(Assalamu'alaikum Bang Ali. Ini aku Mika. Bang, aku ada di Desa Bumireso, Wonosobo. Kamu bisa jemput aku kesini?)
Seketika mata Ali terbelalak. Ia mencoba mengerjapkan matanya berkali - kali lalu mengucek - ucek matanya.
Ia masih tidak percaya bahwa ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal dengan isi pesan bahwa itu adalah Mika.
" Ya Allah, benarkah ini Mika?" Gumam Ali.
Ali langsung segera menghubungi nomor yang telah mengirimkan pesan itu.
Tut,, tut,, tut,,
" Hallo, Assalamu'alaikum." Ucap salam suara laki - laki dari seberang. Yang ternyata adalah Pak RT.
" Waalaikumsalam. Mohon maaf apakah benar nomor ini yang telah mengirimkan pesan atas nama Mika?" Tanya Ali.
" Mika? Tadi pagi ada gadis datang kesini Pak. Tapi namanya Mikayla. Katanya ia berasal dari Jakarta. Ia ditemukan warga sini Pak. Apakah Mika itu yang dimaksud?" Jawab Pak RT.
" Iya betul Pak. Namanya memang Mikayla. Boleh kah saya meminta alamat lengkap Bapak? Supaya saya bisa langsung ke tempat Bapak." Jawab Ali.
" Oh begitu. Boleh Pak nanti akan saya kirimkan alamat lengkap saya. Tadi saya juga sudah membuat pelaporan ke kantor polisi." Ucap Pak RT.
" Baik Pak terima kasih atas bantuannya. Nanti saya akan datang bersama dengan anggota yang lainnya." Jawab Ali.
" Baik Pak."
Ali langsung memutuskan panggilannya.
Ia segera bergegas menuju Polres Wonosobo.
***
" Siapa dibalik ini semua ya? Bagaimana keadaan Mika? Semoga masih dalam keadaan baik - baik saja." Gumam Zidan yang baru saja menyelesaikan sholat Dzuhurnya.
Ting!
Ponsel Zidan bunyi tanda ada pesan.
Ternyata dari Diva.
(Diva: Kak, lagi apa?)
(Zidan: Baru selesai sholat Div. Ada apa?)
(Diva: Kak, aku sedih dengan berita Mika diculik. Aku takut Mika kenapa - kenapa. Mika orang baik. Kenapa ada yang jahat sih ya sama dia)
(Zidan: InsyaAllah Mika akan baik - baik aja Div. Yang penting kita jangan putus berdo'a buat Mika)
(Diva: Iya Kak)
(Zidan: Oh ya, apa udah ada kabar tentang Alexa?)
(Diva: Belum nih kak. Dia kenapa ya? Ga ada kabarnya sama sekali loh. Sosial medianya pun juga ga aktif)
(Zidan: Aku telpon kamu ya Div. Ada yang mau aku obrolin, atau kita ketemuan aja?)
(Diva: Hem.. Ketemuan aja deh Kak, biar lebih jelas)
(Zidan: Okay, nanti aku share location ya)
(Diva: Oke Kak)
Zidan mencoba sedang menerka - nerka.
Ia tidak ingin suudzon. Tapi feeling dalang dari semua ini adalah Alexa.
Tempo hari setelah ia menjenguk Mika pada malam itu. Zidan sempat bertemu dengan Alexa hanya seorang diri.
Flashback
" Alexa? Kamu mau jenguk Mika?" Tanya Zidan ketika ia sudah berada pada lorong menuju parkiran mobil.
" Iya Kak, tadi Diva dan Amira meninggalkan aku buat menjenguk Mika." Ucap Alexa.
" Oh jadi kamu mau jenguk sendirian aja nih?" Tanya Zidan.
" Iya Kak." Jawab Alexa.
" Ya udah kalau begitu. Aku duluan ya Lex. Masih ada urusan." Ucap Zidan yang langsung berlalu meninggalkan Alexa.
Alexa mengangguk.
Ia langsung berjalan menuju ruang Macaw, ruang dimana Mika di rawat.
