DUNIA SANDA!

By Wp_wiwiaja30

5.6K 561 533

"Reno selangkah aja lo pergi, lo akan dengar kabar kematian gue!" "Kalo cemburu itu bilang bego! Jangan tiba... More

Prolog
SANDA 1 - Reno F. Adigraha?
Sanda 2 - Sanda Alexa V?
Sanda 3 - Twins?
Sanda 4 - Perhatian Ortu Sanda & Reno yang Menghilang!
Visual Story - (DUNIA SANDA!)
Sanda 5 - Reno Si Cowok Cupu Pacarnya Sanda?!
Sanda 6 - Botol Kaca Misterius & Rumah Pohon?
Sanda 7 - Broken Heart & Revenge!
Sanda 8 - Akibat dari Reno berbohong!?
Sanda 9 - Maaf Sanda :(
Sanda 10 - Khawatir & Clue?
Sanda 11 - Cemburunya Reno! & Fakta Keluarga Sanda?
Sanda 12 - Baikan & Yang selalu mengerti?
Sanda 13 - Munculnya Lion & Ada Apa Dengan Nara?!
Sanda 14 - Mencari Tau & Perihal Rem Yang Tidak Berfungsi?
Sanda 15 - Rio?
Sanda 16 - Cewek Setia & Foto Masa Lalu 💔
Sanda 17 - Salah Target?
Sanda 18 - Gulali & Perihal huruf F?!
Sanda 19 - Cinta & Kejujuran / Kebohongan?
Sanda 20 - Hanya jebakan!
Sanda 21 - Pengorbanan Yang Terpaksa?
Sanda 22 - Lega & Curiga?
Sanda 24 - SIAPA YANG BERANI CIUM LO!
Sanda 25 - Fakta & Accident!
Sanda 26 - Hilang Bagai Di Telan Bumi?
Sanda 27 - Ayok Lawan Gue!
Sanda 28 - Koma?
Sanda 29 - Lo apain Reno?!
Sanda 30 - Semakin Rumit?
Sanda 31 - Lo beneran Reno?
Sanda 32 - Jangan pernah Ragu!
Sanda 33 - LDR?
Sanda 34 - Rencana Di Mulai!
Sanda 35 - Semuanya Harus Terungkap!
Sanda 36 - Semua Sudah di Rencanakan!
Sanda 37 - Pembunuh Rendi!
Sanda 38 - Kebrutalan Rendi!
Sanda 39 - But, I Hate You!
Sanda 40 - Darah di balas Darah & Nyawa!
Sanda 41 - Dia Pantas Dapatkan Itu!
Sanda 42 - Dia Bangun!!
Sanda - 43 Aneh Tapi Nyata?
Sanda 44 - Dia Belum Pergi!
Sanda 45 - Apakah Masa Lalu Pemenangnya?!
Sanda 46 - Di Benci!

Sanda 23 - Butuh Sandaran & Takdir yang Buruk!

110 13 21
By Wp_wiwiaja30

⛔⛔⛔
Jangan lupa follow Akun IG aku yah guys.. Makasih☺🙏
@wp.wiwiaja📌
@prat.iwisogalrey📌

***

Bismillah..

***
Jangan jadi pembaca gelap yh guys biar Author juga tau siapa aja yang udah berbaik hati mau baca karya karya nya.. ☺🖐

Sebelumnya Author mau bilang Makasih buat yang udah
Baca + Komen + Vote
Karna itu berharga banget buat Author..

Kalo ada typo atau apapun itu tolong di ingatkan aja yah Karna Author juga manusia yg bisa salah☺🙏

***

💘💘💘

T

ap..

Tap..

Tap..

Cowok yang masih terdapat beberapa bekas luka di wajahnya itu sedang berjalan dengan santai menuju ke arah kelas 12 IPS.

Keempat temannya juga berjalan di samping dan belakangnya dengan tatapan datar.

Semua mata yang berada di sepanjang lorong pun menatap ke arah mereka.

"TERNYATA SI BARA UDAH SADAR DARI KOMA WOII!"

