The Duke Beast Controller🐾⚔️
"Eh... Anda yakin akan datang Lady?" Tanya Milla, maid pribadi Isha.
Dia ragu Lady nya tidak akan membuat masalah di pesta nanti, bagaimanapun bertunangan dengan Grand Duke Tirani bergedok Pahlawan Kekaisaran itu saja sudah sangat buruk tahu?!
Awalnya Isha hanya iseng karena teman-temannya di Akademi selalu mencocokkan nya dengan Putra Mahkota. Karena kesal dan sudah muak, kemudian dengan lantangnya dia berteriak bahwa Grand Duke Arion Dalton lebih menarik.
Dan dengan cepat berita itu menyebar hingga terdengar ke telinga Grand Duke Arion. Benar saja! Seminggu sebelum kelulusannya, dia malah mendapatkan sebuah lamaran!
Marchioness hampir pingsan setelah tahu siapa yang melamar putrinya.
Tentu saja mereka bisa menolak, namun sebelum lamaran ditolak, dekrit pernikahan dari Kaisar sudah diturunkan terlebih dahulu.
Tentu saja ada alasan dibalik dekrit yang tidak mungkin diberikan sembarangan, Kaisar sudah menjodohkan Putra Mahkota dengan Putri Mentri Baalth.
Dan rumor itu sangat mengganggu untuk perjodohan Putra Mahkota dan Lady Arabella Baalth. Terlebih, Putra Mahkota juga menyukai Isha, sebelum semuanya terlambat, Kaisar bertindak sesegera mungkin.
Selain itu, sebenarnya Kaisar tak ingin membuat masalah dengan Grand Duke yang satu ini, karena 55% kekuatan militer ada padanya—lebih tepatnya dari 55% ini, dia 25% nya. Hanya dia.
Lagipula Lady Isharaneeth Axena terkenal dengan kepintarannya, dia merupakan lulusan terbaik Akademi Either yang memiliki tes masuk paling sulit di seluruh benua. Jadi dia cukup pantas menjadi tunangan Grand Duke Arion Dalton.
Tapi tetap saja, sepintar apapun Putri semata wayang Marquess ini, dia lebih terkenal dengan sifat ceroboh nya, dan lebih terkenal lagi setelah bertunangan dengan Grand Duke Tirant karena omongan sembrono.
Bagaimana Milla tidak khawatir dengan keadaan Lady nya? Apalagi gadis itu mudah panik dan... Sangat konyol kalau menyangkut eksperimen, penelitian dan sains.
"Sudahlah Milla, jangan berlebihan. Bantu aku bersiap, aku ingin segera sarapan dan pergi berbelanja beberapa aksesoris untuk besok malam, mengerti?" Jawab Isha dengan melambaikan tangannya.
Milla menyerah, dia hanya seorang maid, tidak lebih. Mungkin nanti Lady nya akan menyesal dan menangis padanya seperti biasa. Lama kelamaan dia malah terbiasa dengan kecerobohan Isha.
Ini sudah 2 bulan sejak pertunangan mereka dan 2 bulan juga Isha ditinggal pergi ke medan perang! Astaga... Coba bayangkan, mereka bertunang belun genap 2 hari tapi Grand Duke lebih memilih untuk pergi berperang.
Setelah selesai membantu Isha bersiap, Milla mengantar Lady nya ke ruang makan untuk sarapan.
Ketika sedang sarapan, tiba-tiba Marquess menghentikan acara makannya sebentar untuk meminta Isha untuk tetap tinggal setelah sarapan.
Isha tahu apa yang akan ayahnya katakan, tapi lebih memilih menurut dan menunggu setelah sarapan.
Tepat dugaannya,
"Isha, kamu benar mau datang besok?" Tanya Marquess dengan serius.
"Ayah, tunanganku akan pulang besok, kalau aku tidak datang malah akan menimbulkan rumor yang buruk..."
'Tentu saja! Tapi jelas bukan itu! Siapa yang peduli dengan rumor tentang dia!? Aku lebih sayang nyawaku ayah! Dia bisa menaruhku di kandang Singa putih kalau aku tidak datang!'
"Tapi nak...
"Biarkan Delia, dia benar. Tidak mungkin kita melarangnya, sudah banyak rumor buruk yang—
"Kamu lebih peduli rumor dari pada putrimu!?" Sela Marchioness tak terima.
"Ibu... a-aku sudah menantikan ini sejak lama!" Teriak Isha dengan lantang lagi, ya memang ini kebiasaannya.
'Gila! Aku tidak mungkin menunggu monster itu! Kuharap dia mati di medan perang, tapi dia sepertinya hamba kesayangan Tuhan! Hah... Tapi setidaknya Kekaisaran ini aman karena dia kan penopang."
Akhirnya dengan terpaksa Marchioness memberikan izin. Setelah berpamitan, Isha pergi untuk mendatangi toko yang biasa ia kunjungi saat membeli aksesoris.
Isha dipaksa membawa 2 ksatria untuk mengawalnya padahal biasanya hanya pergi dengan Milla. Sebenarnya dia agak kesal, hei maksudnya—apa dia benar-benar pembuat onar?
