"Jungkook?"
Jungkook sedikit terkejut dengan panggilan itu, dan Jennie hanya berhela kembali ketika mendapati Jungkook yang seolah tak fokus dan terus saja melamun. Jennie bahkan bertaruh jika Jungkook sama sekali tak mendengarkan banyak pembicaraannya yang tengah memilih gaun pengantinnya.
"Ah, maafkan aku. Apa yang kau katakan tadi?"
Jennie hanya berhela, berusaha untuk tak langsung mengeluarkan amarahnya dan meminta waktu pada salah satu pekerja yang membantu mereka agar meninggalkan keduanya.
"Apa yang kau pikirkan, huh?" Jennie mulai berbicara, menggenggam satu tangan Jungkook. "Kau tak ingin bercerita apapun padaku? Jika pikiranmu terasa penuh, kau bisa ceritakan apapun padaku, Jungkook. Aku di sini akan mendengarkanmu." Lanjut Jennie dengan nada khawatirnya.
Namun Jungkook hanya menggeleng, menarik genggaman tangan keduanya untuk mencium punggung tangan Jennie--mencoba untuk mencari kenyamanan dalam genggaman keduanya. "Tak apa. Hanya beberapa masalah kantor yang cukup banyak. Aku baik-baik saja." Ucap Jungkook, tentu tak mungkin begitu saja mengatakan pada Jennie tentang rasa tak nyaman yang masih Jungkook rasakan hingga saat ini.
Dan ucapan itu tentu tak mudah Jennie percayai pula. Namun Jennie memilih untuk tak lagi memaksa Jungkook berbicara. Lalu terpikirkan sebuah ide di kepalanya, menggenggam satu tangan Jungkook yang lain untuk membuat pria itu menatap padanya.
"Hey, bagaimana kita pergi ke tempat lain?"
Jungkook mengerut bingung. "Kemana?"
"Karena kelahiran bayinya tinggal menghitung hari, bagaimana jika kita membeli beberapa baju dan perlengkapan lainnya? Kau belum menyiapkan apapun, bukan?"
Jungkook baru menyadari hal itu sekarang. Terlalu disibukkan dengan pekerjaannya juga menjadi alasan mengapa Jungkook belum menyiapkan apapun. Dan ide dari Jennie disambut baik oleh Jungkook, berpikir jika dengan disibukkan dengan hal lain Jungkook bisa teralihkan dari pikiran rumit dan rasa tak nyamannya ini.
.
.
Jungkook tak bisa menyembunyikan rasa senangnya dan dengan cepat keluar lebih dulu dari mobil setelah memarkirkannya. Sementara Jennie yang melihatnya hanya menggeleng sembari tersenyum memaklumi, melihat Jungkook yang mengeluarkan beberapa barang belanja yang sudah mereka beli--tentu beberapa baju bayi dan peralatan lain yang bisa mereka bawa untuk pulang.
"Bibi..."
Panggilan itu membuat Bibi Kang mendekat, membantu Jungkook untuk membawa barang-barangnya.
"Bagaimana? Bibi sudah menyiapkan kamar yang aku pinta tadi?"
"Sudah, Tuan Muda."
Jungkook mengangguk, "baiklah. Bibi bisa letakkan dulu di kamarnya." Ucapnya dan mendapatkan anggukan kembali dari Bibi Kang.
"Oh, ya. Dimana Chaeyoung?"
Bibi Kang menghentikan langkahnya sejenak, berbalik kembali untuk menatap pada Jungkook.
"Ah, Chaeyoung seharian ini berada di kamarnya. Dia terus mengeluh tentang kakinya yang sakit dan tubuhnya yang lelah. Jadi aku menyuruhnya untuk banyak beristirahat di kamarnya."
Jungkook kembali mengangguk, memilih untuk berjalan menuju kamar Chaeyoung. Sangat tak sabar untuk menunjukkan apa saja yang sudah ia beli bagi bayinya pada Chaeyoung, dan berharap jika Chaeyoung menyukainya. Jungkook bahkan sudah membayangkan bagaimana wajah cantik Chaeyoung yang tersenyum bahagia nantinya.
Namun senyuman di wajah Jungkook perlahan memudar, tak menemukan keberadaan Chaeyoung di atas tempat tidurnya karena ucapan Bibi Kang yang mengatakan jika Chaeyoung tengah beristirahat. Bahkan mencari keberadaannya di seluruh kamar dan tak menemukannya sama sekali.
"Bibi yakin Chaeyoung berada di kamarnya?" Tanya Jungkook, melihat Bibi Kang yang saat itu bertepatan keluar dari kamar setelah meletakkan seluruh barang-barang belanja.
Bibi Kang mengangguk, "ya, Tuan Muda. Oh, atau berada di taman belakang? Chaeyoung juga suka sekali untuk berada di sana jika membutuhkan udara segar."
Langkah Jungkook dengan cepat menuju taman belakang. Namun kembali, Jungkook sama sekali tak bisa menemukan keberadaan Chaeyoung. Dan rasa panik yang berusaha Jungkook buang malah kini datang begitu saja karena tak menemukan Chaeyoung di sekitar.
"Bibi yakin Chaeyoung tak pergi kemanapun?!"
Bibi Kang sedikit terkejut ketika nada suara Jungkook mulai meninggi. Dirinya pun ikut panik, karena juga ikut mencari keberadaan Chaeyoung dan tak menemukannya.
"Tidak, bukan begitu. Maafkan aku, Tuan Muda. Aku terlalu sibuk untuk mengurus kamar yang Tuan pinta. Aku sungguh tak tahu sama sekali karena berpikir Chaeyoung akan tetap berada di kamarnya dan tak akan pergi kemanapun."