"IYAH GUE JUGA BARU TAU PAS LIAT ORANGNYA UDAH SEKOLAH AJA"

"BAKALAN NGGAK AMAN LAGI NI SEKOLAH GUE RASA"

"BARA AND THE GENG UDAH KEMBALI MAKA HARI HARI SIAL NYA KALIAN AKAN DI PENUHI DENGAN DRAMA MEREKA.."

Mereka terus membicarakan Bara dan teman temannya dengan suara yang sengaja di besarkan agar terdengar oleh sang empu.

Senyuman sinis terpatri di bibir Bara dengan tatapan yang menajam ke depan.

"Aelah! Masih pagi juga udah kalah aja gue!" kesal Fikri yang tengah sibuk memainkan game online nya.

Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan raut frustasi dan lalu mendongakkan kepalanya untuk sekedar menatap ke arah depan.

"Eh?" gumamnya kaget saat melihat Bara dan teman teman cowok itu baru saja masuk ke dalam kelas dengan santainya di saat seluruh pasang mata di kelas memusatkan mereka sebagai objek.

"Ternyata udah bangun dari koma"lirih Fikri dan lalu mengangkat kedua bahunya acuh.

Tanpa ia sadar ternyata Bara sedang melirik ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.

Ting!

Fikri menatap pesan yang baru saja masuk dari Gama.

Bang Gama Kampret💩😀 :

Gue denger katanya si Bara kampret itu udah datang ke Sekolah lagi, jadi gue cuman mau lo hati hati aja karna takutnya dia masih dendam gara gara di buat koma waktu itu, jadi antisipasi aja lo

: Fikri

Iyah bang tenang aja gue bakalan hati hati dan baik baik aja..😎

Hmm.. Kalo ada apa apa langsung gercep kabarin kita!

Iyah bang pasti!

👍😏

Fikri pun memutuskan untuk keluar dari kelas nya dan berjalan mencari jaringan.

Kenapa Fikri bisa sekelas sama Bara and the geng?

Karna memag beberapa bulan yang lalu ia di nyatakan naik ke kelas 12 akibat bantuan dari Sanda.

Dan memang seharusnya ia sudah pun menjadi kakak kelas namun karna dulu sering membuat onar ia di nyatakan tidak naik kelas dan dia pun mencoba untuk merubah sifatnya agar tidak menjadi murid yang berandalan lagi sekaligus memperbaiki nilainya juga dan lalu meminta agar Sanda membantunya meski harus melalui jalur orang dalam🤦‍♀

Jam pelajaran pertama pun di mulai dengan Guru Fisika yang masuk ke dalam kelas 12 IPA.

Reno dengan semangatnya mencatat apapun yang di tis Guru pada papan tulis dan mendengarkan dengan fokus semua penjelasan yang ada.

Sedangkan Sanda hanya menulis yang menurutnya penting saja bahkan hanya 3 baris pada bukunya yang  di penuhi oleh tinta pulpen.

2 jam berlalu..

Bunyi bell pertanda waktu istirahat pun berbunyi.

"Baiklah pelajarannya kita cukupkan sampai disini saja kalau sudah tidak ada yang mau di tanyakan lagi, dan untuk PR nya kalian kerjakan yang di halaman 40 sampai 45 yah, di kumpulkan minggu depan! Kalian mengerti?" ucap Guru wanita tersebut.

"Iyah mengerti bu.."

Melihat Guru itu sudah pun keluar membuat Sanda akhirnya membaringkan kepalanya di atas meja dengan kedua nata yang terlihat sayu akibat menahan ngantuk.

Reno tertegun saat tak sengaja melihat ada bekas memar yang sudah berwarna kebiruan di pergelangan tangan kanan Sanda.

Ia tau itu seperti terlihat bekas cengkraman kuat dari seseorang tapi siapa?

Perlahan tangan kanan milik Reno pun terulur guna mengusap bekas memar itu membuat sang empu dengan refleks menatap penuh ke arah Reno.

"Ada apa?" tanya Sanda pelan seolah tak bertenaga.

Raut khawatir terpencar dari wajah cowok dengan kaca mata beningnya itu.

