• 20 tahun kemudian •
Seorang gadis cantik keluar dari kamarnya memakai kaos putih polos dengan Hoodie abu-abu, celana jeans pendek dan memakai topi, tidak lupa sepatu sneaker nya.
Gadis itu berlari kecil menuruni tangga rumahnya. Hyunsuk dan yedam yang berada di dapur menoleh dan menatap punggung gadis itu yang berlalu ke pintu.
"Hei. Kamu mau kemana?" Tanya hyunsuk sedikit berteriak.
"Keluar kak, aku mau lihat mereka bertanding basket" sahutnya tanpa menoleh kebelakang.
"Hati-hati naik sepedanya" ucap hyunsuk.
"Iyah kak" jawabnya setelah keluar dari rumah.
"Dia sudah tumbuh dewasa, gue gak nyangka" ucap yedam tersenyum.
"Waktu berlalu begitu cepat" sahut hyunsuk.
Di luar rumah, gadis itu memandang bingung pasalnya sepeda miliknya roda nya kempes dan hanya ada satu sepeda besar, udah pasti itu milik Asahi.
"Kamu mau kemana?"
Adina sedikit kaget saat mendengar suara seseorang, dia membalikkan badannya tapi tidak ada siapapun di sekitarnya.
"Di atas dina" gadis itu mendongak menatap atap atas rumah.
Lantas dia tersenyum lebar melihat salah satu kakaknya ada di sana.
"Kak sahi" panggilnya. Satu hal yang selalu melekat dari adina adalah dia selalu tersenyum kala berhadapan ataupun mengobrol dengan kakak-kakaknya.
_Images Asahi_
"Aku mau nonton kak ruto, kak jeongwoo sama kak junghwan main basket"
"Sendirian?"
Adina mengangguk. "Iyah, tapi roda sepeda aku kempes, kak asahi, boleh aku pinjam sepeda kakak?"
"Kamu bisa membawanya? Nanti kalo kenapa-kenapa bagaimana?"
"Jangan khawatir, aku bisa kok, jadi boleh kan aku pinjam?" adina memasang wajah imutnya agar kakaknya mau meminjamkan sepeda miliknya.
Asahi membuang nafas panjangnya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Janji hati-hati membawanya"
"Aku janji, terimakasih kak sahi, kakak yang paling terbaik hehe"
Adina segera menaiki sepeda milik asahi, sedangkan asahi hanya bisa tersenyum tipis melihat bagaimana adik kecilnya itu kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik berusia 20 tahun.
_Images Adina_
"Ingat, hati-hati" ujar Asahi sekali lagi.
Adina mengangguk dan memberikan jempolnya ke arah Asahi.
"Aku berangkat, bye kakak" gadis itu menggowes sepeda keluar gerbang rumah.
"Dia benar-benar sangat berbeda dari adina kecil" gumam asahi.
Di sepanjang jalan menuju lapangan basket yang ada di dekat taman, adina terus menggowes sepedanya dan menikmati keindahan langit biru dengan udara yang segar.
Adina berhenti sebentar di depan toko makanan, dia memarkirkan sepedanya di pinggir jalan, lalu berjalan masuk ke dalam toko tersebut.
"Selamat pagi nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Umm... Aku mau pesan roti Chalbori-ppang dan cronut"
"Baik, tunggu sebentar ya"
Sekitar sepuluh menit kemudian pesanannya tiba.
"Jadi seratus won"
"Ini uangnya, terimakasih mbak"
"Sama-sama, selamat menikmati" Adina menenteng plastik berisikan roti tersebut untuk ketiga kakak laki-lakinya.
Setelah itu dia kembali menggowes sepedanya untuk sampai di lapangan.
______________________
Di kantornya jihoon, lelaki itu melepaskan kacamatanya setelah selesai memeriksa beberapa berkas yang menumpuk sejak subuh tadi.
Suara ketukan pintu terdengar di telinganya.
"Masuk"
Pintu terbuka dan seorang pria yang menjadi sekretaris di kantornya itu masuk.
"Kamu sudah menyelesaikan semuanya, hansol"
"Sudah bos, beberapa klien juga sudah menerima proposal tersebut, sebagian dari mereka setuju dan akan membuat jadwal untuk pertemuan selanjutnya"
"Sebagian?"
"Benar bos, tuan baek ji belum memberikan keputusannya, tapi saya yakin beliau akan segera menyetujuinya"
"Kamu urus saja semuanya, kalo sudah selesai semua baru beritahu saya"
"Baik bos"
"Apa ada lagi?"
"Oh ya, baru saja ada undangan pesta pertemuan dari Mr. Gerrad malam ini dan ini undangannya"
Hansol meletakkan iPad tersebut di meja kerja jihoon, lelaki itu melihat link undangan pertunangan dari Mr. Gerrad yang merupakan klien bisnisnya sejak lama.
"Kosongkan semua jadwal dan siapkan mobil untuk nanti malam, bilang kepadanya aku akan datang bersama seseorang"
"Baik bos"
"Oh ya satu lagi, tolong belikan baju yang cantik, mahal dan yang pasti bukan barang pasaran, ini ukuran bajunya dan aku akan mentransfer uang ke rekeningmu, berikan barang itu secepatnya"
Hansol menerima kertas tersebut, dia pun mengangguk.
