Rumah Tanpa Atap

By sixornone30

21.5K 2.4K 988

[COMPLETED] Sinb ft Aespa Bianca tidak bicara, Katarina tidak berjalan, Selena tidak mendengar, Wilona tidak... More

00.Sinopsis
01. Teh Aca
02. Ririn
03. Lena
04. Wilo
05. Nirin
06. Dasar Nenek Lampir
07. Takut
08. Harus Kaya Raya
09. Malu
10. Sering Muncul
11. Masih Hidup
12. Rasakan!
13. Seperti Angin Berlalu
14. Hidup Lebih Lama Lagi
15. Siapa Orang Itu?
16. Bagaimana Jika?
17. Hancur
18. Tidak Terbayang
19. Tidak Butuh
20. Suaranya
22. Tolong
23. Pergikah Bersamanya?
24. Teteh Janji
25. Meninggalkan Juga?
Selesai

21. Sepuluh Tahun

589 73 39
By sixornone30

— RUMAH TANPA ATAP —

"Terdakwa Juan Abraham dihukum 10 tahun penjara!"

Palu diketuk.

Keluarga besarnya bersorak dan bersujud atas hukuman yang dijatuhkan pada Juan. Sementara itu, Bianca datang tanpa pendamping, dia di sana seorang diri. Telinganya panas mendengar ungkapan rasa syukur orang-orang terdekat Juan, dan hatinya hancur mengetahui hukuman yang diberikan oleh pihak pengadilan.

Tidak adil.

Katarina mati di tangan manusia bejat itu, sudah jelas kalau manusia tidak berperasaan itu pelaku dari tindakan mutilasi terhadap Katarina. Buktinya jelas, tubuh Katarina dimasukkan ke dalam karung yang ia jatuhkan. Namun, pria bejat itu berasal dari keluarga terpandang, hingga memiliki banyak sekali kenalan.

Juan menoleh ke arah Bianca, lelaki itu tersenyum padanya hingga membuat Bianca tidak bisa menahan rasa marahnya. Tapi, Bianca malah balas tersenyum kepadanya, membuat Juan kontan memudarkan senyumannya sembari mengerutkan dahi bingung.

"Tidak usah dipenjara saja kalau begitu," ujar Bianca memecah kebisingan di sana. "Biar saya yang menghukumnya."

Juan terkejut. "Bagaimana bisa?"

"Kalau aku dulu tidak berpura-pura bisu, apa kamu tidak akan tertarik pada adikku yang cacat itu?" tanya Bianca.

"Sial!" umpat Juan.

"Kamu membuang gadis yang berpura-pura bisu ini untuk gadis yang cacat?" tanya Bianca sekali lagi. "Yang Mulia, saya ingin mencabut tuntutan saya terhadap Saudara Juan Abraham!" tandas Bianca dengan suara yang tegas dan lugas.

Suasana di sana berubah menjadi hening.

"Lepaskan saja, biarkan saja manusia itu hidup dan mendapatkan karmanya," ucap Bianca. "Saya bersumpah, semua yang ada padanya tidak akan pernah utuh!"

PLAK!

Satu tamparan mendarat sempurna di pipi Bianca, wanita yang merupakan Ibu dari Juan menamparnya.

PLAK!

Bianca tidak mau kalah, ia balas menampar wanita itu hingga suaminya datang menarik istrinya dari hadapan Bianca.

"Tidak akan utuh!" tandas Bianca. "Tidak akan ada yang utuh!" tunjuk Bianca sambil menatap satu persatu orang di sana.

"TUTUP MULUTMU, SIALAN!" bentak Juan, ia berontak tetapi polisi berhasil menahan tubuhnya. "JANGAN PERNAH SENTUH IBU SAYA, SIALAN!"

Bianca tersenyum picik, kemudian ia berbalik meninggalkan ruang persidangan sembari mengusap pipinya yang dibasahi oleh air mata. Hatinya hancur, dia tidak bisa memberi keadilan untuk Katarina yang sudah hancur berkeping-keping.

"Tidak akan utuh!"

"Bianca!"

Seruan itu berasal dari Serra, tidak hanya Serra di sana, tapi ada Jehan juga. Mereka berlari menghampiri Bianca.

"Maaf, saya terlambat," sesal Jehan.

"Bie?" tanya Serra saat melihat buliran air mata membasahi pipinya. "Bianca."

Bianca memejamkan matanya, air matanya mengalir lebih deras dibanding sebelumnya. Ia menepis tangan Serra yang menyentuh lengannya, kemudian melanjutkan langkahnya pergi dari tempat itu.

"Bianca," panggil Serra, ia mengejarnya. "Bie, maaf tadi macet banget di jalan."

"Bianca, ada apa?" tanya Jehan, ia berjalan cepat di belakang Serra sekarang. "Apa persidangannya sudah selesai? Berjalan lancar, kan?"

"PERGI!" bentak Bianca tidak tertahan.

Serra membekap mulutnya sendiri tidak percaya, pun dengan Jehan yang kini terbelenggu mendengar suaranya. Benarkah demikian?

"Manusia bejat itu tidak bisa dimaafkan, dia harus mati dengan cara yang sama!" tandas Bianca dengan tegas dan lugas.

"Bianca," panggil Serra. "Kamu?"