Reno hanya tersenyum tipis dan mengambil pelan tangan Sanda yang terdapat bekas memar itu.

"Ini kenapa hm? Sanda berantem sama siapa semalam?" tanya Reno lembut.

Yang di tanya hanya menghela nafas sejenak dan terlihat seperti sedang berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.

"Nggak papa kok Ren.." jawabnya lirih.

Tidak percaya!

Itulah yang Reno fikirkan bagaimana ia mau percaya jika luka memar itu tampak sedikit mengerikan di matanya membuat ia meringis pelan.

Hap..

Cowok itu menarik Sanda ke dalam dekapannya dan mengusap sayang rambut berwarna coklat milik Sanda.

"Sanda nggak lupa kan? Kalo Sanda masih punya Reno sebagai rumah untuk tempat curhatan keluh kesah nya Sanda, jadi Reno mohon bagiin apapun yang buat Sanda sedih.."

Kedua mata Sanda terpejam pelan seraya kedua tangannya melingkar di pinggang Reno, ia mengeratkan pelukan itu.

Wajahnya di benamkan pada ceruk leher Reno dengan perasaan yang tiba tiba di landa sesak.

Bayangan yang terjadi semalam teringat kembali di otaknya.

Kamu jadi anak bisa nggak kalo nurut aja sama orang tua hah!

Pergi tanpa izin, seenaknya keluar sampai pagi baru pulang mau jadi apa kamu hah!

Mau jadi perempuan nggak bener kamu hah!

Reno mengelus lembut punggung Sanda saat merasakan ceruk lehernya basah akibat tangisan Sanda yang di pendam oleh cewek itu.

Kedua nata Reno menatap sekeliling, untung saja para siswa dan siswi di dalam kelasnya sudah pun keluar hanya tinggal teman teman Sanda yang masih tersisa di dalam bersama Silva.

Terlihat Jessi berjalan bersama Silva mendekati mereka berdua di susul juga oleh Erfan, Yusuf, Zio, Gama dan Ergan.

Mereka mengelilingi meja yang di tempati Reno dan Sanda.

"Dia kenapa?" tanya Gama tanpa suara pada Reno hanya melalui gerakan mulutnya saja..

"Lagi sedih" balas Reno juga mengikuti gaya bicara cowok itu membuat teman teman yang lain hanya menatap mereka kesal.

"Ngomong tuh pake suara jangan kayak orang yang lagi gosip dah lagian si Sanda juga masih ada disini jadi mungkin sekalian kita bisa tau dia kena masalah apa.."ujar Zio.

"Rennn.."panggil Sanda pelan di telinga Reno.

"Iyah?"

"Aku lagi pengen berdua aja sama kamu.." lirih nya.

Reno mengarahkan tatapannya pada teman teman Sanda yang kini menatapnya penasaran.

"Maaf sebelumnya.. Tapi apa kalian bisa biarin Reno sama Sanda berdua aja di kelas?" tanya Reno.

"Emang lo mau ngapain berdua aja sama Sanda?" tanya Ergan dingin.

"S-sanda yang minta kok barusan sama Reno"lirih nya pelan.

Jessi yang mengerti akan situasi Sanda saat ini pun memilih untuk mengajak teman temanya keluar.

"Biarin aja mereka berdua disini lagian Reno pacarnya Sanda kan jadi itu hak dia mau ngapain aja sama Sanda asak nggak lewatin batas aja lagian kita juga tau kan Reno kayak gmana orangnya dia anak baik baik  bukan kayak kalian jadi ayok kita ke kantin aja"

"Dih! Gue juga anak baik baik yah, si Gama aja ni anak jahat" timpal Erfan tak terima.

"Pala lo! Gue yang paling baik disini nggak kayak kalian laknat semua--AAAGGRRHH!" Sentak Gama karna merasakan telinganya yang di tarik kesal oleh Jessi.

"Bisa diem nggak! Buruan keluar gue lagi laper ni yah jangan sampai lo yang gue makan!"

"Seremnya astaga.." gumam Gama sambil mengusap telinga kanannya yang terlihat merah.

