Ruang yang sunyi, Hanya terdengar suara deru nafas yang terdengar memenuhi ruangan. Pasien yang beberapa jam lalu berjuang demi hidupnya dan anak-anaknya. Jennie yang masih belum sadar sekarang perlahan membuka matanya sadar, Bahwa perjuangannya untuk bahagia akhirnya datang.
"Jisoo.. " Serak suara Jennie memanggil nama Jisoo.
Joy yang sedang bersama Jennie langsung berdiri dari posisinya, "Jennie.. "
"Dimana Jisoo? " Joy diam, Tidak tau akan menjawab apa. "Joy.. "
Joy ambil gelas yang berisi air untuknya, "Minum dulu, Jen " Lalu Joy membantu Jennie untuk duduk bersandar.
Jennie memang haus, Akhirnya tenggorokannya terasa segar sekarang.
"Ada yang sakit? " Jennie menggeleng. Sejauh ini dia hanya merasa lelah.
"Dimana Jisoo? Anak-anakku dimana? " Tanya Jennie sekali lagi. Hal yang dia inginkan adalah melihat Jisoo dan mememui si kembar.
"Jen, Kau istirahat dulu, setelah pulih baru kau boleh ketemu mereka "
Jennie menggeleng. Rasa ingin melihat anaknya jauh lebih besar dari rasa lelahnya.
Joy tidak bergeming sama sekali masih berdiri tegak dengan kebungkamannya. Jennie juga sadar ada yang tidak beres dari Joy dan keheningan ini.
Saat Jennie akan berbicara lagi, Dokter Song masuk.
"Bagaimana keadaanmu, Jen? " Dokter Song berdiri bertanya pada Jennie.
"Baik. " Jennie menjawab, "Dimana Jisoo? Apa aku sudah bisa melihat anakku? "
Joy dan Dokter saling beradu tatapan. Dan Jennie sekali lagi heran dengan tatapan keduanya.
"Apa yang terjadi? " Jennie bertanya. Perasaannya jadi gelisa. "Dimana anak-anakku dan Jisoo? "
Mereka diam.
Jennie sedikit menaikkan suaranya, "Joy! Dokter! "
"Tenang, Jen. Jangan terlalu banyak bergerak " Akhirnya dokter Song bersuara.
"Aku bilang dimana anakku!! " Jennie teriak marah. Ada yang tidak beres.
Jennie berdiri dari duduknya dan siap melangkah mencari Jisoo.
"Jennie. Kau baru habis melahirkan! " Joy menahan Jennie.
"Aku mau Jisoo!! Anakku!! "
Perasaan Jennie menjadi takut. Ingatannya seketika terlintas saat kata-kata yang dulu dia keluarkan teringat kembali.
"Aku akan menghilang, Dari kehidupanmu. Jangan bunuh anakku "
"JISOO!! "
Jennie terus berteriak histeris. Air matanya jatuh berlinang dengan deras.
Hidupnya hancur.
Kebahagiannya juga ikut hancur.
"JISOO!! hiksss..Jangan bawa anakku!! "
Beberapa perawat datang atas permintaan dokter Song, Mereka membawa sebuah suntik untuk Jennie agar tenang. Dokter Song sendiri sudah bisa memastikan hal ini akan terjadi mengingat betapa hancur nya Jennie dengan fakta yang terjadi.
Beberapa saat Jennie mulai sadar dari tidurnya saat obat penenangnya disuntikkan.
Jennie menangis dalam diam. Menyesali apa yang terjadi semua karena nya. Semua hal yang terjadi itu adalah perbuatannya. Jisoonya telah pergi bersama kedua anaknya.
Tidur memiring dengan air mata yang mengalir deras.
Joy masuk setelah berbicara dengan Dokter, "Jennie " Joy elus punggung Jennie. "Makan dulu "
Hanya gelengan yang Joy terima.
"Jennie plis.. Tolong pikirkan kondisimu " Kata Joy.
"Aku Mommy yang buruk " Isakannya semakin pilu, "Joy.. Anakku hikss.. A-aku bahkan belum memeluk mereka, Joy.. "
Jennie pikir setelah bangun dia akan melihat si kembar secara langsung.
