Perfect Mess

By iamsinda11

135K 9.4K 220

Dipaksa jadi penebus utang orang tua, Hanasta bisa berlapang hati kalau pria yang dinikahkan dengannya adalah... More

Bab 1
Bab 2
Bab 3
Bab 4
Bab 5
Bab 6
Bab 7
Bab 8
Bab 9
Bab 10
Bab 12
Bab 13
Bab 14
Bab 15
Bab 16
Bab 17
Bab 18
Bab 19
Bab 20
Bab 21
Bab 22
Bab 23
Bab 24
Bab 25
Bab 26
Bab 27
Bab 28
Bab 29
Bab 30
Bab 31

Bab 11

3.3K 280 7
By iamsinda11

Perang sudah selesai. Di akhir cerita, Ridwan dipaksa mengalah pada kemauan Dewi. Nyawa ibunya jadi taruhan, bisa apa lelaki itu?

Tidak secara gamblang menyatakan persetujuan, tetapi bersedianya Ridwan disuruh pergi bersama Hanasta pagi ini adalah bukti bila pria itu sudah menyerah. Dewi memerintah untuk mulai menyiapkan pernikahan. Hal pertama yang wanita itu suruh beli adalah pakaian dan sepatu.

Biasanya, Ridwan baru akan bangun pukul sepuluh pagi. Lelaki itu pergi bekerja--mengutip setoran nasabahnya--di pukul tiga sore. Namun, karena hari ini harus berbelanja, Ridwan terpaksa bangun pukul enam.

Pria itu sudah mandi. Sekarang sedang sarapan. Itu pun tak bisa tenang, sebab ibunya kembali bertitah.

"Bawakan sandal Hanasta sekalian. Kemarin itu ketinggalan dan kita nggak sempat antar."

Selera makan Ridwan langsung anjlok ke titik paling rendah. Lelaki itu menaruh sendok, dan hanya menghabiskan teh manis. Sepagi ini ia sudah benar-benar mirip babunya Hanasta. Harus mengantar gadis itu belanja dan membawakan sandalnya pula.

Kesal, Ridwan pamit pada Dewi. Tak lupa sandal yang sudah dimasukkan ibunya ke kantongan plastik ia bawa. Dengan wajah ditekuk, lelaki itu mengendarai motor menuju rumah Hanasta.

Butuh sepuluh menit untuk Ridwan tiba di rumah Hanasta. Saat ia sampai, si gadis sudah duduk di undakan teras. Ridwan sengaja menajamkan pandangan ke perempuan itu, tetapi lagi-lagi Hanasta melengos usai menatapnya balik selama satu detik.

Motornya Ridwan berhentikan tepat di depan Hanasta. Dari dalam rumah, Nurma datang. Ibunya Hanasta itu menyapa, Ridwan hanya menanggapi sekenanya.

Inginnya melempar plastik berisi sandal si gadis. Namun, mengingat pesan Dewi agar tidak berlaku kasar, pria itu terpaksa membungkuk dan menaruh plastik di depan kaki Hanasta.

"Cepat sedikit. Kerjaanku bukan cuma ini."

Hanasta bangkit dari duduk. Perempuan itu memakai sandal, kemudian memutari sepeda motor Ridwan. Ia hendak naik saat menyadari kalau pijakan di motor itu belum diturunkan.

Hanasta berusaha menurunkan itu dengan kaki. Namun, tenaga tak cukup kuat. Dia berjongkok, kali ini ditariknya turun dengan tangan. Namun, hasilnya masih sama.

Ridwan yang melihat itu dari atas motor berdecak kesal. Ia memberi tatapan remeh pada tangan Hanasta yang kurus. Jelas saja tak punya cukup tenaga.

"Awas," suruh pria itu ketus. Hanasta menjauhkan tangan, ia dorong pijakan kaki dengan kakinya. "Gitu aja gak bisa," omelnya.

Hanasta sudah naik, Ridwan angsurkan helm. "Kita lewat jalan kota," beritahu lelaki itu malas-malasan. "Nanti kena tilang, masalah baru lagi."

Usai Hanasta rampung memakai pelindung kepala, ia pamit pada Nurma. "Pigi dulu, Buk," katanya dengan suara tak bersemangat.

"Hati-hati," sahut Nurma dengan senyum cerah.

Sepanjang jalan, Ridwan tidak bicara apa-apa. Begitu juga gadis di belakangnya. Sesekali si lelaki mengintip dari kaca spion, hanya untuk menemukan Hanasta sedang mengernyit atau berkedip cepat-cepat seolah tak nyaman.

Setengah jam berlalu, akhirnya mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Ridwan memarkirkan sepeda motor, kemudian berjalan duluan ke salah satu toko baju langganan. Di belakangnya, Hanasta mengekori.

Masuk ke dalam toko, Ridwan langsung menyebutkan pakaian apa yang ia cari. Satu set kebaya, kemeja dan jas pria untuk dipakai di acara pernikahan.

Si pegawai yang melayaninya bergerak sigap membawakan beberapa potong pakaian. Ia sebutkan harga, Ridwan malah sibuk mengamati Hanasta.

