menemukan tanaman yang bisa di masak!" Bahagia.
"Cepat kembalikan tanah itu ke tempat semula!".
Geril mengembalikannya sesuai perintah Ethan dengan sedih, untuk apa Geril mengangkat tanah ini?.
"Apa kau ingin merusak bumi?" Memicingkan mata.
Menggeleng cepat "Tidak!. Aku ingin membawakan sayuran ini untuk mu, tapi setiap kali aku memetiknya tanamannya menghitam dan kering jadi aku memutuskan membawakannya pada mu sampai akarnya".
Merogoh tas selempang kecil yang di bawa, memberikan sarung tangan warna warni kepada Geril. Menatap Ethan dengan mengerutkan kening.
"Aku hanya bawa itu, pakai saja".
Kemudian keduanya memetik sayuran bersama di bawah terik matahari. Geril memeluk tubuh Ethan dari belakang.
"Sayang, tali topi ku lepas".
"Huh?".
Ethan mengikat kembali topi jerami yang di pakai Geril, tersenyum lembut menatap Ethan yang serius mengikatnya.
"Selesai".
"Terima kasih. Oh ya, ini aku sudah memetiknya untuk mu".
"Kenapa kau memetik banyak sekali?!".
"Eum... Kita bisa memakannya".
Menepuk dahinya sendiri "Kita tidak mungkin bisa menghabiskannya sendiri!".
"Lalu apa yang harus kita lakukan?".
Memutuskan turun dari bukit menuju pedesaan terdekat yang ada, Ethan memberikan sayuran liar yang di petik kepada warga yang lewat. Sayuran ini termasuk jajaran bahan pangan yang hanya dapat di jumpai di pedesaan seperti ini.
Tumbuhnya tanaman ini menandakan bahwa tanah subur, banyak orang yang menerimanya dengan senang hati karena cita rasa sayuran ini sangat lezat. Menatap Geril yang di kerumuni anak-anak.
"Kakak gagah sekali, jika aku sudah dewasa aku ingin seperti Kakak!".
"Aku bukan Kakak mu" dingin.
Seorang anak perempuan memeluk kakinya membuat Geril berjengit kaget "Kakak tampan, aku mau sayurannya. Aku bisa memasak untuk Kakak tampan!".
"Masakan istri ku jauh lebih lezat dari masakan mu".
"Kakak gendong aku!" Anak laki-laki merentangkan tangan.
"Aku juga mau!".
"Aku lebih dulu!".
Geril terlihat risih, dan mengangkat tubuh anak laki-laki yang pertama kali memintanya. Menjunjungnya tinggi-tinggi.
"Wahh, tinggi sekali!. Aku seperti terbang! Hahahaha".
Ethan terkikik pelan melihat Geril, Geril yang melihat Ethan tersenyum melihat hal ini juga sangat senang. Senyum Ethan terlihat sangat manis dan membuatnya terlihat lebih cantik. Sayuran yang di bagikan sudah habis mereka kembali ke tenda di mana mereka akan tidur nanti malam dan memasak makanan.
Memasak nasi, sayur, dan daging serta menyediakan buah liar yang di temukan saat perjalanan pulang dari desa.
"Ini makanlah".
Geril mengerutkan keningnya "Apa kau tidak suka?".
"Aku akan memakannya" Geril segera melahap makanan buatan Ethan meskipun tidak terbiasa.
Menatap jemari Ethan yang lecet "Ini terasa sangat enak karena istri ku berusaha keras memasak ini".
Setelah makan membersihkan peralatan di sungai dekat tenda, hari sudah terlihat petang. Ethan duduk di kursi kecil yang di bawa, Geril mengulurkan segelas susu hangat padanya. Geril duduk di kursi sebelahnya, jarak mereka berdua sangat mepet.
"Apa kau tidak bisa sedikit saja bergeser?".
"Tidak, aku kedinginan" Geril bersandar di bahu Ethan dan bertingkah seolah menggigil, Ethan mengerutkan keningnya karena pakaian Geril cukup tebal serta memakai syal rajutannya.
"Katanya akan ada banyak bintang malam ini".
"Apa kau sangat menantikan bintang-bintang itu?".
"Tentu saja aku sangat menantikannya. Katanya akan ada banyak bintang jatuh malam ini".
"Di Gloom kau bisa menyaksikan jutaan bintang, aku bisa menjatuhkan bintang-bintang jika kau ingin melihat bintang jatuh".
"Aku tidak mau kau menjatuhkannya. Aku hanya ingin melihat bintang yang jatuh sewajarnya".
"Tapi, bukankah ini jauh lebih istimewa karena kita menghabiskan sepanjang hari hanya berdua saja?. Memasak, membangun tenda, mencari ranting, sayur, dan buah benarkan?".
"Semoga saja dia tidak menggila lagi!" Berkeringat dingin.
"Akh!".
Geril menarik Ethan hingga duduk di pangkuannya "Kita bisa menghabiskan waktu seperti ini seterusnya, hanya kita".
"Aku masih belum bisa percaya. Tapi hari ini jadi hari yang begitu berkesan untuk ku".
