Kim Derryl adalah salah satu mafia berdarah dingin. Tidak terlihat, namun namanya terkenal di dalam dunia hitam. Penuh ambisi dan tidak pernah ragu untuk menghabisi nyawa orang-orang yang mengkhianatinya ataupun mempermainkannya.
Kim Derryl adalah sosok yang tegas, keras dan egois. Selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya tanpa terkecuali. Tak menyukai kegagalan dan selalu berhasil menjalankan seluruh bisnis ilegalnya dengan rapi.
Polisi di Korea sangat mengenal sosok Kim Derryl, namun tidak ada yang berani menyentuhnya dan melawannya. Kim Derryl kebal hukum dan selalu berhasil memanipulasi orang-orang di sekitarnya. Tidak takut pada apapun, bahkan berani menghancurkan orang-orang yang berniat melakukan hal buruk pada kelompoknya.
Sampai akhirnya..
Orang tua Derryl menikahkan Derryl dengan wanita yang tidak Derryl cintai dan wanita itu adalah Ibunya Karina, Yoon Eunhee.
Pernikahan Derryl dan Eunhee tidak berjalan dengan mulus. Dingin, penuh ketegangan dan konflik. Sampai akhirnya Derryl memutuskan untuk fokus ke bisnis ilegalnya, tanpa mempedulikan keadaan istri dan anak tirinya. Derryl jarang pulang ke rumah dan selalu sibuk mengurus bisnisnya di dunia hitam. Tetapi yang terpenting, setiap bulan Derryl akan selalu mengirimkan uang kepada Eunhee. Meskipun jarang pulang, tetapi Derryl telah membuktikan bahwa dirinya masih bertanggung jawab dan tidak lepas tangan.
Waktu berlalu..
Derryl yang sedang asik bermain-main bersama wanita bayarannya, tiba-tiba saja dihubungi oleh ajudan pribadinya dan ajudan pribadinya mengatakan kalau Eunhee mendatangi perusahaannya karena ingin berbicara serius dengannya.
Derryl merasa sangat penasaran.
Kenapa tiba-tiba sekali?
Ada apa?
Biasanya jika Eunhee membutuhkan sesuatu atau menginginkan sesuatu, Eunhee akan menelepon ajudan pribadinya. Setelah menelepon ajudan pribadinya, maka ajudan pribadinya akan memberitahu keinginan Eunhee padanya. Ketika Derryl sudah mengetahui keinginan Eunhee, maka keinginan Eunhee akan langsung terwujud di waktu dan hari yang sama.
Tetapi kenapa sekarang tidak?
Segala macam pertanyaan berputar-putar di dalam kepala Derryl, hingga menciptakan rasa penasaran yang tidak bisa untuk Derryl hentikan.
Sampai pada akhirnya..
Derryl memutuskan untuk menghampiri Eunhee di perusahaannya. Ketika sampai di perusahaannya dan bertatap muka dengan Eunhee. Derryl dapat melihat kesedihan yang begitu mendalam dari kedua bola mata Eunhee. Tetapi yang membuat Derryl semakin terkejut adalah, tanpa takut Eunhee mendekatkan diri padanya dan memeluknya. Bukan pelukan biasa, tetapi pelukan yang diselingi dengan tangisan cukup menyayat hati.
Derryl tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Derryl juga tidak pernah membiarkan hatinya jatuh ke seseorang yang salah. Tetapi setelah melihat air mata Eunhee mengalir, Derryl menjadi sangat marah. Derryl benar-benar tidak suka melihat Eunhee menangis.
Setelah mendengar cerita Eunhee tentang percintaan Karina yang tidak baik-baik saja, emosi yang ada di dalam diri Derryl semakin berkobar. Derryl memang mengetahui percintaan Karina dengan kekasihnya yang bernama Soobin. Namun selama ini, Derryl tak pernah mempedulikan hubungan Karina dengan kekasihnya itu.
Tetapi sekarang..
Derryl tak bisa berdiam diri saja ketika mendengar ceritanya secara langsung dari Eunhee. Bahkan Eunhee menceritakan kisah percintaan Karina sambil menangis.
Mengapa Karina harus memanfaatkan pria seperti Yunho?
Derryl tidak habis pikir..
Mengapa Karina menggunakan Yunho untuk menyingkirkan orang-orang yang berniat merusak hubungannya dengan Soobin?
Apakah Karina tak memikirkan resikonya?
Yunho mencintai Karina.
Seharusnya Karina menjauhkan dirinya dari duri beracun yang kapan saja bisa menusuk dan membunuh Karina jika sudah terluka ataupun dikecewakan.