Perempuan itu berdiri jauh di  belakangnya. Mematung macam orang aneh di dekat pintu, Hanasta yang bahkan tak menurunkan tudung jaket menatapi keseluruhan ruangan toko dengan sorot mata serius.

Apa yang dilakukan gadis itu? Sedang pilih-pilih?

"Hanasta," panggilnya seraya melipat lengan di depan dada. Ia lambaikan tangan untuk menyuruh gadis itu mendekat.

Bukannya menghampiri, Hanasta malah menatapi datar beberapa saat. Selanjutnya, gadis itu garuk-garuk leher, kemudian lanjut mengitari ruangan dengan pandangan.

"Kau lihat dulu kebaya ini. Kalau kau cocok, biar ini aja yang dibeli. Atau, kau ada pilihan lain?"

Bukan Ridwan perhatian. Ia hanya tidak ingin Dewi merepet lagi. Ibunya berpesan agar apa pun yang Hanasta mau untuk pernikahan dikabulkan.

Hanasta meliriknya sekilas. "Terserahmu aja."

Ridwan berdecak kesal. "Kau coba pilih dulu," katanya berusaha sabar. "Cepat sedikit."

Kali itu Ridwan bisa melihat kalau Hanasta mulai kesal. Mata gadis itu melempar sorot tajam padanya selama beberapa detik, sebelum memalingkan wajah entah ke mana. Hanasta tampak berjalan semakin masuk.

"Kalau harganya mahal, jangan salahkan aku."

Perkataan itu membuat Ridwan merasa ditantang. Maksudnya apa? Pilihan Hanasta akan lebih mahal dari pilihannya? Selera gadis itu lebih bagus dari seleranya begitu? Uang Ridwan tidak cukup banyak begitu?

Si pendiam ini sombong sekali rupanya.

Ridwan mengikuti Hanasta yang berjalan pelan sembari melihat-lihat beberapa kebaya yang dipajang. Di belakang mereka, ada satu pegawai yang menemani.

Setelah beberapa patung dilewati, Hanasta berhenti di dekat salah satu manekin yang dipasangi kebaya warna putih. Gadis itu menunjuk ke sana.

"Ini?" Ridwan mendekat. Mengamati kebaya itu. Bagus memang. Warnanya putih, bawahannya adalah kain tenun warna perak.

"Kebaya yang aku pilih tadi berapa harganya, Kak?" tanya lelaki itu pada si pegawai.

"Yang tadi sepasang tujuh ratus lima puluh."

Ridwan melempar tatapan remeh pada Hanasta. Pakaian harga tujuh ratus lima puluh ribu sudah pasti masuk dalam kategori super mahal, 'kan? Itu artinya, insting Ridwan dalam memilih tidak salah. Pria itu punya selera yang bagus.

"Yang ini berapa, Kak?"

Kali ini Ridwan menunjuk kebaya pilihan Hanasta.

"Yang itu satu tujuh lima puluh, Bang."

Untuk beberapa detik dahi Ridwan berlipat. "Satu tujuh lima puluh? Seratus tujuh puluh lima ribu?" tebaknya ragu.

Si pegawai tersenyum sungkan. "Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu, Bang. Barang bagus ini. Model paling baru, kainnya brokat sama tile. Motifnya timbul, karena itu mahal. Kain bawahnya juga asli tenun tangan, bukan mesin. Enggak kurang, harganya satu juta tujuh ratus lima puluh ribu."

Ridwan menoleh pada Hanasta dengan dua alis bertaut. Gadis itu sudah menunduk, tetapi rasanya Ridwan seperti sedang diejek.

Hanasta hanya melihat-lihat sebentar. Gadis itu seperti asal tunjuk tadi. Namun, lihat harga pakaian itu? Dua kali lipat dari yang sebelumnya Ridwan pilihkan. Kenapa Ridwan merasa disaingi?

"Udah, ambil yang pertama tadi aja." Hanasta mengatakan itu sambil berlalu untuk kembali ke dekat pintu. Suaranya pelan, seolah sedang mengejek.

Di tempatnya Ridwan seperti kehilangan muka. Apa itu barusan? Gadis itu meremehkannya?

"Uangku lebih dari cukup kalau kau mau tahu," pamer pria itu tak malu.

Hanasta tak menyahut. Ia kembali sibuk menatapi ujung kaki. Dua tangannya disimpan di saku jaket.

Bersungut-sungut, Ridwan meminta si pegawai toko untuk membungkus kebaya yang tadi Hanasta pilihkan usai ukurannya diperiksa dan cocok. Lelaki itu menghampiri si gadis.

"Tinggal kemeja sama jasku," beritahunya tanpa diminta.

"Celanamu?" Hanasta bertanya sembari memalingkan muka.

"Yang lama aja."

Hanasta tahu-tahu menunjuk ke sebuah lorong yang memang berisi jejeran jas. Gadis itu ke sana. Mengambil salah satu jas yang tergantung, lalu sekalian dengan kemeja. Ia berikan pada Ridwan.

"Berapa yang dua ini, Kak?" Ridwan tak sabar mendengar harganya.

