Rilianne melihat pantulan dirinya di cermin. Ia memakai gaun penobatan ibunya dulu yang berwarna kuning dengan renda-renda putih. Rambut pirangnya yang pendek disanggul ke dalam, agar tetap rapi saat ia dimahkotakan. Lehernya dihiasi kalung berhiaskan ruby berwarna merah dan riasan wajahnya... yah, juga sudah sempurna.
"Ini jubahmu, Rilianne." Allen yang sedaritadi berada di belakang Rilianne pun memberikan jubah kerajaan yang berwarna biru tua dengan motif lambang kerajaan Lucifenia dan bulu kapas berkualitas di sekeliling jubah.
"Terima kasih, Allen." Jika Rilianne dan Allen hanya berdua, mereka saling memanggil nama. Tapi jika mereka berada di hadapan publik, mefeka saling berbicara sopan dan formal.
Allen membantu Rilianne memasang jubahnya, dan barulah Rilianne tampak menakjubkan.
"Jika dilihat dengan cermat, kau sangat mirip dengan ayah. Kita memang jelas-jelas mendapat rambut pirang ibu, namun jelas pula kita mendapat warna mata ayah." gumam Allen saat melihat tampilan Rilianne di cermin.
"Mungkin karena inilah ibu selalu menangis denganku." kata Rilianne, menatap mata biru muda yang persis seperti milik ayahnya. "Mungkin di dalam hati ibu, ibu masih mencintai ayah."
"Ayah juga suka mengalihkan pandangan ketika melihatku." tambah Allen murung. "Saat melihat potret ayah saat remaja, aku memang merasa mirip sekali dengannya. Katanya ia seakan melihat dirinya saat baru menjadi raja saat menatapku. Kecuali warna rambut kami, tentunya."
Rilianne dan Allen pun terdiam dalam waktu yang lama, seakan sedang tenggelam dalam kenangan masa lalu.
"Kalau ayah dan ibu saling mencintai..." gumam Rilianne tiba-tiba. "Kalau mereka saling mencintai, kenapa memilih untuk berpisah?"
"Karena orang yang saling mencintai tidak harus selalu bersama." jawab Allen datar.
"Apakah aku akan seperti itu juga? Mencintai orang namun suatu hari memilih untuk berpisah?" tanya Rilianne, lebih kepada diri sendiri.
"Tidak perlu berpikir begitu. Walau bagaimana pun, aku akan selalu menyayangimu, Rillianne." Allen pun memeluk adiknya penuh kasih sayang. Diam-diam Rilianne mengalirkan air mata.
"Allen, aku belum siap memimpin kerajaan Lucifenia..." bisik Rilianne sambil tetap memeluk kakak kembarnya. "Aku tahu aku dibesarkan ibu menjadi anak manja. Bagaimana jika aku melakukan hal yang salah? Bagaimana jika rakyat tidak menyukai pemimpin baru mereka? Bagaimana jika--"
"Tenang saja, Rilianne..." potong Allen. "Jika mereka menyakitimu, aku akan menjalankan tugasku untuk melindungimu."
Rilianne tersenyum mendengar tuturan kakaknya itu. "Terima kasih, Allen."
"Baiklah, sepertinya kita sudah menghabiskan banyak waktu di sini. Nanti kau akan terlambat di upacara penobatanmu sendiri."
♤♤♤
Di ruang tahta, berbarislah bangsawan-bangsawan Lucifenia (Yellow Country) dengan busana berwarna kuninh maupun Beelzenian Empire (Red Country) yang datang sebagai saksi penobatan sang Ratu. Tentu saja perwakilan Kingdom of Elphegort (Green Country) dan Kingdom of Marlon (Blue Country) ikut serta dalam penobatan Rilianne.
Di ujung ruangan, Rilianne muncul dengan anggun. Ia berjalan menyusuri karpet merah dimana semua tamu undangan melihatnya, dan para bangsawan termasuk Allen berbaris di pinggir karpet dan memberi hormat kepada sang Ratu. Rilianne tampak sangat berwibawa, ia berjalan lurus sampai tiba di singgasananya.
Setelah berdiri di depan singgasananya dan memegang sebuah tongkat dan bola kerajaan di kedua tangannya, tetua kerajaan memberikan royal speech. Dilanjutkan dengan pengucapan sumpah Rilianne, dan setelah itu diakhiri dengan meletakkan mahkota kerajaan di atas kepala Rilianne.
Rilianne menerima banyak tepuk tangan sementara dirinya berusaha menyembunyikan kegugupan dengan duduk di singgasananya.
"Sekarang aku menobatkanmu sebagai Ratu Rilianne I dari Lucifenia."
♤♤♤
June 29, 2015
Diedit kembali saat July 22, 2015
♡Thaniamelia