19 Desember
1183 words
.
.
.
Di sebuah tempat dengan suasana mencekam terdapat sebuah bangunan mewah nan megah yang berdiri kokoh.
Suasana di dalam sana sangat kacau. Bau amis yang pekat berasal dari beberapa mayat pelayan serta barang-barang yang berserakan. Seperti telah terjadi penyerangan disana.
"Tuan?!".
"Tuan besar?!".
"TUAAAN??!!".
Seorang pria dengan setelan jas berlarian sembari berteriak disana.
"Tuan Haikuan, saya telah melacak lokasi tuan besar berada". Sahut seorang lagi dengan setelan yang sama, tapi badannya lebih kurus.
"Dimana itu Bowen?". Tanya pria yang dipanggil Haikuan tadi.
"Saat ini tuan besar berada di wilayah bagian barat Tiongkok. Namun titik lokasi tidak akurat, sepertinya tuan besar berhasil melarikan diri sampai sana". Jelas pria yang di panggil Bowen.
"Lakukan penyelidikan. Kirim juga beberapa anggota kesana untuk mencari tuan besar". Titah Haikuan.
"Siap tuan! Laksanakan!".
Kemudian pria yang di panggil Bowen tadi berlalu.
Haikuan, atau Liu Haikuan memijat pelipisnya pelan. Dahinya mengerut, wajahnya memerah menahan amarah.
"Ini semua salahku! Jika saja aku tidak datang terlambat, maafkan aku tuan". Gumamnya dengan lirih penuh penyesalan.
.
.
.
BJYXSZD 🦁🐰
.
.
.
Wang Yibo membuka matanya perlahan. Mengerjap-ngerap untuk menyesuaikan dengan cahaya. Manik gelapnya yang tajam bergulir, melihat sekeliling. Sebuah ruangan yang asing.
"Ssshh... Argh..". Wang Yibo merintih.
Tiba-tiba rasa sakit menyerang di bagian kepala dan bahu kirinya. Mencoba mengingat apa yang telah terjadi, ia diserang kelompok musuh yang bekerjasama dengan salah satu anak buahnya yang berkhianat.
Kemudian ia melarikan diri dan berakhir di tempat yang tidak ia ketahui karena mobil yang tumpangi meledak.
Yang terkahir ia ingat, sepertinya seseorang membawanya pergi. Dan mungkin saja orang itu menyelamatkannya.
Ngomong-ngomong dengan orang itu sepertinya kamar ini miliknya.
Menoleh ke samping kanan, ia merasakan tangannya menggenggam sesuatu. Wang Yibo melihat tangan miliknya menggenggam tangan seorang pemuda yang tertidur di sisian ranjang.
'Cantik'.
Dalam hati Yibo memuji kecantikan yang dimiliki pemuda yang sepertinya berusia lebih muda darinya.
Perlahan Yibo melepas genggaman tangannya takut membangunkan si pemuda cantik yang nyenyak. Tangannya terulur mengelus pipi pemuda itu dengan lembut.
'Halus'.
Bulu mata yang lentik, hidung bangir dan satu titik mole kecil di bawah bibirnya yang semerah buah ceri.
'Apakah dia yang membawaku?'. Tanya Wang Yibo dalam hati.
Wang Yibo melamun tanpa menghentikan elusan nya di pipi si cantik. Pandangannya tidak fokus, jauh menerawang.
Apakah tangan kanannya selamat?
Apakah bawahannya yang lain juga selamat?
Bagaimana dengan anak buahnya?
Berapa banyak ia kehilangan mereka?
Karena asyik melamun, Wang Yibo tak menyadari pemuda yang ia elus pipinya sudah bangun.
Itu Xiao Zhan. Dengan wajah yang memerah, tubuhnya membeku merasakan detak jantungnya yang meningkat.
Mata rusanya yang cerah menatap bingung sekaligus gugup kepada pria yang mengelus pipinya sedari tadi sampai ia terbangun. Jujur saja, Xiao Zhan pertama kali mendapatkan perlakuan seperti ini dari orang lain.
"Err.. A-Anu.. Tu- Tuan?".
Wang Yibo tersentak setelah mendengar sebuah suara lembuh.
"A- Ah. Ekhem, maafkan aku". Ujar Yibo kemudian melepaskan tangannya dari pipi Xiao Zhan.
Xiao Zhan bangkit dan duduk dengan tegap, tangannya terulur keatas dahi milik Yibo yang membuat si empunya sedikit tersentak karena aksi spontan Xiao Zhan.
"Ah, panasnya sudah turun syukurlah. Aku akan memanggil ibu, tuan beristirahatlah. Akan ku ambilkan obat dan makanan". Sahut Xiao Zhan kemudian dengan segera bangkit menutupi rasa gugup dan panas yang menjalar di wajahnya.
Sepeninggal Xiao Zhan di balik pintu, Wang Yibo menyunggingkan senyum yang bahkan orang-orang terdekatnya pun tidak pernah melihatnya.
.
.
.
BJYXSZD 🦁🐰
.
.
.
"Tuan minumlah obat ini. Ini akan membantu penyembuhan luka anda dengan cepat". Ujar Xiao Zhan sembari menyodorkan semangkuk kecil obat herbal pada Wang Yibo.
Wang Yibo menerimanya dengan senyum kecil tersungging, Xiao Zhan merona.
"Terimakasih".
