MY FAVORITE DISASTER|END

Bởi MerkuriusPeople

3.3K 433 187

Di SMA Bhakti Kencana, Samudra Biru Sampurna adalah definisi kesempurnaan, jenius, kaya raya, dan tampan. Nam... Xem Thêm

2
3
Visual
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

1

360 18 8
Bởi MerkuriusPeople

"Bagi orang lain dia adalah kebanggaan sekolah, tapi bagiku, dia adalah bencana berjalan dengan atribut ketua OSIS."

Jangan lupa komen dan Vote yaaaa
...

Buat Alona Anindya, nama Samudra Biru Sampurna itu ibarat kutukan.

Mau sekeras apa pun Alona belajar sampai matanya minus, ujung-ujungnya kertas ujian dengan nilai sempurna 100 itu tetap bakal ada di tangan cowok itu. Sedangkan Alona? Selalu puas ngelus dada di posisi dua dengan nilai 98 atau 99. Gedek? Jelas. Banget.

"Nih, minum dulu. Muka lo udah kayak mau nelan Samudra hidup-hidup, Na," celetuk Senja sambil menyodorkan kotak susu cokelat ke meja Alona.

Alona menarik napas panjang, menatap papan pengumuman di mading SMA Bhakti Kencana. Di sana, nama Samudra bertengger di urutan teratas ranking paralel semester ini.

"Gue cuma heran ya, Nja. Dia itu tiap malam dugem, kerjaannya gonta-ganti cewek kayak ganti kaos kaki, tapi kenapa otaknya tetap encer?" sungut Alona gemas. "Dunia fisika benar-benar nggak adil!"

"Ya mau gimana lagi, pinter dari orok kali," Senja terkekeh lugu. "Tapi lo tenang aja, kan bentar lagi ada pemilihan Ketua OSIS. Lobi-lobi politik lo di mading kan udah mantap."

Alona tersenyum miring. Benar. Kali ini dia nggak boleh kalah. Kursi Ketua OSIS SMA Bhakti Kencana harus jatuh ke tangannya. Ini pembuktian kalau dia bukan sekadar 'bayangan' Samudra.

Tiba-tiba, riuh suara koridor mendadak pecah. Bau parfum maskulin yang menyengat langsung tercium dari kejauhan. Geng paling dominan di sekolah baru saja lewat.

Di depan ada Arya, Liam, Malik, dan JD yang jalan santai sambil ketawa-tawa. Di sampingnya ada Sella yang terus menggelayut di lengan seorang cowok berseragam berantakan, dua kancing atasnya terbuka bebas.

Siapa lagi kalau bukan Samudra.

Samudra menghentikan langkah tepat di depan mading alias tepat di samping Alona. Manik matanya yang tajam melirik sekilas ke arah kertas peringkat, lalu beralih menatap Alona dengan senyum remeh khasnya.

"Masih nomor dua, Al?" suara berat Samudra terdengar santai, tapi sukses bikin telinga Alona panas.

"Suatu saat gue bakal di atas lo, Sam," balas Alona tajam, menatap lurus mata cowok di depannya.

Samudra terkeh melas. Dia maju satu langkah, menundukkan sedikit badannya hingga jarak wajah mereka cuma tersisa beberapa senti.

"Usaha lo boleh juga," bisik Samudra pelan, cukup untuk didengar Alona sendiri. "Tapi ingat, Ombak kecil kayak lo nggak akan pernah bisa ngalahin Samudra."

Setelah bicara begitu, Samudra ngeloyor pergi begitu saja sembari merangkul Sella, diikuti tawa ejekan dari gengnya. Alona hanya bisa mengepalkan tangan kuat-kuat.

'Lihat aja nanti, Samudra. Gue bakal bikin lo tenggelam sama kesombongan lo sendiri.' batin Alona

Suasana kantin siang itu sangat padat dan bising. Suara dentingan mangkuk beradu dengan rumor panas para siswa. Alona duduk di pojok kantin tempat favoritnya sambil mengaduk es teh yang mulai mencair.

"Masih kepikiran omongan Samudra tadi?" tanya Senja memecah keheningan.

"Gimana enggak kepikiran coba, Nja?" Alona membanting pelan sedotannya. "Dia itu tengil banget! Berasa sekolah ini punya nenek moyangnya. Muka aja ganteng, tapi kelakuan minus."

