Kos Akinda

By phoebeyla

111K 9K 1.3K

Kos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas... More

INTRODUCING THE SQUAD
01. Anniversary ke- 8
02. Babeh Choirul
03. Kuala Lumpur, Here we Go
04. Kerja, Kerja, Gila
05. Vernon Keracunan!
06. Naik Jabatan
07. Outing day ke Lembang
08. Universe Factory
09. Bucin Tolol
10. Semuanya Punya Masalah
11. Perjodohan
12. Masalah itu akan berlalu, berlalu lalang.
13. Bule Gokil
14. Tak Diduga
15. Tamu Dari Jauh
16. Demam KPOP
17. Semua Karena Lobang
18. Situationship
19. PT. Mencari Cinta Sejati
20. Deep Talk
21. It's Just A Bad Day, Not A Bad Life
22. Panitia Qurban
23. Salah Jurusan
24. Jadwal Ronda
25. 17 Agustus-an
26. Pulang Kampung
27. Kebanjiran
28. Kapan Nembak?
29. Teman Lama
30. Anak Magang
31. Kardus Misterius
32. Say No To Mantan
33. Rumah Pertama Willy
34. Dilema Kehidupan
35. Kepergian
36. Sebuah Keputusan
37. Butuh Status
38. Disini Ada Setan?
39. Penguntit
40. Jangan Ajari Aku Kesabaran
41. Rahasia Besar
42. Keyakinan Hati
43. Teman Lama Rasa Baru
44. Perjamuan Makan Malam
45. Gotong Royong
46. Komitmen
47. Party Of The Year
48. Lo Lagi Lo Lagi
49. Hamil Duluan?
50. Sandwich Generation Club
51. Finding The Truth
52. Cobaan Orang Mau Nikah
53. Semua Ada Masanya
54. Move On
55. Resolusi Tahun Baru
56. Lembaran Baru
58. Jawaban Doa-Doa Johan
59. Berdamai Dengan Masa Lalu
60. Namanya Juga Abang
61. Lamaran
62. Gara Gara Pemilu
63. Katanya Hari Bahagia
64. Pesan Dari Masa Lalu
65. Kompromi
66. Forgive
67. Forgiven
68. Cinta Sepihak
69. Akhir Sebuah Kisah
70. Ramadhan Di Akinda
71. Meragu
72. Kembali ke Awal
73. Rencana Mudik
74. Akhirnya Lebaran!
75. Pesta Bujangan
76. Liburan Terakhir
#AkindaPro : Penantian Wisnu (1)
#AkindaPro : Penantian Wisnu (2)
#AkindaPro : Namanya Juga Usaha
#AkindaPro : Finally Wisnu.
#AkindaPro : Honeymoon Katanya.
#AkindaPro : Menanti Wisnu.
#AkindaPro : Masih Tentang Wisnu.
#AkindaPro : Akhirnya bubar.
77. Epilog
REVISIAN~
#1 Extra Part : Cerita dibalik Arshaka
#2 Extra Part : Babak Baru di Jepang
#3 Extra Part : Memories Of You
#4 Extra Part : Masa Lalu Joshua

57. Om Papah

1K 88 27
By phoebeyla

Hallo semua! huaaah! sorry ya menghilang lebih dari biasanya hahahaha. Sedikit berbagi kebahagian, kemaren aku ngilang cukup lama karena abis ketemuan sama anak-anak Akinda di Bangkok! hihihi. Jujur seneng banget ketemu mereka lagi setelah setahun LDR-an. hahahah. Jadi makasih ya buat semua yang masih mau nungguin cerita ini aku up lagi :') kemaren aku PCD dulu jadi kehilangan ide buat ngelanjutin Akinda. Tapi Alhamdulillah, sekarang aku udah baik-baik aja! semoga kalian suka bab ini ya. Terimakasih udah nungguin dengan sabar. Aku izin share dikit foto-foto pertemuan dengan anak-anak Akinda yah:') Syahrez sama Johan nggak ikutan, mereka lagi jaga kosan :p hahahaha

**************************************************************************

"Bang, kok gue masih kepikiran masalah kemaren ya?" Dino duduk disebelah Syahrez yang lagi bengong di sofa ruang TV.

Si babeh tersentak dan menatap Dino sejenak, "masalah yang mana? Idup gue banyak masalahnya" jawabnya lebay. Biasalah udah kebawa-bawa gayanya si Ochi, menghadapi semuanya dengan hiperbola.

Dino menghela nafasnya mendengar jawaban si babeh, "yang soal bang Jo ituloh bang, sama ceweknya bang Wisnu" ujar Dino setengah berbisik.

Gantian sekarang Syahrez yang menghela nafasnya, bukan Dino aja yang masih kepikiran soal masalah itu. Dia juga masih nggak nyangka semuanya jadi serunyam sekarang. Ditambah lagi si Vernon yang kemaren main nyosor aja. hadeh. Syahrez beneran setakut itu ada perang lagi yang pecah di kosan tercinta ini.

"sama. Gue juga masih nggak abis pikir deh. Kok bisa ya satu kosan muter-muter di hidup tu orang doang?"

"tapi gue salut sih bang sama mbak Fina..."

Dino memutar arah duduknya kini menghadap si babeh, ia menatap pria itu dengan serius.

"salut nape?"

"bayangin bang!" Dino langsung hiperbola

"BANG WISNU, BANG BULE, BANG JO SAMPE BANG JEK!! 4 orang! Mau sama dia semua! Curiga gue nimba ilmu hitam dimana sih?!"

Syahrez auto melongos, "elo kelamaan jadi sodaranya si Ochi sih, jadinya negatip mulu sama orang" ujarnya sambil menoyor pelan kepala si Bontot.

"bang?! nggak ada yang kebetulan di dunia ini. Dan kalo kebetulan kok bagus banget gitu...." Dino masih belum selesai mencak-mencak.

"YA TERUS GUE HARUS GIMANA? MASUK JADI ORANG KE 5?!" tanya si babeh yang sudah habis kesabarannya menghadapi Dino yang tiba-tiba mencak-mencak sendiri. Gini aja udah abis sabarnya. Resolusi tahun baru hanyalah ilusi.

Dinonya langsung mingkem dan garuk-garuk kepala sendiri. "ya enggak sih bang... gue kan cuma bilang. Ini tuh aneh."

"udahlah nggak usah lo pikirin, intinya jangan sampe ada yang bocor ke Wisnu soal Joshua ataupun soal Vernon!" tegas Syahrez

"Vernon? Emang bang bule kenapa bang?" tanya Dino heran. Dia kan nggak tahu apa-apa soal kejadian malam itu......

Syahrez langsung merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya karena emosi dia sampe kelepasan soal hal serahasia itu.

"ma..maksud gue.... jangan sampe Wisnu tahu Vernon masih naksir ceweknya" jawab Syahrez salah tingkah.

