Di ruangan serba putih berbau antiseptik, Aou terbaring dengan selang infus melekat pada tangan kanannya. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan penerangan di ruangan itu. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri pada keningnya langsung membuat Aou menyerah. Spontan, Ia langsung menyentuh keningnya yang dililit kain perban.
Aou belum sempat memproses sekelilingnya saat pintu kamar terbuka. Boom melangkah masuk, lalu menutup pintu dengan perlahan. Boom berjalan menuju tempat tidur untuk memeriksa keadaan sang pasien.
"Oh? Sudang bangun?" Boom tersenyum begitu melihat Aou sudah siuman.
Mata Aou terbelalak begitu melihat sosok Boom berdiri di sampingnya.
"Gimana rasanya? Sakit ya?" Tanya Boom.
Aou langsung menutup mata begitu Boom mendekatkan tangannya. Tubuh Aou menegang saat merasakan sentuhan jemari Boom yang menari diatas perban di keningnya.
Boom menarik tangannya. "Sori."
Aou mengerjap.
"Ngga usah ngelihat aku kayak habis lihat hantu begitu. Aku panggil dokter dulu ya?" Ujar Boom.
Boom menghilang dari ruangan, lalu kembali dengan seorang dokter dan seorang perawat berseragam putih.
Sang dokter langsung membuka folder berisi data pasien. "Kak Aou? Perkenalkan saya dokter New, saya yang akan menangani anda selama anda disini." Ujarnya. "Sejauh ini apakah ada keluhan? Ada rasa sakit, mual, atau ada yang kurang nyaman?"
"I-iya, Dok." Jawab Aou. "Eh- Enggak. Nggak ada keluhan."
Dokter New menatap pasiennya. "Tidak ada keluhan?"
Aou menggeleng. Matanya mencari sosok Boom yang berdiri di samping suster. Aou mengalihkan pandangan begitu Ia bertatapan dengan Boom.
Sang dokter memeriksa saluran infus di sebelah Aou. Ia menyerahkan folder ke suster, lalu mengambil senter untuk memeriksa penglihatan Aou. Dokter New juga memeriksa luka di dahi Aou.
Begitu selesai, dokter New menoleh ke arah Boom. "Teman pasien?"
"Ya." Boom menjawab.
Aou menahan senyum saat mendengar jawaban Boom. Teman, katanya.
"Kak Aou menerima empat jahitan di kening. Saat ini tidak ada komplikasi dari prosedur yang dilaksanakan. Karena tidak ada keluhan dari pasien, saya tidak beri pereda nyeri dulu. Untuk berjaga-jaga saya anjurkan pasien rawat inap sambil kami monitor perkembangannya." Dokter New menjabarkan.
"Baik." Jawab Boom singkat.
"Sejauh ini apa ada yang kurang jelas?" Tanya sang Dokter.
"Sudah jelas, Dok. Terima kasih." Ucap Boom.
"Jika ada keluhan, anda bisa menghubungi stasiun perawat kami." Kata Dokter New. "Kalau begitu saya permisi dulu."
Boom mengangguk kecil begitu dokter New mengundurkan diri. Perawat yang tadinya berdiri di samping langsung mengambil alih.
"Kak Aou, saya seka tubuhnya dulu ya." Kata sang perawat, siap menutup gorden.
"Nggak usah." Aou buru-buru mencegat, wajahnya memerah. "Ehm, nanti aja, Sus."
Sang perawat menatap Aou dan Boom bergantian. "Baik. Nanti saya kembali lagi." Ia tersenyum sambil berlalu.
Aou membuang nafas lega begitu mendengar pintu tertutup.
Boom terkekeh. "Setakut itu kah sama susternya?"
"Enggak. Bukan gitu." Gumam Aou.
"Bener itu ga sakit?" Boom menunjuk perban di kepala Aou.
"Ga sakit." Jawab Aou.
Boom duduk di kursi yang Ia posisikan di sebelah kiri tempat tidur. Ia menuangkan air ke gelas kosong dengan sedotan dan menyodorkannya ke Aou.
"Makasih." Ujar Aou, menerima gelas tersebut.
"Tadi aku udah kabari Bang Singto kalo kamu udah bangun. Katanya dia bakal mampir setelah tutup cafe." Ucap Boom memecah keheningan.
Aou mengangguk, lalu meletakkan gelas di nakas. Ia malu-malu menatap Boom. "Anu, maaf ya, Boom. Baru ketemu tapi udah ngerepotin kamu."
"Santai aja. Aku cuma kebetulan ada di lokasi. Kan ga enak sama Bang Singto kalo harus tutup toko lebih cepet." Kata Boom.
Raut wajah Aou langsung berubah. "Ya ampun, bisa-bisa dibacok Bang Singto nih gua."
