TRAGEDI 23.59 (END)

By Dearvra

437K 17.6K 1.1K

"Papa, anakmu dibinatangkan." ~~~ Dia, Kalula. Remaja cacat dengan kaki kiri yang pincang. Bagi Kalula, SMAN... More

P R O L O G
Bab 1 [ KALULA, SMANTA DAN TENTANGNYA ]
Bab 2 [ SEMESTA MERENGKUH LUKANYA ]
Bab 3 [ MANUSIA TANPA RASA ]
Bab 4 [ BERTEMU YANG HILANG ]
Bab 5 [ YANG RUNTUH TIDAK AKAN KEMBALI UTUH ]
Bab 6 [ KAPAN AKU DIRAYAKAN? ]
Bab 7 [ SEMUA UNTUK ATMA ]
Bab 8 [ BERSEJARAH ]
Bab 9 [ PENTAS SENI SMANTA ]
Bab 10 [ JERIT DARI YANG TERLUKA ]
Bab 11 [ 2007 ITU DITIADAKAN ]
Bab 12 [ RUMIT ]
Bab 13 [ JEJAK LUKA UNTUK SANG PENCIPTA ]
Bab 14 [ SATU TITIK TERANCAM ]
Bab 15 [ MASA LAMPAU MERENGGUT YANG DATANG ]
Bab 16 [ SEBENARNYA KITA, APA? ]
Bab 17 [ POTRET FAVORIT ]
Bab 18 [ DEKAPAN PAPA UNTUK KALULA ]
Bab 19 [ GEMA LORONG SMANTA ]
Bab 20 [ SETENGAHNYA RUNTUH SEPARUHNYA RAPUH ]
Bab 21 [ UNTUK KITA YANG DIABAIKAN ]
Bab 22 [ TITIK YANG MENARIK ]
Bab 23 [ DEKLARASI ANKA ]
Bab 24 [ KEADILAN BAGI RAKYAT YANG MANA? ]
Bab 25 [ INSIDEN SMANTA ]
Bab 26 [ PERMAINAN RASA ]
Bab 28 [ RUANG TANPA KEMANUSIAAN ]
Bab 29 [ PERINGATAN ]
Bab 30 [ TERBALAS NAMUN TIDAK SEJALAN ]
Bab 31 [ SAKSI BERSUARA ]
Bab 32 [ KEHANCURAN DAN PENGHORMATAN ]
Bab 33 [ ISTIMEWA YANG DICINTAI ]
Bab 34 [ PAPA, INI ARAHNYA KE MANA? ]
Bab 35 [ TITIPAN KALULA UNTUK ATMA ]
Bab 36 [ KELUH DIUJUNG HARAPAN ]
Bab 37 [ DENDAM MENGGEROGOTI ]
Bab 38 [ RENGKUHAN DUKA ]
Bab 39 [ SINGGAH UNTUK BERCERITA ]
Bab 40 [ LELAH KEHILANGAN ARAH ]
Bab 41 [ SAKIT UNTUK DIKENANG ]
Bab 42 [ HAI, INI NISKALA! ]
Bab 43 [ KESAKITAN UNTUK BALASAN ]
Bab 44 [ BERSAMA PAPA DAN SAUDARA ]
Bab 45 [ DICINTAI TANPA JEDA ]
Bab 46 [ NISKALA UNTUK KALULA ]
Bab 47 [ PARA PENGUASA TIDAK BERSUARA ]
Bab 48 [ HUJAN TERAKHIR BERSAMANYA ]
Bab 49 [ CERITA MALAM INI ]
Bab 50 [ PERSIAPAN UNTUK PERAYAAN ]
Bab 51 [ I LOVE YOU TOO, AKALANKA! ]
Bab 52 [ TRAGEDI 23.59 ]
Bab 53 [ DIA TELAH BERPULANG ]
Bab 54 [ HADIAH KECIL UNTUK PARA TERSAYANG ]
Bab 55 [ HEY PENGUASA! ]
Bab 56 [ KAMU TERLUKA? ]
Bab 57 [ BALASAN AKAN PENGADUAN ]
Bab 58 [ HARAPAN ITU TIDAK ABADI ]
Bab 59 [ BERITA ITU DATANG ]
Bab 60 [ LALU, SEMUANYA TERBALAS ] END
EXTRA PART
MAU VERSI KALULA YANG CETAK NGGAK?