Sesampainya di depan pintu. Ia mengurungkan niatnya untuk menjenguk Mika.
Ia berbelok arah dan meraih ponselnya dan mengetikan sesuatu pada ponselnya lalu ia kirimkan entah ke siapa.
Setelah itu ia berlalu pergi, dan tidak jadi menjenguk Mika.
***
" Bagaimana Mika hasilnya?" Tanya Bu Nungki yang melihat Mika dan Ilyas sudah sampai rumah.
" Belum ada hasil Bu. Nanti Pak RT akan memberikan kabar lewat anak buahnya kalau ada info selanjutnya." Jawab Mika yang tampak lesu.
" Ya sudah kamu sabar ya. InsyaAllah pasti akan ada jalannya." Ucap Bu Nungki yang mengusap lembut kepala Mika.
" Iya Bu. Aku sholat dulu ya Bu." Jawab Mika.
" Silahkan nak."
" Ilyas, kamu kenapa?" Tanya Bu Nungki pada Ilyas yang terlihat bingung.
" Ga apa - apa Bu." Jawab Ilyas singkat.
Bu Nungki menghembuskan napas panjangnya.
" Nak, kamu ga pantas jika sama Mika. Sepertinya dia bukan anak seperti kamu yang kehidupannya serba minim. Ibu yakin pasti dia dari keluarga yang berada. Jadi tolong simpan saja rasa kamu ya nak." Ucap Bu Nungki.
Ilyas menunduk. Ia menyadari memang ia tidak pantas untuk Mika yang nyaris sempurna.
" Tapi, ga ada yang ga mungkin di dunia ini Bu." Jawab Ilyas begitu yakin.
" Ilyas, percaya sama Ibu. Pasti dia sudah memiliki seorang pacar yang jauh lebih dari pada kamu." Jawab Bu Nungki.
" Tapi Bu, kalau Allah sudah berkehendak. Pasti semua bisa terjadi Bu. Aku percaya akan kuasa Allah. Yang penting kita harus tetap berikhtiar." Jawab Ilyas dengan sungguh - sungguh.
Bu Nungki terdiam. Ia meratapi nasib anaknya.
**
" Bagaimana misi Lo? Berhasil?" Tanya sosok berhoodie merah pada sosok berhoodie hitam.
" Beres!" Jawab Hoodie hitam.
" Bagus kalau begitu. Masih hidup apa sudah mati dia?" Tanya kembali hoodie merah.
" Gue ga tau kak, yang jelas Gue udah suruh dua preman buat bawa dia pergi dari Jakarta." Jawab hoodie hitam.
" Lo ga cari info kelanjutannya?" Tanya hoodie merah.
" Belum kak, Gue masih bingung." Jawabnya.
" Bodoh! Kalau dia masih hidup. Ada kemungkinan kita bakalan ketauan semuanya!" Ucap hoodie merah dengan nada tinggi.
" Sorry kak, nanti Gue cari tau lagi aja." Jawab hoodie hitam.
Hoodie merah langsung menyalakan cerobong asapnya dan menghisapnya dalam - dalam.
***
" Ada apa kak? Kenapa ngajak ketemuan?" Tanya Diva pada Zidan.
" Div, kamu curiga ga sih? Semenjak hilangnya Mika. Kita kehilangan jejak Alexa." Jawab Zidan.
Diva langsung mengerutkan dahinya dan mencoba berpikir.
" Iya ya kak, Aku ga mikir sampai kesitu." Ujar Diva.
" Nah, mungkin ga dalang dari penculikan Mika ini adalah Alexa?" Tanya Zidan.
" Hah? Jangan suudzon kak. Dia sahabat aku dan sahabat Mika juga." Jawab Diva yang tidak suka jika sahabatnya dituduh sebagai pelakunya.
" Aku bukan suudzon. Aku cuma menerka aja." Ucap Zidan.
" Tapi kan secara ga langsung kamu nuduh Alexa pelakunya kak." Jawab Diva.
