TFV Tetralogy [4] - Journal O...

By steefoy

109K 10.9K 1.2K

Buku 4☑ The Forest Voyage - Journal of Truth [Completed] "Kalian lelah mengikuti permainan kami, bukan? Ba... More

SHORT OPENING, VOYAGERS !
PROLOGUE
CHAPTER 1 - AIN'T SUPPOSE TO BE A FUNERAL
CHAPTER 2 - THE OTHER'S HOLIDAY PLAN
CHAPTER 3 : A MESSAGE FROM OLD COLLEAGUE
CHAPTER 4 - NEVER PUT THE BLAME ON ME
CHAPTER 5 - COULD BE THE LAST TIME I WRITE IN IT
Intermezzo
CHAPTER 6-1: THE LADY'S E-MAIL
CHAPTER 6-2: THE BEGINNING OF EVERYTHING
CHAPTER 7 - THAT ONE MYSTERIOUS GAME
CHAPTER 8-1: IT WAS A GAME, AFTER ALL
CHAPTER 8-2: ACTIVATING THE BOMB
CHAPTER 9-1 : THE REASON WE GO
CHAPTER 9-2 : THE FIRST CLUE
CHAPTER 10: SHE AIN'T SERIOUS
CHAPTER 11: PLAN A TO B
CHAPTER 12-1: A MARK ON THE MIRROR
CHAPTER 12-2 - NOT A LUCKY DAY
CHAPTER 13-1 - WHIPPIN' TABLES AND GUYS
CHAPTER 13-2 - FADING TO THE NEXT STOP
CHAPTER 14-1: THE SEARCHING OF A BRACELET
CHAPTER 14-2 : THE BRACELET'S OWNER
CHAPTER 15 - ALIBY KEPT THE HIDDEN CUP
CHAPTER 16 - SOME FALSE LEADS
CHAPTER 17 - ANSWER THE RA-PUZZLES
CHAPTER 18 - QUEST OF THE GARED GUY
CHAPTER 19-1 - FLYING THE VEHICLE
CHAPTER 19-2 - THE CURSED LAMIA
CHAPTER 20-1 - ANOTHER PUZZLES TO SOLVE
CHAPTER 20-2 - THE DISK IN A FLOWER'S HAND
CHAPTER 21 : THE MAN WHO HAD THE ROCK
CHAPTER 22-1: GUESS HE KNOW WHERE THEY HIDE
CHAPTER 22-2: SEA OF KIDS' BLOOD
CHAPTER 23 - A TRY OF WALL-FOLLOWING
CHAPTER 24-1: LEAD TO THE FIRST PLACE
CHAPTER 24-2 - PLUNGED INTO AN UNDERGROUND
CHAPTER 25 : THREE MASKS, ONE REVENGE
CHAPTER 26-1 - A SWORD THAT TURNS BACK
CHAPTER 26-2- NOW TRUST NO ONE
CHAPTER 27-1 - THE VERGE OF BREAKING DOWN
CHAPTER 27-2 - "A PSYCHODELIC SILHOUETTE"
CHAPTER 28 - FINAL SHOT THROUGH HIS HEAD
CHAPTER 29-1- A CODE TO SAFE ZONE
CHAPTER 29-2 - FOR THIS WILL BE THE LAST
CHAPTER 30 - "MY LAST POV", said Bexton.
FINAL CHAPTERS - ETHAN RAY
FINAL CHAPTERS - GRISDANE FERNANDEZ
FINAL CHAPTERS - BEXTON ADRIANNO
E P I L O G U E

FINAL CHAPTERS - CALLENSY REECE

1.6K 200 17
By steefoy

CALLENSY REECE

Core Maze, Batu, Malang

January 7th, 05.10 A.M

Yang kurasakan sekarang hanyalah panas dari api ajaib yang dibuat Violet dengan kemampuan sulapnya. Setelah kukorek-korek, cewek itu rupanya menyimpan korek api di balik baju lengan panjangnya yang bermodel one shoulder. Sambil berbincang-bincang ringan, Gris di sebelahku sibuk mengobati Jay. Cowok itu berhasil selamat, walaupun kondisinya sedikit mengenaskan. Dia butuh bantuan secepatnya.

"So, untuk memuaskan rasa penasaranku padamu, Vio," kata Gris membuka pembicaraan. "Apa lipstikmu itu NYX?"

Violet menoleh, menatap Gris sambil tersenyum sinis.

"Nyx Matte yang tea rose," kata Violet singkat. "Aku selalu suka warna ini. Bisa digunakan dengan baju apa pun."