Bab 27 [ GUGUR TIDAK AKAN KEMBALI TUMBUH ]

5.8K 275 14
By Dearvra

Keluh kesah menumpuk mengisi setiap bagian yang tersisa. Menggores tipis-tipis permukaan kulit membentuk luka dan entah kapan kiranya bisa sembuh. Terhitung sudah 5 menit tanpa ada tutur kata yang keluar dari rongga sepasang paruh baya di hadapannya. Berdiri kaku di ujung brankar, memperhatikan dalam kebungkaman.

Mencoba tersenyum.

"Papa," panggil Kalula lemah bergetar, menumpahkan sesak pada sosok yang tidak kunjung mendekat.

"Aku baik." Tidak ada pertanyaan yang ditujukan mengenai keadaan. Mulut sendiri yang ingin berucap, berharap ada secercah kepedulian akan rasanya sebagai orang tua.

Apakah Juna mengetahui dirinya diperlakukan seperti ini?

Posisi sebagai anak yang diabaikan membuat Kalula selalu diam tanpa pengaduan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berkeluh akan ketidakdilan dunia malah menjadi tempat yang turut menambah luka.

"Kamu terlalu lemah. Cukup lawan, apa salahnya?" Dari sekian banyak kata yang Kalula harapkan kenapa malah rentetan itu yang keluar, mematahkan harapan.

"Anak manja bisa apa?" Sahutan dari sebelah tubuh Juna. Gitta, wanita dengan penampilan yang selalu rapi itu berdecak memperlihatkan raut wajah jengah.

Bingung, untuk menjawab. Alasan Kalula selalu tidak ingin mengadu pada orang-orang tentang keadaannya. Bukan mendapat dukungan tapi malah tuntunan yang mengharuskan diri melawan dan bertahan tanpa ada pegangan.

"Aku gak sekuat itu buat lawan banyak orang, Pa, Ma. Bukan hanya satu tapi hampir semua mulut dan tangan menyentuh. Memaksa aku jatuh, berlutut, merangkak... lalu mengacungkan tangan meminta pertolongan. Anak mu, Pa... anak mu perempuan. Sebanding, kah?" Kalula bertanya dengan napas memburu. Gambaran kelukaan yang dicurahkan pada mata Juna yang berair.

"Kamu pantas diperlakukan seperti itu," tutur Gitta memandang lurus wajah Kalula. Dendam yang tidak pernah hilang karena kedatangan Kalula yang menghancurkan.

"Karma dari Ibu kamu yang menjadi hama di rumah tangga saya. Berharap apa? Dunia tidak menerima orang-orang cacat, itu menjijikkan, Kalula." Menggebu-gebu buncahan emosi yang diperuntukkan untuk anak tidak bersalah. Gitta mengangkat jari, menunjuk tepat pada posisi duduk Kalula.

"Sebuah kewajaran kalau kamu disepelekan."

Kalula balas dengan senyuman kecil. Memang benar, sebuah kenyataan bahwa seseorang yang memilki perbedaan fisik pada umumnya selalu dibedakan. Namun, untuk karma? Tidak. Hanya ada takdir. Dan Gitta, Mama tirinya itu sulit untuk menerima bahwa kehancuran rumah tangganya bukan karena Kalula, tetapi keegoisan Juna.

"Mama selalu seenaknya, ya?" balas Kalula diakhiri tawa kecil dan gelengan kepala, menatap miris.

Hubungan pelik antara ketiga wanita dan satu pria menjadi beban yang tidak akan hilang sebelum ada kata mati, untuk Kalula. Seolah semua kesalahan terletak padanya, tentang bagaimana keretakan dan kejadian belasan tahun lalu terjadi.