Lalu lihatlah sekarang..
Karina benar-benar sudah dihancurkan oleh Yunho hingga ke akar-akarnya.
Akhirnya Derryl memutuskan untuk membantu Eunhee dengan menyingkirkan Yunho dan Yeonjun.
Untuk Yeonjun, Derryl akan melakukannya kapan saja. Menghabisi pemuda ingusan seperti Yeonjun adalah hal yang sangat mudah.
Jadi untuk sekarang, yang harus disingkirkan terlebih dahulu adalah Yunho. Karena Yunho mulai mengancam kebahagiaan Karina dan harus segara disingkirkan secepatanya.
Akhirnya Derryl menyuruh ajudan pribadinya untuk mencaritahu tempat tinggal Yunho. Setelah mengetahui tempat tinggal Yunho, Derryl memerintahkan salah satu penembak jitunya untuk membunuh Yunho.
Namanya ada Choi Jongho.
Satu hal yang harus ditekankan, Derryl tidak menerima kegagalan atau semua orang yang berada di sekitar Jongho akan mati.
Ternyata Jongho tak berhasil menyingkirkan Yunho. Karena Jongho gagal dalam menjalankan misinya, maka kematian adalah hukuman yang paling tepat untuk Jongho.
Derryl menatap Jongho dengan tajam dan kembali berkata...
" Setelah kamu mati, keluargamu yang lainnya akan segera menyusul. "
Jongho menggeleng cepat dan menangis semakin keras, hingga akhirnya...
DOR!!
Suara tangisan Jongho terhenti bersamaan dengan timah panas yang menembus kepala Jongho.
" Bersihkan semua ini, jangan sampai ada yang tersisa. " perintah Derryl kepada anak buahnya.
" BAIK TUAN!! " ucap anak buah Derryl secara bersamaan.
Para anak buah Derryl saling bekerja sama untuk mengangkat mayat Jongho dan membawanya keluar dari ruang eksekusi menuju ke ruangan pembakaran. Di dalam ruangan pembakaran itu, anak buah Derryl akan menghancurkan tubuh Jongho hingga tak tersisa.
Derryl menatap Sam, ajudan pribadinya yang selalu setia berdiri di dekatnya dan mendampinginya.
" Singkirkan Yunho secepatnya! " ucap Derryl dengan tegas.
" Baik Tuan.. "
" Perintahkan penembak jitu lainnya dan kali ini tidak boleh ada kegagalan lagi. "
" Saya mengerti Tuan.. "
Derryl menyerahkan senjata api kesayangannya pada Sam dan berjalan keluar meninggalkan ruangan eksekusi. Salah satu ruangan kematian untuk orang-orang yang gagal dalam menjalankan misinya.
" Kita kembali ke rumah, aku harus menemui Eunhee dan Karina. "
" Baik Tuan. "
" Ini sudah malam, lebih baik kamu pulang yaa. Di sini sudah ada Soobin yang menemaniku. " pinta Yeonjun kepada sang kekasih.
Semenjak Lia mengetahui perasaannya yang sebenarnya, hanya dalam sekejap Lia berubah menjadi wanita yang sangat posesif dan selalu ingin berdekatan dengannya.
" Tidak mau.. "
Lia menggenggam tangan Yeonjun semakin erat dan menciumnya.
" Tapi babe, Om dan Tante pasti akan mengkhawatirkanmu. "
" Mereka tidak akan khawatir, aku sudah meminta izin pada mereka. "
" Kamu tetap harus pulang, makan dan mandi. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu dan beristirahat. "
" Pokoknya aku tidak mau. "
Yeonjun menarik napas lebih dalam dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. Lalu menatap ke arah Soobin yang tengah duduk di atas sofa sambil menikmati makan malamnya.
" Pulanglah Lia, turuti perkataan Yeonjun. "
Lia menatap Soobin dengan dahi berkerut dalam. Mengapa Soobin menjadi manusia yang paling ikut campur seperti ini?
" Kamu tidak berhak memerintahku. "
" Apakah kamu sudah tidak waras? Yeonjun yang memerintahkanmu untuk pulang, tapi kamu tidak mau. Itu artinya kamu sudah menolak perintah dari kekasihmu itu. "
Tatapan Lia semakin tajam dan kembali berucap..
" Bukannya tidak mau, tapi aku ingin menjaga Yeonjun dari pria mesum seperti dirimu. "
Soobin berhenti mengunyah dan menatap Lia dengan satu alis yang terangkat. Setelah beberapa saat terdiam, tiba-tiba saja Soobin menyeringai sambil mengunyah makanannya kembali.