"Ya, kita bisa melakukannya" tersenyum manis.
Geril menatap Ethan sampai tak berkedip "Sayang ku..." Geril menciumi wajah Ethan dan turun ke lehernya.
Menahan dada Geril mencoba menghentikannya "Berhenti!. Kita harus melihat bintang jatuh!" Berontak.
"Kita masih punya waktu sampai bintangnya jatuh" bersikukuh.
"Orang gila ini!. Jika aku tidak menghentikannya bisa-bisa kehilangan kesempatan melihat bintang!".
Sekuat tenaga mendorong dada Geril "Hentikan!!" Berteriak, Geril menatap Ethan datar.
Menghela nafas "Sekali ini saja. Aku sangat ingin melihat bintang jatuh, setelah ini aku akan memanjakan mu sebanyak yang kau mau".
"Sejujurnya aku tidak mau mengingat ukuran penisnya tidak normal membuat ku merinding. Tapi apa boleh buat".
"Sebanyak yang ku mau?".
"Ya, sebanyak yang kau mau. Berapa lama yang kau inginkan, aku akan melakukannya tapi jangan sekarang".
"Setuju".
"Syukurlah... Eh?!".
"Ka-kau bilang setuju!" Menatap Geril yang menciumi leher dan mencubit putingnya.
"Aku hanya mencium istri ku".
"Kau juga bermain dengan puting ku!".
"Ah, puting mu tegang..." Geril membuka jaket Ethan dan masuk ke dalam kaosnya.
"Anghh!" Geril mengulum putingnya.
"Kenapa aku harus percaya pada orang mesum ini!. Argh!, rasanya aku akan gila".
Menggigit puting Ethan hingga Ethan tersentak "Argh, sakit!. Jangan menggigitnya Geril".
Beberapa jam berlalu sampai waktu menunjukkan pukul tengah malam, kondisi Ethan bajunya tersingkap dan bekas ciuman serta gigitan tercetak jelas. Geril hanya mencium, menggigit, dan memelintir puting Ethan.
"Ah, bi-bintangnya!".
Geril juga ikut menatap ke langit "Hentikan sekarang juga!" Ethan menendang tubuh Geril hingga menjauh dari tubuh yang di rengkuhnya.
Bintang-bintang berjatuhan sangat indah, manik biru laut menatap binar dan penuh kagum tapi tidak dengan mata merah darah yang menatapnya dingin. Menatap tajam pada jutaan bintang di atas sana.
"Sepertinya aku harus memusnahkan bintang itu".
Geril memeluk tubuh Ethan dari belakang, Ethan bersandar di dada bidang Geril. Dalam diam hanya menatap jutaan bintang berjatuhan tanpa bersuara namun tangan Geril tidak bisa diam dan menjelajahi perut Ethan.
"Bintangnya sangat indah".
"Kau jauh lebih indah" Geril menatap Ethan serius.
"Ya, terima kasih" tidak terlalu peduli dan fokus pada bintang jatuh.
Tanpa sadar kupu-kupu berwarna keunguan gelap datang mengelilingi sekitar, terkejut saat kupu-kupu mendekati mereka berdua.
"Apa ini?" Menatap kupu-kupu yang berterbangan.
"Ethan" bisik Geril pelan.
"Eung?" Tatapan mereka bertemu.
Mencium punggung tangan kanan Ethan "Menikahlah dengan ku".
"Huh?" Ethan syok.
Geril menatap sembari tersenyum lembut, salah satu kupu-kupu mendekati Geril dan berubah menjadi sebuah cincin. Cincin membentuk bulan sabit dengan batu indah berwarna jingga kekuningan.
"Saat pertama kali bertemu setelah kebangkitan kita, aku mencari hadiah untuk mu. Aku pergi ke inti bumi dan mengeraskannya menjadi batu, merakitnya menjadi cincin. Ethan, aku menyesali perbuatan ku di masa lalu" Ethan menatap lekat Geril.
"Aku sangat marah saat kau ingin melepaskan ikatan mate kita. Aku sangat mencintai mu, ayo kita hidup bersama dan merawat anak kita" sungguh-sungguh.
Wajah Ethan memerah "Kenapa kau mengatakan anak?!".
Meraba perut rata Ethan "Kau harus melahirkan anak ku. Dia akan menjadi kesempurnaan kita yang sesungguhnya" memasang cincinnya di jari manis Ethan dan menciumnya.
"Ethan, istri ku sayang...".
Tak tahu apa yang terjadi Ethan terlalu terkejut dengan suasana sekarang, otaknya sulit mencerna situasi sampai tidak menyadari Geril berada di atasnya. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ethan.
"Ayo kita lakukan. Sampai kau mengandung anak ku".
"Tu-tunggu apa yang kau hngh!" Geril meremas kejantanannya.
"Aku sudah menahan diri sampai kau melihat bintang jatuh, sekarang mari kita lakukan sampai kau mengandung anak ku".
Wajah Ethan memerah padam "Apa dia jadi gila?. Aku bisa mati".
"Ki-kita lakukan di rumah saja ya?" Mencoba bernegosiasi.
Menatap datar "Tidak, aku bosan di rumah. Kita harus mencoba di alam liar".
