Namaku Marcel Dirgantara, aku tinggal di kota yang sering kali di juluki kota atlas. Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan gaya hidup yang mahal dan tercukupi, ayahku adalah Nerindra Dirgantara, ia adalah seorang pengelola tambang batu bara yang cukup besar di kalimantan sejak aku kecil aku memiliki sedikit sekali waktu bisa menghabiskan waktu dengannya, sedangkan ibuku adalah Mei Ling Admojo, ibuku adalah seorang ibu rumah tangga biasa.
Sejak taman kanak-kanak aku terbiasa bersekolah di sekolah berkelas dimana banyak sekali anak orang kaya yang sekolah dan menempuh pendidikan disana. Saat ini aku sudah menginjakan kaki di kelas 8, yeah.., kelas 2 smp, aku bersekolah di Senopati Junior Hight school, itu merupakan sekolah terbaik di Semarang saat ini. Aku bertemu dengan banyak sekali anak anak pejabat dan orang orang terkemuka di sini.
————-
"MARCEL...., ayo bangun.., it's time to school"
"Baik, ma..."
Aku segera mengambil ponselku dan bangkit duduk di ujung kasurku dengan melihat ke ponselku yang mendapatkan banyak sekali notifikasi pesan pagi ini, aku belum sempat membalas pesan mereka, kerna aku harus segera bersiap siap ke sekolah, aku memutuskan untuk mandi lalu segera turun ke bawah untuk sarapan.
Saat aku merapikan seragamku di kamarku tiba tiba saja ponselku berdering, aku pun setelah itu segera mengambil ponselku dan melihat siapa yang meneleponku sepagi ini, aku melihat nama pada ponselku "my boy" saat aku melihat nama tersebut, aku bergegas untuk mengangkat telefon tersebut
"Iyah, ada apa mas?"
"Mas lagi kangen banget sama adek gemes aku ini"
"Tapi kan aku mau berangkat sekolah loh sudah telat, eh Iya, kenapa mas ga berangkat udah jam berapa ini?!"
"Ahahaha, santai aja Marcel sayangku, mas kan sudah bisa berangkat sendiri naik motor, kan sudah sma"
"Nyenyenye, iyan deh"
"Kamu lucu banget sih kalau lagi keburu buru gitu, nanti pulang sama siapa?"
"Aku naik gojek nanti"
"Eh jangan!, masak cowo manisku ini naik gojek sendiri kasihan nanti di ambil sama gojeknya"
"Mana bisa gitu?!!, aku punya mas Wildan"
"Iya adek Marcel juga punya Wildan juga"
"Au ah udah aku mau makan, dah aku tutup telepon bye bye ganteng, muach"
Aku segera turun ke bawah, saat di tangga aku bertemu dengan Tasya, dia adalah adik perempuanku, aku sering berdebat dengannya hari ini dia juga tampak terburu buru juga.
"Kakak tumben keburu buru banget?"
"Iya lah ini dah jam berapa?, tau sendiri gerbang perumahan sering macet juga"
"Tapi tumben aja"
"Alah tiap hari juga keburu buru kali kita berdua"
Aku dan Tasya segera duduk di meja makan ibuku dan bibi sudah menyiapkan sarapan untuk kami semua makan. Saat kami sedang makan tak lama kami mendengar suara bell rumah berbunyi
"Siapa?" Kata ibu sambil berjalan menuju pintu
Aku sedikit cuek karna berfikir paling juga temen arisan ibu datang ke rumah, dan aku memutuskan untuk melanjukan makanku, tak lama ibu memanggilku.
"Marcel...."
"Iya mah?.."
"Bisa kamu ke sini sebentar?, ada Wildan dateng ngajak berangkat bareng ni"
Aku terkejut sampai sampai tersedak mendengar hal tersebut. Setelah itu aku segera menghabiskan makanku lalu berpamitan dengan bibi dan Tasya. Aku mengambil tas dan ponselku lalu segera ke pintu depan menemui ibu dan Wildan.
"Kakak, mau bareng mas Wildan apa nanti sama pak Tio?"
"Kakak, bareng sama Wildan aja ma ini sudah jam segini, pak Tio juga masih siap siapin mobil juga"
"Yaudah kalau gitu Wildan hati hati ya"
"Shiap tante, oh ya tante ini tadi titipan dari mama"
"Astaga, makasih banyak ya bilangin ke mama nanti ya tante titip salam" lalu aku dan Wildan pun segera berpamitan dengan mama dan bergegas ke motor Wildan yang ada di depan pagar
"Ko tiba tiba banget?"
"Gpp lah, sekalian juga tadi bundaku minta tolong anterin kue ke mama kamu juga"
" Iya deh, percaya, helm aku mana?"
"Ini, sini mas pakein helmnya adek manis" aku pasrah dan tersenyum ke arah Wildan saat memakaikan helm ke kepalaku, walau aku tau dia ingin modus juga untuk mengusap pipiku. Setelah itu aku segera naik ke motor dan memeluk tubuh besar Wildan tersebut