" Aku tidak mesum. " kata Soobin setelah menelan makanannya. Lalu menyumpit makanan yang lainnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Soobin menikmati makanannya dengan tenang tanpa terganggu dengan segudang ocehan dari Lia.
" Tidak mesum dari mana? kamu mencium kekasihku sembarangan. "
" Jika aku mau, aku bisa melakukan lebih dari yang kamu bayangkan. "
Mulut Lia terbuka lebar, matanya melotot tajam dalam rasa amarah yang semakin berkobar. Lia berdiri dari posisi duduknya dan berniat untuk menghampiri Soobin. Lia ingin sekali menampar Soobin dan menjambak rambut Soobin. Namun keinginan Lia harus tertahan saat Yeonjun menggenggam tangan Lia semakin erat.
" Sudahlah babe.. "
Bibir Lia mengerucut lucu dan kembali mendudukkan dirinya di kursi. Lia benar-benar merapatkan dirinya dengan Yeonjun. Mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Yeonjun, tanpa berniat untuk melepaskannya.
" Tapi aku masih ingin di sini babe. "
" Untuk apa di sini, kamu sudah membantu Yeonjun untuk makan dan meminum obatnya. Itu artinya, tugasmu sudah selesai, kan? "
" Iya, tapi aku masih ingin di sini bersama Yeonjun-ku. "
Lia terus memberikan tatapan hangatnya kepada Yeonjun sambil tersenyum. Tanpa ragu Yeonjun membalas tatapan Lia dan ikut tersenyum.
" Lia.. besok giliranmu, tapi untuk malam ini biarkan aku yang menemani Yeonjun. " ucap Soobin sambil membereskan sisa-sisa makanannya.
" Kenapa harus menunggu besok? Aku ingin menemani Yeonjun malam ini. "
" Ohh jadi kamu ingin menemani Yeonjun malam ini saja? Padahal jika kamu memilih menemani Yeonjun besok, kamu bisa bersama Yeonjun seharian. "
" Tidak! Bukan seperti itu! Aku hanya.. hanya.. aku hanya.. " Lia menjadi gelagapan, hingga kehilangan kata-kata.
" Hanya apa? "
" Aku hanya ingin menemani Yeonjun seterusnya. Bukan cuma malam ini, tapi besok juga. Pokoknya aku ingin menemani Yeonjun hingga Yeonjun sembuh. "
" Kamu tidak bisa maruk seperti itu, kita harus gantian menjaga Yeonjun. Apa kamu tidak ingin pulang, mandi, makan dan berangkat kuliah? "
" Tentu saja aku ingin. "
" Yasudah kalau gitu kita bergantian. "
Soobin berjalan menuju tempat sampah dan membuang plastik berisi sisa-sisa makanannya ke dalam tempat sampah.
Setelah selesai membuangnya, Soobin berbalik, lalu berjalan mendekat sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Hingga akhirnya Soobin berdiri di sisi ranjang Yeonjun, tepat di sebrang posisi Lia.
Lia menatap Yeonjun dengan lemas, lalu menundukkan kepalanya. Jika dipikirkan lagi, ucapan Soobin sangat menguntungkan untuk Lia.
Tetapi apakah besok Lia akan benar-benar menemani Yeonjun seharian tanpa ada yang mengganggu? Jadi Lia mengangkat wajahnya, kemudian bertanya pada Soobin..
" Besok hanya aku dan Yeonjun saja, kan? "
" Iya.. kamu bisa menemani Yeonjun seharian, semaumu.. "
" Tapi apa alasannya? "
" Karina sedang sakit dan aku harus merawatnya. Aku juga sudah berjanji untuk menemaninya besok, jadi aku harus menepatinya. "
Yeonjun terdiam.
Tiba-tiba saja duri kecil menancap tepat ke hatinya. Meskipun hanya duri kecil yang menancap, tetapi rasanya sangatlah menyakitkan. Begitu sesak dan Yeonjun ingin sekali menangis sekarang juga, saat ini juga. Tetapi Yeonjun harus bisa menahan dirinya, menahan gemuruh rasa sakit di dalam dadanya.
Pada akhirnya Yeonjun memilih membuang muka untuk menghindari kontak mata dengan Soobin.
Setelah berciuman dengannya, Soobin belum mengatakan apapun lagi padanya. Apakah Soobin sudah mengetahui isi hatinya yang sebenarnya? Apakah rasa penasaran Soobin sudah terjawab? Yeonjun benar-benar ingin mengetahuinya semuanya.