"Bukankah bajumu hanya ini saja?" tanyaku blak-blakan, tampak membuatnya sedikit tersinggung. "Maksudku, kamu kelihatannya hanya suka warna hitam."

"Well, aku nyaman dengan pakaian seperti ini waktu bertugas," kata Violet santai. "Kembaranku di sana juga berpakaian seperti ini. Bisa menampung banyak benda, tapi kalau di tempat aku tidur biasanya, aku malah cuma pakai sport bra doang."

"Memang kamu nggak kedinginan?" tanya Gris penasaran. "Pake sweater?"

"Ya pakai dong, Grisdane," kata Violet meringis. "Tapi jarang. Biasanya aku pakai baju lengan panjang."

Kami berdua hanya mengangguk-angguk saja mendengarnya. Sejak tadi, aku dan Gris terus bertanya mengenai Tempat Tidur-nya, tapi Violet hanya tersenyum lalu membuang muka sambil berkata "Rahasia Ilahi".

Sekarang aku mulai berpikir kalau dia adalah titisan setan.

"Aku minta maaf, Len," kata Violet menoleh padaku. "Karena tadi aku... tidak sengaja membunuh Ricco."

Mengingat nama itu membuatku langsung down. Nama yang selama ini begitu kuelu-elukan, selalu kubanggaan di depan mama dan papaku. Mereka berdua bahkan merestui aku dan Ricco. Lalu semuanya berubah begitu saja, hanya dalam hitungan detik. Dia merangkul Kathy di depanku, menghancurkan perasaanku begitu saja, seakan-akan aku dan dia tidak pernah ada apa-apa. Kalau dia masih ada, aku ingin sekali menampar, menggorengnya, menguliti dia, kusate kalau perlu, meminta penjelasan kenapa dia melakukan ini semua.

Kalian tahu kan rasanya terlanjur sayang? Saat orang yang kamu sayang melakukan kesalahan fatal, sekeras apa pun usahamu untuk marah dan ngambek dengannya, kamu tidak bakal bisa. Karena rasa sayangmu melebihi keinginanmu untuk marah. Inilah yang kurasakan sekarang, sudah seperti orang bego saja. Antara aku ingin memaafkannya, dan marah besar dengannya karena sudah mencampakkanku . Masalahnya, sekeras apa pun aku memaksa diriku untuk marah dengan Ricco, aku tidak bisa. Aku terlalu sayang dengannya, sampai rasanya aku hanya bisa duduk di sini, berharap waktu bisa diputar dan meminta penjelasan atas apa yang sudah dia perbuat, barangkali sesuatu dapat dilakukan untuk menebus rasa bersalah sekaligus kesal yang merundungku tanpa henti sejak tadi. Maksudku, kenapa dari sekian banyak perbuatan jahat di dunia ini, harus itu yang dia pilih, mengkhianatiku? Kenapa tidak sekalian saja dia membunuhku? Begini kan aku harus hidup dihantui rasa pedih dan sakit. 

Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Semuanya sudah terjadi dan menjadi masa lalu. Ricco sudah menjadi masa laluku. Tak perlu mengingat-ingat yang telah lewat, tak bakal ada habisnya dan hanya akan menimbun dendam tak berujung...

Tapi tetap saja, kenapa harus aku yang dikhianati?

Lalu Carlo. Aku melihatnya dengan jelas, dia menembak kepalanya sendiri, padahal dia tidak tahu kalau chip di dalam tubuh kita ini dikontrol oleh alat yang sudah dimatikan oleh Violet (sampai sekarang aku masih tidak paham darimana dia bisa tahu cara mematikannya). Secara logika, dia mati sia-sia.

Belum lagi Pierre, yang mati hanya dalam hitungan detik.

Ini semua terlalu berat dan cepat. Lalu bagaimana dengan teman-teman kita di Kanada? Apa mereka mengalami hal serupa? Kejadian ini tidak hanya menyerang fisik, tapi juga mental kami. Harus kuakui, Tante Amelia serta Om Ranno yang rupanya adalah sosok Rapunzel, pandai memainkan ini semua. Kami semua hancur.

"Violet." Kudengar Gris memanggil cewek di sampingku. "Boleh aku bertanya?"

"Yep, apa?"

"Bagaimana bisa kamu tahu kalau, Rapunzel adalah Tante Amel serta Si Sinting Tirano, orang tua Carlo, dan segala antek-anteknya di Kanada sana?"