Kening Dino berkerut, "bukannya dia udah tau ya? Bang Bule kan terang-terangan bilang belum bisa move on?" tanyanya curiga.

Dino yang gampang curigaan dan Syahrez yang nggak bisa menyimpan rahasia. Sebuah kombo komplit untuk huru hara selanjutnya di Akinda.

"ya... pokoknya LO DIEM AJADEH! JANGAN BOCORIN APA-APA SAMA WISNU! ANGGAP AJA NGGAK ADA KEJADIAN APA-APA!" kalau udah dalam posisi terdesak, marah-marah adalah kuncinya.

Dino semakin menatap Syahrez curiga, "apa yang gue nggak tahu bang?" tanyanya langsung

"kagak ada!" si babeh semakin terdesak.

"ada kejadian besar apa bang?"

"nggak ada!"

"pasti ada!"

"NGGAK ADA NYET!"

"nggak mungkin lo sampe wanti-wanti gue gitu kalo nggak ada kejadian besar" Dino semakin yakin ada hal besar yang terjadi di villa kemaren tapi dia nggak tahu.

"Hoi!"

Ochi, Junior, Dika sama Malik muncul di ruang TV dari luar. Mereka tadi abis main futsal bareng pemuda RT setempat.

"udah jam 10 kok masih disini lo bang?" tanya Dika duluan, dia langsung rebahan di atas sofa yang masih kosong nggak ada yang dudukin. Sementara Syahrez dan Dino duduk di sofa disebrang Dika.

"nungguin lo semua pulang" kilah si babeh belagak peduli. Padahal sebenarnya dia cuma butuh tempat ngelamun malam ini. Ganti suasana ngelamun, soalnya sejak balik kantor tadi dia udah melamun di kamarnya.

"idih" cibir si Ochi langsung

"tumben-tumbenan? Perasaan kagak ada yang bawa barang-barang lo deh. Pake ditungguin segala" lanjut si Maung yang tentu saja tidak percaya kalo orang tua satu ini bela-belain nungguin mereka balik main futsal

"DEKER GUE BALIKIN NGGAK?!" tagih Syahrez langsung.

"hehehehe....." Ochi langsung nyengir. Dia lupa tadi minjem dekernya Syahrez buat main futsal.

"ada di tas gue bang. besok ya" lanjutnya

Syahrez melirik ke tas Ochi yang masih disandangnya itu, "gue tungguin lo ngeluarin dari tas sekarang juga"

"besok gue masih main bang..."

"HAH?! TIAP MALEM?!"

Gantian Malik yang ngangguk, "iya bang. Besok main lagi. Tadi kita menang lho bang. Gue hattrik!" katanya bangga

"alah, kalo nggak assist dari Dika sama Jek lo mah kagak bisa apa-apa" potong Ochi yang nggak suka orang flexing kayak si Malik ini.

"eh pemain cadangan! Lo diem aja deh, baru main 10 menit udah disuruh ganti" Malik nggak terima direndahkan oleh orang yang main nggak nyampe 1 babak. Hahaha

Ochi langsung manyun, "gue lagi capek aja makanya nggak mau pamer skill. Awas lu besok! Lu liat siapa yang nyetak gol!"

"elo?" tanya Syahrez

"ya kagak bang. Gue kan kiper..." jawab Ochi sambil menunduk

"HAHHAHAHAHAHA GOBLOK!" Dino ngakak ngetawain si Ochi. Jadi kiper pun dia cuma main 10 menit. Betapa bobroknya skill si Maung ini.

"NGETAWAIN GUE LO?! BESOK LO IKUTAN MAIN!"sungut Ochi berang diketawain adik sepupunya ini.

"ayok aja gue mah" Dino meladeni tantangan Ochi.

"besok Booby juga ikutan main, lo nggak sekalian bang?" tanya Malik ke Syahrez

"nggak deh. Kayaknya besok gue lembur..." elak si babeh

Mendengar jawaban Syahrez, Junior langsung melirik ke smartwatch nya. "BUSET! Besok baru tanggal 3 bang. Udah lembur aja lo? kerja dimana sih? rodi apa romusha? Hahaha"

Syahrez cuma bisa manyun, sebenarnya dia nggak ada lembur apa-apa sih. seperti kata Junior, besok juga baru tanggal 3. Belum ada kerjaan yang gimana-gimana. Cuma Syahrez lagi males aja ngumpul-ngumpul. Masih kepikiran soal ajakan Zahra bertemu sama Aliya secara resmi itu. Syahrez belum siap.

"bang Johan mana bang?" tanya Junior setelah menyadari, abang kesayangannya itu nggak ikutan nongkrong di ruang TV sama Syahrez. Biasanya mereka ini duo yang tak bisa dipisahkan.

"tadi abis sholat Isya dia langsung tidur"

"JOHAN NGAPAIN?!" tanya Ochi syok sendiri.

"tidur" balas Syahrez sambil menatap Ochi heran.

"SEBELUM TIDUR?"

"sholat isya"

"JOHAN NGAPAIN?!"

"SHOLAT ISYA MONYET!"

"ELU KENAPA SIH?!"

Padahal tadi emosi Syahrez sudah mereda, kini naik kembali karena diteriak-teriakin sama si Maung.

"Lik, lo liat kan tangan gue?" Ochi menunjukan tangan kanannya ke Malik

Pria bongsor itu mengangguk seperti ketakutan. "parah sih bang" lanjutnya

"anjayyyy! Hahahaa" Dika ketawa begitu ngeliat tangannya si Ochi.

"MERINDING SUMPAH!" kata Ochi bergidik ngeri.

"iya bang, asli! Bulu kuduk gue juga langsung naik..." sahut Junior sambil megangin tengkuknya sendiri,

"KENAPA SIH?" Syahrez udah kayak orang linglung di ruangan ini ngikutin percakapan Ochi dan dedengkot-dedengkotnya ini.

"itu bang, karena lo bilang bang Johan sholat Isya. Mereka pada merinding" jelas Dika sambil ketawa-ketawa sendiri.

"LAH?! JOHAN KAN ISLAM? ANEHNYA DIMANA KALO DIA SHOLAT?" Syahrez masih nggak mudeng

"yaelah bang! lu temenan sama dia udah berapa lama sih? tu orang sholatnya sama kayak si Malik. Cuma 2 kali setahun doang"

"BUANGSAAT LO FAUZI!" kepala Ochi langsung digaplok Malik yang duduk disebelahnya.

"SHOLAT JUM'AT GUE NGGAK PERNAH TINGGAL." Malik membela diri

Syahrez langsung melongos, iya juga ya. Kok dia nggak ngeh sama perubahan si Johan belakangan ini? kadang kalo pulang sebelum magrib pun dia sholat ke mesjid dekat kosan.

"apa Johan udah disamperin malaikat ya ngasih tahu sisa umurnya berapa?" Ochi bertanya-tanya sendiri.

