Jodoh Mbak Santri

De Asmahas04

995K 39.6K 1.3K

"Jodoh santri ya santri lagi." Di dunia pesantren, adat perjodohan sudah menjadi hal biasa yang sering terjad... Mais

Kabar Nikah Massal
Santri Putri Heboh!!
Kunjungan Calon Suami
Pengumuman Lamaran
Sarung Milik Haikal
Perasaan Yang Dulu
Calon Suami Menyebalkan
Pulang Bareng?
Mantu Idaman Ibu
Nikah Massal
Mobil Mewah
Azkiya Tanpa Kerudung
Menjahili Suami
Reaksi Tetangga Kampung
Resepsi Kedua
Milik Haikal Seutuhnya
Hadiah Mobil
Starboy Pesantren
Dua Kalung
Azkiya Jatuh Cinta
Perjuangan Mendapatkanmu
Romantisme Naik Dokar
Privilege
Keluarga Cemara
Mual-mual
Tes Kehamilan
Calon Mbak Wulan
Seblak Manis
Haikal Mendatangi Asrama
Saingannya Gus
Azkiya Dilabrak
Haikal Marah Besar
Pergi Healing
Bos Sawit
Dinner Romantis
Pasangan Abdi Ndalem
Boyongan
Rezeki Suami
Teror
Kedatangan Ibunda Mertua
Seberapa Ganteng?
Healing Lagi
Naik Kuda
Ide Kado
Happy Birthday Suami
Happy Birthday Istri
Dibonceng Mesra
Menantu Kesayangan Ibu
Selingkuh?
Surat Cerai
Fakta
Kapan Hamil?
Luka Lama
Minta Dinikahi
Cerai Saja
Diculik
Kehidupan Yang Baru
Selalu Ada
Kabar Buruk
Keluarga Haikal
Game Seru!
Baba & Umma
Sensitif
Tes-tes
LDR
Perkara Ngidam
Kehilangan
Kabar Wulan
Surat-suratan Ala Santri
POV Haikal
POV Azkiya
Merasa Bersalah
Menurutmu?
Pasangan Terfavorit
Spesial Chapter 1
Info Syafiq
Spesial Chapter 2
Info PO Novel
POINT OF VIEW 'HAIKAL'
Point Of View 'HAIKAL'
Point Of View 'HAIKAL'
Point Of View 'HAIKAL'
Point Of View 'HAIKAL'
Point Of View 'HAIKAL'
Point of View "HAIKAL"
Point Of View 'HAIKAL'
Point Of View 'HAIKAL'
Point Of View 'HAIKAL'
Point of View 'HAIKAL'
Point Of View 'HAIKAL'

Bibit Pelakor

9.6K 443 16
De Asmahas04

Tujuh paket barang mbak Wulan terkumpul di hari keempat Azkiya menahan diri.

Ini benar-benar menjengkelkan!

Kalau memang keliru soal alamat rumah, mengapa sampai tujuh barang berturut-turut di kirim ke alamat rumah Azkiya?

Mengapa juga mbak Wulan tidak menghubungi Azkiya atau Haikal untuk menanyakan paketan barangnya yang salah alamat?

Hari ini Marlina mengabarkan kalau di pondok sedang ada mbak Wulan. Tanpa pikir panjang, Azkiya langsung mendatangi pesantren dengan membawa paket barang-barang milik mbak Wulan.

Sebelum Azkiya langsung mendatangi mbak Wulan yang sedang berkumpul di ruang pengurus, Azkiya lebih dulu menjelaskan tentang paket-paket mbak Wulan kepada Marlina dan Asri.

"Dih, caper amat sama suami orang," komentar Marlina dengan muka julid.

Disahut oleh Asri. "Jadi hilang respect sama mbak Wulan kalau gitu kelakuannya."

"Tau ah! Mbak udah kesel banget. Intinya mbak udah cerita yang sebenarnya ke kalian. Jadi sekarang ... Mbak harus nemuin mbak Wulan untuk meminta penjelasan!"

"Ikut!" seru Marlina dan Asri.

Agak deg-degan sebenarnya Azkiya kini. Tapi ia tetap harus menemui mbak Wulan, menanyakan apa maksud perempuan itu mengirimkan banyak paket barang ke rumahnya?

Benarkah kalau kata Marlina, mbak Wulan sedang caper pada Haikal?

Tiba di depan pintu ruangan pengurus yang terbuka lebar, tiba-tiba Azkiya tidak punya nyali mengingat mbak Wulan punya backingan teman-teman pengurus.

Sedangkan Azkiya hanya punya Marlina dan Asri yang mendukungnya.

"Lin, coba tengok dulu. Ada mbak Wulan gak di dalam?" tanya Azkiya mengulur-ulur waktu.

"Oke, mbak."

Marlina yang paling PD di antara mereka bertiga, kini melongok ke dalam ruangan pengurus.

"Ada mbak Wulan?" tanyanya.