"Joy.. Bawa anakku kesini, Joy... Aku mohon.. "
Pecah sudah tangisan Joy, Sekuat tenaga pun dia menahan tangisnya dihadapan Jennie itu tidak berlangsung lama.
Joy cepat berdiri meninggalkan ruangan Jennie. Diluar ruangan dia bertemu dengan Wendy yang sedang duduk.
Joy langsung memeluk Wendy, "Tolong tahan Jisoo " Joy ikut terisak, "Jangan pisahkan mereka "
Joy sudah tau asal usul Jisoo. Dan hubungan apa yang kekasihnya miliki dengan Jisoo. Tapi Joy yang tidak tau jika keputusan Jisoo adalah seperti ini. Joy baru tau saat Wendy diminta untuk mengurus penerbangan Jisoo tapi tempat dimana Jisoo berada sangat rahasia. Hanya keluarga inti saja yang tau.
Wendy elus rambut kekasihnya, "Jisoo sudah pergi, Keputusan Jisoo juga sudah bulat. Mau menahan seperti apapun Jisoo tidak akan kembali "
prang!!!
prang!!!
prang!!?
Wendy dan Joy saling tatap. Mereka langsung masuk kedalam ruangan Jennie yang sudah berantakan dengan Jennie yang sudah pingsan.
JENNIE!!!
Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan, Bulan berganti tahun, Dan tahun ini adalah tahun ke 4 semenjak Jennie melahirkan si Kembar.
Keadaan Jennie?
Jangan tanya keadaannya. Jennie sekarang bukanlah Jennie 4 tahun yang lalu.
Jennie sekarang adalah Jennie yang jauh tak tersentuh. Jennie yang hampir gila karena kehilangan Cinta dan belahan Jiwa nya.
Jennie hampir gila.
4 tahun lalu merupakan tahun dimana Jennie berjuang sendirian dan hampir mati. Jennie bahkan beberapa kali dibawa ke sikolog karena memiliki gangguan kecemasan yang parah. Selama ini Jennie hanya terus menangis dan menyesal memohon agar anak nya kembali padanya.
Jennie bahkan tidak diberi kesempatan untuk melihat anaknya yang baru lahir.
Jennie menangis..
Kata-kata Jisoo selalu terlintas.
Aku berjanji padamu Jennie, Aku akan pergi. Menghilang dari hadapanmu, Dari hidupmu dan dari setiap penglihatanmu, Tapi aku mohon Jennie..Jangan hilangkan anakku.
Sekarang Jennie menyesal. Menyesal karena semua ini terjadi. Menyalahkan dirinya untuk semua takdir ini. Jisoo benar-benar memegang teguh ucapannya.
Andai. Andai Jennie tidak mengulur waktu untuk mencegah Jisoo.
Andai Jennie tidak berbuat hal yang menyebabkan Jisoo membencinya.
Dan Andai saja, Jennie tidak berencana aborsi hari itu mungkin semua ini tidak akan terjadi, Mungkin Jennie sekarang sedang melihat anaknya berlarian kesana kemari, Melihat setiap perkembangan anaknya setiap hari.
Jennie benci hidup ini.
Jennie mungkin sekarang sudah bisa mengejar cita-citanya kembali, Tapi Jennie gagal untuk mengejar cintanya. Jennie menjadi Model yang lebih terkenal dari sebelumnya seperti mimpinya tapi dia lupa bahwa kehidupannya tidak lagi bersamanya.
Dua tahun lalu Jennie yang seperti mayat hidup ditarik paksa oleh Joy, Jennie dimarahi habis-habisan berkata bahwa semua ini terjadi karena sikap egoisnya.
Joy tidak mau jika apa yang Jennie lepaskan untuk keinginannya pergi begitu saja.
Joy marah. Jennie memilih pekerjaannya daripada anaknya jadi mau bagaimanapun Jennie harus menjalani semua itu.