"HUSH! MULUT LO YA CHI" si babeh paling nggak senang kalo sohibnya dicurigai gini sama Ochi.

"tau nih bang Ochi, orang hijrah tuh harusnya disupport. Bang Johan mungkin ingin memperbaiki diri." Tambah Dino bijak.

"tapi kok aneh tiba-tiba gini? Lo semua nggak curiga?"

"apa yang aneh sih bang Ochi? Orang cuma sholat doang. Kalo dia tiba-tiba bangun mesjid, baru lo kaget. Ini cuma sholat doang. Yang nggak sholat kayak lo tuh yang aneh" cibir Dika

Mendapat serangan bertubi-tubi gini Ochi merasa terpojok dan hanya bisa mingkem. Kalah telak.

"gue sholat ya Dik, cuma nggak bilang aja sama lo" kata Ochi sebel dituduh nggak sholat. Gini-gini Ochi rajin sholat 5 waktu. Walaupun seringnya diakhir-akhir waktu sih.....

"udah ah, malah ngomong yang nggak jelas. Mandi gih lo sono. Udah bau kambing semua" tegur si babeh. Dia lagi nggak ada tenaga ngadepin keributan-keributan nggak penting gini.

"ntaran lah bang, capek banget ini" sahut Junior yang lagi selonjoran di lantai bareng Malik. Mereka lagi ngipas-ngipasin muka sendiri pake koran. Maklum mainnya full time. Beda sama Ochi yang nggak keliatan berkeringat sama sekali hahaha

"bang Jo udah balik bang?" tanya Malik mengalihkan biar nggak disuruh mandi lagi

"belum"

"dia bukannya cuti ya? Nggak praktek kan hari ini?"

"iya, cuti 3 hari katanya. Nenangin diri ke Singapura"

"busetttt! Hahaha orang kaya healing ke Singapura" sahut Dika sambil ketawa. Ngetawain nasib sendiri yang kalo mumet sama dunia dan butuh healing cuma bisa ke parkiran atau ke pantry....

"besok balik?" tanya Malik lagi

"katanya iya. Tapi nggak tau deh. Lo tau sendiri si Joshua kalo udah solo traveling suka nggak jelas baliknya kapan"

"eh btw..." Ochi mulai menunjukan gelagat mau memulai perghibahan.

"apaan bang?" Malik dan Dika langsung mendekat ke Ochi. Urusan ginian mereka harus gercep.

"kok bisa sih si Joshua selingkuh? Gue pikir dia sebaik itu...."

Semuanya langsung diem. Mereka juga berpikiran yang sama kayak Ochi. Seorang Joshua si gentleman itu bisa-bisanya punya riwayat selingkuh. Dan sempat mau mengganggu kehidupan mantan selingkuhannya itu.

"iya sih, gue masih nggak abis pikir sama dia. bisa-bisanya selingkuh sama ceweknya si Wisnu hahahaha" Malik ketawa miris.

"mantan lo tuh Jek..."

Si Juniornya cuma ketawa, "gue sebenarnya tahu dia deket sama Joshua waktu itu. Cuma gue nggak kepikiran mereka selingkuh sih..."

"lo kok bisa putus sih Jek sama dia? gimana ceritanya? Terus ketemu dimana?" tanya Malik penasaran. Ternyata inilah lelaki yang membuat adiknya si Danang itu sampe stress berat. Mau marah ke Junior, kan dia nggak tahu apa-apa. Semuanya emang salah si Danang yang nggak berani ngungkapin perasaannya waktu itu.

"ketemu waktu mos fakultas, Lik. Gue salah satu panitianya. Dia sih yang keliatan naksir gue duluan" kata si artis ini pede.

"BUAHAHAHAHAH PEDE BANGET BANGSAT!" Dika langsung ngakak dengarnya. baru beberapa bulan tinggal serumah sama Malik, level kepercayaan diri si Junior meningkat tajam.

"idih, emang iya. Suka ngeliatin gue diem-diem." Junior nggak terima dibilang kepedean. Emang waktu itu si Fina yang keliatannya naksir dia duluan.

"terus kok akhirnya jadian?" tanya Syahrez yang ikutan penasaran

"gue tuh kena dare sebenarnya bang......." aku Junior sambil garuk-garuk kepala. Mengingat bagaimana absurdnya proses jadiannya sama mbak Fina waktu itu.

"HAH?! DEMI APA?!"

"iya Lik. Gue main Truth or Dare, terus kena dare. Suruh nembak dia di kantin. Ya gimana, gue tembak ajalah. Nggak mikir bakal 4 tahun pacarannya..."

"Darenya lama juga ya bang...." celetuk Dino

"ho'oh. Dare terlama seumur hidup gue sih...."

"kenapa nggak lo putusin aja? lama banget nunggunya sampe 4 tahun?" gantian si Ochi yang heran.

"lama-lama sayang gue bang...." jawab Junior sambil senyum-senyum sendiri

"CUIH!" ledek Malik sebel

"anaknya baik, penurut, perhatian. Masa gue putusin...."

"tapi lo selingkuhin taik" kata Syahrez emosi

"hehehe" Junior auto nyengir kuda

"khilaf bang.... namanya juga cobaan"

"selingkuh sampe 2 kali lagi. Emang bangsat sih lo Jek. Wajar diselingkuhin balik..."

"iya anjir, mana dia selingkuhannya Joshua lagi. Lah gue boro-boro, ayam kampus sebelah"

"YA ITU SIH ELO YANG TOLOL!" Malik ikutan emosi kayak si babeh

"alasan lo selingkuh apaan?"tanya Syahrez lagi.

Junior mendadak diem dengar pertanyaan abang yang satu ini.

"kok diem?" Syahrez jadi nggak sabaran mau tahu alasan Junior nyelingkuhin cewek yang baik, penurut dan perhatian itu.

"hehehehe" ia nyengir lagi.

"baik banget bang orangnya. Nggak tega mau diajak aneh-aneh.... orangtuanya juga baik banget. nggak tega gue kalo ngerusak anaknya."

"HOALAAAH EMANG BANGSAT SIH LO" cerocos Malik duluan

"mau diapain emang bang? " tanya Dino polos

Junior melongos, "mau gue ajak main gundu sih Din..."

"lah? Main gundu doang emang nggak boleh?" si Bontot ini emang sepolos itu.

"di OYO mainnya" sahut si Maung langsung

"Astagfirullah..." Dino baru nyadar maksudnya apa

"Parah sih lu bang..." katanya sambil nunjuk-nunjuk ke arah Junior

"ya kan dulu Din, sekarang mah gue anak baek-baek."

"jujur putus dari dia, gue makin stress. Gue ngerasa kehilangan arah, nggak tau mau ngapain. Akhirnya lari ke dunia malam. Di tambah kerjaan gue juga mendukung gue ada di lingkaran setan itu. Gue sampe depresi dan minum obat dari psikiater" kata Junior yang akhirnya secara blak-blakan membuka masa kelamnya itu.