"Baru saja keluar," jawab salah satu orang di dalam sana.

"Oh, oke. Terimakasih."

Tidak jadi menemui mbak Wulan di ruang pengurus, ketiganya kembali ke asrama.

"Kira-kira sembunyi di mana ya? Atau jangan-jangan sudah pulang?" tanya Asri curiga.

"Nggak lah. Motornya aja masih di halaman asrama," tunjuk Marlina ke arah halaman di bawah sana.

Kini mereka sedang berdiri di koridor depan kamar asrama, menunggu informasi tentang keberadaan mbak Wulan terkini.

Marlina melihat santri putri baru saja kembali dari jemuran. Ia langsung mencegatnya.

"Del, lihat mbak Wulan gak?"

"Lagi di jemuran tuh."

Marlina langsung menoleh pada Azkiya dan Asri. "Let's go!"

Marlina jadi pemimpin pasukan Azkiya dan Asri yang kini berjalan menuju jemuran, tempat favorit para santri untuk nongkrong sore karena tempatnya terbuka.

Namun begitu mereka sampai, langkah ketiganya langsung terhenti saat melihat Mbak Wulan sedang menangis, ditenangkan oleh kedua teman dekatnya.

Azkiya dejavu.

Pemandangan ini pernah ia lihat saat di kamar mandi dulu.

"Gimana, mbak? Samperin gak?" tanya Asri.

"Nggak deh. Dia kelihatan sedih banget," kata Azkiya yang langsung direspon oleh Marlina.

"Ah, akting doang kali."

Azkiya menyuruh dua temannya untuk kembali ke kamar asrama. Mungkin nanti saja menemui mbak Wulan di waktu yang tepat.

***

[Ayang di mana? Aku pulang ke rumah kok nggak ada siapa-siapa.   Tanya sama ikan, mereka jawab gak tahu. Huh!]

Azkiya membaca pesan dari Haikal saat baru saja selesai salat ashar.

Pasti saking kesepiannya, Haikal saat ini sedang ngobrol dengan ikan mas koki peliharaan mereka.

Azkiya cepat membalas.

[Aku di pondok, Mas. Ada keperluan dengan Marlina dan Asri. Sebentar lagi akan pulang kok.]

"Mbak, kami ke dapur dulu ya!" ucap Marlina bersama Asri.

"Oke."

Azkiya melipat kembali mukena yang ia pinjam dari Asri. Kemudian keluar dari kamar.

Saat itulah matanya menemukan sosok Mbak Wulan sedang berjalan menuju motornya yang terparkir di halaman asrama.

Buru-buru Azkiya turun ke bawah,  membawa paket barang-barang milik mantan lurah tersebut.

"Mbak, tunggu!"

Azkiya berlari mendekat saat melihat Mbak Wulan hendak menyalakan motornya.

"Ini ... aku kembalikan paket barang-barang yang Mbak kirim ke alamat rumahku. Maksud Mbak apa  melakukan ini?!"

Aku Azkiya kira Mbak Wulan akan meminta maaf dan merasa bersalah dengan tindakannya yang menyebalkan itu.

Tapi di luar perkiraan, jawaban Mbak Wulan mencerminkan sifat asli perempuan itu yang tidak diketahui orang lain.

"Oh jadi kamu yang nerima paket ini? Aku kira Haikal. Padahal tujuanku agar Haikal mau menemuiku untuk mengembalikan barang-barang ini."

Azkiya benar-benar dibuat speechless oleh jawaban menyebalkan itu.  Dadanya bergemuruh menahan marah. Dan Mbak Wulan tersenyum meremehkan ke arah Azkiya.

"Mbak, sampean ini murahan sekali ingin ditemui suami orang. Istighfar Mbak!"

Berbeda sekali dengan sosok Mbak Wulan yang tadi menangis tersedu-sedu di jemuran.

"Astaghfirullah, Azkiya."  Mbak Wulan menjawab dengan nada meledek,  terdengar tidak serius menurut perintah Azkiya untuk beristighfar.

"Kamu tahu? Barang-barang yang aku pesan dan kukirimkan ke alamat rumah Haikal adalah barang-barang yang dulu pernah dia belikan untukku."

Mbak Wulan mengambil salah satu paket barang yang berada di kantung kresek.

"Ini isinya mukena. Sebelum Haikal memberikanmu mukena sebagai mahar, aku sudah lebih dulu dibelikan olehnya."

Kedua tangan Azkiya mengepal kuat di sisi tubuh. Amarah yang meledak-ledak di hatinya, ia coba untuk menahannya karena mereka sedang di tempat umum.

Sungguh daripada menangis, saat ini  Azkiya lebih ingin mengacak-acak wajah Mbak Wulan yang bermuka dua itu.

"Pasti calon suami sampean nyesel menjadikan sampean salon istri!" ujar Azkiya dengan emosi.

