Nesta

By aoiLilac

2K 289 54

Nesta; pure. a Twisted Wonderland antology. credit: Disney-Twisted Wonderland, Aniplex, and our dear Yana To... More

One.
Two.
Three.
Four.
Five.
Six.
Seven.
Eight.
Nine.
Eleven.
Twelve.
Thirteen.
Fourteen
Fifteen.
Sixteen.
Seventeen.
Eighteen.
Nineteen.
Twenty.
Twenty One.
Twenty Two.
Twenty Three.
Twenty Four. (I)
Twenty Four. (II)
Twenty Four. (III)
Twenty Four. (IV)
Twenty Four. (V)
Twenty Four. (VI)
Twenty Four. (VII)
Twenty Four. (VIII)
Twenty Four. (IX) end.
Twenty Five.
Twenty Six.

Ten.

48 6 0
By aoiLilac

Baby Falcon.

Tiada yang lebih Idia dambakan ketimbang berada dalam pondok, hanya dengan putra dan kasihnya—Russet—yang entah sibuk berbuat apa di balik semak sana. Bumantara kebiruan senantiasa mengiringi musim panas tak berawan. Di bawah kaki gunung, tak jauh dari hutan, huniannya tetap terasa sejuk walau sang raja tak dikelilingi kapas besar yang nyaris menyelimuti kuasanya.

Memang Idia tidak menyangkal bahwa di tangan kekasihnya itu dipegang gunting taman yang senantiasa digunakan untuk membersihkan reranting yang menyambar sekumpulan tulip yang mereka tanam susah payah—ah, tidak. Idia saja yang merasakan demikian.

Tatkala pergerakan dahayu dari sang pujaan hati yang begitu ringan dan menentramkan sanubarinya; lemah lembut, gemulai, nyaris seperti seekor burung. Hal tersebut hanya menambah rasa yang tak akan pernah habis pada dirinya. Russet, yang mana menurut Idia tak perlu melakukan sesuatu yang menawan untuk menarik kekagumannya itu sudah lebih dari cukup. Baginya, tindakan yang sederhana dan tidak ada kepalsuan pun telah membuatnya menemukan tempat untuk kembali. Itu sudah cukup.

"Apa semuanya baik-baik saja?" Idia tak bisa menahan rasa penasaran kala pergerakan surgawi istrinya terhenti kala memandang ke bawah. Tepatnya pada tanah dan reranting yang berjatuhan.

Idia bisa tahu kalau tubuh kekasihnya mulai tegang. "Aku tidak begitu yakin..." Dari deru napas yang menarik putus-putus, Russet meminta Idia untuk mendekat tanpa suara.

Langkah kaki diikuti akara yang menjulang mengikis jarak di antara paviliun dan sederetan kebun tulip. Di sisinya, ada rumah kaca di mana sayuran dan pohon lain yang tidak boleh memakan banyak pendar mentari terjaga dengan baik. Ekspresinya memang datar, tetapi tak menyembunyikan kegelian daripada kedua alis yang terangkat penuh perhitungan.

Ada sesuatu di bawah sana.

"..." Russet ditarik perlahan dan membiarkan Idia menunduk hanya untuk menyingkirkan reranting yang memantik kecurigaan. "... Sekiranya, jika aku kasih ular atau semacamnya ke kamu, kira-kira bagaimana?"

"Idia!"

"Apa?" Kekehannya terdengar begitu rendah saat menarik lengan kaus hingga menampakkan kulit pucat yang tak pernah merasakan cahaya matahari pagi. "... Apa kamu merasa menginjak sesuatu tadi?"

"... Kemungkinan..."

"Kalau aku bilang biawak, responmu seperti apa?"

"Idia!"

"Kamu senang sekali menyebut namaku," Godanya asal, sebelum menunjukkan sesuatu dalam genggamannya. Seekor bayi. Bayi elang dengan sayap abu-abu. Agaknya, baru berusia dua atau tiga hari. "kamu menginjak ini."