Semuanya tertegun mendengar penuturan Junior barusan, mereka nggak nyangka seorang Junior yang selalu tampil ceria itu menyimpan banyak rahasia.

"gue kira dunia malam itu obat gue, ternyata itu racunnya...." Junior benar-benar menyesal dengan semua kebodohannya di masa lalu. Kehilangan orang yang benar-benar tulus mencintainya dan nyemplung ke lingkaran yang menjerumuskannya pada hal-hal negatif.

"lo nggak berusaha balik ke dia waktu itu Jek?" tanya Dika hati-hati.

Junior menggeleng, "nggak. Gue sadar diri gue udah jahat banget sama dia. Makanya waktu putus dari dia, gue minta Fina anggap gue udah nggak ada aja. anggap aja gue udah mati. Biar dia nggak terus-terusan sakit hati tiap nginget kelakuan gue. Toh kan orangnya udah nggak ada juga. Hahaha" ujar Junior sambil tertawa kecut. Sedih.

"perasaan lo sekarang gimana Jek ngeliat dia lagi?" masih Dika yang nanya

Junior menghela nafasnya, "sempet kaget dia ternyata masih ada di sekitaran sirkel gue. tapi yaudahsih, biasa aja. Gue nggak ngerasa ada perasaan apa-apa lagi sama dia."

"lo nggak sampai kayak si Joshua kan? Ngamuk-ngamuk nggak jelas cuma karena mantan selingkuhannya bahagia sama orang lain?"

Junior terbahak, "ya kagak lah goblok! Gue nggak sepicik itu! hahahaha."

"Gue seneng tau liat dia bahagia sama bang Wisnu. She finally got what she deserved. Gue bener-bener bahagia liat senyumannya yang sumringah kayak dulu sekarang keliatan lagi pas dia sama bang Wisnu. Gue tahu senyuman itu berarti banget, karena sebelum bang Wisnu, gue kan orang yang dapetin senyuman itu...." lanjut Junior sedikit puitis sampe bikin Ochi agak mual-mual.

"agak mau muntah tapi nggak papa Jek, lanjut..." sahut si Maung

"HAHAHAHAH kampret lu bang!"

"si Joshua gue rasa cuma lagi baper sih. Cinta belom kelar sama mantannya, terus ngeliat mantan selingkuhan juga bahagia sama pasangannya. Gimana nggak senewen. Mana ngeliatnya depan mata lagi...." Kata Malik yang yakin dan percaya, Joshua hanya sedang dalam fase grieving. Ini bukanlah watak asli Joshua yang sebenarnya.

"gue rasa juga gitu. Dia pasti nyesel udah kelewatan kayak kemaren" tukas si babeh

"gila ya, efek diselingkuhin itu parah banget. Nggak cuma bang Wisnu yang jadi overprotektif, ceweknya juga ternyata pernah diselingkuhin terus efeknya jadi labil" kata Dino yang berhasil menarik kesimpulannya sendiri dari dua case yang berbeda.

"iya, si Fina jadi orang plin-plan dan takut ngambil keputusan. Akhirnya nyusahin banyak orang" tambah Dika

"GARA-GARA ELU NIH MONYET! ELU AKAR MASALAHNYA!" babeh jadi mencak-mencak ke Junior.

Sebagai tersangka utama dan terutama disini, Junior cuma bisa pasrah. Dia memang bersalah dan nggak berniat mencari pembenaran apapun....

"lah? Masih pada ngumpul?"

Juna yang baru pulang dari kantor kaget ngeliat teman-temannya masih pada ngejogrok di ruang TV. Bapak CEO ini abis ada acara di kantor barunya itu. Buktinya Juna membawa beberapa bungkusan plastik berisi makanan.

"apaan tu bang?" tanya Dino antusias

"nih makanan tadi di acara kantor." Katanya sambil ngasih semua plastik tersebut ke Dino.

Dino sama Ochi langsung menyambut dengan senang dan buru-buru mengunboxing isi ketiga plastik besar itu.

"yahhhh! Kok nggak KFC sih bang?" tanya Dino kecewa ternyata isi plastik tersebut bukanlah fried Chicken dari brand favorite Dino melainkan dari brand lain yang kurang terkenal.

"KFC DI BOIKOT ANJIR. DUKUNG ISRAEL DIA" sahut Juna sambil melotot

"MASHA ALLAH... BANG JUNA....." Dika sama Malik auto tepok-tepok tangan sendiri mendengar jawaban Juna yang sangat pro kemanusian itu,

"kapan login Jun?" ledek Ochi dengan satu tangkai paha ayam ditangannya

Juna langsung melongos, "gerakan boikot ini bukan cuma buat agama lu doang Chi. Ini demi kemanusiaan."

"BUSETTTT!" gantian Junior sama Syahrez yang menatap Juna takjub

"bang Juna baru jadi CEO udah beda banget kepribadiannya..." sahut Junior

Yang diledekin cuma bisa senyum-senyum nggak jelas, agak jumawa dikit di puji anak-anak kosan.

"sisain ya buat yang lain. Jangan lu makan semua" pesan Juna lagi ke Ochi sama Dino yang sedang memisahkan makanan tersebut untuk mereka bawa ke atas

"jatah Willy sama Vernon buat siapa? Mereka udah pasti nggak makan nih. Lagi di Studio buat ngejar deadline" kata Ochi sambil ngeluarin 2 kotak makanan dari plastiknya

"bang Joshua juga" tambah Dino. Ia ikut mengeluarkan satu kotak lagi untuk dipisahin.

"siapa yang nggak cukup satu" jawab juna

Ochi, Dino sama Malik saling liat-liatan. Mereka lah manusia yang nggak cukup satu itu.

"PUNYA GUE YA!" kata Malik buru-buru mengamankan satu kotak makanan tambahan untuknya.

"untung si Booby kagak ada hahaha" Ochi tertawa puas karena berhasil mengamankan 2 kotak makanan gratis dari Juna.

"si Wisnu juga kayaknya nggak makan nih" kata Syahrez yang daritadi diem aja ngeliat pembagian sembako di depannya ini.

"lah si Wisnu belom balik bang?" tanya Juna heran, ia sampai mengecheck jam tangannya takut-takut salah liat. Udah jam 11 lewat, masa sih Wisnu belum balik?

"belom. Kayaknya pergi sama ceweknya"

"sumpah bang gue takut si Wisnu ngeluarin akte kelahiran duluan baru buku nikah" kata Ochi menduga-duga.

'plak!'

Sendal Syahrez terbang lagi untuk membuka tahun ini. sendal terbang pertama tahun ini.