" Heii dengar Diva. Semua ini pasti ada alasannya. Dan hanya Alexa yang tau apa alasannya." Ucap Zidan.
Diva menghembuskan napasnya secara kasar.
" Aku sering lihat Alexa jalan sama Zaki. Pacarnya Mika." Ungkap Zidan.
Diva membelalakan matanya.
" Apa? Jangan ngaco kamu kak." Jawab Diva.
Zidan langsung meraih ponselnya disaku celananya.
" Ini yang namanya ngaco?" Zidan menunjukan sebuah foto Alexa bersama dengan Zaki secara bergandengan.
Diva melihat foto itu dengan terkejut.
" Tega banget Alexa sama Mika." Ucap Diva dengan wajah yang mulai kesal.
" Dan asal kamu tau, aku sering lihat Zaki datang ke Rumah Alexa." Ungkap Zidan kembali.
" Hah? Serius? Ngapain mereka?" Tanya Diva kaget.
" Serius lah buat apa aku bohong. Ya entahlah ngapain mereka. Apa mungkin mereka ML, kita kan ga tau Div." Jawab Zidan.
" Astaghfirullahalazim." Diva bengong dengan pikiran kalutnya.
" Nah, kesimpulannya. Apakah Alexa ada dendam sama Mika atau ga, aku ga tau. Yang jelas feeling aku tertuju ke Alexa. Aku udah berkali - kali mencoba sholat buat minta petunjuk. Tapi selalu muncul wajah Alexa dimimpiku Div." Jelas Zidan dengan raut wajah yang serius.
" Ya Allah Alexa, kalau sampai benar dia pelakunya. Keterlaluan banget sih dia." Diva menggelengkan wajahnya tanda tidak percaya.
" Pokoknya sementara waktu ini kita terus pantau Alexa ya Div. Kasihan Mika. Dia anak yang baik. Aku sayang Mika!" Ucap Zidan bersedih.
" Iya kak. Yang sabar ya. Semoga Mika juga cepat dipertemukan." Jawab Diva.
***
" Permisi Pak RT. Saya Ali dari anggota kepolisian dan keluarga Mikayla." Ucap Ali pada Pak RT.
" Oh dengan Bapak Ali ya. Mari masuk Pak, semuanya silahkan." Pak RT mempersilahkan Ali dan beberapa anggota dari Polres Wonosobo setempat yang turut berkunjung ke Rumahnya.
" Jadi bagaimana Pak? Apakah saya bisa bertemu dengan yang bernama Mikayla? Dimana dia sekarang Pak?" Tanya Ali tampak tidak sabar sekali.
" Sebentar Pak Ali. Saya ingin menunjukan foto Mikayla terlebih dahulu. Apakah benar gadis ini yang anda maksud Pak?" Tanya Pak RT yang langsung menyodorkan ponselnya untuk menunjukan foto Mika.
Ali terbelalak, jantungnya berdetak kencang. Antara ingin menangis haru tapi ia ingin secepatnya bertemu dengan Mika.
" Ya Allah, benar Pak. Ini Mikayla yang saya maksud. Dimana dia sekarang Pak? Alhamdulillah Mika masih hidup." Ucap Ali dengan tidak sengaja meneteskan air matanya.
Air mata terharu ya guy's!!!
" Baik kalau begitu Pak. Mikayla ada di Rumah salah satu warga di Desa ini. Namun untuk menjangkau rumah nya harus berjalan kaki kurang lebih 1 jam. Apakah tidak besok saja Pak? Karena hari sudah akan maghrib." Ucap Pak RT.
" Ga apa - apa. Saya mau sekarang aja. Ga bisa menunggu besok - besok. Saya mau lihat keadaan Mika Pak. Tolong antarkan saya, dimana rumah warga itu?" Tanya Ali penasaran.
" Baik pak, saya akan menyuruh anak buah saya untuk mengantarkan anda sampai ke rumah warga yang bernama Ilyas." Ucap Pak RT.
Pak RT pun menyuruh anak buah nya untuk mengantarkan Ali menuju rumah Ilyas.