Joy juga berkata jika Jennie hanya mencari sendirian jangan harap apapun hasilnya. Jennie butuh suport oleh orang lain dan Joy siap untuk itu. Joy menyeret Jennie agar kembali kedunianya setidaknya pekerjaan bisa mengalihkan dari stres yang Jennie alami.
Jadilah sekarang Jennie yang menjadi Super Model setelah fakum 3 tahun lamanya. 1 tahun pertama saat mengandung dan 2 tahun sebagai penyembuhan jiwa Jennie.
Sudah 1 tahun ini Jennie kembali menjadi seorang model, Super Model yang namanya bahkan bisa didengar oleh setiap ucapan warga Korea.
"Jennie-ssi Penerbanganmu 20 menit lagi " Jennie tidak menjawab.
Sudah hal biasa sifat itu Jennie keluarkan untuk orang-orang disekitarnya.
Jennie pergi dengan seorang Manager, Bukan Joy. Karena Jennie sudah tidak terikat kontrak dengan Agensi dimana Joy bekerja.
Tujuan penerbangan Jennie adalah Italia, Dia akan menghadiri undangan Anniversary dari salah satu Brand besar yang menggaet dirinya.
Jennie lelah. Lelah dengan hidupnya.
"Jangan menyesali apapun Jennie. Ini yang kau inginkan " Kata-kata Joy.
Jennie ambil Airpods nya da memutar suara yang selalu membuatnya tenang, Hanya dengan itu Jennie bisa tenang dan tidur tenang.
Itu adalah suara detak jantung si kembar yang pernah mereka dengar. Hanya itu yang Jennie punya. Oh, Ada 1 lembar gambar hasil ugs yang Jennie simpan. Lain dari itu Jennie tidak tau bentuk wajah anaknya.
Yang Jennie percaya, Anaknya pasti mengemaskan.
Hikss..
Air mata Jennie jatuh lagi.
Dughh..
Jennie membuka matanya saat suara jatuh tepat disampingnya.
"Sudah Mama katakan jangan berlari "
Jennie lihat seorang anak kecil dan seorang wanita yang tengah mengecek apa anak nya baik-baik saja.
Anak kecil langsung berdiri. Terlihat baik-baik saja "Mama paliwaa.. "
"Gwenchana..? "
Anak kecil itu mengangguk semangat. "Mama. Kembal, Pali.. "
Anak kecil itu terus menarik Mama nya untuk segera pergi dengan cepat.
"Iya Sayang, Kita check in dulu. Tunggu papa disana " Anak dan wanita itu kembali berdiri, Anak nya bahkan menarik sang Mama agar cepat.
Jennie terus menatap mereka, Sampai suara seseorang menyadarkan penglihatannya, "Jennie-ssi, Ayo kita akan berangkat "
Jennie langsung mengambil tas nya, Kopernya dibawa oleh beberapa Staf yang bersamanya. Setelah sampai didalam pesawat Jennie duduk di kelas bisnis, Memasang kacamatanya dan siap untuk tidur. Perjalanan yang panjang dan Jennie memanfaatkan waktunya untuk istirahat.
Hampir 20 jam akan Jennie habiskan waktunya dipesawat, Rasa bosan menyelimuti dirinya, Dia pikir jika dia terbangun mungkin tujuannya sudah sampai nyatanya, Tidak. Helaan nafas terus terdengar beberapa staf nya masih tertidur nyentak.
Tukk
Tukk
Jennie langsung terbangun saat suara terdengar dari tempat duduknya. Menyempitkan matanya saat seorang anak kecil datang menganggunya.
"Permisi.."
Jennie tegakkan duduknya dan membuka kaca matanya.
"Bisaka Onty membantuku? " Jennie diam sebentar lalu mengangguk. "Mama, Tidak ada. Jihoon ingin ke toilet "
Kenapa Jennie terus bertemu dengan anak kecil. Tadi seorang gadis berumur sekitar 5 tahun, Dan sekarang anak lelaki berumur mungkin 7 tahun.
Anak lelaki itu menjelaskan jika itu adalah penerbangan pertamanya, Dan ibunya salah memesan tiket. Seharusnya mereka berada di kelas bisnis tapi karena kesalahan ibunya jadi ibunya harus berada di ekonomi.