Kemudian Wang Yibo menyeruput obat yang diberikan Xiao Zhan sembari menatap tajam seorang perempuan yang berada di belakang Xiao Zhan.
Zhao Liying, ibunya Xiao Zhan. Ia mengikuti putra kemari saat mengatakan kalau pria yang dibawanya tadi siang sudah siuman.
Sedari masuk kedalam kamar anaknya, Zhao Liying tidak melepaskan tatapan tajamnya kepada pria itu, Wang yibo.
Xiao Zhan sendiri tidak mengetahui bahwa ibunya dan pria yang ia selamatkan saling melemparkan tatapan membunuh. Ia tertunduk, entah kenapa merasa gugup setelah mendapatkan senyuman dari si pria tampan.
"Aku sudah meminumnya". Sahut Yibo, membuat Xiao Zhan mendongkak.
"Ah iya, kemarikan mangkuknya". Pinta Xiao Zhan.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku dan membawaku ke rumahmu". Ujar Wang Yibo, bagaimanapun dirinya harus tahu diri, kalau Xiao Zhan tidak menemukannya dan merawatnya ada kemungkinan ia menghadap tuhan saat ini.
Ah, tuhan ya?
Wang Yibo terkekeh karena pikirannya, Xiao Zhan menatap pria tampan di hadapannya dengan tatapan aneh.
'Apa dia menjadi gila?'. Tanya Xiao Zhan dalam hati.
"Namaku Xiao Zhan tuan, itu ibuku. Siapa nama anda?". Tanya Xiao Zhan.
"Wang Yibo". Jawab Yibo singkat, Xiao Zhan mengangguk.
"Segeralah pergi dari sini jika kau sudah merasa lebih baik". Sahut ibu Xiao Zhan, Zhao Liying dengan nada ketus dan tatapan tajamnya.
"Ibu!". Xiao Zhan kaget dengan apa yang diucapkan ibunya, tidak seperti ibunya saja.
Sementara itu Wang yibo menyeringai membalas ucapan dari wanita itu.
Zhao Liying melotot tidak percaya dengan respon yang ia dapat dari Wang Yibo, kemudian ia melenggang pergi dar kamar anaknya.
"Ah tuan Yibo, maafkan perkataan ibuku, mungkin suasana hatinya sedang buruk. Ibuku bukan orang yang seperti itu". Ujar Xiao Zhan.
"Kau bisa istirahat disini sampai kapanpun kau sembuh tuan". Lanjutnya, Wang Yibo masih tetap menyeringai.
Xiao Zhan sedikit bergidik melihat seringai yang sialnya terlihat tampan itu.
"Terimakasih kau sangat baik. Ah jangan panggil aku tuan, kau bukan bawahan ku. Aku lebih tua darimu sepertinya, panggil aku gege saja". Timpal Yibo.
"Baik Yibo gege". Xiao Zhan kembali mengangguk.
.
.
.
BJYXSZD 🦁🐰
.
.
.
Sore itu Xiao Lan, ayah Xiao Zhan terkejut ketika pulang mendapati sosok pria asing bertelanjang dada dengan perban di badannya.
Hampir saja ia berteriak dan menelpon polisi sebelum Xiao Zhan menghentikannya.
Putra semata wayangnya itu bilang bahwa ia menemukan pria ini dalam keadaan tidak sadarkan diri saat perjalanan pulang.
Xiao Lan bernafas lega, setidaknya pria yang memperkenalkan diri dengan nama Wang Yibo itu bukan orang mesum yang mengganggu istri dan anaknya.
"Maaf atas ketidaksopanan ku tuan Wang". Ujar Xiao Lan, Wang Yibo menggeleng.
"Tidak apa-apa tuan Xiao tidak perlu meminta maaf. Justru saya seharusnya berterimakasih karena jika bukan karena putra anda saya tidak akan selamat". Sanggah Yibo.
Xiao Lan tersenyum, kemudian tatapannya beralih ke arah putranya yang wajahnya merah. Ia mengernyit, apakah anaknya terkena demam?
"Zhanzhan kenapa kau tidak memberikan baju untuk tuan Wang?". Tanya Xiao Lan.
"Badanku kecil ayah, tidak akan muat. Tidak mungkin Yibo gege memakai baju ibu kan?". Tanya Xiao Zhan balik, Wang Yibo yang mendengarnya hampir menyemburkan teh yang sedang ia minum.
Xiao Zhan ini, melawak ya?
"Astaga, kenapa tidka kau berikan saja baju ayah nak?". Xiao Lan menghela nafas.
"Oh iya! Kenapa aku tidak kepikiran ya dari tadi?". Xiao Lan menepuk jidatnya keras.
Anaknya ini agak telmi memang.
Wang Yibo terkekeh melihat interaksi ayah dna anak di hadapannya. Entah kenapa sudut di dalam hatinya menghangat.
"Kalau begitu sebentar, akan ku ambilkan". Lanjut Xiao Zhan.
Kemudian Xiao Zhan melenggang pergi mengambilkan sepotong kaus untuk dipakai Yibo.
Sepeninggal Xiao Zhan, atmosfer di sana tiba-tiba memberat.
.
.
.
TBC
Guys...
Gimana menurut kalian sampai sini? Semoga kalian suka ya, nantikan terus kelanjutannya.
Dan jangan lupa tinggalkan jejak.
Keow Ban, 2023