"Ambil dua ini, aku kasih diskon. Satu aja."

"Seratus ribu?"

Si pegawai tertawa. "Satu juta, Bang. Calon istrimu seleranya bagus. Matanya tahu mana barang mahal."

Tidak setuju dengan pujian itu, tetapi Ridwan merasa akan tambah malu kalau mendebat. Jadi, dia biarkan saja si pegawai berkata sesuka hati.

Usai mereka beres memilih pakaian, Ridwan mengajak Hanasta ke toko sepatu. Sama seperti tadi, Ridwan memilih duluan sepatu yang ia dan Hanasta akan pakai. Setelahnya, ia minta Hanasta memilih juga.

"Ini dua berapa, Bang?"

Si pemilik toko memeriksa dua pasang sepatu yang Ridwan bawa. "Yang perempuan tiga setengah, yang ini." Telunjuk ada di sepatu pentofel. "Dua ratus. Ambil dua, lima ratus aja."

Lima ratus ribu hanya untuk alas kaki, Ridwan rasanya enggan sekali. Namun, demi gengsi sehari ia terpaksa. Sekarang kan ia sudah punya banyak uang.

Sekarang, giliran dua pasang sepatu yang Hanasta bawa. "Ini dua berapa?"

Pria tadi mengamati lagi. "Pentofelnya empat ratus. Yang sepatu perempuannya lima ratus. Sembilan ratus."

Selisihnya empat ratus ribu. Ridwan belum bilang apa-apa, tetapi Hanasta malah berjalan melewati hendak keluar.

"Ambil yang pertama aja," ujar gadis itu sambil lalu.

Berdecak lagi, Ridwan menyipitkan mata seraya menahan lengan Hanasta.

"Ukurannya pas?" tanya lelaki itu.

Hanasta menatapi pria di sebelahnya lumayan lama. Saat Ridwan menatap balik, ia memalingkan wajah ke arah sepatu berwarna perak itu.

"Coba dulu. Ukurannya udah pas?"

Hanasta menarik tangannya dari Ridwan. Gadis itu duduk, lalu mencoba sepasang sepatu yang tadi sudah mencuri perhatian.

"Pas. Cantik," komentar si pemilik toko.

Ikut menilai, tahu-tahu Ridwan berkata, "Ada warna merah?"

Si pemilik toko meminta salah satu pegawainya mencarikan sepatu bermodel sama dengan warna berbeda. Tak lama pegawainya itu datang.

"Pas, tinggal satu yang merah." Diangsurkannya kotak berisi sepatu itu pada si pelanggan.

Ridwan mengeluarkan sepasang sepatu dari kotak. Ia taruh di dekat kaki Hanasta. Mata pria itu tak berhenti memperhatikan Hanasta yang berusaha memasangkan sepatu itu.

"Yang merah juga cantik.," komentar si pemilik toko. "Ambil dua-dualah, Bang. Kakak ini kakinya cantik. Pakai sepatu mana aja pasti cocok. Ini juga sepatunya tinggal dua. Nanti diambil orang pula."

Ridwan tadinya masih menatapi sepasang sepatu yang terpasang di kaki Hanasta, sebelum si gadis mendongak dan mereka bertemu pandang. Hanasta menggeleng pelan, Ridwan bingung artinya apa.

"Bajuku warna putih," kata Hanasta pelan.

Ini untuk pertama kalinya ia dan Hanasta bisa bertatapan lebih dari dua detik. Alih-alih mendengar ucapan si gadis Ridwan malah fokus pada hal lain.

Ia akhirnya tahu kalau warna bola mata Hanasta itu coklat, bukan hitam. Ridwan masih mematung di tempat ketika Hanasta sudah menunduk lagi.

"Aku ambil dua-duanya, Bang." Ridwan bergeser menjauh. Ia ambil sepatu laki-laki yang harganya dua ratus ribu tadi. "Sama ini, kasih diskon," katanya pada si penjual sembari sama-sama melangkah ke meja kasir.

…. 

Kalau mau baca part lengkapnya, bisa ke KaryaKarsa, ya. Terima kasih, sehat selalu.

Continue Reading

You'll Also Like

2.4K 150 30
"Hah? Apa? Ini acara nikah beneran? Ini bukan Audisi buat maen film? Terus tadi gue nikah beneran dong?" (Radit) "Gimana ini? Orang yang nikah sama a...
256K 16.7K 30
Bukan apa-apa sih sebenernya, cuma cerita gaje tentang seorang Ceo muda dan Cewek petakilan yang menikah karna terpaksa. Pemaksaan dari masing-masing...
28.4K 1.2K 22
⚠️ 𝘿𝙞 𝙡𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙧𝙖𝙨 𝙥𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙩 ⚠️ Dalam keremangan malam yang dihiasi cahaya bintang, angin berbisik lembut membawa aroma bunga melat...
3K 439 29
(SETIAP BABNYA UDAH DI REVISI) Hema menikah dengan Akasha bukan karena ia mencintainya, tetapi karena rasa tanggung jawab yang mengikatnya pada kelua...
Wattpad App - Unlock exclusive features