31 . 12
Menyambut tahun baru yang akan datang, ramai orang mengunjungi festival malam tahun baru ini. Sudah bisa ditebak bahwa malam ini akan menjadi malam yang meriah di lapangan besar di kota Hana.
Orang-orang sangat bersemangat pada malam ini. Mengajak keluarga, teman, saudara, pasangan, bahkan sendirian seperti pembaca cerita ini pun sangat ingin bergegas pergi ke festival malam tahun baru ini.
Aku mengajak pacarku untuk pergi ke festival tersebut. Aku membawanya jalan-jalan ke aneka ragam stan makanan dan stan permainan kecil. Tidak hanya itu, kami juga akan menonton kembang api di langit malam ini.
"Ada lagi game yang ingin dicoba? Atau ingin membeli makanan lainnya?" Aku menawarkan kepada pacarku untuk menghabisi waktu sebelum acara puncak festivalnya di mulai.
"Hm ... kalau gitu, beli kue ikan di dekat jembatan itu yuk!" Pacarku menunjuk stan yang menjual kue ikan disana.
"Hei, jangan makan yang manis terlalu banyak. Kamu daritadi beli makanan yang manis lho,"
"Malam ini saja kok! Lagian stan makanan disini kebanyakan menjual makanan yang manis,"
Benar juga. Aku tak menyadari bahwa stan makanan disini lebih banyak menjual makanan yang mengandung gula.
"Lagi pula, semakin banyak aku memakan makanan yang manis, semakin pula diriku lebih manis! Hehehe ..."
Ya tuhan, pacarku ini sangat lucu! Kupu-kupu di dalam perutku menggeliat tak beraturan.
Aku menghela nafas sebagai tanda kekalahan.
"Ayo kita ke sana," Ia menarik lenganku dengan erat. Aku mendengus, lalu tersenyum kekeh melihat tingkah lakunya yang berenergik.
Sungguh rencana yang kubuat sangat berjalan dengan lancar dan sesuai apa yang aku harapkan.
Hingga tibalah di akhir penghujung malam ini.
Acara yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang, festival kembang api sebentar lagi akan di adakan. Aku dan pacarku berdiri di jembatan kecil sambil mengamati langit malam yang indah.
Terdengar suara riuh dimana-mana, tanda orang-orang sudah mulai berkumpul.
Bagiku, momen bahagia ini adalah hal yang patut disyukuri. Tahun lalu tak sempat berurusan dengan yang namanya mempunyai pasangan. Namun sekarang, terpenuhilah bisa menonton kembang api bersama pasangan yang sudah bersumpah akan selalu disampingku hingga kematian memisahkan jarak kami.
Orang-orang sudah mulai bersorak hitung mundur.
"Sepuluh!"
"Sembilan!"
"Hei, makasih ya buat tahun ini" tanpa berpikir panjang, aku mengatakannya.
"Eh ... kenapa kamu tiba-tiba begitu," dia terheran, namun pandangannya masih ke atas. Menunggu kembang api bermekaran.
"Delapan!"
Ugh, memalukan. Sebaiknya aku tidak mengatakannya tadi.
"Tujuh!"
"Enam!"
Aku mengalihkan topik pembicaraan, "kamu sangat menantikan kembang apinya bukan?"
"Tentu saja!" Dia menjawab dengan spontan, lalu ia kembali mendongakkan kepalanya ke atas.
"Lima!"
"Empat!"
Aku bertanya kembali, "Apakah kamu menikmati malam ini?"
Pacarku menjawab dengan nada senang "Ya, aku sangat menikmatinya. Ini akan menjadi malam yang indah bagiku," ia terkekeh sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Tiga!"
"Dua!"
"Karena malam ini ..." Dia melirikkan matanya ke arah ku. Muka kami berpapasan.
"aku sedang melihat kembang api bersamamu."
"Satu!"
Kembang api berhamburan di atas langit. Meledak satu persatu menerangi malam ini.
Senyumnya yang mengembang terpancar dalam wajahnya. Surai rambut coklatnya terhembus oleh angin malam, diiringi pancaran sinar dari kembang api.
Terdengar suara ribut kembang api sana-sini, namun aku seolah tuli mendengarnya. Terpaku dengan keindahannya, tenggelam rasa cinta yang mendalam.
.
.
.
.
BANG!
"K-kough!" Suara batuk kasar bisa menyebabkan mengganggu indra pendengar seseorang.