Para staf Jennie berdiri ingin membantu tapi Jennie menolak dan berkata jika dia juga akan ke toilet. Setelah mengantar anak lelaki itu Jennie juga masuk setelahnya. Jennie juga kembali memposisikan badannya senyaman mungkin agar dia bisa tertidur kembali berharap perjalanan ini cepat berakhir.
"Jennie-ssi "
"Jennie-ss- " Jennie terbangun, "Kita sudah sampai "
Tidak banyak bicara Jennie hanya mengambil tas nya dan memasang kacamata hitam. Berjalan duluan keluar dari bandara dan langsung disambut mobil hitam khusus untuk menjemput Jennie.
"Jen, Kita langsung ke Hotel, Malam nya baru ke Anniversary Chanel "
Manager Jennie. Dia datang lebih dulu sebelum Jennie sampai di Italia, Sengaja lebih dulu agar mengurus beberapa kendala.
Mereka sudah sampai dihotel.
Manager Jennie, Alison. "Lantai 40 kamar 2791. Istrirahat. Jam 8 nanti aku jemput dikamar "
Jennie turun, Staf nya juga turun. Sedangkan Managernya tidak ikut, Karena masih sibuk mengurus banyak hal.
"Kalian bisa istirahat " Jennie berkata setelah barang-barangnya semua sudah ada didalam kamarnya. Make up artis Jennie juga hanya mengingatkan jika mereka akan ke kamar Jennie pukul 6 untuk menghias dirinya.
Semua sudah pergi tinggal Jennie sendirian didalam kamar, "Badanku cukup istirahat, Tapi pikiranku sangat lelah " Guman Jennie.
Jennie pejamkan matanya, Jennie tidak lelah, Hanya pikirannya yang terus berlari kesana-kemari tanpa henti memikirkan semua hal.
***
Sepasang kekasih tengah cekcok tentang masalah kecil, Gadis blonde yang terus berbicara sangat seperti rapper profesional. Dan, Satu gadis lagi hanya diam mendengarkan tidak bisa melawan sedikitpun, Mau melawan pun akan menjadi masalah yang lebih parah.
"Aku udah ingetin loh sama kamu "
"Iya, Iya aku minta maaf " Lisa meminta maaf lagi sambil melirik anak kecil disampingnya yang sama sekali tidak membantu.
Lisa bisik pada anak itu, "Ayo bantu onty biar mama ocie tidak marah lagi "
Anak kecil itu menggeleng, "Luby takut. Mama ocie selam " Anak kecil itu kembali sibuk dengan boneka beruang miliknya, "Onty lica cala. Lulu juga cala "
"Hey.. Baby, Ruru yang mengajak Onty Lica bermain air " Jawabnya membela.
Anak kecil itu adalah anak Jisoo dan Jennie, Oh apa bisa si kembar dikatakan anak Jennie setelah semuanya?
Sudah 4 tahun berlalu dan si kembar tumbuh dengan sangat baik. Seperti ucapan Jisoo jika anaknya tidak akan kekurangan kasih sayang sedikitpun. Dan Jisoo menepati janji itu.
Ruru dan Ruby juga sudah memasuki umur 3 tahun 7 bulan dimana masa-masa pertumbuhan mereka terbilang sangat cepat, Jisoo rasa anaknya baru kemarin belajar melangkah dan sekarang sudah bisa berlari bahkan mengoceh tentang banyak hal.
Berbicara tentang karakter. Ruru dan Ruby berbanding terbalik, Ruru adalah anak yang tidak bisa diam. Sangat aktif sampai Jisoo Rose dan Lisa sering dibuat kelelahan dengan tingkahnya. Sedangkan Ruby, Dia anak yang sangat manis, Sifatnya lebih tenang dari Ruru, tidak banyak tingkah tapi banyak bicara kalian akan pusing sendiri jika adu mulut dengan Ruby karena dia punya seribu jawaban.