"Duh! Nggak tahu ya? Aku batal tunangan, Azkiya. Jadi statusku bebas untuk kembali mengejar Haikal. Kamu siap-siap ya!"

Mbak Wulan menepuk-nepuk pundak Azkiya sembari tersenyum antagonis.  Lalu memilih untuk pergi dengan motornya, meninggalkan Azkiya yang sedang dikuasai amarah.

Ia ingin teriak sambil meninju samsak sampai puas.

***

Jika sedang marah dan Azkiya tidak bisa melampiaskan pada orangnya, yang bisa dilakukan olehnya justru menangis.

Saat maghrib, Azkiya menangis di atas sajadah. Sedangkan Haikal salat berjamaah di mushola.

Azkiya cemburu, marah tapi ia tidak mau melampiaskannya lagi pada Haikal seperti dulu. Sangat kekanak-kanakan.

"Assalamualaikum, istriku."

Mendengar suara Haikal dan pintu rumah dibuka, Azkiya buru-buru menghapus air mata yang membanjiri pipinya.

Sadar kalau wajah habis menangis akan sangat kelihatan, ia pun segera pergi menuju kamar mandi agar Haikal tidak melihat wajahnya sehabis menangis.

Kini Azkiya melihat pantulan wajahnya di cermin. Matanya berubah sipit karena banyak menangis.

"Yang? Kamu di dalam?"

Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Azkiya berdehem lebih dulu sebelum menjawab.

"Iya, Mas. Lagi buang hajat."

"Jadwal masak malam ini biar aku saja, Yang. Kamu tenang aja, yang sekarang pasti main rapih."

Azkiya tidak merespon apapun ucapan Haikal. Ia kembali menatap cermin, tersenyum tapi air matanya terus berjatuhan ke pipi.

"Aku harus percaya kalau mas Haikal akan tetap memilihku. Yang ada di hatinya hanya aku, yaa hanya aku."

Azkiya baru keluar dari kamar mandi setelah Haikal kembali mengetuk pintu kamar mandi, menyuruhnya untuk segera keluar karena menu makan malam yang dimasak laki-laki itu sudah jadi.

"Telur crispy sambal geprek!"

Haikal terlihat antusias memamerkan masakan yang baru ia buat. Yang kali ini tidak sampai membuat dapur seperti kapal pecah.

"Tanganku gak mau panas kena sambal. Mau disuapin aja."

Wajah Haikal langsung terlihat senang mendengar permintaan Azkiya.

Dengan sepenuh hati, Haikal menyuapi Azkiya sembari mengobrol.

"Nilai dari masakanku kali ini berapa, Yang?"

"Hmm ... masih 9,5 Mas."

Haikal langsung menunjukkan ekspresi tak terima. "Loh? Kok gak nyampe nilai sempurna? Kan aku gak berantakin dapur."

"Ini terlalu pedas, Mas." Azkiya mengipasi wajahnya dengan tangan.

Perempuan itu terlihat kepedesan setelah memakan tiga suapan nasi dan telur geprek buatan Haikal.

Buru-buru Haikal menyodorkan minum pada istrinya.

"Eh, maaf sayang. Aku pake lima belas cabe setan sih."

Azkiya langsung melotot pada Haikal yang nyengir lebar.

"Ah, Ayang mah gitu. Makan seblak level lima aja kuat. Masa makan sambel geprek lima belas cabe setan aja gak kuat."

Azkiya mencubit lengan Haikal karena perkataannya barusan. Juga untuk melampiaskan bibirnya yang panas ini.

"Ya beda itu mah. Kalau ini kaya makan cabe mentah."

"Maaf sayang. Besok-besok aku akan masak sop buntut aja."

"Hmm enak tuh."

"Tapi buntut kuda."

Azkiya langsung melirik sinis suaminya yang kini cengengesan.

_______________

Author note~

( Jangan mengaitkan gelar 'santri' dengan kelakuan buruk mbak Wulan. Sebab gelar apapun, jika seseorang sudah dikuasai hawa nafsu dan punya ambisi yang tidak baik, maka cara apapun akan dilakukan. Semoga mbak Wulan ingat cara sholat taubat ya Guys, jangan jadi pelakor) 😄🙏

Continue lendo

Você também vai gostar

1.6K 47 22
bagaimana perasaan kalian jika di jodohkan dengan pasangan yang tidak sesuai dengan kriteria pasangan impian kalian? itu lah yang saat ini haura rasa...
558 12 22
sebuah pesantren terpencil di Jawa Tengah, seorang pemuda bernama Farhan Ramadhani menjalani hari-harinya dengan enggan. Ia berasal dari Semarang, ko...
93.5K 2.6K 13
# {Haykal Nufail Al-Farabi} (sebagian part dihapus, dan pindah ke HINOVEL) Tengil, usil, urakan, suka bikin ulah disekolahnya siapa sih yang menyangk...
Wattpad App - Desbloqueie funcionalidades exclusivas