Violet terdiam sejenak. "Ini rumit." Violet masih mencoba untuk menjawab pertanyaan Gris. "Tapi aku akan jelaskan sedikit saja. Intinya, sejak awal kami sudah tahu soal Cerveau Bang, semuanya. Dan sekedar info, Cerveau Bang itu bukan benar-benar organisasi psikopat."

"Apa?" Aku dan Gris berkata barengan.

"Kok gitu sih?" sambung Gris bingung.

"Mereka hanya kelompok kecil yang terdiri dari orang-orang dengan kecenderungan untuk membunuh orang lain, nama Cerveau Bang itu diambil dari nama restoran, kali," kudengar Violet berdecak kesal. "Bodoh banget ngambil nama begituan. Awal aku denger nama itu, aku nyaris ngakak."

"Darimana kamu tahu kalau nama itu diambil dari nama restoran?" tanya Gris penasaran. 

Cewek itu mengangkat sebelah alisnya sekali. "Ketua organisasi yang memberitahu." 

"Ketua apa?" ulangku bingung, tapi cewek itu malah mengibaskan rambutnya yang menyebarkan bau citrus dengan santai. 

"Nanti kalian akan tahu. Namanya Lingkaran Alam. Rumit kalau dijelaskan di sini."

"Oke, l-lalu?"

"Lalu, ketuanya, Jacqueline Mo, dia memiliki masa lalu yang cukup buruk, karenanya dia jadi depresi, dan sempat mengidap skizo, sampai akhirnya dia membunuh seorang wanita dan anaknya, yang diklaimnya sebagai perebut suaminya," kata Violet.

"Lalu apa hubungannya denganmu?" tanyaku.

Violet menatapku lekat-lekat. "Ini agak rumit, oke? Jadi, aku sudah lama tahu soal Cerveau Bang, itu satu. Kedua, sebenarnya yang terjadi di Kanada sana agak kompleks. Teman-teman kalian, terutama Sierra dan Samuel, mereka berdua pasti mengalami syok berat sekarang." Violet menarik nafas panjang. "Karena ibunya Sierra masih hidup."

WHAT?!

"Tapi Sierra pernah cerita kalau ibunya kecelakaan saat dia mau mengantar tugas kakaknya," sela Gris tidak percaya. "Aku inget banget sama cerita itu, sampai nangis-nangis segala. Aku aja sampai mendadak melankolis dan ngusap-ngusap laptopnya Carlo waktu itu."

Violet mengangkat sebelah alisnya. "Iya, itu karena papanya memalsukan memori Sierra dan Samuel." Violet kemudian memandangi api unggun kecil yang dia nyalakan dengan tatapan datar. "Mama mereka memang kecelakaan, tapi bukan karena insiden dengan papa mereka, yang membuat Sierra juga... nyaris mampus. Tapi kecelakaan itu disebabkan oleh papa mereka sendiri. Dia sengaja menabrak mama mereka, sampai akhirnya mama mereka kehilangan ingatannya."

"Amnesia? Tapi gimana bisa? Om Ivan masak tega begitu?" tanyaku tidak percaya dengan cerita baru yang kudengar. "Menabrak? Tega sekali dia!"

"Kenyataannya begitu," jawab Violet sambil tersenyum kecut. "Karena memulihkan ingatannya, mama mereka tidak bisa menemui mereka untuk waktu yang lama. Dan kemudian hak asuh jatuh ke tangan sang papa. Itu pertama."

"Buset, satu aja udah dahsyat begitu," komentar Gris panik sambil mengipas-ngipas wajahnya lebay. "Yang kedua apa dong?!"

"Kalian tahu kan soal pekerjaan orangtua mereka?" Violet memandangku. "Callen? Kamu kan temannya."

"Aku hanya tahu papanya punya kafe di Surabaya, selain itu kadang dia menjalankan bisnis dengan papa teman kami, Ethan. Om Jody. Jelas kami tidak tahu apa yang mereka kerjakan dan tidak berniat membahas."

Violet lalu menjentikkan jarinya."Itu dia. Bisnis yang dijalankan dengan si Jody itu, adalah sebuah perusahaan yang spesialisnya di bidang mineral Bumi, nuklir, batu-batuan."

"Hah!?"Gris membelalakkan matanya tak percaya."Pantas aja anak itu bisa beli Hermes."

Violet terkekeh."Otakmu penuh barang brand semua ya? Tapi nggak masalah. Aku suka mendapat teman begitu."

"Lanjutkan, Vi,"kataku mendesak Violet.