Jungkook hanya berhela, memilih untuk kembali ke kamar Chaeyoung dan memeriksa lemarinya. Tak ada satupun pakaian berantakan dan masih tersusun rapi, menandakan jika Chaeyoung tak menyentuh sama sekali pakaiannya.
Jika Chaeyoung memang sungguh pergi, mungkin keberadaannya tak terlalu jauh dan masih bisa untuk ia temukan. Belum lagi dengan kondisinya yang tengah mengandung besar sehingga tak memungkinkan untuk bisa berjalan jauh dalam waktu yang lama.
Tak ingin membuang waktu, Jungkook dengan cepat beranjak pergi. Bahkan melewati Jennie yang tak sempat untuk menahan kepergiannya tanpa mengatakan apapun.
.
.
Chaeyoung menghentikan langkahnya kembali, mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan memutuskan untuk kembali berjalan--berusaha untuk tetap memaksa kedua kakinya berjalan lebih lama lagi. Chaeyoung bahkan tak tahu sudah berapa lama dirinya berjalan hingga waktu sudah mulai menunjukkan malamnya. Musim dingin mulai datang, dan udara dingin yang menusuk seolah tak membuat Chaeyoung menyerah begitu saja.
Chaeyoung sama sekali tak peduli lagi, dirinya telah muak dan memilih untuk pergi dari Jungkook. Chaeyoung bahkan tak mau memikirkan bagaimana reaksi Jungkook nanti jika mengetahui kepergiannya.
Namun seolah Tuhan tak ingin melancarkan seluruh keinginannya, Chaeyoung bisa melihat salju pertama yang perlahan mulai turun, mendongak untuk menatap pada langit malam yang menurunkan butir-butir saljunya. Sementara Chaeyoung menyentuh perutnya sendiri ketika merasakan sebuah rasa sakit yang bahkan Chaeyoung tak bisa jelaskan.
Tidak, Chaeyoung tak ingin menyerah begitu saja. Mengambil nafas lalu mengeluarkan kembali untuk beberapa kali, Chaeyoung memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya.
"Kumohon, nak. Kau harus membantuku saat ini. Tolong jangan lakukan apapun dan tetap tenang." Ucapnya, mengelus perutnya sendiri dan berbicara pada bayinya.
Suara klakson yang cukup mengejutkannya membuat Chaeyoung kembali menghentikan langkahnya dan berbalik. Sedikit mengernyit ketika lampu mobil yang terhenti tak jauh darinya menusuk pandangannya.
Chaeyoung hanya berharap jika akan ada seseorang yang begitu perhatian padanya dan memberikannya sebuah tumpangan. Namun ketika melihat sosok presensi yang dikenalinya kini mulai mendekat, Chaeyoung tak berpikir dua kali untuk berjalan pergi begitu saja dengan terburu.
"Ahn Chaeyoung!"
Sementara Jungkook dengan cepat menyusul Chaeyoung. Tentu dengan kondisi yang seperti ini, Jungkook dengan mudah menahan kepergian Chaeyoung. Dan pemberontakan itu Chaeyoung berikan, berusaha untuk melepaskan genggaman Jungkook.
"Lepaskan aku!"
"Apa kau gila?! Bagaimana bisa kau pergi di cuaca yang seperti ini?!"
Chaeyoung tak bisa menahan tangisnya, masih berusaha untuk melepaskan diri. "Lepaskan aku!"
"Chaeyoung--"
"Kau tak bisa bahagia begitu saja setelah membuatku seperti ini!"
Jungkook terdiam saat itu, melihat Chaeyoung yang menangis dan nada suara yang meninggi tadi. Genggamannya pun perlahan mulai mengendur dan perlahan mulai melepaskannya. Sementara Chaeyoung di sana bahkan tak lagi berniat untuk pergi dan menatap pada Jungkook saat ini.
"Setelah semua ini berakhir, kau bisa bersama dengan wanita yang kau cintai. Hidup bersama anakmu nantinya dan menjalaninya dengan bahagia. Lalu, apa kau tak memikirkan bagaimana pada sisiku? Apa kau berpikir semua ini sangat adil bagiku?"
"A-Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
Chaeyoung menghapus air matanya, berhela sebelum kembali berbicara. "Apa kau tak ingat alasan mengapa kau menyewa diriku untuk mengandung anakmu? Shin Jennie meninggalkanmu demi pria lain. Tapi sekarang, dia sudah kembali padamu. Jadi bayi ini bukan lagi prioritasmu, bukan?"
"Chaeyoung, dengar--"
"Jadi biarkan aku pergi sekarang bersama bayi ini dan aku akan menganggap pertemuanku denganmu tak pernah terjadi. Dan kau bisa bersama dengan wanita yang kau cintai, lalu hidup bahagia bersamanya."
Chaeyoung memilih berbalik, melanjutkan kembali langkahnya. Namun Jungkook dengan cepat menahannya, menghadapkan dirinya untuk menatap pada pria itu.
"Bayi itu milikku, Ahn Chaeyoung. Kau tak bisa membawanya begitu saja setelah aku memberikanmu uang yang kau butuhkan."
"Lepaskan aku!"
Keduanya sama-sama tak memiliki niat untuk mengalah. Chaeyoung berusaha untuk melepaskan dirinya, dan Jungkook yang sama sekali tak mengendurkan genggamannya pada Chaeyoung dan menahan kepergiannya. Hingga satu dorongan yang Chaeyoung lakukan membuat Jungkook sedikitnya hilang keseimbangan. Sementara genggamannya pada Chaeyoung pun mulai mengendur, dan Chaeyoung yang tak terlalu siap ketika Jungkook melepaskannya harus menerima ketika tubuhnya jatuh begitu saja.
--To Be Continued--