"Papa, coba akui. Perbuatan bejat yang buat aku sampai seperti ini." Menatap kaki kiri yang terbalut perban.

"Bukan Ibu aku ataupun Ibu Anggara. Tapi Papa. Papa yang jebak mereka, Papa yang khianatin Mama Gitta, lalu lari seolah gak terjadi apa-apa. Benar, jika hasrat laki-laki selalu menjadi penghancur masa depan perempuan, ketidakpuasan buat Papa mengorbankan kebahagiaan orang. Biadab," tutur kata diselingi isakan, Kalula meremas selimut tipis di pangkuan.

Mendongak membalas tatapan kebencian dari Gitta yang semakin terpancing. Masih tersimpan keraguan pada bola mata, tidak akan pernah percaya pada ucapan Kalula.

"Dalam status yang masih menjadi suami, Papa berani merusak dua orang yang gak tau apa-apa. Papa tuli dan buta, tentang penyakit yang buat keadaan sekacau ini."

Terpejam, napas Kalula tercekat dengan mulut yang tertutup saat hampir tamparan itu dilayangkan oleh Juna.

"Pembohong!" Satu kata yang keluar semakin membuat suasana menegang.

Rahang Juna mengeras, kata yang ingin diucapkan tertahan diujung lidah. Bergerak resah saat tatapan Gitta sudah sepenuhnya terarah. Bertanya lewat mata, tentang ucapan Kalula. Bingung, melangkah mundur dan berbalik merendamkan amarah yang kapan saja bisa mengungkapkan segalanya.

Kebejatan Juna.

Meniduri dua wanita pada hari yang sama dan mengkhianati pernikahan. Menciptakan hubungan pelik yang hingga saat ini masih belum menemukan titik terang. Selalu mengelak jika masalah itu berpusat padanya. Tentang kaitan darah antara Aksa, Anggara, Kalula, dan Atma.

Sial.

"Gak hanya aku, ada anak lain yang dia telantarkan. Selamat. Mama terlihat seperti orang bodoh selama ini. Seorang dengan penyakit seksual gak akan pernah berhenti. Otaknya itu yang udah mati, yang ada hanya kepuasan diri. Gak ada itu cinta, yang katanya untuk Mama? Keluarga kita lucu, ya?" ujar Kalula dibalas tamparan pada bagian kanan wajah, terdengar nyaring dan menyisakan bekas memerah.

Juna menggeram. Bergerak mencengkram leher Kalula, semakin meremas dengan mata melotot akan ucapan yang membuat semuanya menjadi rumit. Gelisah tampak pada gerak tubuh yang tergesa-gesa, tidak memikirkan akibat dari perbuatannya ini.

"Anak pembawa sial. Mati kamu."

Juna menulikan rintihan dari suara yang memarau. Tidak terbesit rasa kasihan melihat wajah pucat yang mulai kehabisan napas. Terengah-engah dengan kepala yang terus menggeleng.

"Sakit, Papa."

Runtuh pertahanan. Kalula meraung tidak sanggup menahan.

"Kalula, anak mu. Anak dari wanita yang katanya dulu paling dicintai," lirih Kalula seiring cengkraman yang mengendur. Menyaksikan mata itu meluruhkan tangisnya.

"Papa, semuanya terlalu sakit untuk aku rengkuh. Tanpa ada genggaman dari Papa. Tanpa ada petuah dan petunjuk arah, aku ini mau ke mana? Gak pernah, Pa. Satupun kata yang Papa ucapkan kalau aku itu memang anaknya, Papa. Salah aku di mana? Aku gak sanggup lawan dunia kejam ini, aku gak bisa sendiri lawan mulut orang-orang, aku...butuh, Papa," tangis semakin pecah dari Kalula. Kedua tangannya memukul bahu Juna melampiaskan kekesalan tentang tidak adanya peran Juna.

"Aku kacau."

