Anas menatap gadis di depannya dalam diam. Tangan gadis itu sedikit gemetar saat menyerahkan sebuah buket bunga lumayan kecil dengan sebuah kotak tertutup. Kotak tersebut dilapisi sebuah kain merah beludru, dengan ikatan pita biru gelap.
Rok sedikit panjang, tepat menutup lututnya. Kacamata yang kerap kali dia benarkan, serta rambut pirangnya yang tergerai.
Tahi lalat di bawah mata kirinya terlihat mencolok, meskipun kecil siapapun akan terpesona dengan itu. Tatapan mata yang senantiasa menatap Anas dengan gugup, manik hitam yang berkilau. Menanti sebuah kalimat keluar dari mulut pemuda yang dia kagumi selama ini.
"Makasih," ucap Anas singkat.
Gadis itu berbinar saat tangan Anas menerima sebuah buket dan kotak darinya. "Sama-sama."
Hendra mengirim kode kepada Anas, menyuruh pemuda itu untuk mendekat pada mejanya yang sudah terdapat Adit dan pacarnya.
Pemuda itu berjalan menghampiri temannya diikuti oleh gadis itu.
"Kiw kiw, gimana?" Pacar Adit menaik turunkan alisnya menggoda. Menatap gadis bermata empat dengan penasaran.
"Gimana apanya, Fer?"
Feral mendengus malas. "Lo gimana sih, ya gue tanya yang tadi."
Gadis berkacamata itu menunduk setelah melirik Anas yang kini sudah fokus meracik bakso pesanan Hendra.
Feral yang mengerti keterdiaman Shaquel, melirik sinis ke arah Anas. "Sombong amat jadi orang. Dikira dia seganteng itu apa, sampe nolak cewek yang suka sama dia."
Sementara pemuda yang dibicarakan hanya mengangkat pundak tak acuh, fokus memakan makanannya.
"Feral udah, aku udah lega setelah ngungkapin semua itu." Shaquel tersenyum lebar, memikat satu hati dalam meja tersebut.
"Nggak bisa, setidaknya dia harus menghargai perasaan lo," gertak Feral. Gadis itu berdiri sembari menatap tajam ke arah Anas.
"Lo siapa?"
Pertanyaan singkat Anas berhasil membuat Feral memberang. "Sialan!"
Anas terkekeh pelan. Jodoh cerminan diri, Anas akui itu terjadi pada Adit dan Feral–entah seterusnya putus atau memang jodoh hingga akad. Keduanya sama-sama mudah terpancing emosi.
"Dia nggak sewot kok lo yang ngebac** sih?" Dian memasang wajah julid pada Feral.
"Kalian sama aja. Sok ganteng!"
Hendra menghela napas, "Emang lo tau hidup Anas? Enggak, kan!" Pemuda itu menatap shaquel dengan pandangan menilai. "Gimana kalo Anas udah punya pacar?"
Suara batuk mengalihkan perhatian mereka semua. Shaquel menyambar minuman di stan dekat mereka dan menyodorkan pada Anas.
"Minum pelan-pelan, Nas." Shaquel membuka tutup botol dan menyerahkannya pada Anas yang diabaikan oleh pemuda itu.
Pemuda itu lebih memilih mengatur napasnya daripada menerima pemberian dari Shaquel.
"Lo kenapa?" tanya Awan heran.
Anas hanya menggeleng kecil, dan kembali memakan makanannya.
Feral menggeram marah. Hampir melayangkan tamparan sebelum sebuah suara menginterupsi.
"Tamparan, termasuk tindakan bullying secara non-verbal." Hendra berucap tegas. Hampir mencengkram pergelangan tangan Feral jika saja dia tidak ingat itu juga termasuk pembullyan.
"Lo sombong Anas! Sangat sombong, gue yakin nggak ada seorang pun yang akan jadi cinta sejati lo kecuali Shaquel." Jari Feral menunjuk gadis berkacamata itu, "Lo menyia-nyiakan cinta sehebat cinta Shaquel. Gue pastiin lo nyesel!"
Gadis itu menghampiri sahabatnya, merangkul pundak Shaquel. "Ayo kita pergi. Try again sometime!"
"Cewek kenapa gitu semua sih," Awan berceletuk. "Semaunya sendiri, mana nggak pernah mau kalah lagi."
Dian berseru membenarkan. Pemuda itu menepuk tangannya sekali dan menjentikan jarinya. "Bener banget!"
"Udah khas dari sananya mungkin," timpal Abigail, mengedikkan bahu.
"Nggak semua kayak gitu." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Anas. Mengundang tatapan bingung dari yang lain.
Hendra mengulum bibirnya.
"Mau kemana bos?" tanya Dian kala melihat Adit bangkit dari bangkunya.
Adit hanya melirik sekilas sebelum pergi dengan menyimpan tangan pada saku almamaternya.
"Ditanya baik-baik, jawabnya gitu." Dian bersungut geram.
Sementara Awan mengelus punggung temannya sembari terkekeh pelan. "Kayak lo nggak tau si bos aja."
"By the way, lo dibawa ke ruang ketua osis suruh ngapain, An?" Hendra bertanya.
Dian tampak membeku, terdiam kaku seolah pertanyaan Hendra adalah pertanyaan keramat.
Hendra mengernyitkan alisnya, "An?"
"Oh itu gue emang disuruh kesana sama ketos." Dian menepuk pelan lengan kanannya. "Nggak tau ngapain."
