*****
Menuruni tangga menuju ruang tamu, Chery tampak rapih dan wangi. Aroma strawberry menguar dari dirinya.
Ketika hanya tinggal beberapa anak tangga lagi, Chery berhenti melangkah. Di sana, di ruang tamunya, terdapat sosok GAV!
Ngapain tuh orang di sini, ya? Apa gara-gara ditinggal lari oleh Chery, kemarin?
Hendak membalikkan langkah menuju atas, tapi mamanya duluan menyadari kehadiran Chery. "Cher! Sini, ini ada tetangga baru kita yang semalem mamah ceritain."
"Hehehe, oke mah," Chery menampilkan cengirannya canggung karena tertangkap basah ketika hendak kabur.
Duduk disamping mamanya, dan berhadapan dengan Gav. Chery berusaha tetap santai seakan tidak mengenal Gav, bersikap seperti mereka adalah orang asing yang baru bertemu.
Berbeda dengan Chery, Gav justru terus-terusan menatap Chery dengan sorot berbinar-binar. Ia tidak bereaksi apa-apa selain menatap Chery dengan intens, karena ia tau apa yang akan mamanya lakukan sebentar lagi akan menguntungkannya.
Kedua perempuan paruh baya ini nampak asik mengobrol ria dan melupakan keberadaan anak mereka. Chery hanya menyimak, dan mengangguk-ngangguk walau tidak diajak nimbrung, berusaha tidak peduli pada keberadaan Gav di depannya.
Hingga tiba-tiba, "Cher, besok kamu udah mulai sekolah lagi, kan?" mamanya bertanya kepada Chery.
"Iya mah, kenapa?" jawab Chery agak bingung, untuk apa perlu ditanyakan lagi di depan kedua orang ini?
Firasatnya agak buruk.
"Nah sip banget, besok kamu berangkat bareng Gav, ya. Ajak dia temenan, kalo perlu kalian satu bangku juga deh!" Seru mamanya antusias.
"Kenapa aku harus? Gav udah gede, dia bukan anak tk yang bakal kesasar berada di sekolah luas sendirian, mah," jawab Chery agak kalem, mencoba tidak menolak mamanya dengan brutal.
Tangan Chery digenggam oleh mamanya Gav, "tolong nak Chery, bimbing Gav. Kami baru pindah ke kota ini, belum tau seluk beluk daerah sini, nak."
"Nah, bener tuh, Cher! Apalagi kamu kan sama-sama baru akan masuk sekolah lagi, kasian Gav baru pindah sekolah belum punya temen," tambah mama Chery membujuk.
"Tapi mah, Gav itu cowo dan dia bakal gampang punya temen, please deh." Oke Chery udah gak tahan atas paksaan paksaan ini.
"Cher, mereka tetangga baru kita dan mamanya Gav itu bestie mamah waktu SMP, oke?" Mama Chery telak. Tidak mau menerima penolakan lagi.
"Ok fine."
******
Suasana pagi hari diselimuti embun pagi kali ini tidak membuat mood Chery baik. Karena begitu Chery keluar rumah hendak pergi ke sekolah menggunakan motornya, Gav sudah nangkring di atas motor vespa miliknya.
Huftt..
Cobaan yang berat di pagi hari, bukan?
"Mending kamu turun dari motorku! Kalau memang mau berangkat bareng, kamu bisa pake motor kamu sendiri lalu ikuti aku di belakang."
Menggeleng yakin. "Tidak mau, aku mau berangkat bareng Chery, tuh."
"Iya bareng, tapi sana naik motormu sendiri!"
"Kamu mau telat? Ini udah jam 7 kurang, Chery. Aku ada 15 menit an nunggu kamu selesai makan, loh." Gav mencoba membicarakan hal lain.
"Tch, siapa juga yang minta ditungguin! Yaudah deh, kali ini aja ya! Besok dan seterusnya kamu naik motormu sendiri!" Putus Chery akhirnya, ia tidak ingin telat hanya karena mempermasalahkan motor.
Wajah Gav sumringah mendengar keputusan Chery yang akhirnya menerimanya berangkat bersama. "Nah gitu dong! Ayo Chery, cepet naik. Aku di belakang, ya!"
Memutar bola matanya malas, Chery hanya berdeham saja, "hm." Lalu naik ke motornya dan memakai helm warna peach.
Sudah menyalakan motor hendak meng-gas, tiba-tiba Chery merasakan perutnya dililit oleh sepasang tangan. Ia melotot, hendak protes tapi- "cepat Chery! Ayo berangkat!" Suara Gav mencegahnya marah.
Akhirnya Chery pun berusaha acuh dan mereka pun berangkat. Di jalan, lagi-lagi Gav berbuat sesuatu yang 'siapa sangka.'
Gav menaruh dagunya di bahu Chery. Sudah memeluknya, menopang kepalanya di bahunya, lagi. Dasar kurang ajar! Dibaikin minta lebih!
"Kamu mau aku turunin di sini?!" Chery geram.
"Chery, besok kita berangkat pake motor aku, ya. Gantian, kan hari ini udah pake motor kamu." Gav malah menjawab dengan topik lain.
"Gak mau! Aku pakai motorku sendiri!"
"Kalau gitu aku nebeng kamu lagi aja kalau kamu gak mau bareng pakai motorku. Kamu pilih mana?" Mencoba memberikan penawaran.
"Apa bedanya!"
"Beda, kalau pakai motorku, kamu jadi hemat bensin. Yakin tidak mau? Aku bakal ngadu ke mamah kamu kalau kamu biarin aku berangkat sendiri." Ancamnya.
"Ngelunjak ya, nih orang! Aku mau kalau motor kamu keren."
"Motor aku keren, Chery. Lihat saja besok."
"Terserah."
