Keesokan harinya, ketika matahari mulai meningkat di langit, warga desa berkumpul di sekitar pohon beringin yang besar itu. Mereka datang dengan hati yang penuh tekad dan gergaji di tangan, siap untuk menjalankan misi mereka untuk menebang pohon tersebut. Namun, sebelum mereka memulai tugasnya, mereka berdiri bersama di bawah bayangan pohon itu untuk berdoa bersama-sama.
Dalam keheningan yang hening, suara doa-doa mengalir keluar dari bibir para warga desa, memohon perlindungan dan keselamatan dari yang Maha Kuasa. Mereka memohon agar tugas mereka dilakukan dengan lancar dan tanpa hambatan, serta agar mereka terhindar dari segala bahaya yang mungkin terjadi.
Warga desa kemudian mulai bekerja. Dengan setiap gerakan gergaji, mereka mengarahkan tekad mereka untuk menghapuskan sumber ketakutan dan kegelapan dari desa mereka. Meskipun tantangan mungkin besar, mereka bersatu dalam tujuan mereka untuk menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masa depan desa mereka.
Dari kejauhan, warga desa dapat melihat Buyut Kakung yang telah lanjut usia duduk di kursi roda kayu. Wajahnya yang keriput mencerminkan sejarah panjang yang telah dilaluinya, dan tubuhnya yang rapuh menandakan usia yang telah memudar. Meskipun usianya sudah sangat tua dan gerakannya terbatas.
Dengan tegas, Buyut Kakung meminta beberapa warga untuk membantunya sampai ke lokasi penebangan pohon beringin yang angker itu. Meskipun sulit bagi mereka untuk menggerakkan kursi roda yang berat, mereka dengan penuh kehormatan menerima tugas tersebut. Mereka menganggap kehadiran Buyut Kakung sangat penting, sebagai simbol kebijaksanaan dan ketegasan dalam menghadapi peristiwa besar yang akan terjadi.
Saat pohon tersebut ditebang, terdengar suara jeritan wanita yang sangat keras, menciptakan getaran di udara yang mencekam. Meskipun terkejut dan ketakutan, para warga desa tetap teguh pada keimanan mereka. Mereka segera membaca ayat-ayat suci Alquran dengan penuh keyakinan, memancarkan cahaya keberanian di tengah kegelapan yang menakutkan.
Dalam suasana yang tegang dan menakutkan, Buyut Kakung diam-diam menitikan air mata. Ekspresinya yang penuh rahasia mencerminkan beban masa lalunya yang dalam, sebuah rahasia yang mungkin hanya dia yang mengetahuinya. Meskipun diam, kehadirannya mengisyaratkan bahwa ada lebih banyak cerita yang tersembunyi di balik kedamaian desa yang tampaknya tenang itu.
Buyut Kakung: "Yohana.. maafkan aku" Pikirnya di dalam hati
Setelah pohon itu roboh dan penebangan selesai dilakukan, suara jeritan dan tangisan yang mencekam tiba-tiba menghilang. Suasana desa pun kembali sunyi, hanya diisi oleh suara angin yang lembut dan gemuruh kayu yang terjatuh.
Warga desa bersyukur dan merasa lega, yakin bahwa kuntilanak pasti akan hilang sekarang karena tempat tinggalnya telah dihancurkan. Mereka merasa lega bahwa ancaman yang selama ini menghantui desa mereka telah usai, dan bahwa keamanan dan kedamaian akan kembali ke desa mereka.
[DI MALAM HARI NYA]
Di malam yang gelap, ketika keheningan mulai menyelimuti desa, sebuah siluet misterius memasuki kandang peternakan salah seorang warga. Suara kambing yang mengembik keras memecah keheningan malam. Pemilik peternakan, yang terbangun oleh suara tersebut, melihat ke arah kandang dengan keterkejutan. Di tengah kegelapan, dia melihat secara samar-samar seseorang yang sedang menggigit kambingnya dengan ganas.
Warga A: "SIAPA DI SANA! TOLOOOONG TOLOOOOONG!"
Teriakan meminta tolong segera memenuhi malam yang sunyi, membangunkan warga lainnya. Namun, sebelum bantuan datang, orang misterius itu berlari cepat dari tempat kejadian, menyelipkan diri ke dalam gelap malam dan menghilang tanpa jejak. Kejadian itu meninggalkan pemilik peternakan dengan perasaan ketakutan dan kebingungan, bertanya-tanya tentang siapa atau apa yang telah menyusup ke dalam peternakannya pada malam yang mencekam itu.