"Ya udah kalo gitu kita ke kantin dulu yah Reno, Sanda.."ucap Silva ramah dan di balas anggukan oleh Reno.

"Kalian nggak mau pesen makan?" tanya Jessi sebelum menyusul para cowok yang telah keluar.

Reno melirik ke arah Sanda saat merasakan gelengan di ceruk lehernya.

"Enggak Jessi makasih, Reno juga ada bawa bekel soalnya" jawab Reno tersenyum.

"Oh okey kalo gitu kita ke kantin duku yah kalo ada apa apa telfon aja langsung.." ucap Jessi kemudian merangkul Silva keluar kelas meninggalkan Reno dan Sanda berdua di dalamnya.

Reno mengusap lembut rambut belakang Sanda, hingga 10 menit berlalu tanpa ada yang berbicara di antara keduanya.

Perlahan Sanda melepaskan pelukannya namun tidak dengan kedua tangannya yang masih nyaman melingkar di pinggang kokoh milik Reno.

Kedua mata indah yang selalu menatapnya dengan tatapan elang itu pun kini terlihat sembab membuat Reno seolah merasakan kesedihan yang sama.

"Sampai bengkak gini matanya"lirih Reno.

Ia membantu membersihkan sisa air mata yang ada pipi sembab milik sang pacar.

Reno mengambil botol air minum berwarna biru miliknya dan menyodorkan pada Sanda agar cewek itu bisa membasahi kerongkongnya yang kering.

Melihat Sanda yang sedikit tenang pun membuat Reno beralih mengambil bekal dari dalam tasnya.

"Makan dulu yah"

"Lagi nggak nafsu makan Ren" lirih Sanda menatap datar makanan yang ada di dalam bekal Reno.

Cowok dengan kaca mata bening itu hanya menghela nafas pelan dan menutup kembali bekalnya lalu menatap dalam kedua netra Sanda.

"Maaf kalo Reno kesannya memaksa dan sedikit kepo tapi apa boleh Sanda ceritain tentang kejadian yang udah buat Sanda sedih kayak gini?" tanya Reno lembut.

Sanda hanya diam ia terus menatap dalam kedua netra Reno.

Tiba tiba memori saat dirinya bersama Rendi dulu teringat begitu saja.

"Jangan sedih yah lo kan cewek yang kuat statusnya ketua geng masa lemah sampai nangis gini, nggak banget dah kalo menurut gue.."

"Sanda itu kuat nggak boleh lemah"

"Harus semangat kayak Rendi nanti kalo lo sedih terus gue mau curhat sama siapa dong? Lo nya aja butuh tempat curhat kan.."

Kata kata penyemangat dari Rendi terus teringat di kepalanya.

"Sanda.."panggil Reno membuat ia sontak membuyarkan semua ingatan tentang Rendi.

Bagaimana pun sekarang yang ada di hadapannya ini Reno bukan Rendi, meski mereka memiliki ikatan darah sebagai adik kakak tapi sudah pasti karakter mereka berbeda.

"Papa.." gumam Sanda pelan namun masih terdengar oleh Reno.

"Papa Sanda kenapa? Dia marahin Sanda lagi yah?" tanya Reno was was.

Bukan pertama kalinya bagi Reno untuk bertanya perihal tentang Papa Sanda yang sering mematahi pacarnya ini.

Karna Reno juga selalu menjadi tempat curhat Sanda setiap ia bertengkar dengan kedua orang tua nya terutama sang papa.

"Iyah.. Papa bentak gue terus dia salahin gue yang pulang malam terus padahal dari dulu juga gue emang udah sering kayak gitu dia nggak perduli juga tapi makin sekarang dia seolah ngekang gue banget, dia berani kayak gitu karna Kakek lagi nggak ada di rumah nggak ada yang bela gue, mama aja diam dia sibuk sama urusannya.. Gue fikir mereka udah berubah tapi ternyata sama aja"ucapnya dengan nada yang terdengar sesak di akhir.

Reno kembali memeluk Sanda berusaha menenangkan perasaan pacarnya itu.