"Habislah..." Russet begitu mendramatisir. "Apakah Tuhan akan marah padaku?"

"Tidak." Idia bangkit sembari membawa bayi elang itu dalam dekapannya. Sembari kelereng amber memindai pepohonan yang melingkupi pondok mereka. "... Orang tuanya pasti tidak jauh. Namun, mengapa mereka membuat sarang yang dekat? Maksudku, danau 'kan di sana." Idia menunjuk arah lain dengan dagunya, mencoba mengalihkan perhatian Russet yang terbawa suasana akan dosanya pada Tuhan karena 'mencelakai' binatang, padahal bukan ia juga yang salah.

"... Kakinya patah..." Russet menarik kaki si baby falcon hingga memekik.

"... Goddess, tolong yang lembut sedikit. Ia masih kecil. Anggap saja Daffodil."

"Daffodil tidur." Suara lembutnya terjamah telinga si biru. "Apa kita harus mengobatinya?" Sang hawa menunggu keputusan sang adam yang menjadi pemimpinnya.

"Tentu. Kamu cuci tangan dulu, ayo masuk."

n e s t a

"... Menurutmu, kita apakan baby falcon ini?"

"... Diamkan saja."

Permukaan karpet kini diduduki oleh dua orang yang tengah mendiskusikan sesuatu. Pintu geser dibiarkan terbuka guna membiarkan anila mengajak gorden maroon menari dalam bayang. Melipat kain di meja resin, Russet membaringkan baby falcon yang tampak mengikuti keduanya berbicara dalam bisikan.

"Mana mungkin didiamkan?"

"Sampai ia mengembang."

Wajah ayu digantikan dengan ekspresi tak terbaca, tetapi cukup mengundang gelak Idia.

"Idia, kamu mau kue?"

"Croissant isi coklat."

"Sekarang juga?"

"Barangkali lusa."

"Bagaimana dengan baby falcon ini?"

"Hmm..."

Memikirkan betapa terkadang Russet bisa cerdas lalu memungkinkannya untuk tidak kompeten seperti sekarang membuat Idia sulit menahan tawa. Russet—lah yang langsung membawakan kotak P3K untuk si baby falcon beberapa waktu lalu, dan Idia yang mengurus sisanya; memastikan lukanya bersih, dan membalut kakinya dengan kain kasa. Hal itu ia lakukan, sembari terus menimpali pertanyaan-pertanyaan retoris Russet yang terkadang membuat Idia harus memikirkan jawaban agar ia tak salah paham.

"Maukah kamu memberikannya makan?" Tanya Idia saat itu, kala Russet masih bersandar padanya.

"Memang boleh?" Tanggapnya mengawang. Ini bukan sekali dua kali Russet berurusan dengan binatang liar di hunian. Ada saja yang datang seperti rusa, kelinci liar, rakun atau bahkan domba. Datang tanpa permisi, hanya menyapa saat Russet tengah di luar rumah. Bahkan, pernah hari itu Russet dihampiri satu keluarga kancil, yang hanya menunjukkan anggota keluarga baru mereka. Ibunya sering mampir, dan Russet tidak mengabaikannya, bahkan saat ia mengandung anaknya.

Namun, itu kehadiran yang membawa berkah dan perasaan nan subtil, dan bukan kecelakaan yang membuatnya merasa berdosa karena melukai makhluk Tuhan. Seperti saat ini.

"Kita akan melepaskannya?"

"Kakinya masih sakit. Kasihan."

"Beri ia makan."

"Dengan ikan?"

"Pilihan arif."

Tidak ada salahnya memberi pakan untuk tamu, walau binatang sekali pun.