"Aahhh Geril ngghhh!" Entah sejak kapan Geril menurunkan celananya dan sekarang menghisap penisnya kuat, tubuhnya panas sekali sekarang.
"Lidahnya sangat lihai, aku tidak bisa berpikir jernih. Ini terasa sangat enak".
Geril menjilat ujung penis Ethan dan mempermainkannya di sana "A-aku akan keluar, pergi dari sana!".
Geril mengulum penis Ethan habis "Hnggh!!" Spermanya keluar di dalam mulut Geril.
"Ja-jangan menelannya".
Geril menelan sedikit sperma Ethan dan mengeluarkannya ke tangan, menjadikan sperma Ethan sebagai pelumas dengan mengoleskannya di penisnya sendiri.
"Sekarang ayo kita jemput anak kita" menyeringai.
"Habislah aku...".
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Mata yang terpejam perlahan terbuka menatap sekitar, terganggu dengan sinar matahari yang masuk melalui celah jendela. Seluruh tubuhnya terasa sakit sekali, bingung bagaimana dirinya bisa tertidur di kamar ini.
Seingatnya ia bercinta dengan Geril di bukit, ah iya. Geril berteleportasi kembali ke mansion mereka dan melakukan kegiatan panas mereka di sini. Mengusap wajahnya tertekan dan menatap cincin di jari manisnya.
"Ku kira itu hanya mimpi, Geril benar-benar melamar ku".
"Aahh!".
Geril yang memeluknya dari belakang mempererat pelukannya sehingga tautan di bawah sana semakin dalam.
"Selamat pagi" mencium pipi Ethan.
"Keluarkan penis mu dari sana".
"Tidak mau, kita akan terus seperti ini sampai kau hamil" tersenyum.
"Tidak mungkin aku bisa hamil secepat itu".
"Lalu kita harus bagaimana agar kehamilan mu lebih cepat?".
"Mana ku tahu?!".
"Hm... Kalau begitu kita akan melakukannya setiap hari. Kemarin sudah sekarang ayo kita lakukan lagi pagi ini" bersemangat.
"Apa dia sudah gila?!".
"Anghh!!".
Menelasak masuk dengan keras, kaki kanan Ethan di bahu Geril mencium dan menjilat mata kaki Ethan membuat sang empu di bawahnya merasakan sengatan aneh. Mendorong keluar masuk dengan cepat hingga tubuh Ethan tersentak-sentak mengikuti gerakan Geril yang brutal.
"Pe-pelan-pelan hnghh aaahhh nghh Ge-geril pelannn hnngggh".
Setelah melakukannya di ranjang, mereka mandi sembari melakukannya lagi dan lagi. Sekarang waktu sarapan, duduk di kursi di atas pangkuan Geril tanpa melepas tautan di bawah sana.
"Aku sudah kenyang".
"Kau baru makan sedikit, makanlah lagi".
"Orang berotak selangkangan ini!, bagaimana aku bisa makan jika seperti ini?!. Ini membuat ku tidak nafsu makan" merinding.
"Aku sungguh sudah kenyang".
"Kalau begitu makan buah yang banyak agar anak kita sehat".
"Sejak Geril di kelilingi anak-anak kemarin ada apa dengan otaknya?. Dia terus membahas anak".
"Geril. Apa kau sangat ingin memiliki anak?".
"Tentu saja, aku sangat ingin kau melahirkan anak ku".
"Kehamilan ku tidak akan terjadi secepat itu, semua butuh waktu. Sekarang kita sudahi kegiatan kita cukup di sini".
Geril terdiam tak menjawab, Ethan membelalakkan mata saat Geril memeluknya dengan erat.
"Apa kau tidak mau mengandung anak ku?" Suaranya terdengar berat dan dalam.
"Bukan itu yang ku maksud".
"Lantas?".
"Ayo kita istirahat dulu dan lanjutkan nanti".
"Kalau aku tidak mau?".
"Sebenarnya ada apa dengan mu?. Kenapa kau terus membahas anak setelah kau di kelilingi anak-anak di desa?".
"Aku ingin kau mengandung anak ku, kau harus melahirkan anak ku".
"Aku takut, pikiran ku kalut saat melihat Ethan berniat bunuh diri. Aku selalu mencari cara agar Ethan tidak seperti itu lagi, kegelisahan ku terjawab kemarin. Jika Ethan mengandung dan melahirkan anak ku, dia memiliki tanggungjawab merawat anak-anak itu dan tidak akan pernah meninggalkan ku".
"Aku akan mengandung dan melahirkan anak kita, aku janji. Jadi kita sudahi dulu saja ya".
"Kau tidak akan berbohong pada ku?".
"Tidak akan".
"Bagaimana jika kau bohong nanti?".
"Aku janji tidak akan membohongi mu dan melahirkan anak kita".
"Kau harus menepatinya" mencium kening Ethan.
-----------------------------------------------------------
Eiyo!, aqyu mau spill dikit sekalian promo novel baru yang bakalan aku rilis setelah novel ini 'I Got You' dah end ya!. Kepoin ga?!!.
See you next chapter