"Ini yang buat gue benci sama Papa dan mama Ren.. Mereka yang buat gue jadi kayak gini! Dari kecil mereka nggak pernah ada buat gue bahkan saat gue lahir pun cuman Kakek yang selalu ada buat gue bukan mereka! Terus sekarang mereka sok ngatur gue! Gue benci.." ucapnya seolah mengeluarkan semua emosinya yang tertahan sejak lama.

Reno mengeratkan pelukannya, selama berpacaran dengan Sanda ia berusaha untuk menjadi cowok yang pengertian dan tidak lemah meski hatinya selalu rapuh saat mendengar cerita  tentang kehidupan Sanda.

Pantas saja abangnya dulu begitu menyayangi Sanda dan selalu ada untuk cewek ini karna memang dia butuh sandaran untuk setiap luka yang di dapatkan.

***

Setelah menenangkan Sanda kini Reno sedang berjalan sedikit cepat menuju ke Toilet karna kebelet pipis.

Ia pamit sebentar pada Sanda yang sedang memakan bekal miliknya.

Kedua netra nya menatap penampilannya dari kaca yang ada di dalam Toilet dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu mencuci tangan dengan sabun.

Setelah di rasa bersih ia pun mengeringkannya dengan tissue lalu mulai melangkah keluar.

Ceklek..

Baru beberapa langkah kini kedua kakinya melangkah mundur kembali saat melihat pintu toilet di buka.

Reno menelan susah payah salivanya karna kaget saat melihat siapa yang masuk.

"B-bara.." lirihnya.

Ia baru tau ternyata Bara sudah pun kembali ke Sekolah karna berita yang dia tau bahwa cowok itu sedang terbaring koma di RS dan belum ada kabar lainnya namun sekarang orangnya telah ada di hadapannya.

Senyuman sinis itu terlihat di bibir Bara dan keempat temannya membuat Reno menatap mereka was was.

Sanda meminum air untuk menjatuhkan makanan yang ia kunyah.

Dia melihat ke arah pintu menunggu Reno yang dari tadi belum datang.

Sudah 20 menit cowok itu keluar dan belum kembali.

Ia menutup bekal yang masih tersisa itu lalu menyimpannya di dalam tas milik Reno seraya berdiri dan lalu berjalan keluar untuk mencari Reno.

Baru sampai di depan kelas ia melihat Zio yang sedang berlari tergesa gesa dan dengan cepat Sanda menahan lengan cowok itu.

"Kenapa lo?"

"Duh! Gue mau ke toilet Sanda, lepas dulu yah ntar aja kalo lo mau nanya nanya lagi yah.. Okey bye!"ucap Zio cepat melepas cekalan tangan Sanda pada lengan kanannya lalu melanjutkan larinya.

Sanda hanya memandang punggung Zio dan mengangkat kedua bahunya acuh lalu kembali melanjutkan langkahnya mencari Reno.

Trak!

Reno menatap nanar kaca mata bening miliknya yang sudah retak akibat diinjak oleh Bara.

"Lo fikir gue bakalan makin takut sama cewek lo itu hm? Setelah dia buat gue koma kayak almarhum abang lo? Itu nggak akan terjadi Reno sebelum gue bisa hancurin Sanda karna dia selalu gagalin apapun yang gue lakuin apalagi semenjak ada lo!"sentaknya penuh emosi seraya mencengkram erat dagu Reno membuat sang empu meringis.

"Gue nggak mau nyakitin lo lebih parah makanya gue hancurin kaca mata lo aja karna itu lebih baik bukan? Dari pada lo yang gue hancurin karna pasti cewek sok pahlawan lo itu bakal bunuh gue saat ini juga, jadi gue main aman aja dulu" lanjutnya.

Reno hanya diam dengan keadaan pasrah karna kedua tangannya di tahan oleh dua orang teman Bara sedangkan yang lain menunggu di depan pintu Toilet.

Bruk!

Bara sontak menoleh ke arah belakang saat mendengar suara tersebut.

Terlihat tubuh dua oramg temannya sudah tersungkur di lantai dengan keadaan tengkurap.

Reno menghela nafas lega saat melihat orang yang berada di depan pintu sedang menatapnya juga.