"Tapi ya, Na... pendukung Samudra itu banyak loh," gumam Senja polos. "Anak-anak cowok suka dia karena dia keren, anak cewek... ya jelas, siapa yang gak naksir Samudra?"

"Gue! Gue enggak naksir!" tembak Alona cepat.

Belum sempat Senja membalas, sorakan heboh terdengar dari pintu masuk kantin. Geng Samudra berjalan masuk. Sella dengan percaya diri menunjuk meja kosong yang kebetulan berada tepat di sebelah meja Alona.

"Sam, duduk sana yuk!" ajak Sella manja.

Alona mendesis pelan, merasa terganggu. Anggota geng itu mulai menduduki kursi masing-masing. Di antara keributan Arya, Malik, dan JD yang sibuk bersenda gurau dengan suara keras, Liam melangkah paling akhir. Berbeda dari teman-temannya yang gemar mencuri perhatian, Liam berjalan tenang membawa baki berisi minuman.

Saat melewati meja Alona, Liam sempat menganggukkan kepala sedikit dan melempar senyum tipis yang sopan sebuah gestur singkat tanpa prasangka yang membuat Alona refleks mengangguk pelan membalasnya. Liam lalu duduk di ujung meja gengnya, memilih fokus pada ponsel dan makanannya tanpa berniat mengusik siapa pun.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama ketika Malik mulai membuka suara dengan nada ejekan.

"Saingan si Samudra kan cuma si pintar Alona. Ya walaupun pintar, mana ada yang mau milih ketua OSIS yang kaku kayak kanebo kering?"

Arya, JD, dan Sella langsung tertawa keras. Liam yang mendengar celotehan itu hanya menghela napas pelan, lalu menepuk bahu Malik pelan.

"Jangan gitu, Mal. Enggak usah nyari ribut," tegur Liam halus dengan suara tenang, mencoba meredam suasana.

Namun, Samudra yang duduk di tengah justru melirik ke arah Alona. Bukannya mendengarkan teguran Liam, Samudra malah tersenyum tipis.

"Jangan gitu, Mal," potong Samudra santai, pura-pura membela padahal niatnya memprovokasi. "Kasihan calon wakil gue. Nanti dia makin dendam sama gue."

"Maksud lo apa ya, Sa?" Alona akhirnya berdiri, menatap galak ke arah meja sebelah. "Gue enggak sudi ya jadi wakil lo! Gue yang bakal menangin pemilihan ini!"

Liam hanya menatap Alona dengan pandangan penuh simpati, merasa tidak enak atas sikap teman-temannya, sementara Samudra tetap menaikkan sebelah alisnya tanpa merasa bersalah.

Samudra menyuap satu sendok makanannya sebelum menjawab, "Kita lihat aja besok, Alona. Jangan lupa siapkan mental buat kalah lagi."

"Lo—"

"Sudah, Na, ayo balik ke kelas," bisik Senja panik seraya menarik lengan Alona.

Dengan napas memburu, Alona akhirnya mengalah dan melangkah pergi meninggalkan kantin.

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, disambut sorak-sorai lega dari para siswa SMA Bhakti Kencana. Alona merapikan buku-bukunya ke dalam tas dengan gerakan cepat. Emosinya akibat kejadian di kantin siang tadi masih menyisakan kekesalan yang mengganjal di dada.

"Lo mau langsung pulang, Na?" tanya Senja seraya menggendong tasnya.

"Iya, Nja. Gue mau fokus rapiin materi buat kampanye dan debat besok," jawab Alona tegas. "Gue enggak boleh kalah cuma gara-gara kalah populer."

Senja tersenyum tipis. "Semangat ya! Gue yakin program kerja lo jauh lebih jelas."

Setelah berpamitan dengan Senja di gerbang sekolah, Alona berjalan menuju halte bus. Jarak dari sekolah ke rumahnya tidak terlalu jauh, tetapi hembusan angin sore itu cukup membantu mendinginkan kepalanya. Bagi Alona, rumah adalah tempat perlindungan terbaik. Di sana, suasana hangat keluarga selalu berhasil menghapus segala lelah dan kekesalannya.

Sesampainya di rumah, senyum Alona langsung terbit saat mendengar gelak tawa dari arah ruang keluarga. Ibunya sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur, sementara kedua adiknya—Arkan yang masih SMP dan Caca yang berusia tujuh tahun sedang berebut remot televisi di karpet.