"Tuhan ngasih aku jalan yang berat. Tapi Tuhan lupa ngasih aku peran Papa buat gantiin Ibu."

Kalula tuntun arah mata Juna pada setiap luka yang tertera. Mengusap sekitar lebam pada lengan.

"Gak hanya Papa yang nyakitin aku. Banyak, Pa. Ini yang mereka kasih, sakittt. Tiap hari. Aku selalu takut buat sekolah. Aku takut diejek, anak pincang. Aku takut dipukul, rambut aku ditarik, punggung aku diinjak, diseret, itu manusia kah, Pa?"

Juna menggeleng pelan dengan mata terpejam. Bibir pria dewasa itu bergetar, terbuka dan mengeluarkan tangisan.

Untuk pertama kalinya mendengarkan keluhan Kalula sampai ada tetes air mata. Berdenging telinga saat mengingat ucapan anaknya itu.

"Mati rasa anak mu, Pa. Oleh saudara yang sedarah."

Juna tersentak saat tidak lagi merasakan pergerakan dari Kalula. Tubuhnya bangkit menuju pintu keluar. Mengenyangkan padangan sendu dari Gitta yang masih membutuhkan penjelasan.

"Satu langkah kamu keluar detik itu juga kata cerai saya ucapkan."

Berhenti, Juna menatap marah pada Gitta yang tidak mengerti situasi.

"Kalula butuh-"

"Sejak kapan kamu peduli pada anak cacat ini?"
Gitta melirik kesal pada tubuh yang terbaring di atas ranjang.

"Sejak kapan, Juna? Tangis yang sudah lama tidak terlihat jatuh karena hal sepele?"

Kerutan dahi yang terlihat seperti menjelaskan tidak persetujuan atas ucapan sang Istri. Juna tetap melangkah tetapi sosok Aksa yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu membuat mulutnya terbuka hendak bertanya.

"Papa, Atma butuh kalian."

Serempak melangkah keluar.

Juna berlari kecil mengikuti punggung Aksa yang menuntun jalan.

Melupakan.