Dia memegang lengan yang terluka dan berlari terhuyung-huyung, melewati lorong kecil di antara beberapa bangunan. Pedih atas apa yang ia rasakan dari dalam tubuhnya. Namun, dia menghiraukan rasa sakit yg ia dapat. Yang lebih penting adalah ia bisa pergi melarikan diri dari tempat ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara tapak kaki seseorang dari belakang. Tampaknya ia tengah dikejar.
'Oh come on, aku akan tamat jika terus seperti ini.' Ia menggerutu dalam hati. Rasa gelisah telah menyelimuti dirinya.
Berapa orang yang sedang mengejarnya? Tiga? Lima?
Sudah berapa lama dia berjalan?
Entahlah, ia sudah tak bisa berpikir jernih untuk saat ini.
Hosh ... hosh ...
Nafasnya berat, hati berdegup kencang.
Sudah dua menit berlalu, terdengar suara riuh yang tak jauh darinya.
'Itu pasti tempatnya,' Dia yakin dengan firasatnya. Ia bergegas cepat mengambil langkahnya.
"Lima!"
"Empat!"
Sebentar lagi, ia akan sampai sebentar lagi.
'Sial, tolong bertahanlah!' Dia berdecak keras dan berteriak dalam hati.
"Tiga!"
"Dua!"
'Sebentar lagi! Bertahanlah!'
"Satu!"
"SEMUANYA, LARI DARI SI-" Ia berteriak sekuat yang ia bisa. Namun,
BANG!
Kalimatnya terputus.
Sekali lagi, suara pistol yang menembak keras dan teriakannya dibisukan oleh letusan kembang api dimana-mana.
.
.
.
.
Cekrek! Cekrek!
Kamera-kamera sibuk berbunyi dalam memotret. Para petugas polisi berkerumunan di wilayah tempat kejadian perkara.
Ditemukannya badan manusia yang sudah tak bernyawa tergeletak di tanah. Badannya dilumuri oleh darah yang dipastikan bahwa darah itu punya mayat tersebut. Tempat kejadiannya berada di dekat festival malam tahun baru itu.
Salah seorang pengunjung festival melaporkan pada malam hari setelah orang-orang selesai menyaksikan kembang api tersebut.
Setelah tim forensik kepolisian meneliti mayat tersebut, ditemukannya sebuah peluru yang menembus jantung dan bekas ditembak pada bahu kanan korban, menyebabkan pendarahan banyak.
Ada satu kejanggalan di dalam kasus ini. Terdapat kelopak bunga mawar berwarna putih terletak di samping mayat tersebut. Anehnya, tak ada di daerah ini yang menanam bunga mawar, bahkan mawar liar berwarna putih tak ada di daerah sini.
Orang-orang yang melihat kejadian ini penasaran bagaimana bisa terjadi.
"Hei, bukankah ini sangat berbahaya? Orang itu telah dibunuh!"
"Tega sekali seseorang melakukan pembunuhan pada malam ini!"
"Pelakunya telah melakukan pembunuhan satu tahun, kekekek"
"Hus, ini bukan bahan candaan!"
Berita kasus pembunuhan ini menyebar dengan cepat hanya dalam hitungan detik saja. Bahkan situs media telah membuat beritanya sangat cepat.
Begitupun denganku dan pacarku mendengar orang-orang berbicara desas desus ada kasus pembunuhan di dekat festival.
Kami bergegas melihat tempat kejadian tersebut. Ramai yang berdatangan, menyaksikan mayat yang tergeletak di bawah.
"Ini mengerikan ..." Pacarku menatapnya dengan horor. Dia memegang tanganku dengan erat, enggan untuk melihatnya terlalu lama.
Sebaliknya, aku tak terlalu terkejut. Tetapi, aku penasaran siapa identitas mayat tersebut.
Sepertinya tidak asing ...
"Jangan-jangan, cerita yang ada di buku 'White Rose' lagi populer itu nyata?"
"Oh, buku cerita misteri itu ya!"
"Ga mungkin! Itu hanya karangan penulis saja,"
"Tapi, cerita itu sama persis dengan kejadian ini. Ada kelopak bunga di samping mayat itu!"
"Yang benar saja?"
Ah, aku sempat melihatnya di media sosial. Akhir-akhir ini, orang-orang membicarakan buku misteri yang berjudul "White Rose". Karena memiliki cerita yang unik dan misteri.