Risih rasanya diperhatikan banyak orang, Nona bangsawan memang sudah biasa membawa seorang ksatria, tapi 2 orang? Itu agak berlebihan.
Tapi untunglah Isha bukan orang yang boros—ralat berusaha irit hingga terlihat seperti pelit. Dia lebih memilih menggunakan uangnya untuk membeli bahan dan alat di Laboratorium nya.
Saat sedang asik melihat toko, Isha malah terpisah dengan Milla dan yang lain. Sial! Dia memang ceroboh!
"Tenang Isha... Kau pasti baik-baik saja di tempat ramai ini dengan banyak orang yang mungkin punya niat jahat dan sialnya kau tidak bisa menggunakan magismu dengan mana yang lemah ini! Menyebalkan! Milla!"
Keadaan jadi semakin buruk karena dia mudah panik, dia masuk ke gang tanpa sadar saat berlari mencari Milla. Hah... Ceroboh, lagi.
Dia terus berlari hingga hampir menemukan ujung gang gelap itu dan lihat! Itu salah satu Ksatria pengawalnya!
"Aduh! Siapa namanya!? Ah sudahlah! Hei Kau!!"
Ksatria tersebut mendengar suara samar-samar, mencoba mencari sumber suara itu.
"Ck! Dasar tuli! Aku disini! Aku kesana saja!"
Tapi sebelum mencapai Ksatria itu, sebuah tangan membekap mulutnya dan menarik Isha kembali ke dalam gang yang gelap itu.
Karena tidak melihat siapapun, Ksatria itu lebih memilih pergi dan mencari di tempat lain.
'Sialan! Berbalik! Hei aku disini!'
"Ck! Hampir saja! Ini kesempatan kita! Habisi dia dan tinggalkan disini!"
'Mereka akan apa!?'
"Kita tidak bisa meninggalkan nya! Itu berarti meninggalkan bukti!"
"Ck! Buang ke sungai!"
Tanpa basa-basi salah satu dari tiga orang itu mencabut pedang dari sarung nya dan mengarahkan ujungnya tepat di leher Isha.
'Oh tidak!! Gawat gawat gawat!'
Isha meringis saat ujung pedang tersebut menggores kulit lehernya. Tangan yang ia gunakan untuk memberontak kini beralih, berusaha mengambil kalungnya yang memiliki perak berbentuk runcing yang mengikat permata nya.
"Membunuh gadis kecil begini benar-benar tidak perlu kerja keras."
"Sayang sekali, padahal dia lumayan mahal di pasar gelap—"
Berhasil! Dia dapat kalungnya! Dasar bodoh! Banyak bicara!
Dia mencabut kalungnya hingga putus dan membuat mereka terkejut, mereka tidak menyadari kalungnya memiliki bagian yang tajam!
Dengan cepat dia menusuk tangan orang yang membekap mulutnya, menyebalkan! tangannya bau sekali!
AGH!!
"Gadis bodoh! Beraninya kau!"
"Ya! Dan aku ingatkan kalian, aku hanya ceroboh! Bukan bodoh seperti kalian!!" Teriaknya sambil berlari menjauh.
Ketiga pria yang adalah pembunuh bayaran itu mengejarnya, salah satu diantara mereka melompati tembok dan naik ke atap.
Isha melirik ke atas, dia lari lebih kencang karena jika orang itu berhasil melewatinya, dia pasti di sergap dari depan!
Tapi sepertinya nasibnya sedang buruk hari ini, gaunnya memperlambat laju larinya sehingga pembunuh itu berhasil menyergapnya dengan melompat ke bawah, tepat di hadapannya.
"E.. Hahaha... Nasib ku hari ini buruk sepertinya..." Tawanya mencoba tetap tenang.
"Tidak usah banyak basa-basi, habisi bersama!"
Isha memejamkan matanya, tidak ada jalan keluar, mungkin memang takdirnya hari ini.
Sial!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
'Eh..? Tidak sakit—sakit dileher ku tentu saja! Tapi tunggu.. Aku baru saja terbang!?'
Dengan keberanian yang tersisa dia membuka matanya, dia di atap! Apa magisnya berguna disaat terakhir!?
Tentu saja tidak, harapannya patah saat melihat sebuah tangan yang memeluknya, dia menoleh kebelakang dan mendapati
seseorang—seorang pria mengenakan jubah dan masker hitam.
"Bersihkan"
Suara bassnya yang berat membuat Isha merinding seketika, dia tahu orang itu! Tapi dia akan sampai besok bukan!? Mengapa dia disini!?
Isha mencoba melihat ke bawah namun pria itu mengalihkan kepalanya agar tidak melihat kebawah.
Belum sempat mengatakan apapun badannya sudah oleng, sepertinya dia anemia! Lain kali akan dia cabik cabik leher pembunuh bayaran itu!
'Ugh... Kepalaku rasanya berputar... Semoga dia tidak meninggalkan ku disini saat—'
Arion hanya memandangi gadis yang pingsan dipelukannya dengan wajah datar dibalik masker yang ia kenakan.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang gadis mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Dia meraba lehernya yang terasa tegang dan nyeri.