"KALO NGGAK SUUZON SEKALI AJA, KENAPA SIH EMANGNYA CHI? ASMA LO KAMBUH?!" omelnya langsung

Ochi menggeleng, ia sedikit lega karena lemparan sendal Syahrez jauh meleset.

"gue nggak ada asma" jawabnya polos

'HUHHHHH' si babeh mendengus kesal mendengar jawaban si Maung.

"HAHAHAHAHAHAHAHA"

Sementara yang lain hanya bisa tertawa lagi-lagi menyaksikan sendal terbang dan amarah Syahrez di awal tahun. Memang benar kata Willy, nggak ada yang berubah selain angka di kalender.

****

"Astagfirullah!" Johan yang baru berhasil ngumpulin nyawanya setengah, kaget bukan main saat melihat Syahrez masih bengong sendirian di ruang TV dalam keadaan TV yang nyala. Persis dia kayak orang linglung....

"lo ngapain masih disini nyet?" tanya Johan lagi. Hari sudah menunjukan pukul 03.00 pagi dan Syahrez masih terjaga sendirian.

"ngeronda mah diluar, kagak di ruang tipi" katanya ngomel-ngomel.

Syahrez hanya menatap Johan sayu lalu kembali melamun. Berat banget beban pikiran orang tua satu ini keliatannya.

"hoaaaaamm" Johan menguap sejenak lalu duduk menghampiri Syahrez

"lo lagi ada masalah Rez?" tanyanya langsung

Syahrez auto ngangguk, apalagi yang membuatnya terjaga sampai dini hari gini kalo bukan karena ada masalah?

"masalah apaaan?"

Lagi-lagi Syahrez menatap Johan sayu, "berat Han"

Kening Johan berkerut, "berat gimana? urusan kantor? Kosan??"

Syahrez menggeleng, "bukan. Zahra, Han."

"Zahra kenapa?"

Ditanya Johan bukannya ngejawab, Syahrez malah menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Ia mengusap wajahnya malas. Semuanya terasa semerawut di kepala si babeh.

"Zahra kenapa, Rez? Kusut banget lo!" Johan makin tak sabaran menunggu rekan sejawatnya ini untuk bercerita

"dia mau bawa gue ketemu Aliya, gue belom siap"

Lagi-lagi kening Johan berkerut, "lah? Kan lo udah pernah ketemu anaknya. Kok sekarang tiba-tiba belum siap?"

"beda, Han. Yang kali ini Zahra mau ngenalin gue secara resmi sebagai bokap tirinya Aliya. Gue belum siap, Han."

"lo mabok, Rez? Gimana ceritanya lo belom siap jadi bapak tirinya tapi ngelamar emaknya?" tanya Johan heran. Nyawanya auto ngumpul sepenuhnya begitu dengan curhatan Syahrez.

"huh" Pria itu mendengus

"awalnya gue pikir gue bisa, tapi begitu Zahra ngomongin soal ketemu Aliya gue langsung takut. Gue takut nggak bisa kasih kesan yang baik buat tu bocah. Gimana kalo dia masih keinget bokapnya?"

'huhhhhh' gantian Johan yang mendengus kesal dengarnya.

"ya sampe kapanpun si Aliya kagak bakal lupa sama bokap kandungnya, Rez. Lo gimana sih? bukannya lo udah paham ya sebelumnya? Nikah sama Zahra berarti lo siap nerima dia dan hubungannya sama si Daren yang nggak bakal pernah putus itu?"

"gue tahu..."

"TERUS?" potong Johan tak sabaran

Syahrez hanya diam di tempat. Logika dan perasaannya sedang berperang saat ini. disatu sisi, Syahrez tahu semua konsekuensi itu. Tapi disisi lain, batinnya menolak kalo Zahra tak akan pernah jadi milik Syahrez sepenuhnya. Wanita itu sampai kapanpun akan terus terikat dengan masa lalunya, dengan mantan suaminya.

"gue cuma bingung, Han. Besok gue udah janji buat nemuin Aliya sama Zahra..."

"hari ini maksud lo?" kata Johan memperbaiki ucapan Syahrez. Barangkali si babeh lupa kalo hari sudah berganti sejak 3 jam yang lalu.

Syahrez menoleh ke arah jam dinding di atas TV, pria itu tampak terkejut melihat hari sudah menunjukan pukul 03.00 pagi.

"anjir! Udah jam 3 aja...."

"Rez" Johan menyentuh bahu Syahrez

"lo mau lari kemana juga nggak bakal merubah apapun. Aliya tetap anaknya Zahra dan Daren. Kalo lo mau sama Zahra, lo terima dia sepaket. Anak sama mantan suaminya. Tapi kalo lo keberatan, lo masih bisa mundur kok. Kan belom ijab kabul."

"NGACO LO?!" Syahrez langsung menangkis tangan Johan

"gue nggak bakal mundur!" katanya kesal

"ya terus?"

"gue cuma bingung harus ngapain. Gue nggak bakal mundur, Han!"

"ohhh hoaaaaaam" Johan lagi-lagi nguap.

Syahrez memutar bola matanya kesal, bisa-bisanya di saat serius seperti ini si Johan malah nguap. Kesannya nggak menghargai perasaan Syahrez yang sedang gundah gulana itu. huh.

"kalo lo nggak mau mundur, lo cuma punya satu pilihan dong"

"apaan?" tanya Syahrez heran

"temuin dia hari ini" tukas Johan sambil beranjak dari sofa

Syahrez tertegun mendengar jawaban Johan. Bener sih tapi....

"Tumben lo bangun jam segini, Han? Kebangun?" tanya Syahrez setelah menyadari si Johan nggak biasanya bangun jam segini

"mau tahajud" jawab Johan yang udah berjalan balik ke kamarnya.

Syahrez auto ngecheck tangannya, seperti Ochi tadi ia ternyata juga merinding mendengar jawaban Johan.

"WOI?! LO BENERAN JOHAN KAN?!" tanyanya takut

Si Johan auto mutar arah, "maksud lo?" tanyanya heran

"CO...CO..BA LO SEBUTIN SI JOHAN LAHIR TANGGAL BERAPA?!" Syahrez jadi ketakutan sendiri. Takut-takutnya ini bukan Johan lagi melainkan Jin khodamnya

"bahahaha bangsat!" maki si Johan langsung

"lo kate gue demit hah?!"