Ada Kalula yang juga membutuhkan.

~~~

Langit malam menjatuhkan rintik-rintik kecil di luar sana. Hawa dingin masih menyelimuti tubuh yang sudah terbungkus selimut tipis. Mata terpaku pada objek di luar kaca namun pikiran entah ke mana. Termenung dengan usapan pada kedua lengan, berharap bisa menenangkan rasa cemas.

"Aku kembali ditinggalkan. Kenapa selalu Atma? Kalula kapan?"

Menoleh pada laki-laki yang turut duduk di sebelahnya, satu ranjang. Yang sibuk merapikan helaian rambut Kalula, membentuk satu kuciran tipis.

"Ayo kita minta sama Tuhan. Kira-kira waktunya kapan?" Niskala menyahut lalu terkekeh menenangkan Kalula. Menyembunyikan raut geram dibalik slayer hitam andalan.

"Makasih, udah datang. Kalau gak, mungkin aku pingsan sampai pagi deh," ucap Kalula menunduk. Jarinya saling meremas mencoba untuk tidak terlihat menyedihkan dalam pandangan Niskala.

Cukup risih merasakan arah tatap Niskala yang tidak terlepas dari jejak luka. Terlebih lagi pada bagian paha bawah yang sedikit terlihat. Membuat Kalula tidak leluasa bergerak. Tatapan dari mata kelamnya pun menunjukkan kemarahan, berusaha ditahan namun terlihat begitu jelas.

"Siapa yang ngasih tau kalau aku di sini?" Kalula bertanya ragu, mendongak menunggu jawaban Niskala yang beberapa saat terdiam.

Hening menyapa.

"Prita."

"Kamu kenal Prita?"

Tidak ada jawaban. Niskala masih fokus menelisik tiap luka pada bagian yang tampak. Dari wajah, turun pada lengan, lalu bagian setengah paha yang terlihat, dan berkahir pada kakinya. Terjeda mata di sana, tidak berkedip sedikitpun kemudian tiba-tiba memberikan usapan.

Semakin membangun kebingungan dalam pikiran Kalula.

"Sakit?"

Kalula tanggapi dengan anggukan pelan. Matanya menyipit melihat pergerakan Niskala yang mulai turun dari brankar.

"Mau ke mana?"

"Istirahat yang cukup. Besok aku ke sini lagi," balas Niskala tidak sesuai dengan harapan Kalula. Sedikit enggan untuk membiarkan laki-laki itu beranjak dan meninggalkan dirinya dalam kesunyian.

Menarik ujung jaket Niskala pelan, lalu Kalula menggeleng dengan tatapan nanar yang diperlihatkan. Mulut merangkai kata ingin mengucapkan bahwa Kalula takut untuk sendiri, tapi tertelan saat dengan lembut tubuh didorong berbaring.

"Tidur, aku di sini. Jangan takut!" gumam Niskala menerbitkan senyum pada bibir Kalula. Memperlihatkan barisan gigi rapi pada Niskala yang tampak tersenyum dilihat dari kerutan pada sudut mata.

"Aku gak suka tubuh kamu lecet kayak gini, sakit rasanya Kalula," bisik tepat pada telinga membuat Kalula tergagap untuk berucap.

Melirik dan saling tatap dengan jarak yang dekat. Menyelami manik di depan mata dengan mata mengerjap. Berdetak lebih cepat jantungnya saat merasa tidak asing dengan tatapan dan bentukan mata cantik itu. Seperti ada yang kembali namun tidak dapat Kalula artikan siapa dia sebenarnya?

Kenapa Niskala berpenampilan tertutup seperti ini? Hanya lewat mata Kalula mengenali.

"Jangan menyerah."

"Tunggu sebentar, ya. Nanti kita sama-sama lagi," kata Niskala pelan.

"Barengan yuk, buat bahagianya."

Kalula tertawa. Menggeleng sembari menutup kedua mata Niskala, terlalu sakit untuk ditatap.

"Terlalu hancur diperbaiki, Niskala. Entah kenapa, rasanya giliran aku untuk berpulang sudah dekat," jawab Kalula tercekat.

Niskala berdecak dengan penolakan keras dari gerak kepala yang menggeleng ribut. Terganggu akan ucapan Kalula.

"Gak boleh ada yang pergi. Masih banyak yang belum kita lewatin." Terdengar parau suara Niskala, matanya juga berkaca-kaca penuh ketakutan.

Kenapa rasanya mereka terlalu dekat, ya? Dan Kalula selalu nyaman. Seolah merasakan kembali jiwa yang telah lama hilang.

"Niskala."

"Sudah banyak yang berjatuhan dan gak akan kembali tumbuh menggantikan rasa sakit yang ditahan.

"Kepala aku sakit, rasanya pecah."

Ego Kalula dan harapan Niskala yang tidak sejalan.

~~~

Hello, apakah masih ada yang nungguin cerita ini update?😭

Aku pengen deh update tiap hari tapi salahnya tuh sibuk banget, lagi UTS akuu....

Pusing

Jangan lupa untuk vote, komen dan share ke teman-teman kalian biar aku makin semangat buat nulis...

Terima kasih bagi yang udah pembaca❤️

Continue Reading

You'll Also Like

1.5K 214 32
Jihan pernah begitu dicintai. Ia pernah begitu mempercayai. Ia pernah menjadi sosok yang paling beruntung. Sebelum semua itu akhirnya luntur, disaa...
25.5K 443 54
seseorang yang harus di salahkan adalah kakaknya sendiri, hidupnya hancur atas kesalahan kakaknya yang tega membuat seorang gadis terluka dan hancur...
26.3K 6.8K 29
[SUDAH TERBIT] apa itu bahagia? apa itu cinta? apa itu keluarga? "tak sepenuhnya keluarga dapat memberikan kebahagiaan. keluarga bagaikan jurang, tak...
Wattpad App - Unlock exclusive features