'Aku... Masih hidup? Masih hidup!? Oh Tuhan aku menyayangimu!'
"L-Lady? Lady sudah bangun! Oh ya Tuhan! Nyonya!"
Belum sempat melihat wajah Milla, gadis itu langsung pergi memanggil Marchioness.
Tak lama kemudian ibundanya masuk ke kamar Isha dengan terburu-buru dan membawa seorang dokter.
"Putriku bangun! Astaga... Putriku yang malang... Dimana yang sakit!? Cepat periksa dia, jangan hanya berdiri disana!"
"B-Baik Nyonya..." Dokter itu tergugup saat memeriksa Isha, untungnya luka yang tidak terlalu dalam dan dia hanya anemia biasa karena Isha bukan tipe darah rendah.
Setelah puas membuat Dokter tersebut pergi dengan tekanan, kini Marchioness memarahi Isha habis-habisan.
"Ibu sudah mengatakannya! Lihat! Kecerobohan mu mulai membawa bahaya untuk dirimu! Ibu tidak akan mengizinkan mu datang besok!"
"Ibu!? Ibu jangan... Isha akan lebih berhati-hati... Sungguh..." Pinta Isha.
"Lady... Saya rasa lebih baik Anda mendengarkan Nyonya... Saya shock saat melihat Anda tergeletak dipinggir gang dengan luka seperti itu..." Mohon Milla, dia benar-benar hampir pingsan saat melihat Lady nya tergeletak di pinggir gang.
Yang membuatnya takut adalah sisa darah yang berceceran dan pedang yang tergeletak disebelahnya dengan sebuah pesan.
Hari ini kau selamat, dasar ceroboh.
Isha terkejut bukan main, sudah ia duga! Rajanya Monster seperti dia tidak mungkin punya hati!
"Ibu—
"Tidak ada kata 'tapi'! Ibu sudah cukup khawatir, kamu ingin ibu pingsan dan shock karena menghawatirkan mu!?"
"Tidak..."
"Tetap dirumah hingga besok atau hukuman kamar 1 bulan!"
Isha hanya menghela nafas,ibunya tidak akan mengerti, nyawanya selamat hari ini, justru kalau tidak datang, entah bagaimana nyawanya melayang besok.
'Adakah cara mati yang tidak menyakitkan?'
.
.
.
.
.
.
.
.
Mansion Grand Duke
"Marchioness melarang Lady Axena pergi besok, Grand Duke." Lapor sang ajudan—Felix.
"Jadi? Kau ingin aku melakukan apa? Menjemputnya? Tidak Felix, tidak... Dia harus datang sendiri untuk nyawanya..."
Arion masih fokus pada catur yang ia mainkan bersama seorang wanita dihadapannya.
"Lagi-lagi seperti ini... Jangan melakukannya seperti biasa Rio... Kamu sudah berjalan terlalu jauh! Yang lain mungkin kau anggap kekasih gelap jadi bisa kau singkirkan begitu saja!
"Tapi yang ini tunangan mu! Kaisar sudah mengeluarkan Dekrit! Entah rumor apa yang akan datang lagi kalau gadis itu menghilang... Aku lelah menghadang rumor untuk mu sialan!" Ucap wanita tersebut sambil menjalankan pionnya.
"Itu sudah tugasmu untuk mengendalikan dunia sosialita, Sofia... Kau tidak bisa mengeluh padaku. Tetap tenang dan tidak usah banyak ikut campur, aku hanya memilih pion yang bagus, sisanya? Tentu saja hanya sekedar umpan...
"Lagipula Vort tidak akan berani mengusikku..." Pernyataan Grand Duke semakin membuat Sofia pusing tujuh keliling, dia hafal kebiasaan pria ini.
"Kau akan mendapat sanksi karena menyebut nama Kaisar tanpa—!? Skakmat!?" Ucapan Sofia terpotong sendiri karena terkejut.
"Berapa kali harus kukatakan? Tetap tenang dan jangan perhatikan yang lainnya, Sofia. Urus saja para bangsawan yang tidak tahu diri itu.
"Dan soal Vort, dia bisa menjadi Kaisar karena kakek mengangkat nya sebagai anak. Dia beruntung, kalau seandainya ayah masih hidup, dia mungkin sudah luntang-lantung di gang pinggiran ibukota."
Langkah Arion terhenti kala dengan lancangnya Sofia berkata.
"Masih untung bukan kau yang luntang-lantung di jalanan setelah Kaisar naik tahta—AA!!"
Grand Duke melempar pisau tepat disebelah lehernya.
"Beruntung bukan leher tetapi rambutmu yang putus, Sofia. Urus pekerjaanmu dengan benar sebelum mengomentari hidupku."
Grand Duke Dalton dan sang ajudan meninggalkan wanita yang terduduk meratapi rambutnya di lantai teratas restoran yang merupakan ruang VIP yang biasa ia pesan.
__________________________
Book baru lagi!
Tapi draft lama, wkwkwk
Baca= Vote
Vote= Follow
Follow= Share
Jan lupa rumus diatas ya!!!
Sekian Terima Changbin jadi suami saya 🔥!