Pria misterius itu berlari terbirit-birit, langkahnya cepat dan gelap saat dia memasuki sebuah rumah. Rumah itu ternyata adalah rumah Buyut Kakung, tempat yang sudah dikenal oleh banyak orang di desa. Saat dia melangkah ke dalam ruang tamu, dia menemukan seorang pria duduk tenang di kursi dengan sikap yang anggun, menyilangkan lengannya dengan penuh keyakinan.
Pria itu adalah Slamet, sang Vampire yang misterius. Mata putihnya menyala dalam kegelapan ruangan, memancarkan kehadiran yang menakutkan namun juga memikat. Dia duduk dengan tenang, seolah menunggu kedatangan seseorang dengan penuh kepastian. Wajahnya tak terbaca, tetapi aura kekuatan dan kegelapan menyelimuti dirinya, membuat setiap orang yang melihatnya merasa tidak nyaman dan waspada.
Slamet terkekeh sinis saat melihat Buyut Kakung, yang kini berlumuran dengan dar
ah. Ternyata, pria yang selama ini menjadi mimpi buruk para peternak warga, mengisap darah binatang-binatang mereka, adalah Buyut Kakung sendiri. Buyut Kakung, yang selama ini dipandang sebagai lambang kebijaksanaan dan kebaikan di desa, kini terungkap sebagai seorang Vampire yang ganas.
Buyut Kakung telah berhasil menyembunyikan identitasnya dengan sempurna, pura-pura lemah dan tidak bisa berjalan, sementara dia diam-diam menyusup ke dalam kehidupan desa untuk memuaskan kehausannya akan darah.
Slamet: "Buyut kakung? Hahaha konyol sekali." Dia tertawa sinis.
*****KILAS BALIK*****
Sidik, yang pada masa itu masih muda dan penuh semangat, adalah ketua yang memimpin desa dalam merencanakan pemberontakan melawan penjajahan Belanda. Sejak berusia 21 tahun, dia telah menjadi penerus ayahnya dan memimpin perlawanan rakyat terhadap penindasan yang mereka alami.
Pada masa perbudakan yang dilakukan oleh Belanda, Sidik dan warga desa tidak mendapatkan perlakuan khusus karena mereka berasal dari keluarga kaya dan membayar pajak kepada penjajah. Awalnya, Belanda tidak curiga akan adanya kelompok pemberontak di desa tersebut. Namun, Sidik selalu memantau gerak-gerik pasukan Belanda secara diam-diam, berusaha mencari celah untuk melawan penjajah.
(Pada saat itu mereka yang memiliki kekayaan dapat membayar pajak dan menghindari perbudakan)
Suatu hari, ketika sedang bersembunyi di dekat tempat pusat pasukan Belanda, Sidik melihat sesuatu yang tak terduga. Di antara mereka, ada seorang gadis muda yang memikat hatinya. Yohana, anak dari seorang jenderal Belanda, memiliki kecantikan yang memukau dan membuat Sidik terpesona.
Sidik sejak hari itu semakin sering memantau Yohana, terutama setelah kedatangannya dari Belanda. Yohana, yang masih muda dan berusia 18 tahun, menjadi sorotan di desa karena kecantikannya dan kepribadiannya yang ramah. Awalnya, Sidik ingin membenci Yohana, menganggap bahwa semua orang Belanda pasti sama, tetapi pandangannya mulai berubah ketika dia melihat perilaku Yohana terhadap warga pribumi.
(Pada saat ini Sidik berusia 28 tahun)
Meskipun Yohana adalah seorang Belanda, dia menunjukkan sikap yang berbeda dan baik terhadap warga pribumi. Sidik terus memantau Yohana, mencoba memahami motivasi di balik tindakannya. Suatu hari, Sidik mengikuti Yohana ke pasar, di mana dia melihat Yohana memberi makanan kepada anak-anak jalanan yang kelaparan tanpa ada pengawal yang menyertainya.
Momen ini membuat Sidik semakin penasaran dan ia mendekati Yohana ketika dia sedang sendirian.
Sidik: "Selamat siang N-nona,"
Sidik tersipu malu dan gagap saat berbicara dengan Yohana. Kecantikannya semakin terpancar saat mereka berdua semakin dekat. Sidik terkejut menyadari bahwa tubuh Yohana sangat ramping dan lebih pendek dari yang ia duga. Perbedaan ini membuatnya merasa canggung, mungkin karena Sidik terlalu tinggi dibandingkan dengan Yohana. Namun, pesona Yohana semakin membuat Sidik terpesona dan terpikat.