Sedangkan Bara menatap tajam pada cowok itu.

"Z-zio.." lirih Reno pelan.

Zio berjalan cepat menhampiri Bara dan mendorong bahu cowok itu keras hingga mundur beberapa langkah.

"Lo nggak ada kapok nya yah gangguin Reno terus! Lo emang nggak sayang sama nyawa lo sendiri hah? Untung yang datang gue coba kalo Sanda.. Udah habis lo dan pastinya bakalan koma part 3 setelah dua kali di buat bonyok sama Rendi dan Sanda.." ucap Zio kesal.

"Gue nggak takut sih sayangnya.."ucap Bara menatap Zio sinis.

Plak!

"Aaakkhh!" pekik Bara kaget dan sedikit terasa nyut nyutan saat kepalanya yang masih terdapat perban itu di tampar pelan oleh Zio.

"Gue cuman nampar pelan yah nggak pake tenaga nggak usah lebay!" ucap Zio kesal.

"RENO!"

Zio menyuruh Bara diam saat cowok itu hendak membalas ucapannya.

Terdengar suara Sanda di depan pintu Toilet yang memanggil Reno.

Keempat teman Bara langsung bersembunyi di belakang pintu karna takut akan di habisi oleh Sanda.

Sedangkan Reno kini sudah berdiri di samping Zio menatap cowok itu panik.

Ia memperlihatkan kaca matanya pada Zio yang sudah retak.

Zio menepuk jidatnya pelan dan menatap Bara yang hanya menatapnya malas.

Dengan gerakan cepat dia merapikan seragam Reno yang sedikit berantakan lalu menyisir rambut Reno dengan tangannya.

"Sekarang kita keluar dan muka lo biasa aja jangan keliatan takut atau gimana gitu biar Sanda nggak curiga okey.." ucap Zio seraya mengacungkan jempolnya pada Reno.

"Okey, tapi kaca matanya?"

"Lo pegang aja nggak papa terus bilang sama Sanda kalo ini tadi nggak sengaja lo jatuhin atau cari alasan apa gitu biar dia percaya.."

Zio lalu melirik Bara yang dengan santai nya hendak berjalan membuka pinti sontak ia menarik lengan Bara dan mendorongnya ke arah belakang pintu.

"Lo diem disini! Jangan sampai ribut lagi sama Sanda! Nggak usah buat masalah! Minimal keringin dulu tuh kepala lo yang masih bocor" ucapnya pelan dan kenatap Bara tajam.

Setelah itu Zio menarik pelan tangan Reno seraya berjalan keluar.

Cewek berambut kecoklatan yang kini berdiri di depan pintu Toilet cowok itu terdiam sejenak saat melihat dua orang keluar dari dalam.

Sanda menatap Reno yang kini tersenyum ke arahnya dengan Zio yang sedang merangkul cowok itu.

"Bukannya tadi lo bilang mau pipis yah?" tanya Sanda pada Zio.

"Oh iyah astaga! Yaudah lo bawa nih cowok lo katanya tadi dia lagi mikir cara supaya bisa dapat kiss di pipi dari lo tapi dia malu jadi niatnya gue mau bantu cuman lo udah ingetin soal pipis jadi gue mau masuk lagi ke dalam bye!.."ucap Zio cepat dan mendorong pelan tubuh Reno ke arah Sanda lalu kembali masuk ke dalam Toilet.

Sedangkan Reno sudah terdiam dengan kepala yang menunduk ia begitu malu mendengar alasan Zio yang ada di luar prediksinya.

Apa katanya tadi?

Reno mau minta kiss di pipi?

Oh tidak!

Sanda menepuk pelan bahu kanan Reno membuat cowok itu menatapnya.

"Jadi nggak?" tanya Sanda.

"J-jadi apa?" tanya Reno gugup.

"Jadi di kiss sama gue"

Tuhkan!

Reno menutup wajahnya dengan kedua tangannya membuat Sanda tertawa pelan.

Ia merangkul pundak Reno dan berjalan kembali ke arah kelas.

Namun baru beberapa langkah keduanya berhenti karna Sanda tiba tiba menatap Reno serius.

