Indah Tak sempurna

By k4rism4

648 189 46

Brakk!!! Suara itu sontak membuatku terkejut. Suara itu berasal dari dapur "Berisik!!, bukannya sudah aku kat... More

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

11

26 8 13
By k4rism4

Aku mengupas mangga yang baru saja kubeli diwarung depan. Mencucinya kemudian ku potong dadu lalu kuletakkan dalam wadah.

Aku memakan buah mangga yang tadi telah ku kupas. Menonton TV dengan ditemani sewadah mangga dan sebotol air dingin adalah yang terbaik.

Tok tok!! "Permisi..." Seru seseorang diluar

Akupun bergegas membuka pintu dan ternyata orang yang tadi mengetuk pintu adalah Dio. Degg!!  Aku langsung kikuk berdiri didepannya. Kenapa dia selalu datang disaat penampilanku sedang berantakan, argghh menyebalkan.

"Ehh dio, emm silahkan duduk. Duhh maaf ya berantakan banget" Aku menyapanya

"Kenapa?" Dio menatapku dalam-dalam

Aku mengerutkan keningku "apanya yang kenapa?"

"Kenapa ngga ngasih tau kalau kamu absen hari ini?"

"Emm itu karena.... "

Belum sempat aku melanjutkan penjelasanku, Tiba-tiba Dio langsung memelukku. Sungguh kejadian tak terduga yang berhasil membuat jantungkku berdetak kencang.

"Aku khawatir num, sangat khawatir"

Dio memelukku semakin erat, pelukan yang membekukan tubuhku. Entah kenapa aku merasa nyaman sekali berada di pelukannya. Apakah karena perasaanku padanya mulai tumbuh??

Aku mendorong tubuhnya pelan. Untuk menandakan agar dia berhenti memelukku.

"Ehh maaf, emm Kamu baik-baik saja??" Ucapnya memegang kedua bahuku

Aku hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa ucapannya yang tadi benar.

"Syukurlah. Lain kali kalau kamu sakit atau tidak masuk sekolah, kasih tau aku ya.." Sambungnya

Dan lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Rasanya terlalu syok sampai tidak bisa berkata-kata.

"Ehh ada tamu"

Ucap nenek mengalihkan pandangannku.

"Ehh iya nek, mau ngasih buku PR ke ranum" Ucap Dio menciun tanggan nenek

"Oalah nak Dio. Duduk dulu nenek bikinin teh ya sebentar"

"Ehh ngga usah nek, emm ini kita mau ke rumah oliv. Mau nyari barang buat praktek fisika besok" Aku beralasan

"Hah?? Eh emm iya nek, kami satu kelompok" Dio menjawab dengan mimik muka bingung

Sebenernya aku ingin mengajak Dio kesuatu tempat. Karena ada yang mau aku omongin ke dia
Suatu hal yang sangat tidak memungkinkan untuk diobrolin dalam rumah

"Ohh iya udah"

"Bentar ya di, aku ngambil tas dulu"

"Oke" Ucapnya

Setelah bersiap dan berpamitan dengan nenek, aku berjalan kedepan rumah. Menunggu Dio mengeluarkan motornya

"Kemana??" Tanyanya

"Kemana saja"

"Emm tapi ini udah terlalu sore. Kita mau pergi kemana?"

"Ngga tau, udah jangan nanya mulu. Ajak aku pergi ke tempat lain"

"Num...?" Kamu semakin bingung

"Kalau kamu ngga bisa, yaudah mending tidak jadi saja"

"Oh bisa banget! Ngga ada yang ngga bisa" Jawabnya cepat

Kamu menyalakan mesin motor dan aku naik dibelakang. Motor pun melaju dengan aku di boncengan. Sebenarnya aku tidak mempunyai tujuan untuk pergi kemana, aku hanya ingin mengobrol berdua dengan Dio, Itu saja.

"Kita ke Jakarta ya" Ucapnya

"Hah??"

"Katanya mau pergi yang jauh?"

"Tapi, besok kan sekolah"

"Iya juga yah. Jadi kita mau kemana nih??"

"Jalan saja. Sampai aku bilang stop"

"Siapp, pegangan biar ngga jatuh"

Motor kami pun terus melaju sampai kita berhenti ditepi pantai yang letaknya lumayan jauh dari rumah.

Aku berjalan diatas pasir laut yang lembut, riak air laut berhamburan menghiasi bibir pantai. Semilir angin dan deru suara ombak menyegarkan fikiran.
Orang-orang berlarian kesana kemari, anak-anak sibuk bermain air ditepian pantai, ada juga yang sedang membuat istana pasir.