Dimana seorang pemuda dan beberapa temannya mengunjungi festival malam tahun baru dan menikmati kembang api. Mereka tak sengaja melihat tubuh manusia yang sudah tak bernyawa. Disebabkan oleh tembakan seseorang. Di samping tubuh mayat itu, terdapat kelopak bunga mawar putih.
Polisi mencari tahu siapa pelaku dari pembunuhan tersebut. Namun nihil, tak ada petunjuk yang didapat.
Persis seperti kejadian ini, dalam cerita pun tak ada yang menanam bunga mawar putih di daerah tempat kejadian itu.
Seiring berjalannya waktu, satu persatu penduduk di kota itu ditembak tanpa diketahui. Termasuk teman pemuda tersebut.
Orang-orang menjuluki pelaku tersebut dengan White kill. Para penduduk sudah mulai gila dan khawatir dengan nyawa yang sudah terancam.
Sayangnya cerita di dalam buku itu belum selesai, tidak dilanjutkan karena penulisnya telah meninggal beberapa minggu yang lalu.
Sampai saat ini, orang-orang masih penasaran akan cerita selanjutnya di buku itu. Belum ada yang memecahkan carita di buku Red Rose, hanya teori-teori gila yang dibahas oleh pembaca buku tersebut.
Yah, hanya secara garis besar yang kutahu dari buku itu. Sekarang, aku lebih baik mengantar pacarku untuk pulang ke rumah.
"Kita pulang aja ya? Udah larut malam. Aku antar kamu sampai ke rumah,"
Dia mengangguk pelan.
Kami keluar dari kerumunan orang-orang dan berjalan ke parkiran.
Aku mengambil motor ninja 250 ABS SE berwarna hitam yang terletak di parkiran yang tak jauh dari festival.
Oi ... Motor itu punyaku, jangan salah paham jika kalian berpikir bahwa aku meminjam motor itu dari orang lain.
"Ini helmmu," aku menyodorkan helm kepunyaannya yang berwarna abu-abu bercorak bunga lily. Sangat cocok untuk dirinya.
Tak perlu berlama-lama, kami pun langsung berangkat ke rumahnya. Dengan kecepatan sedang.
Malam ini sangat dingin. Aku mengkhawatirkan pacarku yang tak memakai jaket tebal.
Aku memutuskan untuk mendorong tangannya ke perutku lebih erat. Ia sangat terkejut. Namun ia tak berkomentar. Kami berdua menikmati momen ini.
"Apakah akan baik-baik saja?" Pacarku tiba-tiba membuka suara.
"Apa maksudmu?" Aku terheran.
"Entahlah, setelah melihat itu aku merasa tidak enak ..." ia mengeratkan pelukannya.
"Tidak apa-apa, ada aku di sisi mu ... semoga tidak terjadi hal yang buruk,"
"Semoga saja ..."
Setelah itu, kami terdiam. Tak ada yang ingin membuka suara. Hanya suara mesin motor yang bekerja dan sesekali terdengar mobil lewat.
Namun, keheningan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba saja mobil van hitam melaju kencang dari belakang dan melewati kami dengan berdempet. Hampir saja tertabrak, sepertinya mobil itu ingin mencelakai kami.
'Sial!'
Aku terkejut, reflek memberhentikan motorku secara mendadak. Decitan keras dari ban motorku, setelah berhenti mendapatkan keheningan sesaat.
Mobil van hitam masih melaju cepat menghiraukan kejadian yang baru saja ia lakukan. Aku menggerutu kesal.
Apa yang telah mobil itu lakukan? Hampir saja dua nyawa melayang karena supir yang tak tahu diri!
"Kamu baik-baik aja dibelakang?" Aku menoleh ke belakang, memastikan pacarku baik-baik saja.
"Uh ... iya, aku ok ..."
Tidak, dia hampir saja terlempar dari motor jika tak berpegangan erat. Jantungnya berdegup kencang tak karuan.
"Aku akan cepat mengantarmu pulang," masih kesal dengan apa yang telah terjadi pada kami, aku pun langsung menancap gas.
Setelah 5 menit berlalu, aku dan pacarku sudah sampai di depan rumah. Ia turun dari motorku dan mengucapkan terima kasih kepadaku. Seharusnya akulah yang berterima kasih kepadanya.
Bagiku, malam ini adalah momen yang tak akan terlupakan. Senang bisa menonton kembang api bersama pacarku.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama setelah seseorang menembakkan peluru.
BANG!
Bunyi pistol yang keras berdengung di telingaku.