"Kenapa?"tanya Reno.

"Kaca mata lo mana?"

Deg!

"Mmm.. I-itu tadi Reno nggak sengaja jatuhin pas di Toilet tadi jadi nya rusak makanya nggak Reno pake"jawab Reno yang tentunya berbohong ia melirik ekspresi Sanda yang tak bereaksi apapun.

Pacarnya itu hanya menghela nafas pelan dan kembali merangkul Reno seraya melanjutkan langkah mereka.

"Pulang sekolah nanti kita beli yang baru.." ucap Sanda.

"Eh nggak usah.. Nanti besok Reno beli sendiri"

"Terserah lo.. Tapi jangan ngomong sama gue kalo sampai lo beli sendiri besok"

Reno akhirnya mengalah saja dari pada semakin membuat Sanda marah.

***

Di tempat lain terlihat seorang cowok yang sedang melepas jaket berwarna hitam miliknya.

Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang kecil yang ada di dalam ruangan tersebut.

Tok!

Tok!

Tok!

Kedua matanya yang baru saja hendak terpejam pun kembali terbuka saat mendengar suara ketukan dari luar.

Dengan malas ia bangun dari posisi baringnya lalu berjalan membuka pintu.

Terlihat ada seorang nenek yang menggunakan jilbab berwarna coklat itu sedang tersenyum ke arahnya.

"Eh, nenek yang tadi yah? Kok bisa ke sini nek?" tanya cowok itu seraya membalas senyumam nenek itu.

"Iyah nenek kesini mau kasih ini karna udah bantuin nenek dari preman di pasar tadi, terima kasih yah nak, nanti ini di makan gado gadonya" ucap nenek itu sambil menyodorkan kantong plastik berwarna hitam.

"Iyah nek sama sama, makasih juga buat gado gadonya yah nek, mari saya antar"

"Nggak usah nak, lagian nenek ke sini sama cucu nenek yang baru pulang Sekolah" ucap nenek itu seraya menoleh ke belakang.

Dan benar saja cowok itu melihat ada cewek yang sedang berdiri menggunakan seragam SMP serta jilbab nya sedang berada di samping jalan melihat ke arah mereka.

"Ya udah kalau begitu makasih yah Nek, hati hati di jalan.."

"Iyah nak, kalau boleh tau namanya siapa nak biar nenek ingat terus sama kamu.."

Cowok itu tersenyum seraya mengusap keningnya yang terdapat luka di sana.

"Panggil saya Rendi bu"

"Nak Rendi.. Nama yang bagus, kalau begitu nenek pergi dulu yah nak"

"Iyah nek hati hati di jalan.."

Kedua netra nya kini beralih menatap kantong plastik di tangannya.

"Rendi.. Nama yang bagus nek, tapi tidak dengan takdirnya yang buruk!"

Lanjut?

Waduh ada siapa tuh?🙃

Btw ada perubahan dikit tentang Fikri tadinya dia cuman adik kelas tapi udah aku ubah yah biar pas aja jadi sama kayak yg lain..🙏😎

***

Spamm komen
"Lanjutin Sanda!!!"

Gimana tanggapan kalian tentang Part ini?

Terserah mau komen apa aja asal tinggalin jejak🙏

***
Sampai ketemu di part selanjutnya bersama Sanda..💘😎

Continue Reading

You'll Also Like

385K 20.6K 58
[Follow dulu sebelum lanjut membaca] {TAHAP REVISI /banyak typo bertebaran 🙏🏻} *** Andira Anandhita. Atau yang lebih mereka kenal dengan panggil...
849 168 46
⚠️ DILARANG MENG COPY ⚠️ "Mending kamu sama aku aja, jadi ga ada yang bisa ganggu kamu lagi" kata Randi sambil mencubit pipi Rena "Ada" "Siapa hm?"...
107K 4.2K 74
[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Membangun kembali kelompok geng yang pernah ditakuti di masa lalu memberikkan beban tersendiri bagi kehidupan Reno. Keingina...
27.4M 1.6M 93
Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?"...
Wattpad App - Unlock exclusive features