Tapi, Diluar semua itu Si Kembar benar-benar menyayangi Jisoo. Ruru yang tidak bisa diam pun akan langsung diam jika Jisoo sudah berbicara padanya, Si kembar juga tidak akan melawan jika Jisoo sudah berbicara dalam mode serius, Diluar itu Jisoo tidak pernah sekalipun meninggikan suaranya pada Si Kembar.
Ruru juga memiliki jiwa pelindung yang Jisoo tanamkan pada dirinya, Jisoo selalu mengingatkan anaknya untuk saling melindungi satu sama lain. Mungkin karena Ruru lahir lebih dulu jadi jiwa kakak lebih kuat dari Ruby, Ruru yang selalu menjadi garda kedua dari Jisoo jika akan menyakiti Ruby.
"Tapi mama ocie malah " Ruby acuh dia malah memberi Lisa bonekanya yang lain.
"Harusnya Mama ocie marah juga sama Ruru "
Ruby berhenti menggerakan beruang nya, "Lulu macih kecil. Onty Lica udah becal "
Oh. Lihat, Seribu alasan Ruby.
Suara lain terdengar lagi dari belakang mereka. Rose dan Ruru, Ruru yang sudah menganti baju setelah semua bajunya basah akibat bermain air bersama Lisa.
"Baby dengar. Mama Ocie akan pergi bersama Onty Lisa " Rose menjelaskan. "Ruru sama Ruby mau ikut apa mau tunggu Dada disini? "
"Dada dimana? " Tanya Ruru.
"Dada masih dikantor sayang, Mungkin dua jam lagi Dada pulang "
Langkah kaki kecil Ruby mendekat bersama boneka beruang dipelukannya, "Luby mau ikut "
"Telpon Dada. Mama ocie, Bicaka Lulu telpon, Dada? " Ruru meminta.
Ruru tidak akan ikut jika dia tidak mendengar langsung dari Daddy nya.
Rose dengan cepat menghubungi Jisoo.
"Halo, Chaeng. Ada apa?"
"Halo, Unnie. Bisakah Ruru dan Ruby aku bawa? Saja "
"Mereka tidak akan merepotkanmu? "
"Unnie! Sejak kapan mereka merepotkan bagiku? "
"Baiklah. Berikan telponmu pada Ruru dan Ruby "
Rose mengspeaker ponselnya untuk Ruru dan Ruby.
"Halo, Princess. "
"Alo Dada " Panggil mereka bersamaan.
"Mama ocie bilang Princess nya Dada mau ikut? "
"Nee. " Ruby menjawab dengan semangat.
"Okey, Dengarkan Dada. Jangan merepotkan Mama ocie dan Onty Lisa " Si kembar mengangguk, "Dengarkan apapun yang Mama ocie katakan "
"Nee.. Dada "
"Ruru, Sayang? " Panggilnya untuk Ruru. "Ruru tau apa yang harus Ruru lakukan? "
Ruru mengangguk cepat, "Menjaga dili Lulu dan Luby agal tidak teluka "
"Good Captain. Dada akan menjemput kalian secepatnya--Okey? "
"Otey, Dada "
Panggilan mereka terputus.
Rose langsung menyuruh Lisa membawa si Kembar ke kamar mereka. Lisa memakaikan pakaian Ruby dan Rose memakaikan pakaian untuk Ruru. Karena jika Ruru ditangani oleh Lisa mereka tidak akan selesai pasti akan lama sebab mereka akan bermain sebentar.
Setelah Si kembar Rose dan Lisa selesai mereka di jemput oleh limosin putih.
Drescode acara itu warna hitam. Dan Rose sudah menandani Ruru dan Ruby sesuai dengan teman acara itu.
Ruru dan Ruby memakai mini dress selutut dengan sepatu boots sebagai penghiasnya. Rambut Ruru diikat sedangkan rambut Ruby di gerai dan dipasangkan bandol sebagai pelengkap, Lagipula Ruby lebih girly dari Ruru. Oh satu lagi. Jangan lupakan boneka beruang yang Ruby bawa kemanapun.
Setelah masuk kedalam Venue acara Ruru tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Ruby, Bahkan beberapa orang berhenti hanya ingin melihat betapa menggemaskannya Si Kembar, Apalagi salah satunya berjalan sambil memeluk bonekanya.