"Saya akan mencari baju yang cocok dengan selera bos, kalo gitu saya permisi dulu"
"Terimakasih banyak hansol"
"Sama-sama bos" lelaki itu membungkuk sebentar kemudian melangkah keluar dari ruangan.
Jihoon mengambil foto seorang gadis cantik yang sedang tersenyum di foto itu.
Ya. Siapa lagi kalo bukan adina.
"Gue merawatnya dari kecil hingga dia tumbuh menjadi gadis cantik seperti ini, bagaimana lagi gue harus kagum sama perkembangan dia"
Jihoon tersenyum memandang foto tersebut.
"Dina, kakak bakalan jagain kamu"
________________________
"Lempar ke sini haruto"
Suasana di lapangan basket begitu seru dan sedikit menegangkan, haruto, jeongwoo, junghwan dan beberapa teman sekelasnya sedang bermain atau bertanding dengan kelas lain di kampus mereka.
Bukan musuh, hanya saja mengukur bagaimana kehebatan mereka bermain basket.
"AYO JUNGHWAN!!"
PRITTTT!!
"GOOD JOB, JUNGHWAN!" pekik haruto.
Jeongwoo menepuk pundak adiknya itu saat mereka berhasil mencetak skor untuk ke sepuluh kalinya.
Peluit kembali di tiup yang berarti permainan selesai.
"Pemenangnya tim haruto"
Mereka saling berteriak heboh saat tim haruto menang, suara tepuk tangan dari penonton yang tidak lain adalah mahasiswa dan mahasiswi di kampus yang sama pun tidak kalah memeriahkan suasana.
Setelah pertandingan selesai, sebagian sudah meninggalkan area lapangan.
"Selamat buat kemenangan tim kalian, anggap aja gue kasih kesempatan buat kalian menang, lain kali gue yang akan menang lawan kalian" ucap seorang lelaki tampan bernama Azka Lorenzo.
Jeongwoo terkekeh kecil. "Baiklah, lo bisa berharap begitu, lain kali kita bertanding lagi"
"Dengan senang hati"
Adina yang baru sampai di taman itupun segera memarkirkan sepedanya, dia menenteng plastik berisikan roti itu.
"Kakak!" Pekik gadis itu, jeongwoo, junghwan dan haruto menoleh saat mendengar suara yang familiar.
"Dina" sahut mereka sedikit berteriak, adina tersenyum manis kemudian berjalan ke arah mereka.
Azka menatap dina yang berdiri di hadapannya. Gadis itu sangat cantik dan polos menurutnya.
"Lho, kamu sendirian ke sini?" Tanya haruto.
"Iyah, aku pinjam sepedanya kak sahi, oh ya, aku bawakan roti dan minuman buat kalian" ucapnya tersenyum.
"Baik banget si, terimakasih ya" ujar jeongwoo.
"Dia adik kalian?" Dina menatap ke arah azka.
"Iyah, dia adik kami" jawab junghwan sedikit ketus.
"Oh gitu, cantik ya" pernyataan itu sontak mengundang tatapan mata tajam dari ketiga kakak dina.
"Kenalin, gue Azka" mengulurkan tangannya.
"Dia tampan sekali" batin adina.
"O-oh Iyah, aku adina panggil saja dina, salam kenal kak azka" ucapnya menerima jabatan tangan azka.
Keduanya saling bertatapan dengan tangan yang masih berjabatan, di balik itu semua ada yang sedang kepanasan menyaksikan adegan keduanya.
"Ekhem... Udah kali ya jabatan tangannya gue rasa" ucap haruto melepas paksa tangan keduanya.
Junghwan menarik dina untuk berdiri di belakang tubuhnya, sedangkan haruto dan jeongwoo sudah menyiapkan badan di hadapan Azka.
"Jangan macam-macam lo sama adek kami" ketus jeongwoo.
Azka berdecak kecil. "Ck, santai aja kali bro, gue cuman mau kenalan doang kok"
"Kenalan mata lo buta, apa-apaan tadi pegang-pegang tangan adek gue tanpa izin, pakai segala mandangin begitu" ujar junghwan.
"Kakak sudahlah, jangan seperti itu, kak Azka kan cuman mau kenalan aja"
"Dina kamu jangan bela dia ya, kakak gak suka" tegas haruto.
"Benar, dia ini playboy, kamu gak boleh sampai dekat-dekat sama dia" ucap jeongwoo.
"Tapi kan--- huft... Baiklah, terserah kalian saja" ujarnya memilih untuk mengalah.
"Kalian itu posesif banget si, meskipun gue terkenal playboy tapi gue gak pernah pacaran sama siapapun"
"Sama saja, apa bedanya dengan memainkan harapan perempuan yang lo dekati, pokoknya jangan coba-coba untuk melakukan hal itu kepada dina, atau lo tau akibatnya" ancam junghwan.
Lelaki itu menarik tangan dina pelan untuk pergi dari lapangan.
Azka hanya memandangi kepergian mereka dari hadapannya.
Satu hal yang menarik perhatiannya yaitu kalo dina benar-benar berbeda dari wanita lainnya.