Syahrez langsung menghela nafasnya lega, ternyata yang ngomong barusan masih Johan beneran.

~~~~

Hari yang membuat Syahrez senewen dari kemaren akhirnya datang juga. Sore ini abis balik dari kantor, Syahrez langsung nyamperin Zahra disebuat restoran yang sudah mereka sepakati. Zahra udah datang duluan kesana bareng anaknya, Aliya. Sepanjang jalan Syahrez udah grasak grusuk sendiri, ini memang bukan pertemuan pertamanya dengan gadis kecil berusia 3 tahun itu. Tapi mengingat tujuan pertemuan kali ini berbeda dari sebelumnya, Syahrez auto panik sendiri.

Perkataan Johan berlalu lalang dipikirannya, "lo nggak punya pilihan lain". Sialnya Johan benar, Syahrez memang nggak punya pilihan lain.

"hallo" sapa Syahrez canggung saat menghampiri Zahra dan Aliya yang keliatannya lagi ngobrol berdua.

"EH ini dia yang ditungguin!" Zahra langsung sumringah melihat pujaan hati yang ditunggu-tunggu daritadi akhirnya datang juga

"salam sama papah dulu nak" suruh Zahra ke Aliya yang langsung dituruti oleh gadis mungil yang mirip banget sama ibunya itu.

Mendengar Zahra memanggilnya 'papah' membuat darah Syahrez berdesir. Ia tak menyangka gebrakan dari Zahra datang secepat ini.

"kok papah sih yang?" bisik Syahrez ke Zahra. Perasaan mereka belum punya kesepakatan apa-apa soal panggilan buat Syahrez.

"ih udah kamu ngikut aja" jawab Zahra sambil memangku Aliya

"kamu mau makan apa? Kita tadi udah pesen duluan" tanya Zahra ke Syahrez yang memilih duduk berhadapan dengannya, bukan duduk disebelahnya.

Pria itu membolak-balik buku menu seolah mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan. Syahrez mendadak nggak kepengen makan, masih syok tiba-tiba dia punya anak....

"ngopi aja deh" jawab Syahrez sambil menutup buku menu tersebut.

"lagi nggak pengen makan" lanjutnya lalu beranjak ke meja kasir untuk menambahkan pesanan di meja mereka.

"macet tadi pah?" tanya Zahra yang lagi-lagi membuat Syahrez terbelalak kaget. Sejak kapan panggilan untuknya ikutan berubah?

"ohh, hm.. iya. Biasalah haha" jawab Syahrez salah tingkah sambil menatap Aliya yang keliatannya biasa aja sama kehadiran Syahrez disana.

"Aliya, bunda mau ke toilet dulu. Kamu sama papah ya disini" kata Zahra tiba-tiba, ia lalu meletakan gadis kecil itu di dalam baby seatnya dan buru-buru pergi ke toilet. Sial, Zahra sengaja banget mau ngerjain Syahrez kalo begini ceritanya.

"titip ya yang" bisiknya sebelum ngacir entah ke toilet benaran atau nggak.

Sementara Aliya diem aja di kursinya sambil menatap Syahrez datar. Benar-benar datar.

"ha..llo..." sapa Syahrez kikuk, anak berusia 3 tahun itu menatapnya sejenak lalu tersenyum

"namanya siapa?" tanya si babeh basa-basi

"Aliya"

"ohh Aliya, umurnya berapa?" biasalah ya pertanyaan basic stranger.

"3" bocil itu menjawab singkat.

"3 tahun?" Syahrez masih berusaha mendekatkan diri

Aliya hanya mengangguk.

"pinjem handphone boleh?" todong si bocah tanpa tedeng aling-aling yang langsung membuat si babeh syok. Ini anaknya Zahra apa anak si Ochi sih?

"untuk apa? Emang Aliya mau ngapain di handphonenya... om.. eh papah...?" Syahrez susah payah memanggil dirinya papah seperti yang Zahra inginkan. Jiwanya memberontak, dia masih mau dipanggil om aja!

"coco melon" jawab bocah itu menggemaskan.

Syahrez terdiam sejenak, coco melon apaan? Sirup?

"kamu mau minum sirup?"

Bocah itu menggeleng, "coco melon!" katanya lebih keras

"iya coco melon, tapi itu apa? Om... eh papah nggak tau"

"ada di HP" kata Aliya sambil manyun

Syahrez jadi garuk-garuk kepala sendiri menghadapi permintaan bocil yang satu ini. Baru juga beberapa menit, gimana nanti bertahun-tahun ya? Belum lagi kesabaran si babeh hanyalah setipis tisu dibelah 7 ini... siapa yang nyerah duluan nantinya?

"ayo dong om papah, aku mau coco melon!" rengek Aliya mendapati Syahrez cuma bengong tanpa menuruti permintaannya.

"kamu manggil apa?!" sontak Syahrez kaget. Dia nggak salah dengarkan? Si Aliya barusan manggil dia om papah?!

Gadis kecil itu langsung ciut mentalnya dengar Syahrez ngomong sedikit keras, "om papah...."

"ahahahaha......" Syahrez tertawa masam. Panggilan om papah lebih aneh dibanding babeh yang menjadi panggilan si Kenzo untuknya

"kita liat yang lain aja ya Al, nggak usah main Hpnya om papah...."

Aliya langsung menggeleng, "nggak mau. Maunya coco melon!"

"ih kamu jangan minum coco melon terus, nanti batuk. Kita cari minuman yang lain aja ya?" Syahrez langsung mendekat ke Aliya sambil menyodorkan buku menu. Niatnya biar si Aliya sekalian liat gambar-gambar makanan dan minuman di buku menu itu. tapi sayang, gadis kecil itu tidak tertarik sama sekali. Dia masih menginginkan Hpnya Syahrez. Bukan buku menu....

"mau coco melon!" rengeknya yang kini mulai menangis.

"bunda nggak bolehin kamu minum sirup" kata Syahrez sotoy

"sapa yang mau minum silup sih, mau coco melon!" jawab bocah itu sambil terisak

"ya coco melon kan sirup, Al. Kalo coco chanel baru parfumenya bunda" si bapak malah ngejokes sama bocah umur 3 tahun.

"huaaaah! Coco melon! Om papah! Mau coco melon!" rengeknya semakin kencang. Syahrez jadi panik dan bingung mau ngapain. Lagian si Zahra ngapain si di toilet lama banget? masang ubin?

"duh! Cup-cup-cup!" Syahrez berusaha menenangkan Aliya sambil menggendongnya keluar dari kursi bayinya tersebut. Berbekal pengalaman dulu pernah ngasuh si Kenzo, Syahreh nggak begitu kagok lagi kalo ngegendong bocil kayak gini. Masalahnya si Aliya yang nggak berenti nangis. Dia masih keras kepala minta coco melon. Padahal Syahrez udah bilang nggak boleh.