Sudah dimeja bundar, Rose berkata, "Baby.. Mama Ocie kesana sebentar " Tunjuknya pada sekumpulan orang-orang, "Tetap disini jangan kemana pun. Onty Lisa akan menemani kalian "
Si Kembar mengangguk. Rose kembali berpesan pada Lisa untuk mengingatkan jangan meninggalkan mereka sendiri.
Beberapa makanan juga sudah tersaji dimeja mereka.
Ruru dan Ruby mulai bosan, Kata Rose yang sebentar ternyata sangat lama dan itu membuat Si Kembar kebosanan.
Lisa juga sibuk berbicara pada beberapa kenalannya sampai tidak sadar jika Ruby sudah tidak ada bersama mereka.
Ruru yang tidak melihat kembarannya tidak ada tidak repot-repot memanggil Lisa, Dia langsung berdiri mencari dimana Ruby berada.
Rose datang dan langsung menanyakan dimana kedua keponakan "Lisa. Ruru sama Ruby mana? "
Lisa tersadar.
Bukannya menjawab Lisa malah bertanya, "Ruru, Ruby mana!? "
"Fuck. Lisa!! "
Rose dan Lisa langsung menyebar mencari dimana kedua kembar itu menghilang.
Jennie sedang berjalan keluar dari Venue yang membosankan. Hanya ada pembicaraan tentang Merek, Kualitas dan Harga. Jennie bosan dan muak akhirnya memilih keluar mencari udara segar.
Hikss.. Dada..
Dada..
Jennie menoleh, Suara tangisan anak kecil terdengar disekitarnya.
Dada...
"Hey!! Siapa disana? " Bukannya takut, Jennie malah semakin mencari dimana sumber suara itu.
Dada...
Okey. Jennie sudah menemukan sumber suaranya. Anak kecil dengan rambut tergerai memakai bandol dan memegang boneka beruang.
Ruby.
Jennie sentuh pundak Ruby yang sedang menangis, "Hey.. Kenapa menangis? "
Tatapan mata mereka bertemu.
Deg..
Perasaan ini?
Bukannya berhenti Ruby semakin menangis.
Jennie dengan pelan menggenggam tangannya, Instingnya ingin langsung bersentuhan dengan Ruby.
"Apa yang kamu lakukan disini? " Tanya Jennie saat Ruby sudah mulai tenang.
Dengan terisak Ruby berkata, "Luby, Ilang, Um, Lu-luby m-mau d-dada "
Jennie singkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Ruby.
Tangannya gemetar.
"Luby!!"
Jennie menoleh melihat satu lagi anak kecil, Ruru. Yang mendekat langsung memeluk Ruby. Memeriksa tubuh kembarannya apa dia baik-baik saja atau tidak.
Saat semuanya dirasa baik, Ruru berpindah pada Jennie yang menatapnya lebih intens.
Mata itu..
"Telimakasi, Onty-- Luby bilang telimakasi "
"Telima-- " Ruby akan berucap tapi suara lain lagi langsung memotong.
"Ruby. Ruru "
Ruru dan Ruby langsung berlari memeluk Rose secara bersamaan, Rose juga berjongkok menyamakan tinggi mereka.
"Sudah Mama Ocie katakan jangan pergi kemanapun " Rose mencium si kembar bergantian. "Ayo kita pulang. Dada sudah didepan menunggu kita "
Rose berdiri dan menatap Jennie, "Jennie Unnie, Lama tidak bertemu " Rose ulurkan tangannya dan Disambut oleh Jennie.
"Mereka anak-- "
Rose memotong, "Jennie Unnie. Aku akan pulang, Daddy mereka sudah menunggu, Selamat tinggal " Rose berjalan begitu saja, Tanpa menghiraukan Jennie yang masih setia menatap Ruru dan Ruby.
Mereka sangat mirip.
*
*
*
Segitu dulu lah. Maaf kalo nga ngefil, Next chapter bakal ku usahain lebih bagus lagi.
Jangan lupa Vote komennya kencengin.
Seeyou..
Jj4ever..
BABY JEN.