*****
Chery mengantar Gav sampai di depan ruang kepala sekolah, "sampai sini aja, aku mau ke kelas. Bye~"
Chery pergi dengan senyuman. Tentu saja ia tersenyum, bagaimana tidak? Bebannya hari ini hanya sampai di sini.
Chery hanya tidak tau, bahwa ketika bel berbunyi, Gav datang ke kelasnya. Ya, mereka satu kelas, Gav menyogok.
Guru memperkenalkan bahwa ada anak baru yang datang dan akan menetap di kelas ini. Wajah Chery langsung tanpa ekspresi, sial! Apa dunia tidak berpihak padanya?!
Setelah memperkenalkan dirinya, Gav disuruh duduk di kursi kosong paling belakang yang tepat sekali berada di belakang bangku Chery. Double shit, man!
Berusaha tidak peduli, Chery memperhatikan guru di depan sana yang menerangkan pelajaran kimia.
Tapi sepertinya Gav tidak membiarkan Chery tenang, ia menendang-nendang bangku perempuan yang duduk di samping Chery. Berusaha mengusiknya.
"Apa sih?!" Kan, akhirnya perempuan itu terganggu juga.
"Lo pindah di sini, gue mau duduk di samping Chery." Jelas Gav.
"Gak! Apa-apaan! Gue yang duduk duluan di samping Chery! Lo tuh anak baru, jadi lo duduk aja sendiri noh di situ!"
"Yaudah, gue bakal ganggu lo terus sampe lo pindah sendiri." Gav acuh, ia tetap mengusik perempuan yang duduk di samping Chery itu. Entah menarik-narik rambutnya, menendang-nendang kursinya atau menimpuknya dengan rematan kertas.
"Argh! Yaudah sini lo pindah," Ia tak kuat. "Cher, gue pindah, ya. Lo baek-baek dah sama nih cowo sinting."
"Loh? Oke, da. Sehari doang, kan? Besok Lia kan udah masuk, jadi Lia yang bakalan duduk sama Gav." Chery menjawab.
"Gak! Gue bakalan terus duduk sama Chery." Gav menolak, "lo mau gue gangguin setiap hari cuma buat tukeran tempat duduk kaya gini?" Ancamnya kepada perempuan yang di panggil 'da' oleh Chery.
Menatap Gav ngeri, "gak deh, Cher. Lo kasian sama gue kan? Biar aja besok gue duduk sama Lia, lo sama Gav terus gapapa kan?"
Ini agak nyesek, bagaimana hari-hari Chery berjalan kalau ia terus duduk dengan Gav? Chery hanya mengangguk pasrah merespon temannya.
Tidak puas hanya duduk di samping Chery, Gav kembali mencari perhatian. Ia tersenyum manis dan memajukan kepalanya berada di hadapan Chery, "Chery.. main yuk!"
Kaget. Chery hendak berbicara marah tapi ketika melihat senyuman manis Gav, Chery hanya berusaha mengabaikan keimutan Gav dihadapannya.
Merasa diabaikan, Gav cemberut, lalu ia memilih menyenderkan kepalanya di bahu Chery.
Hidungnya tak sengaja menghirup aroma wangi segar yang menguar dari tubuh Chery. "Cher, kamu wangi sekali. Ini wangi.."
"Masa iya!?" Chery tiba-tiba excited. Menolehkan kepalanya ke bawah, menatap wajah Gav yang bersandar di bahunya.
Mereka sama-sama diam karena jarak yang begitu dekat. Chery yang menghadap ke bawah dan Gav yang menghadap ke atas. Kurang lebih hanya berjarak 5cm.
Sadar, Chery mendorong Gav menjauh. "E-ee, ini wangi strawberry. Enak y-ya?"
Gav mengangguk antusias, "hu'um, enak! Aku suka wangi kamu, Chery."
Chery kembali excited, ia bahkan tak sadar tersenyum. "Oh ya, kamu pindah ke sebelah sini. Aku mau di pinggir."
"Kenapa? Apa kamu takut aku pojokin, kaya.." Gav maju mendekati Chery pelan-pelan.
"Stop! Cepet pindah, Gav."
Gav menurut, mereka bertukar tempat duduk. Gav berada di pojok, sedangkan Chery di pinggir.
"Ini tuh sebenarnya bangku ku! Nih liat, tas peach milikku. Kamu lihat tadi pagi aku pakai tas ini, kan?" Tunjuk Chery pada tas warna peach itu.
Gav hanya merespon dengan mengangkat bahunya.
Chery geram atas respon acuh Gav, ia membuka tas berwarna peach tersebut dan mengambil salah satu buku. Menunjukkannya dihadapan Gav, "nih ada namaku, Chery!"
Benar. Di buku itu tertulis nama Chery.
Gav mengangguk-ngangguk percaya, "kamu itu.. suka sekali dengan peach, ya?"
Setelah memasukkan buku itu kembali ke dalam tasnya, Chery mengangguk dengan excited kembali. "Iya! Warna peach itu bagus banget, kan? Cantik banget! Aku suka semua tentang strawberry dan peach."
Chery gampang excited ketika membicarakan hal-hal yang ia suka. Salah satunya strawberry dan peach.
"Lalu bagaimana dengan parfum peach? Apa ada?" Pancing Gav memulai percakapan yang seru dengan Chery.
"Ada! Kamu mau menciumku dalam wangi peach?"
"Menciummu? Seperti.." Gav hendak maju, tapi Chery duluan sadar dan menghentikan gerakan Gav.
"Maksudku, menghirup. Y-ya, menghirup wangiku." Chery meralat dengan gugup.
Mereka mulai saling berbincang-bincang. Seperti Gav menggoda Chery, lalu Chery akan menyangkal. Lalu membahas hal lain lagi.
*****