"diem ya nak..." Syahrez mempukpukpuk punggung Aliya pelan.

Jiwa bapak-bapak yang selama ini memang sudah ia miliki itu akhirnya keluar dengan sendirinya. Kalo anak-anak Akinda dipuk-puk-puk pake sendal, si Aliya masih lebih manusiawi sih, pake tangan.

"mau coco melon!" Aliya meletakan kepalanya di dada Syahrez. Si bocah tau aja tempat terbaik untuk menangis....

"iya nanti tunggu bunda" jawab Syahrez lembut sambil mengelus kepala Aliya pelan. Agak sedikit canggung tapi ia berusaha menutupi kecanggungan itu.

"permisi pak, pesanan Spaghetti carbonaranya sama chicken wingsnya ya" seorang pelayan menghampiri meja Syahrez

"iya mbak, makasih" jawab si babeh yang masih rempong ngurusin anaknya si Zahra.

Mbak-mbak pelayannya senyum-senyum sendiri ngeliat Syahrez, "hot daddy ya pak hihi" katanya malu-malu terus langsung ngacir. Syahrez yang lagi ngegendong Aliya auto speechless. Ini harus seneng apa marah ya?

"om papah..." panggil Aliya

"eh iya?" Syahrez yang tadi bengong karena mendadak dapat gelar hot daddy ini auto noleh ke bocil dalam dekapannya tersebut.

"idungnya om papah mancung..." Aliya menyentuh hidung Syahrez dengan jari-jari mungilnya itu

"idung aku enggak...." Si bocah malah sedih dan body shamming diri sendiri.

Syahrez bingung mau jawab apa, dia nggak nyangka dipertemuan pertama yang resmi ini si Aliya malah bahas hidung....

"eyebrowsnya juga tebel. Aku nggak ada bulu..." Aliya memindahkan jarinya ke alis Syahrez yang tebal itu.

"hehehe, nanti alis matanya Aliya pasti bakal tumbuh..." kata Syahrez menenangkan anak berusia 3 tahun yang udah insecure ini.

"kayak om papah?!" tanyanya antusias

"iya dong, kan anaknya om papah!" jawab Syahrez semangat. Padahal kan Syahrez nggak ada nyumbang gen apa-apa buat Aliya....

"asikkkkk!"Aliya sumringah banget dengarnya. seolah mendapat kepastian masa depan bahwa rupanya kelak akan secakep si om papah bercampur bundanya. Ya namanya bocah, nggak tahu gen mana yang memproduksinya waktu itu.....

"hehehhe" gadis kecil itu mencubit pelan kedua pipi Syahrez, kayaknya dia terpanah sekali dengan mahakarya Tuhan yang sedang menggendongnya ini. Emang Syahrez secakep itu atau bapak kandungnya yang burik?

"lho-lho, Aliya kok digendong sama papah nak?"

Zahra akhirnya kembali dari tempat persembunyiannya

"dia minta coco melon, aku bilang nggak boleh. Nanti batuk" sahut Syahrez langsung

Kening Zahra berkerut, "kok batuk sih?" tanyanya heran

"ya masa dia minum sirup lagi musim hujan gini?"

Zahra memegang kening Syahrez, "nggak demam...." Katanya takut.

"ya emang nggak demam!"

"tapi kok ngelantur?"

"maksudnya?!"

"COCO MELON MAH CHANNEL YOUTUBE! COCO PANDAN BARU SIRUP!"

"ah.. iya..." Syahrez baru ngeh. Nama sirup itu kan coco pandan. Bukan coco melon...

"AHAHAHAHAHA" ketawa Zahra langsung lepas ngeliat ekspresi bloon Syahrez ini.

"Aliya mau coco melon nak? Yaudah ayok sini di hp bunda aja" Zahra berniat mengambil Aliya dari gendongan Syahrez tapi gadis kecil itu menolak.

"aku mau sama om papah aja, bunda. Disini aja" katanya sambil mengerucutkan bibir kecilnya itu lalu mendekatkan kepalanya kembali ke dada Syahrez

"apa? Manggilnya apa? Om papah?" tanya Zahra sambil tergelak

Aliya mengangguk, "yes, om papah"

Wanita itu menoleh ke arah Syahrez, mukanya udah kecut banget. hahahaha belum juga apa-apa si Aliya udah nempel banget sama dia.

"kamu kasih pelet apa?" tanya Zahra bercanda

"sama lah pelet yang waktu itu kena di kamu." Jawab si babeh bercanda.

"HAHAHAHAHAHA" Zahra kembali tertawa.

"awet sih kalo itu peletnya..." katanya sambil menggandeng tangan Syahrez

"makasih ya yang, I love you" bisiknya ke telinga Syahrez lalu langsung duduk kembali ke kursinya.

"makan duluan ya hihihi"

Sementara Syahrez langsung mematung di posisinya bersama Aliya. Tiba-tiba dapat serangan I love you dari mbak Zahra, ya auto mleyotlah orang tua satu ini.....

****

"nemu coklat dimana?" tanya Ochi begitu sampe di kosan. Ada Booby, Dino, Wisnu, Johan, Syahrez sama Junior yang masing-masing lagi nyemilin coklat

"bang Jo" jawab Junior yang udah nelen coklatnya duluan. sementara yang lain masih menikmati dengan hikmat.

"ohh bang Jo udah balik? Coklat buat gue mana?" Ochi langsung ngobrak-ngabrik meja ruang TV, tapi nihil. Semuanya cuma sampah bungkusan coklat. Isinya udah pasti dalam perut si tuyul-tuyul ini.

"ada di kulkas. Jatahnya 1 kotak 1 orang bang, jangan lu makan jatah yang lain" Dino mengingatkan abang sepupunya itu

"iye, berisik lu" sungut Ochi sebel lalu langsung kabur ke dapur buat ngambil jatah coklatnya.

"kok lo cuma makan satu, Rez? Tuh sisanya mau diapain?" tanya Johan heran ngeliat Syahrez hanya memakan satu bungkus coklat dari beberapa bungkus coklat yang ada dalam satu kotak tersebut.

"buat anak gue" jawab si babeh sambil ngerapiin kotak coklat itu lagi.

"idih....."

"anak gue...." cibir Booby

"anak lo dari percobaan yang keberapa?" tanya Johan asal

"MULUT LO YE HAN! Gini-gini gue orang yang tau agama...." Syahrez nggak senang dituduh macam-macam

"hahahaha baper cih" ledek Johan lagi

Syahrez hanya bisa menghela nafasnya panjang. gini banget cobaan jadi orang sabar.

"jadi gimana sama anaknya si Zahra? Nggak kabur kan tu bocah ngeliat lo?" karena cuma Johan yang tau masalah ini, jadi cuma dia lah yang berani nanya.

"sembarangan lo. Lengket kayak perangko tuh anak sama gue!" jawab Syahrez jumawa

"serius bang? kok bisa?" Dino ikutan penasaran