Tak butuh waktu lama untuk paruh si bayi elang mematuk lembut tangan halus yang menangkup beberapa potong ikan. Di matanya, bayi elang begitu bersyukur atas perlakuan yang ia terima—setidaknya, begitu pikir Russet seorang diri dalam hening saat Idia menikmati pemandangan yang tersaji di hadapan, hingga ia menempelkan dagunya di pucuk kepala wanitanya. Ketenangan di awal tahun sebelum keduanya akan kembali bekerja dalam dunia yang sama.

n e s t a

Pekikan khas anak-anak memenuhi indra, Daffodil lantas mengajukan pertanyaan. "Ibu, aku lupa bertanya. Dari mana elang ini datang?"

"Kebun." Jawabnya gugup. "Ibu tidak sengaja menginjaknya."

"Apa Ibu sudah minta maaf?"

"Sudah."

Idia tergelak.

"Kurasa, kita bisa melepaskannya sekarang!"

"Yang benar?"

Memang sekiranya, sudah tiga atau empat hari pemulihan. Biasanya, tulang burung yang masih muda itu tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali ke bentuk semula dari kerusakan sementara.

"Iya, benar!" Begitu cerah nadanya. "Kasihan kalau dipelihara. Bagaimana kalau Ibunya merindukan ia? Sama seperti Ibu merindukanku kalau jauh?"

"Astaga..." Idia menginterupsi. "Siapa yang mengajarimu, hm?"

"Opa!"

Kini, gantian Russet yang tergelak. Opa dan Oma adalah bahasa yang diinginkan oleh orang tua Idia saat Daffodil memanggil mereka.

"Ayo lepaskan baby falcon ini, Bu!"

"Ya, ayo..." Masih ada sisa-sisa gelak yang hadir saat lengan Russet ditarik oleh Daffodil.

"Tak perlu masuk hutan." Idia memperingati dan segera disusul sahutan manis, "Baik, Ayah!"

Berdiri di titik yang meyakinkan si baby falcon untuk terbang jauh, Daffodil mencium kepala si bayi elang sebelum melepaskannya ke angkasa. Benar saja, baby falcon segera mengepak kedua sayap abu-abu yang sudah bersih. Pekikannya masih kecil, tetapi begitu tangguh menggema di angkasa.

"Hati-hati, baby falcon!!" Tangan kecil si bocah melambai.

"Yuk, masuk!" Russet mengajak setelah berdiri beberapa waktu. "Kita buat croissant."

Manik Daffodil memiliki pendar baru dalam setiap detiknya. "Hore!"

January 04, 2024.
aoiLilac.

pst, gak ada yang mau rikues apa nieh? tiga orang aja dulu. kalo mau.

Continue Reading

You'll Also Like

92.2K 3.7K 33
Post overblot, Riddle learns that love often fails to follow expectation. I do not own Twisted Wonderland or any of its characters. They belong to D...
2.2K 55 9
:: 𝓣𝓱𝓮 【𝓔𝓝𝓕𝓟】 𝓱𝓪𝓼 𝓪𝓻𝓻𝓲𝓿𝓮𝓭! :: . . . ⇢ ˗ˏˋ ℍ𝕒𝕧𝕖 𝕪𝕠𝕦 𝕖𝕧𝕖𝕣 𝕨𝕠𝕟𝕕𝕖𝕣𝕖𝕕 𝕨𝕙𝕒𝕥'𝕤 𝕚𝕟𝕤𝕚𝕕𝕖 𝕥𝕙𝕖𝕚𝕣 𝕞𝕚𝕟𝕕𝕤? ...
171K 7.8K 94
As the title hinted, this fanfic is focused on the events from Twisted Wonderland with our dear reader, (y/n) Gojo. === Disney Twisted Wonderland rig...
21.9K 1K 14
ᯓ.ᐟ TWISTED WONDERLAND x GN!READER ᝰ.ᐟ SLOW UPDATES ᝰ.ᐟ GAME SPOILERS ⊱ ۫ ׅ ──── ✧⭑.ᐟ Would you look at that. The infamous 'getting isekai'd into a...
Wattpad App - Unlock exclusive features