Anas tersenyum miring. "Bohong dia, Hen."
Anas semakin tersenyum melihat tatapan tajam Dian kepadanya.
"Padahal lo tinggal jawab seadanya." Hendra menatap Dian datar. "Ada apa emangnya?"
Anas menatap gerak-gerik Dian yang panik, kalaupun apa yang dia ucapkan benar adanya kenapa dia mengatakan tidak tau padahal Dian sudah menjalaninya.
Dian menghela napas frustasi, "Gue diteror."
Anas meletakan garpunya sedikit kasar. "Siapa yang teror?" tanyanya tak sabaran.
"Ketos," jawab Dian lesu.
"Coba lo cerita dari awal, kita semua nggak paham." Awan menyela, memberi saran.
"Gue kemarin disuruh ke ruang ketua osis, buat ganti rugi perbuatan gue. Tapi waktu gue bilang mau ganti dan minta no-rek, dia marah. Berasa dia manusia apaan dibujuk pake uang mau. Dan sebagai biaya ganti ruginya, gue disuruh ..." Dian menggantung ucapannya membuat Abigail tanpa sadar mencengkram gelasnya.
"Buruan s**!" Awan menyentak.
"Gue disuruh jadi pacar dia." Dian mendengus malas melihat tatapan bingung teman-temannya. "Dikira gue cowok apaan, yang nembak cewek duluan!"
"Kok bisa?" Anas menyahut heran. Ketos lo ini. Satau Anas ketua osis SMA Bratandana ini berhati dingin, dikabarkan jika hatinya mati rasa karena tak menerima satupun cowok yang mencoba mendekatinya. Tidak banyak memang, ya siapa juga yang mau mendekati ketua osis tegas, dingin, dan disiplin sepertinya.
"Gue nggak tau, gue bingung. Setiap malam dia selalu nagih jawaban dari gue, sikap dinginnya bahkan nggak berkurang. Gue curiga kenapa dia bisa suka sama gue." Dian mengacak rambutnya frustrasi. Menelungkupkan kepalanya pada lipatan tangan.
"Dia bilang suka sama lo gitu?" Hendra menyentuh bahu Dian, berniat menenangkan. Tapi dengan ucapannya yang tidak berniat menenangkan sama sekali membuat Dian semakin mendumel.
"Dia bilang dia udah tertarik sama gue sejak kelas sepuluh, dan baru kemarin kesempatan dateng. Dia nggak berani deketin gue duluan, sedangkan kemarin dia ada alasan bicara berdua sama gue perkara motor. Dia langsung bilang kalo dia mau jadi pacar gue, dia bakalan sabar nunggu jawaban gue selama dua minggu."
Anas menyeruput teh dinginnya sembari mendengarkan penjelasan Dian.
"Setelah waktu itu gue nggak nerima dia, gue akan tau konsekuensinya. Padahal gue nggak tau apapun tentang konsekuensi-konsekuensi apalah itu." Pemuda itu meraup muka kasar.
Anas menyeringai pelan, tanpa disadari oleh mereka semua.
"Gue harus gimana? Gue nggak suka sama dia!" Dian mengerang.
Hendra terkekeh pelan, "Lo coba dulu. Dua tahun itu waktu yang lama, coba buka hati lo buat dia siapa tau cocok, kan?"
Abigail ikut mengangguk, "Lo bisa manfaatin dua minggu buat pendekatan sebelum lo ambil keputusan."
"Lo berhak ambil keputusan, iya atau tidak. Mau dia nggak terima sama keputusan lo, dia tetap nggak ada hak buat paksa lo kasih feedback. Hati manusia itu nggak bisa dikendaliin." Hendra berucap bijak, menasehati Dian.
"Tapi gue bisa ngendaliin hati manusia tuh." Awan memotong. Menatap songong teman-temannya.
"Caranya?" Abigail menaikkan alisnya sebelah.
"Gampang, kalo gue mau orang benci sama gue tinggal lakuin semua yang dia benci. Dengan begitu dia akan benci juga sama gue."
"Nggak semudah itu!" Anas menggeleng pelan.
Awan terkekeh ringan, "Bercanda elah, serius amat sih kalian!"
"Gue emang nggak pernah anggap omongan lo serius sih, Wan," delik Dian.
"Oh ya?" Awan tersenyum miring. "Kalo gue bilang, Carnia suka sama gue balik gimana?"
"Hah?" Dian menggebrak meja kaget, membuat Anas, Abigail, dan Hendra ikutan kaget.
"Nas, kali ini bilang juga, kalo Awan cuman boong!" Dian menggoyangkan lengan Anas.
Anas mendorong tangan Dian. "Carnia kan emang suka sama Awan," ucapnya sedikit berbisik.
"Beneran?" Dian melotot kaget. "Berarti lo nggak cinta sepihak dong?"
Awan tersenyum congkah. "Hem hem."
"Kok bisa?" Abigail ikut terheran.
"Ya dia marah-marah kemarin di halaman belakang. Sampai ngeluarin unek-uneknya, gue jadi sadar kalo cinta gue terbalaskan."
"Congrats bro!" Hendra menepuk pundak Awan bangga.
"Apaan, jadian aja belum!"
Anas mengernyit, "bukannya udah tau?"
"Iya sebatas tau, gue belum berani bawa status." Awan melamun, memandang jauh. Membuat mereka menghela napas maklum.