"Sudah makan?" Tanya Dio

"Belum"

"Bagus"

"Apanya yang bagus?"

"Ya bagus, jadi kita bisa makan bareng disini" Dio menyeringai

Aku dan Dio mampir di sebuah kedai dekat pantai. Kami memesan 2 mangkuk mie ayam, 2 gelas es kopi, dan seporsi lok-lok bakar.

"Ini kali kedua aku makan bareng kamu" Ucapnya

Aku hanya tersenyum kepadanya

"Tadi disekolah aku memikirkan banyak hal menakutkan" Sambungnya

"Hah? Kenapa?"

"Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat kamu tidak masuk"

"Maksudnya?"

"Pertama aku berfikir apakah kamu sedang sakit?
Kedua bagaimana kalau kamu pindah sekolah?
Ketiga gimana kalau kamu tiba-tiba pindah rumah?
Dan banyak hal-hal mengerikan lainnya yang hinggap di otakku" Terangnya

"Astaga di.. Kamu tuh mikirnya kejauhan"

"Aku takut num, takut kamu ninggalin aku sendirian disini"

"Oiya, kamu suka tidak tinggal di kota ini?" Sambungnya

"Emm suka, karena ada nenek disini"

"Yah kirain bakal jawab karena ada aku"

"Hahaa" Aku tersenyum kecil

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesanan kami sampai. Menikmati makanan dengan suguhan view pantai yang indah membuatku semakin betah berlama-lama disini. Dan tanpa terasa mie ayam pun telah habis tak bersisa.

"Kita mau pulang jam berapa? " Tanyanya

"Aku mau pulang kalau sudah tidak sedih lagi"

"Hah?? Terus sekarang mau kemana lagi kita? "

Aku berfikir sejenak "emm jalan jalan yuk di tepi pantai"

Kami berjalan beriringan menyisiri pantai, kamu bercerita tentang masa kecilmu yang takut dengan pantai. Sedangkan ayahmu bekerja sebagai seorang pelaut.

Kamu juga bercerita tentang kisah dimasa silam, saat aku dan dia masih berada dalam satu organisasi yang kembali mengingatkan ku tentang awal kedekatan kita dimulai.

"Num,kamu tau ngga? Orang yang bepergian ke pantai itu ada 3 golongan"

"Oh iya?"

"Iya, yang pertama orang yang mau nyembuhin penyakit gatal, yang kedua orang tua yang mau nyenengin anaknya, dan yang ketiga orang yang lagi punya masalah"

Aku masih menyimak penjelasan dari Dio

"kamu tiba-tiba ngajak aku ke pantai. Dan kamu tidak sedang gatal-gatal,belum jadi orang tua, jadi kamu pasti termasuk golongan ke tiga" Sambungnya

Aku terdiam sejenak, apakah aku harus menceritakan masalahku kepadanya?
Tapi aku takut kalau setelah Dio mendengar ceritaku dia akan menjauh.
Karena sepertinya Dio mempunyai keluarga yang harmonis, tidak sepertiku.
Aku takut perbedaan itu lantas membuatnya menjauhiku.

"Num, kamu lagi ada masalah?" Tanyanys hati-hati

"Ehh emm tidak ada"

"Ookey...emm tapi kalau kamu punya masalah, aku siap kok dengerin ceritamu"

Aku menatap matamu, untuk memastikan bahwa kamu bisa dipercaya atau tidak.

"Kalau misalnya kamu belum siap buat cerita ngga papa num, aku akan nunggu sampai kamu siap."

"Masalah ngga baik dipendem sendiri num. Aku siap kok jadi tempat berbagimu,jadi orang yang bisa kamu percaya, jadi seseorang yang bisa kamu andalkan. Ya walaupun mungkin tidak bisa menyelesaikan masalahmu, tapi setidaknya dengan bercerita hatimu bisa jadi lega num" Sambungnya

Mendengar ucapan Dio barusan, akhrinya aku memberanikan diri untuk bercerita tentang masalah yang sedang aku alami. Aku pasrah kalau-kalau Dio pergi menjauh setelah mendengar ceritaku, aku siap menerima segala konsekuensinya, harus siap..

"Duduk disitu yuk" Aku menunjuk ayunan gantung samping pohon kelapa

"Makin sore makin ramai saja ya" Gumam ku

"Iya, pada mau menikmati keindahan sunset kayaknya"

"Emm di, ada yang mau aku omongin ke kamu"

"Iya, aku dengerin" Kamu menatapku

"Ini soal aku dan orang tuaku. Ayah dan ibu mau bercerai" Aku mulai bercerita

Nampak dari raut wajah Dio dia sangat terkejut mendengarnya.

"Hubungan antara mereka tidak terjalin dengan baik. Sejak aku kecil aku selalu melihat perselisihan antara mereka. Bisa dibilang masa kecilku tidak menyenangkan"

Kamu masih menyimak ceritaku dengan sangat fokus

"Dan itulah mengapa aku sekarang tinggal disini, bersama nenek. Walaupun kita hanya tinggal berdua tapi rasanya jauh lebih baik daripada saat tinggal bersama orang tuaku"

"Intinya aku berasal dari keluarga yang tak utuh,ngga kaya kamu. Jadi apa kamu tetap mau menjalin hubungan denganku walaupun keluargaku berantakan?"

"Num, aku boleh meluk kamu?"

Belum saja aku jawab, Dio langsung memelukku erat. Dan akupun tak kuasa menahan air mata yang sedaritadi ku tahan agar tidak menetes.

"Menangislah, keluarkan semua masalah yang ada biar hatimu tenang" Ucapnya menepuk-nepuk bahuku

Aku jatuh semakin dalam kepelukannya. Air mataku kini membanjiri pipi, ada perasaan lega didada setelah menceritakan kisahku kepada Dio. Namun aku juga takut akan kemungkinan dia menjauhiku. Setelah cukup lama menangis aku pun bangkit dari pelukannya.

"Duhh maaf ya hiks!! aku udah berusaha menahan agar tidak nangis didepanmu tapi ternyata ngga bisa. " Aku dengan nada tersengkal

"Iya ngga papa num. Terimakasih ya udah mau berbagi cerita. Aku harap kamu akan seterusnya begini, selalu terbuka ke aku kalau lagi ada masalah. Biar aku bisa ikut merasakan kesedihanmu" Ucapnya berusaha memenangkan ku.

"Kamu orang baik, dan karena itu aku mencintaimu. Aku tidak mempermasalahkan keadaan keluargamu, karena setiap orang pasti punya masalahnya sendiri"

"Emm aku tau ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya, tapi aku harap kamu segera menemukan jawaban atas pengakuanku kemarin-kemarin" Sambungnya

"Iya, aku mau di" Jawabku cepat

"Hah?? Num ini beneran??" Dio kegirangan

"Iyaa"

"Yesss!! Jadi kita sekarang resmi jadian nih?"

"Emm ya gitu.. "

"Terimakasih sayang" Dio kembali memelukku

Matahari mulai tenggelam, langit berubah warna jadi jingga, lampu lampu disekitar pantai mulai dinyalakan. Aku menatap kepantai dan terlihat ada cahaya lampu kelap-kelip disana, mungkin kapal nelayan yang hendak pulang.

"Kamu mau pulang?" Tanyaku

"Kamu masih sedih?" Dia malah balik nanya

"Tidak, aku sudah bahagia sekarang"

"Oke brati saatnya kita pulang"

Sore ini adalah sore terindah yang pernah aku alami. Pada hari ini aku dan Dio telah resmi berpacaran. Sepanjang perjalanan pulang aku selalu tersenyum dibuatnya.
Dicintai oleh orang yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat membahagiakan.

"Pegangan yang"

Dio melingkarkan tanganku ke pinggangnya. Hangat tubuhnya kini mengalir juga di tubuhku. Aku memeluknya dari belakang, lalu menyenderkan kepalaku diatas bahunya.
Hari ini akan jadi kenangan indah yang telah ku ukir bersama Dio, pacarku.

Continue Reading

You'll Also Like

7.6K 769 36
[GA BANYAK DI UBAH KARENA CERITA PERTAMA] "Bahagia gue sekarang ditangan lo, lo udah nyusun supaya hidup gue berantakan, gue mohon sama lo.. lo boleh...
641K 52.9K 49
"Loh, ntar-ntar, mama nitipin gue ke abang-abang biar gue bisa dididik sama mereka? Kelakuan mereka kan lebih laknat dari gue." ..... Dituntut agar b...
70 0 8
apakah masalah keluarga xaxa dapat terselesaikan begitu saja? pindah rumah ternyata jalan terbaik. ada pepatah yang mengatakan untuk tidak pernah k...
Wattpad App - Unlock exclusive features