"Oke. Pekerjaan itu sama dengan pekerjaan yang dimiliki mamanya Sierra. Singkat cerita, akhirnya mama dan papa Sierra itu cerai, dan tebak dengan siapa papa Sierra menjalin hubungan selama ini?" Violet memandangku dan Gris lekat-lekat."Ketua Cerveau Bang."

"HOLY SHIT!"teriak Gris histeris, sementara aku hanya bisa melongo dan berharap ini semua mimpi.

Walau aku kaget luar biasa, tapi aku tahu betul aku tidak terlalu terpukul mendengarnya, karena aku tidak mengalami hal itu, lain halnya dengan yang terjadi dengan Ricco. Jadi, aku hanya diam sambil berharap temanku di sana tidak syok sampai mau bunuh diri segala mendengarnya.

Dengan Jacquline Mo?

Ini dunia apa akhirat? 

"Jadi selama ini papa Sierra sudah tahu semuanya, sejak awal kamp?" tanyaku ragu.

Masalahnya, Violet mengangguk. "Iya. Sejak awal camp Ivan sudah tahu, tapi dia diam aja."

"Dan untuk apa dia melakukan itu semua?"

"Karena perusahaan mama Sierra dan papanya bersaing. Mereka memperebutkan sesuatu pokoknya, dan selama ini, LG dan Republika selalu bersaing ketat. Mengingat Jacquline Mo juga adalah adik dari mamanya Sierra, alias bibinya..."

"Violet," kata Gris sambil memegangi dadanya dramatik. "Hentikan semua drama ini, aku sudah tak sanggup, ingin aku pergi ke rawa-rawa sekarang, mending tenggelam bareng Hayati..."

Aku melirik Violet yang balik melihat ke arahku dengan tatapan bingung bercampur jijay dan bertanya-tanya siapa itu Hayati, yang kutanggapi dengan gelengan kepala seakan berkata. "Lupakan, dia cuma ngelindur aja."

"Dia nggak masalah, kan?"

Aku mengangguk. "Cuma rada miring sedikit. Tapi selebihnya dia oke."

"Aduh, Callensy! Masak kamu nggak bela aku sih! Ini kan being dramatic!"

Aku tersenyum kecut menanggapinya. "Oke, oke. Aku bela kamu lain kali tapi sekarang, kuakui kamu lebay banget, Gris."

"Ah." Gris menoleh ke samping sambil memasang wajah sengak seperti biasanya. "Bodo amat. Pokoknya gue seneng."

"Moto hidup yang bagus," komentar Violet sambil tersenyum kecil. "Akan kuselesaikan ini. Sejak lama, Liana, mamanya Sierra, itu tidak menampakkan dirinya di hadapan Ivan dan Jody, serta Howard, papanya Belle. Iya, mereka semua bersekongkol, jangan terkejut." Tidak kaget sih, tapi KAGET BANGET. "Mereka sudah lama ingin menghabisi Liana, karena itu satu-satunya cara untuk merebut perusahaan LG yang dikendalikan oleh Liana dan Gerald, suami barunya."

Aduh, semua ikatan kekeluargaaan ini membuatku pusing luar biasa.

"Menurut mereka, hanya dengan melenyapkan Liana, mereka bisa mengambil hak milik perusahaan LG. Karena itu mereka ingin memancing Liana supaya dia keluar dari," Violet mengangkat tangannya membentuk angka dua, seperti tanda kutip, "... tempat persembunyiannya, supaya mereka bisa menghadapi Liana. Tapi mereka salah."

"Kenapa bisa salah?"

Cewek itu memainkan gelang hitam yang dia kenakan di tangan kirinya, sebuah gelang yang dibuat dari beads batu Onyx yang mengkilap.

"Karena sejak awal, kami tahu motif Ivan dan sekongkolannya itu. Mereka membuat jurnal perencanaan mereka, dan kami berhasil mencurinya. Dari situ, kami tahu semuanya, dan memutuskan untuk mengikuti permainan mereka."

"Jadi, kamu, bukan anak buahnya Rapunzel?" tanyaku menunjuk Tante Amel yang sudah sekarat.

"Aku pura-pura jadi anak buahnya. Yang itu lain cerita lagi. Maaf kalau aku bikin kalian bingung dengan teka-tekiku, tapi itu perintah dari Rapunzel, yang diperintah oleh Ivan lagi dengan bantuan Jacqueline, dan kalau kalian masih belum seberapa pusing, iya, Rapunzel itu semacam satu kesatuan yang mengambil nama Princess Disney sebagai nama grupnya, yang terdiri dari yang mulia Tirano, Amelia, Ivan, Jacqueline, dan Harrison. Tante Amel kan bukan mama kandungnya Carlo."