" Permisi Ipda Ali. Apakah kita harus menemani anda atau bagaimana?" Tanya Briptu Roni.
" Tidak perlu, saya sendiri saja. Kalian bisa kembali ke Polres. Terima kasih sudah mengantarkan saya sampai ke Desa ini. Nanti apabila sudah selesai. Saya akan langsung kembali ke Jakarta. Sebelumnya terima kasih kembali atas bantuannya." Ucap Ali pada beberapa anggota yang turut mengantarkannya.
" Siap Komandan, laksanakan." Semua anggota memberi hormat kepada Ali.
Ali pun membalasnya.
"Mari Pak, saya antar ke Rumah Ilyas." Ajak Mas Joko pada Ali.
" Hati - hati komandan." Ucap Briptu Roni.
Ali melambaikan tangannya pada seluruh anggota.
Ia segera berjalan mengikuti langkah Mas Joko, anak buah Pak RT.
Kurang lebih 30 menit, Ali dan Mas Joko berjalan menyusuri persawahan dan sungai.
" Masih jauh ga Pak?" Tanya Ali.
" Lumayan Pak." Jawab Mas Joko.
" Jauh juga ya. Tapi wilayah sini pemandangan nya bagus ya Pak. Sejuk juga udaranya." Ucap Ali yang memperlambat langkahnya, karena cukup menguras tenaga untuk berjalan jauh sampai ke Rumah Ilyas.
Pantas saja Mika menerima tawaran Ilyas untuk digendong. Karena memang lumayan jauh untuk ukuran Mika yang baru saja sembuh dari berbagai luka dan sakit.
***
" Kakak, kita duduk di depan yuk Kak. Kita bisa melihat matahari terbenam kak. Ayo kak!" Ajak Ayu pada Mika yang sedang duduk termenung di bilik kamarnya.
" Iya Ayu." Jawab Mika yang sebenarnya enggan sekali untuk berjalan ke halaman luar.
Suasana sore hari terlihat sangat cantik. Senja yang begitu jelas dapat terlihat dari Rumah gubuk itu.
Bahkan matahari yang akan terbenam pun terlihat nyata.
Ayu dan Mika pun menikmati senja disore hari.
Ilyas yang sudah mandi dan telah mengenakan pakaian koko, kain sarung serta pecinya pun melihat begitu akrabnya sang adik dengan Mika.
" Ayu, ada kupu - kupu Yu. Cantik banget ini warnanya." Ucap Mika ketika melihat kupu - kupu hinggap di tanaman bunga milik Ayu.
" Mana kak?" Tanya Ayu yang langsung berlari.
" Ini Yu, cepat kamu tangkap." Pinta Mika.
Ayu berusaha untuk menangkap kupu - kupu itu. Namun rupanya kupu - kupu itu sangat susah, dan berpindah - pindah dari tanaman satu dengan yang lainnya.
" Kata orang tua jaman dulu. Kalau ada kupu - kupu. Itu pertanda akan ada tamu spesial yang akan datang." Celetuk Ilyas yang langsung menghampiri Mika dan Ayu.
" Oh ya?" Tanya Mika yang langsung menoleh ke arah Ilyas.
Ilyas pun mengangguk.
" Kak, susah kak ditangkapnya." Ucap Ayu yang begitu heboh.
" Ayo Ayu, semangat hehehehe." Mika menyemangati Ayu.
Namun kupu - kupu itu malah terbang menjauh dan terbang ka arah lain.
Di arah dimana kupu - kupu itu terbang, datanglah dua orang laki - laki berjalan menuju rumah gubuk itu.
" Assalamu'alaikum." Ucap Salam Mas Joko pada semuanya.
" Wa'alaikumsalam." Sahut Ilyas dan yang lainnya.
Seketika Mika menoleh kearah Mas Joko dan melihat seseorang yang sangat ia kenali itu.
Matanya terbelalak, panas dan bulir air mata sudah menumpuk di kelopaknya.
" Bang Ali?" Air mata Mika seketika menetes deras.
" Mikaaa????"