Jika Soobin memiliki perasaan lebih padanya, maka kebahagiaan akan benar-benar Yeonjun rasakan. Tetapi jika Soobin tidak merasakan apapun setelah ciuman itu, maka Yeonjun akan berhenti. Yeonjun akan mengubur cintanya pada Soobin dan mencoba untuk mencintai Lia lagi.
Lia melirik sejenak ke arah Yeonjun, lalu menatap ke arah Soobin lagi sambil tersenyum manis.
" Waaahh.. ternyata kamu adalah tipe kekasih yang sangat perhatian yaa. "
Rencana yang bagus..
Secara tak langsung Lia ingin menegaskan kepada Yeonjun bahwa tidak akan ada harapan untuk bersama Soobin. Meskipun Yeonjun menyukai Soobin, tetapi perasaan Yeonjun tidak akan pernah memiliki arti apapun.
Soobin mengangkat sebelah alisnya setelah mendengarkan ucapan Lia, lalu menatap ke arah Yeonjun. Setelah berpikir beberapa saat, Soobin akhirnya mengerti.
Melihat kecemburuan di wajah Yeonjun, Soobin menjadi gemas dan ingin sekali mencium pipi Yeonjun. Tapi tidak sekarang, Soobin harus bisa menahan dirinya. Lia masih ada di sini dan Soobin tidak mungkin melakukannya di depan wanita licik seperti Lia. Jika Soobin mencium Yeonjun di depan Lia, maka perang dunia akan terjadi lagi.
" Iyaaaa, tentu saja, aku mencintai Karina dan aku harus memberikan perhatianku kepada Karina. "
Soobin mengatakannya tanpa ragu dan tersenyum kecil. Melihat Yeonjun yang masih membuang mukanya, Soobin semakin merasa gemas. Membuat Yeonjun cemburu, ternyata sangat menyenangkan.
Saat ini Yeonjun benar-benar terlihat sangat lucu. Pipinya mengembung, bahkan bibirnya terus berkomat-kamit tanpa henti. Yeonjun benar-benar terlihat sangat mirip dengan bebek yang sedang bernyanyi di tengah danau.
" Luar biasa, kamu memang kekasih yang sangat luar biasa. "
Lia mengangkat kedua jempolnya di depan wajah Soobin, lalu bertepuk tangan dengan semangat.
PROK!!
PROK!!
PROK!!
" Selamat yaa, semoga hubunganmu dengan Karina awet sampai maut memisahkan kalian bedua. "
" Terima kasih atas do'anya. "
" Sama-sama, kalau gitu aku akan pulang sekarang. "
Lia menyentuh kedua pipi Yeonjun, menggesernya sedikit, hingga akhirnya wajah Yeonjun dan wajah Lia saling berhadapan.
" Babe, besok pagi aku akan ke sini lagi. "
" Iyah, pulangnya hati-hati yaa. "
Yeonjun meraih tangan Lia yang masih mengusap pipinya, menggenggamnya dengan hangat dan tersenyum.
" Sampai jumpa besok babe.. "
Lia mendekat dan semakin mendekat. Lalu menjatuhkan bibirnya di atas bibir Yeonjun dan menciumnya dengan lembut.
Meskipun Yeonjun sulit merasakan kenikmatannya, tetapi Yeonjun tetap membalas ciuman yang Lia berikan padanya. Semakin lama ciuman itu bergerak semakin dalam, hingga akhirnya..
" Ehemm..!!! "
Soobin berdemem dengan nada suara yang terdengar cukup kesal. Soobin melipat tangannya di depan dada sambil menatap Lia dengan tajam. Akan tetapi Lia tak peduli dengan tatapan tajam yang Soobin layangkan padanya. Lia mengabaikannya dan memilih untuk menjatuhkan kecupan singkat di bibir Yeonjun lagi.
Mata Soobin semakin melotot ketika melihat Lia mencium bibir Yeonjun lagi. Tatapan Soobin semakin menusuk, terus melihat ke arah Lia, bahkan ketika Lia melangkah keluar meninggalkan ruangan perawatan. Soobin masih menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu, sebelum akhirnya telapak tangan Yeonjun menyentuh lengan Soobin dengan perlahan.
" Ada apa? Kenapa kamu menatap Lia seperti itu? "
" Masih bertanya? "
" Aku kan memang tidak tahu, makanya aku bertanya padamu. "
Soobin menarik napas lebih dalam dan menghembuskannya dengan lelah. Cemburu sangat melelahkan, emosi semakin terkuras dan Soobin tidak bisa berpikir dengan tenang.