"Mba Alona pulang!" seru Caca kegirangan seraya berlari kecil menghampiri Alona.

"Halo, Cantik," Alona berjongkok, mengusap kepala adiknya gemas sebelum mencium tangan sang ibu di dapur.

"Bagaimana sekolahnya hari ini, Na?" tanya Ibunya dengan nada lembut penuh perhatian.

"Seru, Bu. Agak capek sedikit karena persiapan OSIS besok," jawab Alona tersenyum manis. Di tengah kesederhanaan rumahnya, ia merasa sangat bersyukur memiliki 'keluarga cemara' yang selalu mendukungnya.

Sementara itu, suasana yang bertolak belakang terjadi di sudut Rumah lain. Sebuah mobil sport hitam berhenti kasar di depan sebuah rumah mewah yang megah namun terasa sepi dan dingin.

Samudra melangkah masuk ke dalam rumahnya, melemparkan tas sekolahnya begitu saja ke atas sofa kulit di ruang tamu. Suara dentingan gelas kaca dari arah meja makan langsung menyambut kedatangannya.

Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas rapi menatap Samudra dengan pandangan dingin. Pria itu adalah ayahnya.

"Jam berapa kamu baru pulang, Samudra?" suara dingin sang ayah bergema di ruangan yang luas itu. "Dan baju macam apa itu? Kamu benar-benar tidak punya wibawa sebagai seorang Sampurna."

Samudra terkekeh sinis, menyisir rambutnya ke belakang. "Wibawa? Dari tadi siang Papa cuma peduli sama rapat saham, sekarang mendadak peduli sama baju Samudra?"

"Jaga bicaramu!" bentak ayahnya tegap. "Papa bekerja keras supaya kamu tidak memalukan keluarga! Jangan kira Papa tidak tahu kamu sering pergi ke clubbing malam-malam!"

"Bagus kalau Papa tahu," potong Samudra santai, meski rahangnya mengeras menahan emosi yang terpendam. "Lagipula, rumah ini juga sepi. Mama sibuk sama pria barunya di luar negeri, Papa sibuk sama uang Papa. Terus buat apa Samudra di sini?"

Tanpa menunggu balasan sang ayah, Samudra memutar badan dan berjalan cepat menuju kamarnya di lantai atas, menyisakan dentuman keras pintu yang dibanting.

Di dalam kamar yang luas namun gelap, Samudra merebahkan tubuhnya di atas kasur king size. Cowok yang tadi siang begitu sombong dan penuh tawa di sekolah, kini hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong dan terluka.

Telepon genggamnya bergetar di saku seragam. Sebuah pesan masuk dari Liam.

What'sApp

Liam
Sam, lo enggak apa-apa? Kalau mau nongkrong atau butuh temen ngobrol, kabarin gue ya. Jangan minum banyak-malam ini.

Samudra tersenyum tipis membaca pesan itu hanya Liam yang paham kalau kelakuan liarnya di luar adalah caranya melarikan diri dari kehampaan. Ia mematikan layar ponselnya, memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau rasa sakit yang perlahan menggerogoti dadanya.

Tinggalin jejak kalian yaaaaa, vote dan komen kalian berati. Love author...❤️

Đọc tiếp

Bạn Cũng Sẽ Thích

88.3K 2.4K 17
Aqeela aza callista. Dia ceria dan terkadang tajam. Tidak suka diatur dan lebih suka hidup sesuai dengan apa yang dia mau. Tapi semua berubah saat ke...
7.8K 796 22
Oseana seorang gadis cantik berasal dari kalangan konglomerat ia jatuh cinta kepada Galenio ketua geng Brother Till Death , Galen memiliki sikap yang...
3.8K 455 50
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Arsa meninggalkan satu wasiat untuk kembarannya, Arga: "Jaga Rain ya, Ga. Dia ceroboh banget. Gue sayang ban...
2K 205 24
🏀 MASIH KAMU 💔 Oleh: vsyhra 💔 Empat tahun kebersamaan hancur begitu saja dalam semalam hanya karena satu kesalahpahaman fatal. ⏳ Tiga bulan berlal...
Ứng dụng Wattpad - Mở khóa các tính năng độc quyền