"Oke, aku bener-bener pusing banget sekarang," kata Gris sambil memijit-mijit kepalanya bingung. "Itu bukan mamanya Carlo, lalu mamanya Sierra masih hidup, rupanya dia menikah lagi dengan orang dan sudah cerai dengan Om Ivan, sementara Om Ivan ternyata memiliki hubungan dengan Jacqueline Fucking Mo si kampret sialan bajingan bitch slut patut mati yang adalah ketua Cerveau Fucking Bang, dan adalah adik dari mamanya Sierra?" ucap Gris dengan selipan kata-kata kasar yang seharusnya tak lulus lembaga sensor dan tak pantas ditiru oleh ciptaan dari segala umur.

Violet tersenyum. "Kamu mengerti."

"Iya, ngerti sih, tapi tetep aja ribet banget!"

"Karena itu aku nggak mau menjelaskannya. Karena ini rumit. Tapi kalian toh ya mengerti," kata Violet santai. "Jadi, lebih baik sekarang kita tenang-tenang saja menunggu bala bantuan datang, dan kita tanya kondisi teman-teman kita di sana."

"Apa kembaranmu juga ada di sana?" tanyaku penasaran.

Dia mengangguk cepat. "Yep, namanya Rosetta, sering diganti jadi Rosette, dan akrab disapa Rose. Aku Violet, dengan tambahan TE lagi di belakang, tapi aku lebih suka Violet."

"Kalian identik?"

"Hmm." Violet melirik Gris yang menggigiti kuku jarinya. "Entahlah. Banyak yang bilang begitu. Tapi kalau kalian bertemu Rose nanti, mudah kok mengenalinya. Rambutnya berwarna lebih gelap dariku. Selain itu, dia jauh lebih diam dari aku. Dan yah, dia pasti diapit oleh seorang cowok sedangkan aku enggak."

"Kenapa dia diam? Dan kenapa kamu jomblo?"

Kurasakan tatapan tajam Violet terarah ke Gris, yang langsung megap-megap kehabisan napas begitu mengatai cewek itu jomblo.

"M-maaf, maksudku, single, jangan tersinggung aku pun jomblo kok," kata Gris berusaha menghibur Violet. "Maaf."

"Iya, nggak apa-apa, tapi emang iya aku nggak punya cowok," katanya sambil menerawang. "Sedangkan Rosie lebih diam dari aku karena... dia tidak bisa bicara."

Ups. "Maaf, maksud kamu... bisu?"

Violet mengangguk. "Dia begitu sejak kecil. Jadi, ya, aku nggak pernah ngomong sama dia."

"Lalu kalian ngobrol sesama kembaran gimana dong?"

"Ya, lewat gerakan tangan," kata Violet. "Nanti kalian akan tahu kalau ketemu dia. Sekarang kalau tidak keberatan, aku akan tidur sebentar. Asal kalian tahu, sejak mengejar kalian aku jarang tidur, tabu."

Lalu Violet langsung berbaring tanpa menunggu atau pamit dengan kami, sementara aku dan Gris memandangi Jay yang untungnya masih sadar, hanya saja dia tertidur lemas.

"Vio," kudengar Gris yang cerewet banget ini masih ingin ngobrol dengan cewek di sampingku yang sudah mulai memejamkan mata ini tampak biasa saja dipanggil namanya. "Cuma penasaran aja sih. Kan hubungan keluarganya ribet banget, tapi ada satu yang bolong. Anu, maminya Sierra sama suami barunya, mereka pasti punya anak, kan?"

Kulihat Violet mengangguk.

"Siapa anak-anaknya?"

"Aku dan Rose."

Oke, ini benar-benar ribet sekali.

{ revised }


Continue Reading

You'll Also Like

57.2K 4.2K 74
Cerita pertama, novel pertama. Welcome 🩷 Di siang yang panas terik itu, ketiga orang remaja SMP berniat pergi untuk bermain ke laut menggunakan seb...
571K 42.2K 48
[ BUKU SATU ] Completed ☑ Entah bisa dikatakan sebagai sebuah kesialan atau bukan, empat remaja terperangkap di sebuah hutan yang tidak terdata di...
272K 19.5K 61
Frefio Freya Jayawardhana, terpaksa dijodohkan bersama Fiony Alveria karena paksaan dan keinginan Almarhum nenek mereka. Tapi mereka tidak akan tahu...
Wattpad App - Unlock exclusive features