Saat bersama Karina, Soobin tidak pernah merasakan kecemburuan separah ini. Tetapi kenapa sekarang begitu berbeda? Kenapa rasanya lebih menyakitkan?
" Rasanya sangat tidak nyaman Yeonjun. "
" Apa maksudmu? "
" Ciuman yang kamu lakukan bersama Lia, benar-benar membuatku muak!! "
Soobin meraih bibir Yeonjun dan menciumnya dengan kasar. Hatinya terbakar oleh rasa cemburu yang begitu hebat. Soobin terus memainkan bibir Yeonjun. Menjamah seluruh tubuh Yeonjun dengan sisa kewarasannya.
" Ahh Soo-bhin.. "
Yeonjun berusaha menghentikan Soobin ketika Soobin berusaha melepaskan kancing bajunya.
" Soobin! Ahh.. "
Ketika kancing baju Yeonjun berhasil terbuka, Soobin segera melahap bulatan kecil itu secara bergantian. Menghisapnya, menjilatnya dan menciumnya dengan kegilaan yang semakin membakar seluruh jiwa Soobin.
Candu..
Soobin telah kecanduan..
Dan Soobin ingin merasakannya lebih lama lagi.
" Soobin!! HENTIKAN!!! "
Yeonjun berucap cukup keras dan suara Yeonjun berhasil menghentikan perbuatan Soobin yang sudah berada diambang batas pengendalian dirinya.
Yeonjun menatap Soobin dengan napas yang memburu. Ciuman Soobin begitu gila, sangat gila hingga Yeonjun begitu kesulitan untuk menghentikannya.
Jujur saja..
Yeonjun memang tidak ingin menghentikan kegilaan Soobin, tetapi Yeonjun tetap harus menghentikannya.
Yeonjun tidak bisa menerima ciuman Soobin, di saat perasaan Soobin masih tidak jelas untuknya. Yeonjun tidak bisa membalas ciuman Soobin, di saat hati dan pikiran Soobin masih terpaku pada Karina.
Yeonjun hanya butuh penjelasan dan sedikit kepastian. Jika Soobin menciumnya hanya untuk memuaskan nafsunya saja, Yeonjun tidak akan menerimanya. Rasanya sangat menyakitkan dan Yeonjun ingin sekali menampar wajah Soobin sekarang juga.
Mata Soobin terpejam, lalu perlahan-lahan menyatukan dahinya dengan dahi Yeonjun.
" Kenapa kamu terus menciumku? Apa alasannya? "
" Aku menciummu karena aku.. --- "
Soobin membuka matanya, kemudian menjauhkan dahinya dari dahi Yeonjun sambil tersenyum.
" Aku cemburu dan aku jatuh cinta padamu. "
Soobin mengungkapkan isi hatinya tanpa rasa ragu. Mengusap pipi Yeonjun dalam setiap perasaan lega yang semakin menenangkan jiwanya. Soobin tak pernah menduga kalau hatinya akan terasa jauh lebih bahagia setelah berhasil mengungkapkan perasaannya pada Yeonjun.
Soobin bersyukur dan Soobin tidak akan pernah menyesali ucapannya. Perasaannya pada Yeonjun sangat nyata dan Soobin bangga bisa mengatakannya dengan jelas di depan Yeonjun.
" Soobin, kamu.. kamu.. "
" Yaa Yeonjun dan itulah kenyataannya. Aku menciummu bukan karena nafsu, tapi karena aku sudah yakin dengan hati dan perasaanku padamu. "
Yeonjun menutup mulutnya, bingung dan masih tak percaya dengan kalimat yang baru saja Soobin katakan padanya.
Apakah itu benar?
Soobin jatuh cinta padanya.
Soobin mencintainya.
Melihat keterdiaman Yeonjun, Soobin tersenyum, lalu menjatuhkan kecupan berkali-kali di bibir Yeonjun.
Soobin semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Yeonjun dan berbisik...
" Yeonjun, aku jatuh cinta padamu. "
Kini giliran Yeonjun yang menangkup pipi Soobin dan menciumnya. Menekan tengkuk Soobin bersamaan dengan seluruh kebahagiaannya dan rasa tak sabar yang semakin membakar jiwanya.
Yeonjun benar-benar ingin Soobin merasakan cintanya dan kesungguhan hatinya.
" Aku mencintaimu Soobin. "
" Aku tahu.. "
Bersambung...