Bianca pergi setelah itu, Serra dan Jehan masih tidak habis pikir mendengar suaranya. Selama ini Bianca merupakan gadis yang tidak bicara, gadis yang benar-benar diam membisu.

— RUMAH TANPA ATAP

"Teh Aca."

Selena menjadi canggung, dia kehilangan keberanian berbicara dengan Bianca. Setelah mengatakan hal yang menyakitkan kepada Bianca malam itu, hati dan pikirannya berperang. Selena menyesal, dan dia tidak pernah melihat Bianca sampai marah seperti ini.

"Teh, Lena minta maaf, Lena tidak bermaksud semalam, Lena cuma mau—"

"Pisau daging ada di dapur kita, ngga?" tanya Bianca.

Selena terbelenggu dibuatnya.

"Apa beli pisau daging yang baru saja?"

"Teh Aca," panggil Selena.

Bianca tertawa kecil. "Kalau potong sapi mulainya dari leher, potong manusia juga sama? Apa harus dimulai dari kaki dulu aja?"

Selena menelan ludahnya dengan susah payah, dia jadi berdebar mendengar apa yang keluar dari mulut Bianca. Dia bukan Teh Aca yang biasanya, Teh Aca itu tidak seperti ini.

"Nyawa dibayar dengan nyawa, kan?" tanya Bianca. "Iyakan, Lena?"

"Teteh mau apa?"

Bianca mengusap wajahnya sendiri. "Dia cuma dihukum sepuluh tahun, Lena."

"Apa?"

Selena tidak menerima, dia bergegas duduk di sebelah Bianca dan mengguncang bahu Bianca meminta penjelasan lebih. Selena tidak ikut ke persidangan karena masih shock mendengar suara Bianca, kalau Nirina lebih baik tidak ikut saja.

"Kalau hukum di negara ini tidak bisa mengadili pria itu, kita harus hukum dia," ucap Bianca.

"Ngga, Teh!" Selena menggelengkan kepalanya. "Sepuluh tahun, Teh? Dia sudah bunuh Teh Ririn dengan cara tragis! Ngga adil kalau dia dihukum cuma sepuluh tahun saja!"

Nirina membuka pintu kamar, gadis itu berjalan dengan penuh keraguan menghampiri kedua saudarinya. Bianca dan Selena menatapnya dari bawah sampai ke atas, bibir Nirina begitu pucat, ada keringat pula di dahinya.

"Nirin," panggil Selena.

Nirina tersenyum pada keduanya. "Maafin Nirin kalau Nirin merepotkan, ya."

Bianca mengalihkan atensinya ke lantai, di bawah sana darah menetes beberapa kali. Dia lantas beranjak berdiri, tanpa pikir panjang Bianca menghampiri Nirina dan menarik lengannya.

"NIRINA KAMU SUDAH TIDAK WARAS, HAH?"

Pergelangan tangannya mendekati patah, darah mengalir begitu deras dari luka tersebut.

"Nirin ngga kuat~" lirih Nirina. "Kalau Nirin terus hidup, mereka semua berisik, mereka menyuruh Nirin mati, jadi Nirin mati saja~"

Selena meringis dan merinding melihatnya, tapi Bianca yang cekatan segera memberhentikan aliran darah yang menyebabkan pendarahan dahsyat itu. Nirina menolak diajak pergi ke rumah sakit, tapi Bianca tidak suka penolakan.

Bianca berubah menjadi kakak yang tegas sekarang.

"Jangan mati dulu, kita harus balas semua kejahatan orang yang sudah jahat ke kita," ucap Bianca. "Dengar Nirin? Jangan mati dulu!"

— RUMAH TANPA ATAP

"Wilo mau pulang~"

Wilona merengek. Mendekati operasi, gadis itu dibuat gugup dan berdebar. Dia takut tidak bangun lagi, dia takut tidak bisa membuka mata lagi dan dibuang oleh keluarga Pak Theo.

"Wilo tenang, ya~" ucap Sonya sembari mengusap surai hitamnya dengan penuh kasih sayang. "Wilo jangan khawatir, nanti Wilo bakalan bangun lagi."

Wilona menggelengkan kepalanya. "Wilo mau ketemu Teh Aca, Wilo mau ketemu sama Teh Aca!"

"Wilona!" bentak Theo. "Jangan berisik di sini, Yuna sedang istirahat buat persiapan operasi nanti. Kamu tidak sayang sama Yuna? Kamu tidak kasihan sama Yuna?"

"Jangan membentaknya," bela Sonya.

"Kalau tidak dibentak dia tidak akan diam!" tandas Theo. "Diam Wilona, kamu tidak bisa pergi ke mana pun, kamu harus melakukannya!"

"Tapi Wilo tidak mau mati~" isaknya.

— RUMAH TANPA ATAP

Continue Reading

You'll Also Like

72.6K 8.3K 20
Perjanjian dengan Sang Pencabut Nyawa memang membuat hidup Winter menjadi berantakan. Bagaimana tidak? Perjanjian mengulur waktu kematian membuat nya...
49.4K 3.7K 15
intinya Karina pengen tau alesan kenapa dia harus nerima Winter jadi pacar nya. warning : g x g harap pandai memilih konten bacaan.
15.7K 1.9K 24
[COMPLETED] Sinb ft Aespa "Aku tidak takut mati, aku takut anak-anak mati sebelum aku." - Embun Selina.
Wattpad App - Unlock exclusive features