"kagak tau, dia tau kali kalo bapak tirinya cakep. Mirip Irwansyah"

"najis..." Ochi muncul dari dapur sambil ngunyah coklat

"LO YA! DATANG TIBA-TIBA CUMA BUAT NGEHINA GUE!" kata Syahrez marah sambil ngelempar Ochi pake bantal. Saking seringnya jadi objek penderitaan, Ochi udah bisa nebak arahan lemparan si babeh. Jadi dia auto selamat lagi kali ini.

"terus-terus bang? lo dipanggil apa sama anaknya mbak Zahra?" tanya Dino yang masih keliatan antusias.

Senyum jumawa di wajah Syahrez langsung pudar dengar pertanyaan si Bontot, dia malu banget ngasih tau nama panggilannya yang emang aneh itu.

"daddy yah?" sahut Junior sotoy

"kagak pantes" sambar Ochi....

"papi sih menurut gue" Wisnu yang daritadi jadi tim nyimak, ikut memberikan suara

"ayah..." Johan ikut-ikutan

"papoy?" Booby nggak mau kalah

"ah nggak mungkin, abi nggak sih?" tanya Dino yang merasa kali ini tebakannya tepat sasaran

"ah! Sotoy lo semua! Nggak ada yang bener!" kata Syahrez sambil garuk-garuk kepala

"lah? Terus apaan bang?"

Syahrez melirik satu persatu teman-temannya ini...

"om..."

"HAH?!" Ochi kaget duluan.

"masa lo bapak tiri dipanggil om? Gimana tu anak mau deket sama lo bang?"

"GUE BELOM SELESAI NGOMONG!"

Si Ochi langsung mingkem. Syahrez kalau lagi mode galak, udah kayak singa kebakaran jenggot.

"papah..." lanjutnya

"Hah?"

"om papah?" Junior memastikan

"aneh" sahut Johan

"iya bang, kok om papah sih? lo aslinya ada 2 orang ya?" tanya Dino bingung

"AH NGGAK TAU DEH GUE! LO TANYA AJA NANTI SAMA ANAKNYA KALO KETEMU! GUE MAU MASUK DULU! MAU MENENANGKAN DIRI!" kata Syahrez sebel lalu kabur ke kamarnya. Biasalah kalo udah merasa terpojok, kamar adalah tempat pelarian teramannya.

"hahahahah om papah...." Wisnu tiba-tiba ketawa sendiri

"terinspirasi Nu?" selidik Ochi

"ya enggaklah, bego! Masa anak gue manggilnya om papah! Ngaco lo! emang gue kawin sama janda?"

"ya nggak ada yang tau nasib Nu...." Kata Ochi sambil melirik ke Junior

Junior langsung pura-pura nggak liat. Si Ochi emang asem banget, udah dibilang jangan mancing-mancing, ini malah nyebar umpan. Udah tahu si Wisnu sumbu pendek juga. Hadeh.

"elo kali yang kawin sama janda..." kata Wisnu nggak senang

"sembarangan lo! masa cewek gue lo bilang janda?!"

"si Aura tuh janda!" ejek Wisnu ke Ochi lalu langsung ngacir ke kamarnya

Ochi hanya tersenyum kecut, 1-0 untuk kemenangan Wisnu. Awas aja, Ochi pasti akan melakukan pembalasan.

"eh Jek, lo nggak jadi main futsal bareng Malik?" tanya Ochi setelah menyadari, Dino, Booby sama Junior malah ada di kosan. Padahal kemaren katanya mau main futsal lagi.

"enggak bang, gue ada tamu mendadak nanti. Jadi nggak bisa kemana-mana"

"ohh, siape?"

"kakak gue"

"yang buka gultik di Blok M itu?" seinget Ochi, Malik dulu pernah ngepromosiin tempat makan punya kakaknya si Junior

"iye bang. Dia pengen nengokin gue kesini ntar."

"bawa gultiknya nggak?" tanya Ochi sambil alisnya naik-naik sendiri.

"yah nggak tau bang, nanti deh gue tanyain ya. Belom tau juga dia mau datang jam berapa"

"terus lo Bob? Din? Kok nggak jadi futsalan?" Ochi melanjutkan introgasinya

"mager bang, tadi gue makan sama anak-anak kantor dulu. Nggak keburu ngikut bang Malik" sahut Dino

"lo Bob?"

"males, lo nya nggak ada. Gue kan pengen ngebobol gawang lo" kata Booby jutek

"WUASUUUU! GELUD AJALAH KITA BOB! DIMANE LU MAU HAH?!" kata Ochi sambil berkacak pinggang. Tiada hari tanpa baku hantam sama si Booby

"di lapangan futsal lah kalo lo jago"

"anjay!" ochi menjawil hidungnya sendiri

"nantangin gue lo?"

"LHA IYA! GUE EMANG NANTANGIN ELO DARI KEMAREN BANG!" kata Booby ngegas. Ngomong sama Ochi nggak pake ngegas itu nggak afdol.

*Ting-Tong*

Bel Akinda berbunyi. Duo tuyul yang mau gelud ini auto ngeliat ke arah pintu.

"buka pintu sono!" suruh Ochi ke Booby

"dih ogah! Lo yang nengok duluan ngapa gue yang bukain!" tolak Booby mentah-mentah

"kakak lo kali bang?" tanya Dino ke Junior

Pria bertato itu menggeleng, "nggak mungkin. Dia kalo otw pasti ngabarin"

"terus siapa?"

"YA DI TENGOK KE DEPAN SANA! BUKANNYA TANYA JAWAB DISINI!" kata Johan yang udah gerah ngadepin manusia-manusia berat pantat kayak mereka-mereka ini.

Akhirnya si Paduka lah yang berjalan ke depan untuk membuka kan pintu untuk tamu yang datang malam-malam ke Akinda ini.

*Ting-Tong* *Ting-Tong*

"SABAR!" teriak Johan kesal.

"nggak denger apa langkah manusia ini?!" dia ngomel-ngomel sendiri

*Ting-Tong* *Ting-Tong*

"SABAR BANG...." Johan hampir mengumpat saat tangannya menyentuh gagang pintu. Si tamu ini nggak sabaran banget.

"ASTAGFIRULLAH!"

Johan langsung mundur beberapa langkah saat melihat tamu di hadapannya ini.

"hai?" sapa orang itu kikuk

Johan menelan ludahnya sendiri. Gini banget cobaan hidup....

*********************************

Here is some pictures of meeting Anak-Anak Akinda Last Week :)







Dika & Wisnu

Vernon

Booby, Juna & Dino

Koh Hao

Vernon & Willy

Joshua & Malik

Dika, Wisnu dan Ochi

Continue Reading

You'll Also Like

1.5M 96.6K 69
"Kita memiliki kendali penuh atas perasaan kita." Sikapnya membuatku terluka. Aku terluka karena pria ini dan pria ini terluka karena aku. Kita han...
1K 15 3
kumpulan fanfic oneshoot Jeon Wonwoo Seventeen.
59.6K 4.4K 74
A Sequel of Kos Akinda Lima belas tahun sejak meninggalkan indekos legendaris itu, para penghuni Akinda kini menetap di satu komplek yang mereka beri...
56.2K 4.7K 22
Bingung ya mau nulis apa. Isinya hanya ficlet - ficlet dari abang - abang Seventeen. Semoga suka yah!!! ^^
Wattpad App - Unlock exclusive features