"Ya?" Boom menatap Aou geli.
"Ga apa-apa. Oh ya, bukannya kamu ada perlu ya tadi? Malah jadi nungguin aku di sini." Aou buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Oh itu. Ga usah dipikirin. Udah aku reschedule kok jadwalnya."
"Gitu."
Keduanya terdiam. Kecanggungan menyelimuti mereka.
Aou menggigit bibir, otaknya berpikir cepat untuk memecah suasana. "Boom." Panggilnya.
Boom menoleh. "Hm?"
Jatung Aou berdebar di dadanya. "Uhm, itu, Aku- Kamu kenal Phuwin?"
Boom menatap Aou heran. "Kenal. Dia selalu kerja di cafe setiap selasa waktu aku mampir."
"Oh. Kalian.. deket?"
"Lumayan. Kami sering ngobrol kalo cafe lagi sepi. Dia juga baik orangnya." Jawab Boom. "Kenapa kamu tanya?"
"Ga apa-apa. Kepo aja. Soalnya kelihatan deket kalian."
Boom tertawa kecil. "Kamu takut aku ada perasaan sama Phuwin? Tenang aja, aku tau kok kalo Phuwin sudah ada yang punya."
"Kalo kamu?" Tanya Aou.
"Aku?"
"Kamu sudah ada yang punya belom?"
Boom terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Belom. Mana ada yang mau sama aku. Bisa mati mereka, saking bosannya main sama aku."
"Engga kok. Coba main sama aku. Ku buktikan kalo kamu juga seru orangnya." Balas Aou, tak terima.
"Kok malah kamu yang emosi?"
Aou menunduk malu.
"Ya udah, yuk." Ujar Boom.
"Hah?"
"Katanya ngajak main. Ya udah, ayuk. Tapi ga boleh mengeluh bosan loh ya."
Sebuah senyum mengembang di wajah Aou. "Oke. Janji dulu." Aou mengulurkan jari kelingkingnya.
Boom mengaitkan jari kelingkingnya dengan Aou.
"Kalau ingkar janji, berarti pembohong." Kata Aou.
Boom mengangguk.
"Anu, Boom," Ujar Aou.
"Hm?" Boom menatap lawan bicaranya.
"Aku-"
Tiba-tiba handphone Boom berdering. Boom meminta ijin untuk mengangkat panggilan sebelum keluar kamar.
Aou mendesah kesal. Ia menepuk pipinya untuk menyadarkan diri. Sambil menunggu Boom, Aou menyalakan TV yang tersedia di kamar.
Saat Boom kembali, Ia mendapati Aou meringkuk di tempat tidur. Tanpa pikir panjang, Boom meletakkan tangannya di leher Aou. Panas.
Boom langsung menuju stasiun perawat.
Aou terbangun kembali dengan perasaan grogi. Ia buru-buru menoleh untuk mencari sosok yang tadi menemaninya. Ekspresinya berubah muram begitu bertatapan dengan Singto.
"Kenapa?" Tantang Singto. "Kecewa gua bukan Boom?"
"Enggak, Bang." Jawab Aou.
"Lu tuh ya, U. Pengen gua geprek rasanya. Udah dibilangin istirahat dulu, masih ngeyel masuk kerja. Jadi repot gua kan." Omel Singto. "Untung Boom baik." Ia pura-pura terharu.
"Iya, iya, maaf Bang. Lain kali ga gua ulangi." Sesal Aou.
"Bagus. Awas aja lu berani ngerepotin gua lagi. Gua potong gaji lu." Dengus Singto.
"Jangan dong, Bang. Gimana-gimana gua tetap butuh duitnya."
"Huh. Makanya ga usah aneh-aneh. Udah tau dirinya hidup bergantung dengan gaji secuil, masih kepikiran aja cari gebetan."
"Kan beda, Bang. Kalo demi Boom gua rela keluar masuk rumah sakit."
Singto menjitak kepala Aou. "Lu kira ini hostel bisa seenaknya keluar masuk. Kering keriting dompet lu bayar tagihan baru tau rasa."
"Woy lah. Gua pasien loh. Pasien." Omel Aou. "Eh iya deng, gua ga kepikiran tagihan rumah sakit. Dapet asuransi dari cafe ga, ya."
"Ck. Enak aja. Cafe gua bukan bisnis sukarela ya."
"Lu kan bos yang baik hati. Kasih gua kelonggaran dong, Bang."
"Gua kasih lu cuti tiga hari. Udah mentok itu." Ucap Singto.
"Yahh, Bang."
"Kasihan tau yang lain ikut kena imbasnya, gara-gara lu ugal-ugalan mau ketemu Boom."
"Diungkit lagi, kan." Ujar Aou kesal. "Kali ini gua rela deh dihujat. Seenggaknya gua bisa ketemu lagi sama Boom."
"Ga tahu malu. Udah ngaca belom, tampang kayak ikan teri begitu ga malu apa ketemu gebetan. Pede banget ya lu minta yang selevel Boom. Paling lu cuma dianggap butiran debu, ditiup udah hilang." Hujat Singto.
"Mana kaca?" Aou langsung meminta cermin yang selalu dibawa Singto. "Mampus gua. Rambut kayak kuburan burung bangau begini. Boom kecium ga ya baunya?"
"Gua aja hampir meninggal begitu masuk kamar ini."
"Serius Bang!"
"Haduh. Boom ga bilang apa-apa soal bau lu. Untung anaknya sopan ya. Mingkin sekarang muntah ber dia di rumah." Komentar Singto.
"Ya ampun. Pengen pingsan lagi aja gua." Canda Aou, menghempaskan cermin sembarangan ke atas selimut.
"Omong-omong soal Boom. Tadi dia ninggalin sesuatu buat lu." Singto memberi Aou sebuah botol minuman ringan.
"Cola?" Aou menimbang botol itu di tangannya.
"Kata Boom suruh habisin." Ujar Singto.
"Kapan dia pulang?" Tanya Aou.
"Mungkin jam enam lebih? Gua dateng tadi setengah enam. Kita ngobrol bentar terus dia cabut, dijemput temannya. Eh, atau pacarnya kali ya."
"Ga mungkin." Ujar Aou percaya diri.
"Apanya?"
"Gua udah tanya Boom, masih jomblo anaknya."
"Lu percaya yang bentukannya seperti Boom begitu belum ada gandengan? HTS ada kali satu atau dua." Kata Singto. "Apalagi yang tadi gua lihat. Cakep, bersih, sopan. Udah gitu, auranya tuh mendominasi sekali ya. Cocok banget sama Boom udah."
"Lu kompor ya, Bang."
"Gimana? Udah panas belom?"
"Sialan. Gua ga percaya sama omongan lu."
"Ya udah. Terserah." Singto mengangkat bahu.
—
Aou tak mau mengaku, tapi perkataan Singto semalam memang ada benarnya. Siapapun pasti setuju, kemungkian Boom tertarik dengan dirinya berada sedikit diatas batas mustahil. Apalagi dengan kondisi Aou yang sekarang ini, tentunya Boom tidak akan menoleh ke arahnya lebih dari dua detik.
Tapi apa lah cinta tanpa usaha, kata Phuwin. Kalau memang Ia tak memiliki kesempatan sejak awal, tak mungkin kan Boom rela menunggui dirinya di rumah sakit. Manusia waras mana yang sudi melakukan hal yang Boom lakukan, selain orang yang teramat baik hati-
"Woy, U!" Teriakan Singto membuyarkan lamunan Aou.
"Apa Bang?"
"Udah siap belom? Lama bener ganti baju doang."
"Bentar." Aou meraih botol cola pemberian Boom yang tak tersentuh diatas nakas. "Oke, yuk."
"Lu ga minum tuh?" Tanya Singto menunjuk ke botol di tangan Aou.
"Sayang mau diminum. Pemberian Ayang ini."
"Mulai kan." Singto memutar bola mata.
"Saputangannya, Bang." Aou tiba-tiba bertanya.
"Nih, udah gua cuci sebersih mungkin, sampe gua setrika segala." Singto mengeluarkan sebuah saputangan dari dalam tas.
Aou mengelus kain lembut di tangannya. Bekas bercak kemerahan masih nampak pada kain tersebut.
"Ga udah shooting MV segala. Cepet beresin, gua tunggu di lobby." Ujar Singto sebelum pergi.
Setelah puas meratapi nasib, Aou menuju meja resepsionis, hendak membayar tagihan rawat inapnya. Perawat di balik konter menyerahkan selembar kertas kepada Aou.
Aou menarik nafas dalam-dalam, menyiapkan diri agar tidak pingsan di tempat saat melihat angka yang tertera.
"Loh, sus. Ini ga salah?" Aou menunjukkan lembaran di tangannya.
"Benar kak, sudah lunas. Dibayar temannya yang kemarin itu." Ujar sang perawat.
"Hah?" Aou membaca ulang kertas nota di tangannya.
Benar saja, semua tagihannya sudah dilunasi tanpa terkecuali.
"Dia kesini, sus? Kapan?" Tanya Aou.
"Tadi pagi, kak. Sepertinya buru-buru sekali orangnya, jadi langsung pergi." Jelas sang perawat.
Aou mengucapkan terima kasih sebelum pergi. Ia